Tak Bermaksud
Oleh Muhammad Fadhil
“Jangan cepat merasa puas akan suatu hal, tapi cobalah untuk
mengkritisinya.”
Abdul Rahman ketika itu sedang asyik mengulang pelajaran di
kamarnya. Ia begitu tekun mempelajari contoh soal-soal kimia dari buku pelajaran
kimia kelas 11. Bab yang sedang ia baca adalah bab kesetimbangan, materi yang
boleh dibilang sulit diantara bab-bab kimia lainnya di kelas 11, ditambah lagi
di MAN Insan Cendekia dimana tingkat kesulitan persaingannya lebih tinggi
dibanding sekolah-sekolah sekitarnya. Sebenarnya, ia tengah mempersiapkan diri
untuk ulangan akhir sekolah hari esok. Entah kenapa teman-teman angkatannya
baru mulai luar biasa kerasnya belajar saat menjelang ujian akhir. Padahal,
bila dimanajemen dengan baik, hal tersebut tak akan terlalu menakutkan bagi
siswa. Sementara bagi Abdul Rahman itu tak menjadi soal, hanya perlu mengulang
sedikit saja maka ia menjadi percaya diri.
”Alhamdulillah, gua udah
nyicil pelajaran dari jauh hari jadinya gak perlu lagi deh belajar malam yang
sampe begadang.” gumam Abdul Rahman lega, namun ia akan dengan senang hati
membantu teman lainnya yang kesulitan.
Kemudian datang seorang temannya ingin menanyakan salah satu soal
dari buku paket yang sama, soal nomor 22 bab kesetimbangan.
“Abdul, ini gimana caranya ya?”
“Yang mana, yang mana!?” sambil berbalik dari mejanya menyahut
temannya yang bernama Dodi.
“Kok ini ribet banget kayaknya ya?” keluh Dodi. Abdul sebenarnya
berpikir bahwa itu tidak rumit, hanya perlu suatu trik saja maka masalah selesai
dan dia bisa belajar lagi. Abdul memang anak yang terkenal pintar. Di jurusan
IPA, ia berada di rangking 2 paralel angkatan. Maka tak heran, ia selalu
menjadi rujukan bagi teman-temannya.
“Jadi lo perlu membuat tabel ‘mts’ ini seperti biasa dan tinggal
masukkan saja variabelnya. Dan, oh ya, ini jangan dimasukkan, sebab ini
termasuk ‘liquid’... gitu Dodi.”
“Iya-ya, ternyata gampang juga, Masya Allah.”,
“Iyalah, Masya Allah.. ha ha ha...” saat itu ucapan Masya Allah
sedang populer di antara teman-teman angkatannya, entah siapa yang memulai. Ada
salah satu temannya yang berpendapat bahwa jangan mempermainkan Masya Allah, lalu
dibalas oleh yang lain. Daripada berkata anjing atau bahasa kebun binatang,
bukankah lebih baik berkata Masya Allah? Kemudian semakin banyak saja
teman-temannya yang menghampirinya untuk bertanya soal-soal kimia.
***
Tibalah esok, hari dimana burung-burung berkicau dengan merdunya
menandakan hembusan udara pagi yang sejuk dan penuh semangat. Kilauan cahaya
matahari pagi begitu indah dan siap menstimulasi bagi siapa saja yang optimis
di hari itu, tak peduli tua maupun muda. Pagi itu mereka, Abdul Rahman,
teman-teman angkatannya, dan adik kelas 10, akan menghadapi UAS di hari ketiga
dalam dua minggu pelaksanaannya. Mereka berangkat seperti di hari-hari biasa,
namun suasana di kelas akan menunjukkan suasana yang begitu berbeda. Gerakan
pensil, pulpen, dan penghapus dapat menentukan kelulusan siswa, namun ketentuan
yang pasti, ialah dari Allah yang Maha Mengetahui. Kita sebagai manusia hanya
dapat berusaha dan berdoa.
Setelah selesai ujian, ada yang begitu ceria dan percaya diri, ada
yang murung, ada yang gayanya sedih sekali. Sementara itu, ada yang tampak
biasa saja seolah itu hanyalah latihan. Abdul termasuk yang tampangnya biasa
saja. Ia langsung ditanya oleh banyak temannya pasca ujian. Membentuk suatu
forum, membahas soal-soal ulangan. Sementara itu, Dodi yang tidak mau mengikuti
forum, memilih langsung pulang ke asrama. Ia tampak begitu menyesal merasakan
banyak jawabannya yang salah. Beberapa lama kemudian, Abdul pulang ke asrama
dan masuk ke kamar Dodi. Hanya melihat ekspresi Dodi di mejanya saja, Abdul
tahu bahwa Dodi memang kesulitan dalam ujian tadi sehingga ia tak mau
mengajaknya berbincang-bincang tentang ujian tadi, dan hanya berpesan padanya,
“Dodi semangat!”
***
Setelah semua mata pelajaran telah diujikan dalam ujian kenaikan
kelas, secara otomatis nilai-nilai pelajaran akan dipajang di mading gedung
pendidikan. Dodi makin putus asa dan hancur, disebabkan ia menyaksikan seluruh
nilai mata pelajaran IPA dan matematika di bawah 70. Hal itu sangat menyakitkan
bagi Dodi dan ia tahu bahwa kemungkinan besar ia tak akan naik ke kelas 12. Ia
teringat kedua orang tuanya yang sudah lebih dahulu meninggalkannya saat Dodi
masih kelas 10 karena suatu kecelakaan mobil, ditambah lagi kakak laki-lakinya,
Jefrey, ketahuan mengkonsumsi opium dan langsung dibawa ke kantor polisi. Ternyata
kakaknya itu terlanjur candu berat dan digiring ke tempat rehabilitasi. Semua
ini seolah-olah adalah akhir riwayat bagi Dodi. Ia sudah sebatang kara, juga tak
ada lagi saudaranya yang dapat membantunya, setelah hampir seluruhnya diterjang
tsunami 2004, kecuali satu pamannya yang bekerja sebagai penjaga kasir di suatu
toko swalayan di Tangerang, yang hidupnya pas-pasan. Akhirnya Dodi memutuskan
untuk meyusul ayah, ibu, serta saudara-saudaranya.
***
Kesokan harinya, sebenarnya masih ada ujian sidang KIR dan seluruh
siswa mesti hadir di teater, dan memerhatikan presentasi teman-temannya satu
persatu. Tetapi Dodi mengeluh sakit dan tak bisa ikut kelas. Ia memiliki
rencana sendiri yang tengah ia persiapkan di ruang jemuran asrama, di saat semuanya
sedang pergi dan tak ada seorang pun yang menyaksikan.
Saat teman-temannya sudah berangkat sekolah ia masih berbaring di
atas kasur. Begitu yakin semuanya sudah berangkat, ia sambil menangis
tersedu-sedu bangkit dari kasurnya dan mencoba meraih pisau yang ada di
lacinya. Setelah itu ia berjalan keluar kamarnya dan menuju ruang jemuran.
Setelah apel pagi selesai, biasanya seluruh siswa menuju ke masjid untuk
melaksanakan salat dhuha. Namun Abdul Rahman teringat sesuatu hal yang ia lupa
bawa. Dengan segera setelah apel, ia berlari ke asrama untuk mengambil
barangnya. Sehabis mengambil barang di kamarnya, ia segera menuju pintu asrama.
Namun tiba-tiba ia merinding saat mendengar isak tangis di ruang jemuran yang
ia lewati. Dengan rasa penasaran yang tinggi, ia melangkah masuk pelan-pelan ke
dalam ruang jemuran tanpa tahu akibat yang bakal ia derita.
Saat ia sedang berusaha bunuh diri, Abdul dengan histeris
meneriakinya agar tidak melakukan itu. Saat hampir Dodi menusuki lehernya
sendiri dengan pisau, Abdul langsung memegang tangan kanan Dodi dan dengan
sigap merampas pisau di tangannya. Akibatnya, tangan Abdul terluka. Dodi sangat
marah pisaunya dirampas. Kemudian tanpa kenal ampun mendaratkan pukulannya ke
arah muka Abdul hingga ia terpental dan pisaunya terlepas cukup jauh dari
Abdul. Dodi kemudian menggapai pisau itu dan mengatakan selamat tinggal bagi
dunia, orang tua, dan Abdul. Namun tak disangka, Abdul dengan secepat kilat
melancarkan kepalannya tepat di dahi Dodi, hingga dia pingsan tak sadarkan
diri. Ia melakukan itu bukan tanpa alasan, menurutnya Dodi harus dipingsankan
terlebih dahulu agar usahanya untuk bunuh diri bisa dicegah. Yah... memang itu
satu-satunya cara untuk orang yang sudah sangat keras kepala.
***
Namun tak disangka, Abdul terlalu keras menonjoknya hingga
membuat Dodi mengalami gagar otak yang
cukup berat. Kabar ini langsung tersebar di seluruh civitas MAN Insan Cendekia.
Guru-guru keasramaan menginterogasi Abdul, dan menanyakan apa yang sebenarnya
terjadi saat itu. Abdul berusaha menjelaskannya panjang lebar dan meyakinkan
para guru bahwa ia berjuang mencegah Dodi untuk bunuh diri. Tak hanya itu, ia
juga menunjukkan bukti tempat kejadian serta hal-hal detil lainnya. Meski
demikian, guru-guru tetap menganggap bahwa perlakuan Abdul Rahman terhadap Dodi
adalah suatu kesalahan, juga dan termasuk pelanggaran tingkat 5 yang bisa
membuat ia keluar. Tetapi setelah mendengar penjelasan dari Abdul, maka pihak
sekolah mewajibkan agar Abdul Rahman harus menanggung seluruh biaya perawatan
pemulihan Dodi.
Paman Dodi, Fredy, menancapkan gas mobilnya meluncur ke sekolah
yang ada di depan Taman Tekno. Ia begitu kaget dan khawatir akan kondisi
keponakannya. Begitu sampai di IC, Om Fredy diberitahu bahwa Dodi sudah dibawa
ke rumah sakit
Dodi pun dibawa ke rumah sakit terdekat, yaitu Omni Hospital di
Alam Sutera, oleh mobil sekolah. Abdul Rahman juga ada di dalamnya. Setelah
melewati pintu masuk, dengan segera menuju UGD. Orang tua Abdul Rahman langsung
diberitahu kabar ini oleh pihak keasramaan, dan dengan panik ayahnya pulang
kerja lebih awal dan mengajak istrinya menuju rumah sakit. Entah bagaimana bisa,
dokter menyatakan bahwa kemungkinan Dodi untuk bertahan hidup adalah 20%. Abdul
Rahman dan orang tuanya terkejut. Sementara itu, Om Fredy terus mengucurkan air
matanya, menyesal karena ia tak bisa melakukan apa-apa. Ini berarti 80%
kemungkinan bahwa Abdul Rahman akan dianggap sebagai pembunuh, dengan tinjunya
yang ganas.
Hingga akhirnya, mungkin, impian Dodi akan terwujud, yaitu menyusul
orang-orang yang dicintainya. Hal itu menjadi kenyataan. Grafik detak jantung Dodi
menunjukkan garis mendatar tanpa gelombang dan disertai bunyi yang menusuk
dengan frekuensi tinggi menggema di ruangan pasien nomor 405, lantai 2 Gedung
Rumah Sakit Omni. Abdul Rahman dan orang tuanya menangis. Om Fredy makin tak
kuasa menahan tangisannya, hingga ia teriak bagaikan anak perempuan kecil yang
berteriak melengking.
Abdul Rahman benar-benar tak menyangka bahwa masalah ini berujung
pada kantor polisi. Ia baru sadar, usianya sudah mencukupi untuk berurusan
dengan hukum. Sementara orangt uanya
bersikeras mencari pengacara yang dapat melindungi Abdul Rahman, namun terlebih
dahulu Abdul Rahman harus memberikan keterangan kepada polisi bagaimana
kejadiaannya. Polisi memanggil juga orang-orang yang terkait di tempat perkara,
orang tua Abdul Rahman, dan juga psikolog. Ia bingung, bagaimana masa depannya
nanti setelah ia harus berurusan dengan kantor polisi? Apakah ia masih bisa
mencetak nilai-nilai bagus di sekolah, atau membantu teman-temannya yang
kesulitan belajar? Terlebih lagi, apakah teman-temannya masih memercayainya, saudara-saudaranya,
atau orang-orang yang ada di sekelilingnya? Ia sekarang menganggap bahwa
prestasi-prestasi yang diraihnya sejauh ini sama sekali tak berarti lagi
sekarang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar