Kamis, 19 Mei 2016

Cerpen

Tak Bermaksud
Oleh Muhammad Fadhil


Jangan cepat merasa puas akan suatu hal, tapi cobalah untuk mengkritisinya.

Abdul Rahman ketika itu sedang asyik mengulang pelajaran di kamarnya. Ia begitu tekun mempelajari contoh soal-soal kimia dari buku pelajaran kimia kelas 11. Bab yang sedang ia baca adalah bab kesetimbangan, materi yang boleh dibilang sulit diantara bab-bab kimia lainnya di kelas 11, ditambah lagi di MAN Insan Cendekia dimana tingkat kesulitan persaingannya lebih tinggi dibanding sekolah-sekolah sekitarnya. Sebenarnya, ia tengah mempersiapkan diri untuk ulangan akhir sekolah hari esok. Entah kenapa teman-teman angkatannya baru mulai luar biasa kerasnya belajar saat menjelang ujian akhir. Padahal, bila dimanajemen dengan baik, hal tersebut tak akan terlalu menakutkan bagi siswa. Sementara bagi Abdul Rahman itu tak menjadi soal, hanya perlu mengulang sedikit saja maka ia menjadi percaya diri.
 ”Alhamdulillah, gua udah nyicil pelajaran dari jauh hari jadinya gak perlu lagi deh belajar malam yang sampe begadang.” gumam Abdul Rahman lega, namun ia akan dengan senang hati membantu teman lainnya yang kesulitan. 
Kemudian datang seorang temannya ingin menanyakan salah satu soal dari buku paket yang sama, soal nomor 22 bab kesetimbangan.
“Abdul, ini gimana caranya ya?”
“Yang mana, yang mana!?” sambil berbalik dari mejanya menyahut temannya yang bernama Dodi.
“Kok ini ribet banget kayaknya ya?” keluh Dodi. Abdul sebenarnya berpikir bahwa itu tidak rumit, hanya perlu suatu trik saja maka masalah selesai dan dia bisa belajar lagi. Abdul memang anak yang terkenal pintar. Di jurusan IPA, ia berada di rangking 2 paralel angkatan. Maka tak heran, ia selalu menjadi rujukan bagi teman-temannya.
“Jadi lo perlu membuat tabel ‘mts’ ini seperti biasa dan tinggal masukkan saja variabelnya. Dan, oh ya, ini jangan dimasukkan, sebab ini termasuk ‘liquid’... gitu Dodi.”
“Iya-ya, ternyata gampang juga, Masya Allah.”,
“Iyalah, Masya Allah.. ha ha ha...” saat itu ucapan Masya Allah sedang populer di antara teman-teman angkatannya, entah siapa yang memulai. Ada salah satu temannya yang berpendapat bahwa jangan mempermainkan Masya Allah, lalu dibalas oleh yang lain. Daripada berkata anjing atau bahasa kebun binatang, bukankah lebih baik berkata Masya Allah? Kemudian semakin banyak saja teman-temannya yang menghampirinya untuk bertanya soal-soal kimia.
***


Tibalah esok, hari dimana burung-burung berkicau dengan merdunya menandakan hembusan udara pagi yang sejuk dan penuh semangat. Kilauan cahaya matahari pagi begitu indah dan siap menstimulasi bagi siapa saja yang optimis di hari itu, tak peduli tua maupun muda. Pagi itu mereka, Abdul Rahman, teman-teman angkatannya, dan adik kelas 10, akan menghadapi UAS di hari ketiga dalam dua minggu pelaksanaannya. Mereka berangkat seperti di hari-hari biasa, namun suasana di kelas akan menunjukkan suasana yang begitu berbeda. Gerakan pensil, pulpen, dan penghapus dapat menentukan kelulusan siswa, namun ketentuan yang pasti, ialah dari Allah yang Maha Mengetahui. Kita sebagai manusia hanya dapat berusaha dan berdoa.
Setelah selesai ujian, ada yang begitu ceria dan percaya diri, ada yang murung, ada yang gayanya sedih sekali. Sementara itu, ada yang tampak biasa saja seolah itu hanyalah latihan. Abdul termasuk yang tampangnya biasa saja. Ia langsung ditanya oleh banyak temannya pasca ujian. Membentuk suatu forum, membahas soal-soal ulangan. Sementara itu, Dodi yang tidak mau mengikuti forum, memilih langsung pulang ke asrama. Ia tampak begitu menyesal merasakan banyak jawabannya yang salah. Beberapa lama kemudian, Abdul pulang ke asrama dan masuk ke kamar Dodi. Hanya melihat ekspresi Dodi di mejanya saja, Abdul tahu bahwa Dodi memang kesulitan dalam ujian tadi sehingga ia tak mau mengajaknya berbincang-bincang tentang ujian tadi, dan hanya berpesan padanya, “Dodi semangat!”
***
Setelah semua mata pelajaran telah diujikan dalam ujian kenaikan kelas, secara otomatis nilai-nilai pelajaran akan dipajang di mading gedung pendidikan. Dodi makin putus asa dan hancur, disebabkan ia menyaksikan seluruh nilai mata pelajaran IPA dan matematika di bawah 70. Hal itu sangat menyakitkan bagi Dodi dan ia tahu bahwa kemungkinan besar ia tak akan naik ke kelas 12. Ia teringat kedua orang tuanya yang sudah lebih dahulu meninggalkannya saat Dodi masih kelas 10 karena suatu kecelakaan mobil, ditambah lagi kakak laki-lakinya, Jefrey, ketahuan mengkonsumsi opium dan langsung dibawa ke kantor polisi. Ternyata kakaknya itu terlanjur candu berat dan digiring ke tempat rehabilitasi. Semua ini seolah-olah adalah akhir riwayat bagi Dodi. Ia sudah sebatang kara, juga tak ada lagi saudaranya yang dapat membantunya, setelah hampir seluruhnya diterjang tsunami 2004, kecuali satu pamannya yang bekerja sebagai penjaga kasir di suatu toko swalayan di Tangerang, yang hidupnya pas-pasan. Akhirnya Dodi memutuskan untuk meyusul ayah, ibu, serta saudara-saudaranya.
***
Kesokan harinya, sebenarnya masih ada ujian sidang KIR dan seluruh siswa mesti hadir di teater, dan memerhatikan presentasi teman-temannya satu persatu. Tetapi Dodi mengeluh sakit dan tak bisa ikut kelas. Ia memiliki rencana sendiri yang tengah ia persiapkan di ruang jemuran asrama, di saat semuanya sedang pergi dan tak ada seorang pun yang menyaksikan.
Saat teman-temannya sudah berangkat sekolah ia masih berbaring di atas kasur. Begitu yakin semuanya sudah berangkat, ia sambil menangis tersedu-sedu bangkit dari kasurnya dan mencoba meraih pisau yang ada di lacinya. Setelah itu ia berjalan keluar kamarnya dan menuju ruang jemuran.
Setelah apel pagi selesai, biasanya seluruh siswa menuju ke masjid untuk melaksanakan salat dhuha. Namun Abdul Rahman teringat sesuatu hal yang ia lupa bawa. Dengan segera setelah apel, ia berlari ke asrama untuk mengambil barangnya. Sehabis mengambil barang di kamarnya, ia segera menuju pintu asrama. Namun tiba-tiba ia merinding saat mendengar isak tangis di ruang jemuran yang ia lewati. Dengan rasa penasaran yang tinggi, ia melangkah masuk pelan-pelan ke dalam ruang jemuran tanpa tahu akibat yang bakal ia derita.  
Saat ia sedang berusaha bunuh diri, Abdul dengan histeris meneriakinya agar tidak melakukan itu. Saat hampir Dodi menusuki lehernya sendiri dengan pisau, Abdul langsung memegang tangan kanan Dodi dan dengan sigap merampas pisau di tangannya. Akibatnya, tangan Abdul terluka. Dodi sangat marah pisaunya dirampas. Kemudian tanpa kenal ampun mendaratkan pukulannya ke arah muka Abdul hingga ia terpental dan pisaunya terlepas cukup jauh dari Abdul. Dodi kemudian menggapai pisau itu dan mengatakan selamat tinggal bagi dunia, orang tua, dan Abdul. Namun tak disangka, Abdul dengan secepat kilat melancarkan kepalannya tepat di dahi Dodi, hingga dia pingsan tak sadarkan diri. Ia melakukan itu bukan tanpa alasan, menurutnya Dodi harus dipingsankan terlebih dahulu agar usahanya untuk bunuh diri bisa dicegah. Yah... memang itu satu-satunya cara untuk orang yang sudah sangat keras kepala.
***
Namun tak disangka, Abdul terlalu keras menonjoknya hingga membuat  Dodi mengalami gagar otak yang cukup berat. Kabar ini langsung tersebar di seluruh civitas MAN Insan Cendekia. Guru-guru keasramaan menginterogasi Abdul, dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi saat itu. Abdul berusaha menjelaskannya panjang lebar dan meyakinkan para guru bahwa ia berjuang mencegah Dodi untuk bunuh diri. Tak hanya itu, ia juga menunjukkan bukti tempat kejadian serta hal-hal detil lainnya. Meski demikian, guru-guru tetap menganggap bahwa perlakuan Abdul Rahman terhadap Dodi adalah suatu kesalahan, juga dan termasuk pelanggaran tingkat 5 yang bisa membuat ia keluar. Tetapi setelah mendengar penjelasan dari Abdul, maka pihak sekolah mewajibkan agar Abdul Rahman harus menanggung seluruh biaya perawatan pemulihan Dodi.
Paman Dodi, Fredy, menancapkan gas mobilnya meluncur ke sekolah yang ada di depan Taman Tekno. Ia begitu kaget dan khawatir akan kondisi keponakannya. Begitu sampai di IC, Om Fredy diberitahu bahwa Dodi sudah dibawa ke rumah sakit
Dodi pun dibawa ke rumah sakit terdekat, yaitu Omni Hospital di Alam Sutera, oleh mobil sekolah. Abdul Rahman juga ada di dalamnya. Setelah melewati pintu masuk, dengan segera menuju UGD. Orang tua Abdul Rahman langsung diberitahu kabar ini oleh pihak keasramaan, dan dengan panik ayahnya pulang kerja lebih awal dan mengajak istrinya menuju rumah sakit. Entah bagaimana bisa, dokter menyatakan bahwa kemungkinan Dodi untuk bertahan hidup adalah 20%. Abdul Rahman dan orang tuanya terkejut. Sementara itu, Om Fredy terus mengucurkan air matanya, menyesal karena ia tak bisa melakukan apa-apa. Ini berarti 80% kemungkinan bahwa Abdul Rahman akan dianggap sebagai pembunuh, dengan tinjunya yang ganas.
Hingga akhirnya, mungkin, impian Dodi akan terwujud, yaitu menyusul orang-orang yang dicintainya. Hal itu menjadi kenyataan. Grafik detak jantung Dodi menunjukkan garis mendatar tanpa gelombang dan disertai bunyi yang menusuk dengan frekuensi tinggi menggema di ruangan pasien nomor 405, lantai 2 Gedung Rumah Sakit Omni. Abdul Rahman dan orang tuanya menangis. Om Fredy makin tak kuasa menahan tangisannya, hingga ia teriak bagaikan anak perempuan kecil yang berteriak melengking.
Abdul Rahman benar-benar tak menyangka bahwa masalah ini berujung pada kantor polisi. Ia baru sadar, usianya sudah mencukupi untuk berurusan dengan  hukum. Sementara orangt uanya bersikeras mencari pengacara yang dapat melindungi Abdul Rahman, namun terlebih dahulu Abdul Rahman harus memberikan keterangan kepada polisi bagaimana kejadiaannya. Polisi memanggil juga orang-orang yang terkait di tempat perkara, orang tua Abdul Rahman, dan juga psikolog. Ia bingung, bagaimana masa depannya nanti setelah ia harus berurusan dengan kantor polisi? Apakah ia masih bisa mencetak nilai-nilai bagus di sekolah, atau membantu teman-temannya yang kesulitan belajar? Terlebih lagi, apakah teman-temannya masih memercayainya, saudara-saudaranya, atau orang-orang yang ada di sekelilingnya? Ia sekarang menganggap bahwa prestasi-prestasi yang diraihnya sejauh ini sama sekali tak berarti lagi sekarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar