Selasa, 24 Mei 2016

Cerpen

Ini Adalah Judul, di Dunia yang Tak Lagi Berputar


Oleh Muhammad Fauzan
“Yang kuat bukanlah yang menang, yang menanglah yang kuat”


Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaarrrggghhhhhh!
Aku sudah tak mampu lagi. Aku sudah tak berdaya lagi. Aku sudah tak mampu, disertai dengan ketidakberdayaan. Kini hanya kau yang bisa melakukan segalanya. Kini hanya kau yang mampu melakukannya. Kini hanya kau yang berdaya. Mohon maaf dan terima kasih.
*****
            Sepertinya sangat disayangkan, kau lahir di dunia yang entah apa arah tujuannya. Sebuah puskesmas di pelosok kota kecil menjadi saksi kelahiran bayi yang nantinya akan menjadi engkau yang sekarang. Tepatnya tanggal berapa kau lahir, kau sendiri juga lupa. Mungkin saat ini hanya ibumu yang tahu tanggal kelahiranmu. Ayahmu sudah lama menderita penyakit pikun, sehingga ia lupa apa-apa yang terjadi di masa lampau. Namun tak apalah, yang penting kau masih ingat tahun kelahiranmu, yaitu tahun 1961 masehi. Engkau masih sempat menghirup napas di bawah rezim proklamator negaramu selama kurang lebih lima tahun.


            Engkau terlahir sebagai anak sulung, terlahir sebagai anak dengan kromosom XY diantara saudara-saudaramu yang kesemuanya berkromosom XX. Seharusnya kau memiliki adik laki-laki yang namanya hampir sama dengan namamu, namun takdir berkata lain, bayi yang seharusnya menjadi adikmu harus meregang nyawa saat persalinan dirinya. Masa-masa kecilmu dahulu, kau penuhi dengan aktivitas keseharian yang kalau boleh kukatakan sedikit menjenuhkan. Cobalah sedikit kau bernostalgia, datangi aku kalau kau tidak tertawa agar aku dongengkan kepadamu tentang kehidupan kecilmu dulu. Aku ingat betul saat kau kecil, bahkan sangat ingat. Ah, betapa melekat dengan sangat kuat dalam otakku saat kau berdiri di atas gundukan pasir milik seorang konglomerat di daerahmu, dengan tangan terkepal mengacung ke arah langit dan berkata :
“Aku ingin menjadi seorang raja!”
Bagaimana kau tidak mengatakan itu, sedangkan kau sendiri belum tahu bahwa pemimpin di negaramu bergelar presiden bukanlah raja. Aku ingatkan kau seraya kau lanjutkan:
“Aku ingin menjadi seorang presiden!”
            Cita-citamu sangat mulia sekali. Ingatkah engkau saat aku terharu mendengar ucapanmu itu? Tentu saja kau tidak tahu bahwa saat itu air mataku luruh, karena saat itu pula aku berusaha menyembunyikannya dari penglihatanmu. Tahun 1965 masehi menjadi tahun bersejarah bagi negaramu. Peristiwa apa itu namanya aku lupa, tapi yang pasti banyak sekali orang yang terbunuh saat itu. Peristiwa itu dilakukan oleh segelintir orang yang menyebut diri mereka sebagai “Partai Komunis”. Sungguhlah aneh negaramu. aku tak tahu ini salah siapa, semuanya saling menyalahkan satu sama lain, tak ada kepastian yang berarti siapa dalang peristiwa ini. Beranjak ke tahun berikutnya, pergantian tampuk kepempinan tertinggi negaramu terjadi. Tentu kau ingat bagaimana antusiasnya kau saat melihat di balik tirai milik konglomerat demi menyaksikan acara pergantian presiden dari sebuah kotak kecil yang bisa mengeluarkan suara dan gambar itu. Oh, betapa pelitnya konglomerat itu saat ia menutup tirai yang menjadi persinggahanmu. Menangis sejadi-jadinya kau lakukan saat kembali ke rumah, lantas merengek kepada ayah ibumu untuk mereka belikan televisi. Kondisi finansial keluargamu berkata lain, dan saat itu pulalah semangatmu untuk menjadi presiden memuncak. Kau berencana untuk mengentaskan kemiskinan jika kau menjadi presiden kelak.
            Pendidikan dasar kau tempuh dengan menimba ilmu di sekolah kecil di dekat kampungmu. Apa itu masih dapat disebut sebuah sekolah? Kurasa tidak. Bagaimana bisa disebut sekolah, sedangkan gedungnya pun bobrok tidak karuan. Guru yang mengajar di sekolah itu pun hanya dua dan mereka mengampu seluruh pelajaran yang harus mereka ajarkan kepada muridnya. Saat kau merasakan kondisi ini, di saat itu pulalah kau berencana untuk membangun fasilitas sekolah yang memadai jika kau menjadi seorang presiden. Keinginanmu untuk menjadi presiden semakin menggebu-gebu.
            Ingatkah saat kau bermain bersama teman-teman di sebuah hutan yang tenang lalu datang segerombolan orang yang ingin membumihanguskan hutan itu? Mereka membawa perlengkapan yang sangat banyak lalu menyiapkannya dengan sangat cepat. Dalam hitungan jam, seluruh hutan sudah rata dengan tanah. Tentunya kau dan teman-temanmu sudah lari sebelum api merambat dengan cepat dan terbatuk-terbatuk karena menghirup asap yang ditimbulkan oleh pembakaran. Teman-temanmu yang lain juga batuk-batuk dengan sangat kencangnya. Lima hari selepas kejadian itu, salah satu temanmu –aku lupa siapa- meninggal ketika di rawat di puskesmas karena terindikasi adanya logam berat di dalam paru-parunya. Tentu ini merupakan akibat dari peristiwa pembakaran yang terjadi tempo hari dan seketika saja kau berniat untuk mengadili dengan keras orang-orang yang membakar hutan jika kau menjadi presiden kelak.
            Kau belajar dengan gigih setiap hari. Kau selalu mendapatkan peringkat pertama di sekolah. Tentu orang tuamu sangat bangga dengan dirimu yang tak kenal lelah untuk menimba ilmu. Pada saat yang kau rasa tepat, kau ceritakan keinginanmu untuk menjadi presiden di negaramu. Ayah ibumu sangat mendukung cita-citamu itu dan selalu mendoakanmu dalam setiap sujud mereka. Oh, betapa senangnya dirimu memiliki orangtua yang sangat mendukung cita-citamu itu.
            Tak terasa kini kau sudah masuk dunia perkuliahan. Kau mengambil fakultas perhutanan di sebuah universitas ternama –aku lupa nama universitasnya tapi yang pasti aku ingat bahwa ada nama binatangnya- di negaramu. Kau belajar dengan sangat rajin, sehingga bukanlah sebuah keanehan jika kau meraih nilai sangat tinggi dan lulus dengan predikat cumlaude.
            Tersebutlah kisah pada tahun 1998 masehi, dimana pada saat itu terjadi huru-hara di negaramu. Para mahasiswa turun ke jalan untuk menuntut turunnya rezim presiden yang telah berkuasa selama kurang lebih 32 tahun. Stabilitas politik sangat kacau saat itu, disertai dengan lemahnya perekonomian nasional. Kekacauan terjadi dimana-mana dan jarah-menjarah tak dapat dihindari. Etnis-etnis tionghoa dibantai dengan sangat kasar. Krisis multidimensi terjadi. Kini semua rakyat di negaramu tidak percaya lagi dengan presidennya. Hasil yang ditunggu bersama akhirnya terjadi, presiden turun dari kursi kepemimpinannya pada sebuah hari di tahun yang sama.
            Dengan berbekal keahlian dan keinginan yang ada, kau menyalonkan diri untuk menjadi seorang walikota. Semua orang di partai yang mengusungmu percaya dengan kepemimpinan dirimu. Dengan diwakili oleh seseorang dari partai yang lain, kau mendapatkan suara terbanyak yang menjadikanmu walikota di kota kelahiranmu.
            Ketika kau menjabat menjadi walikota, seluruh masyarakat di kota yang kau pimpin menjadi makmur. Kau mendapatkan respon positif dari seluruh rakyatmu. Kau memiliki kemampuan tata kota yang baik dan terstruktur. Kau memiliki metode memimpin yang sangat unik, yaitu dengan mengunjungi pemukiman warga-warga kecil sehingga mereka merasa dekat dengan dirimu. Kau memiliki teknik pencitraan yang sangat baik sehingga seluruh masyarakat percaya akan figuritasmu. Banyak fasilitas umum yang kau benahi secara baik, satu persatu kau perhatikan layaknya anak sendiri. Pada saat itu aku sangat bangga dengan dirimu, Aku tak menyangka kalau kau akan sehebat ini. Kau yang masa kecilnya dapat dikatakan terbuang bak sampah, menjadi sosok yang berpengaruh bagi kemajuan kota.
            Selanjutnya kau terpilih menjadi seorang gubernur di ibukota. Tak lama aku akan menceritakan ini karena hal yang lebih penting akan terjadi selanjutnya.
            Tahun 2014 masehi, menjadi tahun bersejarah bagi dirimu. Pada tahun itu kau mencalonkan diri sebagai seorang presiden. Aku bangga dengan dirimu yang cukup berani mengambil keputusan, tapi di sisi lain aku khawatir karena sejatinya kau belum menyelesaikan masa pemerintahanmu sebagai seorang gubernur. Ingatkah engkau bahwa pada saat itu kau telah bersumpah untuk konsisten memimpin provinsi selama lima tahun? Aku takut terjadi hal yang tidak diinginkan kelak.
            Kini kau telah menjadi seorang presiden.
            Sekarang cobalah kau kilas balik terhadap apa-apa yang kau rencanakan apabila kau menjadi presiden. Tentu kau harus merealisasikannya karena sekarang kau telah menjadi presiden. Mari aku dan kau lihat apa yang sebenarnya terjadi saat ini. Mari kita dan masyarakat lihat apa yang terjadi sebenarnya saat ini.
            Aspek ekonomi. Dari hari ke hari mata uang negaramu melemah. Kurs mencapai angka yang tidak diinginkan masyarakat. Investor asing dengan sangat mudahnya menanam aset yang tentunya melemahkan pedagang-pedagang kecil. Apa benar ini yang telah kau lakukan sebagai seorang presiden?
            Aspek pemerataan. Bantaran sungai menjadi saksi bisu akan kemiskinan yang meraja lela di negaramu. Angka kemiskinan terus melonjak sebagai bukti ketidakpedulianmu terhadap rakyatmu sendiri. Hidup beralaskan seng kau anggap sama dengan dirimu yang hidup bertahtakan emas entah berapa karat. Apa benar ini yang telah kau lakukan sebagai seorang presiden?
            Aspek politik. Persaingan antar instansi pemerintahan kau jadikan sebagai tontonan seru yang bisa kau saksikan sambil duduk di atas sofa yang empuk. Korupsi yang mendarah daging pada pejabat-pejabat tinggi kau anggap sebagai permainan anak kecil biasa. Janjimu untuk menyusun kabinet dengan baik seakan hanya janji palsu yang kau buat untuk mendapat perhatian masyarakat. Apa benar ini yang telah kau lakukan sebagai seorang presiden?
            Tentu kau tidak ingin mengulang tragedi yang terjadi pada tahun 1998 masehi silam, dimana terjadi huru-hara yang tentunya dapat menurunkan dirimu dari kursi kepresidenan. Aku sudah tidak mampu lagi dan kini hanya kau yang bisa merubah segalanya, merubah kondisi negeri ini menuju arah yang lebih baik.
            Satu lagi yang tak akan pernah aku lupakan. Kau pernah berjanji untuk mengatasi perihal pembakaran hutan dengan sangat tegas. Namun apa yang terjadi? Sudah banyak rakyatmu yang berjatuhan di tangan asap. Mereka harus menjalani aktivitas keseharian di bawah naungan asap. Apa sebenarnya yang kau pikirkan saat ini? Apakah kau berpikir bahwa dunia akan terus berputar sehingga asap-asap itu akan terbang nun jauh kesana dan akan menghilang begitu saja?
Ingatlah bahwa dunia tidak akan berputar selama tidak ada tujuan yang jelas, karena sesungguhnya kepemimpinanmu akan selalu identik dengan cerita ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar