Ini Adalah Judul, di Dunia yang Tak
Lagi Berputar
Oleh Muhammad Fauzan
“Yang kuat bukanlah yang menang,
yang menanglah yang kuat”
Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaarrrggghhhhhh!
Aku sudah tak mampu lagi. Aku
sudah tak berdaya lagi. Aku sudah tak mampu, disertai dengan ketidakberdayaan.
Kini hanya kau yang bisa melakukan segalanya. Kini hanya kau yang mampu
melakukannya. Kini hanya kau yang berdaya. Mohon maaf dan terima kasih.
*****
Sepertinya sangat disayangkan, kau
lahir di dunia yang entah apa arah tujuannya. Sebuah puskesmas di pelosok kota
kecil menjadi saksi kelahiran bayi yang nantinya akan menjadi engkau yang
sekarang. Tepatnya tanggal berapa kau lahir, kau sendiri juga lupa. Mungkin
saat ini hanya ibumu yang tahu tanggal kelahiranmu. Ayahmu sudah lama menderita
penyakit pikun, sehingga ia lupa apa-apa yang terjadi di masa lampau. Namun tak
apalah, yang penting kau masih ingat tahun kelahiranmu, yaitu tahun 1961
masehi. Engkau masih sempat menghirup napas di bawah rezim proklamator negaramu
selama kurang lebih lima tahun.
Engkau terlahir sebagai anak sulung,
terlahir sebagai anak dengan kromosom XY diantara saudara-saudaramu yang
kesemuanya berkromosom XX. Seharusnya kau memiliki adik laki-laki yang namanya
hampir sama dengan namamu, namun takdir berkata lain, bayi yang seharusnya
menjadi adikmu harus meregang nyawa saat persalinan dirinya. Masa-masa kecilmu
dahulu, kau penuhi dengan aktivitas keseharian yang kalau boleh kukatakan
sedikit menjenuhkan. Cobalah sedikit kau bernostalgia, datangi aku kalau kau
tidak tertawa agar aku dongengkan kepadamu tentang kehidupan kecilmu dulu. Aku
ingat betul saat kau kecil, bahkan sangat ingat. Ah, betapa melekat dengan
sangat kuat dalam otakku saat kau berdiri di atas gundukan pasir milik seorang
konglomerat di daerahmu, dengan tangan terkepal mengacung ke arah langit dan
berkata :
“Aku ingin menjadi seorang raja!”
Bagaimana kau tidak mengatakan
itu, sedangkan kau sendiri belum tahu bahwa pemimpin di negaramu bergelar
presiden bukanlah raja. Aku ingatkan kau seraya kau lanjutkan:
“Aku ingin menjadi seorang
presiden!”
Cita-citamu sangat mulia sekali.
Ingatkah engkau saat aku terharu mendengar ucapanmu itu? Tentu saja kau tidak
tahu bahwa saat itu air mataku luruh, karena saat itu pula aku berusaha
menyembunyikannya dari penglihatanmu. Tahun 1965 masehi menjadi tahun
bersejarah bagi negaramu. Peristiwa apa itu namanya aku lupa, tapi yang pasti
banyak sekali orang yang terbunuh saat itu. Peristiwa itu dilakukan oleh
segelintir orang yang menyebut diri mereka sebagai “Partai Komunis”. Sungguhlah
aneh negaramu. aku tak tahu ini salah siapa, semuanya saling menyalahkan satu
sama lain, tak ada kepastian yang berarti siapa dalang peristiwa ini. Beranjak
ke tahun berikutnya, pergantian tampuk kepempinan tertinggi negaramu terjadi.
Tentu kau ingat bagaimana antusiasnya kau saat melihat di balik tirai milik
konglomerat demi menyaksikan acara pergantian presiden dari sebuah kotak kecil
yang bisa mengeluarkan suara dan gambar itu. Oh, betapa pelitnya konglomerat
itu saat ia menutup tirai yang menjadi persinggahanmu. Menangis sejadi-jadinya
kau lakukan saat kembali ke rumah, lantas merengek kepada ayah ibumu untuk
mereka belikan televisi. Kondisi finansial keluargamu berkata lain, dan saat
itu pulalah semangatmu untuk menjadi presiden memuncak. Kau berencana untuk
mengentaskan kemiskinan jika kau menjadi presiden kelak.
Pendidikan dasar kau tempuh dengan
menimba ilmu di sekolah kecil di dekat kampungmu. Apa itu masih dapat disebut
sebuah sekolah? Kurasa tidak. Bagaimana bisa disebut sekolah, sedangkan
gedungnya pun bobrok tidak karuan. Guru yang mengajar di sekolah itu pun hanya
dua dan mereka mengampu seluruh pelajaran yang harus mereka ajarkan kepada
muridnya. Saat kau merasakan kondisi ini, di saat itu pulalah kau berencana
untuk membangun fasilitas sekolah yang memadai jika kau menjadi seorang
presiden. Keinginanmu untuk menjadi presiden semakin menggebu-gebu.
Ingatkah saat kau bermain bersama
teman-teman di sebuah hutan yang tenang lalu datang segerombolan orang yang ingin
membumihanguskan hutan itu? Mereka membawa perlengkapan yang sangat banyak lalu
menyiapkannya dengan sangat cepat. Dalam hitungan jam, seluruh hutan sudah rata
dengan tanah. Tentunya kau dan teman-temanmu sudah lari sebelum api merambat
dengan cepat dan terbatuk-terbatuk karena menghirup asap yang ditimbulkan oleh
pembakaran. Teman-temanmu yang lain juga batuk-batuk dengan sangat kencangnya.
Lima hari selepas kejadian itu, salah satu temanmu –aku lupa siapa- meninggal
ketika di rawat di puskesmas karena terindikasi adanya logam berat di dalam
paru-parunya. Tentu ini merupakan akibat dari peristiwa pembakaran yang terjadi
tempo hari dan seketika saja kau berniat untuk mengadili dengan keras
orang-orang yang membakar hutan jika kau menjadi presiden kelak.
Kau belajar dengan gigih setiap
hari. Kau selalu mendapatkan peringkat pertama di sekolah. Tentu orang tuamu
sangat bangga dengan dirimu yang tak kenal lelah untuk menimba ilmu. Pada saat
yang kau rasa tepat, kau ceritakan keinginanmu untuk menjadi presiden di negaramu.
Ayah ibumu sangat mendukung cita-citamu itu dan selalu mendoakanmu dalam setiap
sujud mereka. Oh, betapa senangnya dirimu memiliki orangtua yang sangat
mendukung cita-citamu itu.
Tak terasa kini kau sudah masuk
dunia perkuliahan. Kau mengambil fakultas perhutanan di sebuah universitas
ternama –aku lupa nama universitasnya tapi yang pasti aku ingat bahwa ada nama
binatangnya- di negaramu. Kau belajar dengan sangat rajin, sehingga bukanlah
sebuah keanehan jika kau meraih nilai sangat tinggi dan lulus dengan predikat cumlaude.
Tersebutlah kisah pada tahun 1998
masehi, dimana pada saat itu terjadi huru-hara di negaramu. Para mahasiswa
turun ke jalan untuk menuntut turunnya rezim presiden yang telah berkuasa
selama kurang lebih 32 tahun. Stabilitas politik sangat kacau saat itu,
disertai dengan lemahnya perekonomian nasional. Kekacauan terjadi dimana-mana
dan jarah-menjarah tak dapat dihindari. Etnis-etnis tionghoa dibantai dengan
sangat kasar. Krisis multidimensi terjadi. Kini semua rakyat di negaramu tidak
percaya lagi dengan presidennya. Hasil yang ditunggu bersama akhirnya terjadi, presiden
turun dari kursi kepemimpinannya pada sebuah hari di tahun yang sama.
Dengan berbekal keahlian dan
keinginan yang ada, kau menyalonkan diri untuk menjadi seorang walikota. Semua
orang di partai yang mengusungmu percaya dengan kepemimpinan dirimu. Dengan
diwakili oleh seseorang dari partai yang lain, kau mendapatkan suara terbanyak
yang menjadikanmu walikota di kota kelahiranmu.
Ketika kau menjabat menjadi
walikota, seluruh masyarakat di kota yang kau pimpin menjadi makmur. Kau
mendapatkan respon positif dari seluruh rakyatmu. Kau memiliki kemampuan tata
kota yang baik dan terstruktur. Kau memiliki metode memimpin yang sangat unik,
yaitu dengan mengunjungi pemukiman warga-warga kecil sehingga mereka merasa
dekat dengan dirimu. Kau memiliki teknik pencitraan yang sangat baik sehingga
seluruh masyarakat percaya akan figuritasmu. Banyak fasilitas umum yang kau
benahi secara baik, satu persatu kau perhatikan layaknya anak sendiri. Pada
saat itu aku sangat bangga dengan dirimu, Aku tak menyangka kalau kau akan
sehebat ini. Kau yang masa kecilnya dapat dikatakan terbuang bak sampah, menjadi
sosok yang berpengaruh bagi kemajuan kota.
Selanjutnya kau terpilih menjadi
seorang gubernur di ibukota. Tak lama aku akan menceritakan ini karena hal yang
lebih penting akan terjadi selanjutnya.
Tahun 2014 masehi, menjadi tahun
bersejarah bagi dirimu. Pada tahun itu kau mencalonkan diri sebagai seorang
presiden. Aku bangga dengan dirimu yang cukup berani mengambil keputusan, tapi
di sisi lain aku khawatir karena sejatinya kau belum menyelesaikan masa
pemerintahanmu sebagai seorang gubernur. Ingatkah engkau bahwa pada saat itu
kau telah bersumpah untuk konsisten memimpin provinsi selama lima tahun? Aku
takut terjadi hal yang tidak diinginkan kelak.
Kini kau telah menjadi seorang
presiden.
Sekarang cobalah kau kilas balik
terhadap apa-apa yang kau rencanakan apabila kau menjadi presiden. Tentu kau
harus merealisasikannya karena sekarang kau telah menjadi presiden. Mari aku
dan kau lihat apa yang sebenarnya terjadi saat ini. Mari kita dan masyarakat
lihat apa yang terjadi sebenarnya saat ini.
Aspek ekonomi. Dari hari ke hari
mata uang negaramu melemah. Kurs mencapai angka yang tidak diinginkan
masyarakat. Investor asing dengan sangat mudahnya menanam aset yang tentunya
melemahkan pedagang-pedagang kecil. Apa benar ini yang telah kau lakukan
sebagai seorang presiden?
Aspek pemerataan. Bantaran sungai
menjadi saksi bisu akan kemiskinan yang meraja lela di negaramu. Angka
kemiskinan terus melonjak sebagai bukti ketidakpedulianmu terhadap rakyatmu
sendiri. Hidup beralaskan seng kau anggap sama dengan dirimu yang hidup
bertahtakan emas entah berapa karat. Apa benar ini yang telah kau lakukan
sebagai seorang presiden?
Aspek politik. Persaingan antar
instansi pemerintahan kau jadikan sebagai tontonan seru yang bisa kau saksikan
sambil duduk di atas sofa yang empuk. Korupsi yang mendarah daging pada
pejabat-pejabat tinggi kau anggap sebagai permainan anak kecil biasa. Janjimu
untuk menyusun kabinet dengan baik seakan hanya janji palsu yang kau buat untuk
mendapat perhatian masyarakat. Apa benar ini yang telah kau lakukan sebagai
seorang presiden?
Tentu kau tidak ingin mengulang tragedi
yang terjadi pada tahun 1998 masehi silam, dimana terjadi huru-hara yang
tentunya dapat menurunkan dirimu dari kursi kepresidenan. Aku sudah tidak mampu
lagi dan kini hanya kau yang bisa merubah segalanya, merubah kondisi negeri ini
menuju arah yang lebih baik.
Satu lagi yang tak akan pernah aku
lupakan. Kau pernah berjanji untuk mengatasi perihal pembakaran hutan dengan
sangat tegas. Namun apa yang terjadi? Sudah banyak rakyatmu yang berjatuhan di
tangan asap. Mereka harus menjalani aktivitas keseharian di bawah naungan asap.
Apa sebenarnya yang kau pikirkan saat ini? Apakah kau berpikir bahwa dunia akan
terus berputar sehingga asap-asap itu akan terbang nun jauh kesana dan akan
menghilang begitu saja?
Ingatlah bahwa dunia
tidak akan berputar selama tidak ada tujuan yang jelas, karena sesungguhnya
kepemimpinanmu akan selalu identik dengan cerita ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar