Kata Maaf yang Tak Termaafkan
Oleh Masfi
Afifah
“Find Joy in
the Ordinary“
Angin masih berhembus mengiringi mimpi-mimpi tidur siangku. Hari ini kelas 8 pulang lebih awal untuk membantu mengangkut
barang-barang kelas 9 yang pindah asrama.
“Ayo dong, Dek! Bantuin Kakak! Jangan lemes gitu. Kamar baru Kakak ‘kan, di
lantai tiga. Semangat!” Sambil menarik koper
besarnya itu, kakakku meneriakiku yang hanya menatapnya dari balik jendela asrama.
“Yang bener, Kak? Kamar Kakak di 305? Sebelah kamar adek dong? Yeyy!!!” Aku
berseru sambil memeluk erat kakakku yang cantik itu.
Aku benar-benar menyayanginya lebih dari orangtuaku sendiri. Selisih
umur kami hanya satu tahun. Dialah satu-satunya alasan mengapa aku masuk pesantren
ini. Namun sayangnya, angkatanku ditempatkan di asrama baru yang jaraknya jauh dari
asrama putri sebelumnya. Satu tahun lamanya kami hanya bisa bertukar kabar lewat surat yang aku titipkan ke petugas kantin. Sekarang kami tidak perlu repot-repot menitipkan surat lagi.
Setelah membantu kakakku, aku istirahat di
kamar. Tiba-tiba teman-temanku masuk ke kamar sambil membicarakan sesuatu yang
kelihatannya serius.
“Ada apa sih?” tanyaku penasaran.
“Eh Fi, tadi gua sama temen-temen ‘kan ke belakang asrama tuh, ‘trus gua nanya
sama tukang bangunan lapangan basket, ‘Pak, itu tenda
apaan sih, Pak? Kok di kuburan ada tenda?’ Nah,
terus bapaknya tuh bilang gini sama kita-kita; ‘Pokoknya Eneng jangan main kesana, ya. Nanti
kualat Neng!’ Gitu coba, Fi.” Mila teman sekamarku menceritakannya dengan menggebu-gebu.
Empat temanku yang lainnya hanya membalas anggukan begitu alisku mengkerut
tidak percaya. Aku memang sudah penasaran semenjak melihat
tenda biru itu berdiri satu bulan yang lalu, dan melakukan aktifitas aneh di
malam hari seperti; membakar arang dan menyenteri tenda mereka dengan lampu
sepeda motor yang mesinnya dibiarkan menyala.
“Fi! Kita harus nyusun rencana buat nyelidikin
isi tendanya!” Mila menepuk pundakku. Aku tahu, dia sama penasarannya denganku
dan empat teman kamarku yang lain. Kami berenam pun menyusun rencana untuk
nanti malam. Tak lama setelah itu, kakakku memanggilku dari balik pintu kamar.
“Udah selasai beres-beresnya?” tanyaku
singkat.
“Udah. Dek, ‘ntar malem kamu mau ngapain sama temen-temen kamar kamu?” Raut
wajah kakakku berubah serius.
“Ah, Kakak tau dari mana?” dahiku langsung mengkerut.
“Tadi Kakak nggak sengaja denger percakapan kalian. Dek, kamu jangan
ngelakuin hal yang aneh-aneh, ya! Pokoknya dengerin kata Kakak, jangan pernah berhubungan sama tenda biru-
tenda biru itu kecuali mendoakannya. Ngerti ‘kan Adek
cantik?” Aku tahu betul kakakku itu serius, tapi rasa penasaran ini terlalu
besar.
Aku dan kakakku menghabiskan siang itu dengan bercerita banyak hal. Kami benar-benar
seperti saudara yang sudah lama sekali tidak bertemu. Setelah azan asar
berkumandang, kami menyudahi percakapan lantas mengambil air wudu.
Setelah salat asar, aku
menemui teman kamarku dan menyampaikan pesan dari kakakku. Mereka semua ber-‘yah’. Aku
benar-benar tidak ingin mengecewakan kakakku,
tapi teman kamarku memaksa. Aku tahu mereka marah padaku, menyalahkanku karena
semua rencana kami batal. Entahlah, ada secuil rasa bersalah dalam hatiku.
Saat azan magrib berkumandang, aku pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudu. Setibanya di kamar, semua
teman kamarku diam tak menyapa. Aku tetap melanjutkan langkahku ke kamar mandi dan berwudu. Setelah
berwudu, aku merasa lebih lega dan mencoba memulai percakapan dengan teman
kamarku.
“Mila, aku tahu kamu masih marah. Teman-teman, maafin aku,
ya.” Aku semakin merasa bersalah.
“Lu tau, Fi? Kita nggak bakal maafin lu sebelum kita benar-benar melaksanakan
rencana kita. Titik!” tegas Mila. Empat temanku yang lain meng-iyakan perkataan Mila.
“Tapi Mil, aku nggak mau membantah apa kata kakakku,
Mil.” Aku semakin terpojokkan.
“Sekali aja, Fi. Lu selalu nurut apa kata kaka lu ‘kan?
Apa salahnya, sih? Sekali doang, demi kita-kita!” Wajah Mila semakin meyakinkanku.
Begitupun ekspresi teman-teman kamarku, seolah berkata; ‘Ayolah, Fi! Sekaliiii aja.’
Pada saat itu juga kita menjalankan
rencana gila. Sebelum matahari benar-benar menyembunyikan sinarnya, aku dan Mila
pergi ke kuburan itu. Kami meletakkan kamera dalam keadaan merekam tepat dimana semua sisi
tenda itu terlihat. Dengan langkah berjinjit, kami berusaha tidak membuat suara
dan melangkah pergi dari kuburan itu sesegera mungkin, karena kami tahu,
penjaga tenda itu akan datang tepat saat azan magrib berkumandang. Tepat jam 12 malam,
senter tembak yang kami pinjam dari satpam sekolah telah siap dengan baterai
sepenuh energi kami. Begitu melihat asap mengepul dari dalam
tenda yang gelap, kami mulai menembaki tenda biru itu dengan cahaya senter.
Berulang kali, kami mengedap-ngedipkan lampu senter kami. Semua wajah kami
menempel di jendela kamar, begitu besar rasa penasaran kami melihat bagaimana
respon penjaga tenda biru itu saat kami menyenteri tendanya.
Baru sekitar lima menit kami menyenteri tenda biru itu, tiba-tiba
ada motor datang melalui jalan aspal di depan asrama kami, menuju ke belakang
asrama, ke kuburan itu lebih tepatnya. Seperti biasa, mesin motor itu dibiarkan
menyala, begitu pula lampu motornya. Pengendara motor itu turun dari motor dan
melihat kami yang masih sibuk menyenteri tenda biru itu. Pengendara motor itu
berlari ke arah tenda biru dan memanggil penjaga tenda, spontan aku menyuruh
teman-temanku mematikan senter mereka. Namun,
senter Mila yang masih menyala tanpa sengaja menyinari wajah sang penjaga tenda
tersebut. Aku benar-benar melihat wajah sang penjaga tenda itu. Ya, aku mengenalinya.
“Hah! Orang itu... Penjaga tenda itu... Aku liat wajahnya. Kamu menyenterinya,
Mila!” Jantungku berdebar kencang, Suaraku bergetar melanjutkan kalimat
sebelunya. Aku benar-benar tegang.
“Hah? Iya, kah? Gua nggak liat tu, Fi. Emangnya siapa?” tanya Mila.
“Kalian nggak bakal percaya kalo aku jawab sekarang.” Aku tahu aku
salah, ini semua ideku, mencari tahu lebih dalam soal tenda biru itu dan melibatkan
teman-temanku yang memiliki rasa penasaran tingkat dewa.
“Siapa, Fi? Lu bikin kita makin penasaran tau nggak?” Mila bersikeras
memintaku menjawabnya sekarang. Begitupun teman-teman kamarku.
“Dia tuh Pak Cecep, salah satu satpam sekolah kita. Aku yakin, aku
ga salah lihat.” Aku menghela nafas yang masih terengah.
“Apa? Nggak mungkin, Fi. Padahal dia yang ngelarang kita buat mendekati tenda itu, bahkan dia
juga ngelarang gue minjem senter ini karena dia takut gue bakal make senter ini
buat ngusilin tenda biru itu.” Mila terheran-heran mendengarkan jawabanku.
“Jadi kamu mengambil senter ini tanpa izin? Kok bisa? Aku menyuruh
kamu buat minjem Mila, bukan mencurinya!!!” Aku benar-benar kecewa pada Mila.
“Fi, lu kehabisan akal, ya? Mana mungkin satpam mau minjemin kita senter tembak ini! Gue ngambil
ini demi kelancaran rencana kita tahu! Makanya gue
nggak rela luu tiba-tiba ngebatalin rencana kita cuma karena kakak lu yang alim
itu! Lagian lu nggak curiga apa, kenapa Pak Cecep bisa tahu kalau gue bakal
ngelakukan sesuatu sama tenda biru itu?” kata Mila dengan
suara tinggi sambil menunjuk-nunjuk wajahku.
Aku marah pada teman-teman kamarku, mereka semua tahu Mila mencuri
senter itu. Mereka juga tahu aku paling benci dengan orang yang mengambil barang
milik orang lain tanpa izin. Aku langsung naik ke atas kasurku dan menutup
wajahku dengan selimut. Tidak peduli lagi dengan teman kamarku yang masih ribut
membicarakan Pak Cecep dan tenda biru itu. Kakak benar, tidak seharusnya aku
melibatkan diri dengan tenda biru itu.
Keesokan paginya, aku benar-benar bungkam dengan teman kamarku. Aku
masih marah dan memutuskan untuk tidak menceritakan apapun pada teman-teman
yang lain. Sepulang sekolah, aku merebahkan diri di kasur sendirian. Tiba-tiba
lampu kamarku mati. Setelah menanyakan pada yang lain, ternyata mati
lampu. Tidak biasanya mati lampu di pesantren
kami. Setelah salat asar, aku pergi ke pos satpam dan menanyakan penyebab matinya
listrik di asrama.
“Bapak juga nggak tahu, Neng. Katanya sih, disel kita lagi rusak, tapi seharusnya yang mati lampu itu bukan
di daerah asramanya Eneng. Kayaknya mah lama deh Neng mati
lampunya. Paling cepet juga nyalanya mah besok pagi, Neng. Itu juga kalo Pak Cecep dateng.” Jelas Pak Endang, salah satu
satpam di pesantrenku. Aku cukup dekat dengannya.
“Lho, emang Pak Cecep kemana, Pak?” tanyaku
dengan antusias.
“Wah, itu sih, Bapak kurang tahu ya, Neng. Kemaren Pak Cecep itu izin tiba-tiba. Saya jadi ikut berjaga
sampe malem deh gantiin Pak Cecep.” Pak Endang yang bingung dengan pertanyaanku
masih menggaruk-garuk kepalanya.
“Gitu ya, Pak. Yaudah deh makasih ya, Pak. Saya pamit dulu, takut keburu gelap. Mari, Pak,” balasku singkat.
Malam itu menjadi sangat gelap, aku jadi takut untuk pergi makan
malam. Ruang makan terletak di lobi asrama sebelah. Berhubung arsama sebelah masih dalam tahap
pembangunan, untuk menuju ruang makan, kami semua
harus melewati jembatan sederhana yang terbuat dari lima
bambu panjang yang dijejer sedemikian rupa. Jembatan itu sangat membutuhkan
kehati-hatian, apalagi saat mati lampu seperti sekarang ini,
karena jembatan itu berjarak sepuluh meter dari permukaan tanah. Namun perutku
yang lapar membuat rasa takutku terkalahkan. Aku pun bersiap
mengambil alat makan di lemari kamarku yang gelap.
“Afwan.” Suara itu lembut menggetarkan gendang telingaku yang
sedang sendirian di kamar.
“Siapa di sana?” kataku sambil menengok kedalam kamar mandi yang gelap. Tidak ada seorang pun di sana. Aku memutuskan untuk mengabaikan suara itu dan bergegas
menuju ruang makan.
Di dalam keremangan ruang makan, aku
membawa platoku ke atas meja, bersiap melahap opor ayam lezat di hadapanku.
Tiba-tiba orang-orang yang mengantri di depan pintu ruang makan itu menjerit
histeris, semua orang panik. Sampai aku mendengar suara Mila dari kejauhan.
“Fi! Kakakmu jatuh dari jembatan, Fi!”
Dia langsung menarik lenganku dan menuntunku keluar ruang makan. Wajahku
panas, air mataku meleleh, pikiranku melayang entah kemana. Begitu panik memikirkan apa yang
terjadi pada kakakku.
Kakakku tergeletak lemas di bawah tanah. Tubuhnya jatuh tepat di atas
undakan puing-puing bangunan. Pandanganku kabur tertutupi oleh air mata yang sudah menggenang.
Aku benar-benar takut terjadi apa-apa pada kakakku. Para ustazah
membopong tubuh kakakku yang tidak sadarkan diri ke dalam bus
sekolah yang akan mengantar kakakku ke klinik sekolah. Dia sadar setelah diberi
perawatan oleh dokter di klinik. Aku baru boleh menemuinya besok pagi. Aku
menangis di atas kasurku, berdoa ditemani boneka-bonekaku sampai tertidur.
***
Gelap. Aku tidak tahu aku dimana. Berjalan lurus mencari cahaya, kakiku
terasa menginjak sesuatu. Ya, kameraku yang sengaja kupasang di dekat kuburan itu. Aku
menyalakannya dan melihat video di kuburan itu. Terlihat jelas semua aktifitas yang dilakukan sang
penjaga tenda itu. Dari balik tenda, terlihat siluet tubuh wanita yang terbaring. Wanita itu bangun dari
tidurnya dan keluar dari tenda. Rambutnya panjang hitam, jalannya tertatih
menuju kamera yang aku pegang sekarang.
Wanita bergaun putih itu mengucapkan sesuatu dengan suara lirih. Semakin
mendekat, aku semakin bisa mendengar apa yang diucapkan wanita itu. “Afwan,
afwan, afwan...” berkali-kali dengan volume suara yang semakin besar. Tubuhku
bergetar ketakutan. Apa maksud wanita itu?
Wajahnya tertutupi oleh rambut hitamnya. Tangannya menjulur gemetar
berusaha meraih kameraku dan menjatuhkannya di tanah. Itulah akhir videonya.
Kamera itu sekarang mati. Gelap kembali memeluk pandanganku. Tiba-tiba aku
mendengar suara lirih itu lagi. Tidak, kali ini bukan dari kameraku, melainkan
dari belakang tubuhku. Aku mengumpulkan seluruh keberanianku untuk menengok ke
belakang. Sosok wanita itu benar-benar nyata, berdiri di belakangku, begitu
dekat sampai aku bisa merasakan rambut hitamnya
menyapu wajahku dan aku pun tersadar.
Mimpi buruk semalam masih terngiang-ngiang di pikiranku.
Aku harus segera bertemu dengan kakakku di klinik, aku ingin tahu apa yang
menyebabkan ia jatuh dari jembatan itu. Sambil berjalan menuju sekolah,
tiba-tiba ada yang menggenggam pundakku. Ya, dia
Mila. Tangannya merogoh kantong dan memberikanya padaku.
“Kameraku? Kapan kamu ambil?” Aku tidak berani menyentuh kamera
itu.
“Gua ambil tadi pagi abis sarapan, kameranya udah tergeletak di tanah.
Gua nggak berani ngeliat isinya sampe lu maafin gua,
Fi.” Aku berlalu tanpa mengambil kamera itu. Mila
pun hanya terpaku melihat langkahku yang semakin menjauhinya.
Setelah bel istirahat, aku berjalan menuju klinik sekolah. Dokter
bilang Kakak baik-baik saja, hanya pendarahan kecil di dahi, memar-memar, tidak
butuh jahitan dan aku sudah boleh menemui kakakku. Tapi kakak hanya terdiam
melihatku menjenguknya.
“Kak? Kakak baik-baik aja ‘kan?” Aku menggenggam
tangan kakakku erat.
“Dek... wanita itu menggantungkan kakinya di atas
bambu-bambu kerangka bangunan, Dek. Dia bersenandung dengan suara lirih, sampai
Kakak nggak sadar kalau Kakak udah nggak diatas jembatan lagi, semuanya gelap,
Dek... Kakak nggak tau lagi.” Tangisan itu pecah mengiringi ceritanya. Aku tahu
ini semua ada hubungannya dengan tenda biru itu dan apa yang aku lakukan dua
hari yang lalu. Kupeluk erat kakakku yang masih menangis, kami sama-sama takut.
Namun aku tidak tega menceritakan apa yang aku lakukan dua hari yang lalu, pun
juga mimpi buruk itu.Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dan masuk seketika, Pak
Endang. Beliau datang menjenguk kakakku dan menjelaskan banyak hal.
“Neng, maafin Bapak ya... sebenarnya Bapak
tahu penyebab Neng jatuh dari jembatan itu. Bapak tahu siapa wanita yang Neng
liat duduk diatas bangunan itu, Bapak tahu betul, Neng. Sekitar satu bulan yang
lalu, satu-satunya anak perempuan Pak Cecep meninggal. Lilis namanya, dia masih
perawan, Neng. Dia meninggal karena disantet orang. Dia sakit selama 2 minggu,
katanya badannya serasa ditusuk-tusuk, Neng, sampe dia nggak tahan lagi dan dia bunuh diri, Neng. Dia lompat dari atas jembatan. Karena masih perawan, Pak Cecep nggak
mau tali pocong anaknya diambil orang, jadi Pak Cecep ngejagain kuburan anaknya
selama satu bulan lebih dengan diriin tenda biru itu. Berhubung Pak Cecep nggak
ada uang, jadinya beli tanah di kuburan tua itu buat ngubur anaknya. Kata orang
sih, arwah Lilis itu nggak tenang, jadinya rawan banget Neng
kalo digangguin,” jelas Pak Endang.
“Tapi Pak, kenapa harus kakak saya yang digangguin? Kenapa bukan saya?” tanyaku singkat.
“Mungkin karena kakaknya Neng itu adalah orang yang paling Neng
sayangin. Soalnya yang nyantet si Lilis itu sebenernya karena ada dendam ama
Pak Cecep. Jadi Lilis, sebagai anak kesayangan Pak Ceceplah yang jadi korban
santetan itu, Neng,” Pak Endang menjelaskan lagi.
“Sekarang Neng nggak usah takut. Yang penting Neng jangan ngelakuin hal-hal yang aneh-aneh lagi, ya. Bapak
tahu kok yang Neng Afi lakuin dua malam yang lalu. Habis ini kembaliin senter Bapak, ya!
Oke?” Aku benar-benar lega mendengar penjelasan Pak Endang.
Keesokan harinya, Kakak sudah boleh pulang ke asrama. Aku dan teman kamarku pun sudah
bermaaf-maafan. Mila memelukku erat, ia berjanji tidak
akan memaksaku melakukan hal-hal yang tidak baik walaupun itu adalah ideku.
Kami mengembalikan senter itu bersama-sama. Pak Cecep sudah tidak bekerja
sebagai satpam di sekolah kami. Aku memutuskan untuk melupakan semua kejadian
mengerikan itu dan membuang SD Card yang ada di kameraku.
Sekarang aku mengerti, kenapa Lilis masuk kedalam mimpiku. Dia ingin meminta maaf sebelum dan sesudah ia melukai kakakku secara
tidak langsung, karena sebenarnya ia hanya ingin melampiaskan dendamnya. Aku
membenci Lilis, namun karena dialah aku mendapatkan pelajaran untuk berpikir
sebelum bertindak. Aku menerima kata-kata ‘Afwan’-nya.
Aku percaya dia tidak akan mengulanginya. Karena itulah hakikatnya kata ‘maaf’,
yaitu untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Dengan begitulah,
orang menghargai kata ‘maaf’. Namun aku tetap belum bisa memaafkannya, sama
seperti Pak Cecep yang belum bisa memaafkan penyantet yang telah merenggut
nyawa anak kesayangannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar