VARIASI
REGIONAL DAN VARIASI SOSIAL
SOSIOLINGUISTIK
DAN PENGAJARAN BAHASA
A.
Pendahuluan
Sosiolinguistik
mempelajari hubungan antara bahasa dan masyarakat, antara penggunaan bahasa dan
struktur sosial di mana pengguna bahasa itu tinggal. Ilmu ini menjelaskan
mengapa kita berbicara berbeda dalam konteks sosial yang berbeda, mengenali
fungsi sosial bahasa, dan bagaimana fungsi tersebut digunakan untuk
menyampaikan makna sosial yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, dapat
dikatakan bahwa sosiolinguistik adalah ilmu yang secara khusus mendalami fungsi
dan lika-liku variasi atau ragam bahasa (Holmes 1992: 1).
Dalam kehidupan sosial masyarakat yang kompleks tersebut,
wajar jika kemudian muncul bermacam-macam variasi di dalam sebuah bahasa.
Terlebih lagi jika hal tersebut dipandang dari berbagai sudut yang berbeda.
Memperhatikan cara orang-orang menggunakan bahasa dalam konteks sosial yang
berbeda memberikan kekayaan informasi mengenai cara bahasa itu bekerja,
bagaimana hubungan sosial orang-orang tersebut dalam sebuah komunitas, dan cara
mereka saling memberi isyarat terhadap aspek-aspek identitas sosial mereka
melalui bahasa yang mereka gunakan.
Bermacam variasi bahasa dalam kehidupan bermasyarakat menambah
hazanah kekayaan budaya manusia. Variasi bahasa tersebut dipengaruhi oleh
berbagai faktor yang menyebabkan perbedaan antara pemakai bahasa satu dengan
pemakai bahasa lainnya..
Variasi bahasa dapat dibedakan berdasarkan (a) latar belakang
geografi, (b) latar belakang sosial penutur, (c) medium yang digunakan, (d)
pokok pembicaraan, dan (d) latar belakang sejarah. Variasi bahasa berdasarkan
latar belakang geografi disebut dialek. Dialek ini lazim disebut sebagai dialek
regional atau dialek geografi. Variasi bahasa berdasarkan latar belakang sosial
penuturnya disebut juga sosiolek atau dialek sosial. Dialek ini berkenaan
dengan dimensi sosial penutur, seperti etnis, usia, pendidikan, jenis kelamin,
pekerjaan, tingkat kebangsawanan, keadaan sosial ekonomi. Variasi yang ketiga,
yaitu berdasarkan medium yang digunakan adalah bahasa tulis dan bahasa lisan.
Berdasarkan pokok pembicaraan bahasa dibedakan atas bahasa ilmu, bahasa hukum,
bahasa niaga, bahasa jurnalistik, dan bahasa sastra. Variasi yang terakhir,
yaitu berdasarkan latar belakang sejarah atau variasi historis, dibedakan atas
bahasa yang inovatif dan bahasa konservatif.
Namun dalam makalah ini tidak semua variasi bahasa yang disebutkan
di atas akan dibahas, tetapi hanya terfokus pada variasi regional dan variasi
sosial saja.
B.
Variasi Bahasa
Variasi bahasa terjadi oleh karena amat luas wilayah
pemakaiaannya dan bermacam-macam penuturnya. Interaksi antara satu orang dengan
orang yang lainnya yang berbeda, faktor sejarah, dan perkembangan masyarakat
membawa berpengaruh pada bahasa sehingga berubah menjadi berbagai ragam. Jadi
keragaman itu adalah mau tidak mau, merupakan konsekwensi dari hukum alam.
Dalam hal variasi bahasa ini ada dua
pandangan. Pertama, variasi itu dilihat sebagai akibat adanya keragaman sosial
penutur bahasa itu dan keragaman fungsi bahasa itu. Jadi variasi bahasa itu
terjadi sebagai akibat dari adanya keragaman sosial dan keragaman fungsi
bahasa. Kedua, variasi bahasa itu sudah ada untuk memenuhi fungsinya sebagai
alat interaksi dalam kegiatan masyarakat yang beraneka ragam. Kedua pandangan
ini dapat saja diterima ataupun ditolak. Yang jelas, variasi bahasa itu dapat
diklasifikasikan berdasarkan adanya keragaman sosial dan fungsi kegiatan
didalam masyarakat sosial. Namun Halliday membedakan variasi bahasa berdasarkan
pemakai (dialek) dan pemakaian (register).
Berbagai sumber merincikan ragam bahasa. Ada
yang merincikannya dengan membedakan dalam berbagai aspek.
a. Berdasarkan daerah penggunanya.
Ragam daerah sejak lama dikenal dengan nama
logat atau dialek. Bahasa yang menyebar luas selalu mengenal logat.
Masing-masing dapat dipahami secara timbal balik oleh penuturnya;
sekurang-kurangnya oleh penutur dialek yang daerahnya berdampingan. Jika
wilayah pemakaiannya orang tidak mudah berhubungan, misalnya karena dipisahkan
oleh pegunungan, selat, atau laut, maka lambat-laun logatnya akan membentuk
ragam bahasa baru.
Ragam logat/dialek dengan sendirinya erat
hubungannya dengan bahasa ibu si penutur. Ciri-ciri yang meliputi tekanan,
turun-naiknya nada, dan panjang-pendeknya bunyi bahasa membangun aksen yang
berbeda. Logat daerah paling kentara karena tata bunyinya. Logat Indonesia yang
dilafalkan oleh orang Tapanuli dan Ambon dapat dikenali karena tekanan kata
yang amat jelas.
Sikap penutur terhadap aksen penutur lain
berbeda-beda. Aksen itu dapat disenangi dan/atau tidak disenangi. Umumnya dapat
dikatakan bahwa kita berlapang hati terhadap kelainan aksen orang selama bahasanya
masih dapat dipahami. Mungkin hal ini sebagai pengaruh atas penguasaan bahasa
itu yang belum terlalu lama, hingga saat ini masih belum ada proses penyatuan
logat yang jelas.
b. Berdasarkan tingkat pendidikan penutur.
Ragam bahasa menurut pendidikan formal
menunjukkan perbedaan yang jelas antara kaum yang berpendidikan formal dan yang
tidak. Tatabunyi bahasa golongan yang kedua berbeda dengan tatabunyi kaum
terpelajar. Dalam bahasa Indonesia, misalnya, bunyi /f/ dan akhiran /-ks/,
misalnya, tidak selalu terdapat dalam ujaran orang yang tidak bersekolah. Kata
fakultas, film, fitnah, kompleks yang dikenal oleh orang berpendidikan,
bervariasi menjadi pakultas, pilm, pitenah, komplek dalam orang yang tidak
menikmati pengajaran bahasa di sekolah. Perbedaan yang lain juga nampak pada
tata bahasa. Kalimat Saya mau bayar itu uang ke bank cukup jelas maksudnya,
tetapi bahasa yang terpelihara menuntut agar bentuknya menjadi Saya mau
membayar uang itu ke bank. Bahasa orang yang berpendidikan berciri
pemeliharaan.
c. Berdasarkan sikap penutur.
Ragam bahasa Indonesia dalam hal ini mencakup
sejumlah corak. Ragam ini, biasa disebut langgam atau gaya, pemilihannya
bergantung pada sikap penutur terhadap orang yang diajak berkomunikasi. Sikap
ini dipengaruhi antara lain, oleh umur dan kedudukan yang disapa, pokok
persoalan yang hendak disampaikannya, dan tujuan penyampaian informasinya.
Dalam hal ini, penutur dihadapkan dengan pemilihan bentuk-bentuk bahasa
tertentu yang menggambarkan sikap penutur yang kaku, dingin, hambar, hangat,
akrab, atau santai. Perbedaan berbagai gaya itu tercermin dalam pilihan kosa
kata dan tata bahasa. Meskipun begitu, gaya yang bermacam-macam itu tetap kita
kenali. Misalnya, gaya bahasa ketika kita sedang laporan kepada atasan, atau
ketika sedang marah, membujuk anak, menulis surat kepada kekasih, mengobrol
dengan teman karib.
d. Berdasarkan bidang atau pokok persoalan
yang melingkupi penutur.
Setiap penutur bahasa hidup dan bergerak
dalam sejumlah bidang kehidupan sehingga penutur harus memilih salah satu ragam
yang berkaitan atau cocok dengan bidang yang dikuasainya. Bidang yang dimaksud
itu, misalnya, agama, politik, teknologi, pertanian, seni, olah raga, hukum, dan
lain-lain.
e. Berdasarkan sarana, ragam lisan dan ragam tulisan.
Ragam lisan lebih dahulu dikuasai oleh
penggunanya sedangkan ragam lisan diperoleh kemudian. Dalam ragam tulis, orang
yang diajak berkomunikasi tidak ada dihadapan kita. Akibatnya, bahasa kita
perlu lebih jelas karena tulisan kita tidak dapat disertai oleh gerak isyarat,
pandangan, atau anggukan tanda penegasan di pihak kita atau pemahaman di pihak
lain yang kita ajak berkomunikasi. Itulah sebabnya, kalimat dalam ragam tulisan
harus lebih cermat sifatnya. Fungsi tata bahasa, seperti subjek, predikat, dan objek,
serta hubungan di antara fungsi itu, harus jelas. Dalam ragam ujaran, karena
penutur bersemuka/berhadapan, fungsi itu dapat ditinggalkan.
1. Variasi Regional
Pada masa lampau ketika teknologi komunikasi dan perkembangan
media masa belum semaju sekarang, orang dapat menyaksikan betapa gunung dan
sungai memisahkan kelompok-kelompok manusia yang menyebabkan munculnya
perubahan-perubahan bahasa. Misalnya
di Inggris pada pengucapan kata-kata bahasa Inggris oleh orang-orang London,
Manchester, dan Hyde. Kata ’brush’ orang London mengucap [brLs], orang
Manchester mengucapkan [bras], dan orang Hyde mengucapkan [brais]. Di Indonesia
misalnya kata cengkeh, orang Batak Karo menyebut singke, orang
Minangkabau menyebut cangkeh, orang Lampung menyebut cangkih,
orang Madura menyebut cengke, dan orang Flores menyebut singke (Wijayakusuma,
1996:35)
Contoh-contoh
di atas membuktikan bahwa karena rintangan geografis seperti gunung dan sungai,
bahasa yang tadinya merupakan satu alat komunikasi bersama yang seragam antar
kelompok mengalami perubahan sebagai akibat dari perpindahan kelompok-kelompok
manusia itu dari lokasi yang satu ke lokasi yang lain. variasi bahasa yang
disebabkan oleh faktor-faktor geografis ini menciptakan bahasa baru yang
mungkin masih dipahami oleh semua kelompok penuturnya, namun telah mengalami
berbagai perubahan. Bahasa baru ini disebut dialek.
2.
Variasi Sosial
Kehidupan
sosial dalam masyarakat sangat mempengaruhi tingkah laku berbahasa. Kedudukan
sosial atau kelas sosial mengacu kepada golongan masyarakat yang mempunyai
kesamaan tertentu dalam bidang kemasyarakatan seperti ekonomi, pekerjaan,
pendidikan, kedudukan, kasta dan sebagainya.
Seorang
individu mungkin mempunyai status sosial yang lebih dari satu. Misalnya si A
adalah seorang guru yang suaminya seorang pejabat. Jika dia seorang guru PNS,
dia masuk ke dalam kelas pegawai negeri dan juga masuk ke dalam kelas istri
pejabat. Ketika dia berkomunikasi dengan sesama PNS, bahasa yang digunakannya
akan berbeda ketika dia berkomunikasi dengan teman-temannya sesama istri
pejabat. Variasi ini menyebabkan munculnya ragam-ragam khusus yang lazim
dituturkan oleh masing-masing kelompok tersebut yang dinamakan sosiolek.
Dalam
pengkajian sosiolek ditemukan beberapa istilah yang menunjukkan adanya variasi
tertentu yang menghasilkan ragam-ragam bahasa tertentu pula. Istilah yang
terkait dengan sosiolek adalah (1) akrolek, (2) basilek, (3) vulgar, (4) slang,
(5) kolokial, (6) jargon, (7) argot, dan (8) ken
1)
Akrolek adalah realisasi variasi bahasa yang
dipandang lebih bergengsi atau lebih tinggi dari varietas-varietas yang lain.
Contoh:
2)
Basilek adalah realisasi variasi bahasa yang
dipandang kurang bergengsi atau bahkan dipandang rendah. Misalnya, pada bahasa
yang dipakai oleh para kuli pasar, bahasa Jawa krama ndesa, dan lain-lain.
Contoh:
bahasa Jawa krama ndesa:
“Mangsa
ketigen menika sami kekirangan toya.”
(Musim
kemarau ini pada kekurangan air.)
“Mesakake
sanget nggih...tiyang sepahipun sampun seda sedanten.”
(Kasihan
sekali ya...orang tuanya sudah meninggal semua.)
3)
Vulgar adalah wujud variasi bahasa yang
ciri-cirinya menunjukkan pemakaian bahasa oleh penutur yang kurang terpelajar
atau dari kalangan orang-orang bodoh. Bagi kalangan yang kurang terpelajar
dalam berbahasa cenderung langsung mengungkapkan maksudnya tanpa mempertimbangkan
bentuk bahasanya. Oleh karena itu bahasa yang dipergunakan adalah bahasa dengan
kata-kata kasar.
Contoh:
“Pancen lanangan matane
ana sepuluh pa ya! saben ana wong wadon lewat dipendeliki wae karo ngelek idu.”
(Memang lelaki matanya ada
sepuluh apa ya! Setiap ada wanita lewat dipelototin saja sama menelan ludah.)
“Bocah goblok banget! wis
dikandhani ping seket ra mudheng-mudheng.”
(Anak bodoh sekali! Sudah
diberi tahu lima puluh kali tidak memahami.)
4)
Slang adalah wujud atau realisasi variasi
bahasa yang bersifat khusus dan rahasia. Berarti dipakai oleh kalangan tertentu
yang sangat terbatas dan tidak boleh orang di luar kelompoknya mengerti.
Sebagai langkah untuk menjaga kerahasiaan, slang akan diubah/berubah, jadi
bersifat temporal.
Contoh:
“Daladh
ya Dab?” (Mangan ra Mas?).
“Makan
tidak Mas?‟
“Oya
nangam osbak!” (Ayo mangan bakso!).
“Ayo
makan bakso!‟
5)
Kolokial adalah bahasa percakapan sehari-hari
yang biasanya dipergunakan oleh kelompok sosial kelas bawah.
Contoh:
“Kuliah
Ri...ben cepet rampung, ra mung kluyar-kluyur wae.”
(Kuliah
Ri...biar cepat selesai, tidak hanya main-main saja.)
“Wah..kawanen
ki...sing dha ngantri akeh banget.”
(Wah...kesiangan
ni...yang pada mengantri banyak sekali.)
6)
Jargon adalah wujud variasi bahasa yang
pemakaiannya terbatas pada kelompok-kelompok sosial tertentu. Berbentuk
istilah-istilah khusus namun bersifat rahasia. Misalnya, bahasa tukang batu,
bahasa montir, bahasa kernet dan sopir.
Contoh,
bahasa sopir dan kondektur
7)
Argot adalah wujud variasi bahasa yang
pemakaiannya terbatas pada profesi-profesi tertentu dan bersifat rahasia.
Misalnya bahasa
para pencuri, pencopet, penggarong, dan sebagainya. Letak kekhususannya
biasanya terletak pada kosakata.
Contoh
pada kalangan preman,
8)
Ken (cant) adalah wujud variasi bahasa yang
dipakai oleh kelompok sosial tertentu dengan lagu yang dibuat-buat supaya lebih
menimbulkan kesan “memelas”. Misalnya bahasa para pengemis.
Contoh,
3.
Variasi Kronologis
Variasi
kronologis adalah variasi bahasa yang disebabkan oleh faktor keurutan waktu
atau masa. Perbedaan pemakaian bahasa telah mengakibatkan perbedaan wujud
pemakaian bahasa. Wujud nyata pemakaian bahasanya dinamakan kronolek.
Contoh kronolek
bahasa Jawa.
1)
Bahasa Kawi Jawa Kuno : pada masa
sebelum akhir Majapahit.
Contohnya:
“Mangkana ling sang
prabhu, samahur sang tapisira.”
(Katakanlah sewajarnya olehmu
kepadaku, demikian kata sang prabhu.)
2)
Bahasa Jawa Baru : pada masa sekarang.
Contohnya:
“Kandhane wong mau
dakpikir ya bener, mula aku daknunggang kebo.”
(Perkataan orang tadi aku
pikir ya benar, maka aku menaiki kerbau.)
4.
Variasi Fungsional
Variasi ini
disebabkan oleh perbedaan fungsi pemakaian bahasa. Sampai seberapa jauh
fungsi-fungsi bahasa itu dimanifestasikan akan tampak pada wujud variasi
fungsional atau yang disebut fungsiolek. Pemakaian bahasa dengan pokok
pembicaraan khusus dan dengan cara yang khusus di dalam dunia sosiolinguistik
dikenal dengan istilah register. Contoh beberapa register.
1) Bahasa untuk
khotbah.
2) Bahasa
telegram.
3) Bahasa
reportase.
4) Bahasa MC.
5.
Variasi Gaya/Style
Variasi ini
disebabkan oleh perbedaan gaya. Gaya adalah cara berbahasa seseorang dalam
performansinya secara terencana maupun tidak, secara lisan maupun tertulis.
Mario Pei (dalam Alwasilah, 1985:53, dalam Soeparno, 2003:58) mengemukakan
adanya lima macam gaya, yakni: (1) gaya puisi, (2) gaya prosa, (3) gaya ujaran
baku, (4) gaya kolokial, atau gaya percakapan kelas rendah, dan (5) gaya vulgar
dan slang, sedangkan Martin Joss (1967) membedakan lima macam gaya di dalam
bukunya “The Five Clocks” (dalam Soeparno, 2003:58) berdasarkan tingkat
kebakuan. Kelima macam gaya tersebut adalah.
1)
Gaya Frozen
Gaya ini disebut
juga gaya beku, sebab bentuk pemakaiannya tidak pernah berubah dari masa ke
masa dan oleh siapa pun penuturnya. Misalnya, pada suluk, pada doa mantra, dan
lain-lain.
Contoh:
2)
Gaya Formal
Gaya ini disebut
juga gaya baku. Pola dan kaidahnya sudah ditetapkan secara mantap sebagai suatu
standar dan pemakaiannya dirancangkan pada situasi resmi. Gaya semacam ini
biasa digunakan pada lembaga-lembaga pendidikan, kantor-kantor pemerintah,
pidato, ceramah, buku-buku pelajaran, rapat dinas, dan lain-lain.
Contoh pidato
pembukaan acara:
Kula
nuwun ...
Bapak
Lurah desa Glagaharjo ingkang dhahat kinabekten, aparat desa Glagaharjo ingkang
kula kurmati, Bapak dhukuh Banjarsari, Ngancar, saha Glagahmalang ingkang kula
kurmati, Bapak Dosen Pembimbing Lapangan ingkang kinurmatan, saha Bapak-bapak
tuwin Ibu-ibu ing desa Glagaharjo punika ingkang minulya. Sumangga kita
sesarengan munjukaken puji syukur dhumateng Gusti Ingkang Akarya Jagad awit
kita sedaya menika tansah pinayungan ing karahayon, saengga ing wanci dalu
punika, kita saged kempal ing adicara kethoprak kagem adicara bibaran kkn ing
desa Glagaharjo menika.”
“Assalamu’alaikum
warahmatullahi wa barakatuh ...
Permisi ...
Bapak Lurah desa Glagaharjo
yang dihormati, aparat desa Glagaharjo yang saya hormati, Bapak dukuh
Banjarsari, Ngancar, serta Glagahmalang yang saya hormati, Bapak Dosen
Pembimbing Lapangan yang dihormati, serta Bapakbapak dan Ibu-ibu di desa
Glagaharjo ini yang mulya. Mari kita bersama-sama memanjatkan puji syukur
kepada Tuhan Yang Menciptakan Dunia karena kita semua ini selalu dalam keselamatan,
sehingga dalam kesempatan malam ini, kita dapat berkumpul di dalam acara
ketoprak untuk acara perpisahan kkn di desa Glagaharjo ini.‟
3)
Gaya Konsultatif
Gaya ini disebut
juga setengah resmi atau gaya usaha. Disebut demikian karena bentuknya terletak
di antara gaya formal dan gaya informal. Pemakaian gaya konsultatif kebanyakan
dipergunakan oleh para pengusaha atau kalangan bisnis, selain itu juga biasa
digunakan dalam pembicaraan di sekolah, dan rapatrapat atau pembicaraan yang
berorientasi kepada hasil atau produksi.
Contohnya bahasa
yang digunakan mahasiswa ketika sedang berdiskusi, dosen yang sedang mengajar,
dan lain-lain.
(Selamat siang...kemarin kita
sudah membahas bab tentang morfem, lalu hari ini membahasa bab tentang jenis
morfem.)
4)
Gaya Kasual (casual)
Gaya ini disebut
juga gaya informal atau santai. Ciri gaya ini antara lain banyak dipergunakan
bentuk alegro, yakni bentuk yang diperpendek baik pada level kata, frasa,
maupun kalimatnya. Ciri lain ialah banyaknya unsur leksikal dialek dan unsur
daerah. Gaya bahasa ini biasa dipergunakan oleh para pembicara di warung kopi,
di tempat-tempat rekreasi, di pinggir jalan, dan pembicaraan santai lainnya.
Contohnya,
5)
Gaya Intim (Intimate)
Gaya ini disebut
juga gaya akrab, karena biasa dipergunakan oleh para penutur dan hubungannya
sudah amat akrab. Cirinya hampir sama dengan gaya santai, akan tetapi pada gaya
akrab ini pemakaian alegronya sudah keterlaluan sehingga tidak mungkin
dimengerti oleh orang lain tanpa mengetahui situasinya.
Gaya intim ini
biasa dipakai oleh antaranggota keluarga, teman dekat, dan lain-lain.
Contoh:
6.
Variasi Kultural
Variasi ini
disebabkan oleh perbedaan budaya masyarakat pemakainya. Suatu bahasa yang
dipergunakan oleh penutur asli atau oleh penutur pribumi kadang-kadang
mengalami perubahan dengan masuknya budaya lain. Varietas yang termasuk sebagai
variasi kultural ini antara lain.
a.
Vernakular adalah bahasa asli atau
bahasa penduduk pribumi di suatu wilayah. Misalnya bahasa Jawa di daerah Jawa
Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur.
b.
Pidgin adalah bahasa yang struktur
maupun kosakatanya merupakan struktur campuran sebagai akibat percampuran dua
budaya yang bertemu.
c.
Kreol adalah pidgin yang sudah
berlangsung turun temurun sehingga struktur maupun kosakatanya menjadi mantap.
Bahkan kreol dapat diangkat menjadi bahasa resmi suatu negeri.
d.
Lingua franca adalah bahasa yang
diangkat oleh para penutur yang berbeda budayanya untuk dipakai bersama-sama
sebagai alat komunikasi. Misalnya bahasa Arab di Timur Tengah, bahasa Indonesia
di Nusantara, bahasa Melayu di Nusantara pada zaman Sriwijaya, dan lain-lain.
7.
Variasi Individual
Variasi ini
disebabkan oleh perbedaan perorangan. Wujud variasinya dinamakan idiolek.
Setiap individu penutur memiliki ciri tuturan yang berbeda dengan penutur lain.
Ciri pembeda tersebut terletak pada warna suara, pilihan kata, gaya bahasa,
susunan kalimat, dan sebagainya. Itulah sebabnya kita dapat mengenal seseorang
lewat tuturannya, meskipun tidak melihat si penutur.
Misalnya, idiolek
pada pewayangan, salah satunya idiolek Semar.
Sementara
itu, Nababan dalam Ilmu Pragmatik (Teori dan Penerapannya) (1987:9-17)
menjelaskan bahwa bahasa mempunyai bentuk-bentuk yang sesuai dengan konteks dan
keadaan. Bentuk-bentuk yang berbeda itu disebut ragam bahasa (language
variety).
Ada
empat macam variasi bahasa tergantung pada faktor yang berhubungan atau sejalan
dengan ragam bahasa itu.
1)
Faktor-faktor geografis, yaitu di daerah
mana bahasa itu dipakai sebagai bahasa daerah (regional variety).
2)
Faktor-faktor kemasyarakatan, yaitu
golongan sosioekonomik mana yang memakai bahasa itu sebagai bahasa golongan (social
variety).
3)
Faktor-faktor situasi berbahasa, ini
mencakup: pemeran serta (=pembicara, pendengar, orang lain), tempat berbahasa
(di rumah, di sekolah, di balai sidang dan sebagainya), topik yang dibicarakan,
jalur berbahasa (lisan, tulisan, telegram, dan sebagainya). Ini disebut bahasa
situasi (functional variety).
4)
Faktor-faktor waktu, yaitu di mana-mana
(kurun waktu dalam perjalanan sejarah suatu bahasa) bahasa itu dipakai sebagai
bahasa zaman (temporal atau chronological variety).
Berdasarkan
faktor-faktor tersebut, Nababan membagi variasi bahasa menjadi empat, yaitu
sebagai berikut.
1)
Ragam Dialek
Ragam bahasa yang
berhubungan dengan daerah tempat penuturnya (faktor-faktor geografis) disebut
dialek. Perbedaan dialek terdapat pada seluruh aspek bahasa, yaitu fonologi,
ejaan dan lafal, morfologi dan sintaksis, kosakata dan peribahasa (idiom) dan
juga dalam pragmatik (=penggunaan bahasa).
Contoh:
Dialek Magelang:
Dialek Banyumas:
2)
Ragam Sosiolek
Ragam bahasa yang
berkaitan dengan golongan sosial penutur-penuturnya disebut sosiolek. Misalnya,
sosiolek golongan atas (hartawan dan orang-orang berada), dan golongan menengah
(yang sebagian terdiri dari orang-orang terpelajar).
Contohnya:
3)
Ragam Fungsiolek
Kelompok ragam
bahasa yang ketiga berkaitan dengan situasi berbahasa, siapa-siapa pemeran
serta berbahasa itu serta topik dan jalur (tulisan, lisan, dan sebagainya)
berbahasa itu. Faktor-faktor ini menentukan tingkat formalitas (keresmian)
berbahasa, dan sejalan dengan itu dikembangkanlah apa yang disebut ragam-ragam
fungsional (fungsiolek). Seperti halnya dalam Leonie (2004), Nababan
mengemukakan bahwa Martin Joss, seorang linguis Amerika yang banyak mengkaji
penggunaan bahasa Inggris, membagi ragam fungsiolek ini menjadi lima subragam,
yaitu:
a)
Ragam beku (frozen) adalah ragam
bahasa yang paling resmi yang dipergunakan dalam situasi-situasi yang khidmat
dan upacara-upacara resmi. Dalam bentuk tertulis ragam beku ini terdapat dalam
dokumen-dokumen bersejarah, seperti undang-undang dasar dan dokumen-dokumen
penting lainnya.
Contohnya, dalam Pancasila:
1. Ketuhanan Yang Maha Esa, 2. Kemanusiaan yang adil dan peradab, 3. Persatuan
Indonesia, dan seterusnya.
b)
Ragam resmi (formal) adalah ragam bahasa
yang dipakai dalam pidato-pidato resmi, rapat dinas, atau rapat resmi
pimpinanan suatu badan.
Contoh dalam
pidato Bahasa Jawa:
(Tetapi sebelum saya
membacakan urutan acara yang sudah disusun oleh para keluarga, mari kita
menghantarkan puja-puji ke hadapan Allah SWT Yang Maha Agung yang memberikan
barokah serta rahmat yang sudah diberikan kepada saya dan anda semua.‟
c)
Ragam usaha (consultative) adalah
ragam bahasa yang sesuai dengan pembicaraan-pembicaraan biasa di sekolah,
perusahaan, dan rapat-rapat usaha yang berorientasi kepada hasil atau produksi,
dengan kata lain, ragam ini berada pada tingkat yang paling operasional.
Contohnya bahasa
yang digunakan guru ketika mengajar:
(Pertemuan hari ini kita akan
membahas bab tentang Aksara Jawa. Siapa yang mengetahui jumlah aksara Jawa ini
ada berapa?)
4)
Ragam santai (casual) adalah
ragam bahasa santai antarteman dalam berbincang-bincang, rekreasi, berolah
raga, dan sebagainya. Contohnya ketika dua orang teman sedang
berbincang-bincang.
A : “Lin...wis oleh rung bukune?”
B : “Rung je...”
A : „Lin...sudah dapat belum bukunya?‟
B : „Belum ni...‟
5)
Ragam akrab (intimate) adalah
ragam bahasa antaranggota yang akrab dalam keluarga atau teman-teman yang tidak
perlu berbahasa secara lengkap dengan artikulasi terang, tetapi cukup dengan
ucapan-ucapan yang pendek. Hal ini disebabkan oleh adanya saling pengertian dan
pengetahuan satu sama lain.
Dalam tingkat
inilah banyak dipergunakan bentuk-bentuk dan istilah-istilah (kata-kata) khas
bagi suatu keluarga atau sekelompok teman akrab.
Contoh:
“Woy...bagaimana
Mas? Kok baru kalihatan saja?‟
“Iya ni...lagi
sibuk kemarin.‟
C.
Penutup
Referensi
Coulmas, Florian. Sociolinguistics The Study of
Speakers’ Choices. New York: Cambridge University Press.
Holmes, Janet. 1992. An Introduction to
Sociolinguistics. New York: Longman.
___________. 2008. An Introduction to
Sociolinguistics. London: Longman Group UK Limited.
Wardhough, Ronald. 1998. An Introduction to Sociolinguistics
third edition. Oxford:
Blackwell Publishers Ltd.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar