Senin, 25 April 2016

Sosiolinguistik

VARIASI REGIONAL DAN VARIASI SOSIAL
SOSIOLINGUISTIK DAN PENGAJARAN BAHASA

A.     Pendahuluan
Sosiolinguistik mempelajari hubungan antara bahasa dan masyarakat, antara penggunaan bahasa dan struktur sosial di mana pengguna bahasa itu tinggal. Ilmu ini menjelaskan mengapa kita berbicara berbeda dalam konteks sosial yang berbeda, mengenali fungsi sosial bahasa, dan bagaimana fungsi tersebut digunakan untuk menyampaikan makna sosial yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa sosiolinguistik adalah ilmu yang secara khusus mendalami fungsi dan lika-liku variasi atau ragam bahasa (Holmes 1992: 1).


Dalam kehidupan sosial masyarakat yang kompleks tersebut, wajar jika kemudian muncul bermacam-macam variasi di dalam sebuah bahasa. Terlebih lagi jika hal tersebut dipandang dari berbagai sudut yang berbeda. Memperhatikan cara orang-orang menggunakan bahasa dalam konteks sosial yang berbeda memberikan kekayaan informasi mengenai cara bahasa itu bekerja, bagaimana hubungan sosial orang-orang tersebut dalam sebuah komunitas, dan cara mereka saling memberi isyarat terhadap aspek-aspek identitas sosial mereka melalui bahasa yang mereka gunakan.
Bermacam variasi bahasa dalam kehidupan bermasyarakat menambah hazanah kekayaan budaya manusia. Variasi bahasa tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor yang menyebabkan perbedaan antara pemakai bahasa satu dengan pemakai bahasa lainnya..
Variasi bahasa dapat dibedakan berdasarkan (a) latar belakang geografi, (b) latar belakang sosial penutur, (c) medium yang digunakan, (d) pokok pembicaraan, dan (d) latar belakang sejarah. Variasi bahasa berdasarkan latar belakang geografi disebut dialek. Dialek ini lazim disebut sebagai dialek regional atau dialek geografi. Variasi bahasa berdasarkan latar belakang sosial penuturnya disebut juga sosiolek atau dialek sosial. Dialek ini berkenaan dengan dimensi sosial penutur, seperti etnis, usia, pendidikan, jenis kelamin, pekerjaan, tingkat kebangsawanan, keadaan sosial ekonomi. Variasi yang ketiga, yaitu berdasarkan medium yang digunakan adalah bahasa tulis dan bahasa lisan. Berdasarkan pokok pembicaraan bahasa dibedakan atas bahasa ilmu, bahasa hukum, bahasa niaga, bahasa jurnalistik, dan bahasa sastra. Variasi yang terakhir, yaitu berdasarkan latar belakang sejarah atau variasi historis, dibedakan atas bahasa yang inovatif dan bahasa konservatif.
Namun dalam makalah ini tidak semua variasi bahasa yang disebutkan di atas akan dibahas, tetapi hanya terfokus pada variasi regional dan variasi sosial saja.

B.    Variasi Bahasa
Variasi bahasa terjadi oleh karena amat luas wilayah pemakaiaannya dan bermacam-macam penuturnya. Interaksi antara satu orang dengan orang yang lainnya yang berbeda, faktor sejarah, dan perkembangan masyarakat membawa berpengaruh pada bahasa sehingga berubah menjadi berbagai ragam. Jadi keragaman itu adalah mau tidak mau, merupakan konsekwensi dari hukum alam.
Dalam hal variasi bahasa ini ada dua pandangan. Pertama, variasi itu dilihat sebagai akibat adanya keragaman sosial penutur bahasa itu dan keragaman fungsi bahasa itu. Jadi variasi bahasa itu terjadi sebagai akibat dari adanya keragaman sosial dan keragaman fungsi bahasa. Kedua, variasi bahasa itu sudah ada untuk memenuhi fungsinya sebagai alat interaksi dalam kegiatan masyarakat yang beraneka ragam. Kedua pandangan ini dapat saja diterima ataupun ditolak. Yang jelas, variasi bahasa itu dapat diklasifikasikan berdasarkan adanya keragaman sosial dan fungsi kegiatan didalam masyarakat sosial. Namun Halliday membedakan variasi bahasa berdasarkan pemakai (dialek) dan pemakaian (register).
Berbagai sumber merincikan ragam bahasa. Ada yang merincikannya dengan membedakan dalam berbagai aspek.
a.    Berdasarkan daerah penggunanya.
Ragam daerah sejak lama dikenal dengan nama logat atau dialek. Bahasa yang menyebar luas selalu mengenal logat. Masing-masing dapat dipahami secara timbal balik oleh penuturnya; sekurang-kurangnya oleh penutur dialek yang daerahnya berdampingan. Jika wilayah pemakaiannya orang tidak mudah berhubungan, misalnya karena dipisahkan oleh pegunungan, selat, atau laut, maka lambat-laun logatnya akan membentuk ragam bahasa baru.
Ragam logat/dialek dengan sendirinya erat hubungannya dengan bahasa ibu si penutur. Ciri-ciri yang meliputi tekanan, turun-naiknya nada, dan panjang-pendeknya bunyi bahasa membangun aksen yang berbeda. Logat daerah paling kentara karena tata bunyinya. Logat Indonesia yang dilafalkan oleh orang Tapanuli dan Ambon dapat dikenali karena tekanan kata yang amat jelas.
Sikap penutur terhadap aksen penutur lain berbeda-beda. Aksen itu dapat disenangi dan/atau tidak disenangi. Umumnya dapat dikatakan bahwa kita berlapang hati terhadap kelainan aksen orang selama bahasanya masih dapat dipahami. Mungkin hal ini sebagai pengaruh atas penguasaan bahasa itu yang belum terlalu lama, hingga saat ini masih belum ada proses penyatuan logat yang jelas.

b.    Berdasarkan tingkat pendidikan penutur.
Ragam bahasa menurut pendidikan formal menunjukkan perbedaan yang jelas antara kaum yang berpendidikan formal dan yang tidak. Tatabunyi bahasa golongan yang kedua berbeda dengan tatabunyi kaum terpelajar. Dalam bahasa Indonesia, misalnya, bunyi /f/ dan akhiran /-ks/, misalnya, tidak selalu terdapat dalam ujaran orang yang tidak bersekolah. Kata fakultas, film, fitnah, kompleks yang dikenal oleh orang berpendidikan, bervariasi menjadi pakultas, pilm, pitenah, komplek dalam orang yang tidak menikmati pengajaran bahasa di sekolah. Perbedaan yang lain juga nampak pada tata bahasa. Kalimat Saya mau bayar itu uang ke bank cukup jelas maksudnya, tetapi bahasa yang terpelihara menuntut agar bentuknya menjadi Saya mau membayar uang itu ke bank. Bahasa orang yang berpendidikan berciri pemeliharaan.
c.     Berdasarkan sikap penutur.
Ragam bahasa Indonesia dalam hal ini mencakup sejumlah corak. Ragam ini, biasa disebut langgam atau gaya, pemilihannya bergantung pada sikap penutur terhadap orang yang diajak berkomunikasi. Sikap ini dipengaruhi antara lain, oleh umur dan kedudukan yang disapa, pokok persoalan yang hendak disampaikannya, dan tujuan penyampaian informasinya. Dalam hal ini, penutur dihadapkan dengan pemilihan bentuk-bentuk bahasa tertentu yang menggambarkan sikap penutur yang kaku, dingin, hambar, hangat, akrab, atau santai. Perbedaan berbagai gaya itu tercermin dalam pilihan kosa kata dan tata bahasa. Meskipun begitu, gaya yang bermacam-macam itu tetap kita kenali. Misalnya, gaya bahasa ketika kita sedang laporan kepada atasan, atau ketika sedang marah, membujuk anak, menulis surat kepada kekasih, mengobrol dengan teman karib.
d.    Berdasarkan bidang atau pokok persoalan yang melingkupi penutur.
Setiap penutur bahasa hidup dan bergerak dalam sejumlah bidang kehidupan sehingga penutur harus memilih salah satu ragam yang berkaitan atau cocok dengan bidang yang dikuasainya. Bidang yang dimaksud itu, misalnya, agama, politik, teknologi, pertanian, seni, olah raga, hukum, dan lain-lain.
e.    Berdasarkan sarana, ragam lisan dan ragam tulisan.
Ragam lisan lebih dahulu dikuasai oleh penggunanya sedangkan ragam lisan diperoleh kemudian. Dalam ragam tulis, orang yang diajak berkomunikasi tidak ada dihadapan kita. Akibatnya, bahasa kita perlu lebih jelas karena tulisan kita tidak dapat disertai oleh gerak isyarat, pandangan, atau anggukan tanda penegasan di pihak kita atau pemahaman di pihak lain yang kita ajak berkomunikasi. Itulah sebabnya, kalimat dalam ragam tulisan harus lebih cermat sifatnya. Fungsi tata bahasa, seperti subjek, predikat, dan objek, serta hubungan di antara fungsi itu, harus jelas. Dalam ragam ujaran, karena penutur bersemuka/berhadapan, fungsi itu dapat ditinggalkan.

1.    Variasi Regional
Pada masa lampau ketika teknologi komunikasi dan perkembangan media masa belum semaju sekarang, orang dapat menyaksikan betapa gunung dan sungai memisahkan kelompok-kelompok manusia yang menyebabkan munculnya perubahan-perubahan bahasa. Misalnya di Inggris pada pengucapan kata-kata bahasa Inggris oleh orang-orang London, Manchester, dan Hyde. Kata ’brush’ orang London mengucap [brLs], orang Manchester mengucapkan [bras], dan orang Hyde mengucapkan [brais]. Di Indonesia misalnya kata cengkeh, orang Batak Karo menyebut singke, orang Minangkabau menyebut cangkeh, orang Lampung menyebut cangkih, orang Madura menyebut cengke, dan orang Flores menyebut singke (Wijayakusuma, 1996:35)
Contoh-contoh di atas membuktikan bahwa karena rintangan geografis seperti gunung dan sungai, bahasa yang tadinya merupakan satu alat komunikasi bersama yang seragam antar kelompok mengalami perubahan sebagai akibat dari perpindahan kelompok-kelompok manusia itu dari lokasi yang satu ke lokasi yang lain. variasi bahasa yang disebabkan oleh faktor-faktor geografis ini menciptakan bahasa baru yang mungkin masih dipahami oleh semua kelompok penuturnya, namun telah mengalami berbagai perubahan. Bahasa baru ini disebut dialek.

2.    Variasi Sosial
Kehidupan sosial dalam masyarakat sangat mempengaruhi tingkah laku berbahasa. Kedudukan sosial atau kelas sosial mengacu kepada golongan masyarakat yang mempunyai kesamaan tertentu dalam bidang kemasyarakatan seperti ekonomi, pekerjaan, pendidikan, kedudukan, kasta dan sebagainya.
Seorang individu mungkin mempunyai status sosial yang lebih dari satu. Misalnya si A adalah seorang guru yang suaminya seorang pejabat. Jika dia seorang guru PNS, dia masuk ke dalam kelas pegawai negeri dan juga masuk ke dalam kelas istri pejabat. Ketika dia berkomunikasi dengan sesama PNS, bahasa yang digunakannya akan berbeda ketika dia berkomunikasi dengan teman-temannya sesama istri pejabat. Variasi ini menyebabkan munculnya ragam-ragam khusus yang lazim dituturkan oleh masing-masing kelompok tersebut yang dinamakan sosiolek.
Dalam pengkajian sosiolek ditemukan beberapa istilah yang menunjukkan adanya variasi tertentu yang menghasilkan ragam-ragam bahasa tertentu pula. Istilah yang terkait dengan sosiolek adalah (1) akrolek, (2) basilek, (3) vulgar, (4) slang, (5) kolokial, (6) jargon, (7) argot, dan (8) ken

1)     Akrolek adalah realisasi variasi bahasa yang dipandang lebih bergengsi atau lebih tinggi dari varietas-varietas yang lain.
Contoh:
*        Bahasa Bagongan yang khusus dipakai oleh para bangsawan di kalangan kraton Jawa.
*        Bahasa Jawa dialek standar dianggap paling bergengsi di antara dialek bahasa Jawa lainnya.
*        Bahasa Arab baku (bahasa Arab buku pelajaran)

2)     Basilek adalah realisasi variasi bahasa yang dipandang kurang bergengsi atau bahkan dipandang rendah. Misalnya, pada bahasa yang dipakai oleh para kuli pasar, bahasa Jawa krama ndesa, dan lain-lain.

Contoh: bahasa Jawa krama ndesa:
Mangsa ketigen menika sami kekirangan toya.
(Musim kemarau ini pada kekurangan air.)

Mesakake sanget nggih...tiyang sepahipun sampun seda sedanten.
(Kasihan sekali ya...orang tuanya sudah meninggal semua.)

3)     Vulgar adalah wujud variasi bahasa yang ciri-cirinya menunjukkan pemakaian bahasa oleh penutur yang kurang terpelajar atau dari kalangan orang-orang bodoh. Bagi kalangan yang kurang terpelajar dalam berbahasa cenderung langsung mengungkapkan maksudnya tanpa mempertimbangkan bentuk bahasanya. Oleh karena itu bahasa yang dipergunakan adalah bahasa dengan kata-kata kasar.

Contoh:
Pancen lanangan matane ana sepuluh pa ya! saben ana wong wadon lewat dipendeliki wae karo ngelek idu.
(Memang lelaki matanya ada sepuluh apa ya! Setiap ada wanita lewat dipelototin saja sama menelan ludah.)

Bocah goblok banget! wis dikandhani ping seket ra mudheng-mudheng.
(Anak bodoh sekali! Sudah diberi tahu lima puluh kali tidak memahami.)

4)     Slang adalah wujud atau realisasi variasi bahasa yang bersifat khusus dan rahasia. Berarti dipakai oleh kalangan tertentu yang sangat terbatas dan tidak boleh orang di luar kelompoknya mengerti. Sebagai langkah untuk menjaga kerahasiaan, slang akan diubah/berubah, jadi bersifat temporal.

Contoh:
*        Bahasa Dagadu Yogyakarta:
Daladh ya Dab?” (Mangan ra Mas?).
“Makan tidak Mas?‟

*        Bahasa Walikan Malang:
Oya nangam osbak!” (Ayo mangan bakso!).
“Ayo makan bakso!‟

5)     Kolokial adalah bahasa percakapan sehari-hari yang biasanya dipergunakan oleh kelompok sosial kelas bawah.

Contoh:
Kuliah Ri...ben cepet rampung, ra mung kluyar-kluyur wae.
(Kuliah Ri...biar cepat selesai, tidak hanya main-main saja.)

Wah..kawanen ki...sing dha ngantri akeh banget.
(Wah...kesiangan ni...yang pada mengantri banyak sekali.)

6)     Jargon adalah wujud variasi bahasa yang pemakaiannya terbatas pada kelompok-kelompok sosial tertentu. Berbentuk istilah-istilah khusus namun bersifat rahasia. Misalnya, bahasa tukang batu, bahasa montir, bahasa kernet dan sopir.

Contoh, bahasa sopir dan kondektur
*        cabut          = jalan
*        kiri               = berhenti
*        sewa           = penumpang
*        narik           = nyupir         
*        mburi prei  = mundur ke belakang
*        anggur       = menaikkan penumpang yang sudah tua
*        ngetem      = berhenti di halte
*        melu           = menaikkan penumpang

7)     Argot adalah wujud variasi bahasa yang pemakaiannya terbatas pada profesi-profesi tertentu dan bersifat rahasia.

Misalnya bahasa para pencuri, pencopet, penggarong, dan sebagainya. Letak kekhususannya biasanya terletak pada kosakata.

Contoh pada kalangan preman,
*        sangek = nafsu,
*        cipok = cium,
*        pecun = psk,
*        mokat = mati, dan lain-lain.

8)     Ken (cant) adalah wujud variasi bahasa yang dipakai oleh kelompok sosial tertentu dengan lagu yang dibuat-buat supaya lebih menimbulkan kesan “memelas”. Misalnya bahasa para pengemis.

Contoh,
*        Pak...nyuwun paring-paring Pak...seikhlase mawon...kula dereng maem Pak...”. (Pak...minta Pak...seikhlasnya saja...saya belum makan Pak.)

3.     Variasi Kronologis
Variasi kronologis adalah variasi bahasa yang disebabkan oleh faktor keurutan waktu atau masa. Perbedaan pemakaian bahasa telah mengakibatkan perbedaan wujud pemakaian bahasa. Wujud nyata pemakaian bahasanya dinamakan kronolek.
Contoh kronolek bahasa Jawa.
1)     Bahasa Kawi Jawa Kuno : pada masa sebelum akhir Majapahit.
Contohnya:
Mangkana ling sang prabhu, samahur sang tapisira.
(Katakanlah sewajarnya olehmu kepadaku, demikian kata sang prabhu.)

2)     Bahasa Jawa Baru : pada masa sekarang.
Contohnya:
Kandhane wong mau dakpikir ya bener, mula aku daknunggang kebo.
(Perkataan orang tadi aku pikir ya benar, maka aku menaiki kerbau.)

4.     Variasi Fungsional
Variasi ini disebabkan oleh perbedaan fungsi pemakaian bahasa. Sampai seberapa jauh fungsi-fungsi bahasa itu dimanifestasikan akan tampak pada wujud variasi fungsional atau yang disebut fungsiolek. Pemakaian bahasa dengan pokok pembicaraan khusus dan dengan cara yang khusus di dalam dunia sosiolinguistik dikenal dengan istilah register. Contoh beberapa register.
1) Bahasa untuk khotbah.
2) Bahasa telegram.
3) Bahasa reportase.
4) Bahasa MC.

5.     Variasi Gaya/Style
Variasi ini disebabkan oleh perbedaan gaya. Gaya adalah cara berbahasa seseorang dalam performansinya secara terencana maupun tidak, secara lisan maupun tertulis. Mario Pei (dalam Alwasilah, 1985:53, dalam Soeparno, 2003:58) mengemukakan adanya lima macam gaya, yakni: (1) gaya puisi, (2) gaya prosa, (3) gaya ujaran baku, (4) gaya kolokial, atau gaya percakapan kelas rendah, dan (5) gaya vulgar dan slang, sedangkan Martin Joss (1967) membedakan lima macam gaya di dalam bukunya “The Five Clocks” (dalam Soeparno, 2003:58) berdasarkan tingkat kebakuan. Kelima macam gaya tersebut adalah.
1)     Gaya Frozen
Gaya ini disebut juga gaya beku, sebab bentuk pemakaiannya tidak pernah berubah dari masa ke masa dan oleh siapa pun penuturnya. Misalnya, pada suluk, pada doa mantra, dan lain-lain.

Contoh:
*        Lengeng gati nikang hawan sabha-sabha niking Hastina, samantara tekeng tegal Kuru nararyya Krsnan laku, sirang Parasurama Kanwa Janakadulur Narada, kapanggih irikang tegal miluri karyya sang Bhupati. (Asri – nengsemaken kawontenanipun margi ingkang (ngener) dhateng bangsal (papan pirembagan) Hastina. Sareng tindakipun Prabu Kresna dumugi ing ara-ara Kuru, panjenenganipun kepanggih (kepethuk) kaliyan Parasuruma, Kanwa lan Janaka (ingkang sampun sami asalira dewa) sesarengan kaliyan (Bathara) Narada; sakawan punika) sami tumut mbiyantu pakaryanipun (tugasnya) Sang Prabu)

2)     Gaya Formal
Gaya ini disebut juga gaya baku. Pola dan kaidahnya sudah ditetapkan secara mantap sebagai suatu standar dan pemakaiannya dirancangkan pada situasi resmi. Gaya semacam ini biasa digunakan pada lembaga-lembaga pendidikan, kantor-kantor pemerintah, pidato, ceramah, buku-buku pelajaran, rapat dinas, dan lain-lain.

Contoh pidato pembukaan acara:
*        Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh ...
Kula nuwun ...
Bapak Lurah desa Glagaharjo ingkang dhahat kinabekten, aparat desa Glagaharjo ingkang kula kurmati, Bapak dhukuh Banjarsari, Ngancar, saha Glagahmalang ingkang kula kurmati, Bapak Dosen Pembimbing Lapangan ingkang kinurmatan, saha Bapak-bapak tuwin Ibu-ibu ing desa Glagaharjo punika ingkang minulya. Sumangga kita sesarengan munjukaken puji syukur dhumateng Gusti Ingkang Akarya Jagad awit kita sedaya menika tansah pinayungan ing karahayon, saengga ing wanci dalu punika, kita saged kempal ing adicara kethoprak kagem adicara bibaran kkn ing desa Glagaharjo menika.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh ...
Permisi ...
Bapak Lurah desa Glagaharjo yang dihormati, aparat desa Glagaharjo yang saya hormati, Bapak dukuh Banjarsari, Ngancar, serta Glagahmalang yang saya hormati, Bapak Dosen Pembimbing Lapangan yang dihormati, serta Bapakbapak dan Ibu-ibu di desa Glagaharjo ini yang mulya. Mari kita bersama-sama memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Menciptakan Dunia karena kita semua ini selalu dalam keselamatan, sehingga dalam kesempatan malam ini, kita dapat berkumpul di dalam acara ketoprak untuk acara perpisahan kkn di desa Glagaharjo ini.‟

3)     Gaya Konsultatif
Gaya ini disebut juga setengah resmi atau gaya usaha. Disebut demikian karena bentuknya terletak di antara gaya formal dan gaya informal. Pemakaian gaya konsultatif kebanyakan dipergunakan oleh para pengusaha atau kalangan bisnis, selain itu juga biasa digunakan dalam pembicaraan di sekolah, dan rapatrapat atau pembicaraan yang berorientasi kepada hasil atau produksi.

Contohnya bahasa yang digunakan mahasiswa ketika sedang berdiskusi, dosen yang sedang mengajar, dan lain-lain.

*        Sugeng siyang...kala wingi kita sampun ngrembag babagan morfem, lajeng dinten menika ngrembag babagan jinising morfem”.

(Selamat siang...kemarin kita sudah membahas bab tentang morfem, lalu hari ini membahasa bab tentang jenis morfem.)

4)     Gaya Kasual (casual)
Gaya ini disebut juga gaya informal atau santai. Ciri gaya ini antara lain banyak dipergunakan bentuk alegro, yakni bentuk yang diperpendek baik pada level kata, frasa, maupun kalimatnya. Ciri lain ialah banyaknya unsur leksikal dialek dan unsur daerah. Gaya bahasa ini biasa dipergunakan oleh para pembicara di warung kopi, di tempat-tempat rekreasi, di pinggir jalan, dan pembicaraan santai lainnya.

Contohnya,
*        Heh...py Le garapane?” (Heh...bagaimana Nak pekerjaannya?)
*        Wah...apik je hpmu saiki.” (Wah...bagus ya hpmu sekarang.)

5)     Gaya Intim (Intimate)
Gaya ini disebut juga gaya akrab, karena biasa dipergunakan oleh para penutur dan hubungannya sudah amat akrab. Cirinya hampir sama dengan gaya santai, akan tetapi pada gaya akrab ini pemakaian alegronya sudah keterlaluan sehingga tidak mungkin dimengerti oleh orang lain tanpa mengetahui situasinya.
Gaya intim ini biasa dipakai oleh antaranggota keluarga, teman dekat, dan lain-lain.

Contoh:
*        Dik...ruh gunting ra?ket mau tak goleki kok ra nemu.” (Dik...lihat gunting tidak?dari tadi aku cari kok tidak ketemu.)
*        Tekan ndi?gene ra tekan-tekan.” (Sampai mana?kok tidak sampai-sampai.)



6.     Variasi Kultural
Variasi ini disebabkan oleh perbedaan budaya masyarakat pemakainya. Suatu bahasa yang dipergunakan oleh penutur asli atau oleh penutur pribumi kadang-kadang mengalami perubahan dengan masuknya budaya lain. Varietas yang termasuk sebagai variasi kultural ini antara lain.
a.     Vernakular adalah bahasa asli atau bahasa penduduk pribumi di suatu wilayah. Misalnya bahasa Jawa di daerah Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur.
b.     Pidgin adalah bahasa yang struktur maupun kosakatanya merupakan struktur campuran sebagai akibat percampuran dua budaya yang bertemu.
c.      Kreol adalah pidgin yang sudah berlangsung turun temurun sehingga struktur maupun kosakatanya menjadi mantap. Bahkan kreol dapat diangkat menjadi bahasa resmi suatu negeri.
d.     Lingua franca adalah bahasa yang diangkat oleh para penutur yang berbeda budayanya untuk dipakai bersama-sama sebagai alat komunikasi. Misalnya bahasa Arab di Timur Tengah, bahasa Indonesia di Nusantara, bahasa Melayu di Nusantara pada zaman Sriwijaya, dan lain-lain.

7.     Variasi Individual
Variasi ini disebabkan oleh perbedaan perorangan. Wujud variasinya dinamakan idiolek. Setiap individu penutur memiliki ciri tuturan yang berbeda dengan penutur lain. Ciri pembeda tersebut terletak pada warna suara, pilihan kata, gaya bahasa, susunan kalimat, dan sebagainya. Itulah sebabnya kita dapat mengenal seseorang lewat tuturannya, meskipun tidak melihat si penutur.
Misalnya, idiolek pada pewayangan, salah satunya idiolek Semar.

Sementara itu, Nababan dalam Ilmu Pragmatik (Teori dan Penerapannya) (1987:9-17) menjelaskan bahwa bahasa mempunyai bentuk-bentuk yang sesuai dengan konteks dan keadaan. Bentuk-bentuk yang berbeda itu disebut ragam bahasa (language variety).
Ada empat macam variasi bahasa tergantung pada faktor yang berhubungan atau sejalan dengan ragam bahasa itu.
1)     Faktor-faktor geografis, yaitu di daerah mana bahasa itu dipakai sebagai bahasa daerah (regional variety).
2)     Faktor-faktor kemasyarakatan, yaitu golongan sosioekonomik mana yang memakai bahasa itu sebagai bahasa golongan (social variety).
3)     Faktor-faktor situasi berbahasa, ini mencakup: pemeran serta (=pembicara, pendengar, orang lain), tempat berbahasa (di rumah, di sekolah, di balai sidang dan sebagainya), topik yang dibicarakan, jalur berbahasa (lisan, tulisan, telegram, dan sebagainya). Ini disebut bahasa situasi (functional variety).
4)     Faktor-faktor waktu, yaitu di mana-mana (kurun waktu dalam perjalanan sejarah suatu bahasa) bahasa itu dipakai sebagai bahasa zaman (temporal atau chronological variety).

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, Nababan membagi variasi bahasa menjadi empat, yaitu sebagai berikut.

1)     Ragam Dialek
Ragam bahasa yang berhubungan dengan daerah tempat penuturnya (faktor-faktor geografis) disebut dialek. Perbedaan dialek terdapat pada seluruh aspek bahasa, yaitu fonologi, ejaan dan lafal, morfologi dan sintaksis, kosakata dan peribahasa (idiom) dan juga dalam pragmatik (=penggunaan bahasa).

Contoh:
Dialek Magelang:
*        Aku meh lunga neng Magelang mbek Ibuku.” (Aku mau pergi ke Magelang sama Ibuku.)

Dialek Banyumas:
*        Nyong be ra ngerti ko karepe kepriwe.” (Aku saja tidak mengerti kamu kemauannya bagaimana.)

2)     Ragam Sosiolek
Ragam bahasa yang berkaitan dengan golongan sosial penutur-penuturnya disebut sosiolek. Misalnya, sosiolek golongan atas (hartawan dan orang-orang berada), dan golongan menengah (yang sebagian terdiri dari orang-orang terpelajar).

Contohnya:
*        Sampun nindakaken bayar pajak Bu?” (Sudah melakukan bayar pajak Bu?)

*        Nuwun sewu, badhe kepanggih Pak RT wonten?” (Permisi, mau ketemu Pak RT ada?)

3)     Ragam Fungsiolek
Kelompok ragam bahasa yang ketiga berkaitan dengan situasi berbahasa, siapa-siapa pemeran serta berbahasa itu serta topik dan jalur (tulisan, lisan, dan sebagainya) berbahasa itu. Faktor-faktor ini menentukan tingkat formalitas (keresmian) berbahasa, dan sejalan dengan itu dikembangkanlah apa yang disebut ragam-ragam fungsional (fungsiolek). Seperti halnya dalam Leonie (2004), Nababan mengemukakan bahwa Martin Joss, seorang linguis Amerika yang banyak mengkaji penggunaan bahasa Inggris, membagi ragam fungsiolek ini menjadi lima subragam, yaitu:

a)     Ragam beku (frozen) adalah ragam bahasa yang paling resmi yang dipergunakan dalam situasi-situasi yang khidmat dan upacara-upacara resmi. Dalam bentuk tertulis ragam beku ini terdapat dalam dokumen-dokumen bersejarah, seperti undang-undang dasar dan dokumen-dokumen penting lainnya.

Contohnya, dalam Pancasila: 1. Ketuhanan Yang Maha Esa, 2. Kemanusiaan yang adil dan peradab, 3. Persatuan Indonesia, dan seterusnya.

b)     Ragam resmi (formal) adalah ragam bahasa yang dipakai dalam pidato-pidato resmi, rapat dinas, atau rapat resmi pimpinanan suatu badan.

Contoh dalam pidato Bahasa Jawa:
*        Namung saderengipun kula ngaturaken urut reroncening adicara ingkang sampun karakit dening para kaluwarga, sumangga nun kula dherekaken ngaturaken puja-puji pudyastuti wonten ing ngarsanipun Ngarsa Dalem Allah SWT Ingkang Maha Agung awit ageng barokah saha rahmat ingkang sampun kaparingaken dhumateng kula panjenengan sami.

(Tetapi sebelum saya membacakan urutan acara yang sudah disusun oleh para keluarga, mari kita menghantarkan puja-puji ke hadapan Allah SWT Yang Maha Agung yang memberikan barokah serta rahmat yang sudah diberikan kepada saya dan anda semua.‟

c)     Ragam usaha (consultative) adalah ragam bahasa yang sesuai dengan pembicaraan-pembicaraan biasa di sekolah, perusahaan, dan rapat-rapat usaha yang berorientasi kepada hasil atau produksi, dengan kata lain, ragam ini berada pada tingkat yang paling operasional.

Contohnya bahasa yang digunakan guru ketika mengajar:
*        Pepanggihan dinten menika kita badhe ngrembag babagan Aksara Jawa. Sinten ingkang mangertos cacahipun aksara Jawa menika wonten pinten?

(Pertemuan hari ini kita akan membahas bab tentang Aksara Jawa. Siapa yang mengetahui jumlah aksara Jawa ini ada berapa?)

4)     Ragam santai (casual) adalah ragam bahasa santai antarteman dalam berbincang-bincang, rekreasi, berolah raga, dan sebagainya. Contohnya ketika dua orang teman sedang berbincang-bincang.
A    : “Lin...wis oleh rung bukune?
B    : “Rung je...

A    : „Lin...sudah dapat belum bukunya?‟
B    : „Belum ni...‟

5)     Ragam akrab (intimate) adalah ragam bahasa antaranggota yang akrab dalam keluarga atau teman-teman yang tidak perlu berbahasa secara lengkap dengan artikulasi terang, tetapi cukup dengan ucapan-ucapan yang pendek. Hal ini disebabkan oleh adanya saling pengertian dan pengetahuan satu sama lain.
Dalam tingkat inilah banyak dipergunakan bentuk-bentuk dan istilah-istilah (kata-kata) khas bagi suatu keluarga atau sekelompok teman akrab.

Contoh:
*        Woy...piye Dab? Kok lagi ketok wae?
“Woy...bagaimana Mas? Kok baru kalihatan saja?‟

*        Iya ki...lagi sibuk wingi.
“Iya ni...lagi sibuk kemarin.‟

C.    Penutup



Referensi

Coulmas, Florian. Sociolinguistics The Study of Speakers’ Choices. New York: Cambridge University Press.

Holmes, Janet. 1992. An Introduction to Sociolinguistics. New York: Longman.

___________. 2008. An Introduction to Sociolinguistics. London: Longman Group UK Limited.


Wardhough, Ronald. 1998. An Introduction to Sociolinguistics third edition. Oxford: Blackwell Publishers Ltd.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar