Lewat
Istikharah
Oleh Kholifatul Husna
“Sehebat apapun rencana kita dalam hidup, tetap saja, skenario-Nya lebih indah. Dan bukan berarti menyurutkan ikhtiar kita.”
Tatapannya
tajam, menggambarkan kewibawaan perangainya, hanya lurus mentapi ubin-ubin
koridor sekolah.
“Sst, ituh tuh, Han. Pujaan
hati lu,” cerocos Iqbal saat Ziyana melintasi gerombolannya.
“Hah.. apaan?” Pandangan
Farhan yang sedari tadi mengikuti langkah Ziyana terpecah oleh suara Iqbal.
“Wk..wk..wk...
biasa aja dong ngelihatnya! Lu kapan bakal bilang ke Ziyana?” timpal Fahmi.
“Tenang
saja, saat waktunya tepat, akan kulamar dia,” jawab Farhan mantap.
“Keburu
diduluin orang lain, Han! Lu harus bergerak cepat!”
“Enggak
lah, dia ‘kan tipikal anak yang ambisius dengan akademik. Kayaknya gak secepat
itu ia bakal nikah, apalagi tepat setelah lulus SMA.”
“Yah
semoga saja,” sahut Iqbal.
***
Hari
itu tepat kepulangannya dari ajang OSN. Ya, kehadirannya dan teman-teman yang
lain membawa kembali keharuman nama SMU
Insan Cendekia.
Farhan memperoleh medali perak bidang matematika. Mamanya turut bangga atas
pencapaiannya, hari itu juga mamanya datang ke sekolah.
“Mmm... Ma, semua hadiah dari lomba-lomba Farhan, Mama yang simpen, ya,” ucap
Farhan pada ibunya.
“Kenapa nggak kamu aja yang bawa? Farhan nggak ingin
menggunakannya?”
“Ya nanti aja, Ma.”
“Emang mau buat apa?” tanya Mama
penasaran. Farhan bingung untuk mengatakan tujuannya. Ia ingin
semua hasil dari kerja kerasnya selama ini, dapat ia gunakan untuk mahar kelak
ketika ia menikah.
“Farhan pengen gunain buat mahar nanti aja.”
“Subhanallah, anak Mama telah dewasa. Udah siap
menanggung anak orang?”
“Kan enggak sekarang, Ma. Nanti kalo
udah gede!”
“Jangan salah pilih ya, Nak! Ingat, momen tersebut
sangatlah sakral. Mama harap
kamu hanya akan mengalaminya sekali seumur hidup.”
“Insyaallah, Ma.
Doakan saja.”
“Tentulah, Nak. Kamu
adalah alasan Mama hidup.”
***
Ziyana bangun dari sujud panjangnya, ia mohonkan
jawaban atas rangkaian istikharahnya selama seminggu terakhir ini. Matanya
sembab, pipinya basah oleh lelehan air mata. Ia adukan samua keluhannya pada
Pemilik ‘Arsy. Tiba-tiba, Mutiara mengagetkannya.
“Zi, kau
kenapa? Ceritalah!” Ziyana masih terdiam.
“Zi... cerita
dong... Kenapa kau
menangis?” paksa Mutiara.
“Bingung, Ra. Aku belum
mendapatkan jawaban.”
“Jawaban apa?” tanya Mutiara penasaran.
“Jawaban atas doaku.”
“Kau ada masalah?”
“Bisa jadi.”
“Ceritakan saja. Janji deh
nggak akan tersebar!” Ziyana pun memulai ceritanya.
***
Sabtu malam Minggu lalu, Ziyana mondar-mandir di dalam living room, menunggu
telepon dari
ibunya. Sebuah pesan masuk.
Assalamu’alaikum,
bisa disambungkan ke Ziyana?
Lima
menit lagi saya telfon. Terimakasih. -Zidan-
Ziyana sendiri yang menerima pesan itu bingung. Tumben
Zidan mau ‘nelpon, katanya
dalam hati.
Kriiiiiiiiing!!!
Ziyana mencoba merubah suara dan mengangkat telepon.
“Assalamualaikum...” suara diseberang sana.
“Waalaikumsalam warohmatullah, iya mencari siapa?”
jawab Ziyana dengan suara lebih berat.
“Maaf, Ziyananya ada?”
“Oh, Ziyana. Sepertinya
ia sedang keluar.”
“Mm, tolong sampaikan pesan saya, nanti saya akan
menelpon lagi,
terima kasih...” Zidan
pamit untuk menutup telfonnya.
“Eh Zidan! Ini aku
Ziyana. Maaf tadi
becanda...” jawab
Ziyana dengan tawa kecil
“O, nggak lucu” ucap Zidan dengan sedikit marah.
“Nggak lagi ngelawak.”
“Bagus, makin pinter, ya, ngejawab.”
“Eits, santai, Bro. Nggak usah
naik pitam dong! Tumben nelpon, emang
ada apa?”
“ENGGAK JADI! Udah nggak
mood ngomong sama kamu.”
“Ya Allah, gitu aja ngambek.... kayak
cewek aja.”
“Zi, aku mau ngomong serius. Ini aja
udah bela-belain biar nggak ketahuan guru asrama.”
“Siapa suruh nelfon? Biasanya
juga lewat e-mail doang.”
“Ya udah.”
Tut..tut..tut... Ziyana mencoba untuk menghubungi
balik dengan ‘call me’. Untungnya
Zidan masih mau menelepon lagi.
“Zidan maafin ya, tadi kan cuma becanda.”
“Ya, diterima. Aku mau
ngomong penting, dengerin! Nggak ada
pengulangan.”
“Eh nggak bisa gitu dong, tentang apa dulu? Kalo
ceritanya ngebosenin ngapain repot-repok aku dengerin.”
“Ziyana, serius. Tentang
aku dan kamu.”
Deg! Ziyana teringat janji Zidan waktu SMP tentang sesuatu
yang ingin diungkapkannya kepada Ziyana.
“Zi, masih di tempat?”
“Oh iya, silakan bercerita!”
“Masih inget kan Zi, janjiku dulu tentang sesuatu.” Allah,
entah kabar seperti apa yang akan kudengar saat ini, yang kuharap semoga inilah
yang terbaik, ucap
Ziyana dalam hati.
“Wont u be my BFF and ever..” Zidan menyenandungkan
lagu Raef.
“Emang selama ini kita bukan best friend?”
“Dalam arti yang lain, Zi.”
“Maksudnya?”
“Aduh, masa iya aku harus bilang bahwa aku memilihmu
sebagai bidadari dunia akhiratku? Aku akan menikahimu tepat libur UN nanti.”
Sontak Ziyana bangun dari duduknya.
“Zi, kamu nggak pingsan, kan?”
“Oh, nggak
lah! Zidan nggak sakit, kan?
Jangan ngelantur.”
“Aku masih waras, Zi.”
“Secepat itu? Kamu yakin? Aku masih ingin kuliah Zidan!”
“Aku juga tetep pengen jadi dokter.”
“Kita akan berada di universitas yang berbeda Zidan,
dan jarak itu jauh.”
“Apa susahnya LDR? Singkirkan jarak dekatkan hati.”
“Untuk berkeluarga?”
“Ya kerena itu,
biar nanti ketika kuliah hanya fokus belajar, biar lebih bisa menjaga
hati.” Hening.
“Nggak perlu dijawab sekarang kok, masih ada waktu
untuk istikhoroh.”
“Tunggu, apa alasanmu memilihku? Bukankan
telah kukatakan bahwa aku lebih nyaman menganggapmu sebagai sahabat daripada
orang yang kusuka?”
“Aku tahu alasanmu mengatakan hal itu, Zi. Kamu hanya
ingin suamimu kelak lah yang menjadi cinta pertamammu, dan itu aku.”
“Sok tahu! Abahlah cinta pertamaku pada kaum adam.”
“Iya deh, terserah kamu.” Percakapan
berhenti di situ. Masing-masing
dari mereka bahagia.
***
“Oh, jadi seperti itu ceritanya... Tapi Zi,
bagaimana dengan Farhan? Sepertinya
ia suka sama kamu.”
“Mana mungkin orang sehebat dia suka sama aku? Ngaco kamu!”
“Kau terlihat dekat dan cocok dengannya, apakah tak
ada setitik pun rasa cintamu mungkin pada Farhan?”
“Mutiara sayang, cintaku itu limited edition
untuk suamiku kelak.”
“Emang kamu nggak pernah suka pada laki-laki?”
“Pernah, Zidan. Namun
sejak masuk sekolah ini, aku
yakinkan bahwa yang aku rasakan hanyalah kekagumanku atas segala kelebihannya
yang tak kumiliki. Karena aku
sadar, belum tentu orang yang kusuka kelak akan menjadi imamku. Ya kalo
nikahnya sama dia sih nggak masalah... Tapi kalo
Allah takdirkan dengan orang lain, pasti aku akan merasa sangat berdosa pada
suamiku karena pernah mencintai seseorang selain dirinya. Masa suami
dikasih sisa cinta! Ra, pendamping
kita itu pasti menginginkan bahwa dialah orang yang pertama dicintai oleh istrinya
selain keluarga istrinya. Maka dari
itu, aku
berusaha bersikap biasa saja
pada semua ikhwan di
sini, bahkan bertindak tomboi.” Tawa mereka meledak.
“Zi, kita mengagumi orang yang sejenis. Pecinta
astronomi, penikmat Al Quran, dan
berprestasi. Bahkan
mereka dalam lingkungan sekolah yang sama. Tapi kamu
beruntung, Zi... Zidan
membalasmu. Sedangkan
aku...”
“Jangan mengadili sesuatu yang belum terjadi, Ra. Berdoalah! Kamu akan
mendapatkan
yang lebih hebat dari Kak Elang. Percayalah!”
Allahu
akbar, Allahu akbar
“Udah, ah! Subuh!”
Mereka pun bergegas untuk kembali berwudu.
***
Pagi
itu, ibu Ziyana menelepon,
“Assalamualaikum, Zi. Semalam
keluarga Zidan datang. Mama
yakin kamu telah mengetahui alasannya.”
“Emang ngapain main ke rumah?”
“Ya,
ngomongin rencana pernikahan kalian lah!”
“Ma, Ziyan belum kasih jawaban ke Zidan.”
“Mama yakin jawabannya ‘iya’. Ya, ‘kan? Mama tahu
sejak dulu kamu suka sama dia. Tepat 22 April nanti kalian ijab qabul,
pernikahan ini siri, dengan syarat setelah itu kalian tidak boleh bercampur
hingga selasai kuliah.”
“Ya ngapain nikahnya sekarang? Sekalian aja ‘ntar
setelah lulus kuliah.”
“Ini untuk mengikat bahwa kamu telah menjadi istri sah
Zidan.”
“Kalau memang serius, kenapa harus siri, Ma?”
“Nanti setelah kalian lulus akan kita rayain
besar-besaran, kok. Biar hati
kamu nggak terganggu aja. Emang
hasil istikhorohnya gimana? Mama dan Papa sih, yes,” ucap bu Muzda dengan tawa.
“Ya, Ziyana juga.”
“Alhamdulillah, Mama seneng punya menantu seperti dia. Ganteng,
sholeh, pinter, sopan lagi.”
“Iya, emang. Ziyan kan nggak pernah salah pilih.”
***
Nak, masih inget kan, minggu depan akad akan
dilaksanakan?
Kamu kapan pulang, ujiannya sudah selesai, kan?
–mama ziyan-
Sebuah pesan masuk dari ibu Ziyana. Hari ini ia akan
pulang. Entah apa
yang ia rasakan, yang pasti ia sangat bahagia. Terbayang wajah bahagia
keluarganya di Lombok atas pernikahannya nanti.
Hari
yang ditentukan telah tiba, rombongan keluarga Zidan datang ke tempat akad,
rumah Ziyana. Hanya keluarga dekat yang diundang, maklum, nikah siri, rahasia.
Setelah semuanya lengkap dan siap, akad dimulai. Ziyana duduk di samping Zidan,
papa Ziyana sendirilah yang bertindak sebagai penghulu.
“Qobiltu
nikahaha, watazwijaha, bimahril madzkur,” ucap
Zidan dengan lantang dan mantap setelah kata-kata ijab dari papa Ziyana. Ziyana
memandangi Zidan, air matanya mengalir, begitu pula kedua orangtuanya, haru
melepas anaknya yang kini menjadi tanggung jawab orang lain. Seluruh keluarga
yang hadir mendoakannya. Zidan berdiri, Ziyana menjabat tangan Zidan dan
menciumnya dengan ta’zhim. Tangan
kiri Zidan memegang ubun-ubun Ziyana dan membacakan doa.
“Allahumma inni asaluka min khairiha wa khairi ma
jabaltaha. Wa a’udzubika min syarriha wa syarri ma jabaltaha.”
Zidan membuka kotak dari sakunya. “Izinkan
aku melingkarkan cincin ini di jarimu, Zi. Mungkin
kita tidak akan bertemu dalam waktu yang cukup lama.” Ziyana hanya menjawab
dengan anggukan kepala, pipinya masih basah.
“Apakah kau menyesal? Mengapa kau menangis?” Ziyana
hanya terdiam.
Rombongan
pun pulang, di kamarnya ia menangis. “Rabbi, betapa indah skenario yang Engkau
tuliskan. Tak ada kebahagiaan melebihi apa yang terjadi hari ini. Terima kasih,
telah menghadirkan imam sepertinya, terima kasih telah membuka hatiku di waktu
yang tepat.”
***
“Gimana
liburannya, Zi?” sapa
Mutiara saat tiba di sekolah. Kegiatan
mereka kali ini hanya bimbingan untuk masuk PTN.
“Tara…” Ziyana menunjukkan cincin pemberian Zidan.
“Udah lamaran? Kenapa kau tak cerita padaku?” ucap
Mutiara sebal.
“Kan siri, rahasia” jawab Ziyana ringan.
“Maksudmu siri? Nikah?” tanya Mutiara menggebu-gebu.
Ziyana hanya membalas dengan senyum dan anggukan kepala.
“Sst, jangan disebarin! Ini
rahasia, kalo enggak, aku bakal dipulangin deh sebelum kita wisuda bareng.”
“Trus, ngapain nikah kalo akhirnya kuliah nggak
bareng.”
“Udah teratih LDR.”
Wisuda
hanya dalam hitungan minggu. Farhan
telah menyiapkan rencana untuk menyatakan cintanya pada Ziyana. Ia membuat
boneka teddy bear lucu warna coklat. Ia telah belajar
tentang jahit dan semacamnya, merakitnya sendiri hingga boneka itu dapat
bersuara, ‘Maukah
kau menjadi pendampingku, Ziyana?’ Ia senang.dengan
karyanya.
***
Hari
wisuda yang dinantikan tiba, seluruh siswa-siswi yang diwisuda menyambut haru
hari terakhir mereka, pun juga keluarga mereka yang bahagia karena kembalinya satu anggota keluarga
kembali hadir di tengah-tengah keluarga. Rangkaian acara yang telah
disusun berjalan dengan hikmat. Seusai acara, Farhan yang memang berencana
menyatakan cinta pada Ziyana telah siap beraksi. Gedung Serba Guna yang mereka
gunakan telah usai dari acara, namun seluruh siswa masih berada di tempat,
mungkin momen terakhir di sekolah dan kesempatan untuk meminta maaf, menjadikan
mereka enggan tuk beranjak.
Farhan
meraih mikrofon dan menaiki panggung.
“Cek..cek.” Seluruh
penghuni gedung menoleh ke arahnya.
“Maaf teman-teman, aku hanya ingin mengatakan satu
kalimat saja, pada seorang yang selama ini mengusik pikiranku, ini adalah
deklarasiku melamarnya, kalian lah yang menjadi saksi.” Semua yang ada bersorak
ramai. Siapa
sangka, Farhan yang selama ini dikenal pendiam, pandai, anti akhwat, bisa
mengatakan hal tersebut di depan umum? Farhan mengeluarkan bonekanya, menghadapkannya
ke arah teman-temannya dan mendekap dari sisi belakang boneka.
“Ini adalah karyaku, khusus kuberikan padanya yang
kupilih.” Farhan
menekan tombol dari bagian belakang boneka.
‘Maukah
kau menjadi pendampingku, Ziyana?’ Seluruh ruangan bersorak. Ziyana salah
tingkah, raut mukanya berubah menjadi pucat pasi, dia tak sanggup berkata
apa-apa.
“Terima...terima...terima...”
semua teman-temannya bersorak dan bertepuk tangan. Ziyana menjawab dari tempat
berdirinya, hening, tak ada suara selain suara Ziyana yang terdengar. Teman-teman
Ziyana yang menghalangi wajahnya membuka jalan, sehingga nampak jelaslah wajah
Ziyana oleh Farhan.
“Andai
kau datang lebih dulu Farhan.... maaf karena aku tak bisa menerimanya,” jawab
Ziyana dengan mata berkaca-kaca.
“Wuuuuuuuuuuh,” suara teman-temannya gemuruh. Farhan mengusap kedua
matanya
“Dapatkah kau katakan alasannya?”
Ziyana mendekat dan berkata, “Aku telah menikah” jawab
Ziyana iba.
“Bohong!” kotak cincin yang ia genggam jatu. Ia berlari
keluar dengan air mata di pipinya. Kupikir,
mencintainya dalam diam, dapat membuatku memilikinya, ucap Farhan dalam hati.
***
Tahun 2032, seperti yang telah disepakati, hari itulah
reuni akbar Ziyana dan
teman seangkatannya. Ia hadir bersama suami dan ketiga anaknya. Awalnya, ia tak
akan datang jika tak didapingi oleh suaminya. Ia takut
bertemu kawan masa lalunya, terutama Farhan.
Ziyana melihat Farhan yang di pojok ruangan
memperhatikannya. Ia mendekat, Ziyana mencoba untuk menyapa ramah, “Hei,
mana istri dan anakmu? Tak maukah kau mengenalkannya padaku?” Farhan lama terdiam,
menerawang.
“Hei!” ucap
Ziyana dengan melambaikan tangan di depan wajah Farhan.
“Bagaimana aku beristri, jika wanita yang kupilih
telah bersanding dengan yang lain?” Ziyana keget. Ia
berusaha meyakinkan bahwa yang dimaksud bukanlah dirinya, ia mencoba untuk
pergi, namun, “Zi,
izinkan aku menyimpanmu di dalam hatiku.” ucap farhan tiba-tiba.
“Apa? Farhan, itu tak
mungkin! Aku telah
memiliki suami.”
“Apa salahnya jika aku tetap menyimpan rasa itu dalam
hatiku? Aku yakin,
suatu saat nanti aku akan memilikimu.”
“Apa kau mendoakan aku dan suamiku bercerai? Kupikir kau
tak hanya pandai dalam pelajaran, kupikir kau hebat dalam semua aspek kehidupan. Namun
sayang, kau tak pandai dalam memaknai hidup!” ucap Ziyana dengan nada
marah, kemudian meninggalkan Farhan yang mematung.
“Aku
menerima dan memilihmu dengan ikhlas, Zi. Namun aku tak bisa melepasmu secara
ikhlas... maafkan aku yang begitu bodoh menjalani takdir Allah. Hidup memang
pilihan, dan aku memilih untuk bahagia, dengan cara seperti ini.” ucap Farhan
setelah kepergian Ziyana.
Selesai
Mini teater MAN IC Serpong,
Oktober 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar