Kamis, 28 April 2016

Cerpen

Lewat Istikharah
Oleh Kholifatul Husna

“Sehebat apapun rencana kita dalam hidup, tetap saja, skenario-Nya lebih indah. Dan bukan berarti menyurutkan ikhtiar kita.”

Tatapannya tajam, menggambarkan kewibawaan perangainya, hanya lurus mentapi ubin-ubin koridor sekolah.
“Sst, ituh tuh, Han. Pujaan hati lu,” cerocos Iqbal saat Ziyana melintasi gerombolannya.
Hah.. apaan?” Pandangan Farhan yang sedari tadi mengikuti langkah Ziyana terpecah oleh suara Iqbal.
“Wk..wk..wk... biasa aja dong ngelihatnya! Lu kapan bakal bilang ke Ziyana?” timpal Fahmi.
“Tenang saja, saat waktunya tepat, akan kulamar dia,” jawab Farhan mantap.
“Keburu diduluin orang lain, Han! Lu harus bergerak cepat!”
“Enggak lah, dia ‘kan tipikal anak yang ambisius dengan akademik. Kayaknya gak secepat itu ia bakal nikah, apalagi tepat setelah lulus SMA.”
“Yah semoga saja,” sahut Iqbal.
***


Hari itu tepat kepulangannya dari ajang OSN. Ya, kehadirannya dan teman-teman yang lain membawa kembali keharuman nama SMU Insan Cendekia. Farhan memperoleh medali perak bidang matematika. Mamanya turut bangga atas pencapaiannya, hari itu juga mamanya datang ke sekolah.
 “Mmm... Ma, semua hadiah dari lomba-lomba Farhan, Mama yang simpen, ya,” ucap Farhan pada ibunya.
“Kenapa nggak kamu aja yang bawa? Farhan nggak ingin menggunakannya?”
“Ya nanti aja, Ma.”
“Emang mau buat apa?” tanya Mama penasaran. Farhan bingung untuk mengatakan tujuannya. Ia ingin semua hasil dari kerja kerasnya selama ini, dapat ia gunakan untuk mahar kelak ketika ia menikah.
“Farhan pengen gunain buat mahar nanti aja.”
“Subhanallah, anak Mama telah dewasa. Udah siap menanggung anak orang?”
“Kan enggak sekarang, Ma. Nanti kalo udah gede!”
“Jangan salah pilih ya, Nak! Ingat, momen tersebut sangatlah sakral. Mama harap kamu hanya akan mengalaminya sekali seumur hidup.”
“Insyaallah, Ma. Doakan saja.”
“Tentulah, Nak. Kamu adalah alasan Mama hidup.”
***
Ziyana bangun dari sujud panjangnya, ia mohonkan jawaban atas rangkaian istikharahnya selama seminggu terakhir ini. Matanya sembab, pipinya basah oleh lelehan air mata. Ia adukan samua keluhannya pada Pemilik ‘Arsy. Tiba-tiba, Mutiara mengagetkannya.
“Zi, kau kenapa? Ceritalah!” Ziyana masih terdiam.
“Zi... cerita dong... Kenapa kau menangis?” paksa Mutiara.
“Bingung, Ra. Aku belum mendapatkan jawaban.”
“Jawaban apa?” tanya Mutiara penasaran.
“Jawaban atas doaku.”
“Kau ada masalah?”
“Bisa jadi.”
“Ceritakan saja. Janji deh nggak akan tersebar!” Ziyana pun memulai ceritanya.
***
Sabtu malam Minggu lalu, Ziyana mondar-mandir di dalam living room, menunggu telepon dari ibunya. Sebuah pesan masuk.
Assalamu’alaikum, bisa disambungkan ke Ziyana?
Lima menit lagi saya telfon. Terimakasih. -Zidan-
Ziyana sendiri yang menerima pesan itu bingung. Tumben Zidan mau nelpon, katanya dalam hati.
Kriiiiiiiiing!!!
Ziyana mencoba merubah suara dan mengangkat telepon.
“Assalamualaikum...” suara diseberang sana.
“Waalaikumsalam warohmatullah, iya mencari siapa?” jawab Ziyana dengan suara lebih berat.
“Maaf, Ziyananya ada?”
“Oh, Ziyana. Sepertinya ia sedang keluar.”
“Mm, tolong sampaikan pesan saya, nanti saya akan menelpon lagi, terima kasih...” Zidan pamit untuk menutup telfonnya. 
“Eh Zidan! Ini aku Ziyana. Maaf tadi becanda...” jawab Ziyana dengan tawa kecil
“O, nggak lucu” ucap Zidan dengan sedikit marah.
“Nggak lagi ngelawak.”
“Bagus, makin pinter, ya, ngejawab.”
“Eits, santai, Bro. Nggak usah naik pitam dong! Tumben nelpon, emang ada apa?”
“ENGGAK JADI! Udah nggak mood ngomong sama kamu.”
“Ya Allah, gitu aja ngambek.... kayak cewek aja.”
“Zi, aku mau ngomong serius. Ini aja udah bela-belain biar nggak ketahuan guru asrama.”
“Siapa suruh nelfon? Biasanya juga lewat e-mail doang.”
“Ya udah.”
Tut..tut..tut... Ziyana mencoba untuk menghubungi balik dengan ‘call me’. Untungnya Zidan masih mau menelepon lagi.
“Zidan maafin ya, tadi kan cuma becanda.”
“Ya, diterima. Aku mau ngomong penting, dengerin! Nggak ada pengulangan.”
“Eh nggak bisa gitu dong, tentang apa dulu? Kalo ceritanya ngebosenin ngapain repot-repok aku dengerin.”
“Ziyana, serius. Tentang aku dan kamu.”
Deg! Ziyana teringat janji Zidan waktu SMP tentang sesuatu yang ingin diungkapkannya kepada Ziyana.
“Zi, masih di tempat?”
“Oh iya, silakan bercerita!”
“Masih inget kan Zi, janjiku dulu tentang sesuatu.” Allah, entah kabar seperti apa yang akan kudengar saat ini, yang kuharap semoga inilah yang terbaik, ucap Ziyana dalam hati.
“Wont u be my BFF and ever..” Zidan menyenandungkan lagu Raef.
“Emang selama ini kita bukan best friend?”
“Dalam arti yang lain, Zi.”
“Maksudnya?”
“Aduh, masa iya aku harus bilang bahwa aku memilihmu sebagai bidadari dunia akhiratku? Aku akan menikahimu tepat libur UN nanti.” Sontak Ziyana bangun dari duduknya.
“Zi, kamu nggak pingsan, kan?”
“Oh, nggak lah! Zidan nggak sakit, kan? Jangan ngelantur.”
“Aku masih waras, Zi.”
“Secepat itu? Kamu yakin? Aku masih ingin kuliah Zidan!”
“Aku juga tetep pengen jadi dokter.”
“Kita akan berada di universitas yang berbeda Zidan, dan jarak itu jauh.”
“Apa susahnya LDR? Singkirkan jarak dekatkan hati.”
“Untuk berkeluarga?”
“Ya kerena itu, biar nanti ketika kuliah hanya fokus belajar, biar lebih bisa menjaga hati.” Hening.
“Nggak perlu dijawab sekarang kok, masih ada waktu untuk istikhoroh.”
“Tunggu, apa alasanmu memilihku? Bukankan telah kukatakan bahwa aku lebih nyaman menganggapmu sebagai sahabat daripada orang yang kusuka?
“Aku tahu alasanmu mengatakan hal itu, Zi. Kamu hanya ingin suamimu kelak lah yang menjadi cinta pertamammu, dan itu aku.”
“Sok tahu! Abahlah cinta pertamaku pada kaum adam.”
“Iya deh, terserah kamu.” Percakapan berhenti di situ. Masing-masing dari mereka bahagia.
***
“Oh, jadi seperti itu ceritanya... Tapi Zi, bagaimana dengan Farhan? Sepertinya ia suka sama kamu.”
“Mana mungkin orang sehebat dia suka sama aku? Ngaco kamu!
“Kau terlihat dekat dan cocok dengannya, apakah tak ada setitik pun rasa cintamu mungkin pada Farhan?”
“Mutiara sayang, cintaku itu limited edition untuk suamiku kelak.”
“Emang kamu nggak pernah suka pada laki-laki?”
“Pernah, Zidan. Namun sejak masuk sekolah ini, aku yakinkan bahwa yang aku rasakan hanyalah kekagumanku atas segala kelebihannya yang tak kumiliki. Karena aku sadar, belum tentu orang yang kusuka kelak akan menjadi imamku. Ya kalo nikahnya sama dia sih nggak masalah... Tapi kalo Allah takdirkan dengan orang lain, pasti aku akan merasa sangat berdosa pada suamiku karena pernah mencintai seseorang selain dirinya. Masa suami dikasih sisa cinta! Ra, pendamping kita itu pasti menginginkan bahwa dialah orang yang pertama dicintai oleh istrinya selain keluarga istrinya. Maka dari itu, aku berusaha bersikap biasa saja pada semua ikhwan di sini, bahkan bertindak tomboi.” Tawa mereka meledak.
“Zi, kita mengagumi orang yang sejenis. Pecinta astronomi, penikmat Al Quran, dan berprestasi. Bahkan mereka dalam lingkungan sekolah yang sama. Tapi kamu beruntung, Zi... Zidan membalasmu. Sedangkan aku...
“Jangan mengadili sesuatu yang belum terjadi, Ra. Berdoalah! Kamu akan mendapatkan yang lebih hebat dari Kak Elang. Percayalah!
Allahu akbar, Allahu akbar
“Udah, ah! Subuh!” Mereka pun bergegas untuk kembali berwudu.
***
            Pagi itu, ibu Ziyana menelepon, “Assalamualaikum, Zi. Semalam keluarga Zidan datang. Mama yakin kamu telah mengetahui alasannya.”
“Emang ngapain main ke rumah?”
“Ya, ngomongin rencana pernikahan kalian lah!
“Ma, Ziyan belum kasih jawaban ke Zidan.”
“Mama yakin jawabannya ‘iya’. Ya, kan? Mama tahu sejak dulu kamu suka sama dia. Tepat 22 April nanti kalian ijab qabul, pernikahan ini siri, dengan syarat setelah itu kalian tidak boleh bercampur hingga selasai kuliah.”
“Ya ngapain nikahnya sekarang? Sekalian aja ntar setelah lulus kuliah.”
“Ini untuk mengikat bahwa kamu telah menjadi istri sah Zidan.”
“Kalau memang serius, kenapa harus siri, Ma?
“Nanti setelah kalian lulus akan kita rayain besar-besaran, kok. Biar hati kamu nggak  terganggu aja. Emang hasil istikhorohnya gimana? Mama dan Papa sih, yes,” ucap bu Muzda dengan tawa.
“Ya, Ziyana juga.”
“Alhamdulillah, Mama seneng punya menantu seperti dia. Ganteng, sholeh, pinter, sopan lagi.”
“Iya, emang. Ziyan kan nggak pernah salah pilih.”
***
            Nak, masih inget kan, minggu depan akad akan dilaksanakan?
            Kamu kapan pulang, ujiannya sudah selesai, kan?  –mama ziyan-
Sebuah pesan masuk dari ibu Ziyana. Hari ini ia akan pulang. Entah apa yang ia rasakan, yang pasti ia sangat bahagia. Terbayang wajah bahagia keluarganya di Lombok atas pernikahannya nanti.
            Hari yang ditentukan telah tiba, rombongan keluarga Zidan datang ke tempat akad, rumah Ziyana. Hanya keluarga dekat yang diundang, maklum, nikah siri, rahasia. Setelah semuanya lengkap dan siap, akad dimulai. Ziyana duduk di samping Zidan, papa Ziyana sendirilah yang bertindak sebagai penghulu.
Qobiltu nikahaha, watazwijaha, bimahril madzkur,” ucap Zidan dengan lantang dan mantap setelah kata-kata ijab dari papa Ziyana. Ziyana memandangi Zidan, air matanya mengalir, begitu pula kedua orangtuanya, haru melepas anaknya yang kini menjadi tanggung jawab orang lain. Seluruh keluarga yang hadir mendoakannya. Zidan berdiri, Ziyana menjabat tangan Zidan dan menciumnya dengan ta’zhim. Tangan kiri Zidan memegang ubun-ubun Ziyana dan membacakan doa.
Allahumma inni asaluka min khairiha wa khairi ma jabaltaha. Wa a’udzubika min syarriha wa syarri ma jabaltaha.”
Zidan membuka kotak dari sakunya. “Izinkan aku melingkarkan cincin ini di jarimu, Zi. Mungkin kita tidak akan bertemu dalam waktu yang cukup lama.” Ziyana hanya menjawab dengan anggukan kepala, pipinya masih basah.
“Apakah kau menyesal? Mengapa kau menangis?” Ziyana hanya terdiam.
            Rombongan pun pulang, di kamarnya ia menangis. “Rabbi, betapa indah skenario yang Engkau tuliskan. Tak ada kebahagiaan melebihi apa yang terjadi hari ini. Terima kasih, telah menghadirkan imam sepertinya, terima kasih telah membuka hatiku di waktu yang tepat.”
***
            “Gimana liburannya, Zi?” sapa Mutiara saat tiba di sekolah. Kegiatan mereka kali ini hanya bimbingan untuk masuk PTN.
“Tara…” Ziyana menunjukkan cincin pemberian Zidan.
“Udah lamaran? Kenapa kau tak cerita padaku?” ucap Mutiara sebal.
“Kan siri, rahasia” jawab Ziyana ringan.
“Maksudmu siri? Nikah?” tanya Mutiara menggebu-gebu. Ziyana hanya membalas dengan senyum dan anggukan kepala.
“Sst, jangan disebarin! Ini rahasia, kalo enggak, aku bakal dipulangin deh sebelum kita wisuda bareng.”
“Trus, ngapain nikah kalo akhirnya kuliah nggak bareng.”
“Udah teratih LDR.”
            Wisuda hanya dalam hitungan minggu. Farhan telah menyiapkan rencana untuk menyatakan cintanya pada Ziyana. Ia membuat boneka teddy bear lucu warna coklat. Ia telah belajar tentang jahit dan semacamnya, merakitnya sendiri hingga boneka itu dapat bersuara, ‘Maukah kau menjadi pendampingku, Ziyana?’ Ia senang.dengan karyanya.
***
            Hari wisuda yang dinantikan tiba, seluruh siswa-siswi yang diwisuda menyambut haru hari terakhir mereka, pun juga keluarga mereka yang bahagia karena kembalinya satu anggota keluarga kembali hadir di tengah-tengah keluarga. Rangkaian acara yang telah disusun berjalan dengan hikmat. Seusai acara, Farhan yang memang berencana menyatakan cinta pada Ziyana telah siap beraksi. Gedung Serba Guna yang mereka gunakan telah usai dari acara, namun seluruh siswa masih berada di tempat, mungkin momen terakhir di sekolah dan kesempatan untuk meminta maaf, menjadikan mereka enggan tuk beranjak.
            Farhan meraih mikrofon dan menaiki panggung.
“Cek..cek.Seluruh penghuni gedung menoleh ke arahnya.
“Maaf teman-teman, aku hanya ingin mengatakan satu kalimat saja, pada seorang yang selama ini mengusik pikiranku, ini adalah deklarasiku melamarnya, kalian lah yang menjadi saksi.” Semua yang ada bersorak ramai. Siapa sangka, Farhan yang selama ini dikenal pendiam, pandai, anti akhwat, bisa mengatakan hal tersebut di depan umum? Farhan mengeluarkan bonekanya, menghadapkannya ke arah teman-temannya dan mendekap dari sisi belakang boneka.
“Ini adalah karyaku, khusus kuberikan padanya yang kupilih.” Farhan menekan tombol dari bagian belakang boneka.
‘Maukah kau menjadi pendampingku, Ziyana?’ Seluruh ruangan bersorak. Ziyana salah tingkah, raut mukanya berubah menjadi pucat pasi, dia tak sanggup berkata apa-apa.
“Terima...terima...terima...” semua teman-temannya bersorak dan bertepuk tangan. Ziyana menjawab dari tempat berdirinya, hening, tak ada suara selain suara Ziyana yang terdengar. Teman-teman Ziyana yang menghalangi wajahnya membuka jalan, sehingga nampak jelaslah wajah Ziyana oleh Farhan.
“Andai kau datang lebih dulu Farhan.... maaf karena aku tak bisa menerimanya,” jawab Ziyana dengan mata berkaca-kaca.
“Wuuuuuuuuuuh,” suara teman-temannya gemuruh. Farhan mengusap kedua matanya
“Dapatkah kau katakan alasannya?”
Ziyana mendekat dan berkata, “Aku telah menikah” jawab Ziyana iba.
“Bohong!”  kotak cincin yang ia genggam jatu. Ia berlari keluar dengan air mata di pipinya. Kupikir, mencintainya dalam diam, dapat membuatku memilikinya, ucap Farhan dalam hati.
***
Tahun 2032, seperti yang telah disepakati, hari itulah reuni akbar Ziyana dan teman seangkatannya. Ia hadir bersama suami dan ketiga anaknya. Awalnya, ia tak akan datang jika tak didapingi oleh suaminya. Ia takut bertemu kawan masa lalunya, terutama Farhan.
Ziyana melihat Farhan yang di pojok ruangan memperhatikannya. Ia mendekat, Ziyana mencoba untuk menyapa ramah, “Hei, mana istri dan anakmu? Tak maukah kau mengenalkannya padaku?” Farhan lama terdiam, menerawang.
“Hei!” ucap Ziyana dengan melambaikan tangan di depan wajah Farhan.
“Bagaimana aku beristri, jika wanita yang kupilih telah bersanding dengan yang lain?” Ziyana keget. Ia berusaha meyakinkan bahwa yang dimaksud bukanlah dirinya, ia mencoba untuk pergi, namun, “Zi, izinkan aku menyimpanmu di dalam hatiku.” ucap farhan tiba-tiba.
 “Apa? Farhan, itu tak mungkin! Aku telah memiliki suami.”
“Apa salahnya jika aku tetap menyimpan rasa itu dalam hatiku? Aku yakin, suatu saat nanti aku akan memilikimu.”
“Apa kau mendoakan aku dan suamiku bercerai? Kupikir kau tak hanya pandai dalam pelajaran, kupikir kau hebat dalam semua aspek kehidupan. Namun sayang, kau tak pandai dalam memaknai hidup!” ucap Ziyana dengan nada marah, kemudian meninggalkan Farhan yang mematung.
“Aku menerima dan memilihmu dengan ikhlas, Zi. Namun aku tak bisa melepasmu secara ikhlas... maafkan aku yang begitu bodoh menjalani takdir Allah. Hidup memang pilihan, dan aku memilih untuk bahagia, dengan cara seperti ini.” ucap Farhan setelah kepergian Ziyana.
Selesai
Mini teater MAN IC Serpong,

Oktober 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar