Sabtu, 16 April 2016

Gaya bahasa retoris_Litotes

 Litotes
Litotes oleh Keraf dijelaskan sebagai gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan keadaan yang tidak sebenarnya. Dalam litotes, apa yang dikatakan berlawanan dengan kenyataannya. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menunjukkan kerendah-hatian penutur atau penulis. Misalnya dalam kalimat Rumah yang buruk inilah yang merupakan hasil usaha kami bertahun-tahun lamanya.[1] Penutur mengatakan rumah yang buruk, padahal kenyataannya rumahnya mewah atau megah.
Harimurti justru memberikan penjelasan mengenai litotes sebagai pernyataan yang berusaha memperkecil sesuatu. Misalnya untuk mengatakan pandai, digunakan  kalimat ia tidak bodoh.[2] Hal ini mengesankan kalau litotes berusaha untuk mencari kata atau ungkapan lain yang maknanya kurang lebih sama, tetapi kesannya lebih rendah atau lebih kecil.
Lanham menggunakan kata lain untuk menyebut litotes sebagai "plainness, simplicity" (kepolosan, kesederhanaan). Dikatakan Lanham bahwa dalam litotes lebih banyak untuk dipahami daripada dikatakan seperti dalam  kalimat Dia bukanlah orang yang paling bijaksana di dunia, untuk maksud dia adalah orang yang bodoh.[3]



[1] Gorys Keraf, op.cit. hh.132-133

[2] Harimurti Kridalaksana, op.cit. h.131.

[3] Richard A. Lanham, op.cit. hh. 95-96.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar