Litotes
Litotes oleh Keraf
dijelaskan sebagai gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan
keadaan yang tidak sebenarnya. Dalam litotes, apa yang dikatakan berlawanan
dengan kenyataannya. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menunjukkan
kerendah-hatian penutur atau penulis. Misalnya dalam kalimat Rumah yang buruk inilah yang merupakan hasil
usaha kami bertahun-tahun lamanya.[1]
Penutur mengatakan rumah yang buruk,
padahal kenyataannya rumahnya mewah atau megah.
Harimurti justru memberikan
penjelasan mengenai litotes sebagai pernyataan yang berusaha memperkecil
sesuatu. Misalnya untuk mengatakan pandai,
digunakan kalimat ia tidak bodoh.[2]
Hal ini mengesankan kalau litotes berusaha untuk mencari kata atau ungkapan
lain yang maknanya kurang lebih sama, tetapi kesannya lebih rendah atau lebih
kecil.
Lanham menggunakan kata lain
untuk menyebut litotes sebagai "plainness, simplicity" (kepolosan, kesederhanaan).
Dikatakan Lanham bahwa dalam litotes lebih banyak untuk dipahami daripada
dikatakan seperti dalam kalimat Dia bukanlah orang yang paling bijaksana di
dunia, untuk maksud dia adalah orang
yang bodoh.[3]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar