Sabtu, 16 April 2016

cerpen_Takdir Memaksaku Percaya

Takdir Memaksaku Percaya

Oleh Izzuddin Baqi

“Hidup adalah perjuangan untuk menjadi lebih baik, atau bahkan yang terbaik”
Teman-teman sekalian, coba bayangkan! Saat itu kalian sedang perjalanan pulang ke rumah. Di pengujung jalan menuju rumah, di depan gang masuk rumah, Anda melihat terdapat bendera merah. Kemudian setibanya di rumah, Anda melihat banyak tetangga berkerumun di depan rumah. Ananda lalu bertanya-tanya..bla...bla...”


            Berkali-kali kudengar kalimat-kalimat itu. Bosan sekali rasanya, selain sangat konvensional, kalimat itu juga terasa basi. Aku mendengar lagi kalimat itu siang tadi saat acara seminar motivasi. Sesekali terdengar isakan atau sesenggukan tangis peserta, namun aku lebih memilih memejamkan mata saat renungan berlangsung, mengistirahatkan badan setelah seharian penuh mengikuti kegiatan yang menurutku kurang bermutu. Maklum, penyelenggaranya adalah dinas lingkungan. Acara tersebut gratis, namun konon menurut orang-orang, mereka mengadakan acara demikian hanya untuk menghabiskan anggaran akhir tahun agar tidak mencolok perbedaannya antara pengeluaran di kertas dan di kantong. Ah, biarlah.
            Acara selesai pukul 10 malam. Aku sengaja memilih bangku di pinggir agar nantinya memudahkan mobilisasi saat hendak pulang. Aula seluas dua pertiga lapangan bola ini, rasanya akan sangat sempit di dekat pintu keluar jika hanya terdapat tiga buah pintu keluar, dan memang demikian keadaannya sekarang. Aku berdesakan dengan peserta lain saat hendak menuju lobi hotel. Kulangkahkan kakiku menuju tempat parkir di lantai bawah. Suasananya demkian sunyi hingga aku mampu mendengar derap langkah pantofelku sendiri dengan jelas. Nampaknya kali ini aku termasuk orang yang pulang awal. Barisan motor para peserta lain berjejeran di depan, tepat setelah aku melangkah melewati pintu penjaga.
            “Selamat malam, Mas! Kartunya?” tanya salah seorang penjaga dengan sopan. Dengan menyunggingkan senyum, kukeluarkan kartu parkir, dan juga beberapa lembaran sebagai ongkos penitipan kendaraan. “Kembalinya 35.000 rupiah. Terimakasih, Mas,” ucap penjaga tersebut sembari menyodorkan uang kembalian kepadaku.
            “Oh, tidak usah, Pak. Kembalinya untuk Bapak saja. Buat anak istri di rumah.”
Aku teringat pesan ibuku sehingga keluarlah kalimat tersebut. Menurutnya, jika aku memiliki rezeki berlebih, lalu membelanjakannya kepada orang kecil, lebih baik tidak usah mengambil kembaliannya. Biarlah uang tersebut untuk sedekah.
            “Alhamdulillah, terimakasih, Mas. Semoga Masnya selalu diberi rahmat,” balasnya dengan bersemangat.
            “Sama-sama. Saya duluan, Pak.”
            “Iya, Mas, silakan!”
            Malam ini tampaknya akan turun hujan. Dari bali kaca helm yang kusibakkan ke atas, terlihat jelas rona merah di atas sana, merah kelam tanpa rembulan. Sesekali bunyi guntur menggelegar membelah jalanan, menyaingi bisingnya deru mesin mobil dan motor yang beradu di jalan raya. Aku melaju dengan kecepatan sedang, di atas motor bebek kesayanganku. Entah mengapa tiba-tiba aku teringat keluargaku di rumah, ayahku yang baru saja sembuh dari stroke, ibuku yang luar biasa, adik-adikku yang cantik, adik laki-lakiku yang berasrama nun jauh di luar kota sana. Perasaan seperti ini wajar bagiku dan juga bagi kakak dan adik laki-lakiku, yang sejak kecil oleh Bapak selalu dibiasakan untuk berani bersekolah jauh dari rumah. Sehingga wajar, jika perasaan rindu telah menjamur di hati kami. Hanya setahun dua atau tiga kali, kami sekeluarga bertemu dan berkumpul lengkap di ruang keluarga untuk sekadar saling bercerita dan berbagi, dengan jumlah durasi yang tidak lebih dari dua bulan. Ah, ibu, bapak bagaimana kabar kalian di rumah? Batinku. Terkadang, perasaan ini muncul di saat kosong seperti sekarang ini, atau bisa jadi dikarenakan efek dari acara renungan tadi, yang isinya sudah pasti sangat tertebak. Agar berbakti kepada orang tua, menghormati mereka dan pesan senada lainnya. Pesan tersebut juga disampaikan dengan gaya bahasa layaknya video-video training motivasi, dan pasti selalu saja ada kalimat tentang pulang ke rumah, bendera merah, dan orang tua telah meninggal. Kalimat fiksi yang sering kali kudengar.
            Di jalanan komplek menuju pondok, aku menyapa bapak-bapak warga setempat seperti biasanya. Mereka kebanyakan menongkrong di persimpangan gang, pos kamling, atau di warung Bu Imah. Warung makanan prasmanan ala mahasiswa dan rakyat kecil yang cukup terkenal di komplek kampung tempat aku tinggal. Hingga sampailah aku di halaman depan pondok. Pondok tempat aku menginap tidak jauh dari kampus, sekitar 15 menit jika ditempuh dengan sepeda. Di pondok inilah aku tinggal.
            “Tadz, udah pulang? Saya mau setor bisa gak, Tadz?” tanya salah seorang santriku, Irfan. Beberapa anak lainnya yang menyadari kehadiranku tiba-tiba langsung berlarian ke ruang mengaji, yang lainnya ada juga yang mencoba menghampiri kami berdua.
            “Iya bisa, bentar, ya. Tunggu lima menit. Ustadz mau naruh tas dulu.” Kuusap rambut Irfan, lalu kuambil tas dan barang-barang lainnya di atas motor. Aku menuju kamar yang berjarak sekitar 30 meter dari ruang menghafal, yang terletak persis di samping masjid. Jadi tidak susah, jika aku harus mendirikan sholat jamaah di masjid, karena hanya berjarak beberapa langkah saja dari tempat tinggalku sekarang. Di kamar inilah aku mengerjakan semua tugas kuliahku. Terkadang para remaja masjid juga datang untuk bermain. Aku sengaja memilih pondok ini untuk memanfaatkan kemampuanku dalam menghafal Al Quran. Kamar yang diberikan kepadaku dulunya adalah ruang takmir masjid yang tidak terpakai, hingga saat aku ditawarkan bekerja di sini, kusulap kamar ini menjadi tempat tinggal sementara. Sebelumnya aku tinggal di kos-kosan bersama 7 orang teman SMA-ku, hingga aku memutuskan untuk berhijrah ke tempat ini setahun lalu. Setelah meletakkan barang bawaanku dan merapikan pakaian, kulangkahkan kaki untuk kembali menuju ruangan mengaji para santri yang tidak jauh dari kamar.
            “Yang mau setor hafalan hari ini, silakan!” Sembari berdiri di pintu, aku mempersilakan para santri menyetorkan hafalannya.
            “Setengah halaman boleh, Tadz?” tanya seorang santri yang duduk di tengah-tengah ruangan. Aku ingat betul anak itu. Namanya Syarif, ia yang sering mengetok pintu kamarku untuk meminta bayak hal yang bagiku tidak penting.
            “Hm,” aku jawab dengan isyarat anggukan. Kemudian para santri mulai berbaris untuk mengantre menyetorkan hafalan yang aku tugaskan hari ini.

Pagi ini matahai bersinar hangat. Cahayanya merangsek masuk melalui kaca-kaca jendela kamarku yang tadi baru saja dibersihkan. Tidak ada jadwal kuliah hari ini. Satu-satunya jadwal hari ini adalah mengisi pengajian di masjid kampung sebelah pukul delapan nanti. Hanya, adik perempuanku yang harus kuliah hari ini kaena ia harus mengikuti kegiatan ospek. Ia berada satu universitas denganku, meski berbeda jurusan. Sementara aku mengambil kedokteran, ia mengambil farmasi. Tempat kosnya juga tidak begitu jauh dari pondokku.
Tok...tok...tok.... Pintu kamarku diketuk.
“Assalamualaikum, Tadz!”
“Wa’alaikumsalam, oh, Ustadz  Faruq, ada apa?” kubukakan pintu untuknya.
“Pengajiannya nanti sama Mas Farid ya, Tadz,”
“Oh, iya, biar setelah ini saya hubungi beliau,” jawabku sembari kukeluarkan telepon genggam dari saku celana.
“Kalau bisa, datang lebih awal, ya, Tadz. Kataya ada warga yang mau tanya-tanya seputar fiqih dasar,” Ustadz Faruq menambahkan.
“Saya usahakan bisa hadir setengah jam lebih awal, deh, Tadz.”
“Oke, Ustadz, saya duluan... Assalamualaikum.”
Ustadz Faruq lalu pergi. Masih ada sekitar empat puluh menit untuk bersih-bersih dan persiapan. Biasanya aku dibantu oleh Ustadz Faruq dalam mengisi pengajian. Namun hari ini, beliau harus menunggui anaknya di rumah sakit. Posisinya hari ini digantikan oleh remaja masjid, teman kuliahku di kampus.
Pengajian selesai jam 10 pagi. Biasanya pengajian yang disponsori oleh ibu-ibu PKK ini, ramai dikunjungi oleh warga-warga kampung. Terkadang juga beberapa dosen yang tinggal di sekitar ikut dalam pengajian.
Drrrtt...drrtt... Sakuku bergetar. Sebuah pesan masuk. Segera kusibak layar telepon genggamku, dan muncullah nama kakakku di sana. Kusentuh layar sekali lagi untuk melihat isi pesannya. Tampaklah sebuah kalimat yang membuatku sedih. Bapak kembali masuk ICU, dan aku diminta pulang jika tidak ada kegiatan yang penting. Segera kubacakan doa untuk beliau. Semalam, saat sholat tahajud pun juga kudoakan beliau, semoga beliau diberi kesehatan dan umur panjang agar masih mampu menyaksikan kami, anak-anaknya, sukses. Akhirnya, kubalas pesan tersebut.
Iya Mas, habis zuhur nanti aku pulang.
Selanjutnya aku mem-forward pesan tersebut untuk adikku yang sedang ospek.
            Selepas zuhur, kunyalakan motor bebek kesayangan. Tepat sebelum gas kutarik, ponselku kembali berdering. Adikku yang di Tangerang rupanya juga akan pulang. Ia memberiku kabar, sekaligus memintaku mencarikan tiket untuk kembali ke rumah. Kuiyakan permintaannya dengan syarat nanti kucarikan saat aku telah tiba di rumah. Sekarang tinggal aku sendiri. Kupacu kencang motorku melewati keramaian jalan raya kota Jogja yang padat. Meliuk di antara mobil-mobil, sesekali aku mengendrai zig-zag kiri-kanan, mencari ruang untuk mendahului kendaraan lain. Saat di tengah jalan pun, ponselku kembali berdering beberapa kali. Entah mengapa banyak sekali yang berusaha meneleponku. Padahal setahuku, Bapak hanya sakit biasa. Dulu sewaktu beliau opname yang pertama, tidak seramai ini. Dengan mengurangi laju kecepatan, aku merogoh saku dan berusaha menggapai telepon genggamku. Aku memaksakan menerima panggilan masuk tersebut karena barangkali adikku yang jauh di sana hendak meminta tolong lagi, siapa tahu panggilan masuk ini darinya. Aku begitu menyayanginya, karena di antara kami berenam ia yang tinggal paling jauh dari rumah. Terlebih lagi, ia sekarang dalam kondisi hendak pulang namun belum membeli tiket, tentu ia hanya akan meminta tolong kepadaku untuk mengurusnya sebagimana biasanya. Kusangkutkan telepon genggam di antara telinga dan helm, lalu kubuka pembicaraan,
“Halo, Assalamualaikum...”
Waalaikumsalam warahmatulah, halo, Mas Fahmi?”
“Iya, ini siapa?” teriakku agar suaraku mampu menyaingi deru mesin kendaraan.
“Om Haris, Mas Fahmi...”
Om Haris yang rupanya kini menelponku. Suaranya tidak terdengar jelas dari seberang sana, karena aku menjawab sembari mengendarai motor. Speaker ponselku kalah keras dengan suara deru mesin jalan raya.
            “Iya, Om. Ini saya sedang perjalanan pulang ke rumah.” jawabku singkat mengiyakan setelah mengira-ngira apa yang beliau katakan. Aku tidak tahu pasti apa yang beliau sampaikan, tapi biarlah, nanti setelah sampai rumah biar kuhubungi beliau kembali.
Tiba-tiba aku teringat pesan motivator acara yang kemarin aku ikuti. Suaranya menggema kembali di pikiranku, mengeluarkan kalimat-kalimat konvensional acara motivasi religi yang berkali-kali kudengar. Bendera merah di depan rumah, tetangga dan kerabat yang berkerumun di rumah, dan lain sebagainya, semua itu tiba-tiba melayang begitu saja di benakku. Aku juga bertanya-tanya mengapa adikku yang sekolah jauh di seberang sana sampai pulang ke rumah, sementara Bapak ‘kan, hanya sakit. Adik perempuanku yang sedang dalam masa ospek saja tidak pulang, mengapa ia harus jauh-jauh pulang? Mungkinkah Bapak telah tiada?
Seluruh ingatanku tentang Bapak langsung berputar di kepalaku, wajahnya yang kini menua dengan semangat bekerjanya yang tidak pernah pudar. Aku belum sempat membahagiakan beliau. Dulu aku pernah berjanji kepadanya untuk kuliah di luar negeri, tapi saat detik-detik terakhir masuk perguruan tinggi, kucabut janji itu. Bapak sempat sangat berbahagia awalnya, meski akhirnya ia juga berusaha untuk tampak tidak kecewa saat berada di hadapanku dulu, tepat setelah pengumuman diterimanya aku sebagai mahasiswa kedokteran UGM. Jika beliau tiada, maka... Ah, segera kutepis seluruh bayangan dan pikiran buruk dari kalimat-kalimat tersebut, dan kuyakinkan diri bahwa kondisi Bapak di rumah baik-baik saja. Bapak masih ada di rumah. Kuyakinkan pula bahwa kalimat-kalimat yang diucapkan motivator tersebut kemarin hanyalah mitos belaka dan tidak mungkin terjadi. Mulutku kini kubasahi dengan tahlil, lalu kutarik gas dan melaju sekencang-kencangnya.
Menjelang sampainya kendaraanku ke rumah, batinku semakin deras mengalirkan shalawat nabi dan doa untuk kesehatan bapakku. Tinggal satu gang lagi, dan aku makin meninggikan kecepatan motorku. Beberapa tetangga yang sedang berkumpul sampai melirik kaget saat aku lewat tadi.
Setibanya aku di rumah, aku bertanya-tanya, mengapa kondisi halaman rumah begitu ramai? Di depan rumah juga dipasang tenda, beberapa orang dari tetangga sedang menata kursi. Motorku pun tidak dapat masuk ke halaman rumah. Segera saja kupakirkan motor di pinggir jalan, dan bergegas masuk menerobos orang-orang yang berkumpul dalam keramaian di depan rumah. Mereka masih belum dapat mengenaliku, karena helm masih kupakai. Ada Om Damar, tante, dan budeku juga. Sesampainya aku di ruang keluarga, kulepas helmku dan kusalimi tangan ibu dan juga kakakku. Ibu tampak sangat sedang sibuk berbincang-bincang di telepon, entah dengan siapa. Sementara kakakku duduk di kursi ruang keluarga dengan wajah yang terlihat sangat sayu.
Kuberanikan diri bertanya, “Mas, bapak di mana?”
Kakakku menatapku sebentar, seolah hendak berpikir mengolah kata untuk berbicara.
“Masih di rumah sakit.” jawab kakakku singkat, kemudian ia segera pergi meninggalkanku. Ia berjalan ke ruang depan, entah mengapa.
Saat ibu telah selesai menelepon, aku menghadap beliau dan bertanya, “Bu, kita gak ke rumah sakit?”
Ibuku terdiam. Ia lama menatapku. Matanya tiba-tiba berair, seolah-olah beliau hendak mengatakan sesuatu tapi tidak bisa. Melihat ibu yang demikian, aku juga tidak kuasa menahan tangis.
Agak lama beliau terdiam hingga beliau kembali berucap, “Bapakmu sudah tidak ada, Mi.” Suara ibu bergetar mengatakan kalimat itu.
Aku makin tak kuasa menahan tangis. Dadaku terasa sesak. Andai waktu bisa berputar, dan aku mampu meminta maaf  kepada bapak atas segala kenakalanku, andai aku mampu membahagiakan beliau lebih dulu. Penyesalanku bertambah-tambah saat ibu mengatakan bahwa bapak meninggal kurang lebih 10 menit setelah kakakku mengirim pesan singkat kepadaku bahwa bapak sedang sakit. Ah, andai aku segera pulang dan tidak menunggu waktu zuhur. Air mataku terus mengalir. Kakakku kembali menemuiku, ia juga menangis, kemudian memelukku dan membisikkan kalimat yang membuatku tabah.
“Jangan keliatan sedih di depan adik kita, kita tulang punggung keluarga sekarang. Lisa dan Nana di kamar, masih belum berhenti menangis. Jangan ditambahin sedih, Mi. Kita harus kuat.”
Kami berdua lalu menuju kamar, kupeluk kedua adik perempuanku, kutenangkan mereka, meski aku sendiri juga tak kuasa menahan air mata yang terus meleleh. Seandainya aku juga mampu memindahkan kesedihan yang dialami kedua adikku yang masih kecil ini kepadaku, biar aku sendiri yang merasakannya, agar masa bermainnya tidak ternodai dengan hal yang membuat mereka terluka. Aku sendiri masih tidak bisa menguasai diri saat kulihat kedua adikku yang periang itu kini meringkuk di pojok kamar dan terus menangis.
Rupanya perasaan dan pikiranku tadi benar. Itulah mengapa kakakku pergi ke depan, ia juga tidak sampai hati mengatakan yang sebenarnya terhadapku. Pantas saja tadi adik laki-lakiku meminta tiket dengan sesenggukan, rupanya ia tahu lebih dulu dibandingkan aku.
Di tengah perasaan yang kacau ini, lagi-agi aku kembali teringat pesan dari motivator acara kemarin, yang membuatku terus menangis menyesali diri. Pesan itu nyata terjadi, meski aku tidak pernah mempercayainya. Ya, aku pulang ke rumah, menyaksikan tenda telah dibangun di depan rumah, tetangga dan kerabat berkumpul, dan aku tidak mengetahui jikalau bapak ternyata telah meninggal dunia, hingga ibuku sendiri yang mengatakannya di hadapanku. Aku dipaksa percaya isi pesan itu.       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar