Takdir Memaksaku Percaya
Oleh Izzuddin
Baqi
“Hidup adalah
perjuangan untuk menjadi lebih baik, atau bahkan yang terbaik”
”Teman-teman
sekalian, coba bayangkan! Saat itu kalian sedang perjalanan pulang ke rumah. Di
pengujung jalan menuju rumah, di depan gang masuk rumah, Anda melihat terdapat
bendera merah. Kemudian setibanya di rumah, Anda melihat banyak tetangga berkerumun
di depan rumah. Ananda lalu bertanya-tanya..bla...bla...”
Berkali-kali kudengar
kalimat-kalimat itu. Bosan sekali rasanya, selain sangat konvensional, kalimat
itu juga terasa basi. Aku mendengar lagi kalimat itu siang tadi saat acara
seminar motivasi. Sesekali terdengar isakan atau sesenggukan tangis peserta,
namun aku lebih memilih memejamkan mata saat renungan berlangsung, mengistirahatkan
badan setelah seharian penuh mengikuti kegiatan yang menurutku kurang bermutu.
Maklum, penyelenggaranya adalah dinas lingkungan. Acara tersebut gratis, namun
konon menurut orang-orang, mereka mengadakan acara demikian hanya untuk
menghabiskan anggaran akhir tahun agar tidak mencolok perbedaannya antara
pengeluaran di kertas dan di kantong. Ah, biarlah.
Acara selesai pukul 10 malam. Aku
sengaja memilih bangku di pinggir agar nantinya memudahkan mobilisasi saat
hendak pulang. Aula seluas dua pertiga lapangan bola ini, rasanya akan sangat sempit
di dekat pintu keluar jika hanya terdapat tiga buah pintu keluar, dan memang
demikian keadaannya sekarang. Aku berdesakan dengan peserta lain saat hendak
menuju lobi hotel. Kulangkahkan kakiku menuju tempat parkir di lantai bawah.
Suasananya demkian sunyi hingga aku mampu mendengar derap langkah pantofelku sendiri
dengan jelas. Nampaknya kali ini aku termasuk orang yang pulang awal. Barisan
motor para peserta lain berjejeran di depan, tepat setelah aku melangkah
melewati pintu penjaga.
“Selamat malam, Mas! Kartunya?” tanya
salah seorang penjaga dengan sopan. Dengan menyunggingkan senyum, kukeluarkan kartu
parkir, dan juga beberapa lembaran sebagai ongkos penitipan kendaraan.
“Kembalinya 35.000 rupiah. Terimakasih, Mas,” ucap penjaga tersebut sembari
menyodorkan uang kembalian kepadaku.
“Oh, tidak usah, Pak. Kembalinya
untuk Bapak saja. Buat anak istri di rumah.”
Aku
teringat pesan ibuku sehingga keluarlah kalimat tersebut. Menurutnya, jika aku
memiliki rezeki berlebih, lalu membelanjakannya kepada orang kecil, lebih baik
tidak usah mengambil kembaliannya. Biarlah uang tersebut untuk sedekah.
“Alhamdulillah, terimakasih, Mas.
Semoga Masnya selalu diberi rahmat,” balasnya dengan bersemangat.
“Sama-sama. Saya duluan, Pak.”
“Iya, Mas, silakan!”
Malam ini tampaknya akan turun
hujan. Dari bali kaca helm yang kusibakkan ke atas, terlihat jelas rona merah
di atas sana, merah kelam tanpa rembulan. Sesekali bunyi guntur menggelegar
membelah jalanan, menyaingi bisingnya deru mesin mobil dan motor yang beradu di
jalan raya. Aku melaju dengan kecepatan sedang, di atas motor bebek
kesayanganku. Entah mengapa tiba-tiba aku teringat keluargaku di rumah, ayahku
yang baru saja sembuh dari stroke, ibuku yang luar biasa, adik-adikku
yang cantik, adik laki-lakiku yang berasrama nun jauh di luar kota sana. Perasaan
seperti ini wajar bagiku dan juga bagi kakak dan adik laki-lakiku, yang sejak
kecil oleh Bapak selalu dibiasakan untuk berani bersekolah jauh dari rumah.
Sehingga wajar, jika perasaan rindu telah menjamur di hati kami. Hanya setahun
dua atau tiga kali, kami sekeluarga bertemu dan berkumpul lengkap di ruang
keluarga untuk sekadar saling bercerita dan berbagi, dengan jumlah durasi yang
tidak lebih dari dua bulan. Ah, ibu, bapak bagaimana kabar kalian di rumah? Batinku.
Terkadang, perasaan ini muncul di saat kosong seperti sekarang ini, atau bisa
jadi dikarenakan efek dari acara renungan tadi, yang isinya sudah pasti sangat
tertebak. Agar berbakti kepada orang tua, menghormati mereka dan pesan senada
lainnya. Pesan tersebut juga disampaikan dengan gaya bahasa layaknya
video-video training motivasi, dan pasti selalu saja ada kalimat tentang
pulang ke rumah, bendera merah, dan orang tua telah meninggal. Kalimat fiksi
yang sering kali kudengar.
Di jalanan komplek menuju pondok,
aku menyapa bapak-bapak warga setempat seperti biasanya. Mereka kebanyakan
menongkrong di persimpangan gang, pos kamling, atau di warung Bu Imah. Warung
makanan prasmanan ala mahasiswa dan rakyat kecil yang cukup terkenal di komplek
kampung tempat aku tinggal. Hingga sampailah aku di halaman depan pondok.
Pondok tempat aku menginap tidak jauh dari kampus, sekitar 15 menit jika
ditempuh dengan sepeda. Di pondok inilah aku tinggal.
“Tadz, udah pulang? Saya mau setor
bisa gak, Tadz?” tanya salah seorang santriku, Irfan. Beberapa anak lainnya
yang menyadari kehadiranku tiba-tiba langsung berlarian ke ruang mengaji, yang
lainnya ada juga yang mencoba menghampiri kami berdua.
“Iya bisa, bentar, ya. Tunggu lima
menit. Ustadz mau naruh tas dulu.” Kuusap rambut Irfan, lalu kuambil tas dan
barang-barang lainnya di atas motor. Aku menuju kamar yang berjarak sekitar 30 meter
dari ruang menghafal, yang terletak persis di samping masjid. Jadi tidak susah,
jika aku harus mendirikan sholat jamaah di masjid, karena hanya berjarak
beberapa langkah saja dari tempat tinggalku sekarang. Di kamar inilah aku
mengerjakan semua tugas kuliahku. Terkadang para remaja masjid juga datang
untuk bermain. Aku sengaja memilih pondok ini untuk memanfaatkan kemampuanku
dalam menghafal Al Quran. Kamar yang diberikan kepadaku dulunya adalah ruang
takmir masjid yang tidak terpakai, hingga saat aku ditawarkan bekerja di sini,
kusulap kamar ini menjadi tempat tinggal sementara. Sebelumnya aku tinggal di
kos-kosan bersama 7 orang teman SMA-ku, hingga aku memutuskan untuk berhijrah
ke tempat ini setahun lalu. Setelah meletakkan barang bawaanku dan merapikan
pakaian, kulangkahkan kaki untuk kembali menuju ruangan mengaji para santri
yang tidak jauh dari kamar.
“Yang mau setor hafalan hari ini,
silakan!” Sembari berdiri di pintu, aku mempersilakan para santri menyetorkan
hafalannya.
“Setengah halaman boleh, Tadz?”
tanya seorang santri yang duduk di tengah-tengah ruangan. Aku ingat betul anak
itu. Namanya Syarif, ia yang sering mengetok pintu kamarku untuk meminta bayak
hal yang bagiku tidak penting.
“Hm,” aku jawab dengan isyarat
anggukan. Kemudian para santri mulai berbaris untuk mengantre menyetorkan
hafalan yang aku tugaskan hari ini.
Pagi
ini matahai bersinar hangat. Cahayanya merangsek masuk melalui kaca-kaca
jendela kamarku yang tadi baru saja dibersihkan. Tidak ada jadwal kuliah hari
ini. Satu-satunya jadwal hari ini adalah mengisi pengajian di masjid kampung
sebelah pukul delapan nanti. Hanya, adik perempuanku yang harus kuliah hari ini
kaena ia harus mengikuti kegiatan ospek. Ia berada satu universitas denganku,
meski berbeda jurusan. Sementara aku mengambil kedokteran, ia mengambil
farmasi. Tempat kosnya juga tidak begitu jauh dari pondokku.
Tok...tok...tok....
Pintu kamarku diketuk.
“Assalamualaikum,
Tadz!”
“Wa’alaikumsalam,
oh, Ustadz Faruq, ada apa?” kubukakan
pintu untuknya.
“Pengajiannya
nanti sama Mas Farid ya, Tadz,”
“Oh,
iya, biar setelah ini saya hubungi beliau,” jawabku sembari kukeluarkan telepon
genggam dari saku celana.
“Kalau
bisa, datang lebih awal, ya, Tadz. Kataya ada warga yang mau tanya-tanya
seputar fiqih dasar,” Ustadz Faruq menambahkan.
“Saya
usahakan bisa hadir setengah jam lebih awal, deh, Tadz.”
“Oke,
Ustadz, saya duluan... Assalamualaikum.”
Ustadz
Faruq lalu pergi. Masih ada sekitar empat puluh menit untuk bersih-bersih dan
persiapan. Biasanya aku dibantu oleh Ustadz Faruq dalam mengisi pengajian.
Namun hari ini, beliau harus menunggui anaknya di rumah sakit. Posisinya hari
ini digantikan oleh remaja masjid, teman kuliahku di kampus.
Pengajian
selesai jam 10 pagi. Biasanya pengajian yang disponsori oleh ibu-ibu PKK ini,
ramai dikunjungi oleh warga-warga kampung. Terkadang juga beberapa dosen yang
tinggal di sekitar ikut dalam pengajian.
Drrrtt...drrtt...
Sakuku bergetar. Sebuah pesan masuk. Segera kusibak layar telepon
genggamku, dan muncullah nama kakakku di sana. Kusentuh layar sekali lagi untuk
melihat isi pesannya. Tampaklah sebuah kalimat yang membuatku sedih. Bapak
kembali masuk ICU, dan aku diminta pulang jika tidak ada kegiatan yang penting.
Segera kubacakan doa untuk beliau. Semalam, saat sholat tahajud pun juga
kudoakan beliau, semoga beliau diberi kesehatan dan umur panjang agar masih
mampu menyaksikan kami, anak-anaknya, sukses. Akhirnya, kubalas pesan tersebut.
Iya
Mas, habis zuhur nanti aku pulang.
Selanjutnya
aku mem-forward pesan tersebut untuk adikku yang sedang ospek.
Selepas zuhur, kunyalakan motor
bebek kesayangan. Tepat sebelum gas kutarik, ponselku kembali berdering. Adikku
yang di Tangerang rupanya juga akan pulang. Ia memberiku kabar, sekaligus
memintaku mencarikan tiket untuk kembali ke rumah. Kuiyakan permintaannya
dengan syarat nanti kucarikan saat aku telah tiba di rumah. Sekarang tinggal
aku sendiri. Kupacu kencang motorku melewati keramaian jalan raya kota Jogja
yang padat. Meliuk di antara mobil-mobil, sesekali aku mengendrai zig-zag kiri-kanan,
mencari ruang untuk mendahului kendaraan lain. Saat di tengah jalan pun,
ponselku kembali berdering beberapa kali. Entah mengapa banyak sekali yang
berusaha meneleponku. Padahal setahuku, Bapak hanya sakit biasa. Dulu sewaktu
beliau opname yang pertama, tidak seramai ini. Dengan mengurangi laju
kecepatan, aku merogoh saku dan berusaha menggapai telepon genggamku. Aku
memaksakan menerima panggilan masuk tersebut karena barangkali adikku yang jauh
di sana hendak meminta tolong lagi, siapa tahu panggilan masuk ini darinya. Aku
begitu menyayanginya, karena di antara kami berenam ia yang tinggal paling jauh
dari rumah. Terlebih lagi, ia sekarang dalam kondisi hendak pulang namun belum
membeli tiket, tentu ia hanya akan meminta tolong kepadaku untuk mengurusnya
sebagimana biasanya. Kusangkutkan telepon genggam di antara telinga dan helm, lalu
kubuka pembicaraan,
“Halo,
Assalamualaikum...”
“Waalaikumsalam
warahmatulah, halo, Mas Fahmi?”
“Iya,
ini siapa?” teriakku agar suaraku mampu menyaingi deru mesin kendaraan.
“Om
Haris, Mas Fahmi...”
Om
Haris yang rupanya kini menelponku. Suaranya tidak terdengar jelas dari
seberang sana, karena aku menjawab sembari mengendarai motor. Speaker ponselku
kalah keras dengan suara deru mesin jalan raya.
“Iya, Om. Ini saya sedang perjalanan
pulang ke rumah.” jawabku singkat mengiyakan setelah mengira-ngira apa yang
beliau katakan. Aku tidak tahu pasti apa yang beliau sampaikan, tapi biarlah,
nanti setelah sampai rumah biar kuhubungi beliau kembali.
Tiba-tiba
aku teringat pesan motivator acara yang kemarin aku ikuti. Suaranya menggema
kembali di pikiranku, mengeluarkan kalimat-kalimat konvensional acara motivasi
religi yang berkali-kali kudengar. Bendera merah di depan rumah, tetangga dan
kerabat yang berkerumun di rumah, dan lain sebagainya, semua itu tiba-tiba
melayang begitu saja di benakku. Aku juga bertanya-tanya mengapa adikku yang
sekolah jauh di seberang sana sampai pulang ke rumah, sementara Bapak ‘kan,
hanya sakit. Adik perempuanku yang sedang dalam masa ospek saja tidak pulang,
mengapa ia harus jauh-jauh pulang? Mungkinkah Bapak telah tiada?
Seluruh
ingatanku tentang Bapak langsung berputar di kepalaku, wajahnya yang kini menua
dengan semangat bekerjanya yang tidak pernah pudar. Aku belum sempat
membahagiakan beliau. Dulu aku pernah berjanji kepadanya untuk kuliah di luar
negeri, tapi saat detik-detik terakhir masuk perguruan tinggi, kucabut janji
itu. Bapak sempat sangat berbahagia awalnya, meski akhirnya ia juga berusaha
untuk tampak tidak kecewa saat berada di hadapanku dulu, tepat setelah
pengumuman diterimanya aku sebagai mahasiswa kedokteran UGM. Jika beliau tiada,
maka... Ah, segera kutepis seluruh bayangan dan pikiran buruk dari
kalimat-kalimat tersebut, dan kuyakinkan diri bahwa kondisi Bapak di rumah
baik-baik saja. Bapak masih ada di rumah. Kuyakinkan pula bahwa kalimat-kalimat
yang diucapkan motivator tersebut kemarin hanyalah mitos belaka dan tidak
mungkin terjadi. Mulutku kini kubasahi dengan tahlil, lalu kutarik gas dan
melaju sekencang-kencangnya.
Menjelang
sampainya kendaraanku ke rumah, batinku semakin deras mengalirkan shalawat nabi
dan doa untuk kesehatan bapakku. Tinggal satu gang lagi, dan aku makin
meninggikan kecepatan motorku. Beberapa tetangga yang sedang berkumpul sampai
melirik kaget saat aku lewat tadi.
Setibanya
aku di rumah, aku bertanya-tanya, mengapa kondisi halaman rumah begitu ramai?
Di depan rumah juga dipasang tenda, beberapa orang dari tetangga sedang menata
kursi. Motorku pun tidak dapat masuk ke halaman rumah. Segera saja kupakirkan
motor di pinggir jalan, dan bergegas masuk menerobos orang-orang yang berkumpul
dalam keramaian di depan rumah. Mereka masih belum dapat mengenaliku, karena
helm masih kupakai. Ada Om Damar, tante, dan budeku juga. Sesampainya aku di
ruang keluarga, kulepas helmku dan kusalimi tangan ibu dan juga kakakku. Ibu
tampak sangat sedang sibuk berbincang-bincang di telepon, entah dengan siapa. Sementara
kakakku duduk di kursi ruang keluarga dengan wajah yang terlihat sangat sayu.
Kuberanikan
diri bertanya, “Mas, bapak di mana?”
Kakakku
menatapku sebentar, seolah hendak berpikir mengolah kata untuk berbicara.
“Masih
di rumah sakit.” jawab kakakku singkat, kemudian ia segera pergi
meninggalkanku. Ia berjalan ke ruang depan, entah mengapa.
Saat
ibu telah selesai menelepon, aku menghadap beliau dan bertanya, “Bu, kita gak
ke rumah sakit?”
Ibuku
terdiam. Ia lama menatapku. Matanya tiba-tiba berair, seolah-olah beliau hendak
mengatakan sesuatu tapi tidak bisa. Melihat ibu yang demikian, aku juga tidak
kuasa menahan tangis.
Agak
lama beliau terdiam hingga beliau kembali berucap, “Bapakmu sudah tidak ada,
Mi.” Suara ibu bergetar mengatakan kalimat itu.
Aku
makin tak kuasa menahan tangis. Dadaku terasa sesak. Andai waktu bisa berputar,
dan aku mampu meminta maaf kepada bapak
atas segala kenakalanku, andai aku mampu membahagiakan beliau lebih dulu. Penyesalanku
bertambah-tambah saat ibu mengatakan bahwa bapak meninggal kurang lebih 10
menit setelah kakakku mengirim pesan singkat kepadaku bahwa bapak sedang sakit.
Ah, andai aku segera pulang dan tidak menunggu waktu zuhur. Air mataku terus
mengalir. Kakakku kembali menemuiku, ia juga menangis, kemudian memelukku dan
membisikkan kalimat yang membuatku tabah.
“Jangan
keliatan sedih di depan adik kita, kita tulang punggung keluarga sekarang. Lisa
dan Nana di kamar, masih belum berhenti menangis. Jangan ditambahin sedih, Mi.
Kita harus kuat.”
Kami
berdua lalu menuju kamar, kupeluk kedua adik perempuanku, kutenangkan mereka,
meski aku sendiri juga tak kuasa menahan air mata yang terus meleleh.
Seandainya aku juga mampu memindahkan kesedihan yang dialami kedua adikku yang
masih kecil ini kepadaku, biar aku sendiri yang merasakannya, agar masa
bermainnya tidak ternodai dengan hal yang membuat mereka terluka. Aku sendiri
masih tidak bisa menguasai diri saat kulihat kedua adikku yang periang itu kini
meringkuk di pojok kamar dan terus menangis.
Rupanya
perasaan dan pikiranku tadi benar. Itulah mengapa kakakku pergi ke depan, ia
juga tidak sampai hati mengatakan yang sebenarnya terhadapku. Pantas saja tadi
adik laki-lakiku meminta tiket dengan sesenggukan, rupanya ia tahu lebih dulu
dibandingkan aku.
Di
tengah perasaan yang kacau ini, lagi-agi aku kembali teringat pesan dari
motivator acara kemarin, yang membuatku terus menangis menyesali diri. Pesan
itu nyata terjadi, meski aku tidak pernah mempercayainya. Ya, aku pulang ke
rumah, menyaksikan tenda telah dibangun di depan rumah, tetangga dan kerabat
berkumpul, dan aku tidak mengetahui jikalau bapak ternyata telah meninggal
dunia, hingga ibuku sendiri yang mengatakannya di hadapanku. Aku dipaksa
percaya isi pesan itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar