Uang Tidak Sama Dengan
Bahagia
Oleh Indah Hermawati
“Every day is a new beginning, take a deep breath and
start again.”
Katanya guru itu pahlawan
tanpa tanda jasa, tapi mana buktinya? Mungkin slogan ini dibuat oleh seorang
guru yang ingin dihormati dan dihargai. Dimana letak “pahlawan tanpa tanda jasa”
dari seorang guru yang berani menghalangi seorang siswa untuk meraih impiannya?
Rasanya sekolah yang aku rasakan berbeda dengan yang teman-temanku rasakan. Capek, bosan, lapar. Mungkin itulah kesan pertamaku jika aku mendengar kata
“Sekolah”.
Senin,
16 Mei 2015.
Kusibak kain usang penutup jendela di kamarku.
Semburat cahaya kuning terlihat melalui langit hitam di ujung timur. Ah, lagi. Kenapa akhir-akhir ini aku selalu bangun kesiangan. Ini artinya aku harus kehilangan waktu untuk
bermesraan dengan Allah di malam hari.
“Len,
Lena… Udah bangun belum?” terlihat ibu mengintip dari celah pintu kamarku.
“Sudah
Bu, ini mau mandi.”
Kusambar handuk biruku kemudian pergi menuju kamar mandi kecil di pinggir sungai. Sudah lima belas tahun rasanya aku hidup di tempat ini, tapi tetap saja aku tak terbiasa dengan hawa dingin di sini. Selalu saja bulu kudukku berdiri saat mulai kubuka selimut hangatku.
“Lena,
makanan dan bekal ibu taruh di dapur ya! Jangan lupa dimakan.” terdengar suara ibu dari dapur saat aku sedang mandi.
Ibuku adalah seorang pedagang sayur. Setiap hari ia selalu berangkat pagi-pagi ke pasar yang jaraknya tak kurang dari dua kilometer dari rumah. Entah mengapa ibuku mau saja menekuni pekerjaan yang sebenarnya untungnya tak seberapa.
Padahal,
aku tahu ibu selalu batuk setiap malam tanpa henti. Kalau aku tanya kenapa ibu tidak beristirahat untuk beberapa hari saja, ibu pasti akan bilang, “Ini hanya batuk biasa, Nak. Nanti juga sembuh.”. Apa daya, ibuku adalah satu-satunya tulang punggung untukku dan kedua adikku saat ini. Ayahku meninggal 2 tahun yang
lalu saat peristiwa konflik antaragama di kampungku. Ia tertembak saat tiba-tiba ribuan peluru menembus rumah kami di malam hari. Padahal, hari itu adalah hari ulang tahunku. Tentu saja itu menjadi hadiah menyedihkan yang tak akan aku lupakan. Ayah, aku berjanji akan meneruskan perjuanganmu.
“Zaky,
Mei... Kakak berangkat
dulu, ya. Sampai ketemu seminggu lagi. Baik-baik di rumah sama ibu. Ingat, nggak
boleh nakal, Oke?”
“Oke Kak.” Kemudian kucium kedua kening adikku dan bergegas
berangkat ke sekolah.
Sepertinya cuaca hari ini sangat bersahabat denganku. Semoga keberuntungan pun menyertaiku.
Kulangkahkan kakiku dengan mantap menuju sekolah. Cukup jauh memang. Butuh satu jam jalan kaki untuk mencapai tempat itu. Namun, itu semua tak terasa lelah karena diiringi kicau burung dan suara gemericik air mengalir dari sungai yang sudah menjadi teman akrabku semenjak kecil. Banyak pula para petani
yang menyapa di jalan sambil berkata, “Belajar yang bener, ya. Biar jadi orang sukses!” Sungguh mengharukan. Dan alangkah
durhakanya diriku jika tak belajar dengan sungguh-sungguh.
Tak terasa aku sudah hampir sampai di sekolahku. Aku siap.
Kulihat arlojiku, waktu menunjukkan pukul 07.15. Sudah kuduga,
aku terlambat. Aku masuk melewati gerbang sekolah dan mengisi daftar hadir di kantor pos satpam. “Ah, Kamu! Selalu saja telat!” kata bapak penjaga sekolah yang sepertinya sudah terbiasa melihatku terlambat. “Mari Pak,” ucapku sambil segera berlari menuju kelas. Dengan napas terengah-engah, kuketuk pintu kelas.
“Assalamualaikum” ucapku lirih.
Pintu kelas terbuka, dan muncul sesosok guru dari dalam kelas. Ah, aku lupa pagi ini adalah pelajaran Bu Rani, guru
PPKn yang memiliki kesan kurang baik di hati para
siswa.
******
Sudah setengah jam aku berdiri di bawah tiang bendera, di bawah teriknya sinar matahari. Ini akibat dari terlambat datang ke sekolah. Bu Rani merupakan satu dari sekian guru yang tak punya rasa kasih sayang. Jadi, hukuman
yang aku rasakan ini belum seberapa.
“Lena,
kata Bu Rani kamu boleh kembali ke kelas sekarang”, kata salah seorang temanku.
Peluh keringat masih mengalir dari keningku, namun aku harus masuk kelas sekarang. Tak berani kutatap wajah Bu Rani saat aku memasuki kelas, bisa-bisa aku diterkam saat itu juga. Aku mencoba mengikuti sisa waktu pelajaran dengan semangat meskipun sebenarnya aku sangat lelah.
Tak terasa sudah delapan jam berlalu.
Bunyi lonceng sudah terdengar. Ini berarti saatnya pulang. Aku pulang ke asrama yang terlerak di
belakang sekolah. Asramaku tak luas, hanya mampu menampung 80 siswa, yang
terdiri dari 20 siswi dan sisanya adalah laki-laki. Kita diizinkan pulang ke rumah seminggu sekali. Tak lebih dari
setahun lagi, aku akan meninggalkan asrama dan sekolah ini. Aku ingin
melanjutkan sekolah di daerah yang lebih maju dari kampung terpencil ini. Aku
yakin impianku ini bukanlah angan-angan kosong yang akan menjadi bahan
tertawaan dan ledekan.
“Assalamualaikum”, kuucap salam kemudian kubuka pintu
kamarku yang sudah lapuk. Ternyata belum ada teman kamarku yang pulang, mungkin
mereka masih di masjid. Lebih baik aku mandi dulu. Segarnya air kamar mandi
seakan menghapus semua rasa lelah yang menumpuk hari ini.
******
“Anak-anak, ada kabar gembira untuk kalian. Akan ada
lomba debat mengenai peran remaja dalam dunia islam yang akan dilakukan dua
minggu lagi di Jakarta. Lomba ini dilakukan secara berkelompok. Masing-masing
kelompok terdiri dari tiga orang. Dan sekolah kita berencana akan mengirim satu
kelompok saja. Kami berencana akan melakukan seleksi untuk menentukan siapa
saja yang akan diikutsertakan. Untuk informasi lebih lanjut akan ditempel di
mading segera.”, suara Pak Hasim yang lantang tiba-tiba membangunkanku dari
lamunan. Lomba debat di Jakarta, pikirku. Ini adalah kesempatan besar
untukku menunjukkan kemampuanku. Aku akan ikut lomba ini. Aku pasti bisa.
Kuhampiri Pak Hasim di depan masjid usai belajar malam. “Pak
apa saja yang harus aku persiapkan supaya bisa ikut lomba tersebut?”, tanyaku
tak sabar. “Oh, kamu rupanya. Bikin kaget aja. Kamu lihat saja pegumumannya
nanti.” “Tapi kan Pak. Kalau saya tahu lebih cepat, maka saya bisa mempersiapkan
diri lebih baik dan matang.”. Pak Hasim tersenyum dan berlalu meninggalkan aku.
Seharusnya aku tahu jawaban apa yang akan diberikan Pak Hasim. Tapi aku harus
ikut lomba itu.
Dua hari berlalu. Terlihat kerumunan siswa memenuhi depan
mading sekolah. Pasti ada berita besar pikirku. Benar, ada pengumuman mengenai
lomba debat. Tak sabar aku ingin melihatnya. Kucermati baris demi baris syarat
mengikuti lomba. Dan sampailah aku pada bagian terakhir pengumuman, yaitu biaya
selama perlombaan ditanggung masing-masing siswa. Sekolah hanya menyiapkan
biaya pendaftaran dan transpot. Sepertinya itu satu-satunya syarat yang
menghambat mimpikiku saat ini. Pasti tak mudah untuk hidup di Jakarta selama 1
minggu bagi orang sepertiku. Jangankan seminggu. Hanya sehari saja, pasti langsung
mengeruk habis uang sakuku.
******
Tapi ini kan mimpiku, gumamku dalam hati. Semalam aku tak bisa tidur
memikirkan lomba itu. Semangatku semakin diuji ketika aku tahu banyak temanku
yang ingin ikut lomba tersebut. Kulihat mereka sangat semangat belajar mempersiapkan
tes seleksi yang akan dilakukan esok hari. Pasti mereka tak punya masalah ekonomi
sepertiku. Apalagi si Yanti yang orang tuanya juragan tanah.
“Belum tidur Len?”, Lela yang dari tadi sedang belajar tak
kusangka, diam-diam memerhatikanku.
“Belum nih, banyak nyamuk,” jawabku.
******
Hari ini adalah hari dilaksanakannya tes seleksi lomba.
Kulihat banyak sekali taman-temanku yang juga sangat berantusias. Aku sudah
sangat siap dan optimis aku akan masuk lolos ikut lomba. Dan benar saja, aku
lancar melaksanakan semua tes yang diujikan, sekarang tinggal menunggu
pengumuman.
“Anak-anak, kami sudah mendapatkan tiga nama siswa yang
akan mengikuti lomba debat di Jakarta. Dan nama-namanya adalah...”, suasana
kelas seketika tegang ketika Pak Hasim akan mengumumkan hasil seleksi. “Syifa
Fadhilah, Zaky Ananta, dan Lena Salsabila.”, nafasku tercekat ketika namaku
disebut manjadi peserta lomba. Tidak salah lagi, aku ikut ke Jakarta. Senang
sekali rasanya.
“Wah, selamat ya Len, pasti seneng banget bisa ke
Jakarta.”
“Jangan lupa oleh-oleh ya!”
“Nitip salam dong buat pak presiden.”
Banyak ucapan selamat dari teman-temanku yang semakin
menambah semangatku untuk memenangkan lomba.
“Len, jangan lupa belajar ya. Jangan lupa bawa uang saku
yang banyak juga. Biar kita nanti bisa jalan-jalan di Jakarta, kapan lagi coba?”
Syifa yang mempunyai orang tua mampu terlihat sangat antusias.
Dan sekarang, masalahku adalah bagaimana caranya aku
bilang ke orang tuaku mengenai biaya. Aku yakin, pasti ibu akan senang kalau
tau aku akan ikut lomba, tapi gimana caranya ibu bisa dapat uang saku yang
pasti lebih dari setengah juta itu. Tagihan listrik di rumah saja aku tak yakin
sudah dibayar sama ibu.
Aku akan mencoba untuk melobi pak guru untuk meringankan
biaya. Pasti tak akan tega seorang guru melihat muridnya yang berprestasi,
gagal meraih mimpinya karena masalah ekonomi.
“Assalamualaikum pak”, kuketuk kantor guru dengan ragu.
“Masuk!”, Pak Hasim terlihat sedang sibuk mengurusi
setumpuk kertas yang terlihat berantakan.
Kujelaskan semua masalah yang kuhadapi. Aku berharap
kelembutan hati Pak Hasim akan muncul. Namun, perkiraanku meleset.
“Len, bersyukur kamu sudah diberi peluang untuk ikut ke
Jakarta. Lihat teman-temanmu! Banyak dari mereka yang ingin berada di posisimu.
Seharusnya kamu senang. Masa sih orangtuamu tak sanggup membiayaimu. Kalau
memang benar orang tuamu tak sanggup, suruh orangtuamu datang ke sini. Aku yang
akan beritahu mereka,” tak kusangka jawaban itu yang keluar dari Pak Hasim. Benci!
Aku tak suka Pak Hasim. Dasar orang tak berperikemanusiaan, aku mengutuk
dalam hati.
******
Hari Sabtu, saatnya aku pulang ke rumah dan memberitahu
ibu kabar yang entah membahagiakan atau malah menambah pikiran ibu ini.
Terlihat dari depan rumah beberapa warga berkerumun dan nampak mondar-mandir.
Pasti ada sesuatu yang tidak beres, pikirku. Segera aku masuk ke rumah. Tidak ada
apa-apa. Tak kulihat ibu dan kedua adikku. Dan aku putuskan untuk bertanya
kepada warga.
“Iya, si Mei itu bermain petak umpet bersama anakku, pas
dia mau bersembunyi di malah terpeleset dan jatuh ke sungai.”
Apa? Mei jatuh ke sungai? Aku langsung menuju ke sungai setelah salah seorang
warga memberi tahu tentang kecelakaan yang menimpa Mei, adikku. Beberapa warga
terlihat tengah menyusuri sungai.
“Ibu, apa yang terjadi?” kuhampiri ibu yang sedang
mondar-mandir di pinggir sungai.
“Oh, kamu udah pulang, Len. Kamu istirahat di rumah dulu
aja, pasti kamu capek. Nanti aku kasih tau. Ceritanya panjang.” kata bu Atik
tetanggaku yang sedang menenangkan Ibuku. Namun, tak kuindahkan nasehat bu
Atik. Aku memilih untuk ikut mencari adikku menyusuri pinggir sungai. Dan
sampai petang tiba, tak ada tanda-tanda adikku terketemukan.
Minggu malam.
Besok aku harus segera ke asrama. Tapi Mei saja belum
ketemu. Dan aku belum memberitahu ibu tentang lomba dan biaya lomba yang akan
aku ikuti. Rasanya semangatku untuk mengikuti lomba jadi hilang. Aku tak akan
kembali ke sekolah sebelum adikku kembali.
“Nak, udah makan belum?” ibu yang sejak kemarin tak
bicara sepatah katapun, tiba-tiba membuyarkanku dari lamunan.
“Udah, Bu. Ibu, sebenarnya apa yang terjadi pada Mei
sih?” tanyaku pelan.
“Ini salah Ibu. Seharusnya Ibu turuti kata Mei untuk
tetap tinggal di rumah dan tidak pergi ke pasar dulu. Badan Mei memang sudah
panas sejak malam sebelumnya. Tapi ibu rasa itu cuma sakit biasa. Dan paginya
pun panasnya udah turun. Jadi Ibu ke pasar saja seperti biasa. Ketika Ibu
pulang dari pasar, di rumah udah ada ribut-ribut. Awalnya Mei mau cari buah dan
main sama Novi di pinggir sungai, tapi karena malam sebelumnya habis turun
hujan, tanah menjadi licin, dan arus sungai sangat deras. Kayak gini deh
jadinya.” Ibu tak kuasa menahan tangisnya. Aku semakin mantap untuk
meninggalkan lomba. Untuk pergi ke sekolah esok hari pun aku malas.
“Len, kamu gimana sekolahnya? Baik-baik saja kan?” tak
kusangka ibu akan menanyakan perihal sekolahku.
“Oh, iya Bu, tapi sebenarnya...” aku ingin bilang ke ibu,
tapi aku takut ibu tambah sedih.
“Tapi kenapa? Ada masalah di sekolah?”
“Ngg.. nggak sih, Bu. Sebenarnya sekolah mengadakan
seleksi bagi para siswa untuk mengikuti lomba yang akan diselenggarakan di
Jakarta. Dan Alhamdulillah aku terpilih sebagai siswa yang akan mengikuti lomba
itu.”
“Wah.. keren sekali anakku. Ibu bangga banget sama kamu.
Terus kok kamu kelihatan sedih?” tanya ibu heran.
“Bu... kita baru terkena musibah yag belum terselesaikan.
Masa aku enak-enaknya bersenang-senang di Jakarta. Lagi pula lomba itu tak
sepenuhnya gratis. Biayanya nggak murah.” kulihat raut wajah ibu sedikit
berubah.
“Biaya? Memang berapa biayanya?”
“Sebenarnya biaya ini untuk biaya hidup di Jakarta selama
satu minggu. Kata temanku kemarin sekitar lima ratus ribu.”
“Hah? Setengah juta? Semahal itukah? Di sini kamu bisa
manggunakan uang itu untuk hidup selama sebulan.”
“Iya, Bu. Kecuali kalau aku bawa bekal makanan sendiri
yang banyak.”
“Oh... Ibu ingat. Kemaren Ibu baru dapat rejeki yang
lumayan. ” kata ibu sambil mengambil uang di bilik. Dan tiga lembar uang
seratus ribuan ia keluarkan dari sebuah dompet.
“Ibu, kita lagi kesusahan di rumah bu. Lupakan saja lomba
itu. Aku tak mau menari-nari di atas kesedihan.”
“Nak, bukankah pergi ke Jakarta merupakan impianmu sejak
kecil? Kini kesempatan itu datang. Betapa durhakanya kamu kepada Allah jika
kamu tak mengambil kesempatan berharga ini. Ayo, berangkatlah! Kalau uang dua
ratus ribu lagi, Ibu masih punya anting. Ibu sudah tidak pantas lagi
menggunakan perhiasan.” kata ibu menyemangatiku.
“Tapi, Bu...”
“Tidak apa-apa, Nak. Berangkatlah!”
Aku tersenyum. Bangga melihat Ibu yang selalu
menyemangatiku dan selalu berada di sampingku. Sekarang adalah tugasku unttuk
membalas jasa ibu. Aku harus jadi juara.
******
Di sekolah.
“Baiklah Lena, Syifa, Zaky. Sekarang adalah waktunya.
Kalian membawa nama sekolah. Jaga nama baik tersebut. Beri tahu dunia bahwa
kalian adalah anak-anak hebat.”
“Siap Pak!” sahut kami serentak.
Matahari sudah tepat berada di atas kepala. Kami siap
berangkat. Sorak-sorak dari teman-teman menyertai keberangkatan kami.
******
Tiga puluh jam kulewati menggunakan mobil angkutan sayur
yang sudah tua. Dan sampailah aku di ibukota negara tercinta. Kota besar yang
menjadi idaman bagi masyarakat pelosok sepertiku. Kuakui tempat ini memang
indah. Lampu-lampu berkelap-kelip dimana-mana. Gedung-gedung tinggi pun berdiri
kokoh.
******
“Hadirin yang saya hormati. Sekarang adalah waktunya saya
umumkan hasil Lomba Debat dengan tema Peran Remaja Dalam Dunia Islam.” kata MC
di acara tersebut. Sorak-sorai penonton memenuhi ruangan lomba. Rasanya
harap-harap cemas menunggu hasil lomba.
“Juara satu di raih oleh...” ah, pupus sudah harapanku.
Nama sekolahku tak kunjung disebut. Tinggal satu tempat untuk juara satu.
“Pondok Pesantren Al-Ikhlas.” Apa? kami menjadi juara
satu? Sulit dipercaya. Kami yang hanya bermodalkan percaya diri dan tekad,
bisa mengalahkan orang-orang berduit banyak yang tinggal di istana megah itu.
******
Kini
aku tahu. Harta tak dapat memberi segalanya. Namun, hati dan jiwa yang baiklah
yang mengantarkan seseorang kepada pintu keberhasilan. Keberhasilan menuju kasih
sayang-Nya. Menuju ridho-Nya. Dan tak tahu dari mana munculnya, tiba-tiba aku
teringat Pak Hasim. Aku rasa dia benar. Di dunia ini tak ada yang gratis. Tak
baik rasanya hanya mengemis dan merendahkan diri sendiri demi mendapatkan rasa
iba dari orang lain. Kita adalah makhluk yang istimewa. Kita diberi akal. Kita
diberi tenaga. Untuk apa kita hidup jika hanya berpangku tangan mengharapkan
emas yang tiba-tiba jatuh dari langit.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar