Tertinggal
di Sana
Oleh
Ida Sahli Mubarok
“Carilah ilmu bak mencari air di
tengah padang pasir”
“Oper gua, Ban!” teriak Tera spontan yang
bebas dari kawalan musuh.
“Ogah, ah. Hahaha…” tawa Naban menggelegar.
Tawa kebersamaan kami lepas di
teriknya mentari siang. Canda tawa terus terurai selepas tersengat mentari di
tengah lapangan. Usai rehat,
kami beranjak kembali ke asrama karena mentari yang kian tergelincir. Aku kembali
bersama keramaian sore itu, diiringi pepohonan yang menari mengikuti irama angin.
Sesampainya di kamar, aku bergegas
merebahkan diri sejenak mengingat segala hal yang telah terjadi belakangan ini.
Terlalu banyak hal yang takkan terlupakan karena telah menjadi sebuah bingkai
kenangan. Namun, tak lama
aku kehilangan kesadaran karena lelah yang tak tertahankan.
Kudapati hari nampaknya telah
berganti, entah berapa lama aku tertidur di kasur ini. Selepas nyawaku
terkumpul, kuberanjak bangun dan menyucikan diri dan bergegas melaksanakan
aktivitas hari ini. Tidak seperti hari-hari biasanya, hari ini ramai, maklum
karena hari ini adalah hari
Sabtu, dimana
mayoritas santri
melaksanakan kegiatan olahraganya
pada hari ini.
Selepas makan siang, aku dan
teman-temanku berangkat ke lapangan futsal, namun di perjalanan, kudapati seorang
wanita paruh baya datang menghampiri kami.
“Maaf, Nak, kamu tau yang namanya Ipung?”
wanita itu membuka obrolan.
“Itu, Bu yang lagi ngobrol di belakang
sama si Naban,”
sahut Reza
spontan.
“Saya
nanya Ipung bukan si Naban,”
wanita itu
dengan nada sedikit kesal.
“Yaa
saya kan ngasih tau bu,”
dengus Reza
kesal.
Aku yang masih asyik mengobrol
dengan Naban tidak menghiraukan percakapan mereka. Aku tetap asyik dan menikmati canda kami.
“Kamu
yang namanya Ipung?” wanita itu seketika menudingku.
“Iya, Bu. Ada apa ya?” jawabku
yang sedikit kaget.
“Kamu
ini, daritadi saya ngobrol sama temen kamu, kamu malah asik-asikan
ngobrol sama yang lain!” wanita itu seketika emosi.
Eeehh,
kaga ada petir kaga ada angin, sewot ae tiba-tiba, gumamku dalam hati.
“Oke, Bu, saya minta maaf kalo ngga
ngedengerin dan sebagainya, tapi Ibu bisa jelaskan maksud kedatangan Ibu mencari saya?” aku mencoba
tenang kembali.
“ Jadi
kamu ya, saya ibunya Baihaqi. Dia ngga mau balik ke pondok gara-gara
takut sama kamu katanya,”
masih dengan
emosinya yang terbakar.
“Emang
saya ngapain dia,
Bu? Saya aja ngga
deket sama dia,”
aku mencoba
membela diri.
“Udahlah, males Ibu ngomong sama anak-anak kayak
kamu, banyak alesannya,” kemudian Ia melangkah pergi dan mengabaikan ucapanku.
Siang itu menjadi sangat membosankan
bagiku karena munculnya sebuah perkara yang tak jelas asal-usulnya.
***
Aku termenung di atap bangunan
asrama, ditemani desir angin yang mengiringi matahari yang kian senja. Menatap
bentangan langit luas yang dihiasi burung-burung yang terus mengepakkan
sayapnya. Mendengar percikan air sungai disahuti kicauan burung-burung di
awan. Dan aku masih belum mengerti dengan apa yang sesungguhnya terjadi.
Masih dalam lamunanku, Naban
menghamburkan semuanya.
“Kenapa lu, Pung?” ucapnya membuatku kaget.
“Gua masih bingung ama yang
tadi,
Ban.
Padahal gua
ngga ngapa-ngapain dia dah.” Keluhku lemas.
“Udah, Pung, nyantai ae gausah
dipikirin. Anggep ae angin lalu,” katanya dengan pembawaannya yang
tenang.
“Mungkin, yodahlah,” aku mengalah.
Kami menghabiskan sore itu bersama
di atap yang penuh ketenangan dan kenyamanan. Dengan hiasan-hiasan mural di
dinding dan tanaman-tanaman belukar yang mengitari pagar-pagar pembatas. Kuhabisi
hari ini dengan segala kenangan indah dan sedikit noda luka yang entah dari
mana asalnya.
***
Nampaknya matahari sudah mulai
beranjak memunculkan senyumnya, aku menyegerakan diri untuk
menyambut hari ini,
namun belum sempat kutapakkan kaki di bumi, datang salah seorang dari bagian
keamanan sekolahku.
“Pung, dipanggil Pak Kyai,”
Pak Sholin menjelaskan.
“Sekarang,
Pak?” aku
sedikit bingung.
“Kamu
kayak
ngga tau saya saja.” Ucapnya datar.
Pak Sholin, orang yang selalu ingin
dimengerti dan diperhatikan. Menemui santrinya jika ada masalah, sangat senang kala
melihat santri
menderita. Ia tidak segan-segan untuk menerapkan konsep ABRI kepada
santri-santrinya.
“Iya,
Pak, iyaa,” balasku
sekenanya.
Aku langsung berangkat menuju
ruangan beliau.
Dengan waktu yang
tidak lebih dari lima
menit,
aku telah sampai.
Akupun langsung
mengetuk pintu.
“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikumussalam,
masuk Pung,” jawabnya singkat.
“Kamu
mengerti kalau
menghalangi seseorang menuntut ilmu itu apa akibatnya kan? Dan saya yakin kamu
mengerti apa yang saya ucapkan. Dan bagaimana pun caranya, saya mau Baihaqi kembali.” Ucapnya
singkat, padat, dan sangat jelas serta dengan penuh kewibawaan.
Kututup pintu ruangan beliau, pintu
hijau besar dan menyeramkan. Kuterus mencoba menguatkan langkah untuk menghadapi masalah ini, hingga pada
akhirnya aku mendapatkan kesimpulan yang yang sangat bodoh, yaitu
melarikan diri dari
asrama dan mencari rumah Baihaqi. Itulah misiku yang terlintas seketika.
***
Lantunan ayat-ayat Al-quran yang istiqamah
dibacakan setiap harinya sudah mulai terdengar, ayat-ayat yang membuat hati
menjadi lebih tenang walau dalam keadaan bimbang. Yang membuat pikiran jernih
walau sedih. Yang membuat diri bergairah walau keadaan lemah. Yang selalu
membuat hal positif walau dalam keadaan negatif.
Namun aku justru masih menatap
langit dan terus berpikir bagaimana menjalankan misi yang telah kucanangkan.
Aku mencoba meminta solusi dan menyampaikan kepada Naban atas hal yang akan
kulakukan.
“Jadi lu pengen cabut, Pung?” tanya Naban
memastikan.
“Bisa dibilang, Ban,” jawabku singkat.
“Kalo gitu mah gua ikut lah,” Naban tersenyum licik.
“Serah deh,” aku menimpali.
Kami mulai beraksi kala semua sedang
melakukan shalat.
Start kami berada di kamar mandi lantai tiga, dimana terdapat jendela
yang tak berkaca. Sehingga aku mudah memanjat dan menuju balkon. Namun tidak
untuk Naban, di rintangan pertama ini Naban hampir saja menyerah Maklum saja, badan besarnya hampir menutupi
seluruh bagian jendela ini. Untung saja ia berhasil walau dengan bantuan
beberapa orang.
Kami berada di balkon, dan mulai
meloncat ke atap lantai dua kantin yang tak jauh dari balkon, namun disitu aku
dikagetkan akan teriakan Naban, ketika kulihat, ternyata kakinya berada
diantara empat besi yang cukup besar, untung saja hanya diantara, sehingga
hanya ada
sedikit goresan luka yang melecetkan kakinya.
Kami sampai pada checkpoint pertama. Kami berhasil lolos dari sekolah
melalui jalan belakang yang tembus ke perumahan warga. Namun disitu kami
sedikit mendapat ancaman besar.
“Anak
Al-Hamid,
ya?” tanya seseorang yang tak kukenal
“Bukan
kok,” sahutku spontan.
Bukan salah lagi maksudnya, lanjutku dalam hati.
Warga sangat senang jika bisa
menangkap santri Al-Hamid karena akan diberikan imbalan yang cukup menggiurkan.
Selalu bertanya kepada setiap anak-anak yang keluar pada waktu tertentu. Hal
yang sangat menyebalkan
adalah hal itu
membuat jantung deg-degan tak karuan. Namun untungnya semua itu dapat terlewati dan
hingga akhirnya sampai di tujuan
kami
***
Matahari membangunkanku kali ini,
nampaknya hari sudah sangat siang. Semburat kilaunya tak tertahan. Dan benar saja, jam di dinding menunjukkan pukul
08.30. Ku lihat sekeliling dan ternyata Naban masih tertidur pulas. Dan aku pun kembali merebahkan tubuhku
dan memikirkan misi selanjutnya
Aku
terpaksa meninggalkan sekolah hari ini dan menempatkan diri di rumah Alfa untuk
persembunyian kami. Dalam taraf kepanikan maksimal, rumahnya adalah
persembunyian terbaik karena lokasinya yang berada di kawasan komplek perumahan
yang akan menyusahkan tiap pengunjung dan letaknya tak jauh dari sekolahku.
***
“Gimana, Fa? Gua dicariin, ga?” tanyaku sesaat setelah
Alfa pulang sekolah.
“Udah pada tau semua, parah dah
pokoknya.”
jawab Alfa lesu.
Aku
mematung memikirkan apa yang akan selanjutnya terjadi. Setelah aku berbincang banyak
dengan Alfa dan beberapa temanku yang lain, akhirnya kami memutuskan untuk tetap
berada di persembunyian selama
beberapa saat. Namun tak lama
setelah keputusan itu dihasilkan, datang sebuah berita yang mengguncang jiwa.
“Pung, Januar ama yang laen udah di asrama putri, mending lu ngaku
aja gih. Lu tau ngga noh ortu lu udah ada disini nungguin lu. Naban juga, ibunya udah
pingsan empat kali dari tadi pagi. Udah buruan lu balik ke pondok,” terang Zaza sahabatku.
“Ban, gimana nih?” tanyaku mulai panik.
“Gimana ya, Pung?” Naban balik bertanya.
“Orang ditanya, malah nanya balik,” balasku sedikit kesal.
Aku masih menunggu kepastian-kepastian lain yang
akan dating.
Mungkin itu
semua bisa membawa
angin segar untuk mentalku yang terpompa habis-habisan. Sambil menunggu
kepastian itu datang, kami justru mencoba menghibur diri sejenak menikmati alam
yang menenangkan jiwa dan raga. Namun karenanya, justru mimpi buruk itu tiba.
“Fa, Ban, Bit, itu bukannya Pak
Sholin ya?” aku
tergugup.
Pak sholin dan ajudannya sudah
berdiri tepat di depan rumah Alfa. Dan pada akhirnya…
***
“Eh Pung, ngelamun ae lu,” Ojan datang membuyarkan semua
lamunanku.
“Ngelamun ae lu, mikirin siapa?” lanjut ia bertanya.
“Kepo bat dah,” sewotku ketus.
“Yeee, serah dah. Yodah makan
yuk,”
balas Ojan.
“Ayo dah,” Jawabku singkat.
Pada akhirnya semua kehidupanku saat
ini masih belum bisa menutupi semua kenangan yang dulu pernah terjadi. Semua
yang telah ku rangkai bersama teman-teman lama masih terus terngiang dalam
pikiran. Walau indahnya mimpiku yang kugapai kini, dan lautan kebahagiaan di
depan mataku, namun kuterus merasa sendiri bersama rindu yang terus menghantui.
Rupanya hatiku tertiggal disana, terpisah pulau yang berbeda.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar