Jumat, 08 April 2016

Cerpen_Tertinggal di Sana

Tertinggal di Sana
Oleh Ida Sahli Mubarok

“Carilah ilmu bak mencari air di tengah padang pasir”
Oper gua, Ban!” teriak Tera spontan yang bebas dari kawalan musuh.
            “Ogah, ah. Hahaha…” tawa Naban menggelegar.
            Tawa kebersamaan kami lepas di teriknya mentari siang. Canda tawa terus terurai selepas tersengat mentari di tengah lapangan. Usai rehat, kami beranjak kembali ke asrama karena mentari yang kian tergelincir. Aku kembali bersama keramaian sore itu, diiringi pepohonan yang menari mengikuti irama angin.
            Sesampainya di kamar, aku bergegas merebahkan diri sejenak mengingat segala hal yang telah terjadi belakangan ini. Terlalu banyak hal yang takkan terlupakan karena telah menjadi sebuah bingkai kenangan. Namun, tak lama aku kehilangan kesadaran karena lelah yang tak tertahankan.


            Kudapati hari nampaknya telah berganti, entah berapa lama aku tertidur di kasur ini. Selepas nyawaku terkumpul, kuberanjak bangun dan menyucikan diri dan bergegas melaksanakan aktivitas hari ini. Tidak seperti hari-hari biasanya, hari ini ramai, maklum karena hari ini adalah hari Sabtu, dimana mayoritas santri melaksanakan kegiatan olahraganya pada hari ini.
            Selepas makan siang, aku dan teman-temanku berangkat ke lapangan futsal, namun di perjalanan, kudapati seorang wanita paruh baya datang menghampiri kami.
               “Maaf, Nak, kamu tau yang namanya Ipung?” wanita itu membuka obrolan.
               “Itu, Bu yang lagi ngobrol di belakang sama si Naban,” sahut Reza spontan.
               “Saya nanya Ipung bukan si Naban,wanita itu dengan nada sedikit kesal.
               “Yaa saya kan ngasih tau bu,dengus Reza kesal.
            Aku yang masih asyik mengobrol dengan Naban tidak menghiraukan percakapan mereka. Aku tetap asyik  dan menikmati canda kami.
               “Kamu yang namanya Ipung?” wanita itu seketika menudingku.
               “Iya, Bu. Ada apa ya?” jawabku yang sedikit kaget.
               “Kamu ini, daritadi saya ngobrol sama temen kamu, kamu malah asik-asikan ngobrol sama yang lain!” wanita itu seketika emosi.
              Eeehh, kaga ada petir kaga ada angin, sewot ae tiba-tiba, gumamku dalam hati.
               “Oke, Bu, saya minta maaf kalo ngga ngedengerin dan sebagainya, tapi Ibu bisa jelaskan maksud kedatangan Ibu mencari saya?” aku mencoba tenang kembali.
               “ Jadi kamu ya, saya ibunya Baihaqi. Dia ngga mau balik ke pondok gara-gara takut sama kamu katanya,masih dengan emosinya yang terbakar.
               “Emang saya ngapain dia, Bu? Saya aja ngga deket sama dia,aku mencoba membela diri.
               “Udahlah, males Ibu ngomong sama anak-anak kayak kamu, banyak alesannya, kemudian Ia melangkah pergi dan mengabaikan ucapanku.
            Siang itu menjadi sangat membosankan bagiku karena munculnya sebuah perkara yang tak jelas asal-usulnya.
***
            Aku termenung di atap bangunan asrama, ditemani desir angin yang mengiringi matahari yang kian senja. Menatap bentangan langit luas yang dihiasi burung-burung yang terus mengepakkan sayapnya. Mendengar percikan air sungai disahuti kicauan burung-burung di awan. Dan aku masih belum mengerti dengan apa yang sesungguhnya terjadi.
            Masih dalam lamunanku, Naban menghamburkan semuanya.
            “Kenapa lu, Pung?” ucapnya membuatku kaget.
            “Gua masih bingung ama yang tadi, Ban. Padahal gua ngga ngapa-ngapain dia dah.” Keluhku lemas.
            “Udah, Pung, nyantai ae gausah dipikirin. Anggep ae angin lalu,katanya dengan pembawaannya yang tenang.
            “Mungkin, yodahlah,aku mengalah.
            Kami menghabiskan sore itu bersama di atap yang penuh ketenangan dan kenyamanan. Dengan hiasan-hiasan mural di dinding dan tanaman-tanaman belukar yang mengitari pagar-pagar pembatas. Kuhabisi hari ini dengan segala kenangan indah dan sedikit noda luka yang entah dari mana asalnya.
***
            Nampaknya matahari sudah mulai beranjak memunculkan senyumnya,  aku menyegerakan diri untuk menyambut hari ini, namun belum sempat kutapakkan kaki di bumi, datang salah seorang dari bagian keamanan sekolahku.
               “Pung, dipanggil Pak Kyai,” Pak Sholin menjelaskan.
               “Sekarang, Pak?” aku sedikit bingung.
               “Kamu kayak ngga tau saya saja.” Ucapnya datar.
            Pak Sholin, orang yang selalu ingin dimengerti dan diperhatikan. Menemui santrinya jika ada masalah, sangat senang kala melihat santri menderita. Ia tidak segan-segan untuk menerapkan konsep ABRI kepada santri-santrinya.
               “Iya, Pak, iyaa,balasku sekenanya.
            Aku langsung berangkat menuju ruangan beliau. Dengan waktu yang tidak lebih dari lima menit, aku telah sampai. Akupun langsung mengetuk pintu.
               “Assalamu’alaikum…”
               “Wa’alaikumussalam, masuk Pung,jawabnya singkat.
               “Kamu mengerti kalau menghalangi seseorang menuntut ilmu itu apa akibatnya kan? Dan saya yakin kamu mengerti apa yang saya ucapkan. Dan bagaimana pun caranya, saya mau Baihaqi kembali.” Ucapnya singkat, padat, dan sangat jelas serta dengan penuh kewibawaan.
            Kututup pintu ruangan beliau, pintu hijau besar dan menyeramkan. Kuterus mencoba menguatkan langkah untuk menghadapi masalah ini, hingga pada akhirnya aku mendapatkan kesimpulan yang yang sangat bodoh, yaitu melarikan diri dari asrama dan mencari rumah Baihaqi. Itulah misiku yang terlintas seketika.
***
            Lantunan ayat-ayat Al-quran yang istiqamah dibacakan setiap harinya sudah mulai terdengar, ayat-ayat yang membuat hati menjadi lebih tenang walau dalam keadaan bimbang. Yang membuat pikiran jernih walau sedih. Yang membuat diri bergairah walau keadaan lemah. Yang selalu membuat hal positif walau dalam keadaan negatif.
            Namun aku justru masih menatap langit dan terus berpikir bagaimana menjalankan misi yang telah kucanangkan. Aku mencoba meminta solusi dan menyampaikan kepada Naban atas hal yang akan kulakukan.
            “Jadi lu pengen cabut, Pung?” tanya Naban memastikan.
            “Bisa dibilang, Ban,jawabku singkat.
            “Kalo gitu mah gua ikut lah,” Naban tersenyum licik.
            “Serah deh,aku menimpali.
            Kami mulai beraksi kala semua sedang melakukan shalat. Start kami berada di kamar mandi lantai tiga, dimana terdapat jendela yang tak berkaca. Sehingga aku mudah memanjat dan menuju balkon. Namun tidak untuk Naban, di rintangan pertama ini Naban hampir saja menyerah Maklum saja, badan besarnya hampir menutupi seluruh bagian jendela ini. Untung saja ia berhasil walau dengan bantuan beberapa orang.
            Kami berada di balkon, dan mulai meloncat ke atap lantai dua kantin yang tak jauh dari balkon, namun disitu aku dikagetkan akan teriakan Naban, ketika kulihat, ternyata kakinya berada diantara empat besi yang cukup besar, untung saja hanya diantara, sehingga hanya ada sedikit goresan luka yang melecetkan kakinya.
            Kami sampai pada checkpoint pertama. Kami berhasil lolos dari sekolah melalui jalan belakang yang tembus ke perumahan warga. Namun disitu kami sedikit mendapat ancaman besar.
“Anak Al-Hamid, ya?” tanya seseorang yang tak kukenal
“Bukan kok,sahutku spontan.
            Bukan salah lagi maksudnya, lanjutku dalam hati.
            Warga sangat senang jika bisa menangkap santri Al-Hamid karena akan diberikan imbalan yang cukup menggiurkan. Selalu bertanya kepada setiap anak-anak yang keluar pada waktu tertentu. Hal yang sangat menyebalkan adalah hal itu membuat jantung deg-degan tak karuan. Namun untungnya semua itu dapat terlewati dan hingga akhirnya sampai di tujuan kami
***
            Matahari membangunkanku kali ini, nampaknya hari sudah sangat siang. Semburat kilaunya tak tertahan. Dan benar saja, jam di dinding menunjukkan pukul 08.30. Ku lihat sekeliling dan ternyata Naban masih tertidur pulas. Dan aku pun kembali merebahkan tubuhku dan memikirkan misi selanjutnya
Aku terpaksa meninggalkan sekolah hari ini dan menempatkan diri di rumah Alfa untuk persembunyian kami. Dalam taraf kepanikan maksimal, rumahnya adalah persembunyian terbaik karena lokasinya yang berada di kawasan komplek perumahan yang akan menyusahkan tiap pengunjung dan letaknya tak jauh dari sekolahku.
***
“Gimana, Fa? Gua dicariin, ga?” tanyaku sesaat setelah Alfa pulang sekolah.
            “Udah pada tau semua, parah dah pokoknya.” jawab Alfa lesu.
            Aku  mematung memikirkan apa yang akan selanjutnya terjadi. Setelah aku berbincang banyak dengan Alfa dan beberapa temanku yang lain, akhirnya kami memutuskan untuk tetap berada di persembunyian selama beberapa saat. Namun tak lama setelah keputusan itu dihasilkan, datang sebuah berita yang mengguncang jiwa.
               “Pung, Januar ama yang laen udah di asrama putri, mending lu ngaku aja gih. Lu tau ngga noh ortu lu udah ada disini nungguin lu. Naban juga, ibunya udah pingsan empat kali dari tadi pagi. Udah buruan lu balik ke pondok,terang Zaza sahabatku.
            Ban, gimana nih?” tanyaku mulai panik.
            Gimana ya, Pung?” Naban balik bertanya.
            “Orang ditanya, malah nanya balik,balasku sedikit kesal.
            Aku masih menunggu kepastian-kepastian lain yang akan dating. Mungkin itu semua bisa membawa angin segar untuk mentalku yang terpompa habis-habisan. Sambil menunggu kepastian itu datang, kami justru mencoba menghibur diri sejenak menikmati alam yang menenangkan jiwa dan raga. Namun karenanya, justru mimpi buruk itu tiba.
            “Fa, Ban, Bit, itu bukannya Pak Sholin ya?” aku tergugup.
            Pak sholin dan ajudannya sudah berdiri tepat di depan rumah Alfa. Dan pada akhirnya…
***
            “Eh Pung, ngelamun ae lu,” Ojan datang membuyarkan semua lamunanku.
            “Ngelamun ae lu, mikirin siapa?” lanjut ia bertanya.
            “Kepo bat dah,sewotku ketus.
            “Yeee, serah dah. Yodah makan yuk,balas Ojan.
            “Ayo dah,” Jawabku singkat.
            Pada akhirnya semua kehidupanku saat ini masih belum bisa menutupi semua kenangan yang dulu pernah terjadi. Semua yang telah ku rangkai bersama teman-teman lama masih terus terngiang dalam pikiran. Walau indahnya mimpiku yang kugapai kini, dan lautan kebahagiaan di depan mataku, namun kuterus merasa sendiri bersama rindu yang terus menghantui. Rupanya hatiku tertiggal disana, terpisah pulau yang berbeda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar