Cita-cita Amir
"Happy people is not a great man in every way, but one that can find
simple things in life and give thanks diligent"
Minggu pagi itu sejuk dan hangat.
Terasa nyaman dan damai bak air jernih mengalir dari mata air pegungungan. Angin
berhembus menerpa batang-batang padi yang kian menguning. Sang Raja Hari
malu-malu sembunyi di balik pegunungan. Tetesan air embun berjatuhan ke tanah.
Berang-berang dengan asyik berenang saling mengejar di kali. Secangkir kopi
panas yang menguap-uap dan gorengan tahu yang sudah siap untuk disantap.
Alangkah nikmatnya pesona pagi itu.
Di
medan peperangan, para pejuang bersenjata cangkul bersiap diri untuk menggarap
targetnya. Terik matahari yang menyengat kulit tak jadi hambatan. Tetesan
keringat berjagung-jagung yang mengucur deras menjadi saksi perjuangan. Tak jarang
tangan dan kaki mereka meninggalkan goresan-goresan luka. Semua itu demi sebuah
kemenangan untuk menghidupi seluruh kehidupan. Mereka tak sendirian, manakala
pasangan hidup para pejuang selalu membawa amunisi perbekalan untuk mengisi
energi para pejuang agar kekuatan tetap terjaga.
Merekalah
sang petani, para pejuang kemakmuran dengan hasil panennya untuk umat manusia.
Di desa, petani adalah profesi yang sudah mendarah daging bagi para penduduknya.
Tak banyak dari mereka yang memiliki profesi selain petani. Penduduk desa paham
bahwa meskipun dengan penghasilan tak seberapa mereka tetap memilih menjadi
petani karena mereka tak punya pilihan lain. Di samping dengan pendidikan
rendah, mereka memiliki pemikiran apabila kebanyakan dari mereka bekerja di kota, lantas siapa yang
menjadi petani. Mereka sadar pula bahwa profesi petani merupakan profesi mulia
karena dengan hasil panennya itu untuk menghidupi kita semua.
Anak-anak
petani pun sedari kecil sudah memilki impian tuk menjadi petani kelak ketika
beranjak dewasa. Mereka memilih bermain di sawah ketimbang belajar di rumah.
Sawah merupakan tempat bermain yang asyik bagi mereka karena semua anak bermain
di sana. Bukanlah Amir kalau ia tidak selalu bermain di sawah pada minggu pagi.
Pastilah Amir kalau bekal sarapan pagi ayahnya selalu habis olehnya. Sering
kali ayahnya marah gara-gara itu. Namun hal itu tak jadi apa karena dengan
ayahnya marah, bukti bahwa ayahnya menyayanginya.
Di
usianya yang beranjak masa pubertas, Amir sudah ahli bermain sabit. Pak Bejo
kerap dibuat pusing olehnya, batang-batang tebu milik Pak Bejo yang sudah siap
panen sedikit demi sedikit berkurang. Keahlian menggunakan sabit memang jarang
dimiliki remaja-remaja pada umumnya. Keahlian Amir ibarat pelaku mengeksekusi
korban dengan tenang dan bersih tanpa meninggalkan bukti di tempat kejadian
perkara. Ketika dahaga mengeringkan tenggorokan, air tebulah yang akan
membasahinya. Lekas, rasa haus itu hilang.
Sasaran
targetnya adalah tanaman tebu milik Pak Bejo. Tindakan pengambilan tebu-tebu
itu dilakukan oleh beberapa komplotan yang diketuai oleh Amir. Komplotan itu
dibagi menjadi empat regu menurut arah mata angin. Utara, timur, selatan dan
barat. Setiap regunya berjumlah dua orang. Orang pertama membawa sabit dan
orang kedua membawa tali untuk mengikatnya. Waktu pelaksanakan dilakukan ketika
terik matahari di atas kepala. Karena waktu itulah para petani sedikit
berkurang jumlahnya di sawah. Pada Minggu siang itu, Amir akan melakukan
operasi. Hari itu terasa panas yang tak seperti biasanya, panas yang membakar.
Empat regu bersiap diri di pos-pos yang sudah direncanakan. Segera setelah itu
Amir mengambil posisi aba-aba, pertanda
operasi akan segera dimulai.
Pak
Bejo merasa gelisah, perasaan itu muncul karena ia terbangun oleh mimpi buruk,
bahwa tahun ini ia akan gagal panen. Seketika itu, Pak Bejo bergegas ke sawah
untuk melihat tebu-tebunya. Target Amir kali ini adalah satu lusin tiap
regunya, karena mengingat itu untuk persediaan di hari-hari berikutnya. Jarak
sawah Pak Bejo lima ratus meter dari rumah. Meskipun dengan berjalan kaki, itu
tidak memakan waktu yang lama.
“Amir, ayo cepat kembali ke markas,
perasaanku tidak enak,” khawatir Dodi, teman samping rumah Amir dan teman
sedari kecil.
“Sebentar lagi, aku masih haus,” mulutnya penuh dengan tebu.
“Iya aku juga, tapi kita bisa
memakannya di markas kan,” bujuk Dodi.
ketika langkah derap kaki Pak Bejo
yang sudah biasa terdengar mendekat, membuat regu utara, timur dan barat
bergegas meninggalkan lokasi. Namun Amir yang ada di regu Selatan masih enaknya
melepaskan dahaga.
“Waduh, apa aku bilang, tebu bagian
sini berkurang. Duh gusti siapa pelakunya? Apa aku jadi gagal panen
tahun ini?” ucap Pak Bejo sedih.
Pak Bejo mencoba berkeliling melihat
sisi lain dari sawah.
“Amir, itu suara langkah kaki Pak
Bejo, ayo pulang!” ajak Dodi.
“Ah, itu paling suara langkah regu
lain yang mau kemari, kan tempat lokasi berkumpul ada di posisi selatan,” sahut
Amir.
“Hei, siapa itu? Apa yang kalian
lakukan? Cepat kemari!” teriak Pak Bejo.
“Waduh, tuh kan apa aku bilang,”
Dodi mulai tegang.
“Kaburrrrr!” teriak Amir.
“Oh, Amir. Hei! Kesini kau! Aku
laporkan kau ke ayahmu!” Pak Bejo kesal.
Amir
dan komplotannya berhasil meloloskan diri. Dengan lincahnya mereka berlari
menuju markas, yang tak lain adalah pohon belimbing yang berjarak sekitar tiga puluh langkah dari
rumah Amir. Bagi mereka pohon belimbing adalah markas yang tepat bagi mereka,
selain nyaman dan teduh, pohon itu berbuah
belimbing yang manis tiada duanya. Pohon itu, tempat peresmian komplotan Laskar
Pejuang yang diketuai oleh Amir. Komplotan itu berasaskan kekeluargaan dan
menjunjung tinggi rasa persaudaraan. Tiga regu yang dari awal sudah
meninggalkan lokasi sedang menunggu regu terakhir, yaitu regu selatan. Tak lama
kemudian, regu selatan datang. Dengan nafas ngos-ngosan mereka membawa
tebu-tebu itu. Berkas senyum lebar nampak dari wajah anggota-anggota Laskar
Pejuang. Misi berhasil. Mereka kumpulkan
hasil jarahan mereka di dalam garis lingkaran besar yang tergambar di
tanah. Lima puluh batang tebu. Hasil yang luar biasa. Para pasukan elit dapat
melaksanakan misi dengan baik. Batang tebu pun dibagi rata. Setelah itu mereka
mulai menikmati batang tebu terbaik di kampung Sukamaju. Lepas ketawa mereka
mendengarkan cerita Amir yang tertangkap basah oleh Pak Bejo. Dodi yang sempat
khawatir akhirnya sudah tenang dengan berkumpulnya kembali di markas. Namun,
tiba-tiba suara yang tak asing terdengar oleh mereka memanggil-manggil nama
Amir. Ya, itu adalah Pak Sofyan, Ayah Amir yang super galak datang
dengan memasang muka merah menyala. Para anggota sudah hafal dengan kejadian
seperti ini. Mungkin terulang hampir puluhan kali. Para anggota satu demi satu
menepuk pundak Amir dan mulai meninggalkan markas pohon belimbing. Amir yang
biasanya cengengesan ketika Ayahnya marah, namun kini ia menundukkan
muka. Raut muka Ayahnya menujukkan sesuatu yang berbeda, ya itu marah besar.
Dengan langkah lemas, Amir menghampiri Ayahnya.
Tangan-tangan
itu begitu merah dan membekas, kayu rotan sepanjang satu meter terasa begitu
sakit ketika dihempaskan ke tubuh Amir. Meskipun membeli ayam saja susah bukan
berarti harus mencuri milik orang lain. Di bawah lampu dinding, sosok tinggi
berbadan tegap itu menatap Amir. Sang Ayah dengan kedua alis matanya bertemu, tampak
kesal dan marah. Amir pun hanya bisa pasrah. Beberapa menit yang lalu ada Pak
Bejo berkunjung ke rumah, mengadu perbuatan Amir dan komplotannya. Bukan
masalah jumlahnya. Namun akhlaknya yang tidak lurus. Apa salahnya meminta izin.
Lagi pula Pak Sofyan dan Pak Bejo sudah kenal akrab dan menjadi petani sejak
Amir masih kecil.
“Tidak merasa bersalah, hmm?”
lantang dan keras Ayah Amir bertanya.
“Ya, Ayah,” jawab lirih Amir.
“Apa hmm, Ayah tidak mendengar?”
sentak Ayah.
Butir demi butir, air mata bening
menetes. Kepala menunduk, Amir sangat ketakutan.
“Jangan diam saja, Ayah tidak
mendidik seorang pencuri!” sentak lagi sang Ayah.
Air mata pun semakin deras mengalir.
“Huhuhuhuhu.....” Amir pun menangis
dengan kencang.
“Ada apa ini?” tiba-tiba Ibu masuk
ke ruang tamu. “Ya Allah, Nak, kenapa kamu ini, kenapa Ayahmu sampai marah
lagi?” tanya pelan Ibu.
“Amir pingin main-main aja,
Bu,” jawab Amir.
“Ya Allah, mencuri nggak boleh, Nak,
itu perbuatan dosa,” tegas Ibu.
“Ya, Ibu. Amir menyesal. Amir
berjanji tidak akan mengulanginya lagi,” Amir menyesali perbuatannya.
“Amir, kamu anak Ayah yang pertama,
jadilah contoh yang baik,” lirih Ayah.
Sang Ayah lekas pergi menuju kamar
tidur. Kondisi Ayah Amir kian parah. Banyak bungkus obat, pil, dan botol sirup
dikonsumsi mengingat penyakit komplikasi telah menjadi akut. Kondisi ekonomi
keluarga kian mencekik. Terombang-ambing mencari tambahan uang hanya untuk
makan dan sekolah Amir. Jadi kuli, penjual, dan jasa ojek Ayah Amir jalani
hanya untuk Amir kelak dapat melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi dan
menjadi orang sukses di masa depan.
Esoknya,
hari senin, hari pertama dalam siklus hari merupakan hari yang berat bagi Amir.
Telat untuk mengikuti upacara hari senin adalah kesalahan fatal yang dilakukan
oleh murid. Betapa menyeramkan Pak Rudi, satpam penjaga pintu gerbang. Berkumis
lebat, berbadan tegap dan kulit hitam kecoklatan. Pandangannya yang tak pernah
kabur seperti CCTV 24 jam. Sungguh mengerikan. Kalau telat, lebih baik
mengibarkan bendera putih, pasrah, dan menyerah. Banyak siswa yang lemas
dibuatnya. Hukuman telat upacara adalah thawaf lapangan sebanyak sepuluh
kali bagi laki-laki dan lima kali bagi perempuan. Berkat Amir yang sering
telat, ia sudah menjadi atlet marathon padahal sebelumnya ia bukan atlet.
Ketika satpam lagi kesal, hukuman lari 25 lap adalah perkara biasa bagi
Amir. Namun berbeda dengan hari seni kali ini. Ia tampak lebih gesit dan
cekatan. Bangun lebih awal dan mempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolah.
Jarak antara rumah dan sekolah sekitar sebelas kilometer. Dengan sepeda federal
kesukaannya ia tancap sekuat-kuatnya meluncur menuju sekolah. Sebelumnya ia
sudah sarapan pagi dan berpamitan dengan orang tua. Tadi malam adalah malam
yang bermakna bagi Amir, bagaimana ia sadar bahwa ia adalah anak pertama yang
haarus menjadi contoh yang baik.
Terngiang-ngiang
di kepala Amir pesan Ayahnya, menambah semangat Amir sampai bulu rambutnya ikut
berdiri. Untunglah Amir tidak telat, Pak Rudi terheran-heran. Lalu Amir menyapa
hangat Pak Rudi, meskipun Pak Rudi masih bengong. Amir punya tempat parkir
favorit sendiri. Baris keenam, kolom kelima. Posisi itu di bawah pohon mangga
yang tinggi dan lebat.
Lorong-lorong
kelas masih sepi, pukul 05.45 memang terlalu pagi buat Amir. Kelas enam berada
di Gedung B lantai dua. Di ujung lorong, ia dapati sampah berserakan. Ia ambil
sapu dan membersihkannya. Selesai membersihkan sampah, ia memasuki kelas.
Sedang membaca buku, gadis berkuncir di bangku barisan belakang.
“Ana,
tumben kamu pagi sekali sudah datang?” heran Amir.
“Oh
Amir, kamu sering telat, kan?” timpal Ana
“Ya.
Terus?” jawab Amir.
“Ya
udah,” harap Amir mengerti maksud Ana.
“Maksudnya?”
Amir tak mengerti.
“Ya
kamu kan sering telat, bagaimana kamu tahu kalau aku ternyata selalu datang
tiap pagi,” sabar Ana menjelaskan.
“Oh,
ya deh. Hehehe,” Amir tersenyum malu.
Amir
mulai membaca dan belajar. Matematika, monster dengan angka-angka yang
menakutkan membuatnya pusing tak karuan. Begitu rumit dan menyusahkan. Sesekali
Amir bertanya ke Ana. Ana anak nomer satu di kelas. Nilai sempurna selalu dia
dapatkan. Tak heran, dia anak yang rajin dan selalu membantu temannya yang
membutuhkan.
Beberapa
menit berlalu, seorang anak laki-laki, tinggi, putih berjalan dengan angkuh. Ia
lempar tas dan tanpa menyapa kami pergi ke luar kelas. Roy, anak orang kaya di
desa kami. Dia selalu mendapatkan apa yang dia mau. Celakanya, dia sekelas
dengan Amir. Bagai minyak dan air, kucing dan anjing. Tak pernah menyatu. Amir
tak menghiraukan Roy, tetap fokus dengan monster angka.
Bersambung...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar