Jumat, 08 April 2016

Cerpen_Cita-cita Amir

Cita-cita Amir

"Happy people is not a great man in every way, but one that can find simple things in life and give thanks diligent"
Minggu pagi itu sejuk dan hangat. Terasa nyaman dan damai bak air jernih mengalir dari mata air pegungungan. Angin berhembus menerpa batang-batang padi yang kian menguning. Sang Raja Hari malu-malu sembunyi di balik pegunungan. Tetesan air embun berjatuhan ke tanah. Berang-berang dengan asyik berenang saling mengejar di kali. Secangkir kopi panas yang menguap-uap dan gorengan tahu yang sudah siap untuk disantap. Alangkah nikmatnya pesona pagi itu.


            Di medan peperangan, para pejuang bersenjata cangkul bersiap diri untuk menggarap targetnya. Terik matahari yang menyengat kulit tak jadi hambatan. Tetesan keringat berjagung-jagung yang mengucur deras menjadi saksi perjuangan. Tak jarang tangan dan kaki mereka meninggalkan goresan-goresan luka. Semua itu demi sebuah kemenangan untuk menghidupi seluruh kehidupan. Mereka tak sendirian, manakala pasangan hidup para pejuang selalu membawa amunisi perbekalan untuk mengisi energi para pejuang agar kekuatan tetap terjaga.
            Merekalah sang petani, para pejuang kemakmuran dengan hasil panennya untuk umat manusia. Di desa, petani adalah profesi yang sudah mendarah daging bagi para penduduknya. Tak banyak dari mereka yang memiliki profesi selain petani. Penduduk desa paham bahwa meskipun dengan penghasilan tak seberapa mereka tetap memilih menjadi petani karena mereka tak punya pilihan lain. Di samping dengan pendidikan rendah, mereka memiliki pemikiran apabila kebanyakan dari  mereka bekerja di kota, lantas siapa yang menjadi petani. Mereka sadar pula bahwa profesi petani merupakan profesi mulia karena dengan hasil panennya itu untuk menghidupi kita semua.
            Anak-anak petani pun sedari kecil sudah memilki impian tuk menjadi petani kelak ketika beranjak dewasa. Mereka memilih bermain di sawah ketimbang belajar di rumah. Sawah merupakan tempat bermain yang asyik bagi mereka karena semua anak bermain di sana. Bukanlah Amir kalau ia tidak selalu bermain di sawah pada minggu pagi. Pastilah Amir kalau bekal sarapan pagi ayahnya selalu habis olehnya. Sering kali ayahnya marah gara-gara itu. Namun hal itu tak jadi apa karena dengan ayahnya marah, bukti bahwa ayahnya menyayanginya.
            Di usianya yang beranjak masa pubertas, Amir sudah ahli bermain sabit. Pak Bejo kerap dibuat pusing olehnya, batang-batang tebu milik Pak Bejo yang sudah siap panen sedikit demi sedikit berkurang. Keahlian menggunakan sabit memang jarang dimiliki remaja-remaja pada umumnya. Keahlian Amir ibarat pelaku mengeksekusi korban dengan tenang dan bersih tanpa meninggalkan bukti di tempat kejadian perkara. Ketika dahaga mengeringkan tenggorokan, air tebulah yang akan membasahinya. Lekas, rasa haus itu hilang.
            Sasaran targetnya adalah tanaman tebu milik Pak Bejo. Tindakan pengambilan tebu-tebu itu dilakukan oleh beberapa komplotan yang diketuai oleh Amir. Komplotan itu dibagi menjadi empat regu menurut arah mata angin. Utara, timur, selatan dan barat. Setiap regunya berjumlah dua orang. Orang pertama membawa sabit dan orang kedua membawa tali untuk mengikatnya. Waktu pelaksanakan dilakukan ketika terik matahari di atas kepala. Karena waktu itulah para petani sedikit berkurang jumlahnya di sawah. Pada Minggu siang itu, Amir akan melakukan operasi. Hari itu terasa panas yang tak seperti biasanya, panas yang membakar. Empat regu bersiap diri di pos-pos yang sudah direncanakan. Segera setelah itu Amir  mengambil posisi aba-aba, pertanda operasi akan segera dimulai.
            Pak Bejo merasa gelisah, perasaan itu muncul karena ia terbangun oleh mimpi buruk, bahwa tahun ini ia akan gagal panen. Seketika itu, Pak Bejo bergegas ke sawah untuk melihat tebu-tebunya. Target Amir kali ini adalah satu lusin tiap regunya, karena mengingat itu untuk persediaan di hari-hari berikutnya. Jarak sawah Pak Bejo lima ratus meter dari rumah. Meskipun dengan berjalan kaki, itu tidak memakan waktu yang lama.
“Amir, ayo cepat kembali ke markas, perasaanku tidak enak,” khawatir Dodi, teman samping rumah Amir dan teman sedari kecil.
“Sebentar lagi, aku masih haus,”  mulutnya penuh dengan tebu.
“Iya aku juga, tapi kita bisa memakannya di markas kan,” bujuk Dodi.
ketika langkah derap kaki Pak Bejo yang sudah biasa terdengar mendekat, membuat regu utara, timur dan barat bergegas meninggalkan lokasi. Namun Amir yang ada di regu Selatan masih enaknya melepaskan dahaga.
“Waduh, apa aku bilang, tebu bagian sini berkurang. Duh gusti siapa pelakunya? Apa aku jadi gagal panen tahun ini?” ucap Pak Bejo sedih.
Pak Bejo mencoba berkeliling melihat sisi lain dari sawah.
“Amir, itu suara langkah kaki Pak Bejo, ayo pulang!” ajak Dodi.
“Ah, itu paling suara langkah regu lain yang mau kemari, kan tempat lokasi berkumpul ada di posisi selatan,” sahut Amir.
“Hei, siapa itu? Apa yang kalian lakukan? Cepat kemari!” teriak Pak Bejo.
“Waduh, tuh kan apa aku bilang,” Dodi mulai tegang.
“Kaburrrrr!” teriak Amir.
“Oh, Amir. Hei! Kesini kau! Aku laporkan kau ke ayahmu!” Pak Bejo kesal.
            Amir dan komplotannya berhasil meloloskan diri. Dengan lincahnya mereka berlari menuju markas, yang tak lain adalah pohon belimbing  yang berjarak sekitar tiga puluh langkah dari rumah Amir. Bagi mereka pohon belimbing adalah markas yang tepat bagi mereka, selain nyaman dan  teduh, pohon itu berbuah belimbing yang manis tiada duanya. Pohon itu, tempat peresmian komplotan Laskar Pejuang yang diketuai oleh Amir. Komplotan itu berasaskan kekeluargaan dan menjunjung tinggi rasa persaudaraan. Tiga regu yang dari awal sudah meninggalkan lokasi sedang menunggu regu terakhir, yaitu regu selatan. Tak lama kemudian, regu selatan datang. Dengan nafas ngos-ngosan mereka membawa tebu-tebu itu. Berkas senyum lebar nampak dari wajah anggota-anggota Laskar Pejuang. Misi berhasil. Mereka kumpulkan  hasil jarahan mereka di dalam garis lingkaran besar yang tergambar di tanah. Lima puluh batang tebu. Hasil yang luar biasa. Para pasukan elit dapat melaksanakan misi dengan baik. Batang tebu pun dibagi rata. Setelah itu mereka mulai menikmati batang tebu terbaik di kampung Sukamaju. Lepas ketawa mereka mendengarkan cerita Amir yang tertangkap basah oleh Pak Bejo. Dodi yang sempat khawatir akhirnya sudah tenang dengan berkumpulnya kembali di markas. Namun, tiba-tiba suara yang tak asing terdengar oleh mereka memanggil-manggil nama Amir. Ya, itu adalah Pak Sofyan, Ayah Amir yang super galak datang dengan memasang muka merah menyala. Para anggota sudah hafal dengan kejadian seperti ini. Mungkin terulang hampir puluhan kali. Para anggota satu demi satu menepuk pundak Amir dan mulai meninggalkan markas pohon belimbing. Amir yang biasanya cengengesan ketika Ayahnya marah, namun kini ia menundukkan muka. Raut muka Ayahnya menujukkan sesuatu yang berbeda, ya itu marah besar. Dengan langkah lemas, Amir menghampiri Ayahnya.
            Tangan-tangan itu begitu merah dan membekas, kayu rotan sepanjang satu meter terasa begitu sakit ketika dihempaskan ke tubuh Amir. Meskipun membeli ayam saja susah bukan berarti harus mencuri milik orang lain. Di bawah lampu dinding, sosok tinggi berbadan tegap itu menatap Amir. Sang Ayah dengan kedua alis matanya bertemu, tampak kesal dan marah. Amir pun hanya bisa pasrah. Beberapa menit yang lalu ada Pak Bejo berkunjung ke rumah, mengadu perbuatan Amir dan komplotannya. Bukan masalah jumlahnya. Namun akhlaknya yang tidak lurus. Apa salahnya meminta izin. Lagi pula Pak Sofyan dan Pak Bejo sudah kenal akrab dan menjadi petani sejak Amir masih kecil. 
“Tidak merasa bersalah, hmm?” lantang dan keras Ayah Amir bertanya.
“Ya, Ayah,” jawab lirih Amir.
“Apa hmm, Ayah tidak mendengar?” sentak Ayah.
Butir demi butir, air mata bening menetes. Kepala menunduk, Amir sangat ketakutan.
“Jangan diam saja, Ayah tidak mendidik seorang pencuri!” sentak lagi sang Ayah.
Air mata pun semakin deras mengalir.
“Huhuhuhuhu.....” Amir pun menangis dengan kencang.
“Ada apa ini?” tiba-tiba Ibu masuk ke ruang tamu. “Ya Allah, Nak, kenapa kamu ini, kenapa Ayahmu sampai marah lagi?” tanya pelan Ibu.
“Amir pingin main-main aja, Bu,” jawab Amir.
“Ya Allah, mencuri nggak boleh, Nak, itu perbuatan dosa,” tegas Ibu.
“Ya, Ibu. Amir menyesal. Amir berjanji tidak akan mengulanginya lagi,” Amir menyesali perbuatannya.
“Amir, kamu anak Ayah yang pertama, jadilah contoh yang baik,” lirih Ayah.
Sang Ayah lekas pergi menuju kamar tidur. Kondisi Ayah Amir kian parah. Banyak bungkus obat, pil, dan botol sirup dikonsumsi mengingat penyakit komplikasi telah menjadi akut. Kondisi ekonomi keluarga kian mencekik. Terombang-ambing mencari tambahan uang hanya untuk makan dan sekolah Amir. Jadi kuli, penjual, dan jasa ojek Ayah Amir jalani hanya untuk Amir kelak dapat melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi dan menjadi orang sukses di masa depan.
            Esoknya, hari senin, hari pertama dalam siklus hari merupakan hari yang berat bagi Amir. Telat untuk mengikuti upacara hari senin adalah kesalahan fatal yang dilakukan oleh murid. Betapa menyeramkan Pak Rudi, satpam penjaga pintu gerbang. Berkumis lebat, berbadan tegap dan kulit hitam kecoklatan. Pandangannya yang tak pernah kabur seperti CCTV 24 jam. Sungguh mengerikan. Kalau telat, lebih baik mengibarkan bendera putih, pasrah, dan menyerah. Banyak siswa yang lemas dibuatnya. Hukuman telat upacara adalah thawaf lapangan sebanyak sepuluh kali bagi laki-laki dan lima kali bagi perempuan. Berkat Amir yang sering telat, ia sudah menjadi atlet marathon padahal sebelumnya ia bukan atlet. Ketika satpam lagi kesal, hukuman lari 25 lap adalah perkara biasa bagi Amir. Namun berbeda dengan hari seni kali ini. Ia tampak lebih gesit dan cekatan. Bangun lebih awal dan mempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolah. Jarak antara rumah dan sekolah sekitar sebelas kilometer. Dengan sepeda federal kesukaannya ia tancap sekuat-kuatnya meluncur menuju sekolah. Sebelumnya ia sudah sarapan pagi dan berpamitan dengan orang tua. Tadi malam adalah malam yang bermakna bagi Amir, bagaimana ia sadar bahwa ia adalah anak pertama yang haarus menjadi contoh yang baik.
            Terngiang-ngiang di kepala Amir pesan Ayahnya, menambah semangat Amir sampai bulu rambutnya ikut berdiri. Untunglah Amir tidak telat, Pak Rudi terheran-heran. Lalu Amir menyapa hangat Pak Rudi, meskipun Pak Rudi masih bengong. Amir punya tempat parkir favorit sendiri. Baris keenam, kolom kelima. Posisi itu di bawah pohon mangga yang tinggi dan lebat.
            Lorong-lorong kelas masih sepi, pukul 05.45 memang terlalu pagi buat Amir. Kelas enam berada di Gedung B lantai dua. Di ujung lorong, ia dapati sampah berserakan. Ia ambil sapu dan membersihkannya. Selesai membersihkan sampah, ia memasuki kelas. Sedang membaca buku, gadis berkuncir di bangku barisan belakang.
            “Ana, tumben kamu pagi sekali sudah datang?” heran Amir.
            “Oh Amir, kamu sering telat, kan?” timpal Ana
            “Ya. Terus?” jawab Amir.
            “Ya udah,” harap Amir mengerti maksud Ana.
            “Maksudnya?” Amir tak mengerti.
            “Ya kamu kan sering telat, bagaimana kamu tahu kalau aku ternyata selalu datang tiap          pagi,” sabar Ana menjelaskan.
            “Oh, ya deh. Hehehe,” Amir tersenyum malu.
            Amir mulai membaca dan belajar. Matematika, monster dengan angka-angka yang menakutkan membuatnya pusing tak karuan. Begitu rumit dan menyusahkan. Sesekali Amir bertanya ke Ana. Ana anak nomer satu di kelas. Nilai sempurna selalu dia dapatkan. Tak heran, dia anak yang rajin dan selalu membantu temannya yang membutuhkan.
            Beberapa menit berlalu, seorang anak laki-laki, tinggi, putih berjalan dengan angkuh. Ia lempar tas dan tanpa menyapa kami pergi ke luar kelas. Roy, anak orang kaya di desa kami. Dia selalu mendapatkan apa yang dia mau. Celakanya, dia sekelas dengan Amir. Bagai minyak dan air, kucing dan anjing. Tak pernah menyatu. Amir tak menghiraukan Roy, tetap fokus dengan monster angka.
Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar