Selasa, 05 April 2016

Cerpen_Sebuah Keyakinan

Sebuah Keyakinan


Oleh Durrotunnisa Fathia Rahma

“If you think you’re perfect already, then you never will be.”

Hari-hariku mengalir begitu saja. Tak ada yang istimewa. Saat ini aku tengah menyantap kudapan yang telah mama siapkan bersama ayah dan kakakku tentunya. Kupandangi dalam diam ayahku yang tengah sibuk mengunyah dengan pandangan tetap terfokus pada lembaran koran di hadapannya.
“Yah, makan dulu. Nanti telat loh.”, seru mama dari dapur. Aku sudah terbiasa dengan pemandangan ini. Kebiasaan ayah makan sambil membaca koran sudah tak bisa dihilangkan. Kulihat ayahku hanya menggumam pelan untuk membuat mama diam. Kulirik jam dinding di depanku. Baiklah, masih ada waktu, batinku. Lalu kupercepat makanku.
“Ayah baca apa sih? Kok kayaknya seru banget? Adek mau ikutan, boleh?”, ujarku sambil menghampirinya.
“Oh, sini, sini.”, balasnya menyuruhku duduk di kursi di samping kanannya. “Ayah baca berita olahraga.” lanjutnya. Kuikuti arah pandang matanya.
“Sepakbola itu cuma buat anak laki-laki ya, Yah?”
Nggak ah. Kata siapa?”
“Soalnya temen-temen Adek yang perempuan nggak ada yang bahas-bahas sepakbola di kelas.”
“Haha...nggak kok. Mungkin gara-gara temen perempuan Adek nggak ada yang tahu sepakbola. Padahal itu seru banget loh...”
            “Beneran, Yah? Kasih tahu Adek dong, Yah? Mungkin Adek bakal tertarik.”
Ayah mengacungkan ibu jari kanannya kepadaku. “Serius nih? Tapi kalo nanti Adek beneran suka, jangan sering begadang buat nonton, ya. Janji?” bisiknya padaku. Kuanggukkan kepalaku tanda setuju. Kulihat kakakku memberikan isyarat supaya aku memberitahu kesepakatan antara aku dan ayah. Aku pura-pura tak peduli.
“Apaan sih, De?” serbunya ketika aku melangkah keluar, bersiap menuju mobil ayah.
“Kakak kepo, deh.” aku berlari menghindar dari kakakku yang sudah bersiap mencubit kedua pipiku. Kakakku ini, aku kan bukan anak kecil lagi.
------


Hari minggu pagi, ayah mengajakku pergi ke suatu tempat yang kuketahui merupakan sebuah stadion di kotaku. Sejujurnya ini adalah kali pertama aku menginjakkan kakiku di tempat ini. Hamparan permadani hijau menyambut sepasang mataku seketika tatkala ayah menarikku untuk masuk. Kulihat banyak orang memakai kaos dan celana yang sama berwarna putih tengah menggerak-gerakkan badan ke kanan dan ke kiri di tepi lapangan. Kata ayah, yang merka kenakan itu namanya jersey. Di tepi seberangnya kulihat sekumpulan orang lagi, tapi memakai jersey merah juga melakukan hal serupa. Aku hanya diam mengekor ayahku yang tengah menapaki undakan-undakan yang mengantarkan kami ke kursi para penonton. Ayah berhenti tepat di depan orang-orang dengan jersey putih tadi dan mengajakku duduk. “Yah, kita mau nonton bola?” tebakku. Ayah hanya menggangguk dengan senyum terkembang di wajahnya. Suara riuh penonton memenuhi seluruh penjuru stadion ketika para pemain dari kedua tim berjalan memasuki lapangan. Mereka berjejer rapi dengan para wasit berdiri di antara kedua tim. Terdengar lagu kebangsaan Indonesia Raya dinyanyikan diikuti hampir seluruh penonton yang hadir. Pritt....wasit meniup peluit tanda kickoff pertandingan. Sorak sorai penonton meneriakkan semangat untuk tim kesukaannya. Aku ikut berteriak-teriak di samping ayah yang tetap kalem mengikuti jalannya pertandingan, walau aku tak tahu apa yang keluar dari mulutku ini. Yang aku tahu saat ini, aku merasa begitu bahagia dan sangat menikmati apa yang sedang tersaji di depanku. Luar biasa. Para pemain berlari ke sana kemari mengikuti arah si kulit bundar itu menggelinding. Seorang pemain bernomor punggung 7 yang tak bisa kulihat namanya, tengah berlari di sisi kiri lapangan menuju kotak penalti. Dari arah tengah terlihat salah satu temannya berusaha menghindar dari pemain belakang lawan, berusaha memertahankan bola. Sedetik kemudian, bola sudah diterima pemain bernomor 7 yang seketika itu juga langsung melepaskan tendangan halilintarnya ke arah gawang. Deg...deg...deg...Semua mata tertuju pada bola yang tengah melesat dengan cepat dan akhirnya masuk gawang setelah membentur sisi atas gawang. Terlihat penonton di sisi barat stadion bersorak girang. Sampai babak kedua selesai, papan skor tetap menampilkan skor 1-0 untuk tim dengan jersey putih. Jalan-jalan hari ini merupakan awal mula aku tertarik pada dunia sepakbola. Bukan sebagai pemain tentunya, tapi sebagai penikmat cabang olahraga yang digemari kaum adam di seantero dunia.
----------------
Kini aku memiliki hobi baru ketika berangkat sekolah. Kubuka koran yang diserahkan ayah padaku. Kakakku tak lagi diantar oleh ayah bersamaku, dia lebih memilih mengendarai motor barunya yang dibelikan ayah 2 minggu lalu. Kata-kata yang tercetak terasa begitu asing bagiku, apalagi nama-nama pemain yang kebanyakan berasal dari Eropa. Tak ada satupun nama yang kukenal.  Ayah pernah mengatakan kepadaku bahwa sesuatu itu akan terasa mudah jika kita terbiasa melakukannya. Oleh karenanya, sejak hari itu, aku rajin membaca berita utamanya berita tentang dunia sepakbola. Koran yang aku baca lebih banyak memuat berita sepakbola luar negeri seperti Spanyol, Inggris, Italia dan Jerman. Ada sebuah klub di sebuah kota bernama Madrid di Spanyol yang begitu menarik perhatianku. Ternyata ayah juga menyukainya. Ayah bercerita banyak mengenai sejarah klub itu, prestasi-prestasinya, serta beberapa nama yang menjadi legenda di klub tersebut. Ayah juga menyukai seorang pemain sayap kiri di klub tersebut yang terkenal karena skill yang dimilikiya. Yang membuatku takjub pada ayah adalah ayah menyukainya tidak hanya karena dia punya skills yang bagus, namun ayah memilliki alasan tersendiri mengapa beliau menyukainya.
“Dia itu bukan hanya sekadar pemain dengan kemampuan yang di atas rata-rata. Dia seorang yang sangat menghargai apa itu kerja keras. Adek tahu, skill yang dimilikinya tidak dia dapatkan secara percuma, ada beberapa pemain yang sudah memiliki bakat alami, tapi tidak dengan dia. Melalui kerja keras dan sikap disiplin yang diterapkannya ketika latihan telah menjadikan dia pemain dengan skill yang bagus.” papar ayah pagi itu saat dalam perjalanan menuju sekolahku. “Dia juga tipe orang yang selalu ingin menang, tapi tetap memerhatikan norma. Adek tahu bagaimana awal mula dia tertarik pada sepakbola?” ayahku mengalihkan pandangannya padaku mencari tahu apakah aku berniat menjawabnya. Aku hanya menggelengkan kepala. “Dia itu bukan berasal dari keluarga kaya, Dek. Tapi itu tidak menghalanginya untuk berprestasi. Ayahnya hanyalah seorang pengurus kebun yang memiliki  pekerjaan sampingan sebagai asisten perlengkapan sebuah klub bola di kotanya. Tapi, justru itulah yang membuat dia menjadi penggila sepakbola di usianya yang baru menginjak sepuluh tahun. Hari-harinya dia habiskan untuk sekolah dan bermain bola. Dia akan melakukan segala cara asalkan dia bisa bermain sepakbola..” ayahku menghentikan ceritanya ketika mobil sudah berhenti di depan gerbang sekolahku. Aku mencium tangan ayah sebelum beranjak turun.
“Ayah, besok lanjutin ya.” pintaku.
“Hmm...mau nggak ya? Belajar yang bener, ya.” ayah membukakan pintu mobil untukku.
“Harus mau dong, Yah. Assalamualaikum.”, ucapku seraya turun. Sepertinya aku mulai mengagumi sosok itu dan ayahlah yang membuatku mengaguminya, karena sejak saat itu ayah selalu menceritakan kepadaku tentangnya. Aku berdoa semoga suatu saat aku bisa melihatnya secara langsung ketika memainkan bola di lapangan hijau.
----------
Biasanya aku akan langsung beranjak tidur seusai menyelesaikan tugas sekolah. Tapi, semenjak ayah mengenalkan sepakbola kepadaku, terkadang aku menyempatkan diri menonton pertandingan secara live. Tentunya dengan ditemani ayah. Itu pun hanya beberapa kali saja. Sebagai gantinya, ayah rajin mengunduh siaran pertandingan untuk aku tonton di sore hari selepas pulang dari sekolah. Ayah memang mengizinkanku menyukai sepakbola, tapi ayah tetap memberiku batasan-batasan supaya kesehatan dan belajarku tidak terganggu. Aku berusaha sebisa mungkin mematuhinya, walau terkadang hasrat untuk menonton pertandingan secara live sulit untuk kukendalikan.
Beruntunglah aku, besok adalah hari libur. Jadilah aku di sini. Duduk di samping ayah dengan mata tertuju pada layar televisi. Laga malam ini bisa dibilang laga yang besar karena memertemukan dua klub papan atas yang tengah bersaing menempati posisi pertama. Kata ayah, musim lalu klub favorit kamilah yang berhasil menyandang gelar juara itu. Tapi, lawan kali ini juga sudah beberapa kali mendapatkannya. Klub favorit kami menjadi tuan rumah laga kali ini, di Estadio Santiago Bernabeu namanya. Terlihat di layar televisi, para pendukung memenuhi stadion megah berkapasitas 85.454 orang itu. Sempat terlintas dalam benakku betapa bahagianya aku jika aku bisa berdiri bersama ribuan pendukung di sana Aku dan ayah sudah duduk manis sejak babak pertama dimulai. Dia awal babak pertama, kedua klub saling mencoba menembus pertahanan yang lain. Beberapa kali wasit terlihat mengeluarkan kartu kuning. Atmosfer di stadion malam itu cukup panas. Kusandarkan kepalaku di bahu ayah. Skor kacamata masih tertulis di pojok kiri atas layar hingga menit ke-40 dan bertahan hingga jeda babak pertama.
“Ayah, kapan ya kita bisa nonton langsung di stadion itu?”, aku tak bisa menyembunyikan keinginanku yang kurasa sedikit tak masuk akal. Tapi tidak ada salahnya, kan?
“Hmmm....kalo lihat biaya ke sananya sama tiket sih mahal banget. Tapi, itu bukan berarti nggak mungkin sih. Siapa tahu Allah punya rencana untuk kita bisa sampai di sana.” ayah menjawab dengan nada penuh keyakinan. Ayahku adalah orang yang sangat optimsis akan suatu hal. Ayah selalu mengatakan kepadaku anak-anaknya bahwa kita harus selalu yakin dengan sesuatu yang sedang dan akan kita jalani atau mimpi-mimpi yang kita dambakan. Untuk selalu berhuznuzhan kepada Allah. Karena Allah selalu memerhatikan prasangka para hamba-Nya. Dan kalian tahu apa yang telah Allah limpahkan kepada kami? Hanya satu bulan berselang setelah malam itu, kami bertandang ke markas klub favorit kami. Begini ceritanya. Semua itu berawal dari cerita ayahku kepada teman dekatnya sewaktu SMA perihal keinginanku pergi ke stadion itu yang letaknya di Madrid. Beliau adalah seorang pengusaha sukses yang bergerak di bidang pariwisata. Kebetulan, beliau juga menyukai klub yang sama dengan kami. Kata ayah, dulu mereka juga pernah bermimpi untuk pergi ke sana menonton klub favorit mereka menumbangkan para lawan tanpa melalui penghalang kaca.
“Aku sudah lama tidak berkunjung ke Eropa. Gimana kalau kita ke sana bulan depan? Kebetulan bulan depan ada jadwal di sana” tanya Om Danu, teman ayah ketika ayah baru saja menamatkan ceritanya. Ayahku hanya tertawa, membuat dahi Om Danu yang sudah berkerut semakin berkerut.
“Kau ini. Uang dari mana? Kau tahulah, dengan pekerjaanku saat ini sepertinya aku tidak akan menghabiskan uang hasil jerih payahku untuk hal-hal seperti itu.” timpal ayah.
“Kalo masalah itu, serahkan saja padaku. Kau tak usah khawatir.”, ujarnya.
“Apa maksud kau? Itu tidak sedikit, Dan. Aku tak mau merepotkan kau.”
“Ayolah..Lagi pula siapa yang merasa direpotkan? Kau sudah seperti saudara sendiri bagiku. Malahan dengan adanya seorang teman, itu akan jauh lebih menyenangkan.”. Akhirnya setelah perdebatan yang cukup memakan waktu, ayah setuju menerima ajakan Om Danu.
 “Baiklah kalo kau memaksa. Terimakasih.”
“Aku akan mengajak anak laki-lakiku. Jadi kita akan pergi berempat, bagaimana?”
“Terserah kau saja.”
Sesampainya di rumah, ayah langsung melesat ke sofa di sampingku. Saat itu, aku tengah menonton acara kesukaanku. Ayahku terlihat, begitu bahagia.
“Ayah kenapa? Kok senyum-senyum gitu?”
“Ayah punya kabar gembira buat Adek. Coba tebak! ”
“Mmm...Ayah naik jabatan?”
“Bukan.”
“Ayah mau beli mobil baru?”
Ayah hanya menggeleng-gelengkan kepalanya ketika aku menyebutkan satu per satu hal yang ada dipikiranku.
“Terus apa dong, Yah?”
Nyerah nih ceritanya?”
“Ayah...Apaan sih?”
Ayah menggeser posisi duduknya mendekatiku, membisikkan sesuatu yang tak pernah aku bayangkan akan benar-benar terjadi.
“Ayah serius?”
“Emm...kita berangkat bulan depan ke Madrid, ke Santiago Bernabeu. Jangan lupa sujud syukur kepada Allah ya, Dek. Allah telah mendengarkan doa yang kita ucapkan secara tidak sengaja.”
Kami benar-benar bahagia. Sangat bahagia. Mama yang mendengarnya pun ikut bahagia. Ternyata mama dulu juga pernah menyukai sepakbola, tapi itu terhenti ketika mama masuk pesantren. Mungkin itu salah satu alasan mengapa mama tidak pernah melarangku untuk menjadi penikmat sepakbola. Beruntung aku telah membuat paspor jauh-jauh hari ketika aku terbang ke Australia dalam program pertukaran siswa. Jadi, kami tak terlalu repot akan rencana mendadak ini. Apalagi ada mama yang membantu kami menata barang bawaan kami.
------
Dua hari menjelang keberangkatan ke Madrid.
Aku semakin tidak sabar menanti datangnya hari Kamis, hari ketika kami akan terbang ke Madrid. Aku telah merencanakan beberapa hal yang akan aku lakukan ketika menginjakkan kaki di sana. Tak lupa kuperiksa barang-barang yang akan aku bawa dalam perjalanan kali ini. Dua hari ini saja terasa begitu lama bagiku.
Pesawat akan berangkat sekitar pukul 10.00 pagi. Aku dan ayah yang ditemani mama sudah tiba di bandara sekitar pukul 09.30. Rupanya Om Danu dan anak laki-lakinya sudah mendahului kami. Om Danu menghampiri kami diikuti anak laki-lakinya yang mengekor di belakang.
“Bagaimana, sudah siap untuk terbang ke sana?”, tanyanya sambil mengacak rambutku.
“Pasti, Om.”, jawabku ceria.
Waktu tiga puluh menit itu kami habiskan untuk bertukar cerita tentang apa saja.  Tentang sepakbola, tempat-tempat wisata di Spanyol bahkan sampai cinderamata yang akan kami beli di sana. Kami bergegas menuju gate yang tertera di tiket ketika sebuah suara dari speaker menggema, memberitahu agar para penumpang segera bersiap karena pesawat akan terbang segera. Aku berpamitan kepada mama, begitu pula ayah. Hatiku berdegup kencang ketika kulangkahkan kakiku menuju pesawat. Aku masih belum percaya bahwa aku akan benar-benar bertandang ke markas klub favoritku dan melihat “dia” memainkan bola secara langsung tanpa penghalang. Aku merasa sedang bermimpi. Saking senangnya, aku bahkan tidak terlelap dalam perjalanan yang melelahkan ini. Padahal, biasanya aku akan langsung tertidur ketika memasuki kendaraan, kecuali mobil ayah, dan baru terbangun ketika hampir sampai atau sudah sampai tujuan. Bahkan ayah sampai membacakan dongeng untuk membuatku tertidur seperti waktu aku kecil. Namun, hal itu belum mampu mengalahkan rasa bahagiaku. Aku baru bisa terlelap setelah ayah mengatakan sesuatu yang berhasil memberikan pengaruh yang kuat untukku.
Beberapa jam kemudian...........
Pesawat yang kami mendarat dengan selamat di Bandara Barajas, Madrid. Kami bergegas menuju Apartamento Paseo de la Habana Friendky Rentals, hotel tempat kami menginap yang berjarak sekitar 180 meter dari stadion. Sepanjang perjalanan menuju hotel aku hanya bisa mengira-ira seperti apa rasanya masuk ke stadion itu. Ketika mobil yang kami tumpangi melewati stadion itu, aku tak bisa menyembunyikan kekagumanku. Dari luar saja tampak begitu menarik apalagi bagian dalamnya. Aku semakin tak sabar menunggu datangnya malam tatkala aku bisa memasuki salah satu tempat favoritku, melihat “dia” memainkan si kulit bundar dengan lincahnya di lapangan secara langsung. Ya Allah, terimakasih atas segala karunia yang telah Engkau limpahkan kepada kami.
Malam harinya, kami berempat bergegas menuju stadion seusai makan malam selesai. Kulihat ayah terlihat begitu bahagia, apalagi aku yang tak bisa menghentikan bibir ini untuk senantiasa tersenyum. Aku begitu bahagia malam itu. Bahagia karena mimpiku akan terwujud. Namun saat ini aku menyadari ada sesuatu yang membuatku begitu bahagia dan merasa istimewa. Kenyataan bahwa Allah menyayangiku dan orang-orang di sekitarku. Subhaanallah walhamdulillah walaailaahaillallahu wallahuakbar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar