Sebuah Keyakinan
Oleh Durrotunnisa Fathia Rahma
“If you think you’re perfect
already, then you never will be.”
Hari-hariku mengalir begitu saja.
Tak ada yang istimewa. Saat ini aku tengah menyantap kudapan yang telah mama
siapkan bersama ayah dan kakakku tentunya. Kupandangi dalam diam ayahku yang
tengah sibuk mengunyah dengan pandangan tetap terfokus pada lembaran koran di
hadapannya.
“Yah, makan dulu. Nanti telat
loh.”, seru mama dari dapur. Aku sudah terbiasa dengan pemandangan ini.
Kebiasaan ayah makan sambil membaca koran sudah tak bisa dihilangkan. Kulihat
ayahku hanya menggumam pelan untuk membuat mama diam. Kulirik jam dinding di
depanku. Baiklah, masih ada waktu, batinku. Lalu kupercepat makanku.
“Ayah baca apa sih? Kok kayaknya
seru banget? Adek mau ikutan, boleh?”, ujarku sambil menghampirinya.
“Oh, sini, sini.”, balasnya
menyuruhku duduk di kursi di samping kanannya. “Ayah baca berita olahraga.”
lanjutnya. Kuikuti arah pandang matanya.
“Sepakbola itu cuma buat anak
laki-laki ya, Yah?”
“Nggak ah. Kata siapa?”
“Soalnya temen-temen Adek yang
perempuan nggak
ada yang bahas-bahas sepakbola di kelas.”
“Haha...nggak kok. Mungkin
gara-gara temen perempuan Adek nggak ada yang tahu sepakbola. Padahal
itu seru banget loh...”
“Beneran, Yah? Kasih tahu Adek
dong, Yah? Mungkin Adek bakal tertarik.”
Ayah mengacungkan ibu jari
kanannya kepadaku. “Serius nih? Tapi kalo nanti Adek beneran suka, jangan
sering begadang buat nonton, ya. Janji?” bisiknya padaku. Kuanggukkan kepalaku
tanda setuju. Kulihat kakakku memberikan isyarat supaya aku memberitahu
kesepakatan antara aku dan ayah. Aku pura-pura tak peduli.
“Apaan sih, De?” serbunya ketika
aku melangkah keluar, bersiap menuju mobil ayah.
“Kakak kepo, deh.” aku
berlari menghindar dari kakakku yang sudah bersiap mencubit kedua pipiku.
Kakakku ini, aku kan bukan anak kecil lagi.
------
Hari minggu pagi, ayah mengajakku
pergi ke suatu tempat yang kuketahui merupakan sebuah stadion di kotaku.
Sejujurnya ini adalah kali pertama aku menginjakkan kakiku di tempat ini.
Hamparan permadani hijau menyambut sepasang mataku seketika tatkala ayah
menarikku untuk masuk. Kulihat banyak orang memakai kaos dan celana yang sama berwarna
putih tengah menggerak-gerakkan badan ke kanan dan ke kiri di tepi lapangan.
Kata ayah, yang merka kenakan itu namanya jersey. Di tepi seberangnya
kulihat sekumpulan orang lagi, tapi memakai jersey merah juga melakukan
hal serupa. Aku hanya diam mengekor ayahku yang tengah menapaki undakan-undakan
yang mengantarkan kami ke kursi para penonton. Ayah berhenti tepat di depan
orang-orang dengan jersey putih tadi dan mengajakku duduk. “Yah, kita
mau nonton bola?” tebakku. Ayah hanya menggangguk dengan senyum
terkembang di wajahnya. Suara riuh penonton memenuhi seluruh penjuru stadion
ketika para pemain dari kedua tim berjalan memasuki lapangan. Mereka berjejer
rapi dengan para wasit berdiri di antara kedua tim. Terdengar lagu kebangsaan
Indonesia Raya dinyanyikan diikuti hampir seluruh penonton yang hadir. Pritt....wasit
meniup peluit tanda kickoff pertandingan. Sorak sorai penonton
meneriakkan semangat untuk tim kesukaannya. Aku ikut berteriak-teriak di
samping ayah yang tetap kalem mengikuti jalannya pertandingan, walau aku tak
tahu apa yang keluar dari mulutku ini. Yang aku tahu saat ini, aku merasa
begitu bahagia dan sangat menikmati apa yang sedang tersaji di depanku. Luar
biasa. Para pemain berlari ke sana kemari mengikuti arah si kulit bundar itu
menggelinding. Seorang pemain bernomor punggung 7 yang tak bisa kulihat namanya,
tengah berlari di sisi kiri lapangan menuju kotak penalti. Dari arah tengah
terlihat salah satu temannya berusaha menghindar dari pemain belakang lawan,
berusaha memertahankan bola. Sedetik kemudian, bola sudah diterima pemain
bernomor 7 yang seketika itu juga langsung melepaskan tendangan halilintarnya
ke arah gawang. Deg...deg...deg...Semua mata tertuju pada bola yang
tengah melesat dengan cepat dan akhirnya masuk gawang setelah membentur sisi
atas gawang. Terlihat penonton di sisi barat stadion bersorak girang. Sampai
babak kedua selesai, papan skor tetap menampilkan skor 1-0 untuk tim dengan jersey
putih. Jalan-jalan hari ini merupakan awal mula aku tertarik pada dunia
sepakbola. Bukan sebagai pemain tentunya, tapi sebagai penikmat cabang olahraga
yang digemari kaum adam di seantero dunia.
----------------
Kini aku memiliki hobi baru
ketika berangkat sekolah. Kubuka koran yang diserahkan ayah padaku. Kakakku tak
lagi diantar oleh ayah bersamaku, dia lebih memilih mengendarai motor barunya
yang dibelikan ayah 2 minggu lalu. Kata-kata yang tercetak terasa begitu asing
bagiku, apalagi nama-nama pemain yang kebanyakan berasal dari Eropa. Tak ada
satupun nama yang kukenal. Ayah pernah
mengatakan kepadaku bahwa sesuatu itu akan terasa mudah jika kita terbiasa
melakukannya. Oleh karenanya, sejak hari itu, aku rajin membaca berita utamanya
berita tentang dunia sepakbola. Koran yang aku baca lebih banyak memuat berita
sepakbola luar negeri seperti Spanyol, Inggris, Italia dan Jerman. Ada sebuah
klub di sebuah kota bernama Madrid di Spanyol yang begitu menarik perhatianku.
Ternyata ayah juga menyukainya. Ayah bercerita banyak mengenai sejarah klub itu,
prestasi-prestasinya, serta beberapa nama yang menjadi legenda di klub
tersebut. Ayah juga menyukai seorang pemain sayap kiri di klub tersebut yang
terkenal karena skill yang dimilikiya. Yang membuatku takjub pada ayah
adalah ayah menyukainya tidak hanya karena dia punya skills yang bagus,
namun ayah memilliki alasan tersendiri mengapa beliau menyukainya.
“Dia itu bukan hanya sekadar
pemain dengan kemampuan yang di atas rata-rata. Dia seorang yang sangat
menghargai apa itu kerja keras. Adek tahu, skill yang dimilikinya tidak
dia dapatkan secara percuma, ada beberapa pemain yang sudah memiliki bakat
alami, tapi tidak dengan dia. Melalui kerja keras dan sikap disiplin yang
diterapkannya ketika latihan telah menjadikan dia pemain dengan skill
yang bagus.” papar ayah pagi itu saat dalam perjalanan menuju sekolahku. “Dia
juga tipe orang yang selalu ingin menang, tapi tetap memerhatikan norma. Adek
tahu bagaimana awal mula dia tertarik pada sepakbola?” ayahku mengalihkan
pandangannya padaku mencari tahu apakah aku berniat menjawabnya. Aku hanya
menggelengkan kepala. “Dia itu bukan berasal dari keluarga kaya, Dek. Tapi itu tidak
menghalanginya untuk berprestasi. Ayahnya hanyalah seorang pengurus kebun yang
memiliki pekerjaan sampingan sebagai
asisten perlengkapan sebuah klub bola di kotanya. Tapi, justru itulah yang
membuat dia menjadi penggila sepakbola di usianya yang baru menginjak sepuluh
tahun. Hari-harinya dia habiskan untuk sekolah dan bermain bola. Dia akan
melakukan segala cara asalkan dia bisa bermain sepakbola..” ayahku menghentikan
ceritanya ketika mobil sudah berhenti di depan gerbang sekolahku. Aku mencium
tangan ayah sebelum beranjak turun.
“Ayah, besok lanjutin ya.”
pintaku.
“Hmm...mau nggak ya?
Belajar yang bener, ya.” ayah membukakan pintu mobil untukku.
“Harus mau dong, Yah. Assalamualaikum.”,
ucapku seraya turun. Sepertinya aku mulai mengagumi sosok itu dan ayahlah yang
membuatku mengaguminya, karena sejak saat itu ayah selalu menceritakan kepadaku
tentangnya. Aku berdoa semoga suatu saat aku bisa melihatnya secara langsung
ketika memainkan bola di lapangan hijau.
----------
Biasanya aku akan langsung
beranjak tidur seusai menyelesaikan tugas sekolah. Tapi, semenjak ayah
mengenalkan sepakbola kepadaku, terkadang aku menyempatkan diri menonton pertandingan
secara live. Tentunya dengan ditemani ayah. Itu pun hanya beberapa kali
saja. Sebagai gantinya, ayah rajin mengunduh
siaran pertandingan untuk aku tonton di sore hari selepas pulang dari sekolah.
Ayah memang mengizinkanku menyukai sepakbola, tapi ayah tetap memberiku
batasan-batasan supaya kesehatan dan belajarku tidak terganggu. Aku berusaha
sebisa mungkin mematuhinya, walau terkadang hasrat untuk menonton pertandingan
secara live sulit untuk kukendalikan.
Beruntunglah aku, besok adalah
hari libur. Jadilah aku di sini. Duduk di samping ayah dengan mata tertuju pada
layar televisi. Laga malam ini bisa dibilang laga yang besar karena
memertemukan dua klub papan atas yang tengah bersaing menempati posisi pertama.
Kata ayah, musim lalu klub favorit kamilah yang berhasil menyandang gelar juara
itu. Tapi, lawan kali ini juga sudah beberapa kali mendapatkannya. Klub favorit
kami menjadi tuan rumah laga kali ini, di Estadio Santiago Bernabeu
namanya. Terlihat di layar televisi, para pendukung memenuhi stadion megah
berkapasitas 85.454 orang itu. Sempat terlintas dalam benakku betapa bahagianya
aku jika aku bisa berdiri bersama ribuan pendukung di sana Aku dan ayah sudah
duduk manis sejak babak pertama dimulai. Dia awal babak pertama, kedua klub
saling mencoba menembus pertahanan yang lain. Beberapa kali wasit terlihat
mengeluarkan kartu kuning. Atmosfer di stadion malam itu cukup panas.
Kusandarkan kepalaku di bahu ayah. Skor kacamata masih tertulis di pojok kiri
atas layar hingga menit ke-40 dan bertahan hingga jeda babak pertama.
“Ayah, kapan ya kita bisa nonton
langsung di stadion itu?”, aku tak bisa menyembunyikan keinginanku yang kurasa
sedikit tak masuk akal. Tapi tidak ada salahnya, kan?
“Hmmm....kalo lihat biaya
ke sananya sama tiket sih mahal banget. Tapi, itu bukan berarti nggak mungkin
sih. Siapa tahu Allah punya rencana untuk kita bisa sampai di sana.” ayah
menjawab dengan nada penuh keyakinan. Ayahku adalah orang yang sangat optimsis
akan suatu hal. Ayah selalu mengatakan kepadaku anak-anaknya bahwa kita harus
selalu yakin dengan sesuatu yang sedang dan akan kita jalani atau mimpi-mimpi
yang kita dambakan. Untuk selalu berhuznuzhan kepada Allah. Karena
Allah selalu memerhatikan prasangka para hamba-Nya. Dan kalian tahu apa yang
telah Allah limpahkan kepada kami? Hanya satu bulan berselang setelah malam itu,
kami bertandang ke markas klub favorit kami. Begini ceritanya. Semua itu
berawal dari cerita ayahku kepada teman dekatnya sewaktu SMA perihal keinginanku
pergi ke stadion itu yang letaknya di Madrid. Beliau adalah seorang pengusaha
sukses yang bergerak di bidang pariwisata. Kebetulan, beliau juga menyukai klub
yang sama dengan kami. Kata ayah, dulu mereka juga pernah bermimpi untuk pergi
ke sana menonton klub favorit mereka menumbangkan para lawan tanpa melalui
penghalang kaca.
“Aku sudah lama tidak berkunjung
ke Eropa. Gimana kalau
kita ke sana bulan depan? Kebetulan bulan depan ada jadwal di sana” tanya Om
Danu, teman ayah ketika ayah baru saja menamatkan ceritanya. Ayahku hanya
tertawa, membuat dahi Om Danu yang sudah berkerut semakin berkerut.
“Kau ini. Uang dari mana? Kau
tahulah, dengan pekerjaanku saat ini sepertinya aku tidak akan menghabiskan
uang hasil jerih payahku untuk hal-hal seperti itu.” timpal ayah.
“Kalo masalah itu, serahkan saja
padaku. Kau tak usah khawatir.”, ujarnya.
“Apa maksud kau? Itu tidak
sedikit, Dan. Aku tak mau merepotkan kau.”
“Ayolah..Lagi pula siapa yang
merasa direpotkan? Kau sudah seperti saudara sendiri bagiku. Malahan dengan
adanya seorang teman, itu akan jauh lebih menyenangkan.”. Akhirnya setelah
perdebatan yang cukup memakan waktu, ayah setuju menerima ajakan Om Danu.
“Baiklah kalo kau memaksa. Terimakasih.”
“Aku akan mengajak anak
laki-lakiku. Jadi kita akan pergi berempat, bagaimana?”
“Terserah kau saja.”
Sesampainya di rumah, ayah
langsung melesat ke sofa di sampingku. Saat itu, aku tengah menonton acara
kesukaanku. Ayahku terlihat, begitu bahagia.
“Ayah kenapa? Kok senyum-senyum
gitu?”
“Ayah punya kabar gembira buat
Adek. Coba tebak! ”
“Mmm...Ayah naik jabatan?”
“Bukan.”
“Ayah mau beli mobil baru?”
Ayah hanya menggeleng-gelengkan
kepalanya ketika aku menyebutkan satu per satu hal yang ada dipikiranku.
“Terus apa dong, Yah?”
“Nyerah nih ceritanya?”
“Ayah...Apaan sih?”
Ayah menggeser posisi duduknya
mendekatiku, membisikkan sesuatu yang tak pernah aku bayangkan akan benar-benar
terjadi.
“Ayah serius?”
“Emm...kita berangkat bulan depan
ke Madrid, ke Santiago Bernabeu. Jangan lupa sujud syukur kepada Allah
ya, Dek. Allah telah mendengarkan doa yang kita ucapkan secara tidak sengaja.”
Kami benar-benar bahagia. Sangat
bahagia. Mama yang mendengarnya pun ikut bahagia. Ternyata mama dulu juga
pernah menyukai sepakbola, tapi itu terhenti ketika mama masuk pesantren. Mungkin
itu salah satu alasan mengapa mama tidak pernah melarangku untuk menjadi
penikmat sepakbola. Beruntung aku telah membuat paspor jauh-jauh hari ketika
aku terbang ke Australia dalam program pertukaran siswa. Jadi, kami tak terlalu
repot akan rencana mendadak ini. Apalagi ada mama yang membantu kami menata
barang bawaan kami.
------
Dua hari menjelang keberangkatan ke Madrid.
Aku semakin tidak sabar menanti
datangnya hari Kamis, hari ketika kami akan terbang ke Madrid. Aku telah
merencanakan beberapa hal yang akan aku lakukan ketika menginjakkan kaki di
sana. Tak lupa kuperiksa barang-barang yang akan aku bawa dalam perjalanan kali
ini. Dua hari ini saja terasa begitu lama bagiku.
Pesawat akan berangkat sekitar
pukul 10.00 pagi. Aku dan ayah yang ditemani mama sudah tiba di bandara sekitar
pukul 09.30. Rupanya Om Danu dan anak laki-lakinya sudah mendahului kami. Om
Danu menghampiri kami diikuti anak laki-lakinya yang mengekor di belakang.
“Bagaimana, sudah siap untuk
terbang ke sana?”, tanyanya sambil mengacak rambutku.
“Pasti, Om.”, jawabku ceria.
Waktu tiga puluh menit itu kami
habiskan untuk bertukar cerita tentang apa saja. Tentang sepakbola, tempat-tempat wisata di
Spanyol bahkan sampai cinderamata yang akan kami beli di sana. Kami bergegas
menuju gate yang tertera di tiket ketika sebuah suara dari speaker
menggema, memberitahu agar para penumpang segera bersiap karena pesawat akan
terbang segera. Aku berpamitan kepada mama, begitu pula ayah. Hatiku berdegup
kencang ketika kulangkahkan kakiku menuju pesawat. Aku masih belum percaya
bahwa aku akan benar-benar bertandang ke markas klub favoritku dan melihat
“dia” memainkan bola secara langsung tanpa penghalang. Aku merasa sedang
bermimpi. Saking senangnya, aku bahkan tidak terlelap dalam perjalanan yang
melelahkan ini. Padahal, biasanya aku akan langsung tertidur ketika memasuki
kendaraan, kecuali mobil ayah, dan baru terbangun ketika hampir sampai atau
sudah sampai tujuan. Bahkan ayah sampai membacakan dongeng untuk membuatku
tertidur seperti waktu aku kecil. Namun, hal itu belum mampu mengalahkan rasa
bahagiaku. Aku baru bisa terlelap setelah ayah mengatakan sesuatu yang berhasil
memberikan pengaruh yang kuat untukku.
Beberapa jam kemudian...........
Pesawat yang kami mendarat dengan
selamat di Bandara Barajas, Madrid. Kami bergegas menuju Apartamento Paseo
de la Habana Friendky Rentals, hotel tempat kami menginap yang berjarak
sekitar 180 meter dari stadion. Sepanjang perjalanan menuju hotel aku hanya
bisa mengira-ira seperti apa rasanya masuk ke stadion itu. Ketika mobil yang
kami tumpangi melewati stadion itu, aku tak bisa menyembunyikan kekagumanku.
Dari luar saja tampak begitu menarik apalagi bagian dalamnya. Aku semakin tak
sabar menunggu datangnya malam tatkala aku bisa memasuki salah satu tempat
favoritku, melihat “dia” memainkan si kulit bundar dengan lincahnya di lapangan
secara langsung. Ya Allah, terimakasih atas segala karunia yang telah Engkau
limpahkan kepada kami.
Malam harinya, kami berempat
bergegas menuju stadion seusai makan malam selesai. Kulihat ayah terlihat
begitu bahagia, apalagi aku yang tak bisa menghentikan bibir ini untuk
senantiasa tersenyum. Aku begitu bahagia malam itu. Bahagia karena mimpiku akan
terwujud. Namun saat ini aku menyadari ada sesuatu yang membuatku begitu bahagia
dan merasa istimewa. Kenyataan bahwa Allah menyayangiku dan orang-orang di
sekitarku. Subhaanallah walhamdulillah walaailaahaillallahu wallahuakbar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar