Minggu, 03 April 2016

Cerpen Ima

Oh Ternyata!
Oleh Binti Na’imatil Fitriyaani
“Selalu perbaiki diri untuk mencapai ridha Ilahi”

Malam itu bintang-bintang menampakkan dirinya. Berkilau menghias langit. Berbaris membentuk formasi rasi bintang. Berkelap-kelip menghibur bulan purnama yang bersinar. Anak-anak di sekeliling sekolahku ikut merasakan suasana damai malam itu. Beramai-ramai bermain permainan-permainan tradisional di luar rumah.


“Haaaaa!”
Suara itu mengagetkanku. Aku tersenyum melihat seorang anak laki-laki yang kegirangan menemukan temannya yang bersembunyi di balik dinding dekat tempat aku duduk. Senang rasanya bisa ikut merasakan kegembiraan anak-anak di malam itu. Walau aku hanya memerhatikan kelakuan-kelakuan seru mereka. Tiba-tiba, aku teringat tugas bahasa Inggrisku yang belum aku kerjakan dan harus dikumpulkan besok pagi. Kulihat jam tanganku. Seakan dia berbicara kepadaku menyuruhku agar cepat kembali ke asrama untuk mengerjakan tugas itu. Karena jarum-jarum tajamnya sudah menunjuk angka sembilan dan dua belas. Hati kecilku bergejolak melawan, menahanku agar tetap duduk memerhatikan keramaian. Namun, aku harus tetap beranjak pergi untuk menuntaskan kewajibanku.
Kuambil plastik putih transparan berisi camilan-camilan yang baru kubeli dari Toko Leli dan mulai beranjak pergi. Aku masih memerhatikan kanan dan kiri sisiku sambil berjalan menjemput tugasku. Tak terasa, aku sudah sampai di depan pintu gerbang sekolah. Hati masih tak rela meninggalkan keramaian dan kegembiraan malam itu. Keraguan muncul di pikiranku. Aku ragu melangkahkan kaki melewati batas gerbang menuju tempat sepi yang gelap. Aku menatap lorong sekolah yang terang namun gelap di dalam. Tampak sebuah pohon beringin besar di ujung halaman sekolah. Jelas terlihat hitam karena cahaya lampu dari teras kamar mandi di belakang pohon beringin. Pemandangan itu mengganti rasa raguku menjadi rasa takut. Tapi, aku harus melewati jalan halaman sekolah menuju lorong lain ke asrama di sudut sekolah. Di dekat gerbang belakang sekolah di samping kebun penduduk yang berada di belakang rumah mereka. Mau tidak mau aku harus segera melangkahkan kaki masuk karena jarum-jarum tajam jam selalu bergerak memangkas waktu. Perlahan aku meyakinkan diri berjalan masuk menghilangkan semua rasa takut dan ragu. Aku melewati pos satpam yang gelap tak berpenghuni. Menuju lorong terang dengan posisi kepala tertunduk. Kemudian menyusuri halaman sekolah bagian kiri di depan ruang kelas yang gelap.
Tok
Suara itu menyita perhatianku. Menarik kepalaku untuk melihat ke atas pohon besar di depanku. Sekilas aku melihat sesosok putih. Tiba-tiba sebuah biji jatuh tepat di depan kakiku. Aku bersyukur, ternyata suara itu hanyalah biji jatuh yang mengenai sebuah pengeras suara berwarna putih yang melekat di atas pohon besar itu. Aku melanjutkan perjalanan menuju lorong terang kedua. Melewati koperasi siswa dan kantin kejujuran menuju sebuah pohon beringin kecil ditemani sebuah kursi taman terbuat dari marmer berwarna putih di samping koperasi siswa. Aku merasa seakan-akan ada seseorang duduk di sana. Tapi aku tetap berkata kepada diriku sendiri untuk menolak semua prasangka-prasangka buruk itu. Kuyakinkan diriku bahwa tidak ada sesuatu apa pun di kursi itu. Hanya ada aku yang berjalan tertunduk di kegelapan. Aku tidak berani menengok ke arah mana pun. Entah apa yang sebenarnya ada di kursi itu. Aku tidak peduli. Yang aku harapkan, dia tidak menggangguku jika memang ada seseorang di sana. Kemudian, aku menuju pohon kapuk besar di halaman asramaku. Aku berusaha menjauh dari pohon itu. Tapi, tanpa sadar aku malah mendekat ke pohon kapuk.
Jedug” suara kakiku terantuk akar pohon kapuk.
Akar-akar pohon kapuk itu lebat sampai ada yang muncul ke atas permukaan tanah. Aku bersyukur aku tidak jatuh. Hanya sedikit hilang keseimbangan. Aku menatap cahaya terang dari sebuah bangunan. Itulah asramaku. Nampaknya sepi, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Aku melepas sepasang sandal berwarna coklat bertuliskan Jogja dan merapikannya berjejer dengan sandal-sandal lainnya. Aku memegang gagang pintu asrama dan melihat kembali ke sekeliling asrama. Seakan tak percaya aku bisa melewati jalan-jalan gelap mencekam itu sendirian. Ketika pandanganku sampai ke pohon beringin kecil, aku langsung memalingkan tatapanku karena aku melihat seseorang berbaju putih duduk di kursi pohon beringin kecil itu.
Sudah!” suara hatiku memerintah.
Aku tidak mau melihat atau memikirkan itu lagi. Aku membuka pintu dan teman-temanku masih bangun berkumpul di satu titik meja untuk berdiskusi.
“Dari mana? Dari tadi kami mencarimu!”
“Aku dari Toko Leli lalu istirahat sejenak di angkringan dekat toko sambil memerhatikan kegembiraan anak-anak bermain.”
“Kerjain tugas bahasa Inggris, yuk!”
“Iya, sebentar aku ambil buku dulu.”
Aku menuju tas cokelatku di sudut belakang kamar di depan lemariku. Aku buka resletingnya. Aku mengambil buku tulis dan kotak pensil.
Klinting-klinting!
Tiba-tiba boneka doraemonku jatuh dari atas lemari ketika aku mencoba untuk menutup resleting tasku. Lalu, aku ambil boneka itu dan meletakkanya kembali di atas lemari. Sempat terbesit hal-hal aneh di pikiranku. Tapi, aku cepat menghilangkan prasangka itu. Aku segera kembali ke kumpulan teman-temanku. Aku meletakkan camilan-camilan yang tadi aku beli di tengah-tengah perkumpulan dan menawarkannya kepada mereka. Seketika juga, langsung habis camilan-camilan itu. Memang kami paling doyan sama makanan. Kami bersembilan di kamar. Delapan temanku dan aku. Kami selalu bersama-sama. Dari mulai makan-makan sampai belajar dan mengerjakan tugas. Termasuk tugas Bahasa Inggris ini, Sehingga cepat selesai. Tidak sampai 15 menit, kami berlanjut bersenda gurau dan bermain-main. Karena terlalu asyik, kami sampai lupa waktu dan lupa tetangga. Suara kami sangat keras mungkin sampai terdengar oleh tetangga.
Donnnngggggg!”, suara gong terdengar sangat keras.
Seketika itu, aku dan teman-temanku langsung terdiam. Banyak hal muncul di pikiranku. Mungkin begitu juga dengan teman-temanku. Aku bingung, padahal tidak ada gong di sekitar sekolahku.
“Aku berpikir bahwa itu adalah peringatan untuk kita agar diam dan cepat tidur, tidak menggangu tetangga yang sedang tertidur lelap”, kata temanku.
Aku terkejut mendengar penegasan temanku itu. Seketika, bulu kudukku bergetar. Kami semua langsung menuju kasur masing-masing dan mencoba untuk tidur. Aku menaiki satu persatu anak tangga menuju kasur atas. Aku melantunkan doa sebelum tidur dan kemudian memejamkan mata.
“Klinting-klinting!”
Boneka doraemonku jatuh lagi dari atas lemari. Aku mulai berpikir aneh-aneh. Imajinasiku membawaku kemana-mana.
Klinting-klinting!
Suara lonceng doraemon terdengar lagi. Namun, kali ini lebih pelan. Sangat pelan. Tapi, boneka itu sudah ada di lantai. Tidak mungkin ia berbunyi lagi. Kecuali ada yang menggerakkannya. Tapi, tidak ada seorang pun di depan lemari. Semua teman-temanku berada di kasur masing-masing. Aku mencoba menghilangkan pikiran-pikiran itu dan mencoba untuk kembali memejamkan mata. Tetapi, usahaku sia-sia. Tetap saja aku tidak bisa tidur. Secara periodik aku mendengar suara lonceng itu. Bahkan suaranya semakin jelas. Seakan-akan lonceng itu semakin dekat.
Apakah boneka doraemon itu berjalan mendekat ke arahku?, pikirku.
Pertanyaan itu tiba-tiba muncul difikiranku. Aku tidak kuat lagi menahan rasa takutku. Aku menuruni tangga kasur dengan tergesa-gesa seakan ada yang mengejarku. Aku langsung berbaring di kasur temanku dan banyak menghela nafas karena ngos-ngosan setelah menuruni tangga.
“Nindya! Bangun!”, teriakku di sampingnya.
Aku berusaha membangunkannya dengan menggoyangkan tangannya. Berharap ia bangun dari tidurnya. Tetapi, itu tidak berhasil. Dia tidak berkutik sedikitpun. Sebenarnya, aku tidak tega membangunkannya. Tapi rasa takutku berhasil mengalahkan rasa itu. Nindya tidak kunjung bangun. Aku semakin takut. Suara itu semakin jelas terdengar. Aku berusaha tidur lagi disamping Nindya. Aku menutup mukaku dengan selimut. Berharap aku cepat tidur. Namun, selimut itu malah membuatku merasa seakan lonceng itu berada di depanku.
“Nindya! Bangun!”, teriakku yang kedua kali.
”Ada apa sih? Ngantuk tahu! Udah malem! Tidur sana!”
“Aku tidak bisa tidur, aku mendengar suara lonceng!”
“Mana? Gak ada! Mungkin itu hanya imajinasimu aja! Udah ah! Aku mau tidur lagi.”
Klinting-klinting!”, suara itu terdengar lagi. Bahkan semakin jelas dan keras.
“Bangun! Dengerin deh! Duduk!”, aku menarik tangannya agar dia duduk.
Klinting-klinting!”, lonceng itu berbunyi lagi.
“Iya! Itu suara apa?!”, katanya sambil ketakutan.
Karena kami sama-sama penakut, kami duduk berjejer di pojok kasur. Menekuk kaki dan memeluknya. Suara itu terdengar kembali secara periodik. Bahkan suaranya semakin keras dan jelas. Kedua tangan kami semakin erat memeluk lutut seiring dengan semakin jelas dan kerasnya bunyi lonceng itu. Jantungku memompa darah semakin cepat sehingga detaknya pun juga semakin cepat. Suara lonceng itu kini seperti berada di telingaku. Aku memejamkan mata. Berharap tidak melihat apa yang akan terjadi. Aku tidak bisa menebak apa yang terjadi setelah ini.
Te.... Sateeeee.......!”
Aku mendengar suara teriakan itu beberapa detik setelah lonceng itu berbunyi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar