Oh Ternyata!
Oleh Binti
Na’imatil Fitriyaani
“Selalu
perbaiki diri untuk mencapai ridha Ilahi”
Malam itu
bintang-bintang menampakkan dirinya. Berkilau menghias langit. Berbaris
membentuk formasi rasi bintang. Berkelap-kelip menghibur bulan purnama yang
bersinar. Anak-anak di sekeliling sekolahku ikut merasakan
suasana damai malam itu. Beramai-ramai bermain permainan-permainan tradisional di luar rumah.
“Haaaaa!”
Suara itu
mengagetkanku. Aku tersenyum melihat seorang anak laki-laki yang kegirangan menemukan temannya yang bersembunyi di balik dinding dekat
tempat aku duduk. Senang rasanya bisa ikut merasakan kegembiraan anak-anak di
malam itu. Walau aku hanya memerhatikan kelakuan-kelakuan seru mereka.
Tiba-tiba, aku teringat tugas bahasa Inggrisku yang belum aku kerjakan dan harus dikumpulkan besok pagi. Kulihat jam tanganku.
Seakan dia berbicara kepadaku menyuruhku agar cepat kembali ke asrama untuk
mengerjakan tugas itu. Karena jarum-jarum tajamnya sudah menunjuk angka sembilan
dan dua belas. Hati kecilku bergejolak melawan, menahanku agar tetap duduk memerhatikan keramaian. Namun, aku harus tetap beranjak pergi untuk menuntaskan
kewajibanku.
Kuambil plastik
putih transparan berisi camilan-camilan yang baru
kubeli dari Toko Leli dan mulai beranjak pergi. Aku masih memerhatikan kanan dan kiri
sisiku sambil berjalan menjemput tugasku. Tak terasa, aku
sudah sampai di depan pintu gerbang sekolah. Hati masih tak rela meninggalkan
keramaian dan kegembiraan malam itu. Keraguan muncul di pikiranku. Aku ragu
melangkahkan kaki melewati batas gerbang menuju tempat sepi yang gelap. Aku
menatap lorong sekolah yang terang namun gelap di dalam. Tampak sebuah pohon
beringin besar di ujung halaman sekolah. Jelas terlihat hitam karena cahaya
lampu dari teras kamar mandi di belakang pohon beringin. Pemandangan itu mengganti rasa raguku menjadi rasa takut. Tapi, aku harus melewati jalan halaman sekolah menuju lorong lain ke
asrama di sudut sekolah. Di dekat gerbang belakang sekolah di samping kebun
penduduk yang berada di belakang rumah mereka.
Mau tidak mau aku harus segera melangkahkan kaki masuk karena jarum-jarum tajam
jam selalu bergerak memangkas waktu. Perlahan aku meyakinkan diri berjalan
masuk menghilangkan semua rasa takut dan ragu. Aku melewati pos satpam yang
gelap tak berpenghuni. Menuju lorong terang dengan posisi kepala tertunduk.
Kemudian menyusuri halaman sekolah bagian kiri di depan ruang kelas yang gelap.
“Tok”
Suara itu
menyita perhatianku. Menarik kepalaku untuk melihat ke atas pohon besar di depanku.
Sekilas aku melihat sesosok putih. Tiba-tiba sebuah biji jatuh tepat di depan
kakiku. Aku bersyukur, ternyata suara itu hanyalah biji jatuh yang mengenai
sebuah pengeras suara berwarna putih yang
melekat di atas pohon besar itu. Aku melanjutkan perjalanan
menuju lorong terang kedua. Melewati koperasi siswa dan kantin kejujuran menuju
sebuah pohon beringin kecil ditemani sebuah kursi taman terbuat dari marmer
berwarna putih di samping koperasi siswa. Aku merasa seakan-akan ada seseorang
duduk di sana. Tapi aku tetap berkata kepada diriku sendiri untuk
menolak semua prasangka-prasangka buruk itu. Kuyakinkan diriku bahwa tidak ada sesuatu
apa pun di kursi itu. Hanya ada aku yang berjalan tertunduk di kegelapan. Aku
tidak berani menengok ke arah mana pun. Entah apa yang sebenarnya ada di kursi
itu. Aku tidak peduli. Yang aku harapkan, dia tidak menggangguku jika memang ada seseorang di sana.
Kemudian, aku menuju pohon kapuk besar di halaman asramaku. Aku berusaha
menjauh dari pohon itu. Tapi, tanpa sadar aku malah mendekat ke pohon kapuk.
“Jedug” suara kakiku terantuk akar pohon kapuk.
Akar-akar pohon kapuk itu lebat sampai ada yang muncul ke atas permukaan tanah. Aku
bersyukur aku tidak jatuh. Hanya sedikit hilang keseimbangan. Aku menatap
cahaya terang dari sebuah bangunan. Itulah asramaku. Nampaknya sepi, tidak ada
tanda-tanda kehidupan. Aku melepas sepasang sandal berwarna coklat bertuliskan
Jogja dan merapikannya berjejer dengan sandal-sandal lainnya. Aku memegang
gagang pintu asrama dan melihat kembali ke sekeliling asrama. Seakan tak
percaya aku bisa melewati jalan-jalan gelap mencekam itu sendirian. Ketika pandanganku sampai ke
pohon beringin kecil, aku langsung memalingkan tatapanku karena aku melihat
seseorang berbaju putih duduk di kursi pohon beringin kecil itu.
“Sudah!” suara hatiku memerintah.
Aku
tidak mau melihat atau memikirkan itu lagi. Aku membuka pintu dan teman-temanku
masih bangun berkumpul di satu titik meja untuk berdiskusi.
“Dari mana?
Dari tadi kami mencarimu!”
“Aku dari Toko
Leli lalu istirahat sejenak di angkringan dekat toko
sambil memerhatikan kegembiraan anak-anak bermain.”
“Kerjain tugas
bahasa Inggris, yuk!”
“Iya, sebentar
aku ambil buku dulu.”
Aku menuju tas
cokelatku di sudut belakang kamar di depan lemariku. Aku buka resletingnya. Aku
mengambil buku tulis dan kotak pensil.
“Klinting-klinting!”
Tiba-tiba
boneka doraemonku jatuh dari atas lemari ketika aku mencoba untuk menutup
resleting tasku. Lalu, aku ambil boneka itu dan meletakkanya kembali di atas
lemari. Sempat terbesit hal-hal aneh di pikiranku. Tapi, aku cepat
menghilangkan prasangka itu. Aku segera kembali ke kumpulan teman-temanku. Aku
meletakkan camilan-camilan yang tadi aku beli di tengah-tengah perkumpulan dan
menawarkannya kepada mereka. Seketika juga, langsung habis camilan-camilan itu.
Memang kami paling doyan sama makanan. Kami bersembilan di kamar. Delapan
temanku dan aku. Kami selalu bersama-sama. Dari mulai makan-makan sampai
belajar dan mengerjakan tugas. Termasuk tugas Bahasa Inggris ini, Sehingga
cepat selesai. Tidak sampai 15 menit, kami berlanjut bersenda gurau dan
bermain-main. Karena terlalu asyik, kami sampai lupa waktu dan lupa tetangga.
Suara kami sangat keras mungkin sampai terdengar oleh tetangga.
“Donnnngggggg!”,
suara gong terdengar sangat keras.
Seketika itu,
aku dan teman-temanku langsung terdiam. Banyak hal muncul di pikiranku. Mungkin
begitu juga dengan teman-temanku. Aku bingung, padahal tidak ada gong di sekitar
sekolahku.
“Aku berpikir
bahwa itu adalah peringatan untuk kita agar diam dan cepat tidur, tidak
menggangu tetangga yang sedang tertidur lelap”, kata temanku.
Aku terkejut
mendengar penegasan temanku itu. Seketika, bulu kudukku bergetar. Kami semua
langsung menuju kasur masing-masing dan mencoba untuk tidur. Aku menaiki satu
persatu anak tangga menuju kasur atas. Aku melantunkan doa sebelum tidur dan
kemudian memejamkan mata.
“Klinting-klinting!”
Boneka
doraemonku jatuh lagi dari atas lemari. Aku mulai berpikir aneh-aneh.
Imajinasiku membawaku kemana-mana.
“Klinting-klinting!”
Suara lonceng
doraemon terdengar lagi. Namun, kali ini lebih pelan. Sangat pelan. Tapi,
boneka itu sudah ada di lantai. Tidak mungkin ia berbunyi lagi. Kecuali ada
yang menggerakkannya. Tapi, tidak ada seorang pun di depan lemari. Semua teman-temanku berada di kasur
masing-masing. Aku mencoba menghilangkan pikiran-pikiran itu dan mencoba untuk
kembali memejamkan mata. Tetapi, usahaku sia-sia. Tetap saja aku tidak bisa
tidur. Secara periodik aku mendengar suara lonceng itu. Bahkan suaranya semakin jelas.
Seakan-akan lonceng itu semakin dekat.
“Apakah
boneka doraemon itu berjalan mendekat ke arahku?”, pikirku.
Pertanyaan itu
tiba-tiba muncul difikiranku. Aku tidak kuat lagi menahan rasa takutku. Aku
menuruni tangga kasur dengan tergesa-gesa seakan ada yang mengejarku. Aku
langsung berbaring di kasur temanku dan banyak menghela nafas karena
ngos-ngosan setelah menuruni tangga.
“Nindya!
Bangun!”, teriakku di sampingnya.
Aku berusaha
membangunkannya dengan menggoyangkan tangannya. Berharap ia bangun dari tidurnya. Tetapi, itu tidak berhasil. Dia tidak berkutik sedikitpun.
Sebenarnya, aku tidak tega membangunkannya. Tapi rasa takutku berhasil mengalahkan
rasa itu. Nindya tidak kunjung bangun. Aku semakin takut. Suara itu semakin jelas
terdengar. Aku berusaha tidur lagi disamping Nindya.
Aku menutup mukaku dengan selimut. Berharap aku cepat tidur. Namun, selimut itu malah
membuatku merasa seakan lonceng itu berada di depanku.
“Nindya! Bangun!”,
teriakku yang kedua kali.
”Ada apa sih? Ngantuk
tahu! Udah malem! Tidur sana!”
“Aku tidak bisa
tidur, aku mendengar suara lonceng!”
“Mana? Gak
ada! Mungkin itu hanya imajinasimu aja! Udah ah! Aku mau tidur lagi.”
“Klinting-klinting!”,
suara itu terdengar lagi. Bahkan semakin jelas dan keras.
“Bangun!
Dengerin deh! Duduk!”, aku menarik tangannya agar dia duduk.
“Klinting-klinting!”,
lonceng itu berbunyi lagi.
“Iya! Itu suara
apa?!”, katanya sambil ketakutan.
Karena kami
sama-sama penakut, kami duduk berjejer di pojok kasur. Menekuk
kaki dan memeluknya. Suara itu terdengar kembali secara periodik. Bahkan
suaranya semakin keras dan jelas. Kedua tangan kami semakin erat memeluk lutut seiring dengan semakin jelas dan kerasnya bunyi lonceng itu. Jantungku
memompa darah semakin cepat sehingga detaknya pun juga semakin
cepat. Suara lonceng itu kini seperti berada di telingaku. Aku memejamkan
mata. Berharap tidak melihat apa yang akan terjadi. Aku tidak bisa menebak apa
yang terjadi setelah ini.
“Te.... Sateeeee.......!”
Aku mendengar suara teriakan itu beberapa detik setelah lonceng itu berbunyi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar