Minggu, 03 April 2016

Cerpen Aji

Seperti Roda yang Berputar
Oleh Adi Sasmito Aji
Lakukan yang terbaik, masalah hasil serahkan pada Allah swt
Tahun ini bukan tahun biasa, aku menyebut tahun ini sebagai tahun kesedihan. Tahun di mana aku diuji atas nikmat yang telah diberikan-Nya kepadaku sebelumnya. Apakah aku bersyukur ataukah kufur. Bukan karena ayah dan ibu yang telah dipanggil oleh-Nya, seperti Rasulullah saw. Bukan juga karena pamanku yang tertimpa musibah asap yang terjadi di Riau, tapi kesedihan yang menerpa diriku adalah kesedihan karena aku belum bisa menyadari bahwa di atas langit masih ada langit.


            Dulu aku merupakan siswa madrasah yang cukup berprestasi, tidak pernah absen dari peringkat satu kelas. Aku bukan siswa sembarangan di sekolahku. Aku adalah siswa kelas akselerasi, kelas percepatan. Tidak semua siswa bisa diterima di kelas yang satu ini. Kelas elit yang sering dibicarakan oleh orang-orang atas kepintaran penghuninya, namun sekarang hal itu hanyalah kenangan belaka. Di sekolahku yang baru tidak ada perbedaan antara siswa yang berasal dari akselerasi dan bukan. Tidak ada perbedaan antara siswa yang pintar dan bukan karena semua siswa di sekolah ini merupakan siswa pintar.
            Secara tidak sadar aku telah sombong akan kepintaranku. Hal buruk terjadi padaku, ketika aku sedang menempuh pendidikan setingkat SMA di sekolahku yang baru, secara perlahan aku merasa menjadi manusia yang paling bodoh. Detik demi detik kepintaranku terus berkurang, sampai akhirnya aku merasakan posisi yang dirasakan oleh teman akselerasiku yang hampir di drop out oleh sekolah karena nilai yang tidak memenuhi kriteria yang ditentukan. Hidupku yang dulu selalu bahagia berubah menjadi kosong seperti ruangan hampa udara yang tidak bisa dilalui oleh satupun gelombang suara.
            Semua ini bermula sejak ulangan harian mata pelajaran Matematika untuk pertama kalinya. Aku yang tidak pernah remedial Matematika sebelumnya, bahkan sering menjuarai event- event olimpiade di bidang Matematika, mendapatkan nilai 50 di sekolah baruku. Hal tersebut merupakan prestasi yang sangat menyayat hati. Bagaimana tidak, nilai 50 merupakan nilai yang sangat rendah untukku, aku tidak percaya bahwa sekarang kepintaranku hilang begitu saja. Usaha demi usaha aku lakukan. Namun tetap saja hasilnya nihil. Sejak saat itu aku menjadi seseorang yang pesismis untuk berprestasi.
            Waktu demi waktu berlalu, prestasiku semakin menurun. Dari Matematika menjalar ke pelajaran lainnya. Aku tak tahu mengapa aku begini sekarang, semangat belajarku menurun drastis, aku sulit untuk mengatur waktu, aku sulit untuk memahami pelajaran di kelas, aku sulit untuk menghafal pelajaran, aku sulit untuk bisa fokus, dan yang paling parah adalah kedisiplinanku yang semakin berkurang hari demi hari.
o0o
            Minggu ini akan diadakan Ujian Akhir Semester (UAS) dua, hasil ujian ini akan menentukan apakah siswa naik kelas atau  tidak. Aku tidak tahu apakah aku akan menjadi salah satu siswa yang akan dikembalikan ke orangtua (re: drop out). Hal yang pasti kulakukan adalah aku akan berusaha semaksimal mungkin agar aku bisa naik kelas. Sangat sayang jika aku dikeluarkan di akhir tahun kedua pendidikan menengah atas ini.
            Seperti di ujian-ujian sebelumnya, sebelum ujian dimulai, aku selalu meminta restu kepada kedua orangtuaku. Perjuangan kita, usaha kita bukanlah apa-apa jika kedua orangtua kita tidak meridhai apa yang kita kerjakan. Tercantum dalam hadis nabi saw. bahwa ridha Allah bergantung pada ridha orangtua. Aku pernah mengalami hal buruk dengan kata ridha. Setelah lulus pendidikan menengah pertama aku memiliki keinginan untuk bersekolah di salah satu madrasah di kota Malang, lalu aku bertanya pada ibuku  “Bu, Aku pengen sekolah di MAN 3 Malang, menurut Ibu gimana? ” ibuku tidak langsung menjawab, beliau berfikir sejenak.
“Kita tidak punya keluarga dekat di Malang Mas, Mas Aji yakin mau sekolah di sana? Di Malang itu pergaulan remaja sangat bebas, Ibu gak mau kamu terpengaruh,“ begitulah jawaban ibuku.
Aku menyadari bahwa ibuku belum bisa ridha jika aku bersekolah di kota Malang.
            Sebenarnya aku telah mendaftarkan diri ke salah satu madrasah di Tangerang Selatan. Yang membuat aku heran adalah Tangerang Selatan merupakan salah satu kota yang maju dan pesat perkembangannya di daerah Banten, seharusnya pergaulan di kota yang dulunya bagian dari Kabupaten Tangerang ini lebih bebas daripada di Malang, namun kedua orangtuaku merestui jika aku bersekolah di madrasah tersebut. Memang sih madrasah ini bukan madrasah sembarangan, madrasah yang didirikan oleh Bapak mantan presiden kita, Bapak B.J. Habibie, adalah madrasah yang termasuk dalam 10 sekolah terbaik di Indonesia. Dari ribuan orang yang mendaftar hanya 120 orang yang nantinya akan diterima di madrasah ini. Orangtuaku sangat mendukung jika aku bersekolah di madrasah ini, madrasah aliyah berbeasiswa bagi seluruh siswa mulai dari asrama, makan, dan biaya pendidikan. Sangat menggiurkan bukan? Tapi ingat uang yang digunakan untuk membiayai siswa madrasah aliyah ini adalah uang rakyat, dalam pelaksanaannya, tentunya siswa diharapkan ketika dewasa kelak mereka akan menjadi pemimpin bagi negeri ini, serta bisa membawa negara ini menjadi negara yang maju tidak hanya dalam IPTEK tapi juga dalam hal akhlak. Oleh karena itu siswa di madrasah ini akan dituntut dengan banyak hal, mulai dari tata tertib yang sangat ketat hingga beban pelajaran yang tidak biasa. Artinya, siswa tidak hanya belajar seperti di sekolah-sekolah lain, namun seluruh siswa akan dituntut dengan tugas-tugas yang lebih serta materi-materi yang setingkat di atas materi SMA normalnya.                                                                                                     
            Pada suatu ketika, ada salah satu guru bimbingan dan konseling di sekolahku yang menawariku untuk mendaftar ke MAN 3 Malang. Tanpa restu dari kedua orangtuaku aku mendaftarkan diri ke sekolah tersebut. Setelah aku selesai mengurusi seluruh berkas lalu aku bilang ke kedua orangtuaku.
            “Yah aku ikut daftar ke MAN 3 Malang, persyaratannya sudah tak siapkan. Tinggal berangkat tes,
            “Loh kok gak bilang-bilang, paling nggak akan ayah bisa bantu. Terus biaya pendaftarannya gimana? “ jawab Ayahku.
            “Enggak yah, aku ngurusin berkasnya bareng temen-temen jadinya gampang. Biaya pendaftarannya aku lupa yah, nanti aku tanya ke guru BK dulu.
            “Oh ya udah deh, nanti kalau butuh uang atau apa aja yang dibutuhin bilang aja ke ayah.
            “Siip, Yah.
Berbeda dengan ibuku, ayahku tidak terlalu memermasalahkan jika aku bersekolah di MAN 3 Malang. Beliau percaya bahwa anaknya bisa menjaga diri dengan baik di manapun anaknya berada. Karena beliau telah mendidik anaknya dengan baik sejak kecil.
Hari demi hari berlalu, aku berangkat ke Malang untuk melakukan tes. Telah ada salah satu teman sekelasku yang diterima di MAN 3 Malang, tapi dia melalui jalur penerimaan siswa yang berbeda denganku. Sore hari aku sampai di rumah salah satu keluarga temanku di Malang. Keesokan harinya aku mengikuti tes tulis di sana, tes berlangsung selama dua hari. Aku merasa soal tes masuk MAN 3 Malang tidaklah susah, aku yakin aku akan di terima.
Setelah beberapa minggu menunggu akhirnya hasil tes tulis penerimaan siswa baru MAN 3 Malang diumumkan. Aku tidak sabar ingin mengetahui hasilnya. Namun akhirnya kekecewaan yang besar melandaku, salah satu temanku yang juga mengikuti tes bilang bahwasannya tidak ada satupun dari kita yang diterima di MAN 3 Malang.
o0o
            Aku adalah siswa jurusan IPA, aku tak tahu mengapa aku bisa masuk ke jurusan IPA. Padahal nilai raporku saat kelas sepuluh tidak memeuhi kriteria untuk masuk jurusan IPA. Lagi-lagi nilai Matematika penyebabnya. Namun berkat guru Matematikaku yang baik aku bisa melanjutkan sekolah ke jurusan yang aku inginkan. Ketika penerimaan rapor akhir kelas sepuluh datanglah Ibu Rita kepadaku dan berkata kepadaku “Nilai Matematikamu saya naikkan, kamu masuk jurusan IPA, tapi kamu harus janji di tahun kedua kamu harus belajar lebih giat. Ibu tidak mau ada pembahasan mengenai nilai Matematikamu waktu rapat pleno guru tahun depan.
            Seketika perasaan syukur dan haru menyelimuti hatiku pada waktu itu, namun sayang aku tidak bisa menepati janjiku. Selama kelas sebelas aku selalu remedial tiap ulangan harian Matematika, bahkan nilai Ujian Tengah Semesterku di bawah Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM). Hal tersebut pastinya mengancam keberadaanku di Insan Cendekia. Parahnya lagi tidak hanya pelajaran Matematika, hal yang sama terjadi pada pelajaran Kimia dan Fisika.
o0o
            Ujian-ujian telah aku lalui, kelas sebelas merupakan tingkatan yang paling sulit untuk dilalui, aku tidak hanya dituntut untuk belajar tetapi juga dituntut untuk berorganisasi. Tidak mudah untuk mengatur waktu. Dua hari yang lalu aku telah selesai melaksanakan UAS, dan hasilnya tidak ada harapan lagi untukku agar bisa melanjutkan pendidikan di sekolah super ini. Setelah dihitung-hitung nilai raporku tidak memenuhi persyaratan kenaikan kelas. Maka dari itu mau tidak mau aku harus pulang, begitulah teorinya.
            Namun hal tersebut tidak akan terjadi begitu saja, dalam sejarahnya MAN Insan Cendekia Serpong tidak akan mengeluarkan siswanya yang bermasalah dalam nilai begitu saja. Akan ada rapat pleno seluruh guru, rapat ini adalah rapat yang menentukan apakah siswa naik kelas (lulus) atau tidak, terutama untuk siswa yang bermasalah dalam nilai. Ada banyak hal yang akan dipertimbangkan oleh guru dalam menentukan kelulusan, di antaranya adalah akhlak siswa, kerja keras siswa, serta kemauan siswa dalam belajar. Hal tersebut akan menjadi celah yang dapat dimanfaatkan siswa yang bermasalah dalam nilai, termasuk aku.
o0o
Masih ada beberapa hari sebelum rapat pleno, aku berusaha untuk mendapatkan hati para guru. Terutama guru mata pelajaran Fisika, Matematika, Biologi, dan Kimia. Sebelumnya aku telah disarankan -- lebih tepatnya diperintah -- oleh wali kelasku agar meminta bimbingan kepada guru yang bersangkutan atas nilai Ujian Tengah Semesterku yang jelek. Namun aku tidak begitu menghiraukan. Sampai pada suatu waktu ketika mendekati UAS guruku bertanya, “Gimana bimbingannya, udah ketemu sama gurunya, kan?“ aku tidak bisa menjawab apa-apa. Aku merasa sangat bersalah kepada beliau, karena tidak menghargai beliau yang telah membuatkan surat rekomendasi bimbingan kepada guru yang bersangkutan.
Apa boleh buat, dalam waktu yang kurang dari satu minggu aku harus bisa mengusahakan nilaiku yang jelek. Sore ini aku pergi ke ruang guru untuk menemui guru Fisika, aku ingin berkonsultasi dengan beliau.
Assalamu’alaikum, Ibu!” sapaku.
Wa’alaikumsalam, eh Adi. Ada apa, Di?” Jawab Ibu Elly.
“Sebelumnya saya minta maaf Bu karena ganggu, saya ingin konsultasi mengenai nilai saya Bu, nilai UTS saya kurang bu, kira-kira bisa diperbaiki gak, Bu?”
“Maaf Di, kalo untuk nilai UTS, ibu nggak bisa berbuat apa-apa, nilai itu di bawah wewenang kurikulum, coba kamu tanya ke kurikulum aja deh.“
“Hmmm gitu ya Bu, makasih, Bu.
“Iya Di, sama sama.
Assalamu’alaikum.
Wa’alaikumsalam.
            Usaha pertamaku gagal, aku tidak bisa memperbaiki nilai UTS-ku. Aku lalu berusaha mendatangi guru lainnya, namun aku menerima jawaban yang sama dengan sebelumnya. Ah, sudahlah apa boleh buat, kataku dalam hati.
o0o
            “Eh, gimana nilai UAS lu?” tanyaku kepada salah satu temanku.
            “Nilai gua jelek nih, nilai UTS sama UH[1] Fisika gua juga jelek, gua takut gak naik kelas,” keluh Dimas.
            “Nilai gua juga Dim, solusinya gimana ya? Gua udah nyoba dateng ke guru tapi nilai UTS memang gak bisa diperbaikin sih.
            “Iya sih, bener juga kata lu, padahal yang UTS-nya NK[2] gak cuma kita ya, banyak juga yang lain.
            “Iya Dim, gua takut banyak yang gak naik kelas nih, termasuk gua.
            “Tenang Di, insya Allah ntar kita bakal tau solusinya kok.
***
Mengetahui banyak dari temannya yang mendapatkan nilai kurang, Haqi sang ketua angkatan sembilan belas mencoba untuk menghadap ke Ibu Nur, dia ingin berkonsultasi serta meminta agar teman-teman yang nilainya kurang diberi kesempatan untuk memerbaiki nilai. Permohonan Haqi dikabulkan, siswa kelas sebelas yang jumlahnya hampir 20 orang mengikuti tes perbaikan untuk UTS. Dan sebagian besar dari mereka berhasil mendapatkan nilai rapor di atas KKM.
Namun hal yang berbeda terjadi pada diriku, nilaiku masih tetap di bawah KKM. Tidak hanya Fisika, namun juga Matematika. Esok adalah hari di mana rapat pleno dilaksanakan. Aku hanya bisa menunggu hasil rapat tersebut apakah aku akan lulus atau tidak, pada saat itu aku merasa sebagai orang yang paling rendah dan bodoh di sekolahku, aku berpikiran bahwa aku akan pulang. Aku hanya bisa berdoa kepada Sang Kuasa memohon hasil yang terbaik.
Rapat pleno berlangsung selama dua hari. Pada siang hari di hari kedua Haqi mengumpulkan angkatan. Acara kumpul kali ini adalah untuk membahas mengenai pergantian ketua angkatan. Di sela-sela kumpul ada yang membicarakan mengenai hasil rapat pleno. Hatiku semakin bergetar. Aku takut aku benar-benar akan keluar dari sekolah ini. Ternyata hasilnya adalah sebaliknya, tidak ada satupun yang akan dikeluarkan dari kelas sebelas. Aku sangat bersyukur mendengar hal tersebut, namun berita tersebut belum pasti. Aku harus menunggu hasil yang sebenarnya dari guru.
o0o
Tidak lama setelah rapat pleno dilangsungkan, ada pengumuman bahwa ada beberapa orang dari angkatanku yang di panggil oleh Ibu Nur, Wakil Kepala Madrasah (WAKAMAD) Bidang Kurikulum. Kita diharapkan untuk hadir esok hari tepat jam 8 pagi di gedung pendidikan lantai satu. Salah satu orang tersebut adalah aku.
Keesokan harinya aku mendatangi gedung pendidikan lantai satu. Sembari menunggu aku mencoba untuk mengurangi kesedihanku dengan ngobrol bersama teman yang sama-sama dipanggil oleh Ibu Nur.
            “Eh, ngomong-ngomong kita dipanggil buat ngapain sih?”
            “Gatau tuh, kata Haqi mau ngomongin masalah naik bersyarat gitu.
            “Hah? Naik bersyarat?” dalam hati aku merasakan perasaan sedikit bahagia. Hal tersebut menandakan bahwa berita tidak ada satupun dari kita yang akan dipulangkan adalah benar.
            Tidak lama kemudian Ibu Nurhayati bersama Ibu kepala madrasah Ibu Persahini datang dan masuk ke salah satu kelas, kita diminta untuk memasuki kelas tersebut. Mereka berdua membuka pertemuan lalu membagi kita menjadi 2 kelompok.
            “Tolong kalian serius dalam pertemuan ini, kalian tahu kan kenapa kalian dikumpulkan disini?” ucap Ibu Nur.
            Semua siswa dalam ruangan diam tanpa kata. Aku sudah tahu dari analisisku sebelumnya bahwa pertemuan ini pasti menyangkut tentang kenaikan kelas. Setelah itu Ibu Nur mengabsen dan beliau meminta agar semua memperhatikan beliau dengan baik. Karena hal tersebut menyangkut masa depan kita semua.
            “Sepatutnya kalian bersyukur karena kalian masih diberi kesempatan oleh guru-guru menempuh pendidikan di madrasah ini. Kami dewan guru telah selesai melaksanakan rapat pleno selama dua hari penuh, dan cukup sulit untuk memutuskan hasil akhirnya terutama untuk kelas sebelas.“
            Setelah itu Ibu Nur menjelaskan apa saja yang harus kita lakukan sebagai syarat agar naik kelas, pertama kita diminta untuk membuat surat pernyataan yang nantinya akan dibaca oleh orangtua ketika pengambilan rapor, lalu surat tersebut harus ditandatangani materai senilai Rp 5000. Selain itu, hal yang paling penting adalah orangtua diwajibkan untuk hadir dalam pengambilan rapor. Bagi orangtua yang tidak bisa hadir diharapkan untuk lapor kepada kepala madrasah.
o0o
            Hari ini hari Sabtu, setelah kesana-kemari mencari tiket kereta. Akhirnya ayahku bisa hadir untuk mengambil rapor. Biasanya aku mengambil rapor di kelas, tapi untuk kali ini aku harus mengambil rapor langsung di hadapan WAKAMAD Kurikulum.
            Semua orangtua siswa telah hadir di ruangan. Lalu ibu Nurhayati membuka pertemuan. Beliau menjelaskan bahwa siswa yang sedang berada di hadapan Ibu Nur adalah siswa yang naik kelas dengan syarat. Syaratnya adalah siswa diharuskan untuk melakukan bimbingan dengan gurunya masing-masing selama liburan sesuai dengan pelajaran masing-masing. Siswa juga akan diberi tugas yang harus diselesaikan ketika liburan. Tugas tersebut akan dikirim lewat email. Dan yang paling penting adalah kelas percobaan dilaksanakan di semester pertama kelas dua belas hingga Ujian Tengah Semester. Jika nilai siswa secara keseluruhan di atas kriteria maka siswa tersebut dinyatakan lulus. Begitu juga sebaliknya.
            “Gapapa Mas, mungkin ini yang terbaik, yang penting Mas semangat belajarnya dan jangan lupa berdoa, mas pasti bisa,” nasehat ayahku.
            Rasa sedih bercampur haru menyelimuti hatiku, aku mengecewakan orangtuaku. Namun apa boleh buat mungkin ini yang terbaik. Aku yang dulunya selalu berada di peringkat atas sekarang aku termasuk jajaran orang yang tidak berprestasi bahkan bermasalah. Inilah hidup, kadang kita berada di atas namun kita juga pasti merasakan hidup berada di bawah. Seperti roda yang berputar.



[1] Ulangan Harian
[2] Nilai Kurang

1 komentar:

  1. ini kisah beneran atau sekedar cerpen?
    sedih banget. Brapa persen tiap tahun yg kena DO di IC serpong?

    BalasHapus