Seperti Roda yang Berputar
Oleh Adi Sasmito Aji
“Lakukan
yang terbaik, masalah hasil serahkan pada Allah swt”
Tahun
ini bukan tahun biasa, aku menyebut tahun ini sebagai tahun
kesedihan. Tahun di mana aku diuji atas nikmat yang telah
diberikan-Nya kepadaku sebelumnya. Apakah aku bersyukur ataukah kufur. Bukan
karena ayah dan ibu yang telah dipanggil oleh-Nya, seperti Rasulullah saw. Bukan juga karena pamanku yang tertimpa musibah asap yang terjadi
di Riau, tapi kesedihan yang menerpa diriku adalah kesedihan karena aku belum
bisa menyadari bahwa di atas langit masih ada langit.
Dulu aku merupakan
siswa madrasah yang cukup berprestasi, tidak pernah absen dari peringkat satu
kelas. Aku bukan siswa sembarangan di sekolahku. Aku
adalah siswa kelas akselerasi, kelas percepatan. Tidak semua siswa bisa
diterima di kelas yang satu ini. Kelas elit yang sering dibicarakan oleh
orang-orang atas kepintaran penghuninya, namun sekarang hal itu hanyalah
kenangan belaka. Di sekolahku yang baru tidak ada perbedaan antara siswa yang
berasal dari akselerasi dan bukan. Tidak ada perbedaan antara siswa yang pintar
dan bukan karena semua siswa di sekolah ini merupakan siswa pintar.
Secara tidak sadar aku telah sombong akan kepintaranku. Hal buruk terjadi padaku,
ketika aku sedang menempuh pendidikan setingkat SMA di sekolahku yang baru,
secara perlahan aku merasa menjadi manusia yang paling bodoh. Detik demi detik
kepintaranku terus berkurang, sampai akhirnya aku merasakan posisi yang
dirasakan oleh teman akselerasiku yang hampir di drop out oleh sekolah
karena nilai yang tidak memenuhi kriteria yang ditentukan. Hidupku yang dulu
selalu bahagia berubah menjadi kosong seperti ruangan hampa udara yang tidak
bisa dilalui oleh satupun gelombang suara.
Semua ini bermula sejak ulangan
harian mata pelajaran Matematika untuk pertama
kalinya. Aku yang tidak pernah remedial Matematika sebelumnya,
bahkan sering menjuarai event- event olimpiade di bidang Matematika, mendapatkan nilai 50 di sekolah baruku.
Hal tersebut merupakan prestasi yang sangat menyayat hati. Bagaimana tidak,
nilai 50 merupakan nilai yang sangat rendah untukku, aku tidak percaya bahwa sekarang kepintaranku hilang begitu saja.
Usaha demi usaha aku lakukan. Namun
tetap saja hasilnya nihil. Sejak saat itu aku menjadi seseorang yang pesismis
untuk berprestasi.
Waktu demi waktu berlalu, prestasiku
semakin menurun. Dari Matematika menjalar ke pelajaran lainnya. Aku tak tahu
mengapa aku begini sekarang, semangat belajarku menurun drastis, aku sulit
untuk mengatur waktu, aku sulit untuk memahami pelajaran di kelas, aku sulit
untuk menghafal pelajaran, aku sulit untuk bisa fokus, dan yang paling parah
adalah kedisiplinanku yang semakin berkurang hari demi hari.
o0o
Minggu ini akan diadakan Ujian Akhir
Semester (UAS) dua, hasil ujian ini akan menentukan apakah siswa naik kelas
atau tidak. Aku tidak tahu apakah aku akan menjadi salah satu siswa yang akan
dikembalikan ke orangtua (re: drop out). Hal yang pasti kulakukan adalah aku akan berusaha semaksimal mungkin
agar aku bisa naik kelas. Sangat sayang jika aku dikeluarkan di akhir tahun kedua pendidikan menengah atas ini.
Seperti di ujian-ujian sebelumnya,
sebelum ujian dimulai, aku selalu meminta restu kepada kedua
orangtuaku. Perjuangan kita, usaha kita bukanlah apa-apa jika kedua orangtua
kita tidak meridhai apa yang kita kerjakan. Tercantum dalam hadis nabi saw. bahwa ridha Allah bergantung pada ridha orangtua. Aku
pernah mengalami hal buruk dengan kata ridha. Setelah lulus pendidikan
menengah pertama aku memiliki keinginan untuk bersekolah di salah satu madrasah
di kota Malang, lalu aku bertanya pada ibuku “Bu, Aku pengen sekolah di MAN 3 Malang,
menurut Ibu gimana? ” ibuku tidak langsung menjawab, beliau berfikir sejenak.
“Kita
tidak punya keluarga dekat di Malang Mas, Mas Aji yakin
mau sekolah di sana? Di Malang itu pergaulan remaja sangat bebas, Ibu gak mau
kamu terpengaruh,“ begitulah jawaban ibuku.
Aku
menyadari bahwa ibuku belum bisa ridha jika aku bersekolah di kota
Malang.
Sebenarnya aku telah mendaftarkan
diri ke salah satu madrasah di Tangerang Selatan. Yang membuat aku heran adalah
Tangerang Selatan merupakan salah satu kota yang maju dan pesat perkembangannya
di daerah Banten, seharusnya pergaulan di kota yang dulunya bagian dari
Kabupaten Tangerang ini lebih bebas daripada di Malang, namun kedua orangtuaku
merestui jika aku bersekolah di madrasah tersebut. Memang sih madrasah ini
bukan madrasah sembarangan, madrasah yang didirikan oleh Bapak mantan presiden
kita, Bapak B.J. Habibie, adalah madrasah yang termasuk dalam 10 sekolah
terbaik di Indonesia. Dari ribuan orang yang mendaftar hanya 120 orang yang
nantinya akan diterima di madrasah ini. Orangtuaku sangat mendukung jika aku
bersekolah di madrasah ini, madrasah aliyah berbeasiswa bagi seluruh siswa
mulai dari asrama, makan, dan biaya pendidikan. Sangat menggiurkan bukan? Tapi
ingat uang yang digunakan untuk membiayai siswa madrasah aliyah ini adalah uang
rakyat, dalam pelaksanaannya, tentunya siswa diharapkan ketika dewasa kelak
mereka akan menjadi pemimpin bagi negeri ini, serta bisa membawa negara ini
menjadi negara yang maju tidak hanya dalam IPTEK tapi juga dalam hal akhlak.
Oleh karena itu siswa di madrasah ini akan dituntut dengan banyak hal, mulai dari tata tertib yang sangat ketat hingga beban pelajaran
yang tidak biasa. Artinya, siswa tidak hanya belajar seperti
di sekolah-sekolah lain, namun seluruh siswa akan dituntut dengan tugas-tugas
yang lebih serta materi-materi yang setingkat di atas materi SMA normalnya.
Pada suatu ketika, ada salah satu guru bimbingan dan konseling di sekolahku yang
menawariku untuk mendaftar ke MAN 3 Malang. Tanpa restu dari kedua orangtuaku aku
mendaftarkan diri ke sekolah tersebut. Setelah aku selesai mengurusi seluruh
berkas lalu aku bilang ke kedua orangtuaku.
“Yah aku ikut daftar ke MAN 3
Malang, persyaratannya sudah tak siapkan. Tinggal berangkat tes,“
“Loh kok gak
bilang-bilang, paling nggak akan ayah bisa bantu. Terus biaya pendaftarannya gimana? “ jawab Ayahku.
“Enggak yah, aku ngurusin berkasnya
bareng temen-temen jadinya gampang. Biaya pendaftarannya aku lupa yah, nanti aku
tanya ke guru BK dulu.”
“Oh ya udah deh, nanti kalau butuh uang atau apa aja yang dibutuhin bilang aja
ke ayah.”
“Siip, Yah.”
Berbeda
dengan ibuku, ayahku tidak terlalu memermasalahkan jika aku bersekolah di MAN 3
Malang. Beliau percaya bahwa anaknya bisa menjaga diri dengan baik di manapun
anaknya berada. Karena beliau telah mendidik anaknya dengan baik sejak kecil.
Hari
demi hari berlalu, aku berangkat ke Malang untuk melakukan tes. Telah ada salah
satu teman sekelasku yang diterima di MAN 3 Malang, tapi dia melalui jalur
penerimaan siswa yang berbeda denganku. Sore hari aku sampai di rumah salah
satu keluarga temanku di Malang. Keesokan harinya aku mengikuti tes tulis di
sana, tes berlangsung selama dua hari. Aku merasa soal tes masuk MAN 3 Malang
tidaklah susah, aku yakin aku akan di terima.
Setelah
beberapa minggu menunggu akhirnya hasil tes tulis penerimaan siswa baru MAN 3
Malang diumumkan. Aku tidak sabar ingin mengetahui hasilnya. Namun akhirnya
kekecewaan yang besar melandaku, salah satu temanku yang juga mengikuti tes
bilang bahwasannya tidak ada satupun dari kita yang diterima di MAN 3 Malang.
o0o
Aku adalah siswa jurusan IPA, aku
tak tahu mengapa aku bisa masuk ke jurusan IPA. Padahal nilai raporku saat kelas sepuluh tidak memeuhi kriteria untuk masuk jurusan IPA.
Lagi-lagi nilai Matematika penyebabnya. Namun berkat guru Matematikaku yang
baik aku bisa melanjutkan sekolah ke jurusan yang aku inginkan. Ketika penerimaan
rapor akhir kelas sepuluh datanglah Ibu Rita kepadaku dan berkata kepadaku “Nilai
Matematikamu saya naikkan, kamu masuk jurusan IPA, tapi kamu harus janji di
tahun kedua kamu harus belajar lebih giat. Ibu tidak mau ada pembahasan
mengenai nilai Matematikamu waktu rapat pleno guru tahun depan.”
Seketika perasaan syukur dan haru
menyelimuti hatiku pada waktu itu, namun sayang aku tidak bisa menepati
janjiku. Selama kelas sebelas aku selalu remedial tiap ulangan harian Matematika,
bahkan nilai Ujian Tengah Semesterku di bawah Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM). Hal tersebut
pastinya mengancam keberadaanku di Insan Cendekia. Parahnya lagi tidak hanya
pelajaran Matematika, hal yang sama terjadi pada pelajaran Kimia dan Fisika.
o0o
Ujian-ujian telah aku lalui, kelas
sebelas merupakan tingkatan yang paling sulit untuk dilalui, aku tidak hanya
dituntut untuk belajar tetapi juga dituntut untuk berorganisasi. Tidak mudah
untuk mengatur waktu. Dua hari yang lalu aku telah selesai melaksanakan UAS,
dan hasilnya tidak ada harapan lagi untukku agar bisa melanjutkan pendidikan di
sekolah super ini. Setelah dihitung-hitung nilai raporku tidak memenuhi
persyaratan kenaikan kelas. Maka dari itu mau tidak mau aku harus pulang,
begitulah teorinya.
Namun hal tersebut tidak akan
terjadi begitu saja, dalam sejarahnya MAN Insan Cendekia Serpong tidak akan
mengeluarkan siswanya yang bermasalah dalam nilai begitu saja. Akan ada rapat
pleno seluruh guru, rapat ini adalah rapat yang menentukan apakah siswa
naik kelas (lulus) atau tidak, terutama untuk siswa yang bermasalah dalam
nilai. Ada banyak hal yang akan dipertimbangkan oleh guru dalam menentukan
kelulusan, di antaranya adalah akhlak siswa, kerja keras siswa, serta kemauan
siswa dalam belajar. Hal tersebut akan menjadi celah yang dapat dimanfaatkan
siswa yang bermasalah dalam nilai, termasuk aku.
o0o
Masih
ada beberapa hari sebelum rapat pleno, aku berusaha untuk mendapatkan hati para
guru. Terutama guru mata pelajaran Fisika, Matematika, Biologi, dan Kimia.
Sebelumnya aku telah disarankan -- lebih tepatnya diperintah -- oleh wali
kelasku agar meminta bimbingan kepada guru yang bersangkutan atas nilai Ujian Tengah
Semesterku yang jelek. Namun aku tidak begitu menghiraukan. Sampai pada suatu
waktu ketika mendekati UAS guruku bertanya, “Gimana bimbingannya, udah ketemu
sama gurunya, kan?“ aku tidak bisa menjawab apa-apa. Aku merasa sangat bersalah
kepada beliau, karena tidak menghargai beliau yang telah membuatkan surat
rekomendasi bimbingan kepada guru yang bersangkutan.
Apa
boleh buat, dalam waktu yang kurang dari satu minggu aku harus bisa
mengusahakan nilaiku yang jelek. Sore ini aku pergi ke ruang guru untuk menemui
guru Fisika, aku ingin berkonsultasi dengan beliau.
“Assalamu’alaikum,
Ibu!” sapaku.
“Wa’alaikumsalam,
eh Adi. Ada apa, Di?” Jawab Ibu Elly.
“Sebelumnya
saya minta maaf Bu karena ganggu, saya ingin konsultasi mengenai nilai saya Bu,
nilai UTS saya kurang bu, kira-kira bisa diperbaiki gak, Bu?”
“Maaf
Di, kalo untuk nilai UTS, ibu nggak bisa berbuat apa-apa, nilai itu di bawah
wewenang kurikulum, coba kamu tanya ke kurikulum aja deh.“
“Hmmm
gitu ya Bu, makasih, Bu.”
“Iya
Di, sama sama.”
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Usaha pertamaku gagal, aku tidak
bisa memperbaiki nilai UTS-ku. Aku lalu berusaha mendatangi
guru lainnya, namun aku menerima jawaban yang sama dengan sebelumnya. Ah,
sudahlah apa boleh buat, kataku dalam hati.
o0o
“Eh, gimana nilai UAS lu?” tanyaku kepada salah satu temanku.
“Nilai gua jelek nih, nilai UTS sama UH[1] Fisika gua juga jelek, gua takut gak naik kelas,” keluh Dimas.
“Nilai gua juga Dim, solusinya
gimana ya? Gua udah nyoba dateng ke guru
tapi nilai UTS memang gak bisa diperbaikin
sih.”
“Iya Dim, gua takut banyak yang gak
naik kelas nih, termasuk gua.”
“Tenang Di, insya Allah ntar kita bakal tau
solusinya kok.”
***
Mengetahui
banyak dari temannya yang mendapatkan nilai kurang, Haqi sang ketua angkatan sembilan
belas mencoba untuk menghadap ke Ibu Nur, dia ingin berkonsultasi serta meminta
agar teman-teman yang nilainya kurang diberi kesempatan untuk memerbaiki nilai.
Permohonan Haqi dikabulkan, siswa kelas sebelas yang jumlahnya hampir 20 orang
mengikuti tes perbaikan untuk UTS. Dan sebagian besar dari mereka
berhasil mendapatkan nilai rapor di atas KKM.
Namun
hal yang berbeda terjadi pada diriku, nilaiku masih tetap di bawah KKM. Tidak hanya Fisika, namun juga Matematika. Esok
adalah hari di mana rapat pleno dilaksanakan. Aku hanya bisa menunggu hasil
rapat tersebut apakah aku akan lulus atau tidak, pada saat itu aku merasa
sebagai orang yang paling rendah dan bodoh di sekolahku, aku berpikiran bahwa
aku akan pulang. Aku hanya bisa berdoa kepada Sang Kuasa memohon hasil yang terbaik.
Rapat
pleno berlangsung selama dua hari. Pada siang hari di hari kedua Haqi
mengumpulkan angkatan. Acara kumpul kali ini adalah untuk membahas mengenai
pergantian ketua angkatan. Di sela-sela kumpul ada yang membicarakan mengenai
hasil rapat pleno. Hatiku semakin bergetar. Aku takut aku benar-benar akan keluar
dari sekolah ini. Ternyata hasilnya adalah sebaliknya, tidak ada satupun yang
akan dikeluarkan dari kelas sebelas. Aku sangat bersyukur mendengar hal
tersebut, namun berita tersebut belum pasti. Aku harus menunggu hasil yang
sebenarnya dari guru.
o0o
Tidak
lama setelah rapat pleno dilangsungkan, ada pengumuman bahwa ada beberapa orang
dari angkatanku yang di panggil oleh Ibu Nur, Wakil Kepala Madrasah (WAKAMAD)
Bidang Kurikulum. Kita diharapkan untuk hadir esok hari tepat jam 8 pagi di
gedung pendidikan lantai satu. Salah satu orang tersebut adalah aku.
Keesokan
harinya aku mendatangi gedung pendidikan lantai satu. Sembari menunggu aku
mencoba untuk mengurangi kesedihanku dengan ngobrol bersama teman yang
sama-sama dipanggil oleh Ibu Nur.
“Eh, ngomong-ngomong kita dipanggil buat ngapain
sih?”
“Gatau tuh, kata Haqi mau
ngomongin masalah naik bersyarat gitu.”
“Hah? Naik
bersyarat?” dalam hati aku merasakan perasaan sedikit bahagia. Hal tersebut
menandakan bahwa berita tidak ada satupun dari kita yang akan dipulangkan
adalah benar.
Tidak lama kemudian Ibu Nurhayati
bersama Ibu kepala madrasah Ibu Persahini datang dan masuk ke salah satu kelas,
kita diminta untuk memasuki kelas tersebut. Mereka berdua
membuka pertemuan lalu membagi kita menjadi 2 kelompok.
“Tolong kalian serius dalam
pertemuan ini, kalian tahu kan kenapa kalian dikumpulkan disini?” ucap
Ibu Nur.
Semua siswa dalam ruangan diam tanpa
kata. Aku sudah tahu dari analisisku sebelumnya bahwa pertemuan ini pasti
menyangkut tentang kenaikan kelas. Setelah itu Ibu Nur mengabsen dan beliau
meminta agar semua memperhatikan beliau dengan baik. Karena hal tersebut
menyangkut masa depan kita semua.
“Sepatutnya kalian bersyukur karena
kalian masih diberi kesempatan oleh guru-guru menempuh pendidikan di madrasah
ini. Kami dewan guru telah selesai melaksanakan rapat pleno selama dua hari
penuh, dan cukup sulit untuk memutuskan hasil akhirnya terutama untuk kelas
sebelas.“
Setelah itu Ibu Nur menjelaskan apa
saja yang harus kita lakukan sebagai syarat agar naik kelas, pertama kita
diminta untuk membuat surat pernyataan yang nantinya akan dibaca oleh orangtua
ketika pengambilan rapor, lalu surat tersebut harus ditandatangani materai senilai
Rp 5000. Selain itu, hal yang paling penting adalah orangtua
diwajibkan untuk hadir dalam pengambilan rapor. Bagi orangtua yang tidak bisa
hadir diharapkan untuk lapor kepada kepala madrasah.
o0o
Hari ini hari Sabtu, setelah
kesana-kemari mencari tiket kereta. Akhirnya ayahku bisa hadir untuk mengambil
rapor. Biasanya aku mengambil rapor di kelas, tapi untuk kali ini aku harus
mengambil rapor langsung di hadapan WAKAMAD Kurikulum.
Semua orangtua siswa telah hadir di
ruangan. Lalu ibu Nurhayati membuka pertemuan. Beliau
menjelaskan bahwa siswa yang sedang berada di hadapan Ibu Nur adalah siswa yang
naik kelas dengan syarat. Syaratnya adalah siswa diharuskan untuk melakukan
bimbingan dengan gurunya masing-masing selama liburan sesuai dengan pelajaran
masing-masing. Siswa juga akan diberi tugas yang harus diselesaikan ketika
liburan. Tugas tersebut akan dikirim lewat email. Dan yang paling penting
adalah kelas percobaan dilaksanakan di semester pertama kelas dua belas hingga Ujian Tengah Semester. Jika
nilai siswa secara keseluruhan di atas kriteria maka siswa tersebut dinyatakan
lulus. Begitu juga sebaliknya.
“Gapapa Mas, mungkin ini yang terbaik, yang penting Mas semangat belajarnya dan jangan lupa berdoa, mas pasti bisa,” nasehat ayahku.
Rasa sedih bercampur haru
menyelimuti hatiku, aku mengecewakan orangtuaku. Namun apa boleh buat mungkin
ini yang terbaik. Aku yang dulunya selalu berada di peringkat atas sekarang aku
termasuk jajaran orang yang tidak berprestasi bahkan bermasalah. Inilah hidup,
kadang kita berada di atas namun kita juga pasti merasakan hidup berada di
bawah. Seperti roda yang berputar.

ini kisah beneran atau sekedar cerpen?
BalasHapussedih banget. Brapa persen tiap tahun yg kena DO di IC serpong?