Minggu, 20 Maret 2016

Sakura Tak Berwarna
Oleh Rodhiyah Nur Zulaikhoh


“Terlalu banyak hal yang tak kasat mata di dunia ini, tapi jangan pernah berhenti untuk terus ber-husnudzon. Karena sungguh tiada hal yang lebih indah di dunia ini melainkan skenario kehidupan dari-Nya.”
Isakan tangis dan jeritan yang terdengar begitu memilukan hati terus menggema di penjuru kuil tua Kota Honshu. Suasana temaram yang menggantung di langit-langit berdebu menambah keangkeran tempat peribadahan tertua di kota ini. Dengan susah payah aku berlari mencari tempat di mana tangisan itu berasal. Ya, tangisan itu milik Natsumi. Seorang gadis malang yang menarik diri dari lingkungan sosial dan pergaulan pada umumnya karena trauma akan pahitnya kisah keluarga kandungnya. Semakin dekat dengan sumber suara, semakin deras keringat dinginku bercucuran, semakin berat pula langkah kaki yang kurasakan.


Kini dengan peluh yang terus menetes, aku sudah berdiri di depan pintu ruang pemujaan. Aku yakin sekali Natsumi ada di sana. Tanpa pikir panjang, segera kubuka pintu ruangan ini. Tidak bisa! Apa yang terjadi dengan pintu ini? Selagi aku berusaha mencari cara agar bisa membuka pintu ini, tangisan Natsumi di dalam semakin histeris. Ia berteriak kesakitan. Pintu pun akhirnya terbuka setelah tendangan superku mengenainya. Aku segera memasuki ruangan tanpa basa-basi. Hah? Makhluk itu? Karena kaget, aku berteriak dan berusaha menggapai tangan Natsumi untuk membawanya pergi menjauhi makhluk terkutuk yang sedang menerkamnya. Tapi, entah kenapa tanganku susah sekali untuk digerakkan. Berat, berat, dan semakin berat. Arrghh, tidaaaaakkk!
o0o
Deru angin musim semi mengalun merdu menyambutku ketika mata ini sempurna terbuka, menatap langit-langit kamar bercat putih yang terlihat mulai mengelupas. Untung saja aku dapat segera menguasai diriku dari mimpi yang baru saja menghantui tidurku, tidak sampai kaget atau bersuara, apalagi berteriak. Sudahlah, sudah tak terhitung lagi berapa kali aku memimpikan hal semacam itu semenjak aku memutuskan untuk menyelamatkan teman malangku itu dari keterpurukan.
 Kulirik ranjang samping dan bawah tempatku. Kosong. Dengan rasa pusing yang masih menggantung di ubun-ubun, kupaksakan tubuhku bangkit hingga menuruni anak tangga ranjang ini satu per satu. Namun, belum sempat kaki kananku menyentuh permukaan lantai, tiba-tiba cengkeraman dingin menyambut betis kiriku.  Ah, ini lagi, ini lagi. Kumohon, hari ini adalah hari pertama sekolah, kawan! Jangan memperburuk keadaan, pikirku.
Plak! Kukibaskan kaki ku demi menolak sambutan cengkeraman itu tanpa melihat siapa pemiliknya. Suara aduhan segera terdengar dari mulut si anak. Tanpa mempedulikannya, aku terus berjalan menjelajahi koridor mencari satu barang yang sangat aku butuhkan kali ini. Handuk. Tunggu! Di mana kain kuning bergambar spongebob milikku itu? Aku yakin sekali tak pernah salah menempatkan handuk itu. Di hanger merah, berpitakan kuning. Tapi, kali ini benda itu tak tersampir di sana. Dengan keadaan yang masih remang-remang, kupaksakan mata ini terbuka lebar, berkonsentrasi penuh agar bisa menemukan sehelai kain yang sedang kubutuhkan itu di antara warna-warni kain lain yang bergantungan di tempat ini.
Sekian lama aku mengaduk-aduk tempat ini, tetap saja aku tak dapat menemukan benda tersebut. Karena tak sabaran, akhirnya aku memutuskan untuk mandi tanpa menggunakan kain kuning itu.  Aku kembali menyusuri koridor asrama yang mulai dipenuhi anak-anak yang telah berseragam, pertanda sebentar lagi jam menunjukkan pukul setengah tujuh. Oke, tinggal aku sendiri yang masih kumal dan kusut seperti ini.
Belum sempat aku menapakkan kaki di lantai kamar mandi yang terlihat mulai sepi, suara kegaduhan dan jeritan yang sepertinya bersumber dari lobi depan sukses menyita perhatianku. Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari menuju sumber suara. Bukan karena kegaduhannya -karena disini memang tiada hari tanpa jeritan dan tangisan-, tapi pemilik jeritannyalah yang kini membuatku berada di tengah-tengah kerumunan anak-anak yang sedang bertepuk-tangan menyemangati. Hah, itu handukku? Apa yang sedang dilakukan Natsumi hingga seperti ini?
“Natsumi! Hentikan!” segera ku tarik lengannya keluar dari lingkaran yang terus bersorak-sorai ini.
Ah, gagal. Karena yang ditarik malah terus berteriak tak mengindahkan. Tak kuasa aku menghentikan perkelahian ini, akhirnya aku hanya bisa berharap semoga guru (psikiater) kami segera datang menenangkan. Benar saja, kak Ayane akhirnya datang bersama dua rekannya. Kulihat muka masam Natsumi setelah si lawan berhasil merebut handuk spongebob itu dari dekapannya. Dibawanya kain itu pergi menjauh, setelah melemparkan senyum penuh ejekan ke muka Natsumi. Keadaan segera terkendali, anak-anak bubar menjauh menuju kantin untuk sarapan. Namun beberapa masih saling memukul memeragakan kejadian tadi, bahkan ada juga yang mencoba menjambak rambut panjangku. Baiklah, aku sudah terbiasa dengan hal ini. Untuk menyelamatkan Natsumi keluar dari tempat ini, memang dibutuhkan perjuangan yang ekstra, pikirku.
Keadaan lobi pun melengang. Hanya tersisa diriku yang segera bangkit menata kembali pikiran setelah kak Yuri mengomel panjang, mempertegas bahwa hari ini adalah hari pertama sekolah. Dia mengantarkanku ke kamar dan menyiapkan seragam sekolahku.
“Akira, ini seragam hari ini. Ini rok dipakai di bawah ya. Sudah diajarkan bagaimana cara memakainya, kan? ” pertanyaan kak Yuri yang kupikir konyol itu hanya terbalas oleh senyuman dan acungan jempol dariku.
Beginilah, aku harus terus bertingkah layaknya anak abnormal yang lain demi menjaga misi penyamaranku ini.  Aku pun segera merapikan diri dengan cepat dan melesat ke ruang kelas yang terletak tidak jauh dari asrama kami.
o0o
“Kakaaak, dia jahat. Itu pensil aku di.. diambil Yoshiko..”
“Aaa, jangaann..saaakit”
“Ini Kakaak, aaa-aa, ayah, dan.. dan Haruuka..”
Seperti inilah suasana kelas ku tiap harinya. Teriakan, pukulan, pertengkaran kecil hingga tinju-tinjuan kelas teri semuanya ada. Dua orang psikiater nampaknya agak kewalahan menghadapi tingkah laku anak-anak berkebutuhan khusus yang bersekolah di sini. Ditambah lagi, hari ini adalah hari pertama sekolah semester ini. Semuanya kembali lagi seperti hari pertama kami sekolah, ketika pertama kali datang diantarkan oleh orangtua dua tahun yang lalu. Itulah kata kak Ayane yang terlihat capai ketika berteriak menghentikan semua kebisingan yang berlangsung di kelas. Tentu saja aku sudah lumayan bisa beradaptasi dengan lingkungan yang tak pernah terbayangkan sedikit pun olehku ini. Bagaimana bisa? Mudah saja.
Di sinilah sekarang aku berada, dan seperti inilah hal yang kulakukan setiap kali berada di kelas, demi keberhasilan penyamaranku, aku hanya duduk di pojokan kelas, mencorat-coret, menggambar sesuatu yang tidak jelas, tertunduk dalam diam dan hanya sekali-kali melemparkan pandangan tak berdosa setiap kali kakak psikiater melihat tingkahku. 
“Kamuu, ayo beli makanan.. banyak makanan enak di kantin. Ayooo..!!” seorang anak berambut semampai tiba-tiba menarik lengan seragamku sampai-sampai aku hampir terjungkal dari bangku kayu ini.
Tak mengerti dengan maksudnya, aku hanya kembali menarik diri dan menggelengkan kepala tanda tak mau. Dengan ekspresi konyol yang selalu tersemat dalam wajah.
“Kenapaa? Kenapa enggak mau sih? Nih lihat, aku punya banyak uaaang, loh,” ia pun menunjukkan beberapa lembar uang mainannya ke arahku, bertingkah laku dan berekspresi bak jutawan.
Hampir saja aku tertawa, tapi segera saja kudorong tubuhnya menjauhi tempatku. Untung saja yang didorong tak melawan, hanya menggerutu tak jelas sambil berlari menuju ke luar kelas. Kau kira aku juga bodoh akan membeli makanan dengan uang mainan? Celetukku dalam hati.
Tak ambil pusing dengan semua tingkah teman-temanku yang tak lazim tersebut, kali ini aku hanya diam melihat ke arah luar jendela, kembali memandangi indahnya pemandangan di luar sana. Oh, anggun sekali sakura yang mulai bermekaran itu, gumamku seraya tersenyum.
Selagi aku melihat rona indah bunga sakura lewat jendela kelas, tiba-tiba kursi kayu yang ada di sampingku berdecit. Bersamaan dengan hal tersebut, sentuhan tangan kecil nan dingin dengan sempurna mendarat di pundak kanan ku. Ah, ini pasti dia.
Karena aku hafal sekali siapa pemilik tangan itu, tanpa kaget atau pun bertanya terlebih dahulu, dengan segera aku pun menolehkan wajah ke arahnya.
“Hai Natsumi! Mau berbicara sesuatu kah padaku?” sapaku tanpa basa-basi. Sebisa mungkin aku menyematkan senyuman terbaikku untuk Natsumi. Memang inilah yang harus dan selalu aku lakukan padanya. Wajah ceria, senyuman terbaik. 
Namun, apa yang aku tanyakan ternyata tidak mendapat respon seperti apa yang aku inginkan. Karena tidak ada jawaban selama hampir sepuluh detik, senyumku pun perlahan memudar. Natsumi hanya menatap mataku lekat-lekat dengan tatapan yang tak dapat aku tebak apa maksudnya. Hening. Aku yang kebingungan pun mulai khawatir dengan keadaan Natsumi kali ini. Karena biasanya, jika Natsumi mulai bertingkah seperti ini, penyakitnya akan kembali kambuh tak terkendali. Berteriak-teriak hingga membuang segala sesuatu yang ada di tangannya. Karena kali ini Natsumi telah mencengkeram erat pergelangan tangan kananku, kekhawatiranku pun segera memuncak hingga berganti dengan ketakutan. Di tangan kirinya, tergenggam sebuah rautan pensil yang berwarna kehijau-hijauan. Apakah Natsumi ingin meraut jari mungilku? Ah, tidak mungkin. Pikiranku tentangnya mulai berkecamuk. Hai Natsumi, ayolah katakan apa yang kau inginkan! Hatiku pun mulai memprotes.
Selama hampir tiga menit jantungku berdegub karena tingkah Natsumi, kali ini ia mengajakku berdiri tanpa kata. Tatapan matanya yang awalnya aneh pun mulai memudar. Cengkeramannya tak lagi dingin. Dengan tangan yang masih menggamit pergelanganku, kali ini Natsumi memberikan tatapan yang aku terjemahkan bahwa sepertinya ia ingin mengajakku ke suatu tempat. Ya, tak salah lagi. Setelah berhasil mengelabui seorang psikiater penjaga pintu kelas, sekarang aku dan Natsumi berada tepat di samping sebuah ruangan pos satpam penjaga sekolah. Dengan mengendap-ngendap, kami pun akhirnya berhasil melewati gerbang sekolah setelah berhasil mengelabuhi para satpam yang mudah terkelabuhi tersebut dengan jeritan histeris salah seorang siswa yang sedang bermain di sisi belakang ruangan penjaga.
o0o
Semenjak Natsumi menggamit pergelangan tangan kananku di kelas, aku tak bertanya apa pun lagi kepada Natsumi. Karena apa yang dia lakukan sekarang sejalan dengan rencana dan misi penyelamatan yang sudah lama aku rencanakan. Kabur dan membawanya pergi jauh dari sekolah. Sebab kupikir lingkungan sekolah dan para psikiater yang mayoritas bertingkah kejam tidak cocok untuk keadaan sahabat malangku itu.
Dan sekarang, disinilah kami berada. Duduk di atas rerumputan hijau dengan bunga warna-warni yang terhampar luas bertebaran di sana-sini. Di mana lagi kalau bukan di Taman Bunga Kuriyama. Aku dan Natsumi mengambil posisi menghadap ke arah aliran sungai yang mengalirkan air jernih menyejukkan mata. Aliran arusnya membuat hati tenang. Lagi-lagi tanpa bertanya, aku sudah mengerti mengapa dia mengajakku ke tempat ini.  Kala kecil, Natsumi dan aku sering bermain di sini, berlari mengejar kupu-kupu hingga memunguti kelopak sakura yang berjatuhan. Aku ingat sekali dengan semua kenangan masa kecil itu. Dan yang paling penting, semua peristiwa tersebut kami lalui bersama dengan ibu kami. Berbeda dengan aku yang hingga kini masih bisa merasakan dekapan dan kasih sayang ibu, Natsumi hanya bisa menggigit jari jika mengingat kenangan indah bersama ibunya yang berganti kelam setelah suatu peristiwa menyakitkan itu terjadi.
Otou-san...” ku lirik wajah Natsumi yang telah menunduk setelah mengeluarkan satu kata tersebut dengan lirih.
Cahaya matahari sore yang menerpa wajah tirus Natsumi kembali membuatnya terlihat seperti anak kecil tujuh tahun yang merindukan kehadiran sesosok ibu. Natsumi bangkit dan mulai bergumam tak jelas. Aku pun mengikutinya. Bangkit dan memerhatikan apa yang dilakukan Natsumi sekarang. Dengan tangan yang sedikit gemetar, kusentuh pundak Natsumi yang sedang terisak di bawah sebuah pohon di sudut taman.
Belum sampai aku menyentuhnya, tiba-tiba Natsumi membalikkan badan dan berteriak lantang dengan air mata yang terus berlinangan di wajahnya.
Otou-san, jahaaaatt.. Natsumi benci! Natsumi enggak akan kembali ke otou-san lagi. Natsumi benciii otou-san!” teriaknya histeris hingga suaranya pun terdengar serak.
Karena kaget, aku hanya menutup mulutku tanpa berkata apa pun. Tapi kali ini, aku mulai memegang bahu Natsumi karena ia mulai menendang-nendang batu yang ada di dekat kakinya. Dengan masih terisak dan berteriak, Natsumi terus menendang batu itu dengan kakinya yang tanpa alas kaki apa pun. Khawatir terluka, aku pun segera menarik Natsumi bangkit dan menjauhi taman bunga ini. Aku berpikir bahwa mungkin Natsumi teringat semua kisah masa lalunya hingga penyakit traumanya kambuh kembali. Aku pun memutuskan untuk membawanya kembali ke asrama. Matahari mulai kembali ke peraduannya hingga kegelapan pun mulai menyelimuti sudut Kota Honshu ini. Kupikir Natsumi harus segera meminum obat anti-psikotik yang seharusnya diminumnya siang ini. Baiklah, misi untuk kabur pun tertunda untuk kali ini.
o0o
Akhirnya kami sampai di depan asrama, tepat saat mega merah yang menggantung di kolong langit mulai memudar hilang. Namun, suasana asrama kali ini sepertinya agak berbeda. Jika pada malam hari biasanya asrama kami lengang, kali ini terdengar celotehan dan teriakan beberapa anak dan kakak-kakak psikiater. Apalagi yang terjadi disini? Pikiranku yang mulai pusing enggan memikirkannya lebih jauh.
“Penjahatnya pulang,”
“Dasar pencuri, jahaaatt!”
“Kakak, ini dia orangnya..” seorang anak perempuan berkepang dua tiba-tiba menarik paksa lengan Natsumi dan membawanya ke kerumunan anak-anak yang berdengung dan bergumam tak jelas di ujung koridor sana.
Aku benar-benar bingung dengan keadaan asrama dan ekspresi anak-anak yang menyambut kedatanganku kali ini. Tapi kalau tidak salah, aku menebak telah terjadi sesuatu yang tidak beres disini, dan Natsumi dituduh sebagai pelakunya. Ah, Natsumi! Lagi-lagi takdir baik tak berpihak padamu.
Aku pun berjalan mendekati gerombolan anak-anak yang bergumam tak jelas di depan ruangan psikiater yang khusus menangani anak-anak yang bermasalah di sini. Karena penasaran, aku pun ikut melongokkan kepala ke dalam ruangan melalui jendela kecil yang bergorden merah ini. Beberapa anak mulai memukul satu sama lain karena sama-sama ingin melihat apa yang terjadi di dalam sana. Tak terkecuali aku juga yang tiba-tiba terjerembab jatuh karena dorongan salah seorang anak yang tepat mengenai lengan kiriku.
“Kamuuu! Dasar temennya penjahat! Sana pergiii!” yang mendorongku kini melirikku tajam dan memberikan tatapan yang tak kuketahui apa maksudnya.
Belum sempat aku menarik rambutnya guna membalas perkataanya, kak Yuri dan kak Ayane pun segera menggiring kami ke kamar masing-masing karena jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Waktunya tidur, katanya. Beberapa anak segera menurutinya, kembali ke kamar dan segera melupakan apa yang terjadi pada Natsumi malam ini. Namun, ada pula yang masih saling memukul dan menjambak satu sama lain.
Seraya bangkit dan menuju kamar, aku melirik ke dalam ruangan di mana Natsumi berada. Di sana, terlihat kak Amoto yang sedang memegang sebilah rotan dan dihadapkannya ke muka Natsumi. Apa yang akan dilakukannya pada Natsumi? Kekhawatiranku dengan cepat memuncak.
Aku pun segera menghilangkan pikiran negatif dan kemungkinan buruk yang mungkin akan dialami Natsumi malam ini. Tapi belum sampai pikiran itu hilang, tiba-tiba aku mendengar teriakan Natsumi yang menjerit kesakitan. Suaranya menggema di koridor asrama yang sudah benar-benar sepi. Kali ini, aku benar-benar khawatir dan takut akan keadaanya. Aku terus menyusuri koridor ini dan berjalan menuju kamar sambil menyusun rencana yang harus aku lancarkan malam ini juga demi keselamatan sahabatku yang kini meringkuk kesakitan di ruangan itu.
Aku masuk ke kamar dengan berhati-hati. Ternyata lampu tidur sudah dinyalakan pertanda anak-anak telah memulai petualangan alam mimpinya malam ini. Dengan perlahan dan tanpa suara, aku mengambil ransel biruku dan mulai mengemasi barang yang kuanggap penting untuk dibawa. Ya, aku harus membawa pergi Natsumi malam ini juga. Pikiranku semakin kalut, emosiku semakin tak teratur. Aku benar-benar tak tega mendengar tangisan memilukan itu.
Tepat saat aku memegang gagang pintu kamar untuk kubuka, music box milik Mayuki yang tergeletak di lantai tiba-tiba menyala mengeluarkan sinar merah dan lirih mengalunkan musik yang tak asing lagi kudengar setiap kali mendatangi upacara kematian di kota ini. Apa? kematian? Apa maksud dari alunan musik ini? Tanganku bergetar mendekati pemutar musik tersebut. Perlahan aku mematikannya dan sesegera mungkin berlari ke luar kamar dan segera menjelajahi koridor temaram yang mulai mendingin karena suhu malam dan tiupan angin musim semi.
Sudahlah, tak ada maksud apa-apa dari alunan musik itu! Sugesti itu terus kudendangkan demi menghalau pikiran-pikiran aneh yang mulai menyeruak tak terkendali. Dan tepat saat diriku mulai terkendali kembali, aku sudah berdiri tepat di depan ruangan di mana Natsumi berada. Kudekatkan telingaku ke celah sempit yang ada di daun pintu ruangan ini. Hening. Tak terdengar suara apa pun. Sepertinya, Natsumi sudah terlelap. Atau jangan-jangan? Karena tersentak kaget dengan pikiranku barusan, segera kubuka pintu itu setelah memastikan keadaan di sekitar ruangan dan koridor ini benar-benar aman. Rupanya, kak Amoto tidak mengunci ruangan ini. Pintu berdecit dan terbuka lebar, dengan cepat aku masuk ke dalam ruangan yang ternyata lumayan gelap ini. Mengapa tak ada lampu yang dinyalakan? Heranku seraya melihat seluruh sudut ruangan ini dengan tatapan penuh perjuangan karena tak ada selarik cahaya apa pun yang menerangi ruangan ini.
Sungguh tega sekali Kak Amoto menempatkan orang-orang yang bermasalah di tempat pengap dan gelap seperti ini. Semakin aku menelusuri sudut-sudut ruangan ini, bau anyir darah tiba-tiba menyeruak menusuk hidung. Darah? Benarkah ini bau darah? Dalam hitungan detik, jantungku pun berdegub mengalun tak karuan. Tapi di tengah ketakutanku akan bau darah tersebut, tiba-tiba,  Ah itu Natsumi! Teriakku dalam hati setelah melihat sosok yang duduk di pojokan ruangan dengan kepala tertunduk.
“Ssst, Natsumi! Kau kah itu? Bangunlah!” aku berjalan perlahan hingga tak menimbulkan suara sedikit pun dan mendekati tubuh yang sepertinya terlihat basah tersebut.
“Ayolah, bangun! Aku datang untuk membawamu pergi dari tempat terkutuk ini, Natsumi,” kusentuh pundak yang ternyata memang basah kuyup ini. Tak ada respon. Keheningan pun terjadi sesaat. Aku tak mungkin memaksanya berbalik badan, apalagi membopongnya.
“Natsumiii, “ kuulangi lagi panggilanku padanya. Kali ini suara serakku lebih aku lirihkan dari yang sebelumnya.
Masih tak ada jawaban darinya. Aku mulai bangkit dari posisi semula dari berlutut tepat di belakang Natsumi, menjadi berdiri sambil mengusap wajahku yang ternyata mulai basah oleh keringat. Apa yang sebenarnya terjadi? Kulirik sosok yang kuanggap sebagai Natsumi itu sekali lagi. Masih bergeming dan tertunduk dalam keheningan. Selama kurang lebih lima menit, aku berdiri mondar-mandir dengan pikiran yang benar-benar berkecamuk dan hati yang dipenuhi dengan rasa penasaran. Aku pun berbalik memalingkan badanku dari badan Natsumi, kembali berpikir dan menyusun rencana terbaik yang harus aku lakukan sekarang juga. Ya, sekarang juga! Di tengah konsentrasi pikiranku yang sedang menyusun strategi, tak kusangka tiba-tiba Natsumi berteriak. Aku terlonjak kaget dan segera membalikkan badan melihat keadaannya. Saking kagetnya, hampir saja aku ikut berteriak.
Namun rupanya, apa yang aku pikirkan tentang Natsumi malam ini sangat berbeda dengan kenyataan yang aku hadapi saat ini di ruangan gelap nan pengap ini.  Sosok itu memang benar Natsumi, tapi raut mukanya tak lagi menunjukkan Natsumi yang aku kenal seperti biasanya. Rambutnya basah acak-acakan, matanya memerah, dan ekspresinya terlihat menyeramkan sekali di ruangan temaram ini, dan yang paling membuatku takut, di tangannya kini tergenggam sebilah pisau berukir bunga sakura di bagian pegangannya. Kekhawatiran dan ketakutan tingkat dewaku benar-benar mencapai klimaks saat ini. Di tengah keringatku yang semakin bercucuran, Natsumi seram terus berjalan mendekatiku sambil menodongkan pisau itu ke arahku dengan ekspresi bengis dan kejam.
“Natsumiii! Apa yang akan kau lakukan? Sadarlah Natsumi, sadar! Ini aku sahabatmu sendiri sedari kecil!” aku berteriak lantang menyadarkannya. Aku pun terus berjalan mundur, dan, argh, tamat sudah riwayatku! Tembok di belakangku kini menghentikan langkah mundurku.
“Natsumi! Jangan kau lakukan itu, kumohon sadarlah!”
Dan kata-kata yang kuteriakkan kepadanya rupanya hanya bagaikan angin lewat saja. Kali ini ia berteriak marah dan tak jelas mengeluarkan kata-kata yang tak kuketahui maksudnya. Kini, hanya ada jarak dua meter antara aku dan Natsumi. Aku harus segera pergi dari sini! Aku tak ingin mati di tempat buruk seperti ini. Emosiku terus berteriak marah hingga memaksa kakiku berlari menjauhi tubuh Natsumi yang kukira telah kerasukan ini. Tapi, nasib buruk sepertinya memang terus menggelayuti ragaku malam ini.
“Aaaaarrggh, Natsumi.. lepaskan!” ia terus menarik kerah bajuku dan menarik paksa hingga aku yang benar-benar ketakutan ini susah untuk bernapas.
Argh, aku pun jatuh ke lantai karena dorongan keras yang diayunkan kaki Natsumi ke arahku. Aku mengerang kesakitan. Kali ini otakku benar-benar tak dapat berpikir lagi. Dan sepertinya sarafku juga mulai tak bekerja dengan normal. Selanjutnya, aku merasakan sesuatu yang aneh mengalir deras dari perut bagian bawahku. Arrrghh, bau anyir darah kembali tercium dan menyeruak memenuhi ruangan.
Bersamaan dengan ini, aku pun mendengar Natsumi tertawa lepas di sudut ruangan. Tuhan, apa yang telah dilakukannya? Pandanganku yang awalnya normal mulai memudar, berkunang-kunang dan sebelum semuanya terlihat gelap, aku sempat melihat ukiran bunga sakura tak berwarna yang memenuhi langit-langit ruangan ini. Ah sakura! Aku baru sadar ternyata langi-langit ruangan ini terlihat indah sekali dengan ukiran bunga sakura itu! Tapi, aku tahu kalau aku sangat terlambat menyadari hal indah itu yang seharusnya bisa kupandangi  lebih lama, karena beberapa detik setelah aku menyadari hal itu, semuanya telah berubah menjadi gelap. Gelap dan kurasa dunia ini telah benar-benar gelap gulita hingga tak ada sesuatu pun yang dapat aku lihat lagi lewat inderaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar