Sakura Tak Berwarna
“Terlalu
banyak hal yang tak kasat mata di dunia ini, tapi jangan pernah berhenti untuk
terus ber-husnudzon. Karena sungguh tiada hal yang lebih indah di dunia ini
melainkan skenario kehidupan dari-Nya.”
Isakan
tangis dan jeritan yang terdengar begitu memilukan hati terus menggema di
penjuru kuil tua Kota Honshu. Suasana temaram yang menggantung di langit-langit
berdebu menambah keangkeran tempat peribadahan tertua di kota ini. Dengan susah
payah aku berlari mencari tempat di mana tangisan itu berasal. Ya, tangisan itu
milik Natsumi. Seorang gadis malang yang menarik diri dari lingkungan sosial
dan pergaulan pada umumnya karena trauma akan pahitnya kisah keluarga
kandungnya. Semakin dekat dengan sumber suara, semakin deras keringat dinginku
bercucuran, semakin berat pula langkah kaki yang kurasakan.
Kini
dengan peluh yang terus menetes, aku sudah berdiri di depan pintu ruang
pemujaan. Aku yakin sekali Natsumi ada di sana. Tanpa pikir panjang, segera kubuka
pintu ruangan ini. Tidak bisa! Apa yang terjadi dengan pintu ini? Selagi
aku berusaha mencari cara agar bisa membuka pintu ini, tangisan Natsumi di
dalam semakin histeris. Ia berteriak kesakitan. Pintu pun akhirnya terbuka
setelah tendangan superku mengenainya. Aku segera memasuki ruangan tanpa
basa-basi. Hah? Makhluk itu? Karena kaget, aku berteriak dan berusaha
menggapai tangan Natsumi untuk membawanya pergi menjauhi makhluk terkutuk yang
sedang menerkamnya. Tapi, entah kenapa tanganku susah sekali untuk digerakkan.
Berat, berat, dan semakin berat. Arrghh, tidaaaaakkk!
o0o
Deru
angin musim semi mengalun merdu menyambutku ketika mata ini sempurna terbuka,
menatap langit-langit kamar bercat putih yang terlihat mulai mengelupas. Untung
saja aku dapat segera menguasai diriku dari mimpi yang baru saja menghantui
tidurku, tidak sampai kaget atau bersuara, apalagi berteriak. Sudahlah, sudah
tak terhitung lagi berapa kali aku memimpikan hal semacam itu semenjak aku
memutuskan untuk menyelamatkan teman malangku itu dari keterpurukan.
Kulirik ranjang samping dan bawah tempatku.
Kosong. Dengan rasa pusing yang masih menggantung di ubun-ubun, kupaksakan
tubuhku bangkit hingga menuruni anak tangga ranjang ini satu per satu. Namun,
belum sempat kaki kananku menyentuh permukaan lantai, tiba-tiba cengkeraman
dingin menyambut betis kiriku. Ah,
ini lagi, ini lagi. Kumohon, hari ini adalah hari pertama sekolah, kawan!
Jangan memperburuk keadaan, pikirku.
Plak! Kukibaskan
kaki ku demi menolak sambutan cengkeraman itu tanpa melihat siapa pemiliknya.
Suara aduhan segera terdengar dari mulut si anak. Tanpa mempedulikannya, aku
terus berjalan menjelajahi koridor mencari satu barang yang sangat aku butuhkan
kali ini. Handuk. Tunggu! Di mana kain kuning bergambar spongebob
milikku itu? Aku yakin sekali tak pernah salah menempatkan handuk itu. Di
hanger merah, berpitakan kuning. Tapi, kali ini benda itu tak tersampir di sana.
Dengan keadaan yang masih remang-remang, kupaksakan mata ini terbuka lebar,
berkonsentrasi penuh agar bisa menemukan sehelai kain yang sedang kubutuhkan
itu di antara warna-warni kain lain yang bergantungan di tempat ini.
Sekian
lama aku mengaduk-aduk tempat ini, tetap saja aku tak dapat menemukan benda
tersebut. Karena tak sabaran, akhirnya aku memutuskan untuk mandi tanpa
menggunakan kain kuning itu. Aku kembali
menyusuri koridor asrama yang mulai dipenuhi anak-anak yang telah berseragam,
pertanda sebentar lagi jam menunjukkan pukul setengah tujuh. Oke, tinggal
aku sendiri yang masih kumal dan kusut seperti ini.
Belum
sempat aku menapakkan kaki di lantai kamar mandi yang terlihat mulai sepi,
suara kegaduhan dan jeritan yang sepertinya bersumber dari lobi depan sukses
menyita perhatianku. Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari menuju sumber
suara. Bukan karena kegaduhannya -karena disini memang tiada hari tanpa jeritan
dan tangisan-, tapi pemilik jeritannyalah yang kini membuatku berada di
tengah-tengah kerumunan anak-anak yang sedang bertepuk-tangan menyemangati. Hah,
itu handukku? Apa yang sedang dilakukan Natsumi hingga seperti ini?
“Natsumi!
Hentikan!” segera ku tarik lengannya keluar dari lingkaran yang terus
bersorak-sorai ini.
Ah,
gagal. Karena yang ditarik malah terus berteriak tak mengindahkan. Tak
kuasa aku menghentikan perkelahian ini, akhirnya aku hanya bisa berharap semoga
guru (psikiater) kami segera datang menenangkan. Benar saja, kak Ayane akhirnya
datang bersama dua rekannya. Kulihat muka masam Natsumi setelah si lawan
berhasil merebut handuk spongebob itu dari dekapannya. Dibawanya kain
itu pergi menjauh, setelah melemparkan senyum penuh ejekan ke muka Natsumi.
Keadaan segera terkendali, anak-anak bubar menjauh menuju kantin untuk sarapan.
Namun beberapa masih saling memukul memeragakan kejadian tadi, bahkan ada juga
yang mencoba menjambak rambut panjangku. Baiklah, aku sudah terbiasa dengan
hal ini. Untuk menyelamatkan Natsumi keluar dari tempat ini, memang dibutuhkan
perjuangan yang ekstra, pikirku.
Keadaan
lobi pun melengang. Hanya tersisa diriku yang segera bangkit menata kembali
pikiran setelah kak Yuri mengomel panjang, mempertegas bahwa hari ini adalah
hari pertama sekolah. Dia mengantarkanku ke kamar dan menyiapkan seragam
sekolahku.
“Akira,
ini seragam hari ini. Ini rok dipakai di bawah ya. Sudah diajarkan bagaimana
cara memakainya, kan? ” pertanyaan kak Yuri yang kupikir konyol itu hanya terbalas
oleh senyuman dan acungan jempol dariku.
Beginilah,
aku harus terus bertingkah layaknya anak abnormal yang lain demi menjaga misi
penyamaranku ini. Aku pun segera
merapikan diri dengan cepat dan melesat ke ruang kelas yang terletak tidak jauh
dari asrama kami.
o0o
“Kakaaak,
dia jahat. Itu pensil aku di.. diambil Yoshiko..”
“Aaa,
jangaann..saaakit”
“Ini
Kakaak, aaa-aa, ayah, dan.. dan Haruuka..”
Seperti
inilah suasana kelas ku tiap harinya. Teriakan, pukulan, pertengkaran kecil
hingga tinju-tinjuan kelas teri semuanya ada. Dua orang psikiater nampaknya
agak kewalahan menghadapi tingkah laku anak-anak berkebutuhan khusus yang
bersekolah di sini. Ditambah lagi, hari ini adalah hari pertama sekolah
semester ini. Semuanya kembali lagi seperti hari pertama kami sekolah, ketika pertama
kali datang diantarkan oleh orangtua dua tahun yang lalu. Itulah kata kak Ayane
yang terlihat capai ketika berteriak menghentikan semua kebisingan yang
berlangsung di kelas. Tentu saja aku sudah lumayan bisa beradaptasi dengan
lingkungan yang tak pernah terbayangkan sedikit pun olehku ini. Bagaimana bisa?
Mudah saja.
Di sinilah
sekarang aku berada, dan seperti inilah hal yang kulakukan setiap kali berada
di kelas, demi keberhasilan penyamaranku, aku hanya duduk di pojokan kelas,
mencorat-coret, menggambar sesuatu yang tidak jelas, tertunduk dalam diam dan
hanya sekali-kali melemparkan pandangan tak berdosa setiap kali kakak psikiater
melihat tingkahku.
“Kamuu,
ayo beli makanan.. banyak makanan enak di kantin. Ayooo..!!” seorang anak
berambut semampai tiba-tiba menarik lengan seragamku sampai-sampai aku hampir
terjungkal dari bangku kayu ini.
Tak
mengerti dengan maksudnya, aku hanya kembali menarik diri dan menggelengkan
kepala tanda tak mau. Dengan ekspresi konyol yang selalu tersemat dalam wajah.
“Kenapaa?
Kenapa enggak mau sih? Nih lihat, aku punya banyak uaaang, loh,” ia pun
menunjukkan beberapa lembar uang mainannya ke arahku, bertingkah laku dan
berekspresi bak jutawan.
Hampir
saja aku tertawa, tapi segera saja kudorong tubuhnya menjauhi tempatku. Untung
saja yang didorong tak melawan, hanya menggerutu tak jelas sambil berlari
menuju ke luar kelas. Kau kira aku juga bodoh akan membeli makanan dengan
uang mainan? Celetukku dalam hati.
Tak ambil
pusing dengan semua tingkah teman-temanku yang tak lazim tersebut, kali ini aku
hanya diam melihat ke arah luar jendela, kembali memandangi indahnya
pemandangan di luar sana. Oh, anggun sekali sakura yang mulai bermekaran itu,
gumamku seraya tersenyum.
Selagi
aku melihat rona indah bunga sakura lewat jendela kelas, tiba-tiba kursi kayu
yang ada di sampingku berdecit. Bersamaan dengan hal tersebut, sentuhan tangan
kecil nan dingin dengan sempurna mendarat di pundak kanan ku. Ah, ini pasti
dia.
Karena
aku hafal sekali siapa pemilik tangan itu, tanpa kaget atau pun bertanya
terlebih dahulu, dengan segera aku pun menolehkan wajah ke arahnya.
“Hai
Natsumi! Mau berbicara sesuatu kah padaku?” sapaku tanpa basa-basi. Sebisa
mungkin aku menyematkan senyuman terbaikku untuk Natsumi. Memang inilah yang
harus dan selalu aku lakukan padanya. Wajah ceria, senyuman terbaik.
Namun,
apa yang aku tanyakan ternyata tidak mendapat respon seperti apa yang aku
inginkan. Karena tidak ada jawaban selama hampir sepuluh detik, senyumku pun
perlahan memudar. Natsumi hanya menatap mataku lekat-lekat dengan tatapan yang
tak dapat aku tebak apa maksudnya. Hening. Aku yang kebingungan pun mulai
khawatir dengan keadaan Natsumi kali ini. Karena biasanya, jika Natsumi mulai
bertingkah seperti ini, penyakitnya akan kembali kambuh tak terkendali. Berteriak-teriak
hingga membuang segala sesuatu yang ada di tangannya. Karena kali ini Natsumi
telah mencengkeram erat pergelangan tangan kananku, kekhawatiranku pun segera memuncak
hingga berganti dengan ketakutan. Di tangan kirinya, tergenggam sebuah rautan
pensil yang berwarna kehijau-hijauan. Apakah Natsumi ingin meraut jari
mungilku? Ah, tidak mungkin. Pikiranku tentangnya mulai berkecamuk. Hai
Natsumi, ayolah katakan apa yang kau inginkan! Hatiku pun mulai memprotes.
Selama
hampir tiga menit jantungku berdegub karena tingkah Natsumi, kali ini ia
mengajakku berdiri tanpa kata. Tatapan matanya yang awalnya aneh pun mulai
memudar. Cengkeramannya tak lagi dingin. Dengan tangan yang masih menggamit
pergelanganku, kali ini Natsumi memberikan tatapan yang aku terjemahkan bahwa
sepertinya ia ingin mengajakku ke suatu tempat. Ya, tak salah lagi. Setelah
berhasil mengelabui seorang psikiater penjaga pintu kelas, sekarang aku dan
Natsumi berada tepat di samping sebuah ruangan pos satpam penjaga sekolah.
Dengan mengendap-ngendap, kami pun akhirnya berhasil melewati gerbang sekolah
setelah berhasil mengelabuhi para satpam yang mudah terkelabuhi tersebut dengan
jeritan histeris salah seorang siswa yang sedang bermain di sisi belakang
ruangan penjaga.
o0o
Semenjak
Natsumi menggamit pergelangan tangan kananku di kelas, aku tak bertanya apa pun
lagi kepada Natsumi. Karena apa yang dia lakukan sekarang sejalan dengan
rencana dan misi penyelamatan yang sudah lama aku rencanakan. Kabur dan
membawanya pergi jauh dari sekolah. Sebab kupikir lingkungan sekolah dan para
psikiater yang mayoritas bertingkah kejam tidak cocok untuk keadaan sahabat
malangku itu.
Dan
sekarang, disinilah kami berada. Duduk di atas rerumputan hijau dengan bunga
warna-warni yang terhampar luas bertebaran di sana-sini. Di mana lagi kalau
bukan di Taman Bunga Kuriyama. Aku dan Natsumi mengambil posisi menghadap ke
arah aliran sungai yang mengalirkan air jernih menyejukkan mata. Aliran arusnya
membuat hati tenang. Lagi-lagi tanpa bertanya, aku sudah mengerti mengapa dia
mengajakku ke tempat ini. Kala kecil,
Natsumi dan aku sering bermain di sini, berlari mengejar kupu-kupu hingga memunguti
kelopak sakura yang berjatuhan. Aku ingat sekali dengan semua kenangan masa
kecil itu. Dan yang paling penting, semua peristiwa tersebut kami lalui bersama
dengan ibu kami. Berbeda dengan aku yang hingga kini masih bisa merasakan
dekapan dan kasih sayang ibu, Natsumi hanya bisa menggigit jari jika mengingat
kenangan indah bersama ibunya yang berganti kelam setelah suatu peristiwa
menyakitkan itu terjadi.
“Otou-san...”
ku lirik wajah Natsumi yang telah menunduk setelah mengeluarkan satu kata
tersebut dengan lirih.
Cahaya
matahari sore yang menerpa wajah tirus Natsumi kembali membuatnya terlihat
seperti anak kecil tujuh tahun yang merindukan kehadiran sesosok ibu. Natsumi
bangkit dan mulai bergumam tak jelas. Aku pun mengikutinya. Bangkit dan
memerhatikan apa yang dilakukan Natsumi sekarang. Dengan tangan yang sedikit
gemetar, kusentuh pundak Natsumi yang sedang terisak di bawah sebuah pohon di
sudut taman.
Belum
sampai aku menyentuhnya, tiba-tiba Natsumi membalikkan badan dan berteriak
lantang dengan air mata yang terus berlinangan di wajahnya.
“Otou-san,
jahaaaatt.. Natsumi benci! Natsumi enggak akan kembali ke otou-san lagi.
Natsumi benciii otou-san!” teriaknya histeris hingga suaranya pun terdengar
serak.
Karena
kaget, aku hanya menutup mulutku tanpa berkata apa pun. Tapi kali ini, aku
mulai memegang bahu Natsumi karena ia mulai menendang-nendang batu yang ada di
dekat kakinya. Dengan masih terisak dan berteriak, Natsumi terus menendang batu
itu dengan kakinya yang tanpa alas kaki apa pun. Khawatir terluka, aku pun
segera menarik Natsumi bangkit dan menjauhi taman bunga ini. Aku berpikir bahwa
mungkin Natsumi teringat semua kisah masa lalunya hingga penyakit traumanya
kambuh kembali. Aku pun memutuskan untuk membawanya kembali ke asrama. Matahari
mulai kembali ke peraduannya hingga kegelapan pun mulai menyelimuti sudut Kota
Honshu ini. Kupikir Natsumi harus segera meminum obat anti-psikotik yang
seharusnya diminumnya siang ini. Baiklah, misi untuk kabur pun tertunda
untuk kali ini.
o0o
Akhirnya
kami sampai di depan asrama, tepat saat mega merah yang menggantung di kolong
langit mulai memudar hilang. Namun, suasana asrama kali ini sepertinya agak
berbeda. Jika pada malam hari biasanya asrama kami lengang, kali ini terdengar
celotehan dan teriakan beberapa anak dan kakak-kakak psikiater. Apalagi yang
terjadi disini? Pikiranku yang mulai pusing enggan memikirkannya lebih
jauh.
“Penjahatnya
pulang,”
“Dasar
pencuri, jahaaatt!”
“Kakak,
ini dia orangnya..” seorang anak perempuan berkepang dua tiba-tiba menarik
paksa lengan Natsumi dan membawanya ke kerumunan anak-anak yang berdengung dan
bergumam tak jelas di ujung koridor sana.
Aku
benar-benar bingung dengan keadaan asrama dan ekspresi anak-anak yang menyambut
kedatanganku kali ini. Tapi kalau tidak salah, aku menebak telah terjadi
sesuatu yang tidak beres disini, dan Natsumi dituduh sebagai pelakunya. Ah,
Natsumi! Lagi-lagi takdir baik tak berpihak padamu.
Aku
pun berjalan mendekati gerombolan anak-anak yang bergumam tak jelas di depan
ruangan psikiater yang khusus menangani anak-anak yang bermasalah di sini.
Karena penasaran, aku pun ikut melongokkan kepala ke dalam ruangan melalui
jendela kecil yang bergorden merah ini. Beberapa anak mulai memukul satu sama
lain karena sama-sama ingin melihat apa yang terjadi di dalam sana. Tak terkecuali
aku juga yang tiba-tiba terjerembab jatuh karena dorongan salah seorang anak
yang tepat mengenai lengan kiriku.
“Kamuuu!
Dasar temennya penjahat! Sana pergiii!” yang mendorongku kini melirikku tajam
dan memberikan tatapan yang tak kuketahui apa maksudnya.
Belum
sempat aku menarik rambutnya guna membalas perkataanya, kak Yuri dan kak Ayane
pun segera menggiring kami ke kamar masing-masing karena jam sudah menunjukkan
pukul sembilan malam. Waktunya tidur, katanya. Beberapa anak segera
menurutinya, kembali ke kamar dan segera melupakan apa yang terjadi pada
Natsumi malam ini. Namun, ada pula yang masih saling memukul dan menjambak satu
sama lain.
Seraya
bangkit dan menuju kamar, aku melirik ke dalam ruangan di mana Natsumi berada.
Di sana, terlihat kak Amoto yang sedang memegang sebilah rotan dan
dihadapkannya ke muka Natsumi. Apa yang akan dilakukannya pada Natsumi?
Kekhawatiranku dengan cepat memuncak.
Aku
pun segera menghilangkan pikiran negatif dan kemungkinan buruk yang mungkin
akan dialami Natsumi malam ini. Tapi belum sampai pikiran itu hilang, tiba-tiba
aku mendengar teriakan Natsumi yang menjerit kesakitan. Suaranya menggema di
koridor asrama yang sudah benar-benar sepi. Kali ini, aku benar-benar khawatir
dan takut akan keadaanya. Aku terus menyusuri koridor ini dan berjalan menuju
kamar sambil menyusun rencana yang harus aku lancarkan malam ini juga demi
keselamatan sahabatku yang kini meringkuk kesakitan di ruangan itu.
Aku
masuk ke kamar dengan berhati-hati. Ternyata lampu tidur sudah dinyalakan
pertanda anak-anak telah memulai petualangan alam mimpinya malam ini. Dengan
perlahan dan tanpa suara, aku mengambil ransel biruku dan mulai mengemasi
barang yang kuanggap penting untuk dibawa. Ya, aku harus membawa pergi
Natsumi malam ini juga. Pikiranku semakin kalut, emosiku semakin tak
teratur. Aku benar-benar tak tega mendengar tangisan memilukan itu.
Tepat
saat aku memegang gagang pintu kamar untuk kubuka, music box milik
Mayuki yang tergeletak di lantai tiba-tiba menyala mengeluarkan sinar merah dan
lirih mengalunkan musik yang tak asing lagi kudengar setiap kali mendatangi
upacara kematian di kota ini. Apa? kematian? Apa maksud dari alunan musik
ini? Tanganku bergetar mendekati pemutar musik tersebut. Perlahan aku mematikannya
dan sesegera mungkin berlari ke luar kamar dan segera menjelajahi koridor
temaram yang mulai mendingin karena suhu malam dan tiupan angin musim semi.
Sudahlah,
tak ada maksud apa-apa dari alunan musik itu! Sugesti itu
terus kudendangkan demi menghalau pikiran-pikiran aneh yang mulai menyeruak tak
terkendali. Dan tepat saat diriku mulai terkendali kembali, aku sudah berdiri
tepat di depan ruangan di mana Natsumi berada. Kudekatkan telingaku ke celah
sempit yang ada di daun pintu ruangan ini. Hening. Tak terdengar suara apa pun.
Sepertinya, Natsumi sudah terlelap. Atau jangan-jangan? Karena tersentak
kaget dengan pikiranku barusan, segera kubuka pintu itu setelah memastikan
keadaan di sekitar ruangan dan koridor ini benar-benar aman. Rupanya, kak Amoto
tidak mengunci ruangan ini. Pintu berdecit dan terbuka lebar, dengan cepat aku
masuk ke dalam ruangan yang ternyata lumayan gelap ini. Mengapa tak ada
lampu yang dinyalakan? Heranku seraya melihat seluruh sudut ruangan ini
dengan tatapan penuh perjuangan karena tak ada selarik cahaya apa pun yang
menerangi ruangan ini.
Sungguh
tega sekali Kak Amoto menempatkan orang-orang yang bermasalah di tempat pengap
dan gelap seperti ini. Semakin aku menelusuri sudut-sudut ruangan ini, bau
anyir darah tiba-tiba menyeruak menusuk hidung. Darah? Benarkah ini bau
darah? Dalam hitungan detik, jantungku pun berdegub mengalun tak karuan.
Tapi di tengah ketakutanku akan bau darah tersebut, tiba-tiba, Ah itu Natsumi! Teriakku dalam hati
setelah melihat sosok yang duduk di pojokan ruangan dengan kepala tertunduk.
“Ssst,
Natsumi! Kau kah itu? Bangunlah!” aku berjalan perlahan hingga tak menimbulkan
suara sedikit pun dan mendekati tubuh yang sepertinya terlihat basah tersebut.
“Ayolah,
bangun! Aku datang untuk membawamu pergi dari tempat terkutuk ini, Natsumi,” kusentuh
pundak yang ternyata memang basah kuyup ini. Tak ada respon. Keheningan pun
terjadi sesaat. Aku tak mungkin memaksanya berbalik badan, apalagi membopongnya.
“Natsumiii,
“ kuulangi lagi panggilanku padanya. Kali ini suara serakku lebih aku lirihkan
dari yang sebelumnya.
Masih
tak ada jawaban darinya. Aku mulai bangkit dari posisi semula dari berlutut
tepat di belakang Natsumi, menjadi berdiri sambil mengusap wajahku yang
ternyata mulai basah oleh keringat. Apa yang sebenarnya terjadi? Kulirik
sosok yang kuanggap sebagai Natsumi itu sekali lagi. Masih bergeming dan
tertunduk dalam keheningan. Selama kurang lebih lima menit, aku berdiri
mondar-mandir dengan pikiran yang benar-benar berkecamuk dan hati yang dipenuhi
dengan rasa penasaran. Aku pun berbalik memalingkan badanku dari badan Natsumi,
kembali berpikir dan menyusun rencana terbaik yang harus aku lakukan sekarang
juga. Ya, sekarang juga! Di tengah konsentrasi pikiranku yang sedang
menyusun strategi, tak kusangka tiba-tiba Natsumi berteriak. Aku terlonjak
kaget dan segera membalikkan badan melihat keadaannya. Saking kagetnya, hampir
saja aku ikut berteriak.
Namun
rupanya, apa yang aku pikirkan tentang Natsumi malam ini sangat berbeda dengan
kenyataan yang aku hadapi saat ini di ruangan gelap nan pengap ini. Sosok itu memang benar Natsumi, tapi raut
mukanya tak lagi menunjukkan Natsumi yang aku kenal seperti biasanya. Rambutnya
basah acak-acakan, matanya memerah, dan ekspresinya terlihat menyeramkan sekali
di ruangan temaram ini, dan yang paling membuatku takut, di tangannya kini
tergenggam sebilah pisau berukir bunga sakura di bagian pegangannya.
Kekhawatiran dan ketakutan tingkat dewaku benar-benar mencapai klimaks saat
ini. Di tengah keringatku yang semakin bercucuran, Natsumi seram terus berjalan
mendekatiku sambil menodongkan pisau itu ke arahku dengan ekspresi bengis dan
kejam.
“Natsumiii!
Apa yang akan kau lakukan? Sadarlah Natsumi, sadar! Ini aku sahabatmu sendiri
sedari kecil!” aku berteriak lantang menyadarkannya. Aku pun terus berjalan
mundur, dan, argh, tamat sudah riwayatku! Tembok di belakangku kini
menghentikan langkah mundurku.
“Natsumi!
Jangan kau lakukan itu, kumohon sadarlah!”
Dan kata-kata
yang kuteriakkan kepadanya rupanya hanya bagaikan angin lewat saja. Kali ini ia
berteriak marah dan tak jelas mengeluarkan kata-kata yang tak kuketahui
maksudnya. Kini, hanya ada jarak dua meter antara aku dan Natsumi. Aku harus
segera pergi dari sini! Aku tak ingin mati di tempat buruk seperti ini. Emosiku
terus berteriak marah hingga memaksa kakiku berlari menjauhi tubuh Natsumi yang
kukira telah kerasukan ini. Tapi, nasib buruk sepertinya memang terus
menggelayuti ragaku malam ini.
“Aaaaarrggh,
Natsumi.. lepaskan!” ia terus menarik kerah bajuku dan menarik paksa hingga aku
yang benar-benar ketakutan ini susah untuk bernapas.
Argh, aku pun jatuh
ke lantai karena dorongan keras yang diayunkan kaki Natsumi ke arahku. Aku
mengerang kesakitan. Kali ini otakku benar-benar tak dapat berpikir lagi. Dan
sepertinya sarafku juga mulai tak bekerja dengan normal. Selanjutnya, aku
merasakan sesuatu yang aneh mengalir deras dari perut bagian bawahku. Arrrghh,
bau anyir darah kembali tercium dan menyeruak memenuhi ruangan.
Bersamaan
dengan ini, aku pun mendengar Natsumi tertawa lepas di sudut ruangan. Tuhan,
apa yang telah dilakukannya? Pandanganku yang awalnya normal mulai memudar,
berkunang-kunang dan sebelum semuanya terlihat gelap, aku sempat melihat ukiran
bunga sakura tak berwarna yang memenuhi langit-langit ruangan ini. Ah
sakura! Aku baru sadar ternyata langi-langit ruangan ini terlihat indah sekali
dengan ukiran bunga sakura itu! Tapi, aku tahu kalau aku sangat terlambat
menyadari hal indah itu yang seharusnya bisa kupandangi lebih lama, karena beberapa detik setelah aku
menyadari hal itu, semuanya telah berubah menjadi gelap. Gelap dan kurasa dunia
ini telah benar-benar gelap gulita hingga tak ada sesuatu pun yang dapat aku
lihat lagi lewat inderaku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar