Minggu, 20 Maret 2016

Gaya Bahasa Retoris, Asindeton

 Asindeton
Asindenton (asyndeton) merupakan gaya bahasa acuan yang bersifat padat. Beberapa kata, frase, atau klausa yang setara tidak dihubungkan dengan menggunakan tanda penghubung, melainkan  hanya menggunakan tanda koma sebagaimana contoh berikut, Dan kesesakan, kepedihan, kesakitan, seribu derita detik-detik penghabisan orang melepaskan nyawa.[1] Harimuti menegaskan, asindeton berupa penghilangan penanda penghubung atau konjungsi dalam frase, klausa, atau kalimat seperti  Saya datang, saya melihat, saya menang.[2]
Lanham menyebut asindenton  dengan "unconnected" (tidak berhubungan), maksudnya menghilangkan atau menanggalkan penanda penghubung dan menggantinya dengan tanda koma di antara kata-kata, frase, atau klausa. Seperti dalam penggalan pidato Churcill ”All is over. Silent, mournful, abandoned, broken, Czechoslovakia recedes into the darkness.” (Semua sudah berakhir, diam, pilu, ditinggalkan, hancur, Cekoslowakia surut dalam kegelapan).[3]



[1] Gorys Keraf, loc.cit.

[2] Harimurti Kridalaksana, op.cit. h.19.

[3] Richard A. Lanham, op.cit. h. 25.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar