Jumat, 18 Maret 2016

Cerpen_Reguler Kita

Reguler Kita
Oleh Salsa Shabrina

“Don’t be greedy or you will lose because of yourself. Enough is enough.”

 “Udah siap belum Rin?” Alya melirikku yang masih berdiri di depan cermin.
“Bentar, bentar! Dikit lagi kok!” kurapikan lagi jilbab coklatku yang sedikit miring sambil menatap cermin.
“Lama ih! Aku manggil Shafa dulu deh. Aku tunggu di bawah ya, jangan lama-lama!” bergegas Alya mengambil kertas-merah-jambu-keramat alias kartu reguler di meja lalu melangkah menuju kamar seberang.
Kuanggukkan kepalaku sedikit. Aku beranjak dari cermin menuju mejaku. Kucek lagi barang-barang yang harus kubawa dalam tas. Dompet, daftar barang yang harus dibeli, botol minum, dan kartu reguler sudah duduk manis dalam tasku.


Kakiku cepat-cepat melangkah menuruni tangga asrama. Entah kakiku, sandalku, tangga asrama, atau mereka bertiga yang salah sehingga aku jatuh terpeleset di tangga. Aku meringis, Ya, itu lumayan menyakitkan, batinku. Apalagi di depan sana Alya dan Shafa menatapku dengan tatapan separuh kasihan, separuh menahan tawa.
“Cepetan berdiri!” sebuah tangan terulur di depanku. Aku pun menggenggam tangan itu dan berdiri dengan wajah masih meringis kesakitan.
“Udah, ayo jalan! Nanti juga sakitnya ilang kok. Lagian, kamu jatuhnya lucu banget. Haha.” Shafa gagal menahan tawanya.
“Huh kamu!”
Alya akhirnya gagal menahan tawanya, “Haha. Udah yuk, ayo jalan! Katanya mau ke PMI sebelah dulu sebelum ke Paspong? Buruan, ntar kalo kesiangan malah makin panas!” Alya segera melangkah pergi meninggalkanku yang masih berdiri dan menggenggam tangan Shafa, “Jus naga, aku datang!”
***
            Kulangkahkan kakiku melintasi gerbang asrama.  Ah, akhirnya bisa keluar asrama juga. Aku menarik napas dalam-dalam. Biar paru-paruku puas menikmati udara luar asrama setelah 4 minggu terkurung di dalam. Tapi, kepuasanku terpaksa berhenti karena dua tatapan geli segera menghujam kepadaku.
            “Ngapain kamu Rin?” Shafa yang bertanya, “napasnya biasa aja kali!”
            “Hehe, udara luar asrama Fa, kan spesial” cengiran lebar menghiasi wajahku.
            “Yaelah, sama aja kali Rin sama udara di dalem asrama!”
            “Beda lah!” jawabku sengit, “hmm.. dikit sih, hehe.” cengiran lebar terpasang di wajahku.
“Udah ah, ayo jalan! Katanya nggak mau kepanasan?” kulangkahkan kakiku menjauhi Shafa, menyusul Alya yang sudah beberapa langkah di depan.
            Matahari mulai ganas menyinari bumi. Peluh bercucuran dari dahiku, dahi Shafa, dan pasti dahi Alya juga. Untungnya jarak antara asrama dengan PMI tidak terlalu jauh. Di depan sana, bangunan PMI sudah terlihat berdiri dengan gagahnya. Semakin lama, semakin dekat jarak antara kita dengan PMI, eh gedung PMI. Tapi, tunggu... sesuatu menghentikan langkah kita.
            Sosok hitam itu kan…
            Kuberanikan diri maju selangkah mendekatinya. Sementara Alya dan Shafa hanya mematung di belakangku dengan wajah pias.
            Yah, nggak ada rantainya. Kalo nanti ngejar kita gimana?
Aku bimbang. Aku hanya mengamatinya dari sini.
Sepertinya dia tertidur. Bagus lah kalau begitu.
Aku memberi kode pada Alya. Pelan-pelan Alya berjinjit melewatinya, disusul Shafa, kemudian aku. Alya dan Shafa sudah berhasil mencapai pintu PMI ketika tiba-tiba kepala sosok hitam itu terangkat. Tatapannya langsung mengarah kepadaku.
Yah, kenapa dia bangun sekarang? jantungku mencelus. Otakku mulai sibuk memikirkan cara sukses untuk kabur seandainya anjing ini benar-benar mengejarku. Tapi, belum sempat rencana tersusun, sosok hitam itu bergerak lagi. Kali ini untuk menjatuhkan kepalanya dan memejamkan mata. Sosok hitam itu pun tidak bergerak-gerak lagi.
Yah, tidur lagi? aku melongo.
“Rin, sini!” Alya menyadarkanku.
“Eh, iya iya!” cepat-cepat kulangkahkan kaki melewati sosok itu dan memasuki gedung PMI. Di dalam, hembusan angin dingin dari pendingin ruangan segera menyambut kita. Sangat kontras dengan udara dan suasana di luar yang “panas”.
“Selamat siang Dek, ada yang bisa dibantu?” sapa bapak-bapak berseragam hitam dengan senyuman ramah.
“Eh, siang Pak. Anu, saya mau mendonorkan darah Pak.” jawab Shafa canggung.
Bapak itu tersenyum lagi, “Oh, Adek ke meja itu dulu untuk mengisi buku tamu. Nanti kalau sudah selesai, Adek pergi ke pintu yang itu.” kata Bapak itu sambil menunjuk ke sebuah pintu yang tertutup.
Shafa balas mengangguk. Pelan-pelan, ia menghampiri meja yang ditunjukkan bapak tadi. Sementara aku dan Alya mengekori Shafa dengan wajah penasaran.
Yah, di antara kita bertiga, hanya Shafa yang sudah pernah mendonorkan darah. Itupun baru sekali dan bukan di gedung PMI ini. Sementara Alya dan aku belum pernah mendonorkan darah. Kita masih terlalu imut untuk mendonorkan darah, katanya.
Selesai mengisi buku tamu, Shafa dengan dua ekor di belakangnya segera pergi menuju pintu yang ditunjuk bapak berseragam tadi. Ternyata, di balik pintu itu terdapat ruangan yang dipisahkan oleh sebuah lorong. Lorong itu berukuran kecil dan hanya diisi dengan dua kursi besi yang diam membisu.
            Kita bertiga bimbang, harus terus melangkah, atau berhenti cukup sampai di sini. Akhirnya aku berinisiatif untuk duduk di kursi besi itu. Belum sampai semenit tubuhku mendarat di atas kursi, nama Shafa sudah dipanggil dari ujung lorong. Shafa segera bangkit dan berjalan menuju suara itu.
            Aku yang masih diselimuti awan penasaran, mengikuti langkah Shafa melalui tatapan mata. Di ruangan itu, Shafa terlihat menulis sesuatu sambil berbicara dengan petugas PMI yang, ehm, lumayan tamvan[1] menurutku. Aku pun bergeser mendekati ujung lorong. Bukan untuk mengamati petugas itu. Sungguh bukan itu. Aku penasaran dengan ruangan di sebelah ruangan Shafa dan petugas itu.
            Mataku masih terfokus untuk menjelajahi ruangan itu ketika kurasakan kursi besi yang kududuki bergetar. Refleks aku menoleh ke arah Alya yang dari tadi juga duduk di kursi ini. Aku heran, Alya terlihat gelisah sekali. Duduknya pun sedikit membungkuk dan memunggungiku. Tangannya juga terlihat saling remas, ciri khas orang yang gelisah. Aku penasaran dengan keadaan Alya.
Pertanyaanku untuk Alya sudah di ujung lidah ketika tiba-tiba sebuah tangan hinggap di pundakku.
            “Aaaaa!” aku shock. Jantungku berdebar lagi.
            Secepat kilat tangan itu beralih membekap mulutku.
            “Apaan sih Rin? Jangan teriak-teriak dong! Malu-maluin aja.” kata seseorang di belakangku dengan nada sewot.
              Aku pun menoleh kaku, masih dengan jantung yang berdebar, plus muka super tegang.
            “Ih Arin, mukanya gitu banget sih! Aku kan bukan setan yang di film kemarin!” Shafa menatapku sewot.
            Aku hanya menatapnya polos sambil berusaha mengatur debaran jantungku. Siapa suruh,kamu  bikin aku kaget. Lagian, bukannya kamu tadi masih ngobrol sama petugas itu ya?
            “Loh Shaf, udahan donornya? Cepet banget?” Alya yang bersuara.
            “Aku nggak jadi donor” kata Shafa,”tensiku nggak aman buat donor.”
            “Terus gimana? Kamu mau langsung pulang Shaf? Katanya tadi kamu mau tidur kalo udah selesai donor?” aku yang bertanya, setelah berhasil menenangkan jantungku.
            Shafa terdiam. “Hmm, aku ikut kalian aja deh...”
            “Oke, ayo jalan!” belum selesai Shafa berkata, Alya sudah menyahut sambil melangkah pergi meninggalkan lorong, ”Jus naga, aku datang!”
 Aku melongo. Shafa menatap aku yang melongo dengan tatapan penuh harap.
            “Tapi Rin, uangku di asrama. Dan, yah, aku males ngambilnya. Tapi aku pengen ikut kalian. Mungkin aja tensiku bakal naik. Hehe.” Shafa nyengir.
            Aku mendesah. Entah kenapa firasatku memburuk.
***
            Matahari semakin tega menyengat kulit bumi. Seakan bersekongkol dengan matahari, jalanan semakin menanjak menyulitkan langkah. Angin pun seolah enggan berhembus mendekat memberi sejuk. Ditambah lagi debu-debu yang usil beterbangan setiap kaki melangkah. Peluh pun mulai memenuhi dahi, hidung, pipi, wajah, serta tubuh kita. Walaupun begitu, kaki ini terus melangkah menuju tujuan selanjutnya, Pasar Serpong.
***
Sebuah angkot melaju kencang di tengah keramaian jalan. Namun, tak berapa lama, laju angkot mulai melambat hingga akhirnya berhenti, terhalang puluhan kendaraan lain di depannya. Udara panas bercampur asap dan debu segera berebutan memasuki angkot, membuat kita bertiga kembali kegerahan. Yah, angkot bukan berhenti untuk menurunkan kita, tetapi karena macet.
“Ya udah, kita turun di sini aja. Toh, tokonya udah kelihatan tuh.” kata Alya menatapku sambil terus mengipasi wajahnya dengan tangan.
Aku mengangguk, “Bang, kita turun sini. Ini ongkosnya.” kujulurkan tanganku ke bagian depan angkot. Belum sempat tanganku kembali, Shafa sudah buru-buru turun dari angkot. Alya mengikuti Shafa turun dan aku juga turun pastinya. Susah payah kita meliuk-liuk di antara campuran asap dan debu di sekitar kendaraan-kendaraan bermotor. Angkot memang tidak berhenti di pinggir jalan, melainkan tepat di tengah jalan, diimpit kendaraan-kendaraan lainnya. Dan, sampailah kita di toko pertama, Toko Jaya.
***
            Dua jam berlalu tanpa terasa. Lelah mulai merayap bersama dengan beban yang semakin berat di tangan dan punggung. Langkah kaki pun semakin memberat, ditambah lagi tubuhku yang meminta...
            “Ke seberang yuk, nggak kuat lagi nih!” ucapku memelas menatap Alya dan Shafa.
            Shafa menatap nanar jalanan di depan sana lalu menggeleng lemah, ”Masih rame banget Rin. Susah nyebrangnya.
Alya mengangguk membenarkan perkataan Shafa, “Tahan bentar ya, Rin!” katanya sambil mengelus pundakku.
 Aku pun hanya bisa menatap pasrah wajah mereka. Rasanya, perutku semakin kuat meronta-ronta di bawah sana.
“Tunggu, tunggu, kayaknya aku kenal gang ini,” Alya celingak-celinguk melihat sekitarnya, “ikuti aku! aku mau beli sesuatu lagi.” Alya segera berjalan memasuki gang itu bersama Shafa. Sedangkan aku, aku berjalan pelan-pelan di belakang mencoba menenangkan rontaan perutku.
Dan, aku kalah. Efek dari perut yang terlalu kuat meronta, ditambah udara yang semakin panas, membuatku menyerah. Aku terduduk di depan sebuah warung kosong dengan wajah pucat pasi. Keringat dingin menetes dari dahiku. Aku lemas sekali. Kuhembuskan nafas pelan-pelan, mencoba menenangkan perutku dengan sisa-sisa tenaga. Tenang Rin, sebentar lagi semua selesai. Ayo semangat!
Lima menit berlalu.
Alya dan Shafa berjalan menghampiriku dari ujung gang dengan bawaan yang semakin membesar. Alya menatapku dengan tatapan bersalah. “Nggak kuat beneran ya, Rin? Maaf banget Rin, aku perlu banget beli ini” katanya sambil menunjukkan kotak kuning padaku, ”di situ lebih murah. Hehe.” Alya nyengir.
Aku hanya mengangguk pelan. Ya iyalah, aku kan masih lemas.
“Ya udah, ayo ke seberang! Masih kuat kan, Rin?” Shafa menatapku prihatin.
Aku hanya mengangguk pelan, lagi.
***
            Matahari pukul sebelas masih setia bersinar di atas.  Debu-debu masih bersemangat melompat-lompat di antara kendaraan bermotor hingga melompat memasuki hidung kita. Dan di sinilah kita, terjebak di warung kecil pinggir jalan yang tidak terlalu ramai.
            Kruuk… kruuk…
            Serentak Alya dan Shafa menoleh ke arahku. Aku menunduk malu. Aku yakin, ada rona merah di pipiku. Ya, itu tadi memang suara perutku. Aku kan belum sarapan. Mereka tertawa melihatku. Sepertinya mata mereka mulai sedikit berair karena tertawa.
            “Tenang Rin, bentar lagi juga dateng kok makanannya.” kata Shafa di sela-sela tawanya.
 “Apa kamu mau jus nagaku dulu?” Alya menyodorkan jus naga di dekatnya padaku.
Refleks kepalaku mengangguk. Tanganku dengan sigap mengambil jus naga itu dari tangan Alya. “Makasih Alya.” kuberikan senyuman termanisku untuk Alya. Alya langsung memberiku tatapan jijik, “Senyummu itu lho Rin… Mending jangan senyum lagi, oke?”
Baru saja aku akan mendebat Alya, ibu-ibu pemilik warung datang menghampiri meja kita dengan 2 piring di tangannya. Ibu itu menyodorkan piring-piring itu ke meja kita dengan wajah yang cerah, “Ini Dek gado-gadonya. Dua-duanya pedes banget kan?”
Alya, aku, dan Shafa melongo.
“Loh Bu, bukannya kita tadi pesen yang nggak pedes ya?” Alya yang pertama tersadar segera berkata.
Seketika raut wajah ibu itu berubah masam, “Nggak tuh, tadi kalian pesen yang pedes.” bantah ibu itu.
Alya masih keukeuh membantah, “Nggak Bu. Saya yakin, kita tadi pesen yang nggak pedes.”
“Nggak ah. Saya yakin banget kalo kalian tadi pesen yang pedes.” bantah ibu itu lagi. Tatapannya tajam menghujam ke arah Alya. “Ya udah, kalian jadi mau makan nggak?” nada suaranya mulai meninggi.
Segera kucubit lengan Alya yang seperti masih ingin mendebat ibu itu lagi.
 “Sepertinya kita memang pesen yang pedes Bu.” Shafa mencoba mengakhiri perdebatan Alya dengan ibu-ibu itu.
Ibu itu tampak puas dan segera berlalu dari meja kita. Yah, semoga saja perutku tidak bermasalah setelah makan gado-gado ini.
***
Peluh bercucuran deras dari dahi Alya, dahi Shafa, dan paling banyak dari dahiku. Campuran antara efek dari sensasi terbakar di lidah ditambah dengan udara yang semakin panas. Makanan di meja sudah hampir habis. Hanya tersisa jus naga Alya yang hanya berkurang sedikit. Itu merupakan jus naga ketiganya di warung ini.
Shafa menyeruput es teh di gelasku, ketika aku sibuk mengusap dahi dengan tisu. Sementara itu, Alya sudah terkulai lemas di atas kursi.
“Alya, buruan jus naganya diminum.” kata Shafa.
Alya menggeleng, “Nggak kuat Fa, kenyang banget.” Alya hanya memandangi gelas jus naganya.
 “Ya udah, bawa pulang aja. Toh itu kan pake gelas plastik, kamu nggak ribet bawanya.”
Alya mengangguk dan mulai bersiap-siap pulang. Aku segera melangkah menuju ibu-ibu tadi untuk membayar makanan. Tatapan tajam ibu itu masih setia melekat di wajahnya. Cepat-cepat kuselesaikan urusan dengan ibu itu dan berlalu dari warungnya menyusul Shafa dan Alya di depan.
Di depan warung, debu dan asap langsung berebutan mendekat. Bising suara kendaraan bermotor juga semakin terasa memekakkan telinga. Apalagi beberapa pengendara yang tidak sabar dengan macet, berebutan membunyikan klakson. Sekarang, Alya, Shafa, dan aku hanya bisa pasrah menunggu angkot yang akan mengantarkan kita pulang.
***
Tujuh menit berlalu. Aku, Alya, dan Shafa sudah ada di atas angkot yang melaju cukup kencang di jalanan. Angin semilir bertiup dari arah pintu angkot membuai kita bertiga. Perjalanan terasa sempurna hingga tiba-tiba...
Ciit... Byuurr…
Angkot berhenti mendadak. Untunglah tidak terjadi kecelakaan di depan sana. Tapi, sepertinya insiden itu terjadi di sini, di antara kita bertiga. Jus naga Alya yang ia letakkan di dekat jendela belakang sukses menghantam lantai angkot. Kita bertiga shock. Cairan putih kental itu juga sukses membentuk corak baru di atas kain tas belanjaan kita, celanaku , celana Alya, sandal Alya, dan ujung kaus kaki Shafa. Untung saja tumpahan jus naga Alya tidak mengenai langit-langit angkot.
Beruntungnya lagi, tidak ada penumpang lain di dalam angkot selain kita bertiga. Pak sopir di depan sepertinya juga tidak menyadari adanya insiden ini di dalam angkotnya. Kulirik Alya di depanku. Mulutnya terkunci rapat sementara matanya tampak berkaca-kaca menatap tumpahan jus naganya di lantai.
“Sayang banget jusnya tumpah,” Shafa ikut-ikutan memandang tumpahan jus di lantai, jusnya kan masih banyak. Mana jus itu rasanya enak banget lagi.”
Alya semakin nanar menatap jusnya. Aku mengelus pundak Alya, mencoba memberikan ketabahan. Tapi sepertinya gagal. Alya malah menundukkan kepalanya dalam-dalam. Shafa akhirnya ikut-ikutan mengusap pundak Alya. “Sabar ya, Ya. Jus naga di dunia ini nggak cuma satu kok.”
***
            Tidak ada percakapan di sisa perjalanan itu. Udara terasa sesak dipenuhi perasaan was-was kita bertiga. Alya, aku, dan Shafa cemas, kalau-kalau ada penumpang baru yang menaiki angkot. Entah apa yang harus kita katakan pada penumpang baru itu seandainya ia naik dan melihat lantai angkot yang harum, putih, dan lengket.
Beruntung angkot tidak berhenti sama sekali hingga kita turun di depan sebuah jalan. Kita bertiga berhasil turun dengan selamat. Sebetulnya, Alya, aku, dan Shafa merasa bersalah pada pak sopir, tapi tidak ada dari kita bertiga yang berani memberi tahu beliau tentang insiden itu. Kita bertiga segera mengambil langkah seribu setelah Alya membayar ongkos angkot yang dilebihkan.
Dan di sinilah kita, berjalan di bawah terik matahari dengan langkah-langkah yang lambat. Wajah penuh peluh bercampur debu, ditambah lagi pakaian dan tas kain yang kotor semakin melengkapi penampilan kita bertiga yang super lusuh. Dan di saat-saat tidak tepat seperti ini, perutku mulai bereaksi. Perih menusuk-nusuk lambungku. Kepalaku mulai pening. Aku hanya berharap, aku tidak akan menambah beban Alya dan Shafa dengan pingsan di tengah jalan.
***


[1] Tampan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar