Reguler Kita
Oleh Salsa Shabrina
“Don’t
be greedy or you will lose because of yourself. Enough is enough.”
“Udah siap belum Rin?” Alya
melirikku yang masih berdiri di depan cermin.
“Bentar, bentar! Dikit lagi kok!”
kurapikan lagi jilbab coklatku yang sedikit miring sambil menatap cermin.
“Lama ih! Aku manggil Shafa dulu
deh. Aku tunggu di bawah ya, jangan lama-lama!” bergegas Alya mengambil kertas-merah-jambu-keramat
alias kartu reguler di meja lalu melangkah menuju kamar seberang.
Kuanggukkan kepalaku sedikit. Aku
beranjak dari cermin menuju mejaku. Kucek lagi barang-barang yang harus kubawa
dalam tas. Dompet, daftar barang yang harus dibeli, botol minum, dan kartu
reguler sudah duduk manis dalam tasku.
Kakiku cepat-cepat melangkah menuruni
tangga asrama. Entah kakiku, sandalku, tangga asrama, atau mereka bertiga yang
salah sehingga aku jatuh terpeleset di tangga. Aku meringis, Ya, itu lumayan menyakitkan, batinku.
Apalagi di depan sana Alya dan Shafa menatapku dengan tatapan separuh kasihan,
separuh menahan tawa.
“Cepetan berdiri!” sebuah tangan
terulur di depanku. Aku pun menggenggam tangan itu dan berdiri dengan wajah masih
meringis kesakitan.
“Udah, ayo jalan! Nanti juga
sakitnya ilang kok. Lagian, kamu jatuhnya lucu banget. Haha.” Shafa gagal menahan
tawanya.
“Huh kamu!”
Alya akhirnya gagal menahan
tawanya, “Haha. Udah yuk, ayo jalan! Katanya mau ke PMI sebelah dulu sebelum ke
Paspong? Buruan, ntar kalo kesiangan malah makin panas!” Alya segera melangkah
pergi meninggalkanku yang masih berdiri dan menggenggam tangan Shafa, “Jus
naga, aku datang!”
***
Kulangkahkan
kakiku melintasi gerbang asrama. Ah,
akhirnya bisa keluar asrama juga. Aku menarik napas dalam-dalam. Biar paru-paruku puas menikmati
udara luar asrama setelah 4 minggu terkurung di dalam. Tapi,
kepuasanku terpaksa berhenti karena dua tatapan geli segera menghujam kepadaku.
“Ngapain
kamu
Rin?” Shafa yang bertanya, “napasnya
biasa aja kali!”
“Hehe,
udara luar asrama Fa, kan spesial” cengiran lebar menghiasi
wajahku.
“Yaelah,
sama aja kali Rin sama udara di dalem asrama!”
“Beda
lah!” jawabku sengit, “hmm.. dikit sih,
hehe.” cengiran lebar terpasang
di wajahku.
“Udah ah, ayo jalan! Katanya nggak
mau kepanasan?” kulangkahkan
kakiku menjauhi Shafa, menyusul Alya yang sudah beberapa langkah di depan.
Matahari
mulai ganas menyinari bumi. Peluh bercucuran dari dahiku, dahi Shafa, dan pasti
dahi Alya juga. Untungnya jarak antara asrama dengan PMI tidak terlalu jauh. Di
depan sana, bangunan PMI sudah terlihat berdiri dengan gagahnya. Semakin lama,
semakin dekat jarak antara kita dengan PMI, eh gedung PMI. Tapi, tunggu... sesuatu menghentikan
langkah kita.
Sosok hitam itu kan…
Kuberanikan
diri maju selangkah mendekatinya. Sementara Alya dan Shafa hanya mematung di
belakangku dengan wajah pias.
Yah, nggak ada rantainya. Kalo nanti
ngejar kita gimana?
Aku bimbang. Aku hanya
mengamatinya dari sini.
Sepertinya
dia tertidur. Bagus lah kalau begitu.
Aku memberi kode pada Alya. Pelan-pelan
Alya berjinjit melewatinya, disusul Shafa, kemudian aku. Alya dan Shafa sudah
berhasil mencapai pintu PMI ketika tiba-tiba kepala sosok hitam itu terangkat.
Tatapannya langsung mengarah kepadaku.
Yah,
kenapa dia bangun sekarang?
jantungku
mencelus.
Otakku mulai sibuk memikirkan cara sukses untuk kabur seandainya anjing ini
benar-benar mengejarku. Tapi, belum sempat rencana tersusun, sosok hitam itu
bergerak lagi. Kali ini untuk menjatuhkan kepalanya dan memejamkan mata. Sosok
hitam itu pun tidak bergerak-gerak lagi.
Yah,
tidur lagi? aku
melongo.
“Rin, sini!” Alya menyadarkanku.
“Eh, iya iya!” cepat-cepat
kulangkahkan kaki melewati sosok itu dan memasuki gedung PMI. Di dalam,
hembusan angin dingin dari pendingin ruangan segera menyambut kita. Sangat
kontras dengan udara dan suasana di luar yang “panas”.
“Selamat siang Dek, ada yang bisa
dibantu?” sapa bapak-bapak berseragam hitam dengan senyuman ramah.
“Eh, siang Pak. Anu, saya mau
mendonorkan darah Pak.” jawab Shafa canggung.
Bapak itu tersenyum lagi, “Oh, Adek ke meja itu
dulu untuk mengisi buku tamu. Nanti kalau sudah selesai, Adek pergi ke pintu
yang itu.” kata Bapak itu sambil menunjuk ke sebuah pintu yang tertutup.
Shafa balas mengangguk.
Pelan-pelan, ia menghampiri meja yang ditunjukkan bapak tadi. Sementara aku dan
Alya mengekori Shafa dengan wajah penasaran.
Yah, di antara kita bertiga,
hanya Shafa yang sudah pernah mendonorkan darah. Itupun baru sekali dan bukan
di gedung PMI ini. Sementara Alya dan aku belum pernah mendonorkan darah. Kita
masih terlalu imut untuk mendonorkan darah, katanya.
Selesai mengisi buku tamu, Shafa
dengan dua ekor di belakangnya segera pergi menuju pintu yang ditunjuk bapak
berseragam tadi. Ternyata, di balik pintu itu terdapat ruangan yang dipisahkan
oleh sebuah lorong. Lorong itu berukuran kecil dan hanya diisi dengan dua kursi
besi yang diam membisu.
Kita
bertiga bimbang, harus terus melangkah, atau berhenti cukup sampai di sini.
Akhirnya aku berinisiatif untuk duduk di kursi besi itu. Belum sampai semenit
tubuhku mendarat di atas kursi, nama Shafa sudah dipanggil dari ujung lorong.
Shafa segera bangkit dan berjalan menuju suara itu.
Aku
yang masih diselimuti awan penasaran, mengikuti langkah Shafa melalui tatapan
mata. Di ruangan itu, Shafa terlihat menulis sesuatu sambil berbicara dengan
petugas PMI yang, ehm, lumayan tamvan[1]
menurutku. Aku pun bergeser mendekati ujung lorong. Bukan untuk mengamati
petugas itu. Sungguh bukan itu. Aku penasaran dengan ruangan di sebelah ruangan
Shafa dan petugas itu.
Mataku
masih terfokus untuk menjelajahi ruangan itu ketika kurasakan kursi besi yang
kududuki bergetar. Refleks aku menoleh ke arah Alya yang dari tadi juga duduk
di kursi ini. Aku heran, Alya terlihat gelisah sekali. Duduknya pun sedikit
membungkuk dan memunggungiku. Tangannya juga terlihat saling remas, ciri khas
orang yang gelisah. Aku penasaran dengan keadaan Alya.
Pertanyaanku untuk Alya sudah di
ujung lidah ketika tiba-tiba sebuah tangan hinggap di pundakku.
“Aaaaa!” aku shock. Jantungku berdebar lagi.
Secepat
kilat tangan itu beralih membekap mulutku.
“Apaan
sih Rin? Jangan teriak-teriak dong! Malu-maluin aja.” kata seseorang di
belakangku dengan nada sewot.
Aku pun
menoleh kaku, masih dengan jantung yang berdebar, plus muka super tegang.
“Ih
Arin, mukanya gitu banget sih! Aku kan bukan setan yang di film kemarin!” Shafa menatapku sewot.
Aku
hanya menatapnya polos sambil berusaha mengatur debaran jantungku. Siapa suruh,kamu bikin aku kaget. Lagian, bukannya kamu tadi masih ngobrol
sama petugas itu ya?
“Loh
Shaf, udahan donornya? Cepet banget?” Alya yang bersuara.
“Aku
nggak jadi donor” kata Shafa,”tensiku
nggak aman buat donor.”
“Terus
gimana? Kamu mau langsung pulang Shaf? Katanya tadi kamu mau tidur kalo udah
selesai donor?” aku yang bertanya, setelah berhasil menenangkan jantungku.
Shafa
terdiam. “Hmm, aku ikut kalian aja deh...”
“Oke,
ayo jalan!” belum selesai Shafa berkata, Alya sudah menyahut sambil melangkah
pergi meninggalkan lorong, ”Jus naga, aku datang!”
Aku melongo. Shafa menatap aku yang melongo
dengan tatapan penuh harap.
“Tapi
Rin, uangku di asrama. Dan, yah, aku males ngambilnya. Tapi aku pengen ikut
kalian. Mungkin aja tensiku bakal naik. Hehe.” Shafa nyengir.
Aku
mendesah. Entah kenapa firasatku memburuk.
***
Matahari
semakin tega menyengat kulit bumi. Seakan bersekongkol dengan matahari, jalanan
semakin menanjak menyulitkan langkah. Angin pun seolah enggan berhembus
mendekat memberi sejuk. Ditambah lagi debu-debu yang usil beterbangan setiap
kaki melangkah. Peluh pun mulai memenuhi dahi, hidung, pipi, wajah, serta tubuh
kita. Walaupun begitu, kaki ini terus melangkah menuju tujuan selanjutnya,
Pasar Serpong.
***
Sebuah angkot melaju kencang di
tengah keramaian jalan. Namun, tak berapa lama, laju angkot mulai melambat
hingga akhirnya berhenti, terhalang puluhan kendaraan lain di depannya. Udara
panas bercampur asap dan debu segera berebutan memasuki angkot, membuat kita
bertiga kembali kegerahan. Yah, angkot bukan berhenti untuk menurunkan kita,
tetapi karena macet.
“Ya udah, kita turun di sini aja.
Toh, tokonya udah kelihatan tuh.” kata Alya menatapku sambil terus mengipasi
wajahnya dengan tangan.
Aku mengangguk, “Bang, kita turun
sini. Ini ongkosnya.” kujulurkan
tanganku ke bagian depan angkot. Belum sempat tanganku kembali, Shafa sudah
buru-buru turun dari angkot. Alya mengikuti Shafa turun dan aku juga turun
pastinya. Susah payah kita meliuk-liuk di antara campuran asap dan debu di
sekitar kendaraan-kendaraan bermotor. Angkot memang tidak berhenti di pinggir
jalan, melainkan tepat di tengah jalan,
diimpit kendaraan-kendaraan lainnya. Dan, sampailah kita di toko pertama, Toko
Jaya.
***
Dua
jam berlalu tanpa terasa. Lelah mulai merayap bersama dengan beban yang semakin
berat di tangan dan punggung. Langkah kaki pun semakin memberat, ditambah lagi
tubuhku yang meminta...
“Ke
seberang yuk, nggak kuat lagi nih!” ucapku memelas menatap Alya dan Shafa.
Shafa
menatap nanar jalanan di depan sana lalu menggeleng lemah, ”Masih rame banget Rin.
Susah nyebrangnya.”
Alya mengangguk membenarkan
perkataan Shafa, “Tahan
bentar ya,
Rin!” katanya sambil mengelus pundakku.
Aku pun hanya bisa menatap pasrah wajah
mereka. Rasanya, perutku semakin kuat meronta-ronta di bawah sana.
“Tunggu, tunggu, kayaknya aku kenal
gang ini,” Alya celingak-celinguk melihat sekitarnya, “ikuti aku! aku mau beli
sesuatu lagi.” Alya segera berjalan memasuki gang itu bersama Shafa. Sedangkan
aku, aku berjalan pelan-pelan di belakang mencoba menenangkan rontaan perutku.
Dan, aku kalah. Efek dari perut
yang terlalu kuat meronta, ditambah udara yang semakin panas, membuatku
menyerah. Aku terduduk di depan sebuah warung kosong dengan wajah pucat pasi.
Keringat dingin menetes dari dahiku. Aku lemas sekali. Kuhembuskan nafas pelan-pelan,
mencoba menenangkan perutku dengan sisa-sisa tenaga. Tenang Rin, sebentar lagi semua selesai. Ayo semangat!
Lima menit berlalu.
Alya dan Shafa berjalan
menghampiriku dari ujung gang dengan bawaan yang semakin membesar. Alya
menatapku dengan tatapan bersalah. “Nggak kuat beneran ya, Rin? Maaf banget Rin, aku perlu
banget beli ini” katanya
sambil menunjukkan kotak kuning padaku, ”di situ lebih murah. Hehe.” Alya
nyengir.
Aku hanya mengangguk pelan. Ya iyalah, aku kan masih lemas.
“Ya udah, ayo ke seberang! Masih
kuat kan,
Rin?” Shafa menatapku prihatin.
Aku hanya mengangguk pelan, lagi.
***
Matahari
pukul sebelas masih setia bersinar di atas.
Debu-debu masih bersemangat melompat-lompat di antara kendaraan bermotor
hingga melompat memasuki hidung kita. Dan di sinilah kita, terjebak di warung
kecil pinggir jalan yang tidak terlalu ramai.
Kruuk… kruuk…
Serentak
Alya dan Shafa menoleh ke arahku. Aku menunduk malu. Aku yakin, ada rona merah
di pipiku. Ya, itu tadi memang suara
perutku. Aku kan belum sarapan. Mereka tertawa melihatku. Sepertinya mata
mereka mulai sedikit berair karena tertawa.
“Tenang
Rin, bentar lagi juga dateng kok makanannya.” kata Shafa di sela-sela tawanya.
“Apa kamu
mau jus nagaku dulu?” Alya menyodorkan jus naga di dekatnya padaku.
Refleks kepalaku mengangguk.
Tanganku dengan sigap mengambil jus naga itu dari tangan Alya. “Makasih Alya.” kuberikan senyuman
termanisku untuk Alya. Alya langsung memberiku tatapan jijik, “Senyummu itu lho Rin… Mending jangan senyum
lagi, oke?”
Baru saja aku akan mendebat Alya,
ibu-ibu pemilik warung datang menghampiri meja kita dengan 2 piring di
tangannya. Ibu itu menyodorkan piring-piring itu ke meja kita dengan wajah yang
cerah, “Ini Dek gado-gadonya. Dua-duanya pedes
banget kan?”
Alya, aku, dan Shafa melongo.
“Loh Bu, bukannya kita tadi pesen
yang nggak pedes ya?” Alya yang pertama tersadar segera berkata.
Seketika raut wajah ibu itu
berubah masam,
“Nggak tuh, tadi kalian pesen yang pedes.” bantah ibu itu.
Alya masih keukeuh membantah, “Nggak Bu. Saya yakin, kita tadi pesen yang nggak pedes.”
“Nggak ah. Saya yakin banget kalo
kalian tadi pesen yang pedes.” bantah ibu itu lagi. Tatapannya tajam menghujam
ke arah Alya. “Ya udah, kalian jadi mau makan nggak?” nada suaranya mulai
meninggi.
Segera kucubit lengan Alya yang seperti
masih ingin mendebat ibu itu lagi.
“Sepertinya kita memang pesen yang pedes Bu.” Shafa mencoba mengakhiri
perdebatan Alya dengan ibu-ibu itu.
Ibu itu tampak puas dan segera
berlalu dari meja kita. Yah, semoga saja perutku
tidak bermasalah setelah makan gado-gado ini.
***
Peluh bercucuran deras dari dahi
Alya, dahi Shafa, dan paling banyak dari dahiku. Campuran antara efek dari
sensasi terbakar di lidah ditambah dengan udara yang semakin panas. Makanan di
meja sudah hampir habis. Hanya tersisa jus naga Alya yang hanya berkurang
sedikit. Itu merupakan jus naga ketiganya di warung ini.
Shafa menyeruput es teh di
gelasku, ketika aku sibuk mengusap dahi dengan tisu. Sementara itu, Alya sudah
terkulai lemas di atas kursi.
“Alya, buruan jus naganya
diminum.” kata Shafa.
Alya menggeleng, “Nggak kuat Fa,
kenyang banget.” Alya hanya memandangi gelas jus naganya.
“Ya udah, bawa pulang aja. Toh itu kan pake
gelas plastik, kamu
nggak ribet bawanya.”
Alya mengangguk dan mulai bersiap-siap
pulang. Aku segera melangkah menuju ibu-ibu tadi untuk membayar makanan.
Tatapan tajam ibu itu masih setia melekat di wajahnya. Cepat-cepat kuselesaikan
urusan dengan ibu itu dan berlalu dari warungnya menyusul Shafa dan Alya di
depan.
Di depan warung, debu dan asap
langsung berebutan mendekat. Bising suara kendaraan bermotor juga semakin
terasa memekakkan telinga. Apalagi beberapa pengendara yang tidak sabar dengan
macet, berebutan membunyikan klakson. Sekarang, Alya, Shafa, dan aku hanya bisa
pasrah menunggu angkot yang akan mengantarkan kita pulang.
***
Tujuh menit berlalu. Aku, Alya,
dan Shafa sudah ada di atas angkot yang melaju cukup kencang di jalanan. Angin
semilir bertiup dari arah pintu angkot membuai kita bertiga. Perjalanan terasa
sempurna hingga tiba-tiba...
Ciit...
Byuurr…
Angkot berhenti mendadak.
Untunglah tidak terjadi kecelakaan di depan sana. Tapi, sepertinya insiden itu
terjadi di sini, di antara kita bertiga. Jus naga Alya yang ia letakkan di
dekat jendela belakang sukses menghantam lantai angkot. Kita bertiga shock. Cairan putih kental itu juga
sukses membentuk corak baru di atas kain tas belanjaan kita, celanaku , celana
Alya, sandal Alya, dan ujung kaus kaki Shafa. Untung saja tumpahan jus naga
Alya tidak mengenai langit-langit angkot.
Beruntungnya lagi, tidak ada
penumpang lain di dalam angkot selain kita bertiga. Pak sopir di depan
sepertinya juga tidak menyadari adanya insiden ini di dalam angkotnya. Kulirik
Alya di depanku. Mulutnya terkunci rapat sementara matanya tampak berkaca-kaca
menatap tumpahan jus naganya di lantai.
“Sayang banget jusnya tumpah,”
Shafa ikut-ikutan memandang tumpahan jus di lantai, ”jusnya kan masih banyak.
Mana jus itu rasanya enak banget lagi.”
Alya semakin nanar menatap jusnya.
Aku mengelus pundak Alya, mencoba memberikan ketabahan. Tapi sepertinya gagal.
Alya malah menundukkan kepalanya dalam-dalam. Shafa akhirnya ikut-ikutan
mengusap pundak Alya. “Sabar ya,
Ya. Jus naga di dunia ini nggak cuma satu kok.”
***
Tidak
ada percakapan di sisa perjalanan itu. Udara terasa sesak dipenuhi perasaan
was-was kita bertiga. Alya, aku, dan Shafa cemas, kalau-kalau ada penumpang
baru yang menaiki angkot. Entah apa yang harus kita katakan pada penumpang baru
itu seandainya ia naik dan melihat lantai angkot yang harum, putih, dan
lengket.
Beruntung angkot tidak berhenti
sama sekali hingga kita turun di depan sebuah jalan. Kita bertiga berhasil
turun dengan selamat. Sebetulnya, Alya, aku, dan Shafa merasa bersalah pada pak
sopir, tapi tidak ada dari kita bertiga yang berani memberi tahu beliau tentang
insiden itu. Kita bertiga segera mengambil langkah seribu setelah Alya membayar
ongkos angkot yang dilebihkan.
Dan di sinilah kita, berjalan di
bawah terik matahari dengan langkah-langkah yang lambat. Wajah penuh peluh
bercampur debu, ditambah lagi pakaian dan tas kain yang kotor semakin
melengkapi penampilan kita bertiga yang super lusuh. Dan di saat-saat tidak
tepat seperti ini, perutku mulai bereaksi. Perih menusuk-nusuk lambungku.
Kepalaku mulai pening. Aku hanya berharap, aku tidak akan menambah beban Alya
dan Shafa dengan pingsan di tengah jalan.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar