Jumat, 18 Maret 2016

Cerpen_My First Flight


My First Flight
Oleh Zaynab Abdul Wahid

“Hidup ini terlalu berharga bila hanya untuk diratapi. Hidup ini akan sempurna, bila penerimaan selalu mengikuti jejaknya.”


Sudah pernah naik pesawat sebelumnya? Ah, aku bahkan tak tahu sebesar apa ukuran pesawat itu. Katanya, manusia saja tak sebanding dengan rodanya. Benarkah? Ah, sudahlah. Tidak perlu memikirkan hal-hal tidak penting seperti itu. Kata Bapak, suatu saat nanti, jika aku sudah sukses dan sudah punya nama besar, pesawat akan menjadi rutinitasku. Aku berusaha untuk memercayainya, meskipun hal itu sangat asing di telingaku. Bagaimana mungkin aku yang tidak pernah melihatnya langsung, dapat menjadikannya kendaraan sehari-hari? Itu mustahil.



            Lebih baik aku belajar. Ya, belajar yang sudah hampir kunobatkan sebagai hobiku saking seringnya aku melakukan ini. Maklum, kali ini tes yang kuhadapi berbeda. Aku akan mengikuti seleksi masuk sekolah favorit di Indonesia. Katanya, soalnya akan sangat sulit. Meskipun tes itu akan diadakan satu bulan lagi, namun aku sudah merasa gugup dan khawatir jika aku tidak diterima. Tujuanku masuk ke sekolah ini selain untuk belajar, adalah meringankan beban Mamak dan Bapak. Katanya, sekolahnya gratis. Tentu keluarga seperti kami tak kuasa menolaknya.
            “Nduk... mbok yo ojo sinau terus... gek turu!”[1] Mamak mengingatkanku dengan tampang lelah. Ah, beliau selalu saja bekerja tanpa menghiraukan kesehatannya.
            “Sek, Mak....[2] ini tinggal satu halaman lagi, kok.” aku menjawab sesaat setelah sekilas melihat ke arah Mamak. Iya tanggung, halaman terakhir dan aku akan tidur.
            “Yo wes..[3] jangan dipaksakan ya, Nak.” Beliau tersenyum tulus, “Mamak duluan tidurnya, ya..” lanjutnya sambil keluar dari kamarku. Sebenarnya, aku berencana menghabiskan satu bab lagi, namun apa daya mataku sudah meminta untuk ditutup, aku akhirnya menyerah.
***
            Kini aku sudah duduk dalam sebuah ruangan besar dengan panggung tinggi di depanku. Duduk di antara orang-orang sebayaku yang tak kukenal. Mamak dan Bapak mungkin sedang menatapku dari luar ruangan yang dibatasi oleh pintu kaca. Sayang, aku tak menatap mereka balik. Aku terlalu fokus terhadap pengarahan yang diberikan oleh beberapa orang yang terlihat lebih mengerti tentang tempat ini, kakak kelas mungkin.
            Kami dikelompokkan setiap 4 orang. Orang yang memberikan pengarahan berkata bahwa orang-orang ini lah yang akan menjadi teman sekamarku. Kuamati teman-teman sekamarku dengan hati-hati, berharap mereka tidak menyadari kalau aku memerhatikan mereka. Bagaimana bisa teman-temanku ini terlihat sangat pintar? Bisakah aku bertahan di sini tanpa menjadi gila?
            Kutepiskan rasa pesimis itu dari otakku. Ya, aku harus bisa bertahan, paling tidak demi kedua orang tuaku. Mamak selalu mengajarkan kepadaku, aku tidak boleh pesimis dalam hal apa pun. Tapi yang juga penting, adalah aku tidak boleh ambisius. Mamak selalu bilang, bahwa prestasi untuk Mamak dan Bapak, untuk keluargaku, bukanlah sebatas piala, sertifikat atau penghargaan lain. Prestasi adalah bahwa kita bisa lebih baik dari sebelumnya. Aku, selalu menanamkannya dalam hatiku. Ah, Mamak... Segera saja kutolehkan kepalaku ke arah luar. Mamak memandangiku dengan mata berkaca-kaca. Kau tidak boleh ikut menangis!, sorot matanya mengatakan demikian. Ya, aku akan selalu tegar! Aku akan menjadi anak Bapak dan Mamak yang tegar!, janjiku dalam hati, lalu kuberikan senyum terbaikku untuk mereka berdua.
***
            Tahun pertamaku tentu tidak berjalan dengan mulus. Kerinduan pada orang tua adalah hambatan paling besar bagiku. Apa daya aku tak bisa pulang sampai libur lebaran tiba. Apalagi kalau bukan karena keterbatasan dana? Tapi tak apa, sampai saat ini, aku masih menepati janjiku untuk menjadi anak yang tegar.
            Sekarang sudah tahun kedua, dan rasa ingin tahuku tentang pesawat kini meningkat. Cita-citaku kini adalah menjadi insinyur pesawat terbang. Mekipun hal itu terbilang cukup aneh untuk dijadikan profesi perempuan. Apalagi bagiku, yang bahkan melihatnya secara langsung saja tidak pernah, kecuali yang sedang terbang atau ada di televisi tentunya. Tapi siapa peduli?
Bel tanda pulang sudah berbunyi. Segera kurapikan barang-barangku karena aku tidak mau telat ke masjid.
            “Li!” seseorang memanggilku, anak laki-laki yang kebetulan satu kepanitiaan denganku terlihat terburu-buru. “Jangan lupa nanti malam, kita ngumpul buat ngomongin apa-apa yang belum siap, ya!” ujarnya setengah berteriak karena jaraknya semakin jauh dariku.
            “Yaaa..” balasku dengan setengah berteriak pula. Aku lupa kalau aku memiliki janji untuk berkumpul. Sedikit kusesali, karena aku ingin belajar malam ini. Besok adalah lomba besarku. Tapi aku tak boleh melanggar janji!, batinku mengingatkan. Mamak dan Bapak selalu mengajarkan untuk menjaga keparcayaan orang terhadap kita. Panutan kita, Nabi Muhammad pun selalu mengajarkannya, bukan? Lagi pula aku koordinator, mana bisa aku tidak hadir? Aku menghela napas dan berjalan ke luar kelas. Saatnya mengemis kepada Sang Pemurah.
***
            Aku sedang mencoba memasukkan bola ke dalam ring, ketika seseorang memanggilku dengan suara melengking. Tembakkanku meleset lantaran konsentrasiku hilang akibat telingaku yang sakit. Aku menggerutu dan segera berbalik ke arah sumber suara, bersiap untuk memarahinya. Namun aku urung melakukannya, karena ia terlihat sangat bahagia. Aku memilih untuk memasang ekspresi datar, meski sungguh aku ingin sekali ikut tersenyum.
            “Kau tahu, Eli? Aku akan pergi umrah bersama kedua orang tuaku. Aku sungguh tidak sabar! Aku ingin sekali melihat Masjidil Haram!” jelasnya dengan menggebu-gebu. Ah, sahabatku yang satu ini, memang suka menunjukkan suasana hatinya dengan ekspresif. Apapun yang ia rasakan, pasti akan keluar dari mulutnya secara spontan, tanpa maksud apapun selain mencurahkannya. Ya, tak pernah terbersit dalam hatinya perasaan untuk pamer. Itu yang membuatku senang berteman dengannya. Kubalas kata-katanya itu dengan senyuman. “Aku akan berangkat pekan depan, Eli. Apa kau ingin menitip doa? Oleh-oleh? Pasti akan kubawakan!” Ia pun menyebutkan barang-barang yang biasanya mudah ditemukan di sana dan menanyakan apakah aku menginginkannya. Aku hanya tertawa dan kembali berkonsentrasi melakukan tembakan free throw. Masuk!
            “Hei! Mengapa kau mengacuhkanku? Kau tidak mau? Baiklah, itu akan menghemat pengeluaranku.” Ica mengatakannya dengan nada dan wajah yang kesal. Tapi itu tak berlangsung lama karena tiba-tiba saja matanya berbinar dan menunjukkan wajah memohon kepadaku. Aku menatapnya heran.
            “Li, nanti kamu ajarin aku fisika, ya! Sungguh aku muak dengan rumus-rumus yang tak kumengerti. Aku tidak tahan belajar sendiri...” katanya memohon, “besok aku ada ulangan fisika, Li. Tapi aku tidak mengerti apa pun!” keluhnya. “Maukah kau mengajariku? Please...
            “Oke.” Aku tersenyum padanya. Setelah mengucapkan ucapan terima kasih yang berlebihan, Ica berbalik dan menghampiri teman-temanku yang lain di tribun penonton.
Tiba-tiba saja dalam benak, kuteringat akan Mamak dan Bapak. Sedang apa mereka sekarang? Semoga mereka sehat selalu. Aku juga mempunyai cita-cita memeberangkatkan Mamak dan Bapak ke tanah suci. Aku akan memberangkatkannya dengan pesawatku kelak. Mohon bersabar sebentar lagi Mak, Pak... berharap mereka merasakan keyakinan yang kurasakan.
***
Aku sedang menebalkan bulatan terakhir dalam lembar jawabanku ketika seorang guru masuk dengan tergesa-gesa menemui pengawas. Mereka berbicara dengan mimik serius dan suara rendah. Aku tak bisa mendengar percakapan mereka, dan memang tidak berniat mengetahuinya. Kupandangi lembar jawabanku yang sudah penuh, dan kuucapkan rasa syukur bertubi-tubi kepada Allah. Ini pelajaran terakhirku dalam ujian kenaikan kelas. Sudah kuperiksa berkali-kali karena aku tak menginginkan kecerobohan dalam hal ini. Beberapa hari lagi liburan tiba dan itu berarti, aku akan bertemu Mamak dan Bapak. Sungguh aku sangat merindukan keduanya. Tiba-tiba pengawas menghampiri mejaku. Guru yang tadi masuk masih mematung di dekat meja pengawas.
“Eli, apa kau sudah selesai mengerjakan soalmu?” tanya pengawas yang merupakan guru fisikaku dengan lembut dan senyum hangat. Aku mengangguk dan balas tersenyum. “Sudahkah kau memeriksanya?” tanyanya lagi. “Sudah, Bu.” Jawabku.
“Bisakah kau ikut dengan Bu Inas? Ada sesuatu yang perlu ia beritahukan kepadamu.”
“Baik, Bu.” Kataku, kemudian merapikan barang-barangku. Sekalian pulang, ah... pikirku. Kuikuti Bu Inas yang sebelumnya menyapaku dengan senyum hangatnya, ke arah ruangannya. Setelah sampai, aku dipersilakan duduk di sofa empuk yang ada di ruangannya. Sebenarnya aku penasaran, mengenai hal yang akan dibicarakan oleh Bu Inas, namun aku tetap memikirkan hal-hal positif yang mungkin terjadi. Itu yang selalu diajarkan kedua orang tuaku. Ah, Mamak.. Bapak.. sebentar lagi aku pulang.. bahagia aku memikirkannya.
“Li, bagaimana ujiannya selama dua minggu kemarin?” tanya Bu Inas sambil mengangkat kepalanya dari gadget yang sedari tadi beliau mainkan.
“Oh, Alhamdulillah, Bu... Selama ini tidak ada hambatan yang berarti.” Jawabku menjelaskan.
“Ah, kamu memang pintar, Nak.. ke mana kau akan melanjutkan pendidikan nanti? Harus sudah dipikirkan dari sekarang, loh...” kata beliau disertai senyum.
“Saya berencana melanjutkan ke teknik dirgantara, Bu. Mohon doa dan bimbingannya..”
“Wow. Jarang sekali Ibu menemukan perempuan yang tertarik masuk ke situ. Tapi saya rasa kamu akan mendapatkannya. Bahkan tanpa tes masuk. Selama ini, saya perhatikan grafik nilaimu cenderung stabil di peringkat 5 besar, kan?”
“Ibu bisa saja... Alhamdulillah, selama ini saya bisa mempertahankannya, Bu. Tapi itu tak lepas dari dukungan orang-orang terdekat, Bu.” kataku malu-malu. “Oh iya, maaf sebelumnya, tapi saya ingin tahu mengapa Ibu memanggil saya ke sini?”
“A-ah... iya, akan saya jelaskan. Tapi saya ingin bertanya, apa kau rindu orang tuamu?”
“Pasti, Bu. Kan, sebentar lagi pulang. Jadi pasti rindu itu akan segera terobati.” kataku senang. Bu Inas pun ikut tersenyum, meski aku tak bisa menebak jenis apa senyuman yang terukir di wajahnya.
“Kedua orang tuamu juga sangat rindu padamu, Eli. Mereka meminta kepada saya, agar kamu bisa pulang ke rumah lebih cepat...” Bu Inas diam dan tampak sedang memilah kata, kemudian melanjutkan, “dan memintamu pulang menggunakan pesawat terbang.”
“Ibu tidak bercanda? Saya senang sekali mendengarnya, Bu!” seruku. “Tapi, memangnya kami punya uang untuk membeli tiket pesawat, Bu? Saya rasa kami...” ucapanku menggantung begitu saja.
“Kemarin kamu menang lomba fisika, kan? Kalau tidak salah, hadiahmu berupa uang yang cukup besar, bukan? Mereka memintamu untuk menggunakannya sementara. Berhubung uang tersebut masih dipegang pihak sekolah, maka kami sudah membelikan tiketnya untukmu. Jadi kamu tinggal berangkat.” Jelas Bu Inas.
“Baik, Bu. Saya akan berkemas. Pukul berapa saya harus sudah siap?”
“Satu jam lagi saya tunggu di lobi depan. Kau akan ditemani oleh sepupumu yang akan menunggumu di bandara.”
“Oke, Bu. Makasih banyak...” kataku sambil bergegas keluar ruangan. Hari ini, Tuhan sedang berbaik hati padaku. Aku mendapatkan kabar gembira yang tak pernah kusangka sama sekali. Hei, hari ini aku akan melihat pesawat! Bahkan menaikinya! Senyum tak berhenti tersungging dari wajahku. Perasaanku meletup-letup bahagia. Aku akan naik pesawat!
***
Kuedarkan pandanganku menyapu seluruh ruang tunggu. Aku bisa melihat pesawat berlalu-lalang dari kaca besar di hadapanku. Benda itu sangat besar! Membuatku menganga takjub, sampai-sampai sepupuku takut akan ada serangga yang masuk ke mulutku. Ia tersenyum melihat tingkahku yang ndeso. Tapi kemudian senyumnya berubah menjadi senyum getir, diikuti mata yang berkaca-kaca. Aku malas menanyakan perubahan yang terjadi pada mimik wajahnya itu. Lebih baik aku menghabiskan waktu melihat-lihat ruangan ini dan meninggalkannya sendirian, sampai sebuah pengumuman memerintahkan kami untuk segera memasuki pesawat.
Kulangkahkan kakiku dengan kecepatan relatif lambat. Tak ingin menyia-nyiakan momen berjalan di atas belalai ini. Setelas sampai di pintu pesawat, kami disambut oleh pramugari cantik yang tak pernah berhenti tersenyum. Aku segera membalas senyumannya dan bergegas mencari tempat duduk. Beruntung sekali, aku duduk di dekat jendela, dan bukan di bagian sayap! Itu artinya aku bisa melihat awan-awan yang ada di luar sana. Sungguh aku tak percaya ini! Katanya, aku akan tiba setelah satu setengah jam. Meski menurutku itu kurang lama, tapi aku akan berusaha menikmatinya. Oh Mamak, Bapak.. kalian harus merasakan menaiki benda raksasa ini! Penemuan yang hebat dalam sejarah manusia! Nanti akan kubuatkan untuk kalian, Mak.. Pak.. batinku. Entah mengapa, air mataku menetes tiba-tiba. Ya, pasti kubuatkan!
***
Lima tahun kemudian...
            Aku sedang berada di kursi empuk pesawat dengan rute Jakarta-Jerman. Entah ini sudah penerbangan yang ke berapa, yang jelas ini sudah menjadi rutinitas bulananku. Bolak-balik untuk kepentingan pekerjaan dan pendidikan. Kusandarkan tubuhku dengan rileks dan menatap ke luar jendela, ke arah langit biru. Terbersitlah ingatanku kepada penerbangan pertamaku dulu.
            Sesampainya di rumah, aku heran karena tidak ada siapa pun. Aku segera diajak ke tempat yang tak pernah kukunjungi sebelumnya, yakni rumah sakit terkenal yang terletak di pusat kota. Aku bingung, untuk apa aku dibawa ke sana?
Sesampainya di sana, aku digiring ke ruang ICU dengan peralatan super canggih. Langkahku terhenti. Lidahku kelu, wajahku kebas, ketika melihat apa yang kulihat di hadapanku. Di dalam ruang kaca, terbaring dua insan di kasur yang bersebelahan, dilengkapi kabel serta selang dan alat-alat lain yang tak pernah kulihat sebelumnya. Dua manusia yang sangat amat kucintai. Perlahan air mataku menetes. Maafkan aku.. Maafkan aku kali ini, Mak.. Pak.. Maafkan Eli karena melanggar janji yang Eli ucapkan sendiri. Maafkan Eli yang belum bisa menjadi anak tegar seperti yang Mamak dan Bapak harapkan. Kala itu tubuhku berguncang hebat. Tak kuasa membendung tangis. Ketika tiba-tiba beberapa dokter dan perawat masuk dengan tergesa-gesa. Monitor yang ada di sebelah ranjang mereka menunjukkan garis lurus sempurna, dalam waktu yang bersamaan. Tak kuasa sudah kakiku untuk berpijak. Meski tak ada kata yang terucap dari mulutku hari itu, semua orang menatapku dengan pandangan prihatin.
Dua insan yang baru saja menjemput kebahagiaannya itu, mengalami kecelakaan hebat dalam perjalanan menuju sekolahku. Mereka berencana menjemputku tanpa memberitahuku terlebih dahulu, itu penjelasan yang aku terima setelah berhari-hari aku menutup diri. Kebahagiaan yang mereka jemput itu, pasti akan terkenang dalam anganku, hingga akhir hayatku. Ya, hari itu, saat penerbangan pertamaku.



[1] “Nak… jangan belajar terus… pergi tidurlah!”
[2] “Nanti, Ma…”
[3] “Ya sudah…”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar