Oleh Zaynab Abdul Wahid
“Hidup ini terlalu
berharga bila hanya untuk diratapi. Hidup ini akan sempurna, bila penerimaan
selalu mengikuti jejaknya.”
Sudah pernah naik pesawat
sebelumnya? Ah, aku bahkan tak tahu sebesar apa ukuran pesawat itu. Katanya,
manusia saja tak sebanding dengan rodanya. Benarkah? Ah, sudahlah. Tidak perlu
memikirkan hal-hal tidak penting seperti itu. Kata Bapak, suatu saat nanti,
jika aku sudah sukses dan sudah punya nama besar, pesawat akan menjadi rutinitasku.
Aku berusaha untuk memercayainya, meskipun hal itu sangat asing di telingaku.
Bagaimana mungkin aku yang tidak pernah melihatnya langsung, dapat
menjadikannya kendaraan sehari-hari? Itu mustahil.
Lebih
baik aku belajar. Ya, belajar yang sudah hampir kunobatkan sebagai hobiku
saking seringnya aku melakukan ini. Maklum, kali ini tes yang kuhadapi berbeda.
Aku akan mengikuti seleksi masuk sekolah favorit di Indonesia. Katanya, soalnya
akan sangat sulit. Meskipun tes itu akan diadakan satu bulan lagi, namun aku sudah
merasa gugup dan khawatir jika aku tidak diterima. Tujuanku masuk ke sekolah
ini selain untuk belajar, adalah meringankan beban Mamak dan Bapak. Katanya,
sekolahnya gratis. Tentu keluarga seperti kami tak kuasa menolaknya.
“Nduk...
mbok
yo
ojo sinau terus... gek turu!”[1] Mamak mengingatkanku
dengan tampang lelah. Ah, beliau selalu saja bekerja tanpa menghiraukan
kesehatannya.
“Sek,
Mak....[2] ini tinggal satu halaman lagi,
kok.” aku
menjawab sesaat setelah sekilas melihat ke arah Mamak. Iya tanggung, halaman
terakhir dan aku akan tidur.
“Yo
wes..[3]
jangan dipaksakan ya, Nak.” Beliau
tersenyum tulus, “Mamak
duluan tidurnya, ya..” lanjutnya sambil keluar dari kamarku. Sebenarnya, aku
berencana menghabiskan satu bab lagi, namun apa daya mataku sudah meminta untuk
ditutup, aku akhirnya menyerah.
***
Kini
aku sudah duduk dalam sebuah ruangan besar dengan panggung tinggi di depanku.
Duduk di antara orang-orang sebayaku yang tak kukenal. Mamak dan Bapak mungkin
sedang menatapku dari luar ruangan yang dibatasi oleh pintu kaca. Sayang, aku
tak menatap mereka balik. Aku terlalu fokus terhadap pengarahan yang diberikan
oleh beberapa orang yang terlihat lebih mengerti tentang tempat ini, kakak
kelas mungkin.
Kami
dikelompokkan setiap 4 orang. Orang yang memberikan pengarahan berkata bahwa
orang-orang ini lah yang akan menjadi teman sekamarku. Kuamati teman-teman
sekamarku dengan hati-hati, berharap mereka tidak menyadari kalau aku
memerhatikan mereka. Bagaimana bisa teman-temanku ini terlihat sangat pintar?
Bisakah aku bertahan di sini tanpa menjadi gila?
Kutepiskan
rasa pesimis itu dari otakku. Ya, aku harus bisa bertahan, paling tidak demi
kedua orang tuaku. Mamak selalu mengajarkan kepadaku, aku tidak boleh pesimis
dalam hal apa pun. Tapi yang juga penting, adalah aku tidak boleh ambisius. Mamak
selalu bilang, bahwa prestasi untuk Mamak dan Bapak, untuk keluargaku, bukanlah
sebatas piala, sertifikat atau penghargaan lain. Prestasi adalah bahwa kita
bisa lebih baik dari sebelumnya. Aku, selalu menanamkannya dalam hatiku. Ah,
Mamak... Segera saja kutolehkan kepalaku ke arah luar. Mamak memandangiku
dengan mata berkaca-kaca. Kau tidak boleh ikut menangis!, sorot matanya
mengatakan demikian. Ya, aku akan selalu tegar! Aku akan menjadi anak Bapak
dan Mamak yang tegar!, janjiku dalam hati, lalu kuberikan senyum terbaikku
untuk mereka berdua.
***
Tahun
pertamaku tentu tidak berjalan dengan mulus. Kerinduan pada orang tua adalah
hambatan paling besar bagiku. Apa daya aku tak bisa pulang sampai libur lebaran
tiba. Apalagi kalau bukan karena keterbatasan dana? Tapi tak apa, sampai saat
ini, aku masih menepati janjiku untuk menjadi anak yang tegar.
Sekarang
sudah tahun kedua, dan rasa ingin tahuku tentang pesawat kini meningkat.
Cita-citaku kini adalah menjadi insinyur pesawat terbang. Mekipun hal itu
terbilang cukup aneh untuk dijadikan profesi perempuan. Apalagi bagiku, yang
bahkan melihatnya secara langsung saja tidak pernah, kecuali yang sedang
terbang atau ada di televisi tentunya. Tapi siapa peduli?
Bel tanda
pulang sudah berbunyi. Segera kurapikan barang-barangku karena aku tidak mau
telat ke masjid.
“Li!”
seseorang memanggilku, anak laki-laki yang kebetulan satu kepanitiaan denganku
terlihat terburu-buru. “Jangan lupa nanti malam, kita ngumpul buat ngomongin
apa-apa yang belum siap, ya!” ujarnya setengah berteriak karena jaraknya
semakin jauh dariku.
“Yaaa..” balasku dengan setengah
berteriak pula. Aku lupa kalau aku memiliki janji untuk berkumpul. Sedikit
kusesali, karena aku ingin belajar malam ini. Besok adalah lomba besarku.
Tapi aku tak boleh melanggar janji!, batinku mengingatkan. Mamak dan Bapak
selalu mengajarkan untuk menjaga keparcayaan orang terhadap kita. Panutan kita,
Nabi Muhammad pun selalu mengajarkannya, bukan? Lagi pula aku
koordinator, mana bisa aku tidak hadir? Aku menghela napas dan berjalan ke luar
kelas. Saatnya mengemis kepada Sang Pemurah.
***
Aku
sedang mencoba memasukkan bola ke dalam ring,
ketika seseorang memanggilku dengan suara melengking. Tembakkanku
meleset lantaran konsentrasiku hilang akibat telingaku yang sakit. Aku
menggerutu dan segera berbalik ke arah sumber suara, bersiap untuk memarahinya.
Namun aku urung melakukannya, karena ia terlihat sangat bahagia. Aku memilih
untuk memasang ekspresi datar, meski sungguh aku ingin sekali ikut tersenyum.
“Kau
tahu, Eli? Aku akan pergi umrah bersama kedua orang tuaku. Aku sungguh tidak
sabar! Aku ingin sekali melihat Masjidil Haram!” jelasnya dengan menggebu-gebu.
Ah, sahabatku yang satu ini, memang suka menunjukkan suasana hatinya dengan
ekspresif. Apapun yang ia rasakan, pasti akan keluar dari mulutnya secara
spontan, tanpa maksud apapun selain mencurahkannya. Ya, tak pernah terbersit
dalam hatinya perasaan untuk pamer. Itu yang membuatku senang berteman
dengannya. Kubalas kata-katanya itu dengan senyuman. “Aku akan berangkat pekan
depan, Eli. Apa kau
ingin menitip doa? Oleh-oleh? Pasti akan kubawakan!” Ia pun menyebutkan
barang-barang yang biasanya mudah ditemukan di sana dan menanyakan apakah aku
menginginkannya. Aku hanya tertawa dan kembali berkonsentrasi melakukan
tembakan free throw. Masuk!
“Hei!
Mengapa kau
mengacuhkanku? Kau tidak mau? Baiklah, itu akan menghemat pengeluaranku.” Ica
mengatakannya dengan nada dan wajah yang kesal. Tapi itu tak berlangsung lama
karena tiba-tiba saja matanya berbinar dan menunjukkan wajah memohon kepadaku.
Aku menatapnya heran.
“Li,
nanti kamu
ajarin aku fisika, ya! Sungguh aku muak dengan rumus-rumus yang tak kumengerti.
Aku tidak tahan belajar sendiri...” katanya memohon, “besok aku ada ulangan
fisika, Li. Tapi aku tidak mengerti apa pun!” keluhnya. “Maukah kau mengajariku? Please...”
“Oke.”
Aku tersenyum padanya. Setelah mengucapkan ucapan terima kasih yang berlebihan,
Ica berbalik dan menghampiri teman-temanku yang lain di tribun penonton.
Tiba-tiba
saja dalam benak, kuteringat akan Mamak dan Bapak. Sedang apa mereka sekarang?
Semoga mereka sehat selalu. Aku juga mempunyai cita-cita memeberangkatkan Mamak
dan Bapak ke tanah suci. Aku akan memberangkatkannya dengan pesawatku kelak. Mohon
bersabar sebentar lagi Mak, Pak... berharap mereka merasakan keyakinan yang
kurasakan.
***
Aku sedang
menebalkan bulatan terakhir dalam lembar jawabanku ketika seorang guru masuk
dengan tergesa-gesa menemui pengawas. Mereka berbicara dengan mimik serius dan
suara rendah. Aku tak bisa mendengar percakapan mereka, dan memang tidak
berniat mengetahuinya. Kupandangi lembar jawabanku yang sudah penuh, dan
kuucapkan rasa syukur bertubi-tubi kepada Allah. Ini pelajaran terakhirku dalam
ujian kenaikan kelas. Sudah kuperiksa berkali-kali karena aku tak menginginkan
kecerobohan dalam hal ini. Beberapa hari lagi liburan tiba dan itu berarti, aku
akan bertemu Mamak dan Bapak. Sungguh aku sangat merindukan keduanya. Tiba-tiba
pengawas menghampiri mejaku. Guru yang tadi masuk masih mematung di dekat meja
pengawas.
“Eli, apa kau sudah selesai
mengerjakan soalmu?” tanya pengawas yang merupakan guru fisikaku dengan lembut
dan senyum hangat. Aku mengangguk dan balas tersenyum. “Sudahkah kau memeriksanya?”
tanyanya lagi. “Sudah, Bu.” Jawabku.
“Bisakah kau ikut dengan Bu Inas?
Ada sesuatu yang perlu ia beritahukan kepadamu.”
“Baik, Bu.”
Kataku, kemudian merapikan barang-barangku. Sekalian pulang, ah... pikirku.
Kuikuti Bu Inas yang sebelumnya menyapaku dengan senyum hangatnya, ke arah
ruangannya. Setelah sampai, aku dipersilakan duduk di sofa empuk yang ada di
ruangannya. Sebenarnya aku penasaran, mengenai hal yang akan dibicarakan oleh
Bu Inas, namun aku tetap memikirkan hal-hal positif yang mungkin terjadi. Itu
yang selalu diajarkan kedua orang tuaku. Ah, Mamak.. Bapak.. sebentar lagi
aku pulang.. bahagia aku memikirkannya.
“Li,
bagaimana ujiannya selama dua minggu kemarin?” tanya Bu Inas sambil mengangkat
kepalanya dari gadget yang sedari tadi beliau mainkan.
“Oh, Alhamdulillah, Bu... Selama ini tidak
ada hambatan yang berarti.” Jawabku menjelaskan.
“Ah, kamu memang pintar, Nak.. ke
mana kau
akan melanjutkan pendidikan nanti? Harus sudah dipikirkan dari sekarang,
loh...” kata beliau disertai senyum.
“Saya
berencana melanjutkan ke teknik dirgantara, Bu. Mohon doa dan bimbingannya..”
“Wow. Jarang
sekali Ibu menemukan perempuan yang tertarik masuk ke situ. Tapi saya rasa kamu akan mendapatkannya.
Bahkan tanpa tes masuk. Selama ini, saya perhatikan grafik nilaimu cenderung
stabil di peringkat 5 besar, kan?”
“Ibu bisa
saja... Alhamdulillah, selama ini
saya bisa mempertahankannya, Bu. Tapi itu tak lepas dari dukungan orang-orang
terdekat, Bu.” kataku
malu-malu. “Oh iya, maaf sebelumnya, tapi saya ingin tahu mengapa Ibu memanggil
saya ke sini?”
“A-ah... iya, akan saya jelaskan.
Tapi saya ingin bertanya, apa kau
rindu orang tuamu?”
“Pasti, Bu.
Kan, sebentar lagi pulang. Jadi pasti rindu itu akan segera terobati.” kataku senang. Bu Inas pun
ikut tersenyum, meski aku tak bisa menebak jenis apa senyuman yang terukir di wajahnya.
“Kedua orang
tuamu juga sangat rindu padamu, Eli. Mereka meminta kepada saya, agar kamu bisa
pulang ke rumah lebih cepat...” Bu Inas diam dan tampak sedang memilah kata,
kemudian melanjutkan, “dan memintamu pulang menggunakan pesawat terbang.”
“Ibu tidak
bercanda? Saya senang sekali mendengarnya, Bu!” seruku. “Tapi, memangnya kami
punya uang untuk membeli tiket pesawat, Bu? Saya rasa kami...” ucapanku
menggantung begitu saja.
“Kemarin kamu menang lomba fisika,
kan? Kalau tidak salah, hadiahmu berupa uang yang cukup besar, bukan? Mereka
memintamu untuk menggunakannya sementara. Berhubung uang tersebut masih
dipegang pihak sekolah, maka kami sudah membelikan tiketnya untukmu. Jadi kamu tinggal berangkat.”
Jelas Bu Inas.
“Baik, Bu.
Saya akan berkemas. Pukul berapa saya harus sudah siap?”
“Satu jam
lagi saya tunggu di lobi depan. Kau akan ditemani oleh sepupumu yang akan
menunggumu di bandara.”
“Oke, Bu. Makasih banyak...” kataku sambil
bergegas keluar ruangan. Hari ini, Tuhan sedang berbaik hati padaku. Aku
mendapatkan kabar gembira yang tak pernah kusangka sama sekali. Hei, hari ini
aku akan melihat pesawat! Bahkan menaikinya! Senyum tak berhenti tersungging
dari wajahku. Perasaanku meletup-letup bahagia. Aku akan naik pesawat!
***
Kuedarkan
pandanganku menyapu seluruh ruang tunggu. Aku bisa melihat pesawat
berlalu-lalang dari kaca besar di hadapanku. Benda itu sangat besar! Membuatku
menganga takjub, sampai-sampai sepupuku takut akan ada serangga yang masuk ke
mulutku. Ia tersenyum melihat tingkahku yang ndeso. Tapi kemudian
senyumnya berubah menjadi senyum getir, diikuti mata yang berkaca-kaca. Aku
malas menanyakan perubahan yang terjadi pada mimik wajahnya itu. Lebih baik aku
menghabiskan waktu melihat-lihat ruangan ini dan meninggalkannya sendirian, sampai
sebuah pengumuman memerintahkan kami untuk segera memasuki pesawat.
Kulangkahkan
kakiku dengan kecepatan relatif lambat. Tak ingin menyia-nyiakan momen berjalan
di atas belalai ini. Setelas sampai di pintu pesawat, kami disambut oleh
pramugari cantik yang tak pernah berhenti tersenyum. Aku segera membalas
senyumannya dan bergegas mencari tempat duduk. Beruntung sekali, aku duduk di
dekat jendela, dan bukan di bagian sayap! Itu artinya aku bisa melihat
awan-awan yang ada di luar sana. Sungguh aku tak percaya ini! Katanya, aku akan
tiba setelah satu setengah jam. Meski menurutku itu kurang lama, tapi aku akan
berusaha menikmatinya. Oh Mamak, Bapak.. kalian harus merasakan menaiki
benda raksasa ini! Penemuan yang hebat dalam sejarah manusia! Nanti akan kubuatkan
untuk kalian, Mak.. Pak.. batinku. Entah mengapa, air mataku menetes
tiba-tiba. Ya, pasti kubuatkan!
***
Lima tahun kemudian...
Aku
sedang berada di kursi empuk pesawat dengan rute Jakarta-Jerman. Entah ini
sudah penerbangan yang ke berapa, yang jelas ini sudah menjadi rutinitas
bulananku. Bolak-balik untuk kepentingan pekerjaan dan pendidikan. Kusandarkan
tubuhku dengan rileks dan menatap ke luar jendela, ke arah langit biru.
Terbersitlah ingatanku kepada penerbangan pertamaku dulu.
Sesampainya
di rumah, aku heran karena tidak ada siapa pun. Aku segera diajak ke tempat
yang tak pernah kukunjungi sebelumnya, yakni rumah sakit terkenal yang terletak
di pusat kota. Aku bingung, untuk apa aku dibawa ke sana?
Sesampainya
di sana, aku digiring ke ruang ICU dengan peralatan super canggih. Langkahku
terhenti. Lidahku kelu, wajahku kebas, ketika melihat apa yang kulihat di
hadapanku. Di dalam ruang kaca, terbaring dua insan di kasur yang bersebelahan,
dilengkapi kabel serta selang dan alat-alat lain yang tak pernah kulihat
sebelumnya. Dua manusia yang sangat amat kucintai. Perlahan air mataku menetes.
Maafkan aku.. Maafkan aku kali ini, Mak.. Pak.. Maafkan Eli karena melanggar
janji yang Eli ucapkan sendiri. Maafkan Eli yang belum bisa menjadi anak tegar
seperti yang Mamak dan Bapak harapkan. Kala itu tubuhku berguncang hebat.
Tak kuasa membendung tangis. Ketika tiba-tiba beberapa dokter dan perawat masuk
dengan tergesa-gesa. Monitor yang ada di sebelah ranjang mereka menunjukkan
garis lurus sempurna, dalam waktu yang bersamaan. Tak kuasa sudah kakiku untuk
berpijak. Meski tak ada kata yang terucap dari mulutku hari itu, semua orang
menatapku dengan pandangan prihatin.
Dua insan
yang baru saja menjemput kebahagiaannya itu, mengalami kecelakaan hebat dalam perjalanan
menuju sekolahku. Mereka berencana menjemputku tanpa memberitahuku terlebih
dahulu, itu penjelasan yang aku terima setelah berhari-hari aku menutup diri.
Kebahagiaan yang mereka jemput itu, pasti akan terkenang dalam anganku, hingga
akhir hayatku. Ya, hari itu, saat penerbangan pertamaku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar