Sabtu, 12 Maret 2016

Proses Pencarian Ilmu dalam Perkembangan Manusia

Proses Pencarian Ilmu dalam Perkembangan Manusia
Menurut Pandangan Umum dan Islam
(Nidia Sofa dan Effrina Yuricki)
(Makalah ini merujuk kepada karya J. Bronowsky dalam bukunya The Ascent of Man, Bab Starry Messenger)
Astronomi adalah termasuk ilmu pertama yang berkembang di peradaban-peradaban tua di dunia. Dasar-dasar astronomi sejatinya telah dipelajari dan dianggap penting oleh hampir semua orang-orang terdahulu, baik di belahan Old World (Dunia Tua) yakni Eropa, Asia dan Afrika, maupun di New World (Dunia Baru); Amerika, Australia dan New Zealand. Hal ini dikarenakan astronomi adalah ilmu yang mengarahkan masyarakat akan perputaran musim-musim yang berdasarkan pada perputaran bumi mengelilingi matahari. Dengan cara ini kemudian dapat diketahui kapan seseorang mulai menanam, memanen, memindahkan ternak-ternak dan lain sebagainya.


Pada bab 6 dalam bukunya yang berjudul The Ascent of Man, J. Bronowsky menceritakan proses perkembangan manusia dalam mengembangkan ilmu astronomi  dari yang paling sederhana; seperti di suku Maya, sampai yang lebih rumit yaitu pada masa Galileo Galilei. Berikut adalah ringkasan cerita dari bab tersebut dan juga beberapa ulasan penting tentang perkembangan manusia dalam mencari ilmu pengetahuan yang diambil dari tulisan  Bronowsky dengan latar belakang astronomi.
Salah satu suku pertama yang tercatat dalam sejarah dunia, yang mengembangkan ilmu astronomi adalah suku Maya. Suku ini terletak di semenanjung Amerika antara samudera Atlantik dan Pasifik, tepatnya di semenanjung Yucatan, Amerika Tengah. Suku ini diklaim sebagai suku yang mempunyai peradaban tertinggi di kebudayaan Amerika karena: memiliki bahasa tertulis, keterampilan tekhnik dan seni asli yang ditandai dengan piramida-piramida dan susunan batu-batu besar yang masih bertahan hingga sekarang. Suku Maya juga mempunyai sistem aritmatika yang berkembang lebih pesat daripada Eropa, yakni mereka memiliki simbol untuk angka nol. Mereka adalah ahli-ahli dalam dunia matematika tapi sayangnya mereka tidak memetakan perpindahan-perpindahan bintang kecuali untuk ritual ketuhanan saja. Pengetahuan mereka tentang astronomi berbentuk pengamatan benda-benda langit yang digunakan sebagai sarana komunikasi dengan para dewa dan juga berupa penentuan bahwasanya kalender mereka terhitung dengan benar.
Pengetahuan astronomi yang agak lebih maju dimiliki oleh orang-orang Mediterania di Dunia Tua. Mereka menemukan bahwa pergerakan-pergerakan bintang di langit pada malam hari dapat dijadikan sebagai acuan bagi para pencari arah, terutama bagi orang-orang yang mengadakan perjalanan melalui laut. Bagi mereka, tanpa astronomi hampir mustahil untuk bisa menemukan jalan kembali di dalam wilayah yang cukup luas tanpa tanda yang bisa dikenali disekelilingnya. Columbus adalah salah seorang yang menggunakan ilmu astronomi ketika mengarungi lautan untuk menemukan bagian dunia lain yaitu Dunia Baru. Dari penemuan ini kemudian para ahli menyimpulkan bahwa perkembangan astronomi di Dunia Tua lebih maju daripada Dunia Baru, dikarenakan Dunia Tua lah yang menemukan Dunia baru, bukan sebaliknya.
Lebih dari seratus tahun sebelum Christopher Columbus mengarungi lautan, Dunia Tua telah berhasil membuat sebuah mesin jam perbintangan yang hebat. Jam ini dibuat oleh Giovanni de Dondi pada tahun 1350. Jam ini dibuat berdasarkan konsep pintar gabungan dari Aristoteles, Ptolemy dan orang-orang Yunani. Mesin jam tersebut merupakan wujud pemikiran mereka akan planet-planet yang terlihat dari bumi; ada tujuh planet termasuk matahari (setidaknya itu menurut mereka). Jadi jam de Dondi mempunyai tujuh muka yang dianggap sebagai tujuh planet. Akan tetapi kemudian pada tahun 1543 teori ini dibantah dengan diketemukannya matahari sebagai pusat tata surya oleh Copernicus.
Nicolas Copernicus adalah seorang gerejawan yang intelek, unik dan humanis yang berasal dari Poland. Dia lahir pada tahun 1473. Perkenalannya dengan dunia astronomi berawal saat dia diminta oleh gereja untuk mengatur ulang kalender. Selama dua puluh tahun hidupnya, dia menganggap bahwa alam itu sangat sederhana. Tetapi mengapa perputaran planet-planet sepertinya sulit dipahami? Menurutnya, “karena kita melihat tata surya dari tempat kita berdiri, yaitu bumi”. Kemudian dia mencetuskan ide, kenapa tidak melihatnya dari tempat yang lain? Akhirnya dia memilih matahari sebagai tempat yang lain tersebut. Inilah kemudian yang membuatnya mengambil kesimpulan bahwa matahari adalah pusat tata surya. Tapi teori ini kemudian tidak berkembang dengan bagus, karena bertentangan dengan kepercayaan gereja saat itu. Sampai tujuh tahun kemudian, teori ini muncul lagi pada masa Galileo Galilei.
Galileo Galilei adalah seorang professor matematika di Universitas Padua. Dia banyak menemukan benda-benda penting seperti seperangkat alat yang cara kerjanya mirip dengan thermometer dan juga sebuah kompas militer. Suatu hari pada tahun 1608, dia mendengar bahwa ada seorang ilmuwan dari Flanders telah menemukan sebuah teropong yang bisa digunakan untuk memata-matai. Hal ini benar-benar membuatnya sangat bersemangat. Dia pun mulai mempelajari alat tersebut dan kemudian muncul dengan penemuan sebuah teleskop. Alat ini menurutnya, bisa membuat benda yang begitu jauh terlihat begitu dekat. Sekejap saja, teleskop ini menjadi terkenal. Dengan berbekal teleskop buatannya yang semakin hari semakin pesat perkembangannya, Galileo mulai mempelajari dunia angkasa. Selang beberapa lama, akhirnya dia menemukan bahwa teori Copernicus adalah benar adanya. Pusat dari tata surya adalah matahari, bukan bumi.
Setelah menemukan teori ini, Galileo pun mulai menyuarakan teorinya dan dia yakin bahwa masyarakat saat itu akan mempercayai hal tersebut. Tapi ternyata dugaannya salah. Gereja menentang teorinya habis-habisan. Bahkan Galileo pun sempat dibawa ke persidangan. Galileo adalah orang yang sangat naif dan tidak tahu menahu mengenai dunia politik. Walaupun sempat dibebaskan, dia kembali mencoba meyakinkan seorang pastur yang baru saja menggantikan pastur yang lama, yaitu Pope Bernini. Galileo memberanikan diri untuk mendekatinya, karena mendengar bahwa pastur yang baru ini adalah seseorang dengan pemikiran yang lebih terbuka. Tapi ternyata dugaannya kali ini salah lagi, bahkan fatal. Pastur tersebut benar-benar membawa Galileo ke persidangan pada tahun 1633 dan memaksanya untuk menandatangani pernyataan yang menegaskan bahwa teorinya salah dan pihak gereja benar. Gereja pun berhasil menjadikan Galileo sebagai tahanan rumah sampai akhir hidupnya. Beberapa tahun kemudian, setelah ilmu pengetahuan berkembang pesat dan teori Galileo telah terbukti, gereja pun meminta maaf kepada publik atas sikap mereka terhadap Galileo.
Ada beberapa pelajaran penting yang dapat dipetik dari tulisan Bronowski khususnya pada bab 6 yang menceritakan perjalanan pendakian manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan terutama astronomi. Melalui cerita-ceritanya tentang suku-suku tua di dunia dan penemuan-penemuan dalam bidang astronomi, dia menyampaikan pesan penting tentang beberapa falsafah penting dalam perjalanan kehidupan manusia.
 “It cannot be an accident that the New World never thought that the earth is round, and never went out to look for the Old World. It was the Old World which set sail round the earth to discover the New.”(hal 190, baris 28) Mengapa dunia tua lebih maju dari dunia baru? Mengapa negara maju lebih maju dari negara berkembang? Mengapa orang sukses lebih maju dari orang yang tidak sukses? Inilah hal pertama yang ingin diangkat oleh Bronowski dalam mencapai titik tertinggi kemajuan manusia. Hidup adalah pilihan. Apa yang terdapat pada diri seseorang, bisa jadi sebagian besar merupakan akumulasi dari pilihan-pilihan orang tersebut pada masa lalu. Begitu juga dengan negara maju dan juga orang sukses. Banyak orang yang berasumsi, bahwa orang yang sukses adalah anugerah dari Tuhan atau karena keberuntungan. Tetapi banyak juga orang yang melupakan proses dari orang yang sukses tersebut. Ketika seseorang melihat temannya berhasil mendapatkan predikat rangking satu, dia lupa bahwa temannya membuat pilihan dalam hidupnya untuk menata dirinya dan belajar sekuat tenaga, menggabungkan motivasi dan usaha yang keras agar dia mampu memahami pelajaran dan mendapat predikat tertinggi di kelasnya.
Contoh lainnya adalah masih ada orang-orang di Indonesia yang memilih hidup primitif seperti suku Anak dalam di Jambi, suku Dayak di Kalimantan dan suku Asmat dan Dani di Papua. Apakah seseorang akan terus menyalahkan pemerintah karena tidak memperhatikan mereka? Bagaimana kalau ternyata, pemerintah telah berusaha merangkul mereka akan tetapi masyarakat tersebut telah membuat pilihan untuk tetap mempertahankan adat dan istiadat kebudayaan mereka, menolak segala kecanggihan teknologi yang sekarang digandrungi oleh banyak orang dan tetap pada pilihannya untuk hidup dalam keterbatasan.
Dalam kacamata Islam, Allah memberikan tanggung jawab penuh akan kesuksesan seorang individu pada dirinya sendiri. Hal ini didasarkan pada salah satu ayat, (Qs: Ar-Ra’du/13: 11) “……..Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri”. Intinya, apabila tidak ada keinginan dari seseorang untuk mengubah nasibnya, maka orang lain pun tidak akan bisa mengubahnya. Inilah pelajaran dari orang-orang terdahulu menurut J. Bronowski. Orang-orang di Dunia Tua memilih untuk maju dengan mengembangkan keinginan untuk maju dan rasa ingin tahu mereka. Sehingga akhirnya mereka yang menemukan Dunia Baru dan bukan sebaliknya.
“Why were the paths of the planets so complicated? Because, he decided, we look at them from the place where we happen to be standing, the earth. Like the pioneers of perspective, Copernicus asked; Why not look at them from another place?” (hal 196, baris 27). Pelajaran penting berikutnya yang ingin ditonjolkan oleh Bronowski adalah melihat hal dari berbagai perspektif. Copernicus telah membuktikan, bahwa ketika dia mengubah cara pandangnya terhadap pusat tata surya, malah dia kemudian menemukan kebenaran. Banyak orang maju, karena dia mengubah pola pikirnya. Banyak masalah terselesaikan ketika salah satu ada yang mengalah untuk melihat permasalahan dari sudut pandang lawannya. Salah satu contoh kecil adalah kejuaraan debat. Kejuaraan ini melatih peserta debat untuk bisa melihat permasalahan dari berbagai sisi. Tak jarang kadang mereka terpaksa memposisikan dirinya pro pada pilihan tema yang bertentangan dengan hati nuraninya seperti setuju terhadap aborsi, euthanasia dan lain sebagainya. Akan tetapi, itu tidak membuat mereka berhenti, mereka tetap bisa mempertahankan posisi mereka dengan memberikan argumen-argumen positif yang mendukung pilihan mereka. Yang tadinya secara logika tidak bisa diterima, ternyata ketika bersungguh-sungguh melihat dari sudut pandang tersebut, akhirnya konsep mereka bisa diterima juga, bahkan tak jarang pemenang nya berasal dari grup dengan tema yang sangat sulit untuk dimenangkan. Intinya, ketika seseorang berpikir di luar kebiasaan umum, maka dia akan menemukan sesuatu yang luar biasa.
Hal ini juga sejalan dengan anjuran Nabi Muhammad saw, yang menyuruh umat muslim untuk berhijrah. Hijrah artinya berpindah. Baik berpindah dari satu tempat ke tempat ke tempat yang lain. Tujuannya agar mendapat kehidupan yang lebih baik. Bisa juga berpindah pola pikir dari negatif menjadi positif selama masih dalam koridor syariat Islam. Allah juga menyuruh hambanya untuk berjalan-jalan di muka bumi Allah. “Maka apakah mereka tiada mengadakan perjalanan di muka bumi lalu memperhatikan betapa kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. adalah orang-orang yang sebelum mereka itu lebih hebat kekuatannya dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi (bangunan, alat perlengkapan, benteng-benteng dan istana-istana), Maka apa yang mereka usahakan itu tidak dapat menolong mereka” (QS Al-Mu’min/40, 82).Tujuan Allah adalah agar dapat melihat kekuasaan-Nya dan juga bisa bertemu dengan banyak orang dan budaya yang berbeda, sehingga nantinya akan mempengaruhi pola pikir seseorang agar menjadi pribadi yang lebih baik.
The dissident scientist was to be humiliated; authority was to be shown large not only in action but in intention.” (hal 214, baris 31). Pelajaran terakhir yang diangkat oleh Bronowsky adalah hubungan antara ilmu dan agama. Ilmu adalah pengetahuan yang tersusun secara sistematis dan metodis dengan menggunakan pendekatan-pendekatan empiris yang bersifat relatif, positif dan terbatas. Hal ini dikarenakan, ilmu didapat dengan menggunakan akal dan logika. Sedangkan agama adalah sesuatu yang berasal dari Tuhan, berupa ajaran akan ketentuan, keimanan, kepasrahan dan pengamalan, yang diberikan kepada makhluk yang berakal oleh sang pencipta-Nya demi kemaslahatannya di dunia dan akhirat.
Seperti yang digambarkan oleh Bronowski melalui kisah Galileo, pertentangan kaum atheis yang diwakili oleh para ilmuwan dengan kelompok religius sudah terjadi dari dulu. Putra dalam Rachmat, (2011; 196) menulis:
“Ketegangan tajam ilmu dan gereja telah mendorong lahirnya saintisme di kalangan ilmuwan, dan sinisme di kalangan agamawan. Saintisme adalah pandangan yang beranggapan bahwa pengetahuan ilmiah adalah satu-satunya alat untuk memahami kenyataan, juga berarti interpretasi materialis dan anti agama dari sains. Pada titik paling ekstrim saintisme berkeyakinan hanya ilmulah yang dapat menjelaskan segala hal, apapun yang tidak dapat dijelaskan dengan cara ilmiah dianggap omong kosong. 
Walaupun banyak pendiri ilmu pengetahuan modern adalah orang-orang yang sangat religius seperti Newton, Galileo dan Decrates, namun dalam situasi perlawanan terhadap gereja, ilmu berkembang menjauhi bahkan menentang agama. Tidak mengherankan jika manusia modern yang dibesarkan dalam pendidikan yang sangat menekankan ilmu pengetahuan modern terus menerus dalam keraguan dan terus bertanya; sebenarnya ilmu itu memperlemah atau memperkuat iman, karena sangat sulit membuat sintesis antara agama dan ilmu.”

Bagaimana proses ilmu menjauhi agama dan perlahan-lahan melawannya? Ini diawali oleh para ilmuwan yang membangun ilmu pengetahuan modern dengan metode yang sepenuhnya rasional. Sebut saja Rene Decrates (1596-1650) dan Newton (1642-1727) tentang alam semesta, Thomas Hubbes (1588-1679) tentang analogi manusia dan mesin, Sigmund Freud (1856-1939) tentang psikologi modern, Agust Comte (1789-1857) tentang sosiologi sampai kepada Charles Darwin (1809-1882) tentang evolusi manusia. Menurut Putra dalam Rachmat (2011: 198), “Perkembangan ilmu dari berbagai aspek diatas, kemudian melahirkan cara pandang dan keyakinan baru yang tidak lagi memberikan tempat pada agama. Walaupun pada mulanya pertentangan itu terjadi dengan agama Kristen, namun dalam perkembangannya dengan semua agama yang memiliki keyakinan sentral pada adanya Tuhan yang mencipta, mengatur, mengetahui serta sebagai sumber kebenaran.”
Islam memberikan pandangan yang agak berbeda dalam hal ini. Dalam agama Islam, ilmu dan agama haruslah sejalan. Ini ditunjukkan dengan wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad saw adalah kata iqra (baca) yang diulang sebanyak tiga kali. Kata ini menjadi kata penting terhadap perintah Allah dalam mencari ilmu pengetahuan. Manusia tidak hanya Diperintahkan untuk membaca yang berkenaan dengan makna yang ada dalam setiap ayat, melainkan juga membaca perihal alam semesta yang menunjukkan kekuasaan Allah. Arianto dalam Rachmat (2011; 63-64) menulis dalam Filsafat Ilmu Lanjutan:
“Ajaran Islam mendorong manusia untuk memahami realitas, seperti yang diwahyukan kepada Muhammad saw yang tertulis dalam Al-quran mulai dari penciptaan alamnya sampai pada hal yang menyangkut proses kelahiran manusia melalui pembuahan sel telur oleh sperma. Salah satu ayat misalnya menyebutkan: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya siang dan malam, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi  manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sungguh (terdapat) tanda-tanda keesaan dan kebesaran Allah bagi kaum yang memikirkan” (QS. Al-Baqarah/2:164). Dalam ayat lainnya disebutkan: “Katakanlah apakah sama orang-orang yang mengetahui (berilmu) dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya hanya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran” (QS. Az-Zumar/39: 9).
Tidak itu saja, Allah juga menurunkan surat-surat khusus mengenai ilmu pengetahuan alam semesta, misalnya Qs. An-Najmu/53 tentang Bintang, Qs. Al-Qamar/54 tentang Bulan dan Qs. As-Syams/ 91 tentang Matahari. Nabi Muhammad saw juga selalu mendapatkan petunjuk mengenai alam semesta langsung dari Allah. Hadis nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Turmudzi 5012: “Bulan terbelah dimasa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menjadi dua bagian, salah satunya menutupi gunung atau yang lainnya di atas gunung, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Saksikanlah.” Kemudian turun lah surat Al-Qamar ayat 1-5 yang mendukung hadis ini. Ribuan tahun kemudian, NASA menemukan dengan naik pesawat ruang angkasa yang bernama Orbiter 3 dari ketinggian sekitar 60 km di atas permukaan Bulan, para peneliti ruang angkasa membuktikan bahwa ada rekahan-rekahan yang panjang dan menghujam jauh ke perut bulan. Dalamnya rekahan-rekahan ini berkisar antara setengah hingga ribuan meter, sementara lebarnya berkisar antara setengah hingga 5 kilometer. Rekahan-rekahan yang dikenal dengan nama Rima or Lunar Rilles itu membentuk jalur yang membelah bulan dan dihubungkan beberapa lubang dengan kedalaman lebih dari 9 kilometer dan luas lebih dari 1000 kilometer. Salah satu rekahan yang terkenal adalah kawah Hyginus Rille yang terletak di bagian tengah Bulan, panjang kawah ini diperkirakan lebih dari 150 km, setara dengan 5 km panjang di Bumi dan kedalaman kawah ini kurang lebih 80 km, dan salah satu lubang yang terkenal adalah Mare Orientalis.
            Contoh lain adalah hadis nabi tentang salju di Mekkah. “Hari Akhir tidak akan datang kepada kita sampai dataran Arab sekali lagi menjadi dataran berpadang rumput dan dipenuhi dengan sungai-sungai” (HR. Muslim). Ternyata Pada hari Minggu, tanggal 13 January 2002 yang lalu, di Arab Saudi yang merupakan daerah gurun pasir yang sangat panas dimana matahari bersinar sepanjang hari, telah terjadi suatu fenomena alam yang langka (bukan berarti tidak pernah sama sekali), yaitu dengan turunnya salju dengan lebatnya. Tepatnya di daerah Tabuk 1500 km dari Riyad (Ibukota Arab Saudi) dengan ketebalan salju mencapai 20 cm, dan di Yordania suhu mencapai titik beku (0 derajat celcius). Secara logika dengan merujuk kepada kecanggihan teknologi pada masa Nabi Muhammad saw, tidaklah mungkin beliau bisa mengetahui tentang kejadian fenomena alam ini. Akan tetapi bagaimana beliau bisa mengetahui akan hal tersebut? Siapa lagi yang memberitahu beliau selain penciptanya sendiri yaitu Allah swt.
Ilmu dan agama harus selalu berjalan beriringan. Ilmu membutuhkan agama sebagai pengawasnya dan agama membutuhkan ilmu untuk perkembangannya. Lihatlah bagaimana perkembangan ilmu bila tanpa agama. Para ilmuwan terus menerus berusaha menggunakan logika dalam mempelajari penciptaan manusia sehingga akhirnya lahirlah teori evolusi Darwin. Teori ini kemudian diperkuat oleh teori Alexander Oparin dan percobaan Stanley Miller dengan teori generatio spontanea (makhluk hidup berasal dari materi tak hidup).  Contoh lainnya adalah mengenai penciptaan alam semesta. Siaw mengatakan dalam bukunya (2013: 104-105):
Teori yang kembali mengemuka pada abad ke-19 adalah teori yang dikemukakan oleh Immanuel Kant, yang mengatakan bahwa alam semesta tidak berakhir dan tidak berawal, serta terjadi secara kebetulan, dan bukan merupakan produk rancangan, rencana atau visi yang disengaja. Ini adalah asas dari paham materialism yang menganggap bahwa awal dan akhir dari dunia ini adalah materi, yang tidak melibatkan adanya Sang Pencipta.
Namun teori ini runtuh dengan sendirinya pada awal abad ke-20 bersamaan dengan berkembangnya ilmu dan teknologi sebagai alat yang digunakan dalam astrologi.
Teori yang paling logis secara perhitungan matematis dan fisika adalah teori Big Bang atau Dentuman Besar yang digagas oleh Edwin Hubble. Dia menyadari bahwa binta-bintang bergerak semakin menjauh dari bumi serta bergerak semakin jauh satu sama lain. Hubble menemukan bahwa alam semesta ini sesungguhnya sedang mengembang dan akan terus mengembang tanpa batas seiring dengan waktu. Apabila kita berfikir terbalik, seandainya waktu dapat dimundurkan, berarti alam semesta ini akan semakin mengerut, dan akhirnya menjadi satu titik tunggal yang volumenya nol dengan massa yang tidak terbatas. Inilah kesimpulan Hubble, dia menyatakan bahwa alam semesta ini mempunyai titik mula atau sebuah awal dari ketiadaan (volum nol = ketiadaan).”

Para ilmuwan terus berspekulasi mengenai penciptaan alam semesta, dimana seandainya mereka merujuk kepada agama, dalam hal ini Islam, maka terjawablah semua rasa ingin tahu mereka. Karena sesungguhnya Islam bisa menjawab semua persoalan yang ada di dunia ini. Mengenai penciptaan alam semesta, Qs. Al-Fushilat/41: 10 menerangkan “Dan Dia ciptakan padanya gunung-gunung yang kokoh diatasnya. Dan kemudian Dia berkahi, dan Dia tentukan makanan-makanan (bagi penghuni)nya dalam empat masa, memadai untuk (memenuhi kebutuhan) mereka yang memerlukannya”. Shihab (2013: 44-45) menafsirkannnya sebagai berikut:
“Allah yang menciptakan bumi serta memperindahnya, Dia juga yang menjadikan di bumi gunung-gunung yang kokoh agar bumi yang terus beredar ini tidak oleng. Di samping itu, Dia juga memeberkahinya dengan melimpahkan aneka anugerah sehingga ia dapat berfungsi sebaik mungkin dan dapat menjadi hunian yang nyaman buat manusia dan hewan. Di samping itu, Dia menentukan padanya kadar makanan para penghuninya. Semua itu terlaksana dalam empat hari yang terbagi secara adil yakni dua hari untuk penciptaan bumi dan dua hari sisanya buat pemberkahan dan penyiapan makanan bagi para penghuninya.”
Menurut agama apapun di dunia ini, alam semesta ini adalah ciptaan Tuhan atau bagi sebagian agama, dewa. Hal inilah yang tidak bisa diterima oleh para saintis, karena konsep tuhan dan dewa tidak masuk di akal dan logika mereka. Bayangkanlah sebuah pesawat terbang. Semakin hari semakin canggih saja. Akan tetapi, walaupun pesawat tersebut sudah sangat canggih, apakah dia bisa menciptakan pesawat lainnya? Tentu tidak. Sebuah pesawat membutuhkan kekuatan lain yang lebih canggih lagi untuk bisa mewujudkannya, yakni manusia. Begitu juga dengan manusia dan alam semesta. Pasti ada kekuatan yang maha kuasa yang bisa menciptakan dan mewujudkannya. Seperti teori Big bang tersebut diatas. Alam semesta tercipta dari sebuah dentuman besar. Bagaimana mungkin sebuah dentuman bisa menghasilkan sebuah rangkaian yang begitu sempurna sesempurna alam semesta? Bukankah setiap dentuman atau ledakan akan menghasilkan benda-benda yang hancur berkeping-keping bukan malah sebaliknya begitu sempurna.
            Di sisi lain, agama juga membutuhkan ilmu. Tanpa ilmu, agama tidak akan bisa berkembang. Baik itu ilmu dalam menafsirkan ayat-ayat dalam kitab sucinya, maupun ilmu yang berkaitan dengan perkembangan penganutnya. Bisa dibayangkan apabila para ulama tidak mempunyai ilmu dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran, pastinya kekacauan akan terjadi dalam Islam. Begitu juga apabila hari ini ada seorang muslim yang tidak mau menggunakan mikrofon ketika berceramah, tidak mau naik pesawat ketika naik haji, maka betapa lambatnya perkembangan Islam ditengah zaman yang bergerak begitu cepat. Dalam Islam astronomi memegang peranan penting dalam aktifitas sehari-hari. Astronomi digunakan untuk penentuan kalender hijriah yang didasarkan pada peredaran bulan, penentuan arah shalat, penentuan arah kiblat dan bayang-bayang, dan terakhir adalah penentuan gerhana matahari dan bulan. Tidak mungkin penentuan-penentuan itu dapat dilaksanakan tanpa adanya ilmu pengetahuan. Intinya ilmu dan agama adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Mereka harus selalu berjalan beriringan. Ilmu tanpa agama buta dan agama tanpa ilmu lumpuh.
            Itulah beberapa pelajaran yang dapat diambil dari tulisan Bronowski berkaitan dengan proses pencarian ilmu demi perkembangan manusia menjadi lebih baik dan beradab. Kemajuan ilmu dapat dicapai apabila seseorang membuat pilihan dalam hidupnya untuk menjadi manusia yang maju, melihat hal dari berbagai perspektif dan mengembangkan ilmu beriringan dengan agama.

 Referensi:
Bronowsky, J. 1973. The Ascent of Man. Boston: Little, Brown and Company.
Rachmat, Aceng., dkk. 2011. Filsafat Ilmu Lanjutan. Jakarta: Kencana.
Shihab, M. Quraish. 2013. Dia Dimana-mana, “Tangan” Tuhan di Balik Setiap Fenomena. Tangerang: Lentera Hati.
Siauw, Felix Y. 2013. Beyond The Inspiration. Jakarta: Al-Fatih Press.

Suseno, Franz Magnis. 1999. Pemikiran Karl Marx. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Tidak ada komentar:

Posting Komentar