Proses Pencarian Ilmu dalam Perkembangan Manusia
Menurut Pandangan Umum dan Islam
(Nidia Sofa dan Effrina Yuricki)
(Makalah ini merujuk kepada karya J.
Bronowsky dalam bukunya The Ascent of Man, Bab Starry
Messenger)
Astronomi
adalah termasuk ilmu pertama yang berkembang di peradaban-peradaban tua di
dunia. Dasar-dasar astronomi sejatinya telah dipelajari dan dianggap penting
oleh hampir semua orang-orang terdahulu, baik di belahan Old World (Dunia Tua)
yakni Eropa, Asia dan Afrika, maupun di New World (Dunia Baru); Amerika,
Australia dan New Zealand. Hal
ini dikarenakan astronomi adalah ilmu yang mengarahkan masyarakat akan
perputaran musim-musim yang berdasarkan pada perputaran bumi mengelilingi matahari. Dengan cara ini
kemudian dapat diketahui kapan seseorang mulai menanam, memanen, memindahkan
ternak-ternak dan lain sebagainya.
Pada
bab 6 dalam bukunya yang berjudul The Ascent of Man, J. Bronowsky menceritakan
proses perkembangan manusia dalam mengembangkan ilmu astronomi dari yang paling sederhana; seperti di suku
Maya, sampai yang lebih rumit yaitu pada masa Galileo Galilei. Berikut adalah ringkasan
cerita dari bab tersebut dan juga beberapa ulasan penting tentang perkembangan manusia dalam mencari
ilmu pengetahuan yang diambil dari tulisan Bronowsky dengan latar belakang astronomi.
Salah
satu suku pertama yang tercatat dalam sejarah dunia, yang mengembangkan ilmu astronomi adalah
suku Maya. Suku ini terletak di semenanjung Amerika antara samudera Atlantik
dan Pasifik, tepatnya
di semenanjung Yucatan, Amerika Tengah. Suku ini diklaim sebagai suku yang
mempunyai peradaban tertinggi di kebudayaan Amerika karena: memiliki bahasa
tertulis, keterampilan
tekhnik dan seni asli yang ditandai dengan piramida-piramida dan susunan batu-batu
besar yang masih bertahan hingga sekarang. Suku Maya juga mempunyai sistem
aritmatika yang
berkembang lebih pesat daripada Eropa, yakni mereka memiliki simbol untuk angka
nol. Mereka adalah ahli-ahli dalam dunia matematika tapi sayangnya mereka tidak
memetakan perpindahan-perpindahan bintang kecuali untuk ritual ketuhanan saja.
Pengetahuan mereka tentang astronomi berbentuk pengamatan benda-benda langit
yang digunakan sebagai sarana komunikasi dengan para dewa dan juga berupa penentuan
bahwasanya kalender mereka terhitung dengan benar.
Pengetahuan
astronomi yang agak lebih maju dimiliki oleh orang-orang Mediterania di Dunia
Tua. Mereka menemukan bahwa pergerakan-pergerakan bintang di langit pada malam
hari dapat dijadikan sebagai acuan bagi para pencari arah, terutama bagi
orang-orang yang mengadakan perjalanan melalui laut. Bagi mereka, tanpa
astronomi hampir mustahil untuk bisa menemukan jalan kembali di dalam wilayah yang
cukup luas tanpa tanda yang bisa dikenali disekelilingnya. Columbus adalah salah
seorang yang menggunakan ilmu astronomi ketika mengarungi lautan untuk
menemukan bagian dunia lain yaitu Dunia Baru. Dari penemuan ini kemudian para
ahli menyimpulkan bahwa perkembangan astronomi di Dunia Tua lebih maju daripada Dunia Baru, dikarenakan Dunia Tua
lah yang menemukan Dunia baru, bukan sebaliknya.
Lebih
dari seratus tahun sebelum Christopher Columbus mengarungi lautan, Dunia Tua
telah berhasil membuat sebuah mesin jam perbintangan yang hebat. Jam ini dibuat
oleh Giovanni de Dondi pada tahun 1350. Jam ini dibuat berdasarkan konsep
pintar gabungan dari Aristoteles, Ptolemy dan orang-orang Yunani. Mesin jam
tersebut merupakan wujud pemikiran mereka akan planet-planet yang terlihat dari
bumi; ada tujuh planet termasuk matahari (setidaknya itu menurut mereka). Jadi
jam de Dondi mempunyai tujuh muka yang dianggap sebagai tujuh planet. Akan tetapi
kemudian pada tahun 1543 teori ini dibantah dengan diketemukannya matahari
sebagai pusat tata surya oleh Copernicus.
Nicolas
Copernicus adalah seorang gerejawan yang intelek, unik dan humanis yang berasal
dari Poland. Dia lahir pada tahun 1473. Perkenalannya dengan dunia astronomi
berawal saat dia diminta oleh gereja untuk mengatur ulang kalender. Selama dua
puluh tahun hidupnya, dia menganggap bahwa alam itu sangat sederhana. Tetapi
mengapa perputaran planet-planet sepertinya sulit dipahami? Menurutnya, “karena
kita melihat tata surya dari tempat kita berdiri, yaitu bumi”. Kemudian dia
mencetuskan ide, kenapa tidak melihatnya dari tempat yang lain? Akhirnya dia
memilih matahari sebagai tempat yang lain tersebut. Inilah kemudian yang
membuatnya mengambil kesimpulan bahwa matahari adalah pusat tata surya. Tapi
teori ini kemudian tidak berkembang dengan bagus, karena bertentangan dengan
kepercayaan gereja saat itu. Sampai tujuh tahun kemudian, teori ini muncul lagi
pada masa Galileo Galilei.
Galileo
Galilei adalah seorang professor matematika di Universitas Padua. Dia banyak
menemukan benda-benda penting seperti seperangkat alat yang cara kerjanya mirip
dengan thermometer dan juga sebuah kompas militer. Suatu hari pada tahun 1608,
dia mendengar bahwa ada seorang ilmuwan dari Flanders telah menemukan sebuah
teropong yang bisa digunakan untuk memata-matai. Hal ini benar-benar membuatnya
sangat bersemangat. Dia pun mulai mempelajari alat tersebut dan kemudian muncul
dengan penemuan sebuah teleskop. Alat ini menurutnya, bisa membuat benda yang
begitu jauh terlihat begitu dekat. Sekejap saja, teleskop ini menjadi terkenal.
Dengan berbekal teleskop buatannya yang semakin hari semakin pesat
perkembangannya, Galileo mulai mempelajari dunia angkasa. Selang beberapa lama,
akhirnya dia menemukan bahwa teori Copernicus adalah benar adanya. Pusat dari
tata surya adalah matahari, bukan bumi.
Setelah
menemukan teori ini, Galileo pun mulai menyuarakan teorinya dan dia yakin bahwa
masyarakat saat itu akan mempercayai hal tersebut. Tapi ternyata dugaannya
salah. Gereja menentang teorinya habis-habisan. Bahkan Galileo pun sempat
dibawa ke persidangan. Galileo adalah orang yang sangat naif dan tidak tahu menahu mengenai dunia
politik. Walaupun sempat dibebaskan, dia kembali mencoba meyakinkan seorang
pastur yang baru saja menggantikan pastur yang lama, yaitu Pope Bernini.
Galileo memberanikan diri untuk mendekatinya, karena mendengar bahwa pastur
yang baru ini adalah seseorang dengan pemikiran yang lebih terbuka. Tapi
ternyata dugaannya kali ini salah lagi, bahkan fatal. Pastur tersebut
benar-benar membawa Galileo ke persidangan pada tahun 1633 dan memaksanya untuk
menandatangani pernyataan yang menegaskan bahwa teorinya salah dan pihak gereja
benar. Gereja pun berhasil menjadikan Galileo sebagai tahanan rumah sampai
akhir hidupnya. Beberapa tahun kemudian, setelah ilmu pengetahuan berkembang
pesat dan teori Galileo telah terbukti,
gereja pun meminta maaf kepada publik atas sikap mereka terhadap Galileo.
Ada
beberapa pelajaran penting yang dapat dipetik dari tulisan Bronowski khususnya
pada bab 6 yang menceritakan perjalanan pendakian manusia dalam mengembangkan
ilmu pengetahuan terutama astronomi. Melalui cerita-ceritanya tentang suku-suku
tua di dunia dan penemuan-penemuan dalam bidang astronomi, dia menyampaikan pesan
penting tentang beberapa falsafah penting dalam perjalanan kehidupan manusia.
“It
cannot be an accident that the New World never thought that the earth is round,
and never went out to look for the Old World. It was the Old World which set
sail round the earth to discover the New.”(hal 190, baris 28) Mengapa dunia
tua lebih maju dari dunia baru? Mengapa negara maju lebih maju dari negara
berkembang? Mengapa orang sukses lebih maju dari orang yang tidak sukses?
Inilah hal pertama yang ingin diangkat oleh Bronowski dalam mencapai titik
tertinggi kemajuan manusia. Hidup adalah pilihan. Apa yang terdapat pada diri
seseorang, bisa jadi sebagian besar merupakan akumulasi dari pilihan-pilihan
orang tersebut pada masa lalu. Begitu juga dengan negara maju dan juga orang
sukses. Banyak orang yang berasumsi, bahwa orang yang sukses adalah anugerah
dari Tuhan atau karena keberuntungan. Tetapi banyak juga orang yang melupakan
proses dari orang yang sukses tersebut. Ketika seseorang melihat temannya
berhasil mendapatkan predikat rangking satu, dia lupa bahwa temannya membuat
pilihan dalam hidupnya untuk menata dirinya dan belajar sekuat tenaga,
menggabungkan motivasi dan usaha yang keras agar dia mampu memahami pelajaran
dan mendapat predikat tertinggi di kelasnya.
Contoh
lainnya adalah masih ada orang-orang di Indonesia yang memilih hidup primitif
seperti suku Anak dalam di Jambi, suku Dayak di Kalimantan dan suku Asmat dan Dani
di Papua. Apakah seseorang akan terus menyalahkan pemerintah karena tidak
memperhatikan mereka? Bagaimana kalau ternyata, pemerintah telah berusaha
merangkul mereka akan tetapi masyarakat tersebut telah membuat pilihan untuk
tetap mempertahankan adat dan istiadat kebudayaan mereka, menolak segala
kecanggihan teknologi yang sekarang digandrungi oleh banyak orang dan tetap
pada pilihannya untuk hidup dalam keterbatasan.
Dalam
kacamata Islam, Allah memberikan tanggung jawab penuh akan kesuksesan seorang
individu pada dirinya sendiri. Hal ini didasarkan pada salah satu ayat, (Qs: Ar-Ra’du/13:
11) “……..Sesungguhnya Allah tidak akan
mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri”.
Intinya, apabila tidak ada keinginan dari seseorang untuk mengubah nasibnya,
maka orang lain pun tidak akan bisa mengubahnya. Inilah pelajaran dari
orang-orang terdahulu menurut J. Bronowski. Orang-orang di Dunia Tua memilih
untuk maju dengan mengembangkan keinginan untuk maju dan rasa ingin tahu
mereka. Sehingga akhirnya mereka yang menemukan Dunia Baru dan bukan
sebaliknya.
“Why were the paths of
the planets so complicated? Because, he decided, we look at them from the place
where we happen to be standing, the earth. Like the pioneers of perspective,
Copernicus asked; Why not look at them from another place?”
(hal 196, baris 27). Pelajaran penting berikutnya yang ingin ditonjolkan oleh Bronowski
adalah melihat hal dari berbagai perspektif. Copernicus telah membuktikan,
bahwa ketika dia mengubah cara pandangnya terhadap pusat tata surya, malah dia
kemudian menemukan kebenaran. Banyak orang maju, karena dia mengubah pola
pikirnya. Banyak masalah terselesaikan ketika salah satu ada yang mengalah
untuk melihat permasalahan dari sudut pandang lawannya. Salah satu contoh kecil
adalah kejuaraan debat. Kejuaraan ini melatih peserta debat untuk bisa melihat
permasalahan dari berbagai sisi. Tak jarang kadang mereka terpaksa memposisikan
dirinya pro pada pilihan tema yang bertentangan dengan hati nuraninya seperti
setuju terhadap aborsi, euthanasia dan lain sebagainya. Akan tetapi, itu tidak
membuat mereka berhenti, mereka tetap bisa mempertahankan posisi mereka dengan
memberikan argumen-argumen positif yang mendukung pilihan mereka. Yang tadinya
secara logika tidak bisa diterima, ternyata ketika bersungguh-sungguh melihat
dari sudut pandang tersebut, akhirnya konsep mereka bisa diterima juga, bahkan
tak jarang pemenang nya berasal dari grup dengan tema yang sangat sulit untuk
dimenangkan. Intinya, ketika seseorang berpikir di luar kebiasaan umum, maka
dia akan menemukan sesuatu yang luar biasa.
Hal
ini juga sejalan dengan anjuran Nabi Muhammad saw, yang menyuruh umat muslim
untuk berhijrah. Hijrah artinya berpindah. Baik berpindah dari satu tempat ke
tempat ke tempat yang lain. Tujuannya agar mendapat kehidupan yang lebih baik.
Bisa juga berpindah pola pikir dari negatif menjadi positif selama masih dalam
koridor syariat Islam. Allah juga menyuruh hambanya untuk berjalan-jalan di muka
bumi Allah. “Maka apakah mereka tiada
mengadakan perjalanan di muka bumi lalu memperhatikan betapa kesudahan
orang-orang yang sebelum mereka. adalah orang-orang yang sebelum mereka itu
lebih hebat kekuatannya dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi
(bangunan, alat perlengkapan, benteng-benteng dan istana-istana), Maka apa yang
mereka usahakan itu tidak dapat menolong mereka” (QS Al-Mu’min/40, 82).Tujuan
Allah adalah agar dapat melihat kekuasaan-Nya dan juga bisa bertemu dengan
banyak orang dan budaya yang
berbeda, sehingga nantinya akan mempengaruhi pola
pikir seseorang agar menjadi pribadi yang lebih baik.
“The dissident scientist was to be
humiliated; authority was to be shown large not only in action but in intention.”
(hal 214, baris 31). Pelajaran terakhir yang diangkat oleh Bronowsky adalah
hubungan antara ilmu dan agama. Ilmu adalah pengetahuan yang tersusun secara
sistematis dan metodis dengan menggunakan pendekatan-pendekatan empiris yang
bersifat relatif, positif dan terbatas. Hal ini dikarenakan, ilmu didapat dengan
menggunakan akal dan logika. Sedangkan agama adalah sesuatu yang berasal dari
Tuhan, berupa ajaran akan ketentuan, keimanan, kepasrahan dan pengamalan, yang
diberikan kepada
makhluk yang berakal oleh
sang pencipta-Nya demi kemaslahatannya di dunia dan akhirat.
Seperti
yang digambarkan oleh Bronowski melalui kisah Galileo, pertentangan kaum atheis
yang diwakili oleh para ilmuwan dengan kelompok religius sudah terjadi dari
dulu. Putra dalam Rachmat, (2011; 196) menulis:
“Ketegangan tajam ilmu dan gereja telah
mendorong lahirnya saintisme di kalangan ilmuwan, dan sinisme di kalangan
agamawan. Saintisme adalah pandangan yang beranggapan bahwa pengetahuan ilmiah
adalah satu-satunya alat untuk memahami kenyataan, juga berarti interpretasi
materialis dan anti agama dari sains. Pada titik paling ekstrim saintisme
berkeyakinan hanya ilmulah yang dapat menjelaskan segala hal, apapun yang tidak
dapat dijelaskan dengan cara ilmiah dianggap omong kosong.
Walaupun banyak pendiri ilmu pengetahuan
modern adalah orang-orang yang sangat religius seperti Newton, Galileo dan
Decrates, namun dalam situasi perlawanan terhadap gereja, ilmu berkembang
menjauhi bahkan menentang agama. Tidak mengherankan jika manusia modern yang
dibesarkan dalam pendidikan yang sangat menekankan ilmu pengetahuan modern
terus menerus dalam keraguan dan terus bertanya; sebenarnya ilmu itu
memperlemah atau memperkuat iman, karena sangat sulit membuat sintesis antara
agama dan ilmu.”
Bagaimana
proses ilmu menjauhi agama dan perlahan-lahan melawannya? Ini diawali oleh para
ilmuwan yang membangun ilmu pengetahuan modern dengan metode yang sepenuhnya
rasional. Sebut saja Rene Decrates (1596-1650) dan Newton (1642-1727) tentang
alam semesta, Thomas Hubbes (1588-1679) tentang analogi manusia dan mesin,
Sigmund Freud (1856-1939) tentang psikologi modern, Agust Comte (1789-1857)
tentang sosiologi sampai kepada Charles Darwin (1809-1882) tentang evolusi
manusia. Menurut Putra dalam Rachmat (2011: 198), “Perkembangan ilmu dari
berbagai aspek diatas, kemudian melahirkan cara pandang dan keyakinan baru yang
tidak lagi memberikan tempat pada agama. Walaupun pada mulanya pertentangan itu
terjadi dengan agama Kristen, namun dalam perkembangannya dengan semua agama
yang memiliki keyakinan sentral pada adanya Tuhan yang mencipta, mengatur,
mengetahui serta sebagai sumber kebenaran.”
Islam
memberikan pandangan yang agak berbeda dalam hal ini. Dalam agama Islam, ilmu
dan agama haruslah sejalan. Ini ditunjukkan dengan wahyu pertama yang turun
kepada Nabi Muhammad saw adalah kata iqra
(baca) yang diulang sebanyak tiga kali. Kata ini menjadi kata penting terhadap
perintah Allah dalam mencari ilmu pengetahuan. Manusia tidak hanya
Diperintahkan untuk membaca yang berkenaan dengan makna yang ada dalam setiap
ayat, melainkan juga membaca perihal alam semesta yang menunjukkan kekuasaan
Allah. Arianto dalam Rachmat (2011; 63-64) menulis dalam Filsafat Ilmu
Lanjutan:
“Ajaran
Islam mendorong manusia untuk memahami realitas, seperti yang diwahyukan kepada
Muhammad saw yang tertulis dalam Al-quran mulai dari penciptaan alamnya
sampai pada hal yang menyangkut proses kelahiran manusia melalui pembuahan sel
telur oleh sperma. Salah satu ayat misalnya menyebutkan: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya siang
dan malam, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari
langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati
(kering)nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran
angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sungguh (terdapat)
tanda-tanda keesaan dan kebesaran Allah bagi kaum yang memikirkan” (QS.
Al-Baqarah/2:164). Dalam ayat lainnya disebutkan: “Katakanlah apakah sama orang-orang yang mengetahui (berilmu) dengan orang-orang
yang tidak mengetahui? Sesungguhnya hanya orang-orang yang berakallah yang
dapat menerima pelajaran” (QS. Az-Zumar/39: 9).
Tidak
itu saja, Allah juga menurunkan surat-surat khusus mengenai ilmu pengetahuan alam
semesta, misalnya Qs. An-Najmu/53 tentang Bintang, Qs. Al-Qamar/54 tentang
Bulan dan Qs. As-Syams/ 91 tentang Matahari. Nabi Muhammad saw juga selalu
mendapatkan petunjuk mengenai alam semesta langsung dari Allah. Hadis nabi
Muhammad yang diriwayatkan oleh Turmudzi 5012: “Bulan terbelah dimasa
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menjadi dua bagian, salah satunya
menutupi gunung atau yang lainnya di atas gunung, kemudian Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Saksikanlah.” Kemudian turun
lah surat Al-Qamar ayat 1-5 yang mendukung hadis ini. Ribuan tahun kemudian,
NASA menemukan dengan naik pesawat ruang angkasa yang bernama Orbiter 3 dari ketinggian sekitar 60
km di atas permukaan Bulan, para peneliti ruang angkasa membuktikan bahwa ada
rekahan-rekahan yang panjang dan menghujam jauh ke perut bulan. Dalamnya
rekahan-rekahan ini berkisar antara setengah hingga ribuan meter, sementara
lebarnya berkisar antara setengah hingga 5 kilometer. Rekahan-rekahan yang
dikenal dengan nama Rima or Lunar
Rilles itu membentuk jalur yang membelah bulan dan dihubungkan
beberapa lubang dengan kedalaman lebih dari 9 kilometer dan luas lebih dari
1000 kilometer. Salah satu rekahan yang terkenal adalah kawah Hyginus Rille yang terletak
di bagian tengah Bulan, panjang kawah ini diperkirakan lebih dari 150 km,
setara dengan 5 km panjang di Bumi dan kedalaman kawah ini kurang lebih 80 km,
dan salah satu lubang yang terkenal adalah Mare Orientalis.
Contoh lain adalah hadis nabi tentang salju di Mekkah. “Hari Akhir tidak akan datang kepada
kita sampai dataran Arab sekali lagi menjadi dataran berpadang rumput dan
dipenuhi dengan sungai-sungai” (HR.
Muslim). Ternyata Pada hari Minggu, tanggal 13 January 2002 yang lalu, di Arab
Saudi yang merupakan daerah gurun pasir yang sangat panas dimana matahari
bersinar sepanjang hari, telah terjadi suatu fenomena alam yang langka (bukan
berarti tidak pernah sama sekali), yaitu dengan turunnya salju dengan lebatnya.
Tepatnya di daerah Tabuk 1500 km dari Riyad (Ibukota Arab Saudi) dengan
ketebalan salju mencapai 20 cm, dan di Yordania suhu mencapai titik beku (0
derajat celcius). Secara logika dengan merujuk kepada kecanggihan teknologi
pada masa Nabi Muhammad saw, tidaklah mungkin beliau bisa mengetahui tentang
kejadian fenomena alam ini. Akan tetapi bagaimana beliau bisa mengetahui akan
hal tersebut? Siapa lagi yang memberitahu beliau selain penciptanya sendiri
yaitu Allah swt.
Ilmu
dan agama harus selalu berjalan beriringan. Ilmu membutuhkan agama sebagai
pengawasnya dan agama membutuhkan ilmu untuk perkembangannya. Lihatlah
bagaimana perkembangan ilmu bila tanpa agama. Para ilmuwan terus menerus
berusaha menggunakan logika dalam mempelajari penciptaan manusia sehingga
akhirnya lahirlah teori evolusi Darwin. Teori ini kemudian diperkuat oleh teori
Alexander Oparin dan percobaan Stanley Miller dengan teori generatio spontanea
(makhluk hidup berasal dari materi tak hidup). Contoh lainnya adalah mengenai penciptaan alam
semesta. Siaw mengatakan dalam bukunya (2013: 104-105):
Teori yang kembali mengemuka pada abad ke-19
adalah teori yang dikemukakan oleh Immanuel Kant, yang mengatakan bahwa alam
semesta tidak berakhir dan tidak berawal, serta terjadi secara kebetulan, dan
bukan merupakan produk rancangan, rencana atau visi yang disengaja. Ini adalah
asas dari paham materialism yang menganggap bahwa awal dan akhir dari dunia ini
adalah materi, yang tidak melibatkan adanya Sang Pencipta.
Namun teori ini runtuh dengan sendirinya
pada awal abad ke-20 bersamaan dengan berkembangnya ilmu dan teknologi sebagai
alat yang digunakan dalam astrologi.
Teori yang paling logis secara perhitungan
matematis dan fisika adalah teori Big Bang atau Dentuman Besar yang digagas
oleh Edwin Hubble. Dia menyadari bahwa binta-bintang bergerak semakin menjauh
dari bumi serta bergerak semakin jauh satu sama lain. Hubble menemukan bahwa
alam semesta ini sesungguhnya sedang mengembang dan akan terus mengembang tanpa
batas seiring dengan waktu. Apabila kita berfikir terbalik, seandainya waktu
dapat dimundurkan, berarti alam semesta ini akan semakin mengerut, dan akhirnya
menjadi satu titik tunggal yang volumenya nol dengan massa yang tidak terbatas.
Inilah kesimpulan Hubble, dia menyatakan bahwa alam semesta ini mempunyai titik
mula atau sebuah awal dari ketiadaan (volum nol = ketiadaan).”
Para
ilmuwan terus berspekulasi mengenai penciptaan alam semesta, dimana seandainya
mereka merujuk kepada agama, dalam hal ini Islam, maka terjawablah semua rasa
ingin tahu mereka. Karena sesungguhnya Islam bisa menjawab semua persoalan yang
ada di dunia ini. Mengenai penciptaan alam semesta, Qs. Al-Fushilat/41: 10
menerangkan “Dan Dia ciptakan padanya
gunung-gunung yang kokoh diatasnya. Dan kemudian Dia berkahi, dan Dia tentukan
makanan-makanan (bagi penghuni)nya dalam empat masa, memadai untuk (memenuhi
kebutuhan) mereka yang memerlukannya”. Shihab (2013: 44-45) menafsirkannnya
sebagai berikut:
“Allah
yang menciptakan bumi serta memperindahnya, Dia juga yang menjadikan di bumi
gunung-gunung yang kokoh agar bumi yang terus beredar ini tidak oleng. Di
samping itu, Dia juga memeberkahinya dengan melimpahkan aneka anugerah sehingga
ia dapat berfungsi sebaik mungkin dan dapat menjadi hunian yang nyaman buat
manusia dan hewan. Di samping itu, Dia menentukan padanya kadar makanan para
penghuninya. Semua itu terlaksana dalam empat hari yang terbagi secara adil
yakni dua hari untuk penciptaan bumi dan dua hari sisanya buat pemberkahan dan
penyiapan makanan bagi para penghuninya.”
Menurut
agama apapun di dunia ini, alam semesta ini adalah ciptaan Tuhan atau bagi
sebagian agama, dewa. Hal inilah yang tidak bisa diterima oleh para saintis,
karena konsep tuhan dan dewa tidak masuk di akal dan logika mereka.
Bayangkanlah sebuah pesawat terbang. Semakin hari semakin canggih saja. Akan tetapi,
walaupun pesawat tersebut sudah sangat canggih, apakah dia bisa menciptakan
pesawat lainnya? Tentu tidak. Sebuah pesawat membutuhkan kekuatan lain yang
lebih canggih lagi untuk bisa mewujudkannya, yakni manusia. Begitu juga dengan
manusia dan alam semesta. Pasti ada kekuatan yang maha kuasa yang bisa menciptakan
dan mewujudkannya. Seperti teori Big bang tersebut diatas. Alam semesta
tercipta dari sebuah dentuman besar. Bagaimana mungkin sebuah dentuman bisa
menghasilkan sebuah rangkaian yang begitu sempurna sesempurna alam semesta?
Bukankah setiap dentuman atau ledakan akan menghasilkan benda-benda yang hancur
berkeping-keping bukan malah sebaliknya begitu sempurna.
Di sisi lain, agama juga membutuhkan
ilmu. Tanpa ilmu, agama tidak akan bisa berkembang. Baik itu ilmu dalam
menafsirkan ayat-ayat dalam kitab sucinya, maupun ilmu yang berkaitan dengan
perkembangan penganutnya. Bisa dibayangkan apabila para ulama tidak mempunyai
ilmu dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran, pastinya kekacauan akan terjadi
dalam Islam. Begitu juga apabila hari ini ada seorang muslim yang tidak mau
menggunakan mikrofon ketika berceramah, tidak mau naik pesawat ketika naik
haji, maka betapa lambatnya perkembangan Islam ditengah zaman yang bergerak
begitu cepat. Dalam Islam astronomi memegang peranan penting dalam aktifitas
sehari-hari. Astronomi digunakan untuk penentuan kalender hijriah yang
didasarkan pada peredaran bulan, penentuan arah shalat, penentuan arah kiblat
dan bayang-bayang, dan
terakhir adalah penentuan gerhana matahari dan bulan. Tidak mungkin
penentuan-penentuan itu dapat dilaksanakan tanpa adanya ilmu pengetahuan. Intinya
ilmu dan agama adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Mereka harus selalu
berjalan beriringan. Ilmu tanpa agama buta dan agama tanpa ilmu lumpuh.
Itulah beberapa pelajaran yang dapat
diambil dari tulisan Bronowski berkaitan dengan proses pencarian ilmu demi
perkembangan manusia menjadi lebih baik dan beradab. Kemajuan ilmu dapat
dicapai apabila seseorang membuat pilihan dalam hidupnya untuk menjadi manusia
yang maju, melihat hal dari berbagai perspektif dan mengembangkan ilmu
beriringan dengan agama.
Referensi:
Bronowsky,
J. 1973. The Ascent of Man. Boston:
Little, Brown and Company.
Rachmat,
Aceng., dkk. 2011. Filsafat Ilmu Lanjutan.
Jakarta: Kencana.
Shihab,
M. Quraish. 2013. Dia Dimana-mana,
“Tangan” Tuhan di Balik Setiap Fenomena. Tangerang: Lentera Hati.
Siauw,
Felix Y. 2013. Beyond The Inspiration.
Jakarta: Al-Fatih Press.
Suseno,
Franz Magnis. 1999. Pemikiran Karl Marx.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Tidak ada komentar:
Posting Komentar