PENDIDIKAN HOME SCHOOLING
(Sahri
Ero & Edi Puryanto)
A.
PENDAHULUAN
Setiap orang
tua menghendaki anak-anaknya mendapat pendidikan bermutu, nilai-nilai iman dan
moral yang tertanam baik, dan suasana belajar anak yang menyenangkan. Kerap
kali hal tersebut tidak ditemukan para orang tua di sekolah umum. Oleh karena
itu muncullah ide orang tua untuk menyekolahkan anak-anaknya di rumah. Dalam
perkembangannya, berdirilah lembaga sekolah yang disebut sekolah rumah (home schooling) atau dikenal juga dengan
istilah sekolah mandiri, atau home
edition atau home based learning.
Banyaknya orang
tua yang tidak puas dengan hasil sekolah formal mendorong orang tua mendidik
anaknya di rumah. Kerap kali sekolah formal berorientasi pada nilai rapor
(kepentingan sekolah), bukan mengedepankan keterampilan hidup dan
bersosialisasi (nilai-nilai iman dan moral).
Di sekolah,
banyak siswa mengejar nilai rapor dengan mencontek atau membeli ijazah palsu.
Selain itu, perhatian secara personal pada anak, kurang diperhatikan. Ditambah
lagi, identitas anak distigmatisasi dan ditentukan oleh teman-temannya yang
lebih pintar, lebih unggul atau lebih cerdas. Keadaan demikian menambah suasana
sekolah menjadi tidak menyenangkan.
Ketidakpuasan
tersebut semakin memicu orang tua memilih mendidik anak-anaknya di rumah,
dengan resiko menyediakan banyak waktu dan tenaga. Home Schooling menjadi tempat harapan orang tua untuk meningkatkan
mutu pendidikan anak-anak, mengembangkan nilai-nilai iman/agama dan moral serta
mendapatkan suasana belajar yang menyenangkan.
B.
PEMBAHASAN
1.
Pengertian Home Schooling
Istilah Home Schooling berasal dari bahasa
Inggris yang berarti sekolah rumah. Home
Schooling berakar dan tumbuh di Amerika Serikat, yang dikenal juga dengan
sebutan Home Education, Home Based Learning
atau sekolah mandiri. Pengertian umum Home
Schooling adalah model pendidikan di mana sebuah keluarga memilih untuk
bertanggung jawab sendiri atas pendidikan anaknya dengan menggunakan rumah
sebagai basis pendidikannya yang berarti orang tua terlibat langsung menentukan
proses penyelenggaraan pendidikan, penentuan arah dan tujuan pendidikan,
nilai-nilai yang hendak dikembangkan, kecerdasan keterampilan, kurikulum dan
materi, serta metode dan praktek belajar (Sumardiono, 2007: 4).
Selain
pemilihan materi dan standar pendidikan sekolah rumah, mereka juga harus
melaksanakan ujian bagi anak-anaknya untuk mendapatkan sertifikat agar dapat
melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Sertifikat dari Amerika Serikat
itu diakui di Indonesia (Departemen Pendidikan Nasional) sebagai Lulusan
Sekolah Luar Negeri. (Kompas, 13/3/2005)
Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan menyebut jalur sekolah rumah ini dikategorikan
sebagai jalur pendidikan informal, yaitu jalur pendidikan keluarga dan
lingkungan (pasal 1 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003).
Kegiatan
pendidikan informal dilakukan keluarga dan lingkungan yang berbentuk kegiatan
belajar secara mandiri, meskipun pemerintah tidak mengatur standar isi dan
proses pelayanan pendidikan informal, namun hasil pendidikan informal diakui
sama dengan pendidikan formal (sekolah umum).
2.
Sejarah Singkat
Filosofi
sekolah rumah menurut John Caldwell Holt dalam bukunya How Children Fail (1964) adalah bahwa manusia pada dasarnya makhluk
belajar dan senang belajar. Yang membunuh kesenangan belajar adalah orang-orang
yang berusaha menyelak, mengatur atau mengontrolnya.
Pada tahun
1960-an, Holt mengatakan bahwa kegagalan akademis pada siswa tidak ditentukan
oleh kurangnya usaha pada sistem sekolah, tetapi disebabkan oleh sistem sekolah
itu sendiri. Pada akhir 1960-an dan awal tahun 1970-an, Ray dan Dorothy Moor
melakukan penelitian yang menunjukkan bahwa memasukkan anak-anak pada sekolah
formal sebelum usia 8 – 12 tahun bukan hanya tak efektif, tetapi juga berakibat
buruk bagi anak-anak.
Serupa dengan
Holt, Ray dan Dorothy Moore kemudian menjadi pendukung dan konsultan penting Home Schooling. Setelah itu, Home Schooling terus berkembang. Selain
karena alasan keyakinan (beliefs),
pertumbuhan Home Schooling juga
banyak dipicu oleh ketidakpuasan atas sistem pendidikan di sekolah formal.
Saat ini,
perkembangan Home Schooling di
Indonesia dipengaruhi oleh akses terhadap informasi yang semakin terbuka dan
membuat para orang tua memiliki semakin banyak pilihan untuk pendidikan
anak-anaknya.
3.
Faktor-faktor
Pemicu dan Pendukung Home Schooling:
a.
Kegagalan Sekolah Formal
Baik di Amerika
Serikat maupun di Indonesia, kegagalan sekolah formal dalam menghasilkan mutu
pendidikan yang lebih baik menjadi pemicu bagi keluarga-keluarga di Indonesia
maupun di mancanegara untuk menyelenggarakan Home Schooling. Sekolah rumah ini dinilai dapat menghasilkan
didikan bermutu.
b.
Teori Intelegensi Ganda
Salah satu
teori pendidikan yang berpengaruh dalam perkembangan Home Schooling adalah Teori Intelegensi Ganda/Multiple Intellegences (Howard Gardner: 1983). Teori Gardner ini
memicu para orang tua untuk mengembangkan potensi-potensi intelegensi yang
dimiliki anak, yang kerap kali sekolah formal tidak mampu mengembangkannya.
c.
Sosok Home
Schooling Terkenal
Banyaknya
tokoh-tokoh penting dunia yang bisa berhasil dalam hidupnya tanpa menjalani
sekolah formal juga memicu munculnya Home
Schooling seperti Benyamin Franklin, Thomas Alfa Edison, KH. Agus Salim, Ki
Hajar Dewantara dan tokoh-tokoh lainnya.
Benyamin
Franklin misalnya, ia berhasil menjadi seorang negarawan, ilmuwan, penemu, pemimpin
sipil dan pelayan publik bukan karena belajar di sekolah formal. Franklin hanya
menjalani dua tahun mengikuti sekolah karena orang tua tak mampu membayar biaya
pendidikan. Selebihnya, ia belajar tentang hidup dan berbagai hal dari waktu ke
waktu di rumah dan tempat lainnya yang bisa ia jadikan sebagai tempat belajar.
d.
Tersedianya Aneka Sarana
Dewasa ini,
perkembangan Home Schooling ikut
dipicu oleh fasilitas yang berkembang di dunia nyata. Fasilitas itu antara lain
fasilitas pendidikan (perpustakaan, museum, lembaga penelitian), fasilitas umum
(taman, stasiun, jalan raya), fasilitas sosial (taman, panti asuhan, rumah
sakit), fasilitas bisnis (mall, pameran, restoran, pabrik, sawah, perkebunan),
dan fasilitas teknologi dan informasi (internet dan audiovisual).
4.
Home Schooling Jenis &
Subjek Pengajarannya
Banyak orang
tua yang ingin memberikan home schooling kepada anaknya tapi tidak tahu
apa yang harus dilakukan karena berbagai sumber yang simpang siur.
Tetapi paling
tidak dari makalah ini akan mendapat sedikit gambaran tentang beberapa macam home
schooling dan bagaimana menentukan subjek pembelajaran untuk anak. Home schooling
dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:
a.
Home schooling
tunggal
Adalah home schooling
yang dilaksanakan oleh orang tua dalam suatu keluarga tanpa bergabung dengan
yang lainnya. Biasanya home schooling jenis ini diterapkan karena adanya
tujuan atau alasan khusus yang tidak dapat diketahui atau dikompromikan dengan
komunitas home schooling lainnya. Tetapi tanpa alasan dan tujuan khusus home
schooling tunggal juga bisa diterapkan di rumah.
b.
Home schooling
majemuk
Adalah home schooling
yang dilaksanakan oleh dua keluarga atau lebih untuk kegiatan tertentu
sementara kegiatan pokok tetap dilakukan oleh orang tua masing-masing.
Alasannya terdapat kebutuhan-kebutuhan yang dapat dikompromikan oleh beberapa
keluarga untuk melakukan kegiatan bersama. Contohnya kurikulum dari konsorsium,
kegiatan olah raga (misalnya keluarga atlit tenis), keahlian musik/seni,
kegiatan sosial dan kegiatan keagamaan.
c.
Komunitas home schooling
Adalah gabungan
dari beberapa home schooling majemuk yang menyusun dan menentukan
silabus, bahan ajar, kegiatan pokok (olah raga, musik/ seni, dan bahasa),
sarana/prasarana, dan jadwal pembelajaran. Komitmen penyelenggaraan antara
orang tua dan komunitasnya kurang lebih 50:50.
5.
Dampak Positif Home Schooling
Telah kita
ketahui sebelumnya bahwa home schooling adalah sekolah rumah yang cukup
berbeda dengan sekolah-sekolah formal pada umumnya. Home schooling
adalah sekolah yang dilakukan di rumah atau langsung pada lingkungan yang ada. Home
schooling biasanya dilakukan dengan jumlah siswa yang tidak banyak. Home
schooling mendidik langsung pada objek dan kenyataan yang ada dalam hidup. Lebih
jelasnya adalah dengan objek kehidupan yang nyata yang bisa langsung dirasakan
atau dilihat oleh peserta didik.
Pendidikan home
schooling ini adalah sarana pendidikan yang mandiri. Pendidikan yang
mengupayakan peserta didik belajar secara aktif dan memiliki pengendalian diri.
Peserta didik mampu memiliki kepribadian yang tangguh, akhlak yang mulia, dan
keterampilan-keterampilan yang diinginkan dan dibutuhkan oleh peserta didik
serta masyarakat. Home schooling ini merupakan pendidikan yang dapat
menyesuaikan kondisi dan kebutuhan anak dan keluarga. Karena dengan sistem
pengajaran yang terpusat pada seorang siswa, pembimbing mampu dengan mudah
memahami karakter anak dan mampu membuat strategi-strategi yang sesuai untuk
anak. Hal ini dilakukan agar anak mampu menerima dan memahami sebuah pelajaran
dengan seksama. Jika seorang anak tidak memahami dengan apa yang diajarkan
pendidik, anak bisa langsung menanyakan atau bahkan mencari tahu apa yang
dimaksud oleh pendidik. Dengan demikian seorang anak mampu memahami secara
mendalam tentang pelajaran tersebut dan pengetahuan tersebut dapat melekat
dalam pribadinya.
Peserta didik
home schooling bisa lebih mandiri karena anak didik cenderung belajar
sendiri dan menemukan sesuatu sendiri dengan bantuan pendidik. Peserta didik
mencari tahu segala sesuatu yang ingin diketahuinya. Peserta didik memilih apa
yang disukainya dan apa yang tidak disukainya.
Peserta didik
bisa memiliki potensi yang lebih besar, karena dia tidak terikat dengan
standar-standar sekolah yang diatur oleh pemerintah. Di home schooling
peserta didik lebih bebas berkreasi, karena peserta didik dapat melakukan apa
yang dia inginkan yang tentunya itu adalah mendidik peserta didik tersebut dan
mampu menambah wawasan peserta didik.
Dengan cara
kerja home schooling yang mendidik siswa untuk mandiri, berkreatifitas
tinggi, dan mempelajari kehidupan yang secara langsung, maka siswa bisa lebih
siap terjun kedalam dunia nyata. Hal ini karena peserta didik memperoleh sebuah
pelajaran yang secara langsung menyangkut kehidupan sehari-hari.
Home schooling ini cenderung
membuat peserta didik mampu menyesuaikan diri dengan orang yang lebih tua dan
cenderung terlindungi dari pergaulan bebas atau pergaulan yang tidak sesuai
dengan norma, karena peserta didik belajar tidak dengan banyak orang. Peserta
didik lebih tertutup dengan pergaulan diluar sana. Peserta didik belajar secara
individu dan tidak terkontaminasi dengan kehidupan bebas di luar sana. Peserta
didik mampu menyesuaikan diri dengan orang yang lebih tua dari diri mereka,
karena di dalam pembelajarannya peserta didik lebih banyak berkomunikasi dengan
orang-orang yang lebih tua dari mereka untuk menambah pengetahuannya sesuai
dengan apa yang dia inginkan.
Selain itu home
schooling ini bersifat ekonomis. Dapat disesuaikan dengan kemampuan
keluarga. Karena segala biaya dan kebutuhan diatur oleh keluarga itu sendiri,
sehingga keluarga dapat menentukan apa saja yang mereka perlukan.
Home schooling tidak menuntut
orang tua untuk serba tahu. Karena pembelajaran home schooling dapat
dilakukan di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja. Anak dapat belajar
tentang sesuatu yang ingin diketahuinya dengan mencari tahu hal tersebut
sendiri maupun dengan bantuan orang lain.
6.
Dampak Negatif
Home Schooling
Di dunia ini
tidak ada yang sempurna. Demikian juga dengan pendidikan anak. Tidak ada yang
mampu memberikan pendidikan yang selalu berdampak positif. Setiap jalur
pendidikan tentu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Oleh karena
itu kita tidak bisa menilai bahwa jalur-jalur tertentu adalah jalur yang selalu
baik dan tidak memiliki dampak yang negatif. Sehingga orang tua hanya bisa
memilih jalur yang mereka anggap terbaik untuk mereka dan anak mereka.
Selain memiliki
kelebihan, home schooling juga memiliki kekurangan, misalnya peserta
didik dari home schooling ini harus memiliki komitmen yang kuat antara
siswa dengan pendidik tentang apa yang akan dipelajarinya, waktu-waktu dalam
pembelajaran kapan saja, sarana apa yang ingin disediakan, situasi apa yang
diinginkan, metode seperti apa yang disenangi peserta didik, dan lain
sebagainya. Salah satu kekurangan yang paling menonjol dari home schooling
adalah anak tidak bisa bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya.
Selain itu
dalam home schooling sangat menuntut peran orang tua dalam mendidik
anak. Tanpa ada dukungan orang tua, pendidikan anak akan terasa percuma. Orang
tua perlu memperhatikan karakter anak, perkembangan dari anak, dan keinginan
anak. Hal ini bertujuan agar orang tua mampu berperan dengan baik dalam
perkembangan anak.
Dalam home schooling,
orang tua tentu cenderung melindungi buah hatinya. Namun perlindungan orang tua
yang cenderung berlebihan ini justru membuat anak menjadi sulit dalam
menyelesaikan masalah sendiri. Anak akan memiliki kemampuan yang terbatas dalam
menyelesaikan masalah-masalah sosial yang tidak dipikirkan sebelumnya, karena
anak kurang memiliki pergaulan dengan anak-anak yang seusianya, dan dia telah
terbiasa memiliki perlindungan lebih dari orang tuanya.
Dengan adanya
interaksi dengan orang yang lebih tua saja, membuat anak menjadi sulit dalam
bersosialisasi dengan orang yang seusianya. Anak hanya mampu berinteraksi baik
dengan orang yang lebih tua darinya namun tidak mampu berinteraksi dengan baik
dengan teman-teman sebayanya.
Anak menjadi
tidak mampu bekerja dalam tim karena kecenderungannya yang bekerja secara
individu. Anak telah dididik secara mandiri dan secara individu membuat anak
menjadi susah dalam bekerja sama. Anak hanya memiliki pergaulan dengan orang
tua atau pembimbingnya saja. Home schooling membuat anak tidak memiliki
wawasan yang luas dalam artian si anak menjadi kurang pergaulan. Karena anak
tertutup dengan pergaulan yang bebas diluar sana.
7.
Kelebihan dan
Kelemahan Home Schooling
Kita dapat
menyebutkan kelebihan home schooling,
antara lain; adaptable, artinya sesuai dengan kebutuhan anak dan kondisi
keluarga; mandiri artinya lebih memberikan peluang kemandirian dan kreativitas
individual yang tidak didapatkan di sekolah umum; potensi yang maksimal, dapat
memaksimalkan potensi anak, tanpa harus mengikuti standar waktu yang ditetapkan
sekolah; siap terjun pada dunia nyata, output home schooling lebih siap
terjun pada dunia nyata karena proses pembelajarannya berdasarkan kegiatan
sehari-hari yang ada di sekitarnya; terlindung dari pergaulan menyimpang. Ada
kesesuaian pertumbuhan anak dengan keluarga. Relatif terlindung dari hamparan
nilai dan pergaulan dan menyimpang (tawuran, narkoba, konsumerisme, pornografi,
mencontek dan sebagainya); ekonomis, biaya pendidikan dapat menyesuaikan dengan
kondisi keuangan keluarga.
Di sisi lain, home schooling mempunyai
kelemahan-kelemahan, diantaranya: membutuhkan komitmen dan tanggung jawab
tinggi dari orang tua; memiliki kompleksitas yang lebih tinggi karena orang tua
harus bertanggung jawab atas keseluruhyan proses pendidikan anak; keterampilan
dan dinamika bersosialisasi dengan teman sebaya relatif rendah; ada resiko
kurangnya kemampuan bekerja dalam tim (team
work); organisasi dan kepemimpinan; proteksi berlebihan dari orang tua
dapat memberikan efek samping ketidakmampuan menyelesaikan situasi dan masalah
sosial yang kompleks yang tidak terprediksi.
C.
KESIMPULAN
Home Schooling merupakan
sebuah pilihan dan khazanah alternatif pendidikan bagi orang tua dalam
meningkatkan mutu pendidikan, mengembangkan nilai iman, dan menginginkan
suasana belajar yang lebih menyenangkan. Di sini lain, ada sekolah umum yang
memberikan bahan ajar dan kurikulum secara terpusat dan seragam, sesuai dengan
harapan dan kebutuhan anak.
Baik Home Schooling maupun sekolah umum
(pendidikan formal) sama-sama mempunyai kelebihan dan kekurangan dalam
mengantarkan peserta didik mencapai tujuan pendidikan. Soal pilihan atas
keduanya, semua diserahkan pada orang tua dan keluarga sesuai dengan kondisi
keluarga.
DAFTAR PUSTAKA
Amanyaulady.wordpress.com/2010/09/10.
Jenis dan Subjek Home Schooling. [online].
Tersedia: http://www.octomegazine.com.
RhinastarOf.Wordpress.com/2010/12/01.
Dampak Negatif dan Positif Home
Schooling. [online]. Tersedia: http://www.bundazone.com.
Simbolon,
Pormadi. 2007. Home Schooling : Sebuah
Pendidikan Alternatif. [online]. Tersedia: http://www.pormadi.wordpress.com.
Sumardiono. 2007. Home Schooling A Lear For Better Learning. [online]. Tersedia: http://www.sumardiono.com.
global sevilla school
BalasHapus