Kamis, 24 Maret 2016

Gaya Bahasa Retoris_Polisindeton

Polisindeton
Kalau asindeton menghilangkan kata-kata penghubung dalam rangkatan kata, frase, atau klausa yang beurutan dan sederajat, polisindeton (polysindeton, syndesis)  berlaku kebalikannya. Polisindeton digunakan untuk gaya bahasa yang bersifat acuan dengan cara menggunakan kata penghubung atau konjungsi untuk menghubungkan kata-kata, frase, atau klausa yang disajikan secara berurutan dan bersifat sederajat. Misalnya, Dan ke manakah burung-burung yang gelisah dan tak berumah dan tak menyerah pada gelap dan dingin yang bakal merontokkan bulu-bulunya?[1]


Sejalan dengan apa yang dikemukakan Keraf, Harimurti memberikan paparan mengenai polisindeton yaitu pemakaian beberapa kali konjungsi, seperti  pada kalimat Kami tidak mempunyai dana dan tenaga dan sarana dan kemauan.[2]
Lanham memberikan penjelasan mengenai polisindeton yaitu penggunaan konjungsi di antara setiap klausa, polisindeton merupakan kebalikan dari asindeton;  “Use of a conjunction between each clause; opposite of Asyndeton.” Selanjutnya Lanham mengutipkan contoh dari sebuah novel Paradise Lose; Milton says that Satan, in his course through Chaos, "pursues his way, / And swims or sinks, or wade, or creeps, or flies" (Milton mengatakan bahwa Setan, dalam perjalanan melalui kesesatan, "mengejar jalan, / Dan berenang atau tenggelam, atau mengarungi, atau merayap, atau terbang"[3]



[1] Gorys Keraf, loc.cit

[2] Harimurti Kridalaksana, op.cit., h. 176.

[3] Richard A. Lanham, op.cit. h. 117.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar