Polisindeton
Kalau
asindeton menghilangkan kata-kata penghubung dalam rangkatan kata, frase, atau
klausa yang beurutan dan sederajat, polisindeton (polysindeton, syndesis) berlaku kebalikannya. Polisindeton digunakan
untuk gaya bahasa yang bersifat acuan dengan cara menggunakan kata penghubung
atau konjungsi untuk menghubungkan kata-kata, frase, atau klausa yang disajikan
secara berurutan dan bersifat sederajat. Misalnya, Dan ke manakah burung-burung yang gelisah dan tak berumah dan tak
menyerah pada gelap dan dingin yang
bakal merontokkan bulu-bulunya?[1]
Sejalan
dengan apa yang dikemukakan Keraf, Harimurti memberikan paparan mengenai
polisindeton yaitu pemakaian beberapa kali konjungsi, seperti pada kalimat Kami tidak mempunyai dana dan tenaga dan sarana dan kemauan.[2]
Lanham
memberikan penjelasan mengenai polisindeton yaitu penggunaan konjungsi di
antara setiap klausa, polisindeton merupakan kebalikan dari asindeton; “Use of a conjunction between each clause;
opposite of Asyndeton.” Selanjutnya Lanham mengutipkan contoh dari sebuah novel
Paradise Lose; Milton says that Satan, in his course through Chaos, "pursues his
way, / And swims or sinks, or wade, or creeps, or flies"
(Milton
mengatakan bahwa Setan, dalam perjalanan melalui kesesatan, "mengejar
jalan, / Dan berenang atau tenggelam, atau mengarungi, atau merayap, atau
terbang"[3]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar