Kamis, 24 Maret 2016

PENDIDIKAN DI ERA INFORMASI

PENDIDIKAN DI ERA INFORMASI
(Cucu Sutini dan Asep Supriyana)

A.      Pendahuluan
Istilah “era informasi” mengacu pada ketersediaan informasi yang tidak lagi dibatasi ruang dan waktu. Hal ini dipicu oleh perkembangan globalisasi yang begitu pesat. Pada era informasi saat ini, informasi menjadi kebutuhan sehari-hari bagi semua kalangan. Tidak hanya sekedar memenuhi kebutuhan, tetapi setiap pihak, baik pribadi, komunitas, masyarakat, maupun pemerintah sangat berperan tidak hanya sebaga penerima informasi tetapi berusaha menjadi pemberi informasi. Teknologi telah berperan sebagai media atau sarana lalu lintas informasi. Media inforamasi semakin mudah dimiliki mulai dari perangkat keras (seperti telepon genggam dan desktop) sampai perangkat lunak (program, jaringan, intranet, dan internet).
Miarso (2004) mengatakan bahwa globalisasi ditandai oleh adanya delapan aspek berikut:
1)       meningkatnya interaksi antarwarga dunia, baik secara langsung maupun tidak langsung;
2)       semakin banyaknya informasi yang tersedia dan dapat diperoleh;
3)       meluasnya cakrawala intelektual;
4)       munculnya arus keterbukaan dan demokratisasi, baik dalam politik maupun ekonomi;
5)       memanjangnya jarak budaya antara generasi tua dan muda;
6)       meningkatnya kepedulian akan perlunya dijaga keseimbangan dunia;
7)       meningkatnya kesadaran akan saling ketergantungan ekonomis;
8)       mengaburnya batas kedaulatan wilayah tertentu akibat tidak terbendungnya informasi.


Arus globalisasi telah bersentuhan dengan semua bidang kehidupan, termasuk bidang pendidikan. Dalam bidang pendidikan, globalisasi telah memicu pergeseran masalah pendidikan dari pembelajaran tatap muka yang konvensional ke arah pembelajaran yang lebih terbuka. Pendidikan lebih dioptimalkan oleh jaringan informasi yang memungkinkan interaksi dan kolaborasi.
Dilihat dari tujuannya, pendidikan pada zaman dulu dengan sekarang memiliki kesamaan, yaitu pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Perubahan zaman tidak harus mengubah tujuan pendidikan secara umum. Akan tetapi, masuknya pengaruh globalisasi telah mengubah pendidikan menjadi lebih bersifat terbuka dan interaktif, beragam, multidisiplin, produktif dan dan kompetitif (Wiyarna, 2001).
Negara Indonesia memiliki sejarah pendidikan yang berbeda dengan negara lain. Ki Hadjar Dewantara telah memberikan sumbangan yang sangat besar pada perkembangan pendidikan nasional. Tut Wuri Handayani menjadi semboyan resmi dunia pendidikan di Indonesia. Semboyan lengkapnya adalah Hing Ngarsa Sung Tulada (di depan berilah teladan), Hing Madya Mangun Karsa (di tengah ikut serta membentuk kehendak), dan Tut Wuri Handayani (di belakang tetap mempengaruhi dengan memberi kesempatan pada anak-anak). Sebuah pendidikan yang mengedepankan pendidikan budi pekerti. Inilah yang membedakan pendidikan di Inodenesia dengan negara lain.
Berdasarkan uraian di atas, bagaimana pengelolaan pendidikan di era informasi sekarang ini? Apa yang dapat dilakukan para pendidik untuk mengelola pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi informasi tanpa harus menghilangkan nilai-nilai budaya seperti yang telah dikemukakan Ki Hajar Dewantara?

B. Peran Teknologi Informasi dalam Pendidikan di Era Informasi
Pesatnya perkembangan teknologi informasi saat ini menjadikan sektor ini sebagai sektor yang dominan. Suka atau tidak, manusia harus berevolusi dengan menggunakan akalnya untuk terus dapat bertahan hidup. Dalam hal ini teknologi informaasi yang terus berkembang dipacu oleh adanya globalisasi.
  Pendidikan mendatang akan lebih ditentukan oleh jaringan informasi yang memungkinkan berinteraksi dan kolaborasi, bukannya gedung sekolah.  pendidikan  di era informasi akan bergeser menjadi terbuka, bersifat dua arah, kompetetitif, multidisipliner dan berusaha memenuhi produktivitas kerja saat itu juga.
Ledakan Teknologi Informasi dan Komunikasi telah membuka babak baru bagi masyarakat untuk memperoleh informasi secara otonom. Sekat-sekat informasi dengan sendirinya menghilang oleh inisiatif kuat individu yang ingin mengetahui lebih jauh apa yang terjadi sekitarnya. Setiap orang memiliki akses terhadap sumber informasi dimanapun di dunia ini. Konsekuensinya, masyarakat menjadi kritis dan tanggap terhadap hal yang berkembang.
Perkembangan dunia teknologi informasi yang demikian pesatnya telah membawa manfaat luar biasa bagi kemajuan peradaban umat manusia. Kegiatan komunikasi yang sebelumnya menuntut peralatan yang begitu rumit, kini relatif sudah digantikan oleh perangkat mesin-mesin otomatis.   Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi  telah diakui dan dirasakan memberikan banyak kemudahan dan kenyamanan bagi kehidupan umat manusia.
 Di era serba modern seperti saat ini, peran teknologi informasi dalam kehidupan sehari-hari tentunya sangat berpengaruh. Hal ini tidak terlepas dari aktivitas kita yang kerap kali ditunjang dengan teknologi informasi itu sendiri yang mampu menjawab tuntutan pekerjaan yang lebih cepat, mudah, murah dan menghemat waktu.
 Menghadapi keadaan seperti ini, sebagai pendidik perlu diarahkan pada sikap “sadar teknologi” atau “melek teknologi”. Kemajuan yang sering diartikan sebagai modernisasi, menjanjikan kemampuan manusia untuk mengendalikan alam melalui ilmu pengetahuan, meningkatkan kesejahteraan material melalui teknologi dan meningkatkan efektivitas kemampuan peserta didik melalui penerapan organisasi yang berdasarkan pertimbangan kesadaran. Karena dengan ilmu pengetahuan teknologi informasi dan komunikasi pula, manusia dapat melakukan hal-hal yang sebelumnya belum pernah dibayangkan.
                Bukan hanya itu, teknologi informasi dan komunikasi juga memiliki andil yang besar dalam hal sarana pembelajaran. Karena seperti yang kita ketahui bahwa teknologi informasi dan komunikasi kini telah merasuk ke dalam kurikulum dunia pendidikan. Suatu hal yang tentunya menjadi gebrakan di dunia pendidikan dalam ajang peningkatan potensi pelajar. Selain itu gelombang kemajuan dan perkembangan teknologi dalam bidang pendidikan telah membawa perubahan pada kehidupan dan gaya hidup peserta didik yang lebih dinamis. Dengan adanya hal tersebut, peserta didik senantiasa menghidupkan dan menyalurkan semangat untuk mengeksplorasi ilmu yang belum diketahui.
Kehidupan kita sekarang perlahan-lahan mulai berubah dari dulunya era industri berubah menjadi era informasi dan komunikasi dibalik pengaruh era globalisasi dan informatika yang menjadikan komputer, internet, dan pesatnya perkembangan teknologi informasi sebagai bagian utama yang harus ada atau tidak boleh kekurangan di dunia pendidikan.
Dalam memasuki era tersebut, sekolah memiliki tanggung jawab untuk menyiapkan peserta didik  dalam menghadapi semua tantangan yang berubah sangat cepat dalam lingkungan kehidupan mereka. Kemampuan untuk berbahasa asing dan kemahiran komputer adalah dua kriteria yang sering kali diminta masyarakat untuk memasuki era globalisasi baik di Indonesia maupun di seluruh dunia. Dengan  adanya komputer yang telah merambah di segala kehidupan manusia, hal itu membutuhkan tanggung jawab yang sangat tinggi bagi sistem pendidikan kita untuk mengembangkan kemampuan berbahasa peserta didik  dan kemahiran komputer.
Selain itu dengan adanya sistem pendidikan yang berbasis pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, diharapkan peserta didik di negeri kita dapat bersaing dan mengejar ketertinggalan dari peserta didik di negeri maju tanpa perlu kehilangan nilai-nilai kemanusian dan budaya yang kita miliki.  Dengan kata lain, peserta  didik di jenjang pendidikan dasar perlu diarahkan dan dibekali pendidikan teknologi guna menuju masyarakat yang “melek teknologi” yaitu mampu mengenal, mengerti, memilih, menggunakan, memelihara, memperbaiki, menilai, menghasilkan produk teknologi sederhana, dan peduli terhadap masalah yang berkaitan dengan teknologi.
 Sudjana (2001: 57-73) telah menyusun secara sistematis perkembangan teknologi pengajaran sebagai berikut:
1)       Alat Bantu Visual
Dalam konsep pengajaran, visual adalah setiap gambar, model, benda, atau alat-alat lain yang memberikan pengalaman visual yang nyata kepada peserta didik . Alat bantu visual itu bertujuan untuk: (a) memperkenalkan, membentuk, memperkaya, serta memperjelas pengertian atau konsep yang abstrak kepada peserta didik , (b) mengembangkan sikap-sikap yang dikehendaki, (c) mendorong kegiatan peserta didik  lebih lanjut. Konsep pengajaran visual didasarkan atas asumsi bahwa pengertian-pengertian yang abstrak dapat disajikan lebih konkret. 
2)       Alat Bantu Audiovisual
Konsep pengajaran visual kemudian berkembang menjadi audiovisual. Istilah ini bermakna sejumlah peralatan yang dipakai oleh para guru dalam menyampaikan konsep, gagasan, dan pengalaman yang dianggap oleh indra pandang dan pendengaran. Penekanan utama dalam pengajaran audiovisual adalah pada nilai belajar yang diperoleh melalui pengalaman konkret, tidak hanya didasarkan atas kata-kata belaka. Pengajaran audiovisual bukan metode mengajar.
3)       Komunikasi Audiovisual
Pendekatan yang lebih menguntungkan dalam arti memperoleh pengertian yang lebih efektif di bidang audiovisual terdapat dalam konsep komunikasi. Orientasi terhadap proses komunikasi yang diaplikasikan dalam kegiatan pembelajaran  telah mengubah kerangka teoritis teknologi pembelajaran . Dengan demikian, tekanan tidak lagi diletakkan pada benda atau bahan pelajaran dalam bentuk materi audiovisual untuk pengajaran, tetapi dipusatkan pada keseluruhan proses komunikasi informasi/pesan (message) dari umber (source) yaitu guru, kepada penerima (reciver) yaitu peserta didik .
4)       Pendekatan Sistem dalam Pengajaran
Perkembangan konsep teknologi pengajaran dan komunikasi audiovisual menuju ke pendekatan sistem, disebabkan oleh adanya pemikiran yang memandang teknologi pendidikan sebagai suatu pendekatan sistem di dalam proses belajar mengajar yang dipusatkan pada desain, implementasi, dan evaluasi terhadap proses mengajaran dan belajar. Hal ini membawa implikasi kepada batasan teknologi pengajaran yang menjadi lebih luas daripada sekedar alat-alat pembelajaran . Teknologi pengajaran diartikan sebagai cara mendesain yang sistematis, melaksanakan dan mengevaluasi keseluruhan proses belajar-mengajar, mengkaitkan dengan tujuan-tujuan yang telah dikhususkan serta didasarkan atas prinsip-prinsip belajar dan komunikasi yang terjadi pada manusia. Teknologi pengajaran merupakan proses, bukan hanya dinyatakan oleh media atau peralatan. 

D. Pendidikan Jarak Jauh dan e-Learning
1. Pendidikan Jarak Jauh
Pendidikan jarak jauh merupakan proses pembelajaran yang diberikan kepada peserta  didik yang tidak berkumpul bersama di satu tempat secara rutin untuk menerima pelajaran secara langsung dari pendidik . Bahan-bahan dan instruksi-instruksi detail yang bersifat khusus dikirimkan atau disediakan untuk para peserta didil  yang selanjutnya melaksanakan tugas-tugas yang akan dievaluasi oleh pendidik . Dalam kenyataannya dapat dimungkinkan pendidik  dan peserta didik tersebut terpisah tidak hanya secara geografis Akan tetapi juga waktu.

                Pendidikan jarak jauh memungkinkan para peserta  mengambil kelas kapan dan dimana pun. Hal ini memungkinkan mereka untuk menyesuaikan pendidikannya dengan tanggung jawab dan komitmen-komitmen lainnya, seperti keluarga dan pekerjaan. Ini juga memberi kesempatan kepada para peserta didik yang mungkin tidak dapat  belajar karena keterbatasan waktu, jarak, atau biaya. Selain itu juga memungkinkan subyek-subyek yang dianggap tidak begitu umum diajarkan tersedia bagi lebih banyak peserta didik.

Pendidikan jarak jauh dapat sangat efektif, khususnya bagi para peserta didik  yang lebih dewasa dan memiliki motivasi kuat untuk mengejar sukses dan senang diberi kepercayaan melakukan proses belajar secara mandiri. Namun demikian, kesuksesan paket pendidikan jarak jauh, yang meninggalkan ketaatan pada jadwal seperti pada proses pembelajaran tatap muka, bukanlah merupakan suatu pilihan yang mudah baik bagi pendidik  maupun peserta  didik. Berikut ini beberapa kelebihan dan kekurangan program pendidikan jarak jauh.

Kelebihan
Kekurangan
  • Logistik yang mudah — yang dibutuhkan adalah komunikasi yang baik
  • Mengurangi pengeluaran tambahan, seperti untuk ruang kelas dan staf pendidik
  • Peserta didik dapat mengontrol kapan mereka belajar dan pada tahapan apa
  • Pendidikan jarak jauh dapat lebih dimungkinkan karena peserta  didik dapat menyesuaikan pelajarannya sambil bekerja
  • Waktu dan pekerjaan yang berkaitan dengan penyampaian proses Pendidikan jarak jauh lebih banyak daripada proses pembelajaran secara tatap muka
  • Dukungan administratif untuk proses Pendidikan jarak jauh dibutuhkan untuk melayani jumlah peserta  didik yang mungkin sangat banyak
  • Beberapa peserta didik  merasa terasing karena jarak
  • Kurangnya struktur dan kebutuhan akan motivasi/inisiatif yang tinggi dapat merupakan tantangan (masalah) bagi para peserta 

 

Proses Pendidikan jarak jauh dapat disampaikan dengan menggunakan berbagai teknik dan teknologi. e-learning  mungkin merupakan bentuk pendidikan jarak jauh yang paling mahal dan paling maju, Akan tetapi, ada cara-cara penyampaian pelatihan lainnya yang telah digunakan dengan berhasil selama bertahun-tahun. Metode penyampaian tersebut antara lain:
  • e-learning ; penyampaian dengan komputer dan memanfaatkan teknologi internet serta pemrograman yang memungkinkan para peserta  didik untuk berinteraksi dengan bahan-bahan pelajaran melalui chat room (ruang komunikasi), notice board (papan pengumuman), video conferencing, dan lain-lain. 
  • program televisi; merupakan suatu seri program televisi yang dirancang untuk menyampaikan teknik-teknik dan teori. Metode ini dapat berupa penyiaran melalui saluran kabel atau saluran terestrial atau dengan menyediakan video tape atau DVD. Selama beberapa tahun Open University di Inggris menggunakan teknik ini.
  • bahan-bahan tertulis,  bahan-bahan teks ditulis secara khusus untuk pembelajaran dengan proses belajar jarak jauh, misalnya modul.

2. E-Learning

                E-learning  mengandung pengertian yang sangat luas, sehingga banyak pakar yang menguraikan tentang definisi e-learning  dari berbagai sudut pandang. Darin E. Hartley [Hartley, 2001] yang menyatakan e-learning  merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke peserta didik  dengan menggunakan media Internet, Intranet atau media jaringan komputer lain sedangkan menurut Darin E. Hartley (2001) E- Learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar kepada peserta didik  dengan menggunakan media internet atau media jaringan komputer lain. 
E learning memiliki kelebihan dan kelemahan. Diantara kelebihan e learning adalah sebagai berikut:
1)        Biaya; mengurangi biaya pelatihan, dengan adanya e-learning   tidak perlu mengeluarkan biaya Untuk menyewa pelatih dan ruang kelas serta transportasi peserta didik. 
2)       Fleksibilitas waktu; membuat peserta didik  dapat menyesuaikan waktu belajar, mereka dapat menyisipkan waktu belajar setelah selesai melakukan kegiatan rutin mereka.
3)       Fleksibilitas tempat; peserta didik tidak perlu pergi ke ruang kelas. mereka hanya perlu ke tempat yang terdapat computer dan jaringan internet.
4)       Fleksibilitas kecepatan pembelajaran, Peserta didik memiliki gaya belajar yang berbeda-beda, sehingga di dalam suatu kelas ada peserta didik  yang mengerti dengan cepat dan ada peserta didik  yang harus mengulang pelajaran untuk memahaminya. E- Learning dapat disesuaikan dengan kecepatan belajar masing-masing peserta didik.
5)       Standarisasi pengajaran;  e-learning  dapat menghapuskan perbedaan kualitas pendidik. Pembelajaran e-learning  memiliki kualitas yang sama setiap kali diakses  dan tidak bergantung pada suasana hati pengajar.
6)       Efektifitas pengajaran: Penyampaian pelajaran e-learning  dapat berupa simulasi dan kasus, menggunakan bentuk permainan dan menerapkan teknologi animasi canggih. Bentuk-bentuk pembelajaran tersebut dapat membantu proses pembelajaran dan mempertahankan minat belajar peserta didik,.
7)       Kecepatan distribusi, e-learning dapat menjangkau peserta didik yang berada di daerah yang sangat jauh dari pusat. Selama ada jaringan internet, materi pembelajaran berbasis e-;learning dapat diterima dengan cepat.
8)       Otomatisasi proses administrasi pembelajaran, dengan adnya e-learning  waktu dan proses penyelesaian tugas akan lebih singkat dan mudah. 

Selain kelebihan-kelebihan di atas, e-learning  pun memiliki beberapa kelemahan sebagai berikut.
1)       Budaya; e-learning  dapat dilaksanakan dengan baik jika belajar mandiri sudah menjadi budaya yang melekat pada setiap siswa.
2)       Investasi berupa biaya cukup tinggi
3)       Teknologi; karena teknologi yang digunakan beragam, ada kemungkinan teknologi tersebut tidak sejalan dengan yang sudah ada dan terjadi konflik teknologi sehingga E- Learning tidak berjalan baik. 
4)       Infrastruktur; Internet belum menjangkau semua kota di indonesia. 
5)       Materi, ada beberapa materi yang tidak dapat diajarkan melalui e-learning
E. Penutup
Pendidikan di ear informasi menuntut para pelaku pendidikan untuk menyesuaian program-program pensisikan yang dikembagkannya dengan perkemnagan teknologi insformasi saat ini. Dalam bidang pendidikan, globalisasi telah memicu pergeseran masalah pendidikan dari pembelajaran tatap muka yang konvensional ke arah pembelajaran yang lebih terbuka. Pendidikan lebih dioptimalkan oleh jaringan informasi yang memungkinkan interaksi dan kolaborasi.
Dalam dunia pendidikan, perkembangan teknologi informasi telah mempengaruhi aspek-aspek yang yang berkaitan dengan  pendidikan, yaitu: Alat Bantu Visual, Alat Bantu Audiovisual, Komunikasi Audiovisual, Pendekatan Sistem dalam Pengajaran. Selain itu, perkembangan teknologi informasi telah mengubah paradigma pendidikan konvensional ke sistem pendidikan jarak jauh dan pendidikan berbasis e-learning .

DAFTAR PUSTAKA

Darin E.Hartley. 2001. Selling E-Learning. American Society for Training and Development.

Sudjana, N., Achmada Rivai, 2001, Teknologi Pengajaran. Bandung: Sinar Baru Algensindo

Wiryana, I. M. 2001. Open Source Campus Agreement: Pengenalan Linux. Jakatrta : Universitas Gunadarma.


Yusufhadi Miarso. 2004. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta: Prenada Media.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar