PENDIDIKAN DI ERA INFORMASI
(Cucu Sutini dan Asep Supriyana)
A.
Pendahuluan
Istilah “era
informasi” mengacu pada ketersediaan informasi yang tidak lagi dibatasi ruang
dan waktu. Hal ini dipicu oleh perkembangan globalisasi yang begitu pesat. Pada
era informasi saat ini, informasi menjadi kebutuhan sehari-hari bagi semua
kalangan. Tidak hanya sekedar memenuhi kebutuhan, tetapi setiap pihak, baik
pribadi, komunitas, masyarakat, maupun pemerintah sangat berperan tidak hanya
sebaga penerima informasi tetapi berusaha menjadi pemberi informasi. Teknologi
telah berperan sebagai media atau sarana lalu lintas informasi. Media
inforamasi semakin mudah dimiliki mulai dari perangkat keras (seperti telepon
genggam dan desktop) sampai perangkat
lunak (program, jaringan, intranet, dan internet).
Miarso (2004)
mengatakan bahwa globalisasi ditandai oleh adanya delapan aspek berikut:
1) meningkatnya interaksi antarwarga dunia, baik
secara langsung maupun tidak langsung;
2) semakin banyaknya informasi yang tersedia dan
dapat diperoleh;
3) meluasnya cakrawala intelektual;
4) munculnya arus keterbukaan dan demokratisasi,
baik dalam politik maupun ekonomi;
5) memanjangnya jarak budaya antara generasi tua
dan muda;
6) meningkatnya kepedulian akan perlunya dijaga
keseimbangan dunia;
7) meningkatnya kesadaran akan saling
ketergantungan ekonomis;
8) mengaburnya batas kedaulatan wilayah tertentu
akibat tidak terbendungnya informasi.
Arus globalisasi
telah bersentuhan dengan semua bidang kehidupan, termasuk bidang pendidikan.
Dalam bidang pendidikan, globalisasi telah memicu pergeseran masalah pendidikan
dari pembelajaran tatap muka yang konvensional ke arah pembelajaran yang lebih
terbuka. Pendidikan lebih dioptimalkan oleh jaringan informasi yang
memungkinkan interaksi dan kolaborasi.
Dilihat dari
tujuannya, pendidikan pada zaman dulu dengan sekarang memiliki kesamaan, yaitu pendidikan yang berdasarkan
Pancasila dan UUD 1945, yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia
dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Perubahan
zaman tidak harus mengubah tujuan pendidikan secara umum. Akan tetapi, masuknya
pengaruh globalisasi telah mengubah pendidikan menjadi lebih bersifat terbuka
dan interaktif, beragam, multidisiplin, produktif dan dan kompetitif (Wiyarna,
2001).
Negara Indonesia
memiliki sejarah pendidikan yang berbeda dengan negara lain. Ki Hadjar
Dewantara telah memberikan sumbangan yang sangat besar pada perkembangan
pendidikan nasional. Tut Wuri Handayani menjadi semboyan resmi dunia pendidikan
di Indonesia. Semboyan lengkapnya adalah Hing Ngarsa Sung Tulada (di depan berilah teladan), Hing Madya Mangun
Karsa (di tengah ikut serta membentuk kehendak), dan Tut Wuri Handayani
(di belakang tetap mempengaruhi dengan memberi kesempatan pada anak-anak).
Sebuah pendidikan yang mengedepankan pendidikan budi pekerti. Inilah yang
membedakan pendidikan di Inodenesia dengan negara lain.
Berdasarkan uraian
di atas, bagaimana pengelolaan pendidikan di era informasi sekarang ini? Apa
yang dapat dilakukan para pendidik untuk mengelola pembelajaran dengan
memanfaatkan teknologi informasi tanpa harus menghilangkan nilai-nilai budaya
seperti yang telah dikemukakan Ki Hajar Dewantara?
B. Peran Teknologi Informasi dalam Pendidikan di Era Informasi
Pesatnya perkembangan
teknologi informasi saat ini menjadikan sektor ini sebagai sektor yang dominan.
Suka atau tidak, manusia harus berevolusi dengan menggunakan akalnya untuk
terus dapat bertahan hidup. Dalam hal ini teknologi informaasi yang terus
berkembang dipacu oleh adanya globalisasi.
Pendidikan mendatang akan lebih ditentukan oleh jaringan informasi yang
memungkinkan berinteraksi dan kolaborasi, bukannya gedung sekolah. pendidikan di era informasi akan bergeser
menjadi terbuka, bersifat dua arah, kompetetitif, multidisipliner dan berusaha
memenuhi produktivitas kerja saat itu juga.
Ledakan
Teknologi Informasi dan Komunikasi telah membuka babak baru bagi masyarakat
untuk memperoleh informasi secara otonom. Sekat-sekat informasi dengan
sendirinya menghilang oleh inisiatif kuat individu yang ingin mengetahui lebih
jauh apa yang terjadi sekitarnya. Setiap orang memiliki akses terhadap sumber
informasi dimanapun di dunia ini. Konsekuensinya, masyarakat menjadi kritis dan
tanggap terhadap hal yang berkembang.
Perkembangan
dunia teknologi informasi yang demikian pesatnya telah membawa manfaat luar
biasa bagi kemajuan peradaban umat manusia. Kegiatan komunikasi yang sebelumnya
menuntut peralatan yang begitu rumit, kini relatif sudah digantikan oleh
perangkat mesin-mesin otomatis. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah diakui dan dirasakan memberikan banyak
kemudahan dan kenyamanan bagi kehidupan umat manusia.
Di era serba modern seperti saat ini, peran
teknologi informasi dalam kehidupan sehari-hari tentunya sangat berpengaruh.
Hal ini tidak terlepas dari aktivitas kita yang kerap kali ditunjang dengan
teknologi informasi itu sendiri yang mampu menjawab tuntutan pekerjaan yang
lebih cepat, mudah, murah dan menghemat waktu.
Menghadapi keadaan seperti ini, sebagai pendidik
perlu diarahkan pada sikap “sadar teknologi” atau “melek teknologi”. Kemajuan
yang sering diartikan sebagai modernisasi, menjanjikan kemampuan manusia untuk
mengendalikan alam melalui ilmu pengetahuan, meningkatkan kesejahteraan
material melalui teknologi dan meningkatkan efektivitas kemampuan peserta didik
melalui penerapan organisasi yang berdasarkan pertimbangan kesadaran. Karena
dengan ilmu pengetahuan teknologi informasi dan komunikasi pula, manusia dapat
melakukan hal-hal yang sebelumnya belum pernah dibayangkan.
Bukan
hanya itu, teknologi informasi dan komunikasi juga memiliki andil yang besar
dalam hal sarana pembelajaran. Karena seperti yang kita ketahui bahwa teknologi
informasi dan komunikasi kini telah merasuk ke dalam kurikulum dunia pendidikan.
Suatu hal yang tentunya menjadi gebrakan di dunia pendidikan dalam ajang
peningkatan potensi pelajar. Selain itu gelombang kemajuan dan perkembangan
teknologi dalam bidang pendidikan telah membawa perubahan pada kehidupan dan
gaya hidup peserta didik yang lebih dinamis. Dengan adanya hal tersebut, peserta
didik senantiasa menghidupkan dan menyalurkan semangat untuk mengeksplorasi
ilmu yang belum diketahui.
Kehidupan
kita sekarang perlahan-lahan mulai berubah dari dulunya era industri berubah
menjadi era informasi dan komunikasi dibalik pengaruh era globalisasi dan
informatika yang menjadikan komputer, internet, dan pesatnya perkembangan
teknologi informasi sebagai bagian utama yang harus ada atau tidak boleh
kekurangan di dunia pendidikan.
Dalam
memasuki era tersebut, sekolah memiliki tanggung jawab untuk menyiapkan peserta
didik dalam menghadapi semua tantangan
yang berubah sangat cepat dalam lingkungan kehidupan mereka. Kemampuan untuk
berbahasa asing dan kemahiran komputer adalah dua kriteria yang sering kali
diminta masyarakat untuk memasuki era globalisasi baik di Indonesia maupun di
seluruh dunia. Dengan adanya komputer
yang telah merambah di segala kehidupan manusia, hal itu membutuhkan tanggung
jawab yang sangat tinggi bagi sistem pendidikan kita untuk mengembangkan
kemampuan berbahasa peserta didik dan
kemahiran komputer.
Selain itu
dengan adanya sistem pendidikan yang berbasis pada perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, diharapkan peserta didik di negeri kita dapat
bersaing dan mengejar ketertinggalan dari peserta didik di negeri maju tanpa
perlu kehilangan nilai-nilai kemanusian dan budaya yang kita miliki. Dengan kata lain, peserta didik di jenjang pendidikan dasar perlu
diarahkan dan dibekali pendidikan teknologi guna menuju masyarakat yang “melek
teknologi” yaitu mampu mengenal, mengerti, memilih, menggunakan, memelihara,
memperbaiki, menilai, menghasilkan produk teknologi sederhana, dan peduli
terhadap masalah yang berkaitan dengan teknologi.
Sudjana
(2001: 57-73) telah menyusun secara sistematis perkembangan teknologi pengajaran
sebagai berikut:
1) Alat Bantu Visual
Dalam konsep pengajaran, visual adalah setiap
gambar, model, benda, atau alat-alat lain yang memberikan pengalaman visual
yang nyata kepada peserta didik . Alat bantu visual itu bertujuan untuk: (a)
memperkenalkan, membentuk, memperkaya, serta memperjelas pengertian atau konsep
yang abstrak kepada peserta didik , (b) mengembangkan sikap-sikap yang dikehendaki,
(c) mendorong kegiatan peserta didik lebih
lanjut. Konsep pengajaran visual didasarkan atas asumsi bahwa pengertian-pengertian
yang abstrak dapat disajikan lebih konkret.
2) Alat Bantu
Audiovisual
Konsep pengajaran visual kemudian berkembang menjadi
audiovisual. Istilah ini bermakna sejumlah peralatan yang dipakai oleh para guru
dalam menyampaikan konsep, gagasan, dan pengalaman yang dianggap oleh indra pandang
dan pendengaran. Penekanan utama dalam pengajaran audiovisual adalah pada nilai
belajar yang diperoleh melalui pengalaman konkret, tidak hanya didasarkan atas kata-kata
belaka. Pengajaran audiovisual bukan metode mengajar.
Pendekatan yang lebih menguntungkan dalam
arti memperoleh pengertian yang lebih efektif di bidang audiovisual terdapat
dalam konsep komunikasi. Orientasi terhadap proses komunikasi yang
diaplikasikan dalam kegiatan pembelajaran telah mengubah kerangka teoritis teknologi pembelajaran
. Dengan demikian, tekanan tidak lagi diletakkan pada benda atau bahan
pelajaran dalam bentuk materi audiovisual untuk pengajaran, tetapi dipusatkan
pada keseluruhan proses komunikasi informasi/pesan (message) dari umber (source)
yaitu guru, kepada penerima (reciver)
yaitu peserta didik .
4) Pendekatan Sistem
dalam Pengajaran
Perkembangan konsep teknologi pengajaran dan
komunikasi audiovisual menuju ke pendekatan sistem, disebabkan
oleh adanya pemikiran yang memandang teknologi pendidikan sebagai suatu
pendekatan sistem di dalam proses belajar mengajar yang dipusatkan pada desain,
implementasi, dan evaluasi terhadap proses mengajaran dan belajar. Hal ini
membawa implikasi kepada batasan teknologi pengajaran yang menjadi lebih luas
daripada sekedar alat-alat pembelajaran . Teknologi pengajaran diartikan
sebagai cara mendesain yang sistematis, melaksanakan dan mengevaluasi keseluruhan
proses belajar-mengajar, mengkaitkan dengan tujuan-tujuan yang telah dikhususkan
serta didasarkan atas prinsip-prinsip belajar dan komunikasi yang terjadi pada manusia.
Teknologi pengajaran merupakan proses, bukan hanya dinyatakan oleh media atau peralatan.
D. Pendidikan Jarak Jauh dan e-Learning
1. Pendidikan Jarak Jauh
Pendidikan jarak jauh merupakan proses
pembelajaran yang diberikan kepada peserta
didik yang tidak berkumpul bersama di satu tempat secara rutin untuk
menerima pelajaran secara langsung dari pendidik . Bahan-bahan dan
instruksi-instruksi detail yang bersifat khusus dikirimkan atau disediakan
untuk para peserta didil yang
selanjutnya melaksanakan tugas-tugas yang akan dievaluasi oleh pendidik . Dalam
kenyataannya dapat dimungkinkan pendidik dan peserta didik tersebut terpisah tidak
hanya secara geografis Akan tetapi juga waktu.
Pendidikan
jarak jauh memungkinkan para peserta
mengambil kelas kapan dan dimana pun. Hal ini memungkinkan mereka untuk
menyesuaikan pendidikannya dengan tanggung jawab dan komitmen-komitmen lainnya,
seperti keluarga dan pekerjaan. Ini juga memberi kesempatan kepada para peserta
didik yang mungkin tidak dapat belajar karena keterbatasan waktu, jarak,
atau biaya. Selain itu juga memungkinkan subyek-subyek yang dianggap tidak
begitu umum diajarkan tersedia bagi lebih banyak peserta didik.
Pendidikan jarak jauh dapat sangat efektif, khususnya bagi para peserta
didik yang lebih dewasa dan memiliki
motivasi kuat untuk mengejar sukses dan senang diberi kepercayaan melakukan
proses belajar secara mandiri. Namun demikian, kesuksesan paket pendidikan
jarak jauh, yang meninggalkan ketaatan pada jadwal seperti pada proses
pembelajaran tatap muka, bukanlah merupakan suatu pilihan yang mudah baik bagi pendidik
maupun peserta didik. Berikut ini beberapa kelebihan dan
kekurangan program pendidikan jarak jauh.
|
Kelebihan
|
Kekurangan
|
|
|
Proses Pendidikan jarak jauh dapat
disampaikan dengan menggunakan berbagai teknik dan teknologi. e-learning mungkin merupakan bentuk pendidikan jarak
jauh yang paling mahal dan paling maju, Akan tetapi, ada cara-cara penyampaian
pelatihan lainnya yang telah digunakan dengan berhasil selama bertahun-tahun.
Metode penyampaian tersebut antara lain:
- e-learning ;
penyampaian
dengan komputer dan memanfaatkan teknologi internet serta pemrograman yang
memungkinkan para peserta didik
untuk berinteraksi dengan bahan-bahan pelajaran melalui chat room
(ruang komunikasi), notice board (papan pengumuman), video
conferencing, dan lain-lain.
- program
televisi; merupakan suatu seri program televisi yang dirancang untuk
menyampaikan teknik-teknik dan teori. Metode ini dapat berupa penyiaran
melalui saluran kabel atau saluran terestrial atau dengan menyediakan
video tape atau DVD. Selama beberapa tahun Open University di Inggris
menggunakan teknik ini.
- bahan-bahan
tertulis, bahan-bahan teks ditulis
secara khusus untuk pembelajaran dengan proses belajar jarak jauh,
misalnya modul.
2. E-Learning
E-learning mengandung
pengertian yang sangat luas, sehingga banyak pakar yang menguraikan tentang
definisi e-learning dari berbagai sudut pandang. Darin E. Hartley
[Hartley, 2001] yang menyatakan e-learning
merupakan suatu jenis belajar
mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke peserta didik dengan menggunakan media Internet, Intranet
atau media jaringan komputer lain sedangkan menurut Darin E. Hartley (2001) E-
Learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya
bahan ajar kepada peserta didik dengan
menggunakan media internet atau media jaringan komputer lain.
E learning
memiliki kelebihan dan kelemahan. Diantara kelebihan e learning adalah sebagai
berikut:
1) Biaya; mengurangi biaya pelatihan,
dengan adanya e-learning tidak perlu mengeluarkan biaya Untuk menyewa
pelatih dan ruang kelas serta transportasi peserta didik.
2) Fleksibilitas waktu; membuat peserta
didik dapat menyesuaikan waktu belajar,
mereka dapat menyisipkan waktu belajar setelah selesai melakukan kegiatan rutin
mereka.
3) Fleksibilitas tempat; peserta didik tidak
perlu pergi ke ruang kelas. mereka hanya perlu ke tempat yang terdapat computer
dan jaringan internet.
4) Fleksibilitas kecepatan pembelajaran, Peserta
didik memiliki gaya belajar yang berbeda-beda, sehingga di dalam suatu kelas
ada peserta didik yang mengerti dengan
cepat dan ada peserta didik yang harus
mengulang pelajaran untuk memahaminya. E- Learning dapat disesuaikan dengan
kecepatan belajar masing-masing peserta didik.
5) Standarisasi pengajaran; e-learning
dapat menghapuskan perbedaan
kualitas pendidik. Pembelajaran e-learning
memiliki kualitas yang sama setiap
kali diakses dan tidak bergantung pada suasana hati pengajar.
6) Efektifitas pengajaran: Penyampaian pelajaran
e-learning dapat berupa simulasi dan kasus, menggunakan
bentuk permainan dan menerapkan teknologi animasi canggih. Bentuk-bentuk
pembelajaran tersebut dapat membantu proses pembelajaran dan mempertahankan
minat belajar peserta didik,.
7) Kecepatan distribusi, e-learning dapat menjangkau peserta didik yang berada di daerah
yang sangat jauh dari pusat. Selama ada jaringan internet, materi pembelajaran
berbasis e-;learning dapat diterima
dengan cepat.
8) Otomatisasi proses administrasi pembelajaran,
dengan adnya e-learning waktu dan proses penyelesaian tugas akan lebih
singkat dan mudah.
Selain kelebihan-kelebihan di atas, e-learning pun memiliki beberapa kelemahan sebagai
berikut.
1) Budaya; e-learning
dapat dilaksanakan dengan baik jika
belajar mandiri sudah menjadi budaya yang melekat pada setiap siswa.
2) Investasi berupa biaya cukup tinggi
3) Teknologi; karena teknologi yang digunakan
beragam, ada kemungkinan teknologi tersebut tidak sejalan dengan yang sudah ada
dan terjadi konflik teknologi sehingga E- Learning tidak berjalan baik.
4) Infrastruktur; Internet belum menjangkau
semua kota di indonesia.
5) Materi, ada beberapa materi yang tidak dapat
diajarkan melalui e-learning .
E. Penutup
Pendidikan di ear
informasi menuntut para pelaku pendidikan untuk menyesuaian program-program
pensisikan yang dikembagkannya dengan perkemnagan teknologi insformasi saat
ini. Dalam bidang pendidikan, globalisasi telah memicu pergeseran masalah
pendidikan dari pembelajaran tatap muka yang konvensional ke arah pembelajaran
yang lebih terbuka. Pendidikan lebih dioptimalkan oleh jaringan informasi yang
memungkinkan interaksi dan kolaborasi.
Dalam dunia
pendidikan, perkembangan teknologi informasi telah mempengaruhi aspek-aspek
yang yang berkaitan dengan pendidikan,
yaitu: Alat Bantu Visual,
Alat Bantu Audiovisual, Komunikasi Audiovisual, Pendekatan Sistem dalam
Pengajaran. Selain itu, perkembangan teknologi informasi telah mengubah
paradigma pendidikan konvensional ke sistem pendidikan jarak jauh dan
pendidikan berbasis e-learning .
DAFTAR PUSTAKA
Darin E.Hartley.
2001. Selling E-Learning. American
Society for Training and Development.
Sudjana, N., Achmada Rivai, 2001, Teknologi Pengajaran. Bandung: Sinar
Baru Algensindo
Wiryana, I. M. 2001. Open Source Campus Agreement: Pengenalan Linux. Jakatrta : Universitas Gunadarma.
Yusufhadi Miarso. 2004.
Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta:
Prenada Media.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar