Oleh Nabila
Puspita Dewi
“However
big the whale may be, the tiny harpoon can rob him of life.”
Pedro
berlari ketika mendengar dentuman keras pada lonceng asramanya. Ia lagi-lagi
bangun terlalu siang. Kebiasaannya masih sama sejak menjadi pengamen jalanan
dulu, tak tepat waktu dan tak akan
membuka matanya sebelum matahari terbit. Padahal kurang lebih 5 bulan sudah ia
tinggal di sekolah berasrama Beddingfield bersama puluhan anak jalanan lainnya
yang dibawa oleh petugas negara agar mendapatkan pendidikan yang layak.
Peraturan mengenai penertiban anak jalanan di Perancis memang semakin
digalakkan sejak pergantian perdana menteri. Jangankan membawa buku, mandi pun
tidak dilakukannya. Masa bodoh dengan omelan guru-gurunya. Sudah bagus aku mau
sekolah di sini, pikirnya.
Pedro
memasuki kelasnya dengan langkah gontai. Kelas berukuran 4x4 meter untuk 50 anak
yang ‘terpaksa’ belajar menjadi tempat belajarnya hari itu. Papan tulis hitam
hasil hibah sekolah elite di ibu kota terlihat yang paling mencolok di antara
meja dan kursi yang seadanya. “Alfred, berapa tahun tak kau ganti bajumu itu?
Baunya bagai selokan tempat tinggalku dulu. Hahahahahaha,” ejek beberapa anak
sebelum salah satu dari mereka terkena tinju Alfred. Kelas mendadak lengang. Wajah
anak itu merah padam. Pedro tetap tak peduli, hanya sesekali sibuk mencoba
memukul nyamuk yang lewat di depan wajahnya.
Adalah Bu
Merry, mahasiswa tingkat tiga yang secara sukarela menjadi staff
pengajar di sekolah ini. Usianya memang belia, namun beliau nyaman dengan sapaan ‘Ibu’. Matanya bulat
kecoklatan, kulitnya putih langsat. Terlihat sekali banyak biaya yang telah
dikeluarkan demi menjaga kecantikannya. Kali ini, beliau menggunakan kaos
pendek, dengan rok bunga selutut. Cantik sekali Bu Merry hari ini hingga
anak-anak pun terhipnotis. Bu Merry mengajarkan banyak hal, mulai dari mata pelajaran
tingkat sekolah dasar sampai kerajinan tangan. Tiga hari yang lalu, beliau mengajarkan cara membuat omelet. Seminggu yang
lalu, beliau mengajarkan anak-anak cara bermain pianika. Kali ini, beliau ingin
mengajar mengenai matematika. Ilmu yang terkadang menyenangkan, terkadang juga
menyebalkan.
“Selamat
pagi anak-anak,” Bu Merry menyapa murid-muridnya yang tadinya sibuk dengan
urusan masing-masing.
“Pasti
kalian sudah mengetahui angka-angka, kan? Kalian juga mungkin telah mengenal
bagaimana pertambahan dan pengurangan. Ibu akan mengulas sedikit mengenai
pertambahan dan pengurangan,” ujar Bu Merry dengan wajah yang ceria.
Satu dua
mengangguk, entah karena sudah mengerti atau memang pura-pura mengerti. Setelah
menjelaskan konsepnya, Bu Merry meminta anak-anak untuk menghitung jumlah uang
yang mereka dan tiga teman lainnya dapatkan ketika mengamen atau meminta-minta di
jalan beberapa bulan yang lalu. Semuanya antusias mencari tahu berapa uang yang
teman-temannya dapatkan dahulu, kecuali Pedro. Hari ini ia sangat tak
bersemangat. Tak ada satu benda pun yang dia bawa ke dalam kelas. Bu Merry
menyadari ketidakantusiasan Pedro.
“Ada apa
Pedro?”
Pedro
hanya menatap Bu Merry, lalu menggeleng dan kembali menendang-nendang meja.
“Bukumu
tertinggal Pedro? Ibu punya kertas. Ini, ambil saja. Sana bergabung dengan
teman-temanmu yang lain.”
Bu Merry
memberikan selembar kertas dari buku catatannya dan sebuah pensil berwarna
biru. Dari penampakannya, pensil tersebut terlihat seperti pensil kayu pada
umumnya. Pada ujungnya terdapat penghapus berwarna merah. Pedro akhirnya
bergerak menuju kerumunan anak-anak yang sedang ribut bertanya. Bu Merry hanya
tersenyum melihat tingkah anak didiknya dari kejauhan.
Sepulang
dari sekolah, anak-anak tersebut harus kembali ke asrama. Biasanya diadakan
kerja bakti, namun hari ini kerja bakti ditiadakan karena hujan turun dengan
begitu derasnya. Pedro satu kamar dengan empat belas anak lainnya. Di dalam
kamar sederhana itu, kasur lipat disusun dengan rapi. Pedro meletakkan benda
yang dia bawa dari sekolah di meja sebelah kasurnya, termasuk pensil dari Bu
Merry yang belum sempat ia kembalikan. Kasur Pedro terletak di sudut dinding,
paling ujung. Tempat itu menjadi tempat pilihannya. Dingin, dekat dengan
dinding, begitu katanya.
Pedro
termasuk salah satu di antara anak-anak yang ceria. Ia gemar memainkan gitar
kecilnya untuk teman-teman kamarnya. Maklum saja, dia adalah pengamen jalanan.
Ia juga gemar membuat teman-temannya tertawa. Banyak sekali lelucon-lelucon
yang ia lontarkan. Namun, di dalam lubuk hatinya ia menyimpan kesedihan
mendalam. Ia tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya. Siapa wanita mulia yang telah melahirkannya? Siapa sosok ayah yang saat
ini seharusnya melindungi dirinya di dalam rumah mereka? pertanyaan-pertanyaan
itu tak jarang memenuhi kepalanya. Namun, hidupnya harus tetap berjalan
sebagaimana mestinya. Pedro memutuskan untuk tidur ketika pertanyaan-pertanyaan
itu menggelayuti otaknya seperti siang ini. Lagipula suasana juga mendukung,
dingin, pikirnya.
Matanya
sudah terpejam, meski dirinya belum benar-benar terlelap. Saat itu juga lampu
di kamarnya tiba-tiba saja mati. Keadaan menjadi sangat gelap karena meskipun
siang, hujan di luar sangatlah lebat. Hal itu sering terjadi, maklum saja,
wilayah tempat gedung ini dibangun sering kekurangan listrik.
Presiden yang baru kurang perhatian, menyebalkan, umpat Pedro. Pedro
tak terganggu, ia memutuskan untuk melanjutkan tidur siangnya.
Tuk...tuk…, di sela-sela bunyi-bunyian rintik hujan terdengar
suara ketukan tak lebih dari lima menit setelah Pedro memutuskan untuk
melanjutkan istirahatnya. Pedro bangun dan tersentak kesakitan karena ternyata
bunyi-bunyian itu berasal dari pensil Bu Merry yang memukul halus dahi Pedro.
Ia kaget bukan main ketika mengetahui pensil Bu Merry bisa berjalan sendiri bahkan
memukul dahinya. Pedro menggenggam pensil tersebut sambil takut-takut berusaha
menghentikannya.
“Hai, namaku
Penn. Senang bertemu denganmu. Oh iya, sepertinya aku sedang tidak berada di
rumah Tuan Groove. Bisa kau beri tahu di mana aku sekarang?”
Pedro
terkejut bukan main mengetahui pensil dari guru cantiknya itu bisa berbicara.
Ia melemparkan pensil itu jauh-jauh dari dirinya. Namun, Penn sangat lincah. Ia
bisa dengan cepat kembali ke dekat Pedro.
“Ada apa?
Apa kamu tidak menyukaiku? Oh iya, satu hal, aku tidak memiliki saraf seperti kau,
Nona Merry, ataupun Tuan Groove. Sesering apapun engkau melemparkanku, aku tak
akan merasa sakit. Bahkan jika aku patah, tubuhku mudah beregenerasi,” Penn
berujar kembali.
Pedro
yang tak punya pilihan lain akhirnya menjawab dengan patah-patah, “Namaku
Pedro. Aku sama sekali tak bermaksud melukaimu. Maaf, aku hanya kaget.”
“Tidak
apa-apa. Salam kenal Pedro. Semoga kita bisa menjadi teman yang baik.
Sebenarnya aku ber…” perkataan Penn berhenti seiring dengan lampu kamarnya yang
menyala. Pedro lagi-lagi kaget. Bukan main anehnya pensil tersebut. Selang
sedetik saja, pensil itu seperti tak bernyawa. Pedro meremas pensil itu,
memukul-mukulkan pensil itu ke lantai hanya untuk mengecek keberadaan sesosok
bernama Penn itu. Hasilnya sama, pensil
itu terlihat sama seperti pensil-pensil pada umumnya.
Pedro tak
bisa melanjutkan prosesi tidur siangnya. Bahkan di sore hari, ketika banyak
anak-anak yang bermain bola di tanah basah, ia hanya termenung di pinggir
lapangan dan terus mengantongi pensil itu. Ia tak habis pikir bagaimana bisa
pensil itu berbicara dan diam dalam jangka waktu yang sangat sebentar. Ketika
makan malam, pikirannya tak lepas dari pensil itu. Jangan-jangan Penn hanya
halusinasiku saja, pikirnya.
Bahkan sampai sebelum tidur, Penn tak muncul kembali. Pedro pun meyakinkan
dirinya bahwa Penn hanya halusinasi belaka.
Lampu
kamar telah dimatikan. Pedro sudah bersiap untuk tidur. Namun, suara Penn hadir
lagi.
“Selamat
malam Pedro. Senang bertemu denganmu lagi.”
Pedro
hampir berteriak sebelum ia menyadari bahwa teman-temannya sudah terlelap.
“Penn, apa kau benar-benar nyata?”
“Ya, akulah
Penn. Tuan Groove menyukaiku karena aku bisa mengabulkan banyak permintaan.
Pedro, terima kasih telah menjadi teman baruku. Sebagai hadiahnya, apa kau
memiliki permintaan? Aku bisa mengabulkan permintaan-permintaanmu,” jawab Penn.
“Penn,
mengapa kau hanya muncul di saat-saat tertentu? Kau benar-benar mengagetkanku.”
“Ya, Aku
hanya ada ketika tak ada sumber cahaya di dekatku. Bukan berarti kekuatanku
melemah. Aku bisa mengetahui apa yang terjadi di sekitarku. Pita suaraku tidak
berfungsi ketika aku berada di dekat sumber cahaya.”
Mereka berdua
saling bercakap-cakap tanpa mempedulikan malam yang terus bergulir. Ternyata Bu
Merry adalah anak dari seorang ilmuwan ternama di negeri ini. Ya, beliau adalah
Tuan Groove. Penn adalah salah satu dari penemuannya yang tidak dipublikasikan.
Entah bagaimana pensil itu bisa Bu Merry pinjamkan secara cuma-cuma kepada
Pedro. Mungkin karena rupanya yang sama dengan pensil-pensil lainnya.
“Oh iya,
Penn. Tadi kau bilang kau bisa mengabulkan permintaan-permintaan. Aku punya
satu permintaan, apa kau bisa mengabulkannya?”
“Tentu
saja, Pedro. Tubuhku sudah diprogram untuk membantu orang-orang yang ada
disekitarku. Katakan saja permintaanmu.”
“Begini
Penn. Aku sama sekali tidak ingat rupa kedua orang tuaku. Aku hanya ingat
hidupku berawal di jalanan, sebagai anak jalanan. Tanpa orang tua, hanya
bermodalkan gitar. Aku merasa tidak memiliki orang tua. Namun, Bu Merry berkata
kalau semua orang pasti memiliki orang tua. Hanya ada satu memori yang bisa aku
ingat, yaitu ketika ada seorang perempuan menggendongku di depan rumah yang
habis terbakar. Aku tidak yakin apakah perempuan itu ibuku. Aku benar-benar
penasaran Penn. Apa kau bisa membantuku?”
“Astaga,
kurasa itu sangat menyedihkan. Beruntunglah kamu masih memiliki sedikit memori.
Dengan itu, aku bisa membawamu ke masa lalu dengan mesin waktu. Kita bisa pergi
besok malam. Sekarang saatnya kamu tidur. Selamat malam Pedro. Semoga mimpimu
indah.”
Pedro
berterima kasih kepada Penn dan kemudian tersenyum bahagia. Ia bisa tidur
nyenyak malam ini, mempersiapkan esok malam yang sepertinya akan menjadi malam
yang sangat indah. Ia juga sempat menyusun rencana untuk esok malam. Betapa
antusiasnya Pedro menyambut hari esok.
***
Keesokan
harinya, Pedro menghindar bertemu dengan Bu Merry. Ia takut jika Penn
dikembalikan dan rencana besarnya itu gagal begitu saja. Di sisi lain, Bu Merry
sibuk mencari Pedro. Ia takut dengan kondisi Penn, benda kesayangan ayahnya
hilang. Pedro tak bisa ditemukan hari itu. Bu Merry menitipkan kertas untuk
Pedro kepada salah satu temannya.
Setelah
pulang sekolah, Pedro menerima surat dari Bu Merry dan kemudian membacanya
sebelum melaksanakan kerja bakti.
Halo Pedro.
Ibu tahu kamu sudah mengetahui kegunaan Penn. Hanya
satu permintaan Ibu, besok pagi tolong kembalikan Penn kepada Ibu. Kau juga
pasti sudah mengetahui pencipta Penn, kan? Ya, dia adalah ayahku. Jadi kumohon
tolong kembalikan pensil itu sebelum Ayahku memarahiku. Kau boleh menggunakan
kehebatan Pedro, tapi ingat, gunakanlah untuk hal-hal yang bermanfaat. Pedro
adalah anak laki-laki yang baik. Pedro tahu mana yang baik dan mana yang tidak.
Salam
Bu Merry
Bu Merry
Pedro
membaca kertas itu berulang kali. Tenang saja Bu Merry, aku akan menjaga
Penn sebaik mungkin, ujar
Pedro dalam hati. Ia yakin bahwa keputusannya untuk memanfaatkan Penn bukan
keputusan yang salah. Ia tak akan dimarahi Bu Merry atas keputusannya kali ini.
Pedro tak sabar menanti malam tiba. Beberapa saat lagi ia akan melihat wajah
kedua orang tuanya.
***
Jam tua
di asrama Pedro telah menunjukkan pukul sepuluh, sudah beberapa waktu yang lalu
setelah lampu kamar Pedro dimatikan. Pedro bahkan telah berbincang-bincang
dengan Penn mengenai rencana kali ini.
“Pedro,
bagaimanapun nanti kondisinya, berjanjilah padaku bahwa kau akan tetap menjadi
Pedro yang ceria. Tidak ada hal apapun yang bisa membuatmu bersedih.
Berjanjilah.”
“Penn,
mana mungkin aku bersedih saat melihat wajah kedua orang tuaku. Itu impian
terbesarku, Penn. Malah aku yakin aku akan lebih baik dari hari ini.”
Penn
tertawa sejenak. Ia hanya mengantisipasi kejadian-kejadian buruk yang mungkin
saja terjadi. Pedro sudah sangat siap, begitu pula dengan Penn. Penn menyuruh
Pedro untuk meletakkannya di dalam kotak yang gelap, sehingga pita suaranya
akan selalu berfungsi.
“Pedro,
sekarang lepas penghapus dari tubuhku. Dari rongga itu akan keluar mesin waktu
yang kita butuhkan,” seru Penn.
Pedro
segera melepaskan penghapus pada Penn. Benar saja, Penn bergerak-gerak dan
keluarlah mesin waktu dari tubuhnya. Mesin waktu itu berwarna putih. Bentuknya
besar dan Penn memang didesain untuk menyimpan benda-benda besar di dalam tubuhnya
yang kecil. Tidak berbeda jauh dengan mesin waktu yang ada di film-film
biasanya. Pedro mengikuti instruksi Penn. Ia dengan cepat menekan tombol-tombol
yang diperintahkan oleh Penn.
“Mesin
sudah siap, Pedro. Sekarang, ayo berdiri di atas mesin itu. Jangan lupa untuk
menggunakan sabuk pengaman.”
Mesin
waktu milik Penn terdengar cukup berisik. Untungnya tidak ada satu pun teman
kamar Pedro yang terbangun dengan deru mesin itu.
“Pejamkan
matamu, Pedro. Coba ingatlah kembali memorimu di masa lalu. Kenanglah memori
terbaik sebisamu. Hanya dengan ingatanmu kita bisa bertemu dengan kedua orang
tuamu.”
Pedro
mulai memejamkan mata. Teringat kembali memori masa lalunya. Ia dibawa lari
oleh seorang wanita ketika api hendak menyambar tubuh mungilnya. Meski hanya
sedikit memori yang ia punya, memori itu terasa membekas di dalam ingatannya.
Rasanya semakin lama ia bisa merasakan panas api beberapa tahun silam.
***
Tahun
2003.
“Pedro,
buka matamu. Kita telah sampai di memorimu,” Penn membangunkan Pedro. Pedro
perlahan-lahan membuka matanya. Mereka berada di kamar mandi rumah seseorang.
Kamar mandi itu terasa asing. Mereka berdua memutuskan untuk keluar dari kamar
mandi dan tetap bersembunyi sehingga tidak ada penghuni rumah yang mengetahui keberadaan
mereka.
Di luar,
ada seorang wanita dan bocah laki-laki kecil di meja makan. Wanita itu sedang
menyuapi bocah laki-laki itu. Kulitnya putih, rambutnya terurai dengan
indahnya. Matanya memancarkan indahnya kasih sayang. Tak jauh dari meja, ada
seorang perempuan di dapur yang sedang memasak. Usianya mungkin sudah mencapai
35 tahun. Keadaan di rumah itu sangatlah tentram sampai tiba-tiba terdengar
ledakan dari lantai atas.
DUAR!
Seorang
laki-laki paruh baya melompat dari balkon lantai atas. Ia mengaduh kesakitan.
Ia sepertinya tak bisa berjalan lagi. Keadaan berubah menjadi sangat mencekam. Api
sudah siap menjilat siapa saja yang berada di dekatnya. Wanita itu panik, ia
berusaha membawa bocah laki-laki itu keluar. Pedro pun sangat cemas bahkan ia
perlu menghindar agar tidak terkena api. Ketika wanita itu hendak berlari
keluar, salah satu pintu telah lepas dan menimpa kaki wanita tersebut. Ia
berteriak. Pedro bisa merasakan bagaimana kayu panas menimpa kedua kakinya.
“Aisha!
Pedro!” Laki-laki yang tertahan kesakitan berteriak memanggil nama perempuan
itu dan juga Pedro. Pedro pun tersadar. Laki-laki itu adalah ayahnya dan
perempuan itu adalah ibunya. Bocah kecil yang terlempar dari tangan wanita itu
adalah dirinya. Air mata tidak bisa ia tahan keluar dari kedua matanya. Ia telah
melihat dengan mata kepalanya sendiri, untuk kedua kalinya, bencana yang mematikan
keluarganya.
“Pedro,
kita harus segera keluar menjauh dari rumah ini. Kau bisa saja terbakar dan tak
kembali lagi. Ayo, segera keluar!” Penn memerintahkan Pedro untuk keluar. Pedro
tak bisa melawan Penn. Ia tahu diri, jika ia mati di sini maka ia telah ingkar
janji pada Bu Merry. Penn tak akan pernah kembali.
Pedro
keluar dengan air mata yang masih membanjiri wajahnya. Beruntung, Pedro dan
Penn selamat dari jilatan api-api ganas itu. Di luar rumah, tak ada yang memedulikan
Pedro. Banyak warga yang berupaya menyiram api-api tersebut dengan puluhan
ember. Namun sayang, api tersebut terlalu besar untuk dipadamkan. Tiba-tiba,
dari dalam, keluar wanita yang tadi sedang memasak dengan menggendong Pedro
kecil. Wajah wanita itu hitam terkena abu pada kebakaran itu. Pedro semakin
panik mengetahui ayah dan ibunya belum bisa keluar dari rumah mereka. Pedro tak
mungkin masuk kembali ke rumah dan menyelamatkan mereka karena bagaimana pun
takdir telah terjadi. Masa lalu tak bisa diubah lagi.
Pedro
melihat dari kejauhan kondisi Pedro kecil. Tubuhnya sangat lemah. Rambutnya
berantakan. Pedro kecil menangis pilu. Beberapa saat kemudian, muncul dua mobil
pemadam kebakaran. Dalam waktu 25 menit, api berhasil dipadamkan. Ibu Pedro,
Aisha, sudah terbujur kaku. Tubuhnya penuh luka bakar. Pedro tidak tahan
menerima kenyataan bahwa mayat yang berada di dekatnya adalah ibunya. Ibunya
yang selama ini tak pernah ia temui. Bahkan ia belum sempat berucap sepatah
kata pun kepadanya. Pedro menangis tergugu di bawah pohon rumah kecil di
seberang jalan. Ayah Pedro ternyata masih bisa keluar dari rumah itu dengan
sadarkan diri. Tubuhnya sudah tak bisa banyak bergerak. Sudah terlalu banyak
luka bakar di tubuhnya. Pedro segera menghampiri ayah tercintanya.
“Ayah! Aku
Pedro, Yah. Aku datang dari masa depan. Aku ingin bertemu dengan Ayah dan ibu.”
Ayah
Pedro, Tom namanya, sudah terlalu lemah untuk banyak bertanya. Sinar matanya
redup. Hanya beberapa kata yang sempat ia lontarkan. “Anakku, lanjutkanlah
terus kehidupanmu. Ingatlah, seberapa pun jarak ibu dan ayah darimu, pastikan
kami selalu ada di hatimu, Pedro.” Ayah Pedro telah menghembuskan nafas
terakhirnya. Pedro tak kuasa lagi. Ia tidak tahan dengan semua kepiluan yang
terjadi dalam satu malam.
Pedro
sangat ingin mengetahui detail mengenai masa lalunya. Ia lantas teringat dengan
perempuan yang membawa keluar Pedro kecil dari rumah yang penuh mara bahaya
itu. Ia berlari menghampiri perempuan itu dengan harapan perempuan itu bisa
menjelaskan hal-hal mengenai Pedro.
Dengan
mata yang membengkak dan suara yang terputus-putus, Pedro menyapa perempuan
muda itu. “Maaf Nona, namaku Pedro. Aku datang dari masa depan. Aku Pedro yang kau
gendong saat ini. Aku sangat penasaran mengenai asal usulku. Makanya aku datang
ke masa lampau. Tolong bantu aku menjelaskan masa laluku.”
Perempuan
itu mengernyitkan dahi. Ia bahkan awalnya memarahi Pedro karena mengira situasi
duka ini dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang bermaksud jahat. Namun, setelah Perdo
menjelaskan dan menunjukkan tanda lahir di tengkuknya sebagai bukti penguat,
perempuan itu tersadar bahwa anak laki-laki di hadapannya ini benar-benar Pedro
sembilan tahun kemudian.
Perempuan
itu adalah Nancy. Beliau adalah asisten rumah tangga di rumah lama Pedro. Nancy
mengetahui banyak cerita tentang majikannya. Aisha, ibu Pedro, adalah seorang
keturunan Islam yang mengungsi di Perancis. Frans adalah keturunan protestan
yang juga memang keturunan Perancis. Ketika mereka berdua akan menikah, seluruh
keluarga Frans menentang keras. Keluarga Frans bahkan mengancam tidak akan
menganggapnya sebagai anggota keluarga jika ia tetap memutuskan untuk tetap
menikah dengan Aisha. Aisha malah hanya hidup sebatang kara di Perancis. Ia
termasuk salah satu yang masih bertahan dari pemberontakan di Iran.
Cinta
mereka berdua begitu besar. Mereka akhirnya memutuskan untuk menikah meski tak
ada satu keluarga pun yang merestui. Bahkan mereka masih tetap pada iman mereka
masing-masing. Aisha tetap seorang muslimah dan Frans tetap penganut protestan
yang taat.
“Kebakaran
di rumah ini sangat tidak terduga. Maafkan aku Pedro. Aku tak tahu harus ke mana
aku menyerahkan dirimu. Aku tak punya cukup uang untuk bisa menghidupimu. Maaf
jika karena aku, engkau menjadi tak terurus.” Pedro terdiam, ia menyelami kata
demi kata yang dilontarkan Nancy. “Satu lagi, Pedro. Ada satu pesan ibumu
sebelum ia meninggal. Ingatlah, seberapa pun jarak ibu dan ayah darimu,
pastikan kami selalu ada di hatimu, Pedro,” ungkap Nancy.
Pedro
termenung. Memori-memori lain kembali bermunculan. Di bawah pohon Oak di ujung
jalan dekat rumahnyalah mereka bertiga banyak menghabiskan waktu. Dua hari
sudah ia terdiam di bawah pohon Oak. Dua hari pula Penn mengajak Pedro untuk kembali
ke tahun 2015, namun mana bisa Pedro mendengar dengan pikiran yang terfokus
pada kedua orang tuanya?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar