Selasa, 29 Maret 2016

Cerprn_Balada Hidup Pedro


Oleh Nabila Puspita Dewi
“However big the whale may be, the tiny harpoon can rob him of life.”



Pedro berlari ketika mendengar dentuman keras pada lonceng asramanya. Ia lagi-lagi bangun terlalu siang. Kebiasaannya masih sama sejak menjadi pengamen jalanan dulu, tak tepat waktu dan  tak akan membuka matanya sebelum matahari terbit. Padahal kurang lebih 5 bulan sudah ia tinggal di sekolah berasrama Beddingfield bersama puluhan anak jalanan lainnya yang dibawa oleh petugas negara agar mendapatkan pendidikan yang layak. Peraturan mengenai penertiban anak jalanan di Perancis memang semakin digalakkan sejak pergantian perdana menteri. Jangankan membawa buku, mandi pun tidak dilakukannya. Masa bodoh dengan omelan guru-gurunya. Sudah bagus aku mau sekolah di sini, pikirnya.
Pedro memasuki kelasnya dengan langkah gontai. Kelas berukuran 4x4 meter untuk 50 anak yang ‘terpaksa’ belajar menjadi tempat belajarnya hari itu. Papan tulis hitam hasil hibah sekolah elite di ibu kota terlihat yang paling mencolok di antara meja dan kursi yang seadanya. “Alfred, berapa tahun tak kau ganti bajumu itu? Baunya bagai selokan tempat tinggalku dulu. Hahahahahaha,” ejek beberapa anak sebelum salah satu dari mereka terkena tinju Alfred. Kelas mendadak lengang. Wajah anak itu merah padam. Pedro tetap tak peduli, hanya sesekali sibuk mencoba memukul nyamuk yang lewat di depan wajahnya.


Adalah Bu Merry, mahasiswa tingkat tiga yang secara sukarela menjadi staff pengajar di sekolah ini. Usianya memang belia, namun beliau  nyaman dengan sapaan ‘Ibu’. Matanya bulat kecoklatan, kulitnya putih langsat. Terlihat sekali banyak biaya yang telah dikeluarkan demi menjaga kecantikannya. Kali ini, beliau menggunakan kaos pendek, dengan rok bunga selutut. Cantik sekali Bu Merry hari ini hingga anak-anak pun terhipnotis. Bu Merry mengajarkan banyak hal, mulai dari mata pelajaran tingkat sekolah dasar sampai kerajinan tangan. Tiga hari yang lalu, beliau  mengajarkan cara membuat omelet. Seminggu yang lalu, beliau mengajarkan anak-anak cara bermain pianika. Kali ini, beliau ingin mengajar mengenai matematika. Ilmu yang terkadang menyenangkan, terkadang juga menyebalkan.
“Selamat pagi anak-anak,” Bu Merry menyapa murid-muridnya yang tadinya sibuk dengan urusan masing-masing.
“Pasti kalian sudah mengetahui angka-angka, kan? Kalian juga mungkin telah mengenal bagaimana pertambahan dan pengurangan. Ibu akan mengulas sedikit mengenai pertambahan dan pengurangan,” ujar Bu Merry dengan wajah yang ceria.
Satu dua mengangguk, entah karena sudah mengerti atau memang pura-pura mengerti. Setelah menjelaskan konsepnya, Bu Merry meminta anak-anak untuk menghitung jumlah uang yang mereka dan tiga teman lainnya dapatkan ketika mengamen atau meminta-minta di jalan beberapa bulan yang lalu. Semuanya antusias mencari tahu berapa uang yang teman-temannya dapatkan dahulu, kecuali Pedro. Hari ini ia sangat tak bersemangat. Tak ada satu benda pun yang dia bawa ke dalam kelas. Bu Merry menyadari ketidakantusiasan Pedro.
“Ada apa Pedro?”
Pedro hanya menatap Bu Merry, lalu menggeleng dan kembali menendang-nendang meja.
“Bukumu tertinggal Pedro? Ibu punya kertas. Ini, ambil saja. Sana bergabung dengan teman-temanmu yang lain.”
Bu Merry memberikan selembar kertas dari buku catatannya dan sebuah pensil berwarna biru. Dari penampakannya, pensil tersebut terlihat seperti pensil kayu pada umumnya. Pada ujungnya terdapat penghapus berwarna merah. Pedro akhirnya bergerak menuju kerumunan anak-anak yang sedang ribut bertanya. Bu Merry hanya tersenyum melihat tingkah anak didiknya dari kejauhan.
Sepulang dari sekolah, anak-anak tersebut harus kembali ke asrama. Biasanya diadakan kerja bakti, namun hari ini kerja bakti ditiadakan karena hujan turun dengan begitu derasnya. Pedro satu kamar dengan empat belas anak lainnya. Di dalam kamar sederhana itu, kasur lipat disusun dengan rapi. Pedro meletakkan benda yang dia bawa dari sekolah di meja sebelah kasurnya, termasuk pensil dari Bu Merry yang belum sempat ia kembalikan. Kasur Pedro terletak di sudut dinding, paling ujung. Tempat itu menjadi tempat pilihannya. Dingin, dekat dengan dinding, begitu katanya.
Pedro termasuk salah satu di antara anak-anak yang ceria. Ia gemar memainkan gitar kecilnya untuk teman-teman kamarnya. Maklum saja, dia adalah pengamen jalanan. Ia juga gemar membuat teman-temannya tertawa. Banyak sekali lelucon-lelucon yang ia lontarkan. Namun, di dalam lubuk hatinya ia menyimpan kesedihan mendalam. Ia tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya. Siapa wanita mulia yang telah melahirkannya? Siapa sosok ayah yang saat ini seharusnya melindungi dirinya di dalam rumah mereka? pertanyaan-pertanyaan itu tak jarang memenuhi kepalanya. Namun, hidupnya harus tetap berjalan sebagaimana mestinya. Pedro memutuskan untuk tidur ketika pertanyaan-pertanyaan itu menggelayuti otaknya seperti siang ini. Lagipula suasana juga mendukung, dingin, pikirnya.
Matanya sudah terpejam, meski dirinya belum benar-benar terlelap. Saat itu juga lampu di kamarnya tiba-tiba saja mati. Keadaan menjadi sangat gelap karena meskipun siang, hujan di luar sangatlah lebat. Hal itu sering terjadi, maklum saja, wilayah tempat gedung ini dibangun sering kekurangan listrik. Presiden yang baru kurang perhatian, menyebalkan, umpat Pedro. Pedro tak terganggu, ia memutuskan untuk melanjutkan tidur siangnya.
Tuk...tuk…, di sela-sela bunyi-bunyian rintik hujan terdengar suara ketukan tak lebih dari lima menit setelah Pedro memutuskan untuk melanjutkan istirahatnya. Pedro bangun dan tersentak kesakitan karena ternyata bunyi-bunyian itu berasal dari pensil Bu Merry yang memukul halus dahi Pedro. Ia kaget bukan main ketika mengetahui pensil Bu Merry bisa berjalan sendiri bahkan memukul dahinya. Pedro menggenggam pensil tersebut sambil takut-takut berusaha menghentikannya.
“Hai, namaku Penn. Senang bertemu denganmu. Oh iya, sepertinya aku sedang tidak berada di rumah Tuan Groove. Bisa kau beri tahu di mana aku sekarang?”
Pedro terkejut bukan main mengetahui pensil dari guru cantiknya itu bisa berbicara. Ia melemparkan pensil itu jauh-jauh dari dirinya. Namun, Penn sangat lincah. Ia bisa dengan cepat kembali ke dekat Pedro.
“Ada apa? Apa kamu tidak menyukaiku? Oh iya, satu hal, aku tidak memiliki saraf seperti kau, Nona Merry, ataupun Tuan Groove. Sesering apapun engkau melemparkanku, aku tak akan merasa sakit. Bahkan jika aku patah, tubuhku mudah beregenerasi,” Penn berujar kembali.
Pedro yang tak punya pilihan lain akhirnya menjawab dengan patah-patah, “Namaku Pedro. Aku sama sekali tak bermaksud melukaimu. Maaf, aku hanya kaget.”
“Tidak apa-apa. Salam kenal Pedro. Semoga kita bisa menjadi teman yang baik. Sebenarnya aku ber…” perkataan Penn berhenti seiring dengan lampu kamarnya yang menyala. Pedro lagi-lagi kaget. Bukan main anehnya pensil tersebut. Selang sedetik saja, pensil itu seperti tak bernyawa. Pedro meremas pensil itu, memukul-mukulkan pensil itu ke lantai hanya untuk mengecek keberadaan sesosok bernama Penn  itu. Hasilnya sama, pensil itu terlihat sama seperti pensil-pensil pada umumnya.
Pedro tak bisa melanjutkan prosesi tidur siangnya. Bahkan di sore hari, ketika banyak anak-anak yang bermain bola di tanah basah, ia hanya termenung di pinggir lapangan dan terus mengantongi pensil itu. Ia tak habis pikir bagaimana bisa pensil itu berbicara dan diam dalam  jangka waktu yang sangat sebentar. Ketika makan malam, pikirannya tak lepas dari pensil itu. Jangan-jangan Penn hanya halusinasiku saja, pikirnya. Bahkan sampai sebelum tidur, Penn tak muncul kembali. Pedro pun meyakinkan dirinya bahwa Penn hanya halusinasi belaka.
Lampu kamar telah dimatikan. Pedro sudah bersiap untuk tidur. Namun, suara Penn hadir lagi.
“Selamat malam Pedro. Senang bertemu denganmu lagi.”
Pedro hampir berteriak sebelum ia menyadari bahwa teman-temannya sudah terlelap. “Penn, apa kau benar-benar nyata?”
“Ya, akulah Penn. Tuan Groove menyukaiku karena aku bisa mengabulkan banyak permintaan. Pedro, terima kasih telah menjadi teman baruku. Sebagai hadiahnya, apa kau memiliki permintaan? Aku bisa mengabulkan permintaan-permintaanmu,” jawab Penn.
“Penn, mengapa kau hanya muncul di saat-saat tertentu? Kau benar-benar mengagetkanku.”
“Ya, Aku hanya ada ketika tak ada sumber cahaya di dekatku. Bukan berarti kekuatanku melemah. Aku bisa mengetahui apa yang terjadi di sekitarku. Pita suaraku tidak berfungsi ketika aku berada di dekat sumber cahaya.”
Mereka berdua saling bercakap-cakap tanpa mempedulikan malam yang terus bergulir. Ternyata Bu Merry adalah anak dari seorang ilmuwan ternama di negeri ini. Ya, beliau adalah Tuan Groove. Penn adalah salah satu dari penemuannya yang tidak dipublikasikan. Entah bagaimana pensil itu bisa Bu Merry pinjamkan secara cuma-cuma kepada Pedro. Mungkin karena rupanya yang sama dengan pensil-pensil lainnya.
“Oh iya, Penn. Tadi kau bilang kau bisa mengabulkan permintaan-permintaan. Aku punya satu permintaan, apa kau bisa mengabulkannya?”
“Tentu saja, Pedro. Tubuhku sudah diprogram untuk membantu orang-orang yang ada disekitarku. Katakan saja permintaanmu.”
“Begini Penn. Aku sama sekali tidak ingat rupa kedua orang tuaku. Aku hanya ingat hidupku berawal di jalanan, sebagai anak jalanan. Tanpa orang tua, hanya bermodalkan gitar. Aku merasa tidak memiliki orang tua. Namun, Bu Merry berkata kalau semua orang pasti memiliki orang tua. Hanya ada satu memori yang bisa aku ingat, yaitu ketika ada seorang perempuan menggendongku di depan rumah yang habis terbakar. Aku tidak yakin apakah perempuan itu ibuku. Aku benar-benar penasaran Penn. Apa kau bisa membantuku?”
“Astaga, kurasa itu sangat menyedihkan. Beruntunglah kamu masih memiliki sedikit memori. Dengan itu, aku bisa membawamu ke masa lalu dengan mesin waktu. Kita bisa pergi besok malam. Sekarang saatnya kamu tidur. Selamat malam Pedro. Semoga mimpimu indah.”
Pedro berterima kasih kepada Penn dan kemudian tersenyum bahagia. Ia bisa tidur nyenyak malam ini, mempersiapkan esok malam yang sepertinya akan menjadi malam yang sangat indah. Ia juga sempat menyusun rencana untuk esok malam. Betapa antusiasnya Pedro menyambut hari esok.
***
Keesokan harinya, Pedro menghindar bertemu dengan Bu Merry. Ia takut jika Penn dikembalikan dan rencana besarnya itu gagal begitu saja. Di sisi lain, Bu Merry sibuk mencari Pedro. Ia takut dengan kondisi Penn, benda kesayangan ayahnya hilang. Pedro tak bisa ditemukan hari itu. Bu Merry menitipkan kertas untuk Pedro kepada salah satu temannya.
Setelah pulang sekolah, Pedro menerima surat dari Bu Merry dan kemudian membacanya sebelum melaksanakan kerja bakti.
Halo Pedro.
Ibu tahu kamu sudah mengetahui kegunaan Penn. Hanya satu permintaan Ibu, besok pagi tolong kembalikan Penn kepada Ibu. Kau juga pasti sudah mengetahui pencipta Penn, kan? Ya, dia adalah ayahku. Jadi kumohon tolong kembalikan pensil itu sebelum Ayahku memarahiku. Kau boleh menggunakan kehebatan Pedro, tapi ingat, gunakanlah untuk hal-hal yang bermanfaat. Pedro adalah anak laki-laki yang baik. Pedro tahu mana yang baik dan mana yang tidak.
Salam
Bu Merry
Pedro membaca kertas itu berulang kali. Tenang saja Bu Merry, aku akan menjaga Penn sebaik mungkin, ujar Pedro dalam hati. Ia yakin bahwa keputusannya untuk memanfaatkan Penn bukan keputusan yang salah. Ia tak akan dimarahi Bu Merry atas keputusannya kali ini. Pedro tak sabar menanti malam tiba. Beberapa saat lagi ia akan melihat wajah kedua orang tuanya.
***
Jam tua di asrama Pedro telah menunjukkan pukul sepuluh, sudah beberapa waktu yang lalu setelah lampu kamar Pedro dimatikan. Pedro bahkan telah berbincang-bincang dengan Penn mengenai rencana kali ini.
“Pedro, bagaimanapun nanti kondisinya, berjanjilah padaku bahwa kau akan tetap menjadi Pedro yang ceria. Tidak ada hal apapun yang bisa membuatmu bersedih. Berjanjilah.”
“Penn, mana mungkin aku bersedih saat melihat wajah kedua orang tuaku. Itu impian terbesarku, Penn. Malah aku yakin aku akan lebih baik dari hari ini.”
Penn tertawa sejenak. Ia hanya mengantisipasi kejadian-kejadian buruk yang mungkin saja terjadi. Pedro sudah sangat siap, begitu pula dengan Penn. Penn menyuruh Pedro untuk meletakkannya di dalam kotak yang gelap, sehingga pita suaranya akan selalu berfungsi.
“Pedro, sekarang lepas penghapus dari tubuhku. Dari rongga itu akan keluar mesin waktu yang kita butuhkan,” seru Penn.
Pedro segera melepaskan penghapus pada Penn. Benar saja, Penn bergerak-gerak dan keluarlah mesin waktu dari tubuhnya. Mesin waktu itu berwarna putih. Bentuknya besar dan Penn memang didesain untuk menyimpan benda-benda besar di dalam tubuhnya yang kecil. Tidak berbeda jauh dengan mesin waktu yang ada di film-film biasanya. Pedro mengikuti instruksi Penn. Ia dengan cepat menekan tombol-tombol yang diperintahkan oleh Penn.
“Mesin sudah siap, Pedro. Sekarang, ayo berdiri di atas mesin itu. Jangan lupa untuk menggunakan sabuk pengaman.”
Mesin waktu milik Penn terdengar cukup berisik. Untungnya tidak ada satu pun teman kamar Pedro yang terbangun dengan deru mesin itu.
“Pejamkan matamu, Pedro. Coba ingatlah kembali memorimu di masa lalu. Kenanglah memori terbaik sebisamu. Hanya dengan ingatanmu kita bisa bertemu dengan kedua orang tuamu.”
Pedro mulai memejamkan mata. Teringat kembali memori masa lalunya. Ia dibawa lari oleh seorang wanita ketika api hendak menyambar tubuh mungilnya. Meski hanya sedikit memori yang ia punya, memori itu terasa membekas di dalam ingatannya. Rasanya semakin lama ia bisa merasakan panas api beberapa tahun silam.
***
Tahun 2003.
“Pedro, buka matamu. Kita telah sampai di memorimu,” Penn membangunkan Pedro. Pedro perlahan-lahan membuka matanya. Mereka berada di kamar mandi rumah seseorang. Kamar mandi itu terasa asing. Mereka berdua memutuskan untuk keluar dari kamar mandi dan tetap bersembunyi sehingga tidak ada penghuni rumah yang mengetahui keberadaan mereka.
Di luar, ada seorang wanita dan bocah laki-laki kecil di meja makan. Wanita itu sedang menyuapi bocah laki-laki itu. Kulitnya putih, rambutnya terurai dengan indahnya. Matanya memancarkan indahnya kasih sayang. Tak jauh dari meja, ada seorang perempuan di dapur yang sedang memasak. Usianya mungkin sudah mencapai 35 tahun. Keadaan di rumah itu sangatlah tentram sampai tiba-tiba terdengar ledakan dari lantai atas.
DUAR!
Seorang laki-laki paruh baya melompat dari balkon lantai atas. Ia mengaduh kesakitan. Ia sepertinya tak bisa berjalan lagi. Keadaan berubah menjadi sangat mencekam. Api sudah siap menjilat siapa saja yang berada di dekatnya. Wanita itu panik, ia berusaha membawa bocah laki-laki itu keluar. Pedro pun sangat cemas bahkan ia perlu menghindar agar tidak terkena api. Ketika wanita itu hendak berlari keluar, salah satu pintu telah lepas dan menimpa kaki wanita tersebut. Ia berteriak. Pedro bisa merasakan bagaimana kayu panas menimpa kedua kakinya.
“Aisha! Pedro!” Laki-laki yang tertahan kesakitan berteriak memanggil nama perempuan itu dan juga Pedro. Pedro pun tersadar. Laki-laki itu adalah ayahnya dan perempuan itu adalah ibunya. Bocah kecil yang terlempar dari tangan wanita itu adalah dirinya. Air mata tidak bisa ia tahan keluar dari kedua matanya. Ia telah melihat dengan mata kepalanya sendiri, untuk kedua kalinya, bencana yang mematikan keluarganya.
“Pedro, kita harus segera keluar menjauh dari rumah ini. Kau bisa saja terbakar dan tak kembali lagi. Ayo, segera keluar!” Penn memerintahkan Pedro untuk keluar. Pedro tak bisa melawan Penn. Ia tahu diri, jika ia mati di sini maka ia telah ingkar janji pada Bu Merry. Penn tak akan pernah kembali.
Pedro keluar dengan air mata yang masih membanjiri wajahnya. Beruntung, Pedro dan Penn selamat dari jilatan api-api ganas itu. Di luar rumah, tak ada yang memedulikan Pedro. Banyak warga yang berupaya menyiram api-api tersebut dengan puluhan ember. Namun sayang, api tersebut terlalu besar untuk dipadamkan. Tiba-tiba, dari dalam, keluar wanita yang tadi sedang memasak dengan menggendong Pedro kecil. Wajah wanita itu hitam terkena abu pada kebakaran itu. Pedro semakin panik mengetahui ayah dan ibunya belum bisa keluar dari rumah mereka. Pedro tak mungkin masuk kembali ke rumah dan menyelamatkan mereka karena bagaimana pun takdir telah terjadi. Masa lalu tak bisa diubah lagi.
Pedro melihat dari kejauhan kondisi Pedro kecil. Tubuhnya sangat lemah. Rambutnya berantakan. Pedro kecil menangis pilu. Beberapa saat kemudian, muncul dua mobil pemadam kebakaran. Dalam waktu 25 menit, api berhasil dipadamkan. Ibu Pedro, Aisha, sudah terbujur kaku. Tubuhnya penuh luka bakar. Pedro tidak tahan menerima kenyataan bahwa mayat yang berada di dekatnya adalah ibunya. Ibunya yang selama ini tak pernah ia temui. Bahkan ia belum sempat berucap sepatah kata pun kepadanya. Pedro menangis tergugu di bawah pohon rumah kecil di seberang jalan. Ayah Pedro ternyata masih bisa keluar dari rumah itu dengan sadarkan diri. Tubuhnya sudah tak bisa banyak bergerak. Sudah terlalu banyak luka bakar di tubuhnya. Pedro segera menghampiri ayah tercintanya.
“Ayah! Aku Pedro, Yah. Aku datang dari masa depan. Aku ingin bertemu dengan Ayah dan ibu.”
Ayah Pedro, Tom namanya, sudah terlalu lemah untuk banyak bertanya. Sinar matanya redup. Hanya beberapa kata yang sempat ia lontarkan. “Anakku, lanjutkanlah terus kehidupanmu. Ingatlah, seberapa pun jarak ibu dan ayah darimu, pastikan kami selalu ada di hatimu, Pedro.” Ayah Pedro telah menghembuskan nafas terakhirnya. Pedro tak kuasa lagi. Ia tidak tahan dengan semua kepiluan yang terjadi dalam satu malam.
Pedro sangat ingin mengetahui detail mengenai masa lalunya. Ia lantas teringat dengan perempuan yang membawa keluar Pedro kecil dari rumah yang penuh mara bahaya itu. Ia berlari menghampiri perempuan itu dengan harapan perempuan itu bisa menjelaskan hal-hal mengenai Pedro.
Dengan mata yang membengkak dan suara yang terputus-putus, Pedro menyapa perempuan muda itu. “Maaf Nona, namaku Pedro. Aku datang dari masa depan. Aku Pedro yang kau gendong saat ini. Aku sangat penasaran mengenai asal usulku. Makanya aku datang ke masa lampau. Tolong bantu aku menjelaskan masa laluku.”
Perempuan itu mengernyitkan dahi. Ia bahkan awalnya memarahi Pedro karena mengira situasi duka ini dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang bermaksud jahat. Namun, setelah Perdo menjelaskan dan menunjukkan tanda lahir di tengkuknya sebagai bukti penguat, perempuan itu tersadar bahwa anak laki-laki di hadapannya ini benar-benar Pedro sembilan tahun kemudian.
Perempuan itu adalah Nancy. Beliau adalah asisten rumah tangga di rumah lama Pedro. Nancy mengetahui banyak cerita tentang majikannya. Aisha, ibu Pedro, adalah seorang keturunan Islam yang mengungsi di Perancis. Frans adalah keturunan protestan yang juga memang keturunan Perancis. Ketika mereka berdua akan menikah, seluruh keluarga Frans menentang keras. Keluarga Frans bahkan mengancam tidak akan menganggapnya sebagai anggota keluarga jika ia tetap memutuskan untuk tetap menikah dengan Aisha. Aisha malah hanya hidup sebatang kara di Perancis. Ia termasuk salah satu yang masih bertahan dari pemberontakan di Iran.
Cinta mereka berdua begitu besar. Mereka akhirnya memutuskan untuk menikah meski tak ada satu keluarga pun yang merestui. Bahkan mereka masih tetap pada iman mereka masing-masing. Aisha tetap seorang muslimah dan Frans tetap penganut protestan yang taat.
“Kebakaran di rumah ini sangat tidak terduga. Maafkan aku Pedro. Aku tak tahu harus ke mana aku menyerahkan dirimu. Aku tak punya cukup uang untuk bisa menghidupimu. Maaf jika karena aku, engkau menjadi tak terurus.” Pedro terdiam, ia menyelami kata demi kata yang dilontarkan Nancy. “Satu lagi, Pedro. Ada satu pesan ibumu sebelum ia meninggal. Ingatlah, seberapa pun jarak ibu dan ayah darimu, pastikan kami selalu ada di hatimu, Pedro,” ungkap Nancy.

Pedro termenung. Memori-memori lain kembali bermunculan. Di bawah pohon Oak di ujung jalan dekat rumahnyalah mereka bertiga banyak menghabiskan waktu. Dua hari sudah ia terdiam di bawah pohon Oak. Dua hari pula Penn mengajak Pedro untuk kembali ke tahun 2015, namun mana bisa Pedro mendengar dengan pikiran yang terfokus pada kedua orang tuanya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar