Apofasis
Apofasis merupakan jenis
gaya bahasa yang oleh Keraf disebut juga dengan istilah preterisio. Jenis gaya bahasa ini digunakan oleh pembicara atau
penulis untuk menegaskan sesuatu, tetapi tampaknya penulis menyangkalnya.
Penulis seolah-olah mebiarkan sesuatu
berlalu, akan tetapi sesungguhnya menekankannya. Penulis berpura-pura
melindungi atau menyembunyikan sesuatu, akan tetapi sesungguhnya penulis
tersebut memamerkannya. Misalnya, Saya
tidak mau mengungkapkan dalam forum ini bahwa Saudara telah mengelapkan ratusan
juta rupiah uang negara. Dalam contoh tersebut yang tampak bahwa ia tidak mau mengungkapkan, tetapi
sesungguhnya ia malah mengungkapkannya di depan forum.
Oleh Lanham, apofasis (apophasis) dijelaskan sebagai
sebagai 1) nagito dan 2) expeditio. Nagito, maksudnya adalah berpura-pura
menyangkal, tapi sebenarnya malah ingin menegaskan. Dikatakan bahwa apofasis
(nagito) merupakan sejenis ironi atau occultatio.
Sementara ekpedisio (expeditio)
dikatakan sebagai bentuk penolakan
terhadap semua alternatif, kecuali satu.[1]
Misalnya Tak ada yang dapat menenangkan
jiwa, tidak dengan kekayaaan yang melimpah, tidak dengan makanan yan serba ada,
tidak juga dengan kendaraan serta rumah yang mewah, kecuali hanya dengan zikir
mengingat kebesaran Tuhan.
[1]Richard A. Lanham, A Handlist of Rhetorical Terms, Second Edition, (California: University of California Press, 1991), h. 19 dan h. 75
Tidak ada komentar:
Posting Komentar