Selasa, 15 Maret 2016

The Harvest of Seasons

The Harvest of Seasons


“Awal perubahan manusia, pertanian dan permukiman pertama, perang.”
Pendahuluan

“The Harvest of Seasons” merupakan episode kedua dari tulisan Bronowski setelah “Lower than the Angel” dalam bukunya —The Ascent of Man (1973)—, yang pada mulanya adalah serial televisi yang diproduksi oleh BBC dan time-life films yang terdiri dari 13 episode dan disiarkan pada tahun 1973. Pada episode kedua ini menceritakan munculnya peradaban manusia melalui pertanian yang meliputi awal manusia migrasi, pertanian dan permukiman pertama, dan juga perang. 


The largest single step in the ascent of man is the change from nomad to village agriculture.”(Bronowsky, 1973: 64). Pada kalimat tersebut Bronowski mengartikulasikan bahwa salah satu peradaban terbesar yang ada di dunia ini adalah perubahan dari bangsa nomaden yang sering berpindah-pindah tempat menjadi bangsa yang mengembangkan sektor pertanian. Bronowsky memfokuskan pada transisi nenek moyang dengan gaya hidupnya yang nomaden yang sudah terjadi beberapa puluh ribu tahun yang lalu hingga kemudian meninggalkannya dan bekerja di bumi, mengolah tanah dan memelihara binatang
Bangsa Nomaden atau bangsa pengembara, adalah berbagai komunitas masyarakat yang memilih hidup berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lain di padang pasir atau daerah bermusim dingin, daripada menetap di suatu tempat. Masyarakat yang berpindah-pindah tempat tetapi bukan di padang pasir atau daerah bermusim dingin, disebut sebagai kaum gipsi. Banyak kebudayaan dahulunya secara tradisional hidup nomaden, akan tetapi kebiasaan tradisional nomaden tersebut semakin lama semakin berkurang di negara-negara yang telah mengalami industrialisasi.
Terdapat tiga macam kehidupan nomaden, yaitu sebagai pemburu-peramu (hunter-gatherers), penggembala (pastoral nomads), dan pengelana (peripatetic nomads). Berburu-meramu adalah metode bertahan hidup yang paling lama bertahan dalam sejarah manusia, dan para pelakunya berpindah mengikuti musim tumbuhan liar dan hewan buruan. Para penggembala memelihara ternak dan berpindah ke tempat lain bersama piaraannya, agar tidak membuat suatu ladang penggembalaan habis dan tidak bisa diperbaiki lagi. Kaum pengelana umumnya banyak terdapat di negara-negara yang telah mengalami industrialisasi, dan para pelakunya berpindah-pindah tempat untuk menawarkan barang dagangan di mana saja mereka singgah.
Dalam makalah ini akan memaparkan mengenai: Tahapan evolusi manusia yang meliputi evolusi biologis dan budaya, Berakhirnya zaman Es serta dampaknya, Revolusi pertanian dan sosial, Suku Bakhtiari (pengembara dari Persia), Revolusi pertanian di jericho, dan penyerbuan Yoshua ke Jericho.

    1.    Fase Evolusi Manusia

Bronowski menggambarkan ada dua fase evolusi pada manusia yaitu fase evolusi biologis dan evolusi budaya. Evolusi biologis menggambarkan bahwa sejarah manusia itu sangatlah unik. Evolusi biologis menunjukkan adanya hal-hal yang membedakan manusia dari nenek moyangnya yaitu “kera”. Fase evolusi biologis manusia lebih cepat dibandingkan hewan. Manusia membutuhkan 2 juta tahun untuk berubah dari ciptaan yang kecil dan hitam dengan batu ditangan, Australopithecus, di Afrika untuk menjadi Homo Sapiens. Kemudian Homo Sapiens membutuhkan 20.000 tahun untuk menjadi manusia sekarang ini.
Yang kedua yaitu evolusi budaya. Didalam kehidupan manusia beberapa juta tahun lalu, didalamnya pastilah mengandung sejarah kebudayaan/suatu peradaban panjang yang lama-kelamaan berubah dari kehidupan manusia masa kini, contohnya berburu. Seperti kebudayaan berburu yang dilakukan oleh orang-orang di Afrika dan kebudayaan mengumpulkan makanan (food gatherer) yang dilakukan oleh orang-orang di Australia. Evolusi budaya dipicu oleh kemampuan manusia secara alami yaitu imajinasi dan pengalaman. Pada fase ini dapat dikatakan sebagai fase evolusi budaya manusia.
Evolusi budaya erat kaitannya dengan evolusi biologis. Walaupun evolusi biologis dari manusia jauh lebih cepat daripada hewan lainnya, namun tetap saja membutuhkan waktu kurang lebih dua puluh ribu tahun agar Homo Sapiens berevolusi menjadi diri kita saat ini. Begitu juga evolusi budaya senantiasa terintegrasi hingga akhirnya menjadi manusia masa kini yang telah meninggalkan beberapa budaya pra sejarah, salah satunya berburu. Oleh karena itu evolusi manusi secara biologis tidak dapat dipisahkan dengan evolusi manusia secara budaya.
Setelah fase biologis dan budaya, ada fase yang tak kalah penting yaitu fase tinggal landas. 20.000 tahun yang lalu manusia dari bagian dunia telah mencapai tahap sebagai pengumpul makanan dan pemburu, pada masa ini manusia telah yang memiliki teknik-teknik yang tinggi untuk memperoleh hasil buruan. Kemudian 10.000 tahun yang lalu telah terjadi perubahan peradaban, dan manusia telah memulai untuk menempatkan ternak (berternak) dan menanam beberapa tanaman. Hal ini menjadi luar biasa karena hanya dalam akhir 12.000 tahun manusia telah mencapai peradabannya, yaitu tinggal landas, dimana terjadi peristiwa/peradaban yang luar biasa setelah zaman Es berakhir. 
Manusia datang dengan perjuangannya yg luar biasa, mereka berkeliling dari Afrika lebih dari jutaan tahun dan berjuang melawan Zaman Es, yang kemudian mendapatkan sebuah daratan yang penuh dengan tumbuhan dan hewan disekitarnya. Kondisi inilah yang memicu peradaban baru dalam kehidupan manusia yaitu terjadinya revolusi pertanian dan sosial.


   1.    Revolusi Pertanian dan Sosial

Adanya Revolusi Pertanian dikarenakan manusia mulai mendominasi lingkungan dalam keseluruhan aspek-aspek terpenting yaitu tidak hanya pada tingkat fisik, tapi juga pada tingkat menetapnya sesuatu, berupa binatang dan tumbuhan. Revolusi pertanian ini pula yang memicu adanya Revolusi Sosial yang kuat. Adanya revolusi pertanian dan sosial menunjukkan adanya peradaban baru dari manusia. Antropologis mencatat bahwa hasil peradaban adalah sebuah keputusan.
Titik balik terhadap penyebaran pertanian dapat dilihat dari dua bentuk gandum dengan bentuk yang besar dan penuh kepala biji. Sebelum delapan ribu tahun sebelum Masehi, gandum bukanlah tanaman mewah seperti sekarang ini, melainkan hanya salah satu dari banyak rumput liar menyebar ke seluruh Timur Tengah. Dengan beberapa persilangan genetik, gandum liar disilangkan dengan rumput-rumput yang hidup di alam liar dan membentuk subur sebuah tanaman hibrida. Persilangan itu sudah pasti terjadi berkali-kali dalam vegetasi yang kemudian bermunculan setelah zaman Es berakhir. Dalam dari segi mesin genetik yang mengarahkan pertumbuhan itu menggabungkan empat belas kromosom gandum liar dengan empat belas kromosom rumput liar dan diproduksi oleh Emmer dengan dua puluh depalapn kromosom. Itulah yang membuat begitu banyak Emmer menjadi gemuk.
Tanaman hibrida ini mampu menyebar secara alami, karena biji yang melekat pada kulit dengan sedemikian rupa sehingga mereka tersebarnya angin. Untuk seperti tanaman hibrida yang akan tumbuh subur jarang terjadi tetapi tidak memungkinkan untuk tumbuh secara unik di antara tanaman lainnya. Tapi sekarang cerita tentang kehidupan tanaman yang senantiasa mengikuti jaman Es ini menjadi lebih mengejutkan. Ada persilangan genetik kedua, yang mungkin terjadi karena Emmer sudah dibudidayakan. Emmer disilangkan dengan rumput liar lainnya dan menghasilkan tanaman hibrida yang lebih besar dengan empat puluh dua kromosom, yang bisa digunakan untuk membuat roti gandum. Tetapi itu tidak mungkin cukup untuk dirinya sendiri dan kita dapat mengetahui sekarang bahwa tidak akan bahan untuk roti gandum telah subur tetapi untuk mutasi genetik tertentu pada satu kromosom.
Namun ada sesuatu yang lebih aneh. Sekarang kita memiliki gandum dengan bentuk yang indah. Tidak akan ditemukan lagi gandum yang pertama kali muncul pada saat zaman es berakhir. Perbedaan antara gandum liar atau dari tumbuhan hibrida yaitu bersifat primitif contohnya Emmer. Penyebaran biji-bijian secara alami oleh angin. Hingga apada suatu waktu gandum liar ini mulai kehilangan kemampuannya dalam melakukan pertumbuhan. Tiba-tiba manusia dan tanaman telah datang secara bersama-sama. Manusia dengan membawa sebuah gandum bahwa ia hidup dari gandum tersebut, tetapi gandum juga berpikir bahwa manusia dibuat untuk dirinya karena gandum dapat diperbanyak. Untuk sebuah roti gandum hanya bisa dibuat dengan banyaknya gandum, sehingga para pria harus menanam dan menyebarkan bibit gandum dari kehidupan mereka masing-masing. Mannusia bergantung pada tanaman, dan tanaman bergantung pada manusia. Ini adalah dongeng sejati sebuah genetika, seolah-olah kedatangan peradaban telah diberkati di muka bumi ini.
Terjadinya peristiwa alam dan adanya manusia secara bersamaan menciptakan sebuah pertanian. Hal ini terjadi secara mandiri dan alami di beberapa tempat di Timur Tengah hingga kemudian menyebar ke seluruh dunia. Suku Jerikho telah mengawali sebelum pertanian, tetapi suku Jerikho adalah simbol dari awal revolusi pertanian. Tidak seperti desa di tempat lainnya yang sering melupakan pertanian, disini hal seperti ini adalah sebuah hal yang penting (monumental). Kota kuno di Jerikho adalah sebuah oasis di tepi gurun pasir pada musim semi yang telah berjalan dari kota prasejarah menuju kota modern seperti sekarang ini.

 Adanya gandum dan air yang datang secara bersamaan memiliki arti bahwa di sinilah manusia akan mulai peradaban. Di sini juga para perantau datang dan memandang iri dengan cara hidup baru di daerah yang sedang mereka singgahi ini (Jericho). Itulah sebabnya Yosua membawa suku Israel dalam perjalanan mereka ke Tanah Perjanjian – karena gandum dan air akan membuat mereka pada sebuah  peradaban. Mereka membuat janji tanah yang mengalir dengan susu dan madu. Gandum dan air telah merubah bukit tandus menjadi lahan pertanian yang subur dan menjadikannya kota pertanian tertua di dunia.

     1.    Bakhtiari, pengembara dari Persia

Adanya revolusi pertanian dan sosial menunjukkan adanya peradaban baru dari manusia. Namun teryata ada juga sebagian kelompok manusia yang tidak terpengaruh oleh revolusi ini, hal ini yang terjadi pada suku bakhtiari dari Persia.  Revolusi ini tidak menghentikan nomaden dan menjadi penduduk tetap. Nama Bakhtiari berasal dari penggembala legendaris yang berasal dari Mongol bernama Bakhtyar.

Peran perempuan pada suku bakhtiari ini sangat sulit untuk di definisikan. Terutama fungsi dari perempuan disini adalah untuk melahirkan anak-anak laki-laki, terlalu banyak anak perempuan akan menyebabkan ketidakberuntungan karena mereka tidak bisa berlari kencang apabila terjadi sebuah bencana. Selain itu, pekerjaan mereka adalah menyiapkan makanan dan pakaian. Contohnya, wanita yang ada di komunitas Bakhtiari memanggang roti – tertulis dalam Alkitab yaitu membuat roti diatas tungku panas. Tetapi para wanita harus menunggu untuk menikmati makanannya hingga para pria selesai makan. Para lelaki, mereka hidup di kawanan para wanita. Mereka mengambil susu dari gembalanya masing-masing dan membuat yogurt dari susu yang telah diasamkan, menggunakan kulit kambing sebagai bingkai kayu primitif. Mereka hanya mengerti satu teknologi mudah yang selalu mereka bawa pada saat berkelana dari satu tempat ke tempat lainnya karema mereka mulai menggunakannya pada saat sore hari dan bersiap-siap untuk pergi di pagi harinya.
Hal ini membuat para pengembara tidak mungkin membuat sesuatu yang tidak mereka butuhkan selama beberapa minggu ke depan dan mereka tidak akan membawanya. Dan faktanya, Bakhtiari tidak mengerti caranya. Jika mereka membutuhkan alat-alat yang terbuat dari metal, mereka melakukan tukar-menukar barang (barter) dari orang-orang suku gipsy yang bekerja di spesialis metal. Paku, sanggurdi, mainan atau bel kecil adalah barang-barang yang terbuat dari luar perkumpulan tersebut. Suku Bakhtiari hidup dengan ruang sempit dari waktu dan kemampuan dalam menciptakan sesuatu. Mereka tidak mempunyai ruangan untuk membuat sebuah inovasi, karena mereka tidak bergantung pada waktu, hidup mereka berpindah-pindah dari sore hingga pagi hari, datang pergi dalam hidup mereka, menerima hal baru dan cara berpikir yang baru – bukan mendapatkan waktu yang baru. Salah satu kebiasaan saat bertahan hidup telah menjadi kebiasaan lama mereka.
Antropologis mencatat bahwa hasil peradaban adalah sebuah keputusan. Beberapa suku yang nomaden seperti Bakhtiari yang tetap pergi melalui perjalanan yang sangat banyak, dari satu tempat pengembalaan ke tempat pengembalaan yang lain, dari hal ini terlihat bahwa peradaban tidak akan pernah tumbuh dalam perpindahan, karena setiap sesuatu yang terjadi dalam kehidupan nomaden adalah tidak tercatat (immemorial).
Kehidupan Bakhtiari terlalu sempit untuk kehidupan yang lama, tanpa kemampuan spesialisasi, tanpa ruang untuk berinovasi, sebab mereka tidak memiliki waktu pada saat mereka berpindah antara malam dan pagi, datang dan pergi sepanjang hidup mereka untuk membangun suatu alat baru atau suatu pemikiran yang baru. Kebiasaan lama yang merupakan kebiasaan Bakhtiari adalah hanya kebiasaan untuk mempertahankan hidup. Hal tersebut merupakan kehidupan tanpa gambaran yang jelas.
Para nomaden tidak memiliki memori, bahkan sampai mereka mati. Kuburan yang ada hanya mereka bangun sebagai penanda jalan. Dibalik itu semua pada akhir perjalanan tidak ada sesuatu yang diharapkan kecuali berhenti secara tradisional.

   1.    Revolusi Pertanian di Jericho

Langkah tunggal yang terbesar dalam tingkatan manusia adalah perubahan dari nomaden menuju pada desa pertanian. Apa yang membuat hal ini mungkin? Hal yang membuat mungkin adalah tindakan manusia dan tindakan dari alam. Dalam revolusi pertanian akhir Zaman Es, satu cangkokan gandum muncul di Timur Tengah. Hal ini terjadi dibanyak tempat. Salah satu jenisnya terdapat di Jeriho.
Jerikho adalah sebuah pertanian tua. Orang-orang yang pertama kali datang ke sini dan membuka lahan untuk memanen gandum, tetapi mereka belum tahu cara menanamnya. Ini terbukti dari alat yang ditemukan oleh John Garstang pada tahun 1930s yang berupa sabit dari batu api, tepi sabit dibuat dari sepotong tanduk rusa, atau tulang. Akhirnya, gandum liar menjadi sesuatu mata pencaharian mereka untuk dipanen.
Jerikho adalah mikrokosmos dari sejarah. Di sini orang datang untuk memahami dan membentuk lingkungan hidup mereka, datang untuk mengubah dunia untuk memenuhi kebutuhan mereka. Pada tahun 6000 sebelum masehi kota Jerikho adalah sebuah pemukiman pertanian yang besar. Isinya tiga ribu orang, dan mencakup delapan hektar ladang di dalam tembok. Para wanita menanam gandum dengan peralatan dari batu berat yang mencirikan sebuah masyarakat yang menetap. Para pria membentuk, menepuk dan mencetak tanah liat untuk membuat batu bata, yaitu batu bata yang pertama dikenal oleh masyarakat.
Pertanian dan peternakan tampak seperti mata pencarian sederhana, namun seperti perkembangan sabit merupakan sinyal yang menunjukkan kepada kita bahwa mereka tidak diam. Setiap tahap dalam domestikasi tumbuhan dan hewan membutuhkan sebuah penemuan. Tumpah ruah mereka dari artefak kecil dan halus adalah sebagai bukti bahwa mereka cerdas, seperti halnya tentang fisika nuklir: jarum, penusuk, pot, anglo, sekop, dan sekrup, bellow, tali, simpul, alat tenun, harness, hook, tombol, sepatu – bisa beratus-ratus nama yang lainnya. Kekayaan itu berasal dari interaksi penemuan dan budaya merupakan hasil dari ide-ide, di mana setiap penemuan dapat mempercepat terciptanya perangkat baru.
Penemuan paling kuat di bidang pertanian semua, tentu saja, bajak. Kami berpikir bahwa bajak sebagai alat untuk membagi tanah. Bajak ini merupakan penemuan awal yang penting. Namun ada juga sesuatu yang jauh lebih mendasar dari bajak yaitu sebuah tuas yang berfungsi untuk mengangkat tanah, dan itu adalah salah satu aplikasi pertama dari prinsip tuas. Tak lama kemudian, Archimedes menjelaskan teori tuas ke Yunani, ia mengatakan bahwa dengan titik tumpu tuas bisa bergerak ke dalam bumi jika kita bisa mengaplikasikannya. Tapi ribuan tahun sebelum itu bahwa Timur Tengah telah berkata, ‘Beri aku tuas dan saya akan memakan bumi’.
Pertanian ditemukan lagi kemudian di daerah  Amerika. Tetapi bajak dan roda tidak ditemukan disana, karena mereka bergantung pada hewan ternak. Langkah luar pertanian sederhana di Timur Tengah adalah domestikasi ternak hewan.
Roda ditemukan untuk pertama kali sebelum 3000 sebelum Masehi di daerah Rusia Selatan. Penemuan awal yang terkenal yaitu roda kayu dilampirkan ke rakit tua atau kereta luncur untuk menarik beban, dan kemudian bentuknya diubah menjadi gerobak. Sejak itu roda dan gandar menjadi akar ganda dari mana penemuan itu tumbuh. Sebagai contoh, roda berubah fungsi menjadi alat untuk grinding gandum – dan alat ini menggunakan kekuatan alam untuk melakukannya, dengan kumpulan binatang yang pertama, dan kemudian kekuatan angin dan air. Roda menjadi model bagi semua gerakan rotasi, sebuah norma penjelasan dan simbol surgawi lebih dari tenaga manusia, ilmu pengetahuan dan seni.



    2.    Penyerbuan  ke Jericho
Adanya revolusi pertanian di Jericho membuat banyak orang iri, sehingga mereka mendatangi Jericho dan membentenginya, mengubahnya menjadi sebuah kota bertembok, dan membangun menara luar biasa pada saat sembilan ribu tahun yang lalu. Menara ini tiga puluh kaki melintasi di dasar dan hampir tiga puluh kaki menurun ke dalam. Pada saat ini juga diketahui tentang peradaban masa lalu : pra-tembikar awal manusia, pra-tembikar manusia berikutnya, kedatangan gerabah pada tujuh ribu tahun yang lalu  yang merupakan awal tembaga, awal perunggu, dan tengah perunggu. Masing-masing peradaban datang untuk menaklukkan Jerikho, lalu menguburkan, dan dibangun sendiri peradaban mereka di atasnya.
Pada sekitar 1400 SM Yosua menyerbu Jerikho, para insinyur mekanis Sumeria dan Asyur berbalik dari roda ke katrol untuk menimba air. Pada saat yang sama mereka merancang sistem irigasi skala besar. Pemeliharaan yang lurus masih bertahan seperti di daratan Iran. Mereka turun tiga ratus meter ke kanal bawah tanah yang membentuk sistem pengairan, pada tingkat mana air alami aman dari penguapan. Tiga ribu tahun setelah sistem pengairan tersebut dibuat, para wanita desa di Khuzistan masih mengambil air mereka dari qanats untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Qanats adalah konstruksi akhir dari sebuah peradaban kota dan mereka menyiratkan adanya saat itu hukum untuk mengatur hak air dan penguasaan tanah dan hubungan sosial lainnya. Dalam masyarakat pertanian, aturan hukum memiliki karakter yang berbeda dengan hukum yang berlaku pada masa dulu sebagai pengembara. Sekarang struktur sosial terikat dengan peraturan yang mempengaruhi masyarakat secara keseluruhan : akses ke lahan, biaya pemeliharaan dan kontrol terhadap hak atas air, hak untuk menggunakan air, maka panen dari hasil pertaniannya tergantung dari musim.

    3.    Peran Binatang dalam Revolusi Pertanian

Pemanfaatan binatang dalam kehidupan manusia terjadi dalam tahapan berurutan. Binatang pertama yang dimanfaatkan manusia adalah anjing, sekitar 1000 SM. Kemudian datanglah binatang yang dapat dimakan, diawali dengan kambing dan domba. Selanjutnya muncullah onager, sebangsa keledai liar, sebagai binatang penarik yang mengawali pemanfaatan keledai dan sapi.
Sepanjang binantang-binatang ini dapat mengikuti perintah manusia, sebagai pelayan pertanian, maka manusia dapat menyimpan hasil panen lebih banyak daripada yang mereka konsumsi. Bahkan karena mereka telah menyumbang surplus makanan bagi manusia, dalam Old Testamen disebutkan bahwa dilarang untuk mempergunakan sapi dan keledai membajak secara bersamaan. Itu disebabkan karena mereka memiliki cara yang berbeda-beda. Pada intinya adalah manusia harus memperlakukan binatang-binatang ini sebaik-baiknya. Barulah kurang lebih 5000 tahun yang lalu muncullah kuda. Yaitu binatang penarik yang lebih kuat dan lebih cepat dari binatang penarik sebelumnya.
Dan sekitar 2000 SM manusia menemukan cara untuk menaiki kuda. Kaum nomadenlah yang pertama kali menernakkan kuda. Mereka adalah orang-orang dari Asia Tengah, Persia, Afganistan yang di barat mereka disebut Scythian, yang menjadi fenomena alam yang menakutkan. Kenapa? Karena para penunggang kuda ini begitu gagah, dengan kepala terangkat dan badan yang tegap, seakan-akan mengendarai kuda jadi melebihi sosok manusia sebenarnya. Menunggang kuda adalah simbol dominansi dari semua mahluk. Bahkan orang-orang Yunani melihat Scythian seperti bersatu dengan kudanya. Imajinasi yang begitu kuat tentang kuda inilah yang kemudian menciptakan situasi perang sebagai kegiatan kaum nomad. Adalah Jengis Khan, pemimpin kaum nomaden dari Mongol yang kemudian menjadi momok yang mengancam lumbung pertanian kaum menetap. Kaum nomaden iri dan ingin merampas hasil panen untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Inilah yang mulanya menciptakan situasi perang dalam kehidupan manusia. Tetapi perang bukanlah insting manusia. Perang berawal dari keinginan untuk merampas benda milik orang lain yang terencana.


Kesimpulan

            Seperti yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya bahwa hal paling membedakan manusia dari binatang adalah ‘Art and science’ (seni dan pengetahuan). Hal itu pulalah yang menjadi alasan mengapa evolusi budaya pada manusia terjadi ratusan kali lebih cepat daripada evolusi biologisnya.
            The Harvest of The Seasons (Panen Musim-musim) menunjukkan perubahan dramatis yang merupakan langkah terbesar dari peningkatan sejarah kehidupan manusia, yang ditandai dengan perubahan menetapnya kaum nomaden menuju desa pertanian. Ini terjadi karena ada tindakan kemauan (an act of will) dari manusia, dan tindakan alam yang penuh rahasia (secret act of nature).
            Dari desa pertanian ini muncullah Revolusi Pertanian yang pada akhirnya semakin memperkuat dominasi manusia, tidak hanya secara fisik, melainkan pada aspek-aspek penting dalam kehidupan dan melahirkan Revolusi Sosial. Revolusi Sosial inilah yang merupakan cikal-bakal terbentuknya sistem desa dan perkotaan, selain  mulai bermunculan pula masalah sosial, seperti pencurian


Tidak ada komentar:

Posting Komentar