The Harvest of Seasons
“Awal perubahan manusia,
pertanian dan permukiman pertama, perang.”
Pendahuluan
“The Harvest of Seasons” merupakan episode kedua dari tulisan Bronowski setelah “Lower than the Angel” dalam bukunya —The Ascent of Man (1973)—, yang pada
mulanya adalah serial televisi yang diproduksi oleh BBC dan time-life films
yang terdiri dari 13 episode dan disiarkan pada tahun 1973. Pada episode kedua
ini menceritakan munculnya peradaban manusia melalui pertanian yang meliputi
awal manusia migrasi,
pertanian dan permukiman pertama, dan juga perang.
The largest single step in the ascent of man is the
change from nomad to village agriculture.”(Bronowsky, 1973:
64). Pada kalimat tersebut Bronowski mengartikulasikan bahwa salah satu peradaban
terbesar yang ada di dunia ini adalah perubahan dari bangsa nomaden yang sering
berpindah-pindah tempat menjadi bangsa yang mengembangkan sektor pertanian.
Bronowsky memfokuskan pada transisi nenek moyang dengan gaya hidupnya yang nomaden yang sudah terjadi
beberapa puluh ribu tahun yang lalu hingga kemudian meninggalkannya
dan bekerja di bumi, mengolah tanah
dan memelihara binatang
Bangsa Nomaden atau bangsa pengembara, adalah
berbagai komunitas masyarakat yang memilih hidup berpindah-pindah dari suatu
tempat ke tempat lain di padang pasir atau daerah bermusim dingin, daripada
menetap di suatu tempat. Masyarakat yang berpindah-pindah tempat tetapi bukan
di padang pasir atau daerah bermusim dingin, disebut sebagai kaum gipsi. Banyak kebudayaan dahulunya secara
tradisional hidup nomaden, akan tetapi kebiasaan tradisional nomaden tersebut
semakin lama semakin berkurang di negara-negara yang telah mengalami
industrialisasi.
Terdapat tiga macam
kehidupan nomaden, yaitu sebagai pemburu-peramu (hunter-gatherers),
penggembala (pastoral nomads),
dan pengelana (peripatetic
nomads). Berburu-meramu adalah metode bertahan hidup yang paling lama
bertahan dalam sejarah manusia, dan para pelakunya berpindah mengikuti musim
tumbuhan liar dan hewan buruan. Para penggembala memelihara ternak dan
berpindah ke tempat lain bersama piaraannya, agar tidak membuat suatu ladang
penggembalaan habis dan tidak bisa diperbaiki lagi. Kaum pengelana umumnya
banyak terdapat di negara-negara yang telah mengalami industrialisasi, dan para pelakunya berpindah-pindah
tempat untuk menawarkan barang dagangan di mana saja mereka singgah.
Dalam makalah ini
akan memaparkan mengenai: Tahapan evolusi manusia yang meliputi evolusi
biologis dan budaya, Berakhirnya
zaman Es serta dampaknya, Revolusi pertanian
dan sosial, Suku Bakhtiari (pengembara dari
Persia), Revolusi pertanian di jericho, dan
penyerbuan Yoshua ke Jericho.
1. Fase Evolusi Manusia
Bronowski
menggambarkan ada dua fase evolusi pada manusia yaitu fase evolusi biologis dan
evolusi budaya. Evolusi biologis menggambarkan bahwa sejarah manusia itu sangatlah
unik. Evolusi biologis menunjukkan adanya hal-hal yang membedakan manusia dari
nenek moyangnya yaitu “kera”. Fase evolusi biologis manusia lebih cepat
dibandingkan hewan. Manusia membutuhkan 2 juta tahun untuk berubah dari ciptaan
yang kecil dan hitam dengan batu ditangan, Australopithecus, di Afrika
untuk menjadi Homo Sapiens. Kemudian Homo
Sapiens membutuhkan 20.000 tahun untuk menjadi manusia sekarang ini.
Yang kedua yaitu evolusi budaya. Didalam
kehidupan manusia beberapa juta tahun lalu, didalamnya pastilah mengandung
sejarah kebudayaan/suatu peradaban panjang yang lama-kelamaan berubah dari
kehidupan manusia masa kini, contohnya berburu. Seperti kebudayaan berburu yang
dilakukan oleh orang-orang di Afrika dan kebudayaan mengumpulkan makanan (food
gatherer) yang dilakukan oleh orang-orang di Australia. Evolusi budaya dipicu
oleh kemampuan manusia secara alami yaitu imajinasi dan pengalaman. Pada fase
ini dapat dikatakan sebagai fase evolusi budaya manusia.
Evolusi budaya erat kaitannya
dengan evolusi biologis. Walaupun evolusi biologis dari manusia jauh lebih cepat
daripada hewan lainnya, namun tetap saja membutuhkan waktu kurang lebih dua
puluh ribu tahun agar Homo Sapiens berevolusi menjadi diri kita saat ini.
Begitu juga evolusi budaya senantiasa terintegrasi hingga akhirnya menjadi
manusia masa kini yang telah meninggalkan beberapa budaya pra sejarah, salah
satunya berburu. Oleh karena itu evolusi manusi secara biologis tidak dapat
dipisahkan dengan evolusi manusia secara budaya.
Setelah fase biologis dan budaya,
ada fase yang tak kalah penting yaitu fase tinggal landas. 20.000 tahun yang
lalu manusia dari bagian dunia telah mencapai tahap sebagai pengumpul makanan
dan pemburu, pada masa ini manusia telah yang memiliki teknik-teknik yang
tinggi untuk memperoleh hasil buruan. Kemudian 10.000 tahun yang lalu telah
terjadi perubahan peradaban, dan manusia telah memulai untuk menempatkan ternak
(berternak) dan menanam beberapa tanaman. Hal ini menjadi luar biasa karena
hanya dalam akhir 12.000 tahun manusia telah mencapai peradabannya, yaitu
tinggal landas, dimana terjadi peristiwa/peradaban yang luar biasa setelah
zaman Es berakhir.
Manusia datang dengan
perjuangannya yg luar biasa, mereka berkeliling dari Afrika lebih dari jutaan
tahun dan berjuang melawan Zaman Es, yang kemudian mendapatkan sebuah daratan
yang penuh dengan tumbuhan dan hewan disekitarnya. Kondisi inilah yang memicu
peradaban baru dalam kehidupan manusia yaitu terjadinya revolusi pertanian dan
sosial.
1. Revolusi Pertanian dan Sosial
Adanya Revolusi Pertanian
dikarenakan manusia mulai mendominasi lingkungan dalam keseluruhan aspek-aspek
terpenting yaitu tidak hanya pada tingkat fisik, tapi juga pada tingkat
menetapnya sesuatu, berupa binatang dan tumbuhan. Revolusi pertanian ini pula
yang memicu adanya Revolusi Sosial yang kuat. Adanya revolusi pertanian dan
sosial menunjukkan adanya peradaban baru dari manusia. Antropologis mencatat
bahwa hasil peradaban adalah sebuah keputusan.
Titik balik terhadap penyebaran
pertanian dapat dilihat dari dua bentuk gandum dengan bentuk yang besar dan
penuh kepala biji. Sebelum delapan ribu tahun sebelum Masehi, gandum bukanlah
tanaman mewah seperti sekarang ini, melainkan hanya salah satu dari banyak
rumput liar menyebar ke seluruh Timur Tengah. Dengan beberapa persilangan
genetik, gandum liar disilangkan dengan rumput-rumput yang hidup di alam liar
dan membentuk subur sebuah tanaman hibrida. Persilangan itu sudah pasti terjadi
berkali-kali dalam vegetasi yang kemudian bermunculan setelah zaman Es
berakhir. Dalam dari segi mesin genetik yang mengarahkan pertumbuhan itu
menggabungkan empat belas kromosom gandum liar dengan empat belas kromosom
rumput liar dan diproduksi oleh Emmer dengan dua puluh depalapn kromosom.
Itulah yang membuat begitu banyak Emmer menjadi gemuk.
Tanaman hibrida ini mampu
menyebar secara alami, karena biji yang melekat pada kulit dengan sedemikian
rupa sehingga mereka tersebarnya angin. Untuk seperti tanaman hibrida yang akan
tumbuh subur jarang terjadi tetapi tidak memungkinkan untuk tumbuh secara unik
di antara tanaman lainnya. Tapi sekarang cerita tentang kehidupan tanaman yang
senantiasa mengikuti jaman Es ini menjadi lebih mengejutkan. Ada persilangan
genetik kedua, yang mungkin terjadi karena Emmer sudah dibudidayakan. Emmer
disilangkan dengan rumput liar lainnya dan menghasilkan tanaman hibrida yang
lebih besar dengan empat puluh dua kromosom, yang bisa digunakan untuk membuat
roti gandum. Tetapi itu tidak mungkin cukup untuk dirinya sendiri dan kita
dapat mengetahui sekarang bahwa tidak akan bahan untuk roti gandum telah subur
tetapi untuk mutasi genetik tertentu pada satu kromosom.
Namun ada sesuatu yang lebih
aneh. Sekarang kita memiliki gandum dengan bentuk yang indah. Tidak akan
ditemukan lagi gandum yang pertama kali muncul pada saat zaman es berakhir.
Perbedaan antara gandum liar atau dari tumbuhan hibrida yaitu bersifat primitif
contohnya Emmer. Penyebaran biji-bijian secara alami oleh angin. Hingga apada
suatu waktu gandum liar ini mulai kehilangan kemampuannya dalam melakukan
pertumbuhan. Tiba-tiba manusia dan tanaman telah datang secara bersama-sama.
Manusia dengan membawa sebuah gandum bahwa ia hidup dari gandum tersebut,
tetapi gandum juga berpikir bahwa manusia dibuat untuk dirinya karena gandum
dapat diperbanyak. Untuk sebuah roti gandum hanya bisa dibuat dengan banyaknya
gandum, sehingga para pria harus menanam dan menyebarkan bibit gandum dari
kehidupan mereka masing-masing. Mannusia bergantung pada tanaman, dan tanaman
bergantung pada manusia. Ini adalah dongeng sejati sebuah genetika, seolah-olah
kedatangan peradaban telah diberkati di muka bumi ini.
Terjadinya peristiwa alam dan
adanya manusia secara bersamaan menciptakan sebuah pertanian. Hal ini terjadi
secara mandiri dan alami di beberapa tempat di Timur Tengah hingga kemudian
menyebar ke seluruh dunia. Suku Jerikho telah mengawali sebelum pertanian,
tetapi suku Jerikho adalah simbol dari awal revolusi pertanian. Tidak seperti
desa di tempat lainnya yang sering melupakan pertanian, disini hal seperti ini
adalah sebuah hal yang penting (monumental). Kota kuno di Jerikho adalah sebuah
oasis di tepi gurun pasir pada musim semi yang telah berjalan dari kota
prasejarah menuju kota modern seperti sekarang ini.
1. Bakhtiari, pengembara dari Persia
Adanya revolusi pertanian dan
sosial menunjukkan adanya peradaban baru dari manusia. Namun teryata ada juga
sebagian kelompok manusia yang tidak terpengaruh oleh revolusi ini, hal ini
yang terjadi pada suku bakhtiari dari Persia.
Revolusi ini tidak menghentikan nomaden dan menjadi penduduk tetap. Nama
Bakhtiari berasal dari penggembala legendaris yang berasal dari Mongol bernama
Bakhtyar.
Peran perempuan pada suku
bakhtiari ini sangat sulit untuk di definisikan. Terutama fungsi dari perempuan
disini adalah untuk melahirkan anak-anak laki-laki, terlalu banyak anak
perempuan akan menyebabkan ketidakberuntungan karena mereka tidak bisa berlari
kencang apabila terjadi sebuah bencana. Selain itu, pekerjaan mereka adalah
menyiapkan makanan dan pakaian. Contohnya, wanita yang ada di komunitas
Bakhtiari memanggang roti – tertulis dalam Alkitab yaitu membuat roti diatas
tungku panas. Tetapi para wanita harus menunggu untuk menikmati makanannya
hingga para pria selesai makan. Para lelaki, mereka hidup di kawanan para
wanita. Mereka mengambil susu dari gembalanya masing-masing dan membuat yogurt
dari susu yang telah diasamkan, menggunakan kulit kambing sebagai bingkai kayu
primitif. Mereka hanya mengerti satu teknologi mudah yang selalu mereka bawa
pada saat berkelana dari satu tempat ke tempat lainnya karema mereka mulai
menggunakannya pada saat sore hari dan bersiap-siap untuk pergi di pagi
harinya.
Hal ini membuat para pengembara
tidak mungkin membuat sesuatu yang tidak mereka butuhkan selama beberapa minggu
ke depan dan mereka tidak akan membawanya. Dan faktanya, Bakhtiari tidak
mengerti caranya. Jika mereka membutuhkan alat-alat yang terbuat dari metal,
mereka melakukan tukar-menukar barang (barter) dari orang-orang suku gipsy yang
bekerja di spesialis metal. Paku, sanggurdi, mainan atau bel kecil adalah
barang-barang yang terbuat dari luar perkumpulan tersebut. Suku Bakhtiari hidup
dengan ruang sempit dari waktu dan kemampuan dalam menciptakan sesuatu. Mereka
tidak mempunyai ruangan untuk membuat sebuah inovasi, karena mereka tidak
bergantung pada waktu, hidup mereka berpindah-pindah dari sore hingga pagi
hari, datang pergi dalam hidup mereka, menerima hal baru dan cara berpikir yang
baru – bukan mendapatkan waktu yang baru. Salah satu kebiasaan saat bertahan
hidup telah menjadi kebiasaan lama mereka.
Antropologis mencatat bahwa hasil
peradaban adalah sebuah keputusan. Beberapa suku yang nomaden seperti Bakhtiari
yang tetap pergi melalui perjalanan yang sangat banyak, dari satu tempat
pengembalaan ke tempat pengembalaan yang lain, dari hal ini terlihat bahwa
peradaban tidak akan pernah tumbuh dalam perpindahan, karena setiap sesuatu
yang terjadi dalam kehidupan nomaden adalah tidak tercatat (immemorial).
Kehidupan Bakhtiari terlalu
sempit untuk kehidupan yang lama, tanpa kemampuan spesialisasi, tanpa ruang
untuk berinovasi, sebab mereka tidak memiliki waktu pada saat mereka berpindah
antara malam dan pagi, datang dan pergi sepanjang hidup mereka untuk membangun
suatu alat baru atau suatu pemikiran yang baru. Kebiasaan lama yang merupakan
kebiasaan Bakhtiari adalah hanya kebiasaan untuk mempertahankan hidup. Hal
tersebut merupakan kehidupan tanpa gambaran yang jelas.
Para nomaden tidak memiliki
memori, bahkan sampai mereka mati. Kuburan yang ada hanya mereka bangun sebagai
penanda jalan. Dibalik itu semua pada akhir perjalanan tidak ada sesuatu yang
diharapkan kecuali berhenti secara tradisional.
1. Revolusi Pertanian di Jericho
Langkah tunggal yang terbesar
dalam tingkatan manusia adalah perubahan dari nomaden menuju pada desa
pertanian. Apa yang membuat hal ini mungkin? Hal yang membuat mungkin adalah tindakan
manusia dan tindakan dari alam. Dalam revolusi pertanian akhir Zaman Es, satu
cangkokan gandum muncul di Timur Tengah. Hal ini terjadi dibanyak tempat. Salah
satu jenisnya terdapat di Jeriho.
Jerikho adalah sebuah pertanian
tua. Orang-orang yang pertama kali datang ke sini dan membuka lahan untuk
memanen gandum, tetapi mereka belum tahu cara menanamnya. Ini terbukti dari
alat yang ditemukan oleh John Garstang pada tahun 1930s yang berupa sabit dari batu
api, tepi sabit dibuat dari sepotong tanduk rusa, atau tulang. Akhirnya, gandum
liar menjadi sesuatu mata pencaharian mereka untuk dipanen.
Jerikho adalah mikrokosmos dari
sejarah. Di sini orang datang untuk memahami dan membentuk lingkungan hidup
mereka, datang untuk mengubah dunia untuk memenuhi kebutuhan mereka. Pada tahun
6000 sebelum masehi kota Jerikho adalah sebuah pemukiman pertanian yang besar.
Isinya tiga ribu orang, dan mencakup delapan hektar ladang di dalam tembok.
Para wanita menanam gandum dengan peralatan dari batu berat yang mencirikan
sebuah masyarakat yang menetap. Para pria membentuk, menepuk dan mencetak tanah
liat untuk membuat batu bata, yaitu batu bata yang pertama dikenal oleh
masyarakat.
Pertanian dan peternakan tampak
seperti mata pencarian sederhana, namun seperti perkembangan sabit merupakan
sinyal yang menunjukkan kepada kita bahwa mereka tidak diam. Setiap tahap dalam
domestikasi tumbuhan dan hewan membutuhkan sebuah penemuan. Tumpah ruah mereka
dari artefak kecil dan halus adalah sebagai bukti bahwa mereka cerdas, seperti
halnya tentang fisika nuklir: jarum, penusuk, pot, anglo, sekop, dan sekrup,
bellow, tali, simpul, alat tenun, harness, hook, tombol, sepatu – bisa beratus-ratus
nama yang lainnya. Kekayaan itu berasal dari interaksi penemuan dan budaya
merupakan hasil dari ide-ide, di mana setiap penemuan dapat mempercepat terciptanya
perangkat baru.
Penemuan paling kuat di bidang
pertanian semua, tentu saja, bajak. Kami berpikir bahwa bajak sebagai alat
untuk membagi tanah. Bajak ini merupakan penemuan awal yang penting. Namun ada juga
sesuatu yang jauh lebih mendasar dari bajak yaitu sebuah tuas yang berfungsi
untuk mengangkat tanah, dan itu adalah salah satu aplikasi pertama dari prinsip
tuas. Tak lama kemudian, Archimedes menjelaskan teori tuas ke Yunani, ia
mengatakan bahwa dengan titik tumpu tuas bisa bergerak ke dalam bumi jika kita
bisa mengaplikasikannya. Tapi ribuan tahun sebelum itu bahwa Timur Tengah telah
berkata, ‘Beri aku tuas dan saya akan memakan bumi’.
Pertanian ditemukan lagi kemudian
di daerah Amerika. Tetapi bajak dan roda tidak ditemukan disana, karena
mereka bergantung pada hewan ternak. Langkah luar pertanian sederhana di Timur
Tengah adalah domestikasi ternak hewan.
Roda ditemukan untuk pertama kali
sebelum 3000 sebelum Masehi di daerah Rusia Selatan. Penemuan awal yang
terkenal yaitu roda kayu dilampirkan ke rakit tua atau kereta luncur untuk
menarik beban, dan kemudian bentuknya diubah menjadi gerobak. Sejak itu roda
dan gandar menjadi akar ganda dari mana penemuan itu tumbuh. Sebagai contoh,
roda berubah fungsi menjadi alat untuk grinding gandum – dan alat ini
menggunakan kekuatan alam untuk melakukannya, dengan kumpulan binatang yang
pertama, dan kemudian kekuatan angin dan air. Roda menjadi model bagi semua
gerakan rotasi, sebuah norma penjelasan dan simbol surgawi lebih dari tenaga
manusia, ilmu pengetahuan dan seni.
2. Penyerbuan ke Jericho
Adanya revolusi pertanian di Jericho membuat banyak orang iri, sehingga
mereka mendatangi Jericho dan membentenginya, mengubahnya menjadi sebuah kota
bertembok, dan membangun menara luar biasa pada saat sembilan ribu tahun yang
lalu. Menara ini tiga puluh kaki melintasi di dasar dan hampir tiga puluh kaki
menurun ke dalam. Pada saat ini juga diketahui tentang peradaban masa lalu :
pra-tembikar awal manusia, pra-tembikar manusia berikutnya, kedatangan gerabah
pada tujuh ribu tahun yang lalu yang
merupakan awal tembaga, awal perunggu, dan tengah perunggu. Masing-masing
peradaban datang untuk menaklukkan Jerikho, lalu menguburkan, dan dibangun
sendiri peradaban mereka di atasnya.
Pada sekitar 1400 SM Yosua menyerbu Jerikho, para insinyur mekanis Sumeria
dan Asyur berbalik dari roda ke katrol untuk menimba air. Pada saat yang sama
mereka merancang sistem irigasi skala besar. Pemeliharaan yang lurus masih
bertahan seperti di daratan Iran. Mereka turun tiga ratus meter ke kanal bawah
tanah yang membentuk sistem pengairan, pada tingkat mana air alami aman dari
penguapan. Tiga ribu tahun setelah sistem pengairan tersebut dibuat, para
wanita desa di Khuzistan masih mengambil air mereka dari qanats untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari.
Qanats adalah konstruksi akhir dari sebuah peradaban kota dan mereka
menyiratkan adanya saat itu hukum untuk mengatur hak air dan penguasaan tanah
dan hubungan sosial lainnya. Dalam masyarakat pertanian, aturan hukum memiliki
karakter yang berbeda dengan hukum yang berlaku pada masa dulu sebagai
pengembara. Sekarang struktur sosial terikat dengan peraturan yang mempengaruhi
masyarakat secara keseluruhan : akses ke lahan, biaya pemeliharaan dan kontrol
terhadap hak atas air, hak untuk menggunakan air, maka panen dari hasil
pertaniannya tergantung dari musim.
3. Peran Binatang
dalam Revolusi Pertanian
Pemanfaatan binatang dalam kehidupan manusia terjadi
dalam tahapan berurutan. Binatang pertama yang dimanfaatkan manusia adalah
anjing, sekitar 1000 SM. Kemudian datanglah binatang yang dapat dimakan,
diawali dengan kambing dan domba. Selanjutnya muncullah onager, sebangsa
keledai liar, sebagai binatang penarik yang mengawali pemanfaatan keledai dan
sapi.
Sepanjang binantang-binatang ini dapat mengikuti
perintah manusia, sebagai pelayan pertanian, maka manusia dapat menyimpan hasil
panen lebih banyak daripada yang mereka konsumsi. Bahkan karena mereka telah
menyumbang surplus makanan bagi manusia, dalam Old Testamen disebutkan bahwa
dilarang untuk mempergunakan sapi dan keledai membajak secara bersamaan. Itu
disebabkan karena mereka memiliki cara yang berbeda-beda. Pada intinya adalah
manusia harus memperlakukan binatang-binatang ini sebaik-baiknya. Barulah
kurang lebih 5000 tahun yang lalu muncullah kuda. Yaitu binatang penarik yang
lebih kuat dan lebih cepat dari binatang penarik sebelumnya.
Dan sekitar 2000 SM manusia menemukan cara untuk
menaiki kuda. Kaum nomadenlah yang pertama kali menernakkan kuda. Mereka adalah
orang-orang dari Asia Tengah, Persia, Afganistan yang di barat mereka disebut
Scythian, yang menjadi fenomena alam yang menakutkan. Kenapa? Karena para
penunggang kuda ini begitu gagah, dengan kepala terangkat dan badan yang tegap,
seakan-akan mengendarai kuda jadi melebihi sosok manusia sebenarnya. Menunggang
kuda adalah simbol dominansi dari semua mahluk. Bahkan orang-orang Yunani
melihat Scythian seperti bersatu dengan kudanya. Imajinasi yang begitu kuat
tentang kuda inilah yang kemudian menciptakan situasi perang sebagai kegiatan
kaum nomad. Adalah Jengis Khan, pemimpin kaum nomaden dari Mongol yang kemudian
menjadi momok yang mengancam lumbung pertanian kaum menetap. Kaum nomaden iri
dan ingin merampas hasil panen untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Inilah
yang mulanya menciptakan situasi perang dalam kehidupan manusia. Tetapi perang
bukanlah insting manusia. Perang berawal dari keinginan untuk merampas benda
milik orang lain yang terencana.
Kesimpulan
Seperti
yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya bahwa hal paling membedakan manusia
dari binatang adalah ‘Art and science’
(seni dan pengetahuan). Hal itu pulalah yang menjadi alasan mengapa evolusi
budaya pada manusia terjadi ratusan kali lebih cepat daripada evolusi
biologisnya.
The Harvest of The Seasons (Panen
Musim-musim) menunjukkan perubahan dramatis yang merupakan langkah terbesar dari
peningkatan sejarah kehidupan manusia, yang ditandai dengan perubahan
menetapnya kaum nomaden menuju desa pertanian. Ini terjadi karena ada tindakan
kemauan (an act of will) dari
manusia, dan tindakan alam yang penuh rahasia (secret act of nature).
Dari
desa pertanian ini muncullah Revolusi Pertanian yang pada akhirnya semakin
memperkuat dominasi manusia, tidak hanya secara fisik, melainkan pada
aspek-aspek penting dalam kehidupan dan melahirkan Revolusi Sosial. Revolusi
Sosial inilah yang merupakan cikal-bakal terbentuknya sistem desa dan perkotaan,
selain mulai bermunculan pula masalah
sosial, seperti pencurian.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar