Apostrof
Apostrof (apostrophe) oleh
Harimurti diberi penjelasan sebagai
tanda diakritis untuk menyatakan
penanggalan bunyi atau kata.[1]
Sementara itu, Keraf menjelaskannya sebagai gaya yang berbentuk pengalihan
amanat atau pengalihan sasaran audien dari para hadirin ke sesuatu yang tidak
hadir. Misalnya pembicara dalam suatu kesempatan berpidato di depan massa,
tiba-tiba mengarahkan pembicaraannya langsung kepada seseorang yang sudah meninggal atau kepada
suatu objek hayalan yang abstrak
sehingga seolah-olah ia sedang tidak berbicara dengan hadirin, melainkan dengan
objek hayalan yang ia hadirkan tersebut. Misalnya, Hai kamu semua yang telah menumpahkan darahmu untuk tanah air tercinta
ini berilah agar kami dapat mengenyam keadilan dan kemerdekaan seperti yang
pernah kamu perjuangkan.[2]
Lanham memberikan penjelasan
terhadap apostrof sebagai "turning
away" (memalingkan), “ breaking off a discourse to address some person or
personified thing either present o absent”. [3]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar