Selasa, 15 Maret 2016

Gaya Bahasa Retoris_Apostrof

Apostrof
Apostrof (apostrophe) oleh Harimurti diberi penjelasan sebagai  tanda diakritis untuk  menyatakan penanggalan bunyi atau kata.[1] Sementara itu, Keraf menjelaskannya sebagai gaya yang berbentuk pengalihan amanat atau pengalihan sasaran audien dari para hadirin ke sesuatu yang tidak hadir. Misalnya pembicara dalam suatu kesempatan berpidato di depan massa, tiba-tiba mengarahkan pembicaraannya langsung kepada  seseorang yang sudah meninggal atau kepada suatu objek  hayalan yang abstrak sehingga seolah-olah ia sedang tidak berbicara dengan hadirin, melainkan dengan objek hayalan yang ia hadirkan tersebut. Misalnya, Hai kamu semua yang telah menumpahkan darahmu untuk tanah air tercinta ini berilah agar kami dapat mengenyam keadilan dan kemerdekaan seperti yang pernah kamu perjuangkan.[2]
Lanham memberikan penjelasan terhadap apostrof sebagai  "turning away" (memalingkan), “ breaking off a discourse to address some person or personified thing either present o absent”. [3]



[1] Harimurti Kridalaksana, Kamus Linguistik, Edisi Ketiga ( Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1993). h.16.

[2] Gorys Keraf,  Diksi dan Gaya Bahasa, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka
            Utama, 1991).. h. 131.

[3] Richard A. Lanham, A Handlist of Rhetorical Terms, Second Edition, (California: University of California Press, 1991),. h. 20.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar