Jumat, 26 Februari 2016

KOSA KATA BAHASA INDONESIA


MAKNA KATA

SINONIM

Dua kata ataua lebih yang memilki makna yang sama atau hampir sama.
Contoh: 1. Sama makna:                     sudah – telah
                   sebab – karena
2. hampir sama maknanya: untuk – bagi – buat
                                                                   cinta – kasih – sayang


ANTONIM

Kata-kata yang memiliki makna yang berlawanan.
Contoh:    besar >< kecil
bujang >< gadis
Antonim dibedakan atas tiga, yaitu:
1) Berlawanan kembar (terdapat pada dua unsur saja)
Contoh: pria >< wanita
            jantan >< betina
2) Berlawanan bertingkat (antara dua kata yang berlawanan terdapat tingkatan-tingkatan)
Contoh: tinggi >< rendah
            besar >< kecil (biasanya pada kata sifat)
3) Berlawanan kebalikan (terdapat hubungan timbal balik atau arah yang berlawanan)
Contoh: guru >< murid
                pulang >< pergi
            (biasanya terdapat pada kata benda dan kata kerja)
  HOMONIM
Dua kata atau lebih yang ejaan dan atau lafalnya sama tetapi maknanya beda.
Homonim dibedakan atas tiga macam:
1) Homonim yang homograf (homonim yang ejaannya sama, tetapi berbeda ucapannya)
Contoh: mental (batin, jiwa)
                     mental (terpelanting)
2) Homonim yang homofon (homonim yang ucapannya sama tetapi ejaannya berbeda)
contoh: bank dan bang
                     sangsi (bimbang, ragu-ragu) dan sanksi (hukuman)
3) Homonim yang  homograf dan homofon (homonim yang ejaan maupun ucapannya sama)
contoh: bisa (dapat) dan bisa (racun ular

POLISEMI
Satu kata yang memiliki makna banyak.
contoh:   akar jagung (bagian tumbuhan)
                     akar bilangan (bilangan yang diperoleh dari penguraian pangkatnya)
                     akar kata (inti kata yang menjadi dasar arti dari beberapa kata)
                    HIPONIM
Kata-kata yang tingkatnya ada di bawah kata yang menjadi super ordinatnya atau hipernim.                      
                                                                                           bunga
contoh:                                                  mawar       melati     anggrek     sedap malam
Keterangan : 
                                       bunga merupakan super ordinat; mawar, melati, anggrek, sedap  malam merupakan hiponim dari bunga.
                                   Ta       mbahan : hiponim dari bunga bisa menjadi hipernim atau super ordinat dari    bagiannya yang lebih kecil lagi. contoh: mawar; ada mawar merah, mawar putih, dan lain sebagainya.
 I D I O M
Adalah : ungkapan bahasa berupa gabungan kata (frase) yang maknanya sudah menyatu dan tidak dapat ditafsirkan dengan makna unsur yang membentuknya.
Idiom terbagi menjadi tujuh bagian:
1. Idiom dengan bagian tubuh
contoh:  hati kecil (makna sebenarnya)
    kecil hati (penakut; agak marah)
2. Idiom dengan kata indera
contoh:  dingin hati (tidak semangat)
    perang dingin (perang tanpa senjata)
3. Idiom dengan nama warna
contoh:  merah muka (kemalu-maluan)
    merah telinga (marah sekali)
4. Idiom dengan nama binatang
contoh:  kambing hitam (orang yang dipersalahkan)
    kelas kambing (kelas yang paling murah)
5. Idiom dengan bagian tumbuhan
contoh : pohon kejahatan  (asal mula)
    batang air (sungai)
6. Idiom dengan kata bilangan
contoh : bersatu padu (benar-benar bersatu)
    bersatu hati (seia sekata)
7. Idiom dengan nama benda-benda alam
contoh : makan tanah (miskin sekali)
    kejatuhan bulan (beruntung besar)
 P E R I B A H A S A
Adalah bahasa berkias berupa kalimat atau kelompok kata yang tetap susunannya.
Cakupan peribahasa ada 4 :
1. Pepatah adalah sejenis peribahasa yang berisi nasihat atau ajaran dari orang tua.
contoh :  air tenang menghanyutkan artinya orang diam tapi berilmu banyak
        ikut hati mati, ikut rasa binasa artinya barang siapa menurutkan hawa nafsu tentu akan hancur.
        nasi telah menjadi bubur artinya kesalahan yang terlanjur.
2. Perumpamaan adalah peribahasa yang berisi perbandingan.
Biasanya menggunakan kata-kata; seperti,bak,laksana dll.
contoh :   seperti air diatas daun talas artinya tidak teguh pendirian
        bagai bumi dan langit artinya jauh sekali bedanya
        laksana burung dalam sangkar artinya  terikat oleh keadaan
3. Pemeo adalah peribahasa yang dijadikan semboyan
contoh : patah tumbuh hilang berganti
bersatu kita teguh bercerai kita runtuh
patah sayap bertongkat paruh
4. Majas adalah  bahasa berkias yang dapat menghidupkan atau meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu.
Macam-macam majas :
a. Simile adalah majas yang berupa perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berbeda tapi sengaja dianggap sama.Dinyatakan dengan kata; seperti, bagai, dll.
contoh :       Seperti disengat kalajengking
   Soraknya seperti gunung runtuh
b. Metafora adalah perbandingan yang singkat dan padat, dinyatakan secara implisit dan langsung.
contoh :       Bunga bangsa artinya pemuda
   Ratu dunia artinya surat kabar
c. Personifikasi adalah majas yang menggambarkan benda-benda tak bernyawa seolah-olah memiliki sifat insani.
contoh :       Mengapa piala Thomas rela meninggalkan kita?
   Uang yang tak halal itu telah mencekik lehernya
d. Hiperbola adalah majas yang melebih-lebihkan dari apa yang dimaksud sebenarnya.
contoh :       Tangisnya menyayat-nyayat hati.
   Sorak sorai penonton mengguntur membelah angkasa.
e. Litotes adalah  majas yang mengurangi atau melunakkan atau melemahkan apa yang sebenarnya dimaksud.
contoh :       Hasil tesnya tidak mengecewakan (hasilnya baik)
Silakan makan seadanya. Saya hanya dapat menyediakan nasi, sambal dan air putih.
f. Ironi adalah sindiran halus berupa pernyataan yang maknanya bertentangan dengan makna sebenarnya.
contoh :       Baik sekali kelakuanmu.Adikmu sendiri kaupukuli.
   Masih sore begini sudah pulang. Kan baru pukul dua belas.
Ø  Sinisme adalah ironi yang lebih kasar.
contoh:Muak aku mendengar kata-katamu.
Kamu kan sudah pandai.Ilmu sudah setinggi langit. Jadi, tak perlulah meminta nasihat pada orang tua macam aku ini.
Ø  Sarkasme adalah sindiran berupa ungkapan kasar yang dapat menyakitkan hati orang.
Contoh:Kamu ini betul-betul goblok, otak udang, bebal.
Dasar pelacur mau diapakan lagi.
g.   Metonimia adalah  majas yang memakai nama ciri atau hal yang ditautkan dengan  orang, barang atau hal sebagai penggantinya.
contoh :       Ayah suka merokok Gudang Garam ( rokok cap Gudang garam )
   Paman baru saja membeli Corona ( merek mobil Corona )
** catatan ada metonimia yang berdasarkan antara penemu dan temuannya.
contoh : mujair, ampere, volt, ohm. Semua itu berasal dari nama penemunya.
h. Sinekdok adalah  majas yang menyebutkan nama bagian sebagai pengganti nama keseluruhan atau sebaliknya.
Ø  Nama bagian sebagai pengganti keseluruhan ( Totem pro parte)
contoh : Setiap kepala (orang) mendapat hadiah Rp. 5000.
Ø  Nama keseluruhan sebagai pengganti nama bagian ( Pars pro toto)
contoh : Indonesia lawan Singapura berakhir 2 – 1.
i.  Eufemisme adalah majas yang berupa ungkapan-ungkapan halus untuk menggantikan ungkapan-ungkapan yang dirasa kasar, kurang sopan, atau kurang menyenangkan.
Contoh : Mudah-mudahan para pemimpin yang telah mendahului kita itu diterima di sisi-Nya.

Eufimisme erat hubungannya dengan :
1. Sopan santun
Contoh : Jenazah dimakamkan. 
2. Nilai sosial
Contoh : Karyawan tunanetra.
3.   Kepercayaan
Contoh : Putri (tikus)
Getah (air laut)
Ø  Lawan eufimisme adalah difemisme (ungkapan kasar / tidak sopan)
Contoh: Mampus, tidak becus, tuli, tolol, gangsat.
j.  Repetisi : Majas yang berupa pengulangan kata/ kelompok kata yang sama dengan  maksud menarik perhatian atau lebih menegaskan.
Contoh: - Pemuda, pemudalah yang meneruskan cita-cita perjuangan bangsa.
- Hanya dengan belajar, sekali lagi belajar cita-citamu dapat tercapai
k.Anafora : Majas yang berupa pengulangan kata pada awal kalimat (penggalan kalimat) yang berturut-turut.
Contoh : - Seribu kali jatuh, seribu kali bangun.
  - Ada kemauan, ada jalan.
l.  Tautologi: Majas yang berupa pengulangan gagasan dengan menggunakan kata atau ungkapan lain yang semakna atau mirip.
Contoh : - Masa telah berlalu, lewat, dan silam.
  - Saya tidak takut, tidak gentar menghadapi dia.
m.    Pleonasme: Majas yang berupa pemakaian kata (sebagai keterangan) yang   berlebihan.
Contoh : - Ponirin sia-sia menangkap bola bundar.
  - Kapal itu sedang mengarungi samudera luas.
n.     Antitesis: Majas yang berupa paduan dua kata yang berlawanan.
Contoh : - Ada kurang dan lebihnya saya minta maaf.
o.     Paradoks : Majas yang berupa pertentangan dua objek yang berbeda.
Contoh : - Dia orang yang kaya, tetapi miskin. (Kaya harta, miskin ilmu)
  - Kita memang kecil, tetapi kuat. (Kecil negaranya, kuat persatuannya)
p.     Alusio : Majas yang menunjukkan secara tidak langsung kepada peristiwa-peristiwa, tokoh-tokoh, tempat, atau dalam karya-karya sastra yang terkenal.
Contoh : - Apakah peristiwa Madiun akan terjadi lagi?
  - Tugu ini mengenangkan kita pada tanggal 10 November 1945.

q.     Klimaks dan Antiklimaks

Ø  Klimaks: Majas yang berupa urutan gagasan yang berjenjang naik, makin meningkat intensitasnya.
Contoh : Dia memang orang yang rela berkorban. Harta, benda, dan raganya direlakan demi kesejahteraan bangsa.
Ø  Antiklimaks: Majas yang berjenjang menurun hingga yang kurang penting.
  Contoh : Jangankan seribu rupiah, seratus rupiah, sepuluh rupiahpun saya tak pun

KATA & ISTILAH
Kata:
1. Dapat bersifat polisemantis, artinya dapat bermakna banyak.
Contoh : kata asam, bermakna:
a. Masam seperti rasa cuka (buah mangga, jeruk, dsb)
b. Menaruh rasa tidak senang
c. Nama jenis pohon yang besar batangnya, kecil-kecil daunnya, dan masam  buahnya.
2. Bersifat terikat konteks, artinya maknanya bergantung pada konteksnya dan dapat berubah akibat konteks itu.
Contoh : kata akar, bermakna:
a. bagian tumbuh-tumbuhan yang masuk kedalam tanah sebagai alat penguat dan pengisap air dan zat makanan.
b. asal mula,pokok pangkal,yang menjadi sebab-sebabnya.
Contoh : Yang menjadi akar perkelahian itu adalah tidak adanya keadilan yang merata.
3. Dapat terikat oleh konotasi sosial.
Contoh : wanita, gelandangan, gubuk, hitam, dan sebagainya dapat terikat konotasi sosial.
4. Bentuk kata yang digunakan dalam suatu bahasa tidak jauh berbeda dengan bentuk istilah dalam bahasa lain. Sedangkan istilah bersifat universal, internasional, dikenal secara umum dalam ilmu yang bersangkutan.
Contoh :
Inggris :         - Fiction                                 Indonesia : - Fiksi
- Vaccin                                                  - Vaksin

 Istilah

1. Bersifat monosemantis, artinya bermakna hanya satu.
Contoh : Asam, dalam istilah bermakna persenyawaan air dan oksida seperti asam  arang, asam nitrat.
2. Bersifat bebas konteks, artinya makna istilah tidak tergantung pada konteksnya dan tidak berubah maknanya akibat konteks itu.
Contoh : Istilah akar terdapat dalam tiga bidang ilmu:
a. Tata bahasa: suk, lut, kit
b. Biologi        : akar rambut, akar serabut
c. Matematika     : akar sembilan adalah tiga
3. Merupakan ilmu bebas dari konotasi sosial.
Contoh : Fonem, klorofil, frase, CO
 SUMBER ISTILAH
Ada tiga bahasa yang dapat menjadi sumber istilah, yaitu :
1. Bahasa Indonesia
2. Bahasa daerah (serumpun)
3. Bahasa asing

Ø  Syarat-syarat kosakata bahasa Indonesia menjadi istilah :
1. kata yang paling tepat dan yang tidak menyimpang maknanya jika ada dua kata atau lebih yang rujukannya sama.
Misalnya : simposium-seminar-diskusi-konferensi
                            Bea-cukai-pajak
2. Kata yang paling singkat jika ada dua kata atau lebih yang rujukannya sama.
Misalnya : Tanah garapan-lahan
              Perbendaharaan kata-kosakata
3. Kata yang bernilai rasa (konotasi) baik dan sedap didengar (eufonik)
Misalnya : Laki-laki – pria
              Pelacur-tunasusila
4. kata umum yang diberi makna baru atau khusus dengan jalan meluaskan atau menyempitkan makna asal.
Misalnya : Umum             Baru /khusus                     Meluas/menyempit
              Galak        menggalakkan/penggalakan                  meluas
              Bapak            garis bapak                          menyempit
Ø  Syarat-syarat kosakata bahasa daerah atau serumpun sebagai istilah :
1. Lebih cocok karena konotasinya
Misalnya : baku, ijon, wawasan, nyeri
2. Lebih singkat dari terjemahan Indonesianya
Misalnya : - Busana (Jawa) : Pakaian indah yang indah-indah
                  - Anjangsana (Sunda) : Kunjungan silaturrahmi kepada tetangga , saudara, atau sahabat.

Ø  Syarat-syarat kosakata bahasa asing sebagai istilah :
1. Lebih cocok karena konotasi
Misalnya : Kritik lebih cocok daripada kecaman
                   Resesi lebih cocok daripada kelesuan
2. Lebih singkat daripada terjemahan Indonesianya
Misalnya : Demokrasi = Pemerintahan rakyat
                   Reboisasi = Penghutanan kembali
3. Memudahkan pengalihan antarbangsa (karena sifat keinternasionalannya)
Misalnya : linguistik , tema, morfologis, klimaks
4. apat mempermudah tercapainya kesepakatan jika istilah dalam bahasa Indonesia itu banyak homonimnya atau sinonimnya.
Misalnya :  Bank bukan bang , sebab bang dalam bahasa Indonesia banyak homonimnya, yaitu :
a. Abang (kakak)
b. Azan
c. Tiruan bunyi barang yang jatuh

Ø  Pembentukan istilah dapat dibagi atas:
1. Mengambil kata atau gabungan kata umum dan memberinya makna yang tetap dan tertentu
Misalnya :      Kata umum                     Istilah
                   Garam (dapur)                 Garam (NaCL)
                   Air (minum)                   Air (H2O)
2. Meminjam (menerap ) dari bahasa daerah.
Misalnya :  (1) dari bahasa Jawa : Lugas, busana, tumpang sari.
 (2) dari bahasa Sunda ( nyeri, talimarga, anjangsana).
 (3) dari bahasa Minangkabau : lambung, cabul, gontai.
3. Menyerap istilah dari bahasa asing dengan cara : mengadopsi, mengadaptasi, menerjemahkan.
Misalnya : Asing                    Indonesia
           haemoglobin              hemoglobin
           cubic                    kubik

DAFTAR PUSTAKA

Soedjito.1992. Kosakata Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar