MAKNA
KATA
SINONIM
Dua kata ataua lebih yang memilki makna yang sama atau hampir
sama.
Contoh: 1. Sama makna: sudah – telah
sebab – karena
2. hampir sama maknanya:
untuk – bagi – buat
cinta –
kasih – sayang
ANTONIM
Kata-kata yang memiliki makna yang berlawanan.
Contoh:
besar >< kecil
bujang
>< gadis
Antonim dibedakan atas tiga, yaitu:
1) Berlawanan kembar
(terdapat pada dua unsur saja)
Contoh:
pria >< wanita
jantan >< betina
2) Berlawanan
bertingkat (antara dua
kata yang berlawanan terdapat tingkatan-tingkatan)
Contoh:
tinggi >< rendah
besar >< kecil (biasanya
pada kata sifat)
3) Berlawanan
kebalikan (terdapat
hubungan timbal balik atau arah yang berlawanan)
Contoh:
guru >< murid
pulang >< pergi
(biasanya
terdapat pada kata benda dan kata kerja)
HOMONIM
Dua kata atau lebih yang ejaan dan atau lafalnya sama tetapi
maknanya beda.
Homonim dibedakan atas tiga macam:
1) Homonim yang
homograf (homonim yang ejaannya
sama, tetapi berbeda ucapannya)
Contoh:
mental (batin, jiwa)
mental (terpelanting)
2) Homonim yang
homofon (homonim yang ucapannya
sama tetapi ejaannya berbeda)
contoh:
bank dan bang
sangsi
(bimbang, ragu-ragu) dan sanksi (hukuman)
3) Homonim yang homograf dan homofon (homonim
yang ejaan maupun ucapannya sama)
contoh:
bisa (dapat)
dan bisa (racun ular
POLISEMI
Satu kata yang memiliki makna banyak.
contoh: akar
jagung (bagian tumbuhan)
akar
bilangan (bilangan yang diperoleh dari
penguraian pangkatnya)
akar
kata (inti kata yang menjadi dasar arti
dari beberapa kata)
HIPONIM
Kata-kata yang tingkatnya ada di bawah kata
yang menjadi super ordinatnya atau hipernim.
bunga
Keterangan :
bunga merupakan super ordinat; mawar,
melati, anggrek, sedap malam merupakan
hiponim dari bunga.
Ta mbahan : hiponim dari bunga bisa menjadi hipernim atau super ordinat dari
bagiannya yang lebih kecil lagi. contoh: mawar; ada mawar merah, mawar
putih, dan lain sebagainya.
I D I O M
Adalah : ungkapan
bahasa berupa gabungan kata (frase) yang maknanya sudah menyatu dan tidak dapat
ditafsirkan dengan makna unsur yang membentuknya.
Idiom terbagi menjadi tujuh bagian:
1. Idiom dengan bagian tubuh
contoh: hati
kecil (makna sebenarnya)
kecil hati (penakut; agak marah)
2. Idiom dengan kata indera
contoh: dingin
hati (tidak semangat)
perang dingin (perang tanpa senjata)
3. Idiom dengan nama warna
contoh: merah
muka (kemalu-maluan)
merah telinga (marah sekali)
4. Idiom dengan nama binatang
contoh: kambing
hitam (orang yang dipersalahkan)
kelas kambing (kelas yang paling murah)
5. Idiom dengan bagian tumbuhan
contoh
: pohon kejahatan (asal
mula)
batang air (sungai)
6. Idiom dengan kata bilangan
contoh
: bersatu padu (benar-benar bersatu)
bersatu hati (seia sekata)
7. Idiom dengan nama benda-benda alam
contoh
: makan tanah (miskin sekali)
kejatuhan bulan (beruntung besar)
P E R I B A H A S A
Adalah bahasa berkias
berupa kalimat atau kelompok kata yang tetap susunannya.
Cakupan peribahasa ada 4 :
1. Pepatah
adalah sejenis peribahasa yang berisi nasihat atau ajaran dari orang tua.
contoh
: air
tenang menghanyutkan artinya orang diam tapi berilmu banyak
ikut hati mati, ikut rasa binasa
artinya barang siapa menurutkan hawa nafsu tentu akan hancur.
nasi telah menjadi bubur artinya kesalahan yang
terlanjur.
2. Perumpamaan adalah
peribahasa yang berisi perbandingan.
Biasanya
menggunakan kata-kata; seperti,bak,laksana dll.
contoh
: seperti air diatas daun talas artinya
tidak teguh pendirian
bagai bumi dan langit artinya jauh sekali
bedanya
laksana burung dalam sangkar artinya terikat oleh keadaan
3. Pemeo
adalah peribahasa yang dijadikan semboyan
contoh
: patah tumbuh hilang berganti
bersatu
kita teguh bercerai kita runtuh
patah
sayap bertongkat paruh
4. Majas
adalah bahasa berkias yang dapat menghidupkan
atau meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu.
Macam-macam majas :
a. Simile adalah
majas yang berupa perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berbeda tapi
sengaja dianggap sama.Dinyatakan dengan kata; seperti, bagai, dll.
contoh
: Seperti disengat kalajengking
Soraknya seperti gunung runtuh
b. Metafora adalah
perbandingan yang singkat dan padat, dinyatakan secara implisit dan langsung.
contoh
: Bunga
bangsa artinya pemuda
Ratu
dunia artinya surat
kabar
c. Personifikasi adalah
majas yang menggambarkan benda-benda tak bernyawa seolah-olah memiliki sifat
insani.
contoh
: Mengapa piala Thomas rela meninggalkan kita?
Uang yang tak halal itu telah mencekik lehernya
d. Hiperbola adalah
majas yang melebih-lebihkan dari apa yang dimaksud sebenarnya.
contoh
: Tangisnya menyayat-nyayat hati.
Sorak sorai penonton mengguntur membelah
angkasa.
e. Litotes adalah majas yang mengurangi atau melunakkan atau
melemahkan apa yang sebenarnya dimaksud.
contoh
: Hasil tesnya tidak mengecewakan (hasilnya
baik)
Silakan
makan seadanya. Saya hanya dapat
menyediakan nasi, sambal dan air putih.
f. Ironi adalah
sindiran halus berupa pernyataan yang maknanya bertentangan dengan makna
sebenarnya.
contoh
: Baik sekali kelakuanmu.Adikmu
sendiri kaupukuli.
Masih sore begini sudah pulang. Kan baru
pukul dua belas.
Ø Sinisme
adalah ironi yang lebih kasar.
contoh:Muak
aku mendengar kata-katamu.
Kamu
kan sudah pandai.Ilmu sudah setinggi langit. Jadi, tak perlulah meminta nasihat
pada orang tua macam aku ini.
Ø Sarkasme
adalah sindiran berupa ungkapan kasar yang dapat menyakitkan hati orang.
Contoh:Kamu
ini betul-betul goblok, otak udang, bebal.
Dasar
pelacur mau diapakan lagi.
g.
Metonimia adalah
majas yang memakai nama ciri atau hal yang ditautkan dengan orang, barang atau hal sebagai penggantinya.
contoh
: Ayah suka merokok Gudang Garam ( rokok cap Gudang garam )
Paman baru saja membeli Corona ( merek mobil Corona )
**
catatan ada metonimia yang berdasarkan
antara penemu dan temuannya.
contoh
: mujair, ampere, volt, ohm. Semua itu
berasal dari nama penemunya.
h. Sinekdok adalah majas yang menyebutkan nama bagian sebagai
pengganti nama keseluruhan atau sebaliknya.
Ø Nama bagian
sebagai pengganti keseluruhan ( Totem
pro parte)
contoh
: Setiap kepala (orang) mendapat hadiah Rp. 5000.
Ø Nama keseluruhan
sebagai pengganti nama bagian ( Pars pro
toto)
contoh
: Indonesia lawan Singapura berakhir 2 – 1.
i. Eufemisme adalah
majas yang berupa ungkapan-ungkapan halus untuk menggantikan ungkapan-ungkapan
yang dirasa kasar, kurang sopan, atau kurang menyenangkan.
Contoh : Mudah-mudahan para pemimpin yang telah mendahului
kita itu diterima di sisi-Nya.
Eufimisme erat hubungannya dengan :
1. Sopan santun
Contoh
: Jenazah dimakamkan.
2. Nilai sosial
Contoh
: Karyawan tunanetra.
3. Kepercayaan
Contoh
: Putri (tikus)
Getah (air laut)
Ø Lawan eufimisme
adalah difemisme (ungkapan kasar /
tidak sopan)
Contoh:
Mampus, tidak becus, tuli, tolol,
gangsat.
j. Repetisi : Majas yang berupa pengulangan kata/
kelompok kata yang sama dengan maksud
menarik perhatian atau lebih menegaskan.
Contoh:
- Pemuda,
pemudalah yang meneruskan cita-cita perjuangan bangsa.
- Hanya dengan belajar, sekali lagi belajar cita-citamu
dapat tercapai
k.Anafora :
Majas yang berupa pengulangan kata pada awal kalimat
(penggalan kalimat) yang berturut-turut.
Contoh
: -
Seribu kali jatuh, seribu kali bangun.
- Ada kemauan, ada jalan.
l. Tautologi: Majas yang berupa
pengulangan gagasan dengan menggunakan kata atau ungkapan lain yang semakna
atau mirip.
Contoh
: - Masa telah berlalu, lewat, dan silam.
- Saya tidak takut, tidak gentar menghadapi dia.
m. Pleonasme: Majas yang berupa
pemakaian kata (sebagai keterangan) yang
berlebihan.
Contoh
: - Ponirin sia-sia menangkap bola bundar.
- Kapal
itu sedang mengarungi samudera luas.
n. Antitesis: Majas
yang berupa paduan dua kata yang berlawanan.
Contoh
: - Ada kurang dan lebihnya saya
minta maaf.
o. Paradoks : Majas yang berupa pertentangan dua objek
yang berbeda.
Contoh
: - Dia orang yang kaya, tetapi miskin. (Kaya harta, miskin ilmu)
- Kita
memang kecil, tetapi kuat. (Kecil negaranya, kuat persatuannya)
p. Alusio : Majas yang menunjukkan
secara tidak langsung kepada peristiwa-peristiwa, tokoh-tokoh, tempat, atau
dalam karya-karya sastra yang terkenal.
Contoh
: - Apakah peristiwa Madiun akan terjadi lagi?
- Tugu ini
mengenangkan kita pada tanggal 10
November 1945.
q.
Klimaks dan Antiklimaks
Ø Klimaks: Majas yang berupa urutan
gagasan yang berjenjang naik, makin meningkat intensitasnya.
Contoh : Dia memang orang yang rela berkorban. Harta, benda, dan raganya direlakan
demi kesejahteraan bangsa.
Ø Antiklimaks:
Majas yang berjenjang menurun hingga yang kurang penting.
Contoh : Jangankan seribu rupiah, seratus rupiah,
sepuluh rupiahpun saya tak pun
KATA & ISTILAH
Kata:
1. Dapat bersifat
polisemantis, artinya dapat bermakna banyak.
Contoh
: kata asam, bermakna:
a. Masam seperti
rasa cuka (buah mangga, jeruk, dsb)
b. Menaruh rasa tidak senang
c. Nama jenis pohon yang besar batangnya, kecil-kecil
daunnya, dan masam buahnya.
2. Bersifat terikat
konteks, artinya maknanya bergantung pada konteksnya dan
dapat berubah akibat konteks itu.
Contoh
: kata akar, bermakna:
a. bagian tumbuh-tumbuhan yang masuk kedalam tanah
sebagai alat penguat dan pengisap air dan zat makanan.
b. asal mula,pokok pangkal,yang menjadi
sebab-sebabnya.
Contoh
: Yang menjadi akar perkelahian itu
adalah tidak adanya keadilan yang merata.
3. Dapat terikat oleh
konotasi sosial.
Contoh : wanita, gelandangan, gubuk, hitam,
dan sebagainya dapat terikat konotasi sosial.
4.
Bentuk kata yang digunakan dalam suatu bahasa tidak jauh
berbeda dengan bentuk istilah dalam bahasa lain.
Sedangkan istilah bersifat universal,
internasional, dikenal secara umum dalam ilmu yang bersangkutan.
Contoh
:
Inggris
: - Fiction Indonesia
: - Fiksi
- Vaccin -
Vaksin
Istilah
1. Bersifat
monosemantis, artinya bermakna hanya satu.
Contoh : Asam,
dalam istilah bermakna persenyawaan air
dan oksida seperti asam arang, asam nitrat.
2. Bersifat bebas
konteks, artinya makna istilah tidak tergantung pada
konteksnya dan tidak berubah maknanya akibat konteks itu.
Contoh
: Istilah akar terdapat dalam tiga
bidang ilmu:
a. Tata bahasa:
suk, lut, kit
b. Biologi : akar rambut, akar
serabut
c. Matematika : akar sembilan adalah
tiga
3. Merupakan ilmu
bebas dari konotasi sosial.
Contoh
: Fonem, klorofil, frase, CO
SUMBER ISTILAH
Ada tiga bahasa yang
dapat menjadi sumber istilah, yaitu :
1. Bahasa Indonesia
2. Bahasa daerah (serumpun)
3. Bahasa asing
Ø Syarat-syarat kosakata bahasa Indonesia menjadi
istilah :
1. kata yang paling tepat dan yang tidak menyimpang
maknanya jika ada dua kata atau lebih yang rujukannya sama.
Misalnya
: simposium-seminar-diskusi-konferensi
Bea-cukai-pajak
2. Kata yang paling singkat jika ada dua kata atau
lebih yang rujukannya sama.
Misalnya : Tanah garapan-lahan
Perbendaharaan kata-kosakata
3. Kata yang bernilai rasa (konotasi) baik dan sedap
didengar (eufonik)
Misalnya : Laki-laki – pria
Pelacur-tunasusila
4. kata umum yang diberi makna baru atau khusus
dengan jalan meluaskan atau menyempitkan makna asal.
Misalnya : Umum Baru /khusus Meluas/menyempit
Galak menggalakkan/penggalakan meluas
Bapak garis bapak menyempit
Ø Syarat-syarat kosakata bahasa daerah atau serumpun
sebagai istilah :
1. Lebih cocok karena
konotasinya
Misalnya
: baku, ijon, wawasan, nyeri
2. Lebih singkat dari
terjemahan Indonesianya
Misalnya
: - Busana (Jawa) : Pakaian indah
yang indah-indah
- Anjangsana (Sunda) : Kunjungan silaturrahmi kepada
tetangga , saudara, atau sahabat.
Ø Syarat-syarat kosakata bahasa asing sebagai
istilah :
1. Lebih cocok karena
konotasi
Misalnya
: Kritik lebih cocok daripada kecaman
Resesi lebih cocok daripada
kelesuan
2. Lebih singkat
daripada terjemahan Indonesianya
Misalnya
: Demokrasi = Pemerintahan rakyat
Reboisasi = Penghutanan
kembali
3. Memudahkan
pengalihan antarbangsa (karena sifat keinternasionalannya)
Misalnya
: linguistik , tema, morfologis, klimaks
4. apat mempermudah tercapainya kesepakatan jika
istilah dalam bahasa Indonesia itu banyak homonimnya atau sinonimnya.
Misalnya : Bank bukan bang , sebab bang dalam
bahasa Indonesia banyak homonimnya, yaitu :
a. Abang (kakak)
b. Azan
c. Tiruan bunyi barang yang jatuh
Ø Pembentukan
istilah dapat dibagi atas:
1. Mengambil kata atau gabungan kata umum dan
memberinya makna yang tetap dan tertentu
Misalnya : Kata umum Istilah
Garam (dapur) Garam (NaCL)
Air (minum) Air (H2O)
2. Meminjam (menerap ) dari bahasa daerah.
Misalnya :
(1) dari bahasa Jawa : Lugas, busana, tumpang sari.
(2) dari bahasa Sunda ( nyeri, talimarga,
anjangsana).
(3) dari bahasa Minangkabau : lambung, cabul,
gontai.
3. Menyerap istilah dari bahasa asing dengan cara :
mengadopsi, mengadaptasi, menerjemahkan.
Misalnya : Asing Indonesia
haemoglobin
hemoglobin
cubic kubik
DAFTAR PUSTAKA
Soedjito.1992. Kosakata Bahasa Indonesia. Jakarta: PT
Gramedia Pustaka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar