Kerinduan
Akan Kebaikan
oleh
Rifki Mujahid Ziyad
Cempaka. Kata tanteku, nama itu diberikan ibuku agar aku
bisa seperti bunga itu. Bunga yang diidolakan betul oleh ibuku. Bunga yang
indah, katanya sih. Meski sayangnya hingga kini aku tak tahu persis seperti apa
bunga itu, juga wajah sosok yang dan memberiku nama itu, karena katanya ibuku
meninggal satu jam setelah melahirkanku. Mungkin ibuku kaget bukan kepalang
ketika ia dapat mimpi kalau anaknya akan berlaku biadab macam sekarang ini.
“Aduh!” tiba-tiba minyak panas dari penggorengan di depanku
meloncat dan melepuhkan kulitku yang tak terasa sudah keriput ini. Tapi kenapa
kulit keriput macam ini masih disukai oleh banyak lelaki hidung belang?
Kalau dulu, aku masih “mewajarkan” bila kala itu, ayahku
yang telah tega meninggalkanku sejak 5 tahun lalu melahap tubuhku yang masih
belia, umur 25 tahun mungkin tepatnya. Bagai tanpa dosa, setelah melakukan
tindakan biadab itu, ia pergi. Dan sialnya pergi untuk selama-lamanya. Aku
sendiri menyaksikan kepergiannya itu. Ia pergi dengan jasad yang hancur karena
terlindas kereta. Kurasa ia frustrasi dengan keadaan ekonomi keluarga kami saat
itu dan bunuh diri. Sementara saat ini? Berubah memang, tapi hanya sedikit
sekali.
“Emak! Masakan buat aku udah matang belum?” kata anakku
satu-satunya yang masih belia itu. Anakku yang merupakan hasil nikah resmiku
bersama seseorang yang dulu kucintai itu kini sedang lucu-lucunya. Sayang
betul, suamiku tak bisa melihatnya sekarang karena telah pergi lebih dahulu
meninggalkanku karena penyakit pes yang menyerangnya. Kini, anakkulah yang
menjadi satu-satunya cahaya buatku. Setidaknya cahayanya mampu menjadi sedikit
titik buat hatiku yang kini telah dipenuhi kegelapan akan pelacuran.
“Dikit lagi, nak!
Sabar ya,” jawabku pelan padanya. Tak tega sebenarnya aku memberi anakku makan
dari hasil haram begini. Tapi mau bagaimana? Ketika katanya konstitusi di
negara ini memelihara fakir miskin dan rakyat jelata, maka betul adanya. Ya
kalau dipelihara, malah akan makin banyak dan menjadi menyebar merata. Dan aku
termasuk di dalamnya.
Tempe orak-arik yang sedang kumasak mulai menyemburkan bau
harumnya, sama seperti ketika dulu saat aku ditinggal mati suamiku dan memilih
untuk menjadi hina karena terjerat harumnya duit-duit yang bisa kudapatkan
dengan cara yang “mudah”. Hanya dengan bergelut dengan lelaki-lelaki bengis
yang melampiaskan berahinya tanpa berkepedulian, dan dengan “sedikit” rasa
sakit, kudapatkan hasil yang cukup melimpah.
Dulu kala aku masih kecil, ketika ayahku belum terjerat
perjudian dan miras, ia sering memberiku nasihat yang terus menerus terngiang
di telingaku hingga detik ini. “Cari duit yang halal ya, nak. Jadi sarjana,
kerja buat bangsa, berantas rakyat jelata. Bapak kau ini sudah tak bisa berbuat
apa-apa, cuma kerja serabutan yang penghasilannya tak seberapa,” begitu
katanya, persis. Tapi sepertinya “wasiat” ayahku itu tak kulakukan setitik pun.
Lulus SMA pun tidak, karena memang saat itu negara ini tengah dilanda krisis
ekonomi, membuatku terpaksa putus sekolah, sementara ayahku makin
luntang-lantung karena hampir tak bisa bekerja apa-apa. Dulunya ia bukan orang
yang senang berhutang, tapi entah kenapa sejak itu ia jadi “gali lobang, tutup
lobang”, dan sampai sekarang masih menumpuk dan belum terlunaskan, menjadi
tanggunganku yang saat ini sudah hampir tak sanggup lagi bekerja.
Tiba-tiba pintu rumahku digedor-gedor. Aku tahu persis siapa
pengedornya. Lelaki-lelaki kekar dengan tato di sekujur tangannya, yang
menamakan diri mereka penagih hutang. Kurasa seberkas bayangan hitam telah
menyelimuti seisi tempat tinggalku.
“Hei, Cempaka, si jalang yang banyak hutang, hari ini sudah
jatuh tempo, lunasi sekarang!” sahutnya garang. Dengan gemetaran aku mengiakan
perkataan mereka. Aku lindungi anakku, menyuruhnya tetap bertahan di dalam
rumah, sementara aku mengais uang yang sengaja kutaruh di lemari milikku.
Semuanya ludes, hanya untuk membayar bunga dari hutang-hutang ayahku pada
majikannya penagih hutang itu. Dan pasti mereka akan kembali, entah kapan.
Dan itu berarti bahwa malam ini, aku harus bekerja lagi.
Mencari penghidupanku.
***
Bibirku telah merah, wajahku putih merekah, siap
meningkatkan gairah lelaki-lelaki yang tentunya takkan membayarku dengan harga
murah. Bagaimanapun aku adalah senior di antara teman-temanku, pelacur yang
lain di lokalisasi kecil yang sudah terancam ditutup ini. Untungnya ada
preman-preman baik yang siap melindungi kami, para pencari nafkah yang hina
ini.
Tiap malamnya, biasanya aku layani 4 hidung belang. Jutaan
rupiah biasanya kugenggam dari kepuasan yang mereka dapatkan. Sepuluh persennya
kuberikan pada preman-preman itu, sebagai uang perlindungan. Kalau polisi
datang, preman-preman itu dengan sigap menarik pelor dan membekukan darah si
pelindung masyarakat itu. Kemudian mayatnya akan hilang, entah kemana.
Tapi entah mengapa malam ini sepi sekali, hingga akhirnya
aku dan kawan-kawanku sadar bahwa malam ini ternyata adalah malam hari raya. Di
tempatku melacurkan diri ini memang tak terdengar sedikit pun gema takbir dan
gemuruh beduk, namun aku sadar dan mengetahuinya ketika tiba-tiba gerombolan
orang dengan jubah putih-putih datang dengan membawa golok dan parang,
mengancam nyawa kami. Preman-preman itu tak berani, mereka tunduk tak sanggup
melawan lagi, karena kalah jumlah dan tak ingin mati. Tempatku mencari
penghidupan dibuat kacau balau. Air minyak tanah terendus dan terlihat membasahi
dinding-dinding rumah pelacuranku dan kawan-kawan. Hangus, sudah terlihat
sangat tak bagus. Aku cuma bisa menangis dan lari menjauh, berharap ada kereta
hantu yang mau meremukkan tubuhku yang makin lama terasa makin tak berdaya
lagi.
***
Setelah kejadian di malam hari raya itu, aku memutuskan
untuk mencari tempat baru sebagai ladang uangku. Kuputuskan untuk bekerja di
sebuah klub malam yang letaknya di pinggir kota tempat tinggalku. Pengunjungnya
biasanya pengusaha-pengusaha dan pejabat-pejabat gila.
Malam ini aku puas karena uang jutaan kembali bisa kurampas
dari lelaki-lelaki ganas yang telah menikmati ragaku. Aku pulang ke rumah, lalu
tidur pulas dengan wajah semringah.
Pagi harinya, aku terbangun dan menyambut pagi dengan penuh
arti. Sebentar lagi, senyuman anakku akan terbuka lebar karena makanan
kesukaannya akan segera kusiapkan, yaitu tempe orak-arik dan nasi goreng
spesial, buatanku tentunya.
Kulangkahkan kakiku menuju pasar dekat rumahku. Orang-orang
memandangiku dengan sinis, dan hina, kecuali preman-preman yang menyiul-nyiul
padaku. Aku cuma bisa tersenyum memandangi pemandangan yang rupa-rupa itu.
Setelah semua terbeli, langsung kumasak barang-barang mentah
itu, buat anakku. Kutuang minyak kelapa untuk menggoreng dengan sepenuh hati,
tanda cinta sepenuhnya buat anakku. Tapi entah mengapa ketika aku mulai
memasak, ulu hatiku terasa nyeri luar biasa, terasa bagai dicengkeram oleh
tangan-tangan raksasa. Kudengar sayup-sayup suara anakku yang menjerit-jerit.
Pandanganku yang memudar menggores siluet sosok anakku yang terlihat menitikkan
air mata.
Apa malaikat maut akan menjemputku, lalu membawaku ke
mahkamah keadilan Tuhan?
***
Ketika tembakan cahaya menyilaukan pandanganku, seketika aku
sadar bahwa aku sudah terbaring di sebuah tempat bernama rumah sakit. Oh, aku
masih hidup, namun sakit rupanya. Meski pendengaranku masih samar-samar, aku
tahu persis bahwa mereka bilang kalau aku telah menderita kanker payudara
stadium akhir. Oh, mungkin inilah hukuman Tuhan rupanya.
Kemudian entah mengapa pandanganku kembali buram. Ragaku
lemas bagai tenggelam di samudra yang dalam. Melayang...
Muncullah sosok itu. Sosok hitam pekat yang besar, suaranya
terdengar menggelegar. Itukah malaikat maut? Oh, ajal akan merenggutku rupanya.
Tapi sosok itu kemudian hilang lagi, digantikan oleh seberkas cahaya putih dan
sayup-sayup teriakan anakku yang terdengar haru. Samar-samar kulihat ia sedang
bersama orang-orang berjas putih yang memakai atribut pelindung diri, yang
menyebut diri mereka dokter. Aku berusaha tersenyum buat anakku itu, sekuat
tenaga, dan berusaha melontarkan kata walau hanya satu patah saja. Tapi aku
sadar aku sudah habis daya, ditambah lagi dengan sosok hitam pekat tadi yang
kini sudah melayang di atasku, lalu seakan mencengkeram sekujur tubuhku.
Sensasi itu kemudian naik, memusatkannya ke kerongkonganku.
Aku sadar Tuhan akan segera menjemputku. Aku tak tahan,
meringis penuh beban. Ya, aku rasa bebanku makin berat setelah ini. Hakim-hakim
Tuhan akan segera meremukkan raga ini. Rasa sakitnya pasti lebih dari ini.
Suara anakku masih terdengar. Makin pelan. Sangat pelan. Tak
terasa lidahku berusaha bergerak. Mengucap tahlil. Oh, mungkin di saat terakhir
ini aku mulai rindu akan kebaikan. Kebaikan ayahku dulu, dan kebaikan
orang-orang yang membawaku ke sini, yang berusaha menyembuhkanku walau agaknya
Tuhan tak lagi menghendaki. Aku rindu semua itu. Rindu bertemu Tuhanku, Allah
swt., walau mungkin Ia akan memotong-motong tubuhku dan aku akan disiksa di
neraka akan semua perbuatanku.
Aku sudah tak peduli lagi pemerintah yang tak peduli padaku
dan orang-orang yang serupa nasibnya denganku, yang membuatku terkubur dalam
lubang nista penuh hina ini, apalagi nafasku sebentar lagi akan habis. Aku
percaya, kebaikan Tuhan dan keadilan-Nya akan menghabisi mereka juga. Menghabisi
pemerintah yang rakus akan dunia, dan merasa tak punya tanggung jawab apa-apa
terhadap kami, para pelacur yang hina ini.
Cengkeraman sosok hitam itu kini mereda seiring dengan
lidahku yang selesai mengucap tahlil dengan terbata-bata. Kini rasanya aku sudah
berpisah dengan raga yang selama ini kutumpangi. Entah benar atau tidak, aku
merasa sedang melihat jasadku sendiri yang sedang tersenyum...
Oleh Zee,
311214-635. Disunting pada 4115-550
Tidak ada komentar:
Posting Komentar