Sabtu, 27 Februari 2016

Cerpen_Kerinduan Akan Kebaikan

Kerinduan Akan Kebaikan
oleh Rifki Mujahid Ziyad

Cempaka. Kata tanteku, nama itu diberikan ibuku agar aku bisa seperti bunga itu. Bunga yang diidolakan betul oleh ibuku. Bunga yang indah, katanya sih. Meski sayangnya hingga kini aku tak tahu persis seperti apa bunga itu, juga wajah sosok yang dan memberiku nama itu, karena katanya ibuku meninggal satu jam setelah melahirkanku. Mungkin ibuku kaget bukan kepalang ketika ia dapat mimpi kalau anaknya akan berlaku biadab macam sekarang ini.
“Aduh!” tiba-tiba minyak panas dari penggorengan di depanku meloncat dan melepuhkan kulitku yang tak terasa sudah keriput ini. Tapi kenapa kulit keriput macam ini masih disukai oleh banyak lelaki hidung belang?


Kalau dulu, aku masih “mewajarkan” bila kala itu, ayahku yang telah tega meninggalkanku sejak 5 tahun lalu melahap tubuhku yang masih belia, umur 25 tahun mungkin tepatnya. Bagai tanpa dosa, setelah melakukan tindakan biadab itu, ia pergi. Dan sialnya pergi untuk selama-lamanya. Aku sendiri menyaksikan kepergiannya itu. Ia pergi dengan jasad yang hancur karena terlindas kereta. Kurasa ia frustrasi dengan keadaan ekonomi keluarga kami saat itu dan bunuh diri. Sementara saat ini? Berubah memang, tapi hanya sedikit sekali.
“Emak! Masakan buat aku udah matang belum?” kata anakku satu-satunya yang masih belia itu. Anakku yang merupakan hasil nikah resmiku bersama seseorang yang dulu kucintai itu kini sedang lucu-lucunya. Sayang betul, suamiku tak bisa melihatnya sekarang karena telah pergi lebih dahulu meninggalkanku karena penyakit pes yang menyerangnya. Kini, anakkulah yang menjadi satu-satunya cahaya buatku. Setidaknya cahayanya mampu menjadi sedikit titik buat hatiku yang kini telah dipenuhi kegelapan akan pelacuran.
Dikit lagi, nak! Sabar ya,” jawabku pelan padanya. Tak tega sebenarnya aku memberi anakku makan dari hasil haram begini. Tapi mau bagaimana? Ketika katanya konstitusi di negara ini memelihara fakir miskin dan rakyat jelata, maka betul adanya. Ya kalau dipelihara, malah akan makin banyak dan menjadi menyebar merata. Dan aku termasuk di dalamnya.
Tempe orak-arik yang sedang kumasak mulai menyemburkan bau harumnya, sama seperti ketika dulu saat aku ditinggal mati suamiku dan memilih untuk menjadi hina karena terjerat harumnya duit-duit yang bisa kudapatkan dengan cara yang “mudah”. Hanya dengan bergelut dengan lelaki-lelaki bengis yang melampiaskan berahinya tanpa berkepedulian, dan dengan “sedikit” rasa sakit, kudapatkan hasil yang cukup melimpah.
Dulu kala aku masih kecil, ketika ayahku belum terjerat perjudian dan miras, ia sering memberiku nasihat yang terus menerus terngiang di telingaku hingga detik ini. “Cari duit yang halal ya, nak. Jadi sarjana, kerja buat bangsa, berantas rakyat jelata. Bapak kau ini sudah tak bisa berbuat apa-apa, cuma kerja serabutan yang penghasilannya tak seberapa,” begitu katanya, persis. Tapi sepertinya “wasiat” ayahku itu tak kulakukan setitik pun. Lulus SMA pun tidak, karena memang saat itu negara ini tengah dilanda krisis ekonomi, membuatku terpaksa putus sekolah, sementara ayahku makin luntang-lantung karena hampir tak bisa bekerja apa-apa. Dulunya ia bukan orang yang senang berhutang, tapi entah kenapa sejak itu ia jadi “gali lobang, tutup lobang”, dan sampai sekarang masih menumpuk dan belum terlunaskan, menjadi tanggunganku yang saat ini sudah hampir tak sanggup lagi bekerja.
Tiba-tiba pintu rumahku digedor-gedor. Aku tahu persis siapa pengedornya. Lelaki-lelaki kekar dengan tato di sekujur tangannya, yang menamakan diri mereka penagih hutang. Kurasa seberkas bayangan hitam telah menyelimuti seisi tempat tinggalku.
“Hei, Cempaka, si jalang yang banyak hutang, hari ini sudah jatuh tempo, lunasi sekarang!” sahutnya garang. Dengan gemetaran aku mengiakan perkataan mereka. Aku lindungi anakku, menyuruhnya tetap bertahan di dalam rumah, sementara aku mengais uang yang sengaja kutaruh di lemari milikku. Semuanya ludes, hanya untuk membayar bunga dari hutang-hutang ayahku pada majikannya penagih hutang itu. Dan pasti mereka akan kembali, entah kapan.
Dan itu berarti bahwa malam ini, aku harus bekerja lagi. Mencari penghidupanku.
***
Bibirku telah merah, wajahku putih merekah, siap meningkatkan gairah lelaki-lelaki yang tentunya takkan membayarku dengan harga murah. Bagaimanapun aku adalah senior di antara teman-temanku, pelacur yang lain di lokalisasi kecil yang sudah terancam ditutup ini. Untungnya ada preman-preman baik yang siap melindungi kami, para pencari nafkah yang hina ini.
Tiap malamnya, biasanya aku layani 4 hidung belang. Jutaan rupiah biasanya kugenggam dari kepuasan yang mereka dapatkan. Sepuluh persennya kuberikan pada preman-preman itu, sebagai uang perlindungan. Kalau polisi datang, preman-preman itu dengan sigap menarik pelor dan membekukan darah si pelindung masyarakat itu. Kemudian mayatnya akan hilang, entah kemana.
Tapi entah mengapa malam ini sepi sekali, hingga akhirnya aku dan kawan-kawanku sadar bahwa malam ini ternyata adalah malam hari raya. Di tempatku melacurkan diri ini memang tak terdengar sedikit pun gema takbir dan gemuruh beduk, namun aku sadar dan mengetahuinya ketika tiba-tiba gerombolan orang dengan jubah putih-putih datang dengan membawa golok dan parang, mengancam nyawa kami. Preman-preman itu tak berani, mereka tunduk tak sanggup melawan lagi, karena kalah jumlah dan tak ingin mati. Tempatku mencari penghidupan dibuat kacau balau. Air minyak tanah terendus dan terlihat membasahi dinding-dinding rumah pelacuranku dan kawan-kawan. Hangus, sudah terlihat sangat tak bagus. Aku cuma bisa menangis dan lari menjauh, berharap ada kereta hantu yang mau meremukkan tubuhku yang makin lama terasa makin tak berdaya lagi.
***
Setelah kejadian di malam hari raya itu, aku memutuskan untuk mencari tempat baru sebagai ladang uangku. Kuputuskan untuk bekerja di sebuah klub malam yang letaknya di pinggir kota tempat tinggalku. Pengunjungnya biasanya pengusaha-pengusaha dan pejabat-pejabat gila.
Malam ini aku puas karena uang jutaan kembali bisa kurampas dari lelaki-lelaki ganas yang telah menikmati ragaku. Aku pulang ke rumah, lalu tidur pulas dengan wajah semringah.
Pagi harinya, aku terbangun dan menyambut pagi dengan penuh arti. Sebentar lagi, senyuman anakku akan terbuka lebar karena makanan kesukaannya akan segera kusiapkan, yaitu tempe orak-arik dan nasi goreng spesial, buatanku tentunya.
Kulangkahkan kakiku menuju pasar dekat rumahku. Orang-orang memandangiku dengan sinis, dan hina, kecuali preman-preman yang menyiul-nyiul padaku. Aku cuma bisa tersenyum memandangi pemandangan yang rupa-rupa itu.
Setelah semua terbeli, langsung kumasak barang-barang mentah itu, buat anakku. Kutuang minyak kelapa untuk menggoreng dengan sepenuh hati, tanda cinta sepenuhnya buat anakku. Tapi entah mengapa ketika aku mulai memasak, ulu hatiku terasa nyeri luar biasa, terasa bagai dicengkeram oleh tangan-tangan raksasa. Kudengar sayup-sayup suara anakku yang menjerit-jerit. Pandanganku yang memudar menggores siluet sosok anakku yang terlihat menitikkan air mata.
Apa malaikat maut akan menjemputku, lalu membawaku ke mahkamah keadilan Tuhan?
***
Ketika tembakan cahaya menyilaukan pandanganku, seketika aku sadar bahwa aku sudah terbaring di sebuah tempat bernama rumah sakit. Oh, aku masih hidup, namun sakit rupanya. Meski pendengaranku masih samar-samar, aku tahu persis bahwa mereka bilang kalau aku telah menderita kanker payudara stadium akhir. Oh, mungkin inilah hukuman Tuhan rupanya.
Kemudian entah mengapa pandanganku kembali buram. Ragaku lemas bagai tenggelam di samudra yang dalam. Melayang...
Muncullah sosok itu. Sosok hitam pekat yang besar, suaranya terdengar menggelegar. Itukah malaikat maut? Oh, ajal akan merenggutku rupanya. Tapi sosok itu kemudian hilang lagi, digantikan oleh seberkas cahaya putih dan sayup-sayup teriakan anakku yang terdengar haru. Samar-samar kulihat ia sedang bersama orang-orang berjas putih yang memakai atribut pelindung diri, yang menyebut diri mereka dokter. Aku berusaha tersenyum buat anakku itu, sekuat tenaga, dan berusaha melontarkan kata walau hanya satu patah saja. Tapi aku sadar aku sudah habis daya, ditambah lagi dengan sosok hitam pekat tadi yang kini sudah melayang di atasku, lalu seakan mencengkeram sekujur tubuhku. Sensasi itu kemudian naik, memusatkannya ke kerongkonganku.
Aku sadar Tuhan akan segera menjemputku. Aku tak tahan, meringis penuh beban. Ya, aku rasa bebanku makin berat setelah ini. Hakim-hakim Tuhan akan segera meremukkan raga ini. Rasa sakitnya pasti lebih dari ini.
Suara anakku masih terdengar. Makin pelan. Sangat pelan. Tak terasa lidahku berusaha bergerak. Mengucap tahlil. Oh, mungkin di saat terakhir ini aku mulai rindu akan kebaikan. Kebaikan ayahku dulu, dan kebaikan orang-orang yang membawaku ke sini, yang berusaha menyembuhkanku walau agaknya Tuhan tak lagi menghendaki. Aku rindu semua itu. Rindu bertemu Tuhanku, Allah swt., walau mungkin Ia akan memotong-motong tubuhku dan aku akan disiksa di neraka akan semua perbuatanku.
Aku sudah tak peduli lagi pemerintah yang tak peduli padaku dan orang-orang yang serupa nasibnya denganku, yang membuatku terkubur dalam lubang nista penuh hina ini, apalagi nafasku sebentar lagi akan habis. Aku percaya, kebaikan Tuhan dan keadilan-Nya akan menghabisi mereka juga. Menghabisi pemerintah yang rakus akan dunia, dan merasa tak punya tanggung jawab apa-apa terhadap kami, para pelacur yang hina ini.
Cengkeraman sosok hitam itu kini mereda seiring dengan lidahku yang selesai mengucap tahlil dengan terbata-bata. Kini rasanya aku sudah berpisah dengan raga yang selama ini kutumpangi. Entah benar atau tidak, aku merasa sedang melihat jasadku sendiri yang sedang tersenyum...

Oleh Zee, 311214-635. Disunting pada 4115-550

Tidak ada komentar:

Posting Komentar