Minggu, 28 Februari 2016

Cerpen_Antara Aku dan Dia

Antara Aku dan Dia
oleh Hanif Saifurahman

                Andai aku bisa menempati posisinya yang entah kenapa bisa mendapat keringanan. Padahal aku yakin kalau hidupku lebih merana darinya. Namun, justru ia yang mendapat keringanan. Penduduk kasta atas. Entah kenapa tiba tiba pikiranku dipenuhi oleh bawahannya. Temanku sekaligus musuhku, saat aku bercakap dengannya yang membahas tentang sesuatu mengarahkanku pada malam yang membawaku ke sel ini.
***


        “Aku ingin uang lebih banyak, Fir!” Kata Bendi ketika kita sedang minum bersama di sebuah warung kopi. Hatiku terlonjak kaget mendengarnya. Aku kira Bendi sudah mendapat penghasilan yang jika dibandingkan denganku bagaikan langit dan bumi.
                       “Ben,apa kamu masih belum puas dengan apa yang kamu dapat?” Tanyaku dengan tajam. Ia menjawabnya dengan gelengan singkat.
                       “Belum cukup, Fir! Dari dulu aku sudah menginginkan yang namanya mobil, tapi sampai sekarang belum dapat juga. Sedangkan atasanku, baru beberapa bulan saja, sudah beli mobil baru.” Lanjutnya dengan sengit. Belum cukup? Setidaknya ia sudah bisa memenuhi kebutuhan keluarganya. Sedangkan aku sendiri masih harus mengorbankan impianku untuk membeli parabola yang sudah lama kuidamkan untuk memenuhi kebutuhan keluargaku.
                Pembicaraan kami tidak berlanjut lagi karena handphone Bendi berbunyi. Ia segera pamit kepadaku dan berlari ke kantornya. Aku bangkit dari kursiku  dan keluar dari warung kopi menuju pertambangan timah. Waktu sudah menunjukkan pukul satu ketika aku datang, menandakan bahwa waktu istirahatku sudah berakhir. Aku mengambil peralatan pertambanganku dan mulai menambang.
                Beginilah kehidupan di Belitung. Mereka yang tidak beruntung mendapat pertambangan, sedangkan yang beruntung mendapatkan kantor mewah nan nyaman.Aku dan Bendi sama–sama bersekolah di tahun dan sekolah yang sama. Nilaiku sudah jelas lebih tinggi daripada Bendi dalam setiap pelajaran. Tetapi aku berujung di dalam kubangan timah, sedangkan Bendi sendiri menempati kantor pemerintahan yang fasilitasnya bisa dianggap jauh di atas warga Belitung. Kurasa hal itu merupakan faktor keberuntungan.
                Pikiranku tak henti – hentinya membayangkan Bendi yang ingin memperkaya dirinya. Terbayang dirinya menyelipkan lembaran merah yang tertumpuk diatas mejanya ke dalam sakunya sendiri. Hatiku langsung panas membayangkan hal tersebut. Betapa beruntungnya menjadi Bendi, dengan mudah ia bisa mendapat uang kapanpun saja  ia mau. Tidak sepertiku, yang harus kerja keras untuk mendapat sepeser uang. Aku melanjutkan sisa pekerjaanku dengan kepala panas.
                Aku baru diperbolehkan pulang pada pukul delapan malam. Masih dipenuhi dengan pikiran-pikiran buruk mengenai Bendi, aku menyusuri jalanan Belitung yang dipenuhi oleh pegawai perusahaan timah yang sedang kembali ke rumah mereka. Di tengah jalan, aku berpapasan dengan beberapa pegawai kantoran, salah satunya adalah Bendi sendiri, yang sedang bercanda – canda dengan temannya. Aku memandangnya dengan jijik. Menelaah bagian sakunya, aku menemukan sedikit gembungan di sakunya. Sudah kuduga, ia melakukan tindakan kotor itu. Tiba-tiba, sesuatu terpintas di pikiranku. JIka ia bisa, kenapa aku tidak?
                Pukul dua belas malam, waktu paling aman untuk menjarah rumah penduduk. Cukup lima ratus ribu dan semua kebutuhanku akan tertambal oleh uang itu. Bayangan mempunyai parabola sudah memenuhi pikiranku. Dengan penuh kehati-hatian, aku meninggalkan rumah dengan topeng hitam menutupi wajahku. Jangan sampai kepergianku ini diketahui oleh siapapun.
Seraya mengasah-asah golok yang aku bawa, aku memperhatikan rumah – rumah. Mencari-cari target yang bisa kujadikan tumbal kekayaanku. Kakiku sakit akibat menapak pada jalan yang belum diaspal, tetapi aku tetap   Setelah beberapa kali memperhatikan, akhirnya aku memutuskan untuk menjarah rumah mewah yang sunyi. Dengan pelan aku mendekati rumah itu. Beruntung rumah di Belitung kebanyakan tidak memiliki pagar, sehingga aku bisa masuk ke dalamnya dengan mudah. Pintu rumah pun tidak dikunci, minim sekali sekuritinya.
Masih dengan langkah yang sangat pelan, aku menelusuri bagian rumah itu. Ruang tidurnya ditempati oleh sepasang suami istri. Selain itu, tidak ada ruang tidur lagi. Aku berasumsi bahwa mereka tidak punya anak.
Aku memasuki ruang tidur mereka dengan sangat pelan. Ketika aku yakin bahwa aku tidak terdengar, aku mulai menggeledah tanpa henti. Lemari, tas, barang – barang pribadi kuperiksa. Namun aku tidak menemukan apapun. Tanpa sadar, tanganku menyentuh benda terkutuk yang mengawali malapetaka tanpa ujung yang menimpaku. Sebuah vas bunga, yang terjatuh akibat sentuhanku. Maka tak dapat diragukan lagi, vas bunga tersebut jatuh ke lantai dan….. PRANG! Suara vas bunga  memecahkan keheningan yang melindungi diriku. Dalam hitungan detik, jeritan melengking menyerang sistem pendengaranku. Sang suami tanpa pikir panjang langsung menyerangku dengan tangan kosong. Meskipun aku lebih unggul karena terdapat golok yang runcing di genggamanku, entah kenapa tanganku seperti tidak mau mengikuti perintahku. Ini pertama kalinya aku diserang dan aku tidak siap dengan keadaan ini.
Tepat ketika sang suami mendekat, aku menghindar.Saat itulah aku melihat wajahnya.
“Bendi!”Pekikku pelan. Sang suami yang ternyata adalah Bendi itu terhenyak, kemudian ia berhenti menyerang. Tidak mau mengambil resiko lagi, aku segera berlari keluar. Namun sang istri yang tidak memiliki hubungan apapun denganku langsung menjeritkan satu kata yang mengarah pada penangkapanku
“Pencuri!Pencuri!”Jeritnya dengan sangat keras. Aku berlari sekuat tenaga,tetapi rupanya kecepatanku tidak sebanding dengan kecepatan kaki penduduk desa yang mengejarku seraya memukulkan pemukulnya ke arah langit.
Tentu saja tidak lama setelah jeritan itu membelah langit, aku ditangkap. Tidak lupa mereka memukuli dan menyakitiku terlebih dahulu hingga aku babak belur. Sebelum dunia menghitam dari pandanganku, seberkas siluet yang menyerupai Bendi terlihat memandangku dengan dingin.Hingga kemudian semua menghilang, perasaan bahwa dia menatapku masih terasa sangat kuat.
***
Aaah, malam yang membawa malapetaka itu….. sepertinya sudah lama sekali. Setelah itu aku disidang dan dihukum penjara selama sepuluh tahun, ataupun denda sepuluh juta,yang tentu saja tidak mungkin aku bayar.
Tidak lama setelah itu, orang yang kukenal sebagai atasan Bendipun ikut masuk ke penjara ini. KPK baru saja mengungkap kasus korupsinya. Meskipun kejahatan yang ia lakukan jauh lebih berat daripada kejahatan yang aku lakukan,namun ia hanya mendapat hukuman selama satu tahun.Bahkan selnya pun tidak sekumuh selku.Benar –benar ketidakadilan yang nyata.
***
Satu tahun berlalu dan tidak kulihat tanda – tanda Bendi, kelihatannya hanya atasannya saja yang tertangkap basah. Meskipun begitu, aku masih menunggu kedatangan Bendi ke dalam sel kumuh ini.
 Harapanku pupus seketika ketika masa hukuman sang atasan selesai. Karena yang menjemputnya adalah istrinya dan……Bendi.Ia melewati selku dengan tatapan yang sangat dingin. Tatapannya bagaikan mengisyaratkan bahwa aku hanya sekedar narapidana yang ia tidak kenal. Narapidana yang ia benci.
“Kamu duluan saja, aku ada urusan sebentar.” Kata Bendi kepada istri sang atasan. Ia mengangguk dan pergi meninggalkan Bendi. Sementara itu Bendi mendekati selku.
“Puas dengan ini, hei pencuri?” Sindir Bendi. Senyum sinis menghiasi wajahnya. Aku hanya terdiam bisu.Selama beberapa saat, keadaan menjadi sunyi sebelum akhirnya ia berkata dengan keras.
“Baiklah kalau begitu, membusuklah disini selamanya jika itu maumu!” Ia pergi dari selku.
“Tunggu!” ucapku secara refleks. Ia menoleh kepadaku dan kembali memberikan tatapan dinginnya
“Baru mau bicara sekarang, heh, tikus selokan?” Sindir Bendi lagi. Mengacuhkan semua itu, aku melontarkan pertanyaanku
“Bagaimana caranya?” tanyaku
“Cara apa maksudmu?” tanya Bendi lagi.
“Mengambil uang negara tanpa tertangkap?”Tanyaku langsung tanpa basa basi dengan optimisme yang sangat kuat,bahwa ia akan terkejut dengan pernyataanku, dan memintanya untuk tidak memberitahu polisi.Namun yang kulihat darinya adalah seringai yang menyeramkan, diikuti oleh bisikan halus yang membuatku bergidik.

“Kamu masih amatir dalam pencurian.” Ia kemudian melangkah pergi dari selku, meninggalkanku dalam keadaan bisu tanpa kata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar