Antara Aku dan Dia
oleh Hanif Saifurahman
Andai
aku bisa menempati posisinya yang entah kenapa bisa mendapat keringanan.
Padahal aku yakin kalau hidupku lebih merana darinya. Namun, justru ia yang
mendapat keringanan. Penduduk kasta atas. Entah kenapa tiba tiba pikiranku
dipenuhi oleh bawahannya. Temanku sekaligus musuhku, saat aku bercakap
dengannya yang membahas tentang sesuatu mengarahkanku pada malam yang membawaku
ke sel ini.
***
“Aku ingin uang lebih banyak, Fir!”
Kata Bendi ketika kita sedang minum bersama di sebuah warung kopi. Hatiku
terlonjak kaget mendengarnya. Aku kira Bendi sudah mendapat penghasilan yang
jika dibandingkan denganku bagaikan langit dan bumi.
“Ben,apa kamu masih belum puas dengan
apa yang kamu dapat?” Tanyaku dengan tajam. Ia menjawabnya dengan gelengan
singkat.
“Belum cukup, Fir! Dari dulu aku sudah
menginginkan yang namanya mobil, tapi sampai sekarang belum dapat juga.
Sedangkan atasanku, baru beberapa bulan saja, sudah beli mobil baru.” Lanjutnya
dengan sengit. Belum cukup? Setidaknya ia sudah bisa memenuhi kebutuhan
keluarganya. Sedangkan aku sendiri masih harus mengorbankan impianku untuk
membeli parabola yang sudah lama kuidamkan untuk memenuhi kebutuhan keluargaku.
Pembicaraan
kami tidak berlanjut lagi karena handphone
Bendi berbunyi. Ia segera pamit kepadaku dan berlari ke kantornya. Aku
bangkit dari kursiku dan keluar dari
warung kopi menuju pertambangan timah. Waktu sudah menunjukkan pukul satu
ketika aku datang, menandakan bahwa waktu istirahatku sudah berakhir. Aku
mengambil peralatan pertambanganku dan mulai menambang.
Beginilah
kehidupan di Belitung. Mereka yang tidak beruntung mendapat pertambangan,
sedangkan yang beruntung mendapatkan kantor mewah nan nyaman.Aku dan Bendi
sama–sama bersekolah di tahun dan sekolah yang sama. Nilaiku sudah jelas lebih
tinggi daripada Bendi dalam setiap pelajaran. Tetapi aku berujung di dalam
kubangan timah, sedangkan Bendi sendiri menempati kantor pemerintahan yang
fasilitasnya bisa dianggap jauh di atas warga Belitung. Kurasa hal itu
merupakan faktor keberuntungan.
Pikiranku
tak henti – hentinya membayangkan Bendi yang ingin memperkaya dirinya.
Terbayang dirinya menyelipkan lembaran merah yang tertumpuk diatas mejanya ke
dalam sakunya sendiri. Hatiku langsung panas membayangkan hal tersebut. Betapa
beruntungnya menjadi Bendi, dengan mudah ia bisa mendapat uang kapanpun saja ia mau. Tidak sepertiku, yang harus kerja
keras untuk mendapat sepeser uang. Aku melanjutkan sisa pekerjaanku dengan
kepala panas.
Aku
baru diperbolehkan pulang pada pukul delapan malam. Masih dipenuhi dengan pikiran-pikiran buruk mengenai Bendi, aku menyusuri jalanan Belitung
yang dipenuhi oleh pegawai perusahaan timah yang sedang kembali ke rumah mereka.
Di tengah jalan, aku berpapasan dengan beberapa pegawai kantoran, salah satunya
adalah Bendi sendiri, yang sedang bercanda – canda dengan temannya. Aku
memandangnya dengan jijik. Menelaah bagian sakunya, aku menemukan sedikit
gembungan di sakunya. Sudah kuduga, ia melakukan tindakan kotor itu. Tiba-tiba,
sesuatu terpintas di pikiranku. JIka ia bisa, kenapa aku tidak?
Pukul
dua belas malam, waktu paling aman untuk menjarah rumah penduduk. Cukup lima
ratus ribu dan semua kebutuhanku akan tertambal oleh uang itu. Bayangan
mempunyai parabola sudah memenuhi pikiranku. Dengan penuh kehati-hatian, aku
meninggalkan rumah dengan topeng hitam menutupi wajahku. Jangan sampai
kepergianku ini diketahui oleh siapapun.
Seraya mengasah-asah golok yang
aku bawa, aku memperhatikan rumah – rumah. Mencari-cari target yang bisa
kujadikan tumbal kekayaanku. Kakiku sakit akibat menapak pada jalan yang belum
diaspal, tetapi aku tetap Setelah beberapa kali memperhatikan, akhirnya
aku memutuskan untuk menjarah rumah mewah yang sunyi. Dengan pelan aku
mendekati rumah itu. Beruntung rumah di Belitung kebanyakan tidak memiliki
pagar, sehingga aku bisa masuk ke dalamnya dengan mudah. Pintu rumah pun tidak
dikunci, minim sekali sekuritinya.
Masih dengan langkah yang sangat
pelan, aku menelusuri bagian rumah itu. Ruang tidurnya ditempati oleh sepasang
suami istri. Selain itu, tidak ada ruang tidur lagi. Aku berasumsi bahwa mereka
tidak punya anak.
Aku memasuki ruang tidur mereka
dengan sangat pelan. Ketika aku yakin bahwa aku tidak terdengar, aku mulai
menggeledah tanpa henti. Lemari, tas, barang – barang pribadi kuperiksa. Namun
aku tidak menemukan apapun. Tanpa sadar, tanganku menyentuh benda terkutuk yang
mengawali malapetaka tanpa ujung yang menimpaku. Sebuah vas bunga, yang
terjatuh akibat sentuhanku. Maka tak dapat diragukan lagi, vas bunga tersebut
jatuh ke lantai dan….. PRANG! Suara vas bunga
memecahkan keheningan yang melindungi diriku. Dalam hitungan detik,
jeritan melengking menyerang sistem pendengaranku. Sang suami tanpa pikir
panjang langsung menyerangku dengan tangan kosong. Meskipun aku lebih unggul
karena terdapat golok yang runcing di genggamanku, entah kenapa tanganku
seperti tidak mau mengikuti perintahku. Ini pertama kalinya aku diserang dan
aku tidak siap dengan keadaan ini.
Tepat ketika sang suami
mendekat, aku menghindar.Saat itulah aku melihat wajahnya.
“Bendi!”Pekikku pelan. Sang
suami yang ternyata adalah Bendi itu terhenyak, kemudian ia berhenti menyerang.
Tidak mau mengambil resiko lagi, aku segera berlari keluar. Namun sang istri
yang tidak memiliki hubungan apapun denganku langsung menjeritkan satu kata
yang mengarah pada penangkapanku
“Pencuri!Pencuri!”Jeritnya
dengan sangat keras. Aku berlari sekuat tenaga,tetapi rupanya kecepatanku tidak
sebanding dengan kecepatan kaki penduduk desa yang mengejarku seraya memukulkan
pemukulnya ke arah langit.
Tentu saja tidak lama setelah
jeritan itu membelah langit, aku ditangkap. Tidak lupa mereka memukuli dan
menyakitiku terlebih dahulu hingga aku babak belur. Sebelum dunia menghitam
dari pandanganku, seberkas siluet yang menyerupai Bendi terlihat memandangku
dengan dingin.Hingga kemudian semua menghilang, perasaan bahwa dia menatapku
masih terasa sangat kuat.
***
Aaah, malam yang membawa
malapetaka itu….. sepertinya sudah lama sekali. Setelah itu aku disidang dan
dihukum penjara selama sepuluh tahun, ataupun denda sepuluh juta,yang tentu
saja tidak mungkin aku bayar.
Tidak lama setelah itu, orang
yang kukenal sebagai atasan Bendipun ikut masuk ke penjara ini. KPK baru saja
mengungkap kasus korupsinya. Meskipun kejahatan yang ia lakukan jauh lebih
berat daripada kejahatan yang aku lakukan,namun ia hanya mendapat hukuman
selama satu tahun.Bahkan selnya pun tidak sekumuh selku.Benar –benar
ketidakadilan yang nyata.
***
Satu tahun berlalu dan tidak
kulihat tanda – tanda Bendi, kelihatannya hanya atasannya saja yang tertangkap
basah. Meskipun begitu, aku masih menunggu kedatangan Bendi ke dalam sel kumuh
ini.
Harapanku pupus seketika ketika masa hukuman
sang atasan selesai. Karena yang menjemputnya adalah istrinya dan……Bendi.Ia
melewati selku dengan tatapan yang sangat dingin. Tatapannya bagaikan
mengisyaratkan bahwa aku hanya sekedar narapidana yang ia tidak kenal.
Narapidana yang ia benci.
“Kamu duluan saja, aku ada
urusan sebentar.” Kata Bendi kepada istri sang atasan. Ia mengangguk dan pergi
meninggalkan Bendi. Sementara itu Bendi mendekati selku.
“Puas dengan ini, hei pencuri?”
Sindir Bendi. Senyum sinis menghiasi wajahnya. Aku hanya terdiam bisu.Selama
beberapa saat, keadaan menjadi sunyi sebelum akhirnya ia berkata dengan keras.
“Baiklah kalau begitu,
membusuklah disini selamanya jika itu maumu!” Ia pergi dari selku.
“Tunggu!” ucapku secara refleks.
Ia menoleh kepadaku dan kembali memberikan tatapan dinginnya
“Baru mau bicara sekarang, heh,
tikus selokan?” Sindir Bendi lagi. Mengacuhkan semua itu, aku melontarkan
pertanyaanku
“Bagaimana caranya?” tanyaku
“Cara apa maksudmu?” tanya Bendi
lagi.
“Mengambil uang negara tanpa
tertangkap?”Tanyaku langsung tanpa basa basi dengan optimisme yang sangat
kuat,bahwa ia akan terkejut dengan pernyataanku, dan memintanya untuk tidak
memberitahu polisi.Namun yang kulihat darinya adalah seringai yang menyeramkan,
diikuti oleh bisikan halus yang membuatku bergidik.
“Kamu masih amatir dalam pencurian.”
Ia kemudian melangkah pergi dari selku, meninggalkanku dalam keadaan bisu tanpa
kata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar