Rabu, 24 Februari 2016

Hakikat Retorika

1.    Hakikat Retorika
Sebagai sebuah disiplin ilmu yang telah mengalami perjalanan panjang  dan telah mengalami  pasang  surut   dalam  perkembangannya. Akibat dari hal tersebut, hakikat dan definisi mengenai retorika pun mengalami perkembangan dari waktu ke waktu.


Secara tradisional, retorika yang berasal dari bahasa Yunani “rhetor” didefinisikan sebagai ilmu tentang seni berpidato atau seni berbicara di depan publik, sebuah seni atau teknik membujuk/merayu orang lain. Hal ini terungkap dari beberapa definisi yang dikemukakan oleh Isocrates, Plato, Aristoteles, Cicero, dan Quintilian. Isocrates sejak 350 tahun SM mengatakan bahwa retorika sebagai “the science of persuasiion” (ilmu untuk mempengaruhi atau mempersuasi),  Plato mengatakan retorika adalah “art of enchanting the soul.” (seni mempeseona/menenangkan jiwa orang lain). Aristoteles mengatakan retorika adalah the faculty of discovering in any particular case all of the available means of persuasion.” (fakultas yang menemukan semua sarana persuasi yang tersedia dalam kasus tertentu). Sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Plato dan Aristoteles, Cicero, mengatakan bahwa retorika is one great art comprised of five lesser arts: inventio, disposition, elocution, memoria, and pronunciation.”  Rhetoric is speech designed to persuade.” (Retorika adalah satu seni yang besar yang terdiri dari lima unsur seni di dalamnya yaitu inventio, dispositio, elocutio, memoria, dan pronounciatio. Retorika adalah pidato yang dirancang untuk membujuk). Demikian halnya dengan apa yang dikatakan oleh Quintilian yang mendefinisikan retorika sebagai seni berbicara dengan baik dan dikatakannya juga bahwa orang yang baik adalah pembicara yang baik, “Retoric is the art o speaking well” or “...good man sepeaking well”.[1]
Pada era modern atau setelah abad ke-18 seiring dengan ditemukannya mesin cetak dan berkembang pesatnya tradisi tulisan, retorika pun mengalami perkembangan pendefinisian. Jika sebelumnya retorika lebih menitikberatkan pada seni berbicara di depan umum atau seni menyampaikan ide secara lisan di hadapan publik menjadi seni atau kemampuan untuk menyampaikan pikiran dalam bentuk bahasa tulis agar dapat dibaca oleh orang banyak. Dengan demikian, telah terjadi pergeseran atau lebih tepatnya perkembangan kajian studi retorika dari yang semula lebih menitikberatkan pada kemampuan berbicara saja, kini kajian retorika selain pada kajian kemampuan berbicara juga pada kajian bahasa tulis.
Beberapa pengertian retorika pada era modern sebagaimana dikemukakan oleh beberapa tokoh yang mendalami studi retorika di antaranya adalah seperti yang dikemukakan George A. Kennedy yang mengatakan retorika sebagai suatu energi yang menyatu pada emosi dan pikiran yang ditularkan atau disampaikan dengan sistem tanda,  termasuk bahasa, kepada orang lain untuk tujuan mempengaruhi  keputusan atau tindakannya , “the energy inherent in emotion and thought, transmitted through a system of signs, including language, to others to influence their decisions or actions.” [2]
Selanjutnya, pengertian retorika dijelaskan oleh James A. Herrick. Herrick  mengatakan bahwa seni retorika sebagai sebuah studi sistematis dan praktek ekspresi simbolik yang efektif yang disengaja. Efektif berarti mencapai tujuan yang diharapkan dari simbol yang digunakan oleh pengguna. Adapun tujuan tersebut berupa persuasi, kejelasan, keindahan, atau saling pengertian. Seni retorika dapat membuat simbol (bahasa) yang digunakan lebih persuasif, lebih indah, mudah diingat, lebih kuat, bijaksna, jelas, dan dengan demikian lebih menarik. Dengan demikian, dikatakan oleh Herrick bahwa retorika adalah seni dalam menggunakan simbol yang efektif.
       Art of rhetoric as the systematic study and intentional practice of effective symbolic expression. Effective here will mean achieving the purposes of the symbol-user, whether that purpose is persuasion, clarity, beauty, or mutual understanding. The art of rhetoric can render symbol use more persuasive, beautiful, memorable, forceful, thoughtful, clear, and thus generally more compelling. In all of these ways, rhetoric is the art of employing symbols effectively.[3]

Sejalan dengan apa yang didefinisikan oleh George A. Kennedy dan James A. Herrick, Gorys Keraf  mendefinisikan retorika sebagai suatu teknik pemakaian bahasa sebagai seni, baik lisan maupun tertulis, yang didasarkan pada suatu pengetahuan yang tersusun baik.[4] Sejalan dengan apa yang dikemukakan  oleh Keraf, Imam Syafe’i mengemukakan bahwa retorika merupakan seni kemampuan menyatakan pendapat, mengemukakan gagasan, menyampaikan informasi kepada orang lain secara efektif dengan menggunakan bahasa sebagai alatnya baik secara lisan maupun tulis.[5]
Hussein Abdul Raouf menjelaskan bahwa retorika dalam istilah Arab disebut al-balagha yang berarti “mencapai tujuan akhir terhadap apa yang disampaikan”. Lebih lanjut Hussein menjelaskan bahwa albalaghah adalah karakterisasi wacana baik lisan maupun tulisan. Makna ini sebagaimana terungkap dalam Quran surat 4 (An-Nisa) ayat 63,
      Mereka itu adalah orang-orang yang (sesungguhnya) Allah mengetahui apa yang ada di dalam hatinya. Karena  itu, berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka nasihat, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang membekas pada jiwanya.

Dengan demikian, menurut  Hussein, retorika merupakan bakat seni berkomuikasi yang bisa menembus hati dan pikiran petutur (audiens) melalui teks yang efektif secara psikologis dapat mempengaruhi perlaku petutur.[6]
Berdasarkan beberapa pendapat mengenai definisi retorika seperti yang telah dipaparkan di atas, dapatlah penulis tarik kesimpulan mengenai pengertian atau hakikat retorika. Retorika adalah suatu teknik atau seni menggunakan bahasa (keindahan berbahasa) secara efektif baik lisan maupun tulisan yang bertujuan untuk menyampaikan pendapat, mengemukakan gagasan, menyampaikan informasi, mempengaruhi, mengajak, atau membujuk orang lain agar muncul sikap saling pengertian dan mau bersikap serta bertindak sebagaimana yang diharapkan oleh pembicara atau penulis.



[1] Anthony C. Winkler and Jo Ray McCuen,  Rhetoric Made Plain; Third Edition, (New York : Harcourt Brace Jovanovich, Inc., 1978), h. 5.

[2] George A. Kennedy dalam James A. Herrikc, History and Theory of Rhetoric: An Introduction (2nd Editions)  (Allyn & Bacon:2000), hlm. 5.

[3] James A. Herrikc, op.cit. h. 7.

[4] Gorys  Keraf, op., cit., h.3.

[5] Imam Syafe’i, Retorika dalam Menulis, (Jakarta: Dirjen Pendidikan Tinggi, Depdiknas, 1988), h.1.

[6] Hussein Abdul-Raof, Arabic Rhetoric: A Pragmatic Analysis (New York: by Routledge, 2006), hh. 91--92

Tidak ada komentar:

Posting Komentar