Rabu, 24 Februari 2016

FRASE

FRASE
 1. PENGERTIAN

Frase adalah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi unsur-unsur klausa.
Contoh:
Gedung sekolah itu
Yang sedang membaca
Akan pergi

Frase mempunyai dua sifat yaitu:
(1)   Frase merupakan satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih.
(2)   Frase merupakan satuan yang tidak melebihi batas-batas fungsi unsur klausa, maksudnya frase itu selalu terdapat dalam satu fungsi unsur klausa, yaitu S, P, O, PEL, atau KET.



Unsur frase dapat berupa kata atau berupa frase. Yang berupa kata misalnya baju baru. Frase ini terdiri dari dua kata yaitu baju dan baru. Sebaliknya pada frase baju baru anak itu unsurnya berupa frase semua.

Satuan gramatik seperti rumah sakit  dan  lomba tari  tidak termasuk satuan frase melainkan satuan kata yang disebut kata majemuk. Karena kata majemuk memiliki ciri sebagai berikut:
(1)   Salah satu atau semua unsurnya berupa pokok kata.
(2)   Unsur-unsurnya tidak mungkin dipisahkan atau diubah strukturnya.

2. MACAM-MACAM FRASE

A.        Frase Endosentrik dan Frase Eksosentrik

A.1 Frase Endosentris
Frase endosentris adalah frase yang hasil distribusi unsur-unsurnya menghasilkan jenis frase yang sama dengan salah satu atau kedua unsure pembentuknya. Contoh frase buku baru (frase benda) dibentuk dari kata buku (benda) dan kata baru (sifat). Frase suami istri (frsae benda) dari kata suami (benda) dan kata istri (benda)
Frase endosentrik dapat dibedakan menjadi tiga golongan:
(1)   Frase endosentrik yang koordinatif
Frase ini terdiri dari unsur-unsur yang setara, kesetaraannya dapat dibuktikan oleh kemungkinan unsur tersebut dihubungkan dengan kata dan atau atau; contoh:
            Rumah pekarangan
            Suami istri
            Dua tiga (hari)
            Ayah ibu
           
(2)   Frase endosentrik yang atributif
Frase ini terdiri dari  unsur-unsur yang tidak setara, karena itu unsur-unsurnya tidak mungkin dihubungkan dengan kata hubung dan atau atau; contoh:
Pembangungan lima tahun
            Sekolah inpres
            Pekarangan luas
            Orang itu
            Malam ini

(3)   Frase endosentrik yang apositif
Dalam frase ini, salah satu unsur frase apabila dihilangkan tidak merubah maksud atau tujuan dari frase tersebut; contoh:
            Ambarawa, kota Palagan
            Malang, kota apel
            Dwi Andriyani, siswi teladan

A.2. Frase Eksosentris
Frase eksosentris adalah frase yang hasil distribusi unsur-unsur pembentuknya menghasilkan jenis frase yang tidak sama dengan salah satu atau kedua unsur pembentuknya. Contohnya frase di perpustkaan (frase adverbia/keterangan) terdiri dari kata depan di (preposisi) dan perpustakaan (benda). Termasuk ke dalam jenis frase eksosentris adalah frase idiomatis seperti kambing hitam, meja hijau, membanting tulang, dan sebagainya.

B. Frase Nominal, Frase Verbal, Frase Bilangan, Frase Keterangan,dan Frase Depan

         Frase ini didasarkan atas persamaan distribusi dengan golongan atau kategori kata.

1. Frase nominal
Ialah frase yang memiliki distribusi yang sama dengan kata nominal. Persamaan itu dapat diketahui dengan jelas dari contoh berkikut:
            Ia membeli baju  baru 
            Ia membeli baju
Frase baju baru dalm klausa di atas mempunyai distribusi yang sama dengan kata baju, kata baju termasuk dalam ketegori frase nominal, contoh yang lain:
            Mahasiswa lama           
            Gedung sekolah
            Kapal terbang itu           
        
Secara ketegorial, frase nominal mungkin terdiri dari:
a.     N diikuti dengan N, maksudnya frase nominal sebagai UP dikuti dengan frase nominal sebagai UP atua Atr; contoh :
Cincin emas
            Perusahaan batik
            Kapal terbang itu

b.     N diikuti Adj, maksudnya kata atau frase nominal sebagai UP, diikuti kata atau frase Adjektif sebagai Atr;  misal:
            Mahasiswa lama
            Acara terakhir   
Rumah baru

c.     N diikuti Bil, maksudnya terdiri dari kata atau        frase nominal sebagai UP, diikuti frase bilangan atau kata sebagai Atr; misal:
            Petani dua orang
            Telur tiga butir
d.     N diikuti dengan ket, maksudnya frase nominal sebagai UP, diikuti frase keterangan sebagai Atr; misal :
Koran kemarin pagi
Orang  tadi

e.     N diikuti FD, maksudnya terdiri dari  kata atau frase nominal sebagai UP, diikuti frase depan sebagai Atr; misal :
Beras dari Delanggu
Payung dari Ambarawa
Apel dari Malang
Kadal dari Pemalang

f.      N didahului Bil, maksudnya terdiri dari kata atau frase nominal sebagai UP, didahului oleh kata atau frase bilangan sebagai Atr; misal :
Dua kertas kerja
Lima kadal Pemalang
Enam siswa dari Malang

g.     N didahului Sd, maksudnya terdiri dari kata atau frase nominal sebagai UP didahului oleh kata sandang sebagai Atr; misal :
Si Kancil
Si Dwi
Si Liliek

h.     yang diikuti N, maksudnya terdiri dari kata yang sebagai penanda, diikuti kata atau frase nominal sebagai aksisnya; misal :
yang ini
yang itu

i.      yang diikuti V, maksudnya terdiri dari kata yang sebagai penanda, diikuti kata atau frase verbal sebagai aksisnya; misal :
yang akan mengajar
yang sangat hebat
yang bercelana panjang

j.      yang diikuti Bil, maksudnya terdiri dari kata yang sebagai penanda, diikuti kata atau frase bilangan sebagai aksisnya; misal :
yang dua
yang tiga buah
yang kelima puluh

k.     yang diikuti Ket, maksudnya terdiri dari kata yang sebagai penanda diikuti kata atau frase keterangan; misal :
yang kemarin siang
yang tadi

l.      yang dikuti FD, mkasudnya terdiri dari kata yang sebagai penanda diikuti frase depan sebagai aksisnya; misal :
yang dari Jepang
yang ke Ambarawa
yang untuk Febrianto

2. Frase Verbal
Ialah frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata kerja.
Contoh:
Dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru di perpustakaan
Dua orang mahasiswa – membaca buku baru di perpustakaan
Pada kalimat di atas frase sedang membaca mampunyai distribusi yang sama dengan kata membaca.
Contoh yang lain misalnya:
Akan pergi, sudah datang, sering lari, hitam lagi kelam.

3. Frase Bilangan
Ialah frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata bilangan.
Contoh: Dua buah rumah
              Dua – rumah
Selain itu terdapat juga frase bilangan yang terdiri dari kata bilangan disertai kata tambah.
Contoh: Hanya Satu
              Sepuluh  saja

4. Frase Keterangan
Ialah frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata keterangan.
Contoh:
Tadi malam Adin menghadiri rapat
Tadi – Adin menghadiri rapat
Yang termasuk dalam kata keterang yang lain yaitu: kemarin, tadi, nanti, besok, lusa, sekarang.
Dan contohnya dalam frase yaitu:
Kemarin pagi, nanti sore.

5. Frase Depan
Ialah frase yang terdiri dari kata depan sebagai penanda, diikuti oleh kata atau frase sebagai aksisnya.
Contoh: di sebuah rumah
             dengan damai
Frase di sebuah rumah terdiri dari kata depan di sebagai penanda dan frase sebuah rumah sebagai aksisnya.

3. HUBUNGAN MAKNA ANTARUNSUR-UNSUR FRASE

A. Hubungan Makna Antar Unsur-unsur Frase Verbal.
Pertemuan antara unsur-unsur dalam frase menimbulkan makna, dan dari penelitian yang dilakukan, diperoleh hubungan makna sebagai berikut:
1. Penjumlahan
 Contoh: makan dan minum
   hitam lagi kelam
     cantik molek
   2. Pemilihan
       Contoh: besar atu kecil
kaya miskin (kaya atau miskin)
   3. Ragam
       Contoh: mungkin sedang mandi
pasti naik
sanggup mengantarkan
Menyatakan makna kemungkinan, kemampuan, kepastian, keinginan, kesediaan, keharusan, dan keiziinan.
   4. Negatif
       Contoh: tidak malu
belum diputuskan
Kata negatif bukan dipakai untuk menyatakan sangkalan terhadap perbuatan atau keadaan lain, sedangkan kata belum dipakai apabila perbuatan itu akan dilakukan pada waktu yang lain.
   5. Aspek
        Contoh: akan dijual
                      akan menulis buku
         Menyatakan berlangsungnya                                                                                                                                       perbuatan baik itu sedang berlangsung, akan berlangsung, sudah berlangsung, dan sebagainya.
   6. Tingkat
        Contoh: kurang cakap
                       terlalu manis

B. Hubungan Makna Antar Unsur-unsur Frase Nominal.
   1. Penjumlahan
       Contoh: suami (dan) istri
                    pembinaan dan pengembangan
   2. Pemilihan
       Contoh: Febri atau Fahmi
                     ayah (atau) ibu
   3. Kesamaan
       Contoh: Ibu Mega, Presiden RI
                     Teman saya, Dwi
   4. Penerang
       Contoh: pohon rindang
                     binatang buas
   5. Pembatas
      Contoh: jendela rumah
                     anggota OSIS
   6. Penentu atau Penunjuk
       Contoh: mahasiswa yang rajin itu
                     pemilu itu

   7. Jumlah
       Contoh: dua orang murid
                     lima kilogram beras ketan
   8. Sebutan
       Contoh: Dr. Andriyani
                     Kak Hilman

C. Hubungan Makna Antar Unsur Frase Depan.
Kata depan manandai berbagai makna. Diantaranya ialah:
   1. Keberadaan.
       Contoh: di sebuah rumah
   2. Cara
       Contoh: dengan sangat tenang
   3. Permulaan
       Contoh: dari lima
                     sejak tadi pagi

4. PENGGUNAAN FRASE
Frase dapat menggantikan kata sebagai unsur yang membentuk kalimat. Frase benda dapat menjadi unsur subjek atau objek, frase benda menjadi unsur predikat, frase sifat menjadi unsur predikat, dan frase preposisi serta frase keterangan menjadi unsur keterangan. Oleh karena itu, maka:
(1)   Kata-kata yang menjadi unsur sebuah frase tidak boleh dipisahkan dari kesatuannya. Contoh:
à   Mbah Mie / tidak mungkin datang / besok pagi.
à   Tidak mungkin datang / mbah Mie / besok pagi.
à   Besok pagi / mbah Mie / tidak mungkin datang.
(2) Frase-frase yang menjadi unsur perlu-asan frase yang lain harus selalu terletak dekat frase yang diperluasnya.
      Contoh:
à   Tindakan-tindakan teror menyebab-kan para penduduk merasa terancam dengan keluarganya
(3) Di depan subjek tidak boleh ada kata depan atau preposisi, karena subjek tersebut haruslah sebuah kata benda atau frase benda. Contoh:
à   Para penumpang membayar dengan uang pas.

5. FRASE AMBIGU
Salah satu faktor yang menyebabkan sebuah kalimat menjadi ambigu ialah karena terdapat frase yang bermakna ganda. Contoh frase yang ambigu adalah:
à         Ayah ibu saya telah menjadi anggota koperasi.
à         Istri Gubernur yang sakit itu meminjam uang kepada koperasi.

6. TIPE-TIPE HUBUGAN FRASE
Tipe A:kompositum subordinatif substantif.
Kompositum ini tidak mempunyai penghubung berupa partikel atau afiks diantara komponen-komponennya.

Tipe ini mempunyai 19 sub tipe.
Tipe A1:  A bagian dari B
contoh:    Anak tangga
               Biang keladi
               Pantat periuk

Tipe A2: B di-A-kan
Contoh:    lempar cakram
               Cuci otak
               Bina raga

Tipe A3: A  yang di-B-kan
Contoh:    Kambing guling
               Kopi tubruk
               Sambal uleg

Tipe A4: A dengan B
Contoh:    Loncat galah
               Terjun payung
               Tusuk jarum

Tipe A5: A  secara B
Contoh:    Cetak biru
               Loncat indah
               Hukum gantung

Tipe A6: A untuk keperluan B
Contoh:    Tindak lanjut
               Sumpah setia
               Turun minum

Tipe A7: A untuk B
Contoh:    Abu gosok
               Ayam telur
               Rumah makan

Tipe A8: A tempat B
Contoh:    Jalan masuk
               Ruang bedah
               Warung senggol

Tipe A9: A  bersumber pada B
Contoh:    Buah tangan
               Ayah kandung
               Kabar angina

Tipe A10: A ada di B
Contoh:    Bajak laut
               Uang pangkal
               Kapal Laut

Tipe A11: B menerangkan A
Contoh:    Ubi jalar
               Garis lintang
               Bunga rampai

Tipe A12: A memakai B
Contoh:    Nasi telur
               Rem cakram
               Kapal layer

Tipe A13: A menguasai B
Contoh:    Tuan tanah
               Tuan rumah
               Nara sumber

Tipe A14: B berkeadaan A
Contoh:    Salah asuhan
               Tertib nikah
               Wajib militer

Tipe A15: A menghasilkan B
Kompositum  ini juga dapat ditafsirkan A menghilangkan B.
Contoh:    Obat  kuat
               Obat bius
               Obat cacing
               Obat nyamuk

Tipe A16: B terjadi pada A
Contoh:    Musim dingin
               Bulan madu
               Musim durian

Tipe A17: A terjadi pada B
Controh:   Kuliah pagi
               Sembahyang subuh
               Doa pagi

Tipe A18: A berupa B
Contoh:    Utang kepala
               Utang nyawa
               Utang budi
Tipe A19: A bergerak di bidang B
Contoh:    Juru bahasa
               Jago tembak
               Tukang kredit

Tipe B: kompositum subordinatif atributif
Kompositum ini semuanya merupakan kompositum atributif (sebagian besar juga berfungsi secara predikatif). Kompositum terdiri dari 16 sub tipe.
Tipe B1: B dari atau di-X adalah A
Contoh:    Baik budi
               Putus asa
               Tuna susila

Tipe B2: A dari atau di-X adalah B
Contoh:    Kepala dingin
               Mata luyu
               Telinga tipis

Tipe B3: X me-A-kan B atau X ber-A-B
Contoh:    Adu lidah
               Bunuh diri
               Tukar cincin

Tipe B4: X berkeadaan atau melakukan B secara atau dengan A
Contoh:    Buruk sangka
               Salah tafsir
               Salah raba

Tipe B5: X ada dalam keadaan A dalam hal atau dalam hubungan dengan B
Contoh:    Awet muda
               Buta warna
               Siap tempur

Tipe B6: A karena B
Contoh:    Buang air
               Mandi keringat
               Mabuk birahi

Tipe B7: A secara B
Contoh:    Kawin lari
               Mati syahid
               Nikah tamasya

Tipe B8: A sebanyak B
Contoh:    Kembar lima
               Lipat dua
               Istri lima

Tipe B9: A terhadap B
Contoh:    Tahan api
               Kedap air
               Tahan tangan

TipeB10: A serupa B
Contoh:    Bunting kerbau
               Hangat-hangat tahi ayam
               Tua-tua keladi

Tipe B11: A oleh B
Contoh:    Tembus pandang
               Masuk angin
               Banjir uang

Tipe B12: A ke B
Contoh:    Belok kiri
               Pulang kampung
               Turun kandang

Tipe B13: X menjadi B
Contoh:    Jatuh cinta
               Naik haji
               Masuk Islam

Tipe B14: X me-A sehingga Y B
Contoh:    Pukul mundur
               Bumi hangus
               Tembak mati

Tipe B15: X A Y dalam keadaan B
Contoh:    Tahu beres
               Tahu jadi       
               Tangkap basah

Tipe B16: A dari X mempunyai ciri B
Contoh:    Kepala batu
               Otak udang
               Mata keranjang

Tipe C: Kompositum koordinatif
Kompositum ini punya urutan komponen yang tetap dan tidak dapat dibalikkan atau ditukar posisinya. Tipa nii mempunyai 7 sub tipe.
Tipe C1: A sinonim B
Contoh:    Ijab kabul
               Bujuk rayu
               Pucat pasi

Tipe C2: A dan B saling melengkapi
Contoh:    Asal usul
               Zakat fitrah
               Lemah gemulai

Tipe C3: A beroposisi dengan B
Contoh:    Kawin cerai
               Suka duka
               Panas dingin

Tipe C4: A pria B wanita
Contoh:    Mama papa
               Putra putri
               Hadirin hadirat

Tipe C5: A lebih tua daripada B
Contoh:    Anak cucu
               Tua muda
               Kakak adik
Tipe C6: B akibat A
Contoh:    Tua bangka
               Merah padam
               Harum mewangi

Tipe C7: A lalu B
Contoh:    Tabrak lari
               Peluk cium
               Tokcer

Tipe D: Kompositum berproleksem
Kompositum ini mencakup gabungan proleksem dan leksem
Contoh:   
               Anasional
               Asusila
              
               Ekaprasetya
               Ekasila

Tipe E: kompositum sintesis.
Kompositum ini terjadi dari bentuk yang secara morfologis terikat dan bentuk yang secara morfologis bebas, atau bentuk terikat dan bentuk terikat.
Contoh:   
> Kompositum bentuk terikat + bentuk bebas
               Geofisika
               Dekameter
> kompositum bentuk terikat + bentuk terikat
               eksogami
               psikologi
              
secara semantis tipe E ini ada 2 jenis, yaitu hubungan koordinatif dan subkoordinatif


Keterangan:
N=Nomina
V = verba
Bil = bilangan
Atr. = atribut
UP = Unsur Pusat
FD = Frase depan
Sd = Kata sandang


Daftar Pustaka

Ramlan,M. 1987. Sintaksis. Yogyakarta: CV


Kridalaksana,Harimurti.1989.Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia.Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar