Ayah…,
Ibu…, Aku Sungguh Mencintaimu
Oleh
Ratih
“Anne, are you sure about what you’re going
to do?”
“I’m sure my honey,…. Definitely
sure…”
“But Anne, Dad’s so mad with you
because of…”
“I know Anna, I know, so that’s why…
I do this. Come on Anna, come with me…”
“I, I can’t. You do know I can’t.
I…”
“That’s fine. But I believe in you.
Please, take this book with you. And read it all. Actually, I write this for
myself. But, I want you to read it. So that you will understand. I hope so…
Well, it’s time for me to go. I love you all. Bye…”
“I love you too, Anne…”
***
Terdapatlah
suatu keluarga di suatu perumahan di sudut kota Dublin .
Itulah kami, The Grant Family. Ayahku
George Grant, adalah seorang pendeta di Gereja St. Maria yang letaknya hanya
tiga blok dari rumah. Ibuku Sandra ,
ia adalah seorang ibu rumah
tangga yang ideal bagiku, aku sangat dengan masakannya. Aku si bungsu dari tiga
bersaudara.
Yang paling tua ialah Joan
Grant, just call her Joan. Umurnya 18 tahun. Musim gugur nanti ia akan
melanjutkan sekolahnya di Sekolah
Biarawati St. Ricci di Wicklow. Yeah. Joan memang
seorang biarawati sejati. Ia pintar, cantik, punya rambut coklat yang lurus
sebahu, dan pandai menyanyi karena memang dia adalah seorang penyanyi gereja
yang disukai oleh orang-orang.
Kakakku yang kedua, JoAnna
Grant. Ia, menurutku ia hampir mirip dengan Joan; cantik, pintar, juga berambut
panjang sebahu, dan satu lagi; feminim. Beda denganku saudara kembarnya,
JoAnne, JoAnne Grant.
Ya, itu namaku. Aku ini
tidak feminim alias tomboy, rambutku pendek, mirip dengan Toper Grace, paling
tidak begitu kata orang. Kalau Anna (begitu aku memanggil JoAnna) paling suka
pakai overall skirt, atau rok tanggung dengan kemeja cantiknya; aku lebih
memilih pakai kemeja untuk anak
laki-laki yang fit dengan badanku dan memakai jeans belel favoritku. Hm, kalau
dibilang, aku ini mirip Vie di serial komik Family. Tapi bagi kami itu bukan
masalah. Kami selalu bahagia dengan kehidupan yang kami jalani. Sampai saat
itu, saat di mana sesuatu mengubah segalanya, terutama mengubah diriku untuk
mendapatkan kehidupan yang selama ini aku cari dan aku impikan. Sebuah
kedamaian yang sejati.
***
Aku
bersekolah di Dublin
High School . Kami (Anna
dan aku) duduk di kelas 11, tapi kami tidak sekelas. Hari ini lain dengan
biasanya, karena kata Mrs. Tania sang guru matematika yang juga wali kelasku,
ada murid baru pindahan dari Inggris. Ketika ia datang, teman-teman kelasku
sempat terkejut begitu juga aku. Ternyata anak itu berbeda. Ia lain dari yang
lain, ia memakai sesuatu yang katanya disebut… hijab. She,… She’s a Moslem. Her
name is Aisha; Aisha Khairunnisaa. Entah kenapa aku suka nama itu.
Belum
pernah ada orang Islam di sekolahku selain Aisha. Kalau Buddha, Shinto, Tao or Jew… those are fine, but Islam?
Benar-benar sesuatu yang ‘asing’ bagi kami. My
father always said that Islam is just like a Barbarian. They like to destroy
everything what they want. They are war lovers. Ya, hanya itulah yang aku
ketahui tentang Islam. Oh ya, aku juga pernah membaca Al Islam karya Alfred
Geom yang bukunya ada di ruang kerja Ayah. Itu juga menceritakan tentang Islam
dengan nada yang tak jauh berbeda.
Aku
ingin sekali mengenal Aisha. Aku ingin dekat dengannya. ‘Cause I think she’s
wonderful and interesting. But I have no brave to do it. Apalagi teman-temanku
(dan Anna tentunya) selalu memperingatkanku untuk paling tidak sedikit
menjauhinya. Tapi, pada suatu hari, aku ingat hari itu hari Kamis, aku duduk di
sebelahnya. Sebenarnya aku berusaha mati-matian untuk bisa mendapatkan tempat
duduk itu. Ternyata aku tidak bodoh dalam berakting he he…Kemudian aku menjadi
partnernya dalam tugas Bahasa Inggris untuk membuat laporan tentang Revolusi
Industri yang harus dikumpulkan akhir minggu ini. Aku senang sekali, akhirnya
keinginanku untuk dekat dengannya dapat tercapai. I hope so.
“Hi,
Aisha!” aku mencoba menyapanya.
“Hi,
JoAnna…” katanya dengan sedikit gugup.
“I’m
JoAnne, not JoAnna,” aku membetulkannya.
“Oh,
sorry…. JoAnne”
“That’s
fine! Aku memang berbeda dengan JoAnna. She’s really like a girl next door, not
like me. Entah mengapa semakin kami tumbuh dewasa kami semakin terlihat
berbeda. Semua orang dapat membedakan kami. Hanya saja mereka sulit membedakan
nama kami.” Jelasku panjang lebar. Ia tersenyum.
“The first time I saw you, I thought you
were a boy” , katanya polos. Aku tertawa.
“Ya,
semua orang pun begitu. Mereka mengira saudara kembar JoAnna adalah seorang
laki-laki.”
“So,
JoAnne…”
“Call
me Anne, itu terlihat lebih santai bukan?” potongku.
“Ok
Anne, apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanyanya. Kemudian kuusulkan untuk
mencari informasi yang diperlukan di perpustakaan. Aisha pun menyetujuinya.
Setelah semuanya yang dibutuhkan telah terkumpul, bel pun berbunyi.
“Aisha,
bagaimana kalau sore ini aku ke rumahmu. Kita selesaikan tugas ini di rumahmu.”
Kataku sambil berjalan keluar perpustakaan bersamanya.
“Why
not? I’d love to… tapi rumahku cukup jauh dari sini. Rumahmu di mana?”
“Rumahku
tidak jauh dari sini. We can go there on
foot, just a several minutes. Tapii aku ingin sekali ke rumahmu.
Bagaimana?”
“Kenapa?
Bukankah rumahmu lebih dekat?”
“Tak
apa. Lagipula aku sudah lama tidak jalan-jalan. Aku ingin mencari udara segar
saja. Ok?” Maaf, aku terpaksa berbohong kepadamu, Aisha. Karena ini
satu-satunya kesempatan bagiku untuk bisa dekat denganmu.
“Ok.
Kutunggu kau di pintu gerbang setelah bel pulang berbunyi. Bye..”
***
Bel
pulang berbunyi. Aku buru-buru mengepakkan buku-bukuku ke dalam tas dan segera
pergi. Anna sedang membuka lokernya ketika aku menemuinya.
“Anna,
I have to go to my friend’s house now. Immediately! Maybe I will be late at
home, but don’t worry. See ya!” lalu aku buru-buru pergi meninggalkannya yang
termangu melihatku pergi begitu saja.
“Anne!!
Wait!!! Anne….”
***
Kami
berjalan menyusuri kota
tersebut, kemudian pergi ke bawah tanah dan menaiki subway. Selama perjalanan
kami berbicara tentang Dublin
High School dan bak
seorang pemandu aku menjelaskan segalanya tentang seluk-beluk sekolah kami itu.
Kami lalu turun saat kereta berhenti di stasiun ketiga. Lalu kami keluar dari
stasiun dan kurang dari setengah jam kami sampai di rumah Aisha dengan berjalan
kaki.
Rumah
keluarga Aisha sangat indah. Rumahnya tidak begitu besar, dan tidak melebar
tetapi memanjang. Sangat sederhana. Begitu masuk ke dalam rumahnya aku langsung
disambut oleh senyuman dan sapaan yang sangat ramah oleh keluarganya, seperti
menyambut keluarga jauh saja.
Aku
diperkenalkan dengan ibunya Aisha, dua orang kakaknya, satu seorang laki-laki
bernama Abror, ia adalah anak pertama. Dan satunya lagi seorang perempuan
bernama Rumman, ia anak kedua. Aisha merupakan anak ketiga dari empat
bersaudara. Anak yang terakhir bernama Bisyri, he’s a very funny toddler. Lalu kutanya kepada Aisha tentang
ayahnya, dan ia memberitahuku bahwa ayahnya bekerja di Islamic Centre di Maryland,
Inggris. Dan aku hanya mengangguk saja, mengiyakan.
Kamar
Aisha terletak di lantai dua. Di lantai dua ada sekitar enam ruang, tiga di
belakang, yaitu kamar mandi, gudang dan satunya lagi adalah ruang kosong yang
di dalamnya hanya terdapat karpet-karpet kecil, beberapa buku dan tulisan
kaligrafi yang bertuliskan tulisan arab. Mungkin itu tempat mereka beribadah.
Di depan ada tiga buah kamar yang mengelilingi ruang tv. Dan kamar Aisha
terletak dekat dengan beranda.
Selesai
sudah tugasnya dibuat. Kulirik jam tangan beningku. Hm, masih pukul tujuh.
Sekarang sudah musim akhir panas. Jadi senja pun baru datang.
“Wah,
sudah jam segini ya…” kataku.
“Iya.
Eh Anne, kamu mau susu coklat lagi nggak? Aku ambilkan ya, tunggu sebentar!”
lalu Aisha turun ke bawah. Aku tersenyum. Lalu kupandangi kamarnya. Kulihat
meja belajarnya yang penuh dengan buku pelajaran. Tampaknya ia anak yang rajin.
Kemudian aku berjalan menuju rak bukunya. Tadi aku juga melihat ada beberapa
rak buku di rumahnya yang tentu saja penuh dengan buku. They’re bookaholic. That’s
interesting!
Di
dalam rak buku Aisha kebanyakan buku tentang ilmu pengetahuan, tekhnologi, dan
Islam. Ini dia! Kuambil buku tebal berjudul The
Glorious Quran. Lalu kubuka buku tersebut. Ternyata ini kitab suci mereka.
Untung saja ada terjemahannya dalam bahasa Inggris. Kubuka buku itu begitu
saja, tak peduli halaman berapa yang baru kubuka. Surat Al-Ikhlas / At-Tauhid
(The Unity), revealed at Mecca : “In the name of Allah, the Beneficent, The
Merciful. (1) Say: He is Allah, The one.”
“The
One..?” kataku. Lalu aku terdiam.
“But…”
“Kamu
sedang membaca apa?” tiba-tiba Aisha datang dan mengagetkanku.
“Ah,
ngg … ini … aku hanya ingin tahu sedikit tentang agamamu. I’m sorry…” lalu aku
menunjukkan buku tersebut kepadanya. Sambil menaruh dua gelas susu di meja
belajarnya, Aisha tersenyum.
“Tapi
kamu hebat. Kamu langsung mencari pada sumbernya. That’s good.” Katanya lembut.
“Maksudmu?”
“Banyak
orang tahu tentang agama kami. Tapi kebanyakan dari mereka hanya tahu berita
negatif tentang kami. Karena mereka mendapatkan informasi dari mulut ke mulut.
Tak tahu asalnya dari mana. Menurutmu, jika seseorang ingin tahu tentang
sesuatu, bukankah sebaiknya mereka mencari tahu dari sumbernya?” aku
mengangguk. Ya, memang seharusnya begitu.
“Anne, could you wait for a few minutes.
‘Cause it’s time for me to take my worship to my God.” Lalu aku mengangguk.
Ah, betapa indahnya Islam, pikirku. Di petang hari pun mereka sempat berdoa
secara formal kepada Tuhannya. Mengapa dalam agamaku tidak diwajibkan untuk
begitu ya?
Aku
lalu ingat akan ayat tadi. Buku itu terletak di meja, masih di halaman yang
sama. Aku tercenung. Dengan penuh tanda tanya aku kembali membaca. “(2) Allah, the eternally Besought of all!
(3) He begetteth not nor was begotten. (4) And there is none comparable unto
Him.”
“Yes, it’s true. This all is the truth. But
how can…?” aku ingat. Ingat sekali. Baru akhir minggu kemarin aku
mendapatkan khutbah dari ayahku tercinta tentang ketrinitasan dalam agamaku.
Aku hanya membeo saja ketika mendengar bahwa Yesus itu anak Tuhan. tapi
mengapa? Begitu banyak pertanyaan di benakku. Bahkan aku tidak tahu harus
bertanya tentang apa. Aku terhanyut dalam kebisuan.
Beberapa
menit kemudian Aisha datang. Ia bingung melihatku begitu pucat wajahnya.
“Anne,… what’s wrong?”
“Nothing. Nothing’s wrong.”
“Are you sure? You look so pale!”
“Yes. I’m sure! Aisha, err, can I
borrow this book?”
Aisha lalu memandang kedua mataku. Kami terdiam. Namun kami seperti mengerti
satu sama lain. Aisha tersenyum.
“Yes. Of course you can. With a pleasure!”
***
“I’m home!!!” teriakku ketika aku membuka
pintu rumahku. Ayah sedang membaca koran di kursi kayu tua kesayangannya
bersama ibu yang selalu setia menemaninya.
“Anne, where have you been? You’re so late!”
kata Ibu yang seperti biasa selalu mengawatirkan anaknya itu.
“My friend’s house! Doing some works!”
teriakku sambil menaiki tangga menuju kamarku.
“Sudahlah
jangan terlalu khawatir. Anak itu kan
sudah dewasa”, kata Ayah tanpa berpaling dari korannya.
Selesai
mandi dan makan malam aku langsung menuju ke kamarku dan siap mengambil posisi
untuk tidur! Eits, aku lupa sesuatu. Yap ! Aku
langsung mengambil sebuah buku dari dalam tasku. The Glorious Quran. Tiba-tiba…
“Anne…”
Anna masuk ke kamarku tanpa mengetuk pintu. Buru-buru kusembunyikan buku itu ke
dalam selimutku.
“Hei,
kalau mau masuk jangan lupa ketuk pintu dulu donk! What’s up Honey?”
“Nothing. How’s your homework?”
“Fine.”
“Tadi
kamu ke rumah Aisha ya?”
“Ya,
keluarganya sangat ramah. Aku rasa kamu juga harus ke rumahnya. Nanti aku
kenalkan ya?”
“Ya…”
ucap Anna dengan lirih, nyaris seperti berbisik. Lalu tersenyum tipis, tipis
sekali.
***
Sudah
dua hari aku meminjam buku itu. Hari pertama, aku belum sempat membacanya.
Cukup sulit menemukan waktu dan tempat yang tepat. Maklum, aku takut ketahuan
orang-orang. Terutama keluargaku sendiri. Aku selalu menyimpannya di tas
sekolahku. Baru di hari kedua aku dapat membacanya. Pada istirahat pertama, aku
langsung pergi ke perpustakaan. Berusaha menemukan tempat yang strategis untuk
membaca.
Sekarang
sudah hari kelima aku meminjam buku itu. Aku telah membaca buku itu walau belum
seluruhnya. Selain itu aku juga banyak bertanya kepada Aisha tentang ayat-ayat
yang sulit kumengerti maknanya. Aisha selalu menjawab dengan jawaban yang
memuaskan hatiku. Aku merasa telah mendapatkan kebenaran dan keadilan yang
sejati di dalam buku itu. Aku merasakan bahwa inilah sebenar-benarnya agama,
yaitu Islam. Tapi aku bingung. Apa yang harus kuperbuat sekarang? Aku berpikir
sejenak. Ya, harus kulakukan sekarang juga. Kemudian aku pulang ke rumah.
“Dad, can I come in?” aku membuka pintu
ruang kerja ayahku. Kulihat ia sedang membuka-buka Bible tua miliknya.
“Yes, Honey. Please come in. how’s your
school?” kata Ayahku tanpa mengalihkan pandangannya dari Biblenya.
“Fine, but… err… Can I ask you some
questions?” kataku sedikit gugup. Oh
God, I hope everything’s going to be Ok.
“Yes Dear, what questions?” ia lalu
menutup Biblenya dan memandangku.
“Dad,
ng begini… bukankah Yesus itu di nobatkan menjadi Tuhan ketika Konsili Nicea?”
“Ya.”
“Juga
tentang ketrinitasannya?”
“Betul.”
“Dinobatkan
oleh hanya seorang Kaisar?”
“Itu
juga betul. Dan Kau tahu itu. Tapi apa maksudmu dengan ‘hanya seorang kaisar’?”
“Karena
aku rasa itu semua nonsense, Yah.
Kalau Yesus dinobatkan sebagai Tuhan ketika Konsili Nicea, lalu siapa
tuhan-tuhan sebelumnya yang menciptakan bumii dan langit ini? Siapa yang
menciptakan semua makhluk hidup? Siapa yang menciptakan kaisar yang menobatkan
Yesus? Juga yang menciptakan Yesus itu sendiri? Semua itu nonsense, Yah!”
Plak!
Sebuah tamparan mulus mendarat di pipiku.
“Tutup
mulutmu! Kamu anak kurang ajar! Beraninya kamu berkata begitu!” Ayah tampak
sangat marah. Baru kali ini aku melihat Ayah begitu marah kepada anaknya. Tapi
aku tidak gentar.
“Tentu
saja aku berani. Karena aku ingin tahu akan kebenarannya. Lalu satu lagi, Ayah
bilang Yesus itu adalah anak Tuhan yang dilahirkan oleh Bunda Maria. Kurasa,
tidak mungkin Tuhan mempunyai anak atau dilahirkan dari seorang manusia. Tuhan
tidak bisa disamakan dengan manusia, karena Tuhan adalah Tuhan. yang
menciptakan manusia. Tuhan harus lebih spesial dari manusia!”
“Kurang
ajar! Kamu…!!”
“Apa
Ayah? Aku ini seorang apa? Kenapa Ayah tidak menjawab pertanyaanku? Kenapa Ayah
tidak membenarkan pernyataanku? Kenapa Ayah begitu marah setelah mendengar
pernyataanku? Dan kenapa Ayah malah menamparku?”
“Masuk
ke kamarmu sekarang juga! Kamu tidak akan mendapatkan makan malam! Masuk!!”
kemudian aku pergi menuju kamarku.
Aku
sudah melakukannya. Ya, aku ingin tahu kebenaran tentang agamaku sendiri. Maka
aku menanyakannya kepada ayahku yang juga seorang pendeta yang taat. Tapi
ternyata, inilah jawaban yang kudapat. Aku telah membulatkan tekadku. Aku ingin
masuk Islam!
Esoknya
ketika sampai di sekolah, aku langsung mencari Aisha. Kemarin ayah begitu marah.
Dan aku tidak mendapatkan makan malam. Paginya ayah diam saja, begitu juga ibu.
Tadi Anna pun menanyakan keadaanku. Yah, kubilang saja tidak ada apa-apa.
“Aisha!!”
“Yes, what’s up?” sapa Aisha dengan
lembut. Kutarik lengannya and kubawa ia ke tempat sepi.
“Hari
ini aku ingin ke rumahmu lagi. Penting!”
“Memangnya
ada apa?”
“Nanti
aku beritahu, Ok?” kataku. Aisha diam.
“Kumohon
Aisha!! Please! Ok?!” setelah
beberapa saat akhirnya ia mengangguk. Aku tersenyum.
“Thank’s!
tapi jangan sampai orang lain tahu. Kutunggu kamu di depan stasiun setelah
pulang sekolah ya!”
***
Kereta
bawah tanah membawa para penumpang dengan cepatnya. Aku dan Aisha berdiri di
dekat pintu. Kuceritakan segalanya tentang kejadian kemarin. Tidak ada satu pun
yang kulewatkan. Aisha takjub mendengarkan semuanya. Sampai di rumahnya, ia
membawaku ke kamarnya.
“Anne,
sekarang, setelah semua ini terjadi, apakah kamu menjadi takut?”
“Tidak,
aku sama sekali tidak takut. Dan aku tidak akan menyesal dengan apa yang telah
terjadi.”
“So?”
“Aisha,
aku ingin masuk Islam.” sudah bulat tekadku untuk menyatakan ini. Aisha tersenyum.
“Alhamdulillah.
Lalu bagaimana dengan keluargamu?”
“Entahlah.
Sebenarnya aku ingin mereka juga ikut memeluk Islam. Aku harap aku dapat
membujuk mereka. Terutama Anna…”
“Yang
penting, kuatkan dulu hatimu. Dan teruslah berusaha dan beristiqomah.”
Setelah
itu aku diajak ke ruang tempat keluarga Aisha beribadah. Ruangan itu disebut
mushola. Dan dengan disaksikan keluarga Aisha, aku pun mengucapkan kalimat
syahadat. Lalu aku bersujud syukur kepada Allah, aku pun tidak dapat lagi
membendung tangis haru dan bahagiaku. Aku diberi hijab oleh Aisha dan ibunya,
Aisha pun mengajariku cara memakainya. Dan Aisha juga bilang bahwa Quran yang
dia pinjam itu untukku. Aku bingung bagaimana aku harus mengucapkan terima
kasih kepada mereka semua.
Aku
memberanikan diri untuk pulang ke rumah. Sesampainya di depan rumah aku
terdiam. Sebenarnya aku takut, sangat takut. Allah, lindungi aku! Kubuka pintu
rumah dengan perlahan. Deg! Jantung ini rasanya mau copot. Kulihat mereka
berempat sedang berkumpul di ruang keluarga. Joan dan Anna lah yang pertama
kali melihatku. Mereka terpana.
“Anne…?”
sahut Joan dan Anna berbarengan. Ayah dan Ibu menengok ke arahku. Ibu berteriak
kaget. Dan ayah pun dengan marahnya bangkit dan menghampiriku. Ia ingin
menamparku lagi. Tetapi ibu berusaha menahannya.
“Kamu
anak hina! Siapa yang mengajarimu begini hah? Apakah anak baru itu? Jawab!!
Memang keluarga itu telah membawa kesialan di kota ini…”
“Bukan
salah mereka Ayah! Ini semua atas kehendak Anne sendiri!” Tiba-tiba ayah
langsung saja menghampiriku dan seperti ingin menghajarku lagi. Tapi…
“Sudahlah
Ayah! Hentikan! Hentikaannn!!” Anna berusaha melindungiku dan langsung
membawaku ke kamarku. Joan juga mengikuti kami.
“Kurang
ajar!! Anak sialan! Pergi kamu dari rumah ini!!!”
***
Anna
dan Joan sangat kaget dengan ini semua. Mereka tampak sedih dan terpukul.
Mereka selalu bertanya dengan keyakinanku sekarang ini. sudah kukatakan
berkali-kali pula kepada mereka bahwa aku yakin dengan apa yang telah
kulakukan. Aku tahu, ayah murka kepadaku. Aku tahu itu. Tapi aku tidak gentar.
Malam itu Anna dan Joan tidur bersamaku. Mereka berjaga-jaga takut jika ayah
tiba-tiba menyerangku. Hh, aku ini bak narapidana berbahaya yang kabur dari
penjara saja.
Esoknya,
aku tidak diperbolehkan sekolah oleh ibuku. Katanya, ayah sangat malu jika
orang-orang melihatku begini. Apa kata orang nanti? Anna tetap sekolah dan Joan
tetap menemaniku di kamar. Ibu pun menganggapku seperti orang asing yang tak
pernah ia kenal. Sesungguhnya aku sedih sekali.
Sore
hari, Anna pulang sedikit lebih cepat dari biasanya. Dengan tergesa-gesa ia
lari menuju kamarku.
“Anne,
aku tidak tahu kenapa aku harus melakukan ini. I tell you, Aisha dan
keluarganya tampaknya seperti akan…”
“Akan
apa?” tanyaku tak sabar.
“Aku
tidak tahu bagaimana aku harus menjelaskannya. Mereka akan… akan dituntut.”
Ucapnya dengan lemah.
“Apa
maksudmu?”
“Masyarakat
sekitar, terutama komunitas gereja akan menuntut keluarga itu. Mereka bilang
keluarga itu telah membawa kesialan dan telah merusak kedamaian di kota ini!”
“Itu
semua nonsense!!” ucapku dengan marah. Aku sudah tidak tahan lagi! Allah apa
yang harus aku lakukan? Bantu aku Ya Rabbi.
“Anne,
tenanglah!” kata Joan.
“Bagaimana
aku bisa tenang! Mereka itu saudaraku. Aku tidak bisa tenang melihat saudaraku
ditindas. Aku harus menolong mereka.”
“Lalu
kami ini Kau anggap apa?” tanya Joan.
“Kalian
adalah saudara kandungku yag paling kusayangi. Mereka adalah saudara seagamaku.
Mereka juga orang yang kusayangi.”
“Anne,
tadi Aisha menitipkan ini kepadaku. Katanya untukmu.” Anna memberikan secarik
kertas kepadaku. Kubaca isi kertas itu. Dear
Anne. Assalamualaikum. Semoga rahmat dan berkah Allah selalu menyertaimu,
saudaraku. Anne, kami sekeluarga akan pindah kembali ke Inggris. Tujuan kami
adalah Maryland .
Di sana banyak
saudara seiman kami yang selalu menyayangi kami. Kami pergi karena kami tidak
ingin membuat kekacauan di kota
yang damai ini. Ini adalah alamat kami di sana .
Kami pergi malam ini juga. Love, Aisha. Aku termenung. Akhirnya kuputuskan:
Aku akan pergi!
Aku
langsung mengambil tasku. Kubuka lemariku, kumasukkan beberapa pakaianku ke
dalam tas. Anna menahanku.
“Anne,
apa yang kamu lakukan?”
“Aku
akan pergi. Sudah jelas kemarin ayah ingin aku tinggalkan rumah ini
secepatnya.”
“Anne…”
Anna memelukku. Ia menangis dalam dekapanku. Aku pun tidak dapat menahan air
mataku. Joan membelaiku, dan memeluk kami berdua. Lama sekali.
“Anna, Joan, aku harus pergi. Aku tidak bisa
tinggal lebih lama lagi di rumah ini. Aku tidak ingin membuat kekacauan lagi di
keluarga ini.”
“Anne…”
“Titip
salam buat ayah dan ibu. I love you all
very much, always.” Allah, berikanlah hidayah-Mu kepada keluargaku juga.
Aku sangat menyayangi mereka. Tunjukkan kebesaran-Mu Rabbi. Lindungilah mereka,
dan lindungilah aku ya Allah.
Aku
pergi…
***
Epilog :
Telah
selesai kubaca buku yang Anne berikan kepadaku. Sekarang sudah hari ketiga ia
meninggalkan keluarga ini. Buku ini, adalah buku diary yang kuberikan setahun
yang lalu sebagai hadiah thanks giving. Padahal aku tahu, ia tidak terlalu suka
menulis. Tapi akhirnya, buku ini pun diisi dengan pengalamannya yang sangat
berharga. Anne, bukumu ini sarat akan makna. Sekarang aku mengerti mengapa kau
melakukan ini semua. Di halaman terakhir buku ini terselip secarik kertas,
sebuah surat .
Kubuka surat
itu.
Dear Anna,
Hi
honey, bagaimana kabarmu, Joan, Ayah, dan
Ibu? Aku harap kalian sehat-sehat saja. Ketikakau membaca surat ini, aku
mungkin sudah sampai di Inggris.
Anna,
aku harap kamu sudah mengerti maksudku pergi dari rumah. Kamu sudah membacanya,
bukan? Sebenarnya aku menulisnya hanya untuk pelampiasanku sendiri yang
nantinya bisa dijadikan bahan untuk mengintrospeksi diri. Tapi, saat aku ingin
meninggalkan rumah, entah kenapa aku berikan saja buku ini kepadamu. Padahal
buku ini kan dari kamu, ya? Harapanku, harapanku, setelah kamu membaca buku
ini, kamu dapat mengambil hikmahnya.
Anna,
jadi bagaimana? Apa pendapatmu tentang semua perbuatanku ketika itu sampai sekarang?
Apa pendapatmu tentang kepercayaanku dan agamaku sekarang? Please, jangan
pernah engkau beranggapan buruk dengan agamaku. Kamu tahu, banyak orang di
dunia ini yang tidak beragama Islam mengetahui Islam hanya dari segi
negatifnya. Tapi sungguh! Aku bersumpah atas nama Tuhanku bahwa agamaku ini
agama yang suci dan murni. Aku selalu ingat perkataan Aisha bahwa jika kamu
ingin tahu sesuatu, carilah kebenarannya dari sumbernya. Bukankah sumber
pengetahuan suatu agama itu ada di kitab sucinya? Kumohon Anna, kamu sebaiknya
membaca kitab ini. You’ll find the truth, ‘cause this is the true religion of
God. Trust me.
So,
Anna, aku ingin memberikan buku itu. Ya, The Glorious Quran. Bukalah laci meja
belajarku yang paling atas. Kuncinya aku gantung di samping pintu. Ambillah,
buku itu untukmu. Pelajarilah buku itu baik-baik. Mudah-mudahan dengan izin
Allah kamu akan memahaminya. Insya Allah, kamu akan diberi hidayah olehNya.
Amin.
Sudah
ya. Aku rasa itu sudah cukup. Di halaman depan buku itu (Al-Quran) kutulis alamatku
di Inggris. You can visit me anytime you want. I’ll be waiting for you. Oh ya,
tak perlu kau mengawatirkanku. Aku ini milik Tuhanku. Tuhanku itu Maha
Pemelihara. Aku yakin, Ia akan selalu memelihara ciptaanNya dengan baik.
With
Love,
JoAnne
(sebulan kemudian)
Aku
ragu sejenak. Kutarik napasku dalam-dalam. Kubuka pintu itu. Ayah yang sedang
menonton TV terkejut melihatku.
“Anna….
Kau! Apalagi ini?! Apa yang telah kau lakukan?”
“Ayah,
sudah kubulatkan tekadku. Aku sudah masuk Islam!”
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar