Selasa, 23 Februari 2016

Cerpen_Ayah…, Ibu…, Aku Sungguh Mencintaimu

Ayah…, Ibu…, Aku Sungguh Mencintaimu
Oleh Ratih

            “Anne, are you sure about what you’re going to do?”
            “I’m sure my honey,…. Definitely sure…”
            “But Anne, Dad’s so mad with you because of…”
            “I know Anna, I know, so that’s why… I do this. Come on Anna, come with me…”
            “I, I can’t. You do know I can’t. I…”
            “That’s fine. But I believe in you. Please, take this book with you. And read it all. Actually, I write this for myself. But, I want you to read it. So that you will understand. I hope so… Well, it’s time for me to go. I love you all. Bye…”
            “I love you too, Anne…”
***


            Terdapatlah suatu keluarga di suatu perumahan di sudut kota Dublin. Itulah kami, The Grant Family. Ayahku George Grant, adalah seorang pendeta di Gereja St. Maria yang letaknya hanya tiga blok dari rumah. Ibuku Sandra, ia adalah seorang ibu rumah tangga yang ideal bagiku, aku sangat dengan masakannya. Aku si bungsu dari tiga bersaudara.
Yang paling tua ialah Joan Grant, just call her Joan. Umurnya 18 tahun. Musim gugur nanti ia akan melanjutkan sekolahnya di Sekolah Biarawati St. Ricci di Wicklow. Yeah. Joan memang seorang biarawati sejati. Ia pintar, cantik, punya rambut coklat yang lurus sebahu, dan pandai menyanyi karena memang dia adalah seorang penyanyi gereja yang disukai oleh orang-orang.
Kakakku yang kedua, JoAnna Grant. Ia, menurutku ia hampir mirip dengan Joan; cantik, pintar, juga berambut panjang sebahu, dan satu lagi; feminim. Beda denganku saudara kembarnya, JoAnne, JoAnne Grant.
Ya, itu namaku. Aku ini tidak feminim alias tomboy, rambutku pendek, mirip dengan Toper Grace, paling tidak begitu kata orang. Kalau Anna (begitu aku memanggil JoAnna) paling suka pakai overall skirt, atau rok tanggung dengan kemeja cantiknya; aku lebih memilih pakai kemeja untuk  anak laki-laki yang fit dengan badanku dan memakai jeans belel favoritku. Hm, kalau dibilang, aku ini mirip Vie di serial komik Family. Tapi bagi kami itu bukan masalah. Kami selalu bahagia dengan kehidupan yang kami jalani. Sampai saat itu, saat di mana sesuatu mengubah segalanya, terutama mengubah diriku untuk mendapatkan kehidupan yang selama ini aku cari dan aku impikan. Sebuah kedamaian yang sejati.
***
            Aku bersekolah di Dublin High School. Kami (Anna dan aku) duduk di kelas 11, tapi kami tidak sekelas. Hari ini lain dengan biasanya, karena kata Mrs. Tania sang guru matematika yang juga wali kelasku, ada murid baru pindahan dari Inggris. Ketika ia datang, teman-teman kelasku sempat terkejut begitu juga aku. Ternyata anak itu berbeda. Ia lain dari yang lain, ia memakai sesuatu yang katanya disebut… hijab. She,… She’s a Moslem. Her name is Aisha; Aisha Khairunnisaa. Entah kenapa aku suka nama itu.
            Belum pernah ada orang Islam di sekolahku selain Aisha. Kalau Buddha, Shinto, Tao or Jew… those are fine, but Islam? Benar-benar sesuatu yang ‘asing’ bagi kami. My father always said that Islam is just like a Barbarian. They like to destroy everything what they want. They are war lovers. Ya, hanya itulah yang aku ketahui tentang Islam. Oh ya, aku juga pernah membaca Al Islam karya Alfred Geom yang bukunya ada di ruang kerja Ayah. Itu juga menceritakan tentang Islam dengan nada yang tak jauh berbeda.
            Tetapi Aisha, ia tidak seperti Moslem yang dikatakan Ayah atau Alfred Geom. Ia seperti memberikan kedamaian di hatiku. Begitulah menurutku. Walaupun memang aku belum dekat dengannya. Aku hanya tahu namanya dan (mungkin) ia tahu namaku dan statusku sebagai anak kembar. Ya, menjadi kembar memang unik. Tapi tampaknya teman-temanku agak sedikit ‘enggan’ dengannya, mungkin karena ia Moslem. Tuhan, semoga saja Aisha tidak tahu tentang ini.
            Aku ingin sekali mengenal Aisha. Aku ingin dekat dengannya. ‘Cause I think she’s wonderful and interesting. But I have no brave to do it. Apalagi teman-temanku (dan Anna tentunya) selalu memperingatkanku untuk paling tidak sedikit menjauhinya. Tapi, pada suatu hari, aku ingat hari itu hari Kamis, aku duduk di sebelahnya. Sebenarnya aku berusaha mati-matian untuk bisa mendapatkan tempat duduk itu. Ternyata aku tidak bodoh dalam berakting he he…Kemudian aku menjadi partnernya dalam tugas Bahasa Inggris untuk membuat laporan tentang Revolusi Industri yang harus dikumpulkan akhir minggu ini. Aku senang sekali, akhirnya keinginanku untuk dekat dengannya dapat tercapai. I hope so.
            “Hi, Aisha!” aku mencoba menyapanya.
            “Hi, JoAnna…” katanya dengan sedikit gugup.
            “I’m JoAnne, not JoAnna,” aku membetulkannya.
            “Oh, sorry…. JoAnne”
            “That’s fine! Aku memang berbeda dengan JoAnna. She’s really like a girl next door, not like me. Entah mengapa semakin kami tumbuh dewasa kami semakin terlihat berbeda. Semua orang dapat membedakan kami. Hanya saja mereka sulit membedakan nama kami.” Jelasku panjang lebar. Ia tersenyum.
            “The first time I saw you, I thought you were a boy” , katanya polos. Aku tertawa.
            “Ya, semua orang pun begitu. Mereka mengira saudara kembar JoAnna adalah seorang laki-laki.”
            “So, JoAnne…”
            “Call me Anne, itu terlihat lebih santai bukan?” potongku.
            “Ok Anne, apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanyanya. Kemudian kuusulkan untuk mencari informasi yang diperlukan di perpustakaan. Aisha pun menyetujuinya. Setelah semuanya yang dibutuhkan telah terkumpul, bel pun berbunyi.
            “Aisha, bagaimana kalau sore ini aku ke rumahmu. Kita selesaikan tugas ini di rumahmu.” Kataku sambil berjalan keluar perpustakaan bersamanya.
            “Why not? I’d love to… tapi rumahku cukup jauh dari sini. Rumahmu di mana?”
            “Rumahku tidak jauh dari sini. We can go there on foot, just a several minutes. Tapii aku ingin sekali ke rumahmu. Bagaimana?”
            “Kenapa? Bukankah rumahmu lebih dekat?”
            “Tak apa. Lagipula aku sudah lama tidak jalan-jalan. Aku ingin mencari udara segar saja. Ok?” Maaf, aku terpaksa berbohong kepadamu, Aisha. Karena ini satu-satunya kesempatan bagiku untuk bisa dekat denganmu.
            “Ok. Kutunggu kau di pintu gerbang setelah bel pulang berbunyi. Bye..”
***
            Bel pulang berbunyi. Aku buru-buru mengepakkan buku-bukuku ke dalam tas dan segera pergi. Anna sedang membuka lokernya ketika aku menemuinya.
            “Anna, I have to go to my friend’s house now. Immediately! Maybe I will be late at home, but don’t worry. See ya!” lalu aku buru-buru pergi meninggalkannya yang termangu melihatku pergi begitu saja.
            “Anne!! Wait!!! Anne….”
***
            Kami berjalan menyusuri kota tersebut, kemudian pergi ke bawah tanah dan menaiki subway. Selama perjalanan kami berbicara tentang Dublin High School dan bak seorang pemandu aku menjelaskan segalanya tentang seluk-beluk sekolah kami itu. Kami lalu turun saat kereta berhenti di stasiun ketiga. Lalu kami keluar dari stasiun dan kurang dari setengah jam kami sampai di rumah Aisha dengan berjalan kaki.
            Rumah keluarga Aisha sangat indah. Rumahnya tidak begitu besar, dan tidak melebar tetapi memanjang. Sangat sederhana. Begitu masuk ke dalam rumahnya aku langsung disambut oleh senyuman dan sapaan yang sangat ramah oleh keluarganya, seperti menyambut keluarga jauh saja.
            Aku diperkenalkan dengan ibunya Aisha, dua orang kakaknya, satu seorang laki-laki bernama Abror, ia adalah anak pertama. Dan satunya lagi seorang perempuan bernama Rumman, ia anak kedua. Aisha merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Anak yang terakhir bernama Bisyri, he’s a very funny toddler. Lalu kutanya kepada Aisha tentang ayahnya, dan ia memberitahuku bahwa ayahnya bekerja di Islamic Centre di Maryland, Inggris. Dan aku hanya mengangguk saja, mengiyakan.
            Kamar Aisha terletak di lantai dua. Di lantai dua ada sekitar enam ruang, tiga di belakang, yaitu kamar mandi, gudang dan satunya lagi adalah ruang kosong yang di dalamnya hanya terdapat karpet-karpet kecil, beberapa buku dan tulisan kaligrafi yang bertuliskan tulisan arab. Mungkin itu tempat mereka beribadah. Di depan ada tiga buah kamar yang mengelilingi ruang tv. Dan kamar Aisha terletak dekat dengan beranda.
            Selesai sudah tugasnya dibuat. Kulirik jam tangan beningku. Hm, masih pukul tujuh. Sekarang sudah musim akhir panas. Jadi senja pun baru datang.
            “Wah, sudah jam segini ya…” kataku.
            “Iya. Eh Anne, kamu mau susu coklat lagi nggak? Aku ambilkan ya, tunggu sebentar!” lalu Aisha turun ke bawah. Aku tersenyum. Lalu kupandangi kamarnya. Kulihat meja belajarnya yang penuh dengan buku pelajaran. Tampaknya ia anak yang rajin. Kemudian aku berjalan menuju rak bukunya. Tadi aku juga melihat ada beberapa rak buku di rumahnya yang tentu saja penuh dengan buku. They’re bookaholic. That’s interesting!
            Di dalam rak buku Aisha kebanyakan buku tentang ilmu pengetahuan, tekhnologi, dan Islam. Ini dia! Kuambil buku tebal berjudul The Glorious Quran. Lalu kubuka buku tersebut. Ternyata ini kitab suci mereka. Untung saja ada terjemahannya dalam bahasa Inggris. Kubuka buku itu begitu saja, tak peduli halaman berapa yang baru kubuka. Surat Al-Ikhlas / At-Tauhid (The Unity), revealed at Mecca: “In the name of Allah, the Beneficent, The Merciful. (1) Say: He is Allah, The one.”
            “The One..?” kataku. Lalu aku terdiam.
            “But…”
            “Kamu sedang membaca apa?” tiba-tiba Aisha datang dan mengagetkanku.
            “Ah, ngg … ini … aku hanya ingin tahu sedikit tentang agamamu. I’m sorry…” lalu aku menunjukkan buku tersebut kepadanya. Sambil menaruh dua gelas susu di meja belajarnya, Aisha tersenyum.
            “Tapi kamu hebat. Kamu langsung mencari pada sumbernya. That’s good.” Katanya lembut.
            “Maksudmu?”
            “Banyak orang tahu tentang agama kami. Tapi kebanyakan dari mereka hanya tahu berita negatif tentang kami. Karena mereka mendapatkan informasi dari mulut ke mulut. Tak tahu asalnya dari mana. Menurutmu, jika seseorang ingin tahu tentang sesuatu, bukankah sebaiknya mereka mencari tahu dari sumbernya?” aku mengangguk. Ya, memang seharusnya begitu.
            “Anne, could you wait for a few minutes. ‘Cause it’s time for me to take my worship to my God.” Lalu aku mengangguk. Ah, betapa indahnya Islam, pikirku. Di petang hari pun mereka sempat berdoa secara formal kepada Tuhannya. Mengapa dalam agamaku tidak diwajibkan untuk begitu ya?
            Aku lalu ingat akan ayat tadi. Buku itu terletak di meja, masih di halaman yang sama. Aku tercenung. Dengan penuh tanda tanya aku kembali membaca. “(2) Allah, the eternally Besought of all! (3) He begetteth not nor was begotten. (4) And there is none comparable unto Him.”
            “Yes, it’s true. This all is the truth. But how can…?” aku ingat. Ingat sekali. Baru akhir minggu kemarin aku mendapatkan khutbah dari ayahku tercinta tentang ketrinitasan dalam agamaku. Aku hanya membeo saja ketika mendengar bahwa Yesus itu anak Tuhan. tapi mengapa? Begitu banyak pertanyaan di benakku. Bahkan aku tidak tahu harus bertanya tentang apa. Aku terhanyut dalam kebisuan.
            Beberapa menit kemudian Aisha datang. Ia bingung melihatku begitu pucat wajahnya.
            “Anne,… what’s wrong?”
            “Nothing. Nothing’s wrong.”
            “Are you sure? You look so pale!”
            “Yes. I’m sure! Aisha, err, can I borrow this book?” Aisha lalu memandang kedua mataku. Kami terdiam. Namun kami seperti mengerti satu sama lain. Aisha tersenyum.
            “Yes. Of course you can. With a pleasure!”
***
            “I’m home!!!” teriakku ketika aku membuka pintu rumahku. Ayah sedang membaca koran di kursi kayu tua kesayangannya bersama ibu yang selalu setia menemaninya.
            “Anne, where have you been? You’re so late!” kata Ibu yang seperti biasa selalu mengawatirkan anaknya itu.
            “My friend’s house! Doing some works!” teriakku sambil menaiki tangga menuju kamarku.
            “Sudahlah jangan terlalu khawatir. Anak itu kan sudah dewasa”, kata Ayah tanpa berpaling dari korannya.
            Selesai mandi dan makan malam aku langsung menuju ke kamarku dan siap mengambil posisi untuk tidur! Eits, aku lupa sesuatu. Yap! Aku langsung mengambil sebuah buku dari dalam tasku. The Glorious Quran. Tiba-tiba…
            “Anne…” Anna masuk ke kamarku tanpa mengetuk pintu. Buru-buru kusembunyikan buku itu ke dalam selimutku.
            “Hei, kalau mau masuk jangan lupa ketuk pintu dulu donk! What’s up Honey?”
            “Nothing. How’s your homework?”
            “Fine.”
            “Tadi kamu ke rumah Aisha ya?”
            “Ya, keluarganya sangat ramah. Aku rasa kamu juga harus ke rumahnya. Nanti aku kenalkan ya?”
            “Ya…” ucap Anna dengan lirih, nyaris seperti berbisik. Lalu tersenyum tipis, tipis sekali.
***
            Sudah dua hari aku meminjam buku itu. Hari pertama, aku belum sempat membacanya. Cukup sulit menemukan waktu dan tempat yang tepat. Maklum, aku takut ketahuan orang-orang. Terutama keluargaku sendiri. Aku selalu menyimpannya di tas sekolahku. Baru di hari kedua aku dapat membacanya. Pada istirahat pertama, aku langsung pergi ke perpustakaan. Berusaha menemukan tempat yang strategis untuk membaca.
            Sekarang sudah hari kelima aku meminjam buku itu. Aku telah membaca buku itu walau belum seluruhnya. Selain itu aku juga banyak bertanya kepada Aisha tentang ayat-ayat yang sulit kumengerti maknanya. Aisha selalu menjawab dengan jawaban yang memuaskan hatiku. Aku merasa telah mendapatkan kebenaran dan keadilan yang sejati di dalam buku itu. Aku merasakan bahwa inilah sebenar-benarnya agama, yaitu Islam. Tapi aku bingung. Apa yang harus kuperbuat sekarang? Aku berpikir sejenak. Ya, harus kulakukan sekarang juga. Kemudian aku pulang ke rumah.
            “Dad, can I come in?” aku membuka pintu ruang kerja ayahku. Kulihat ia sedang membuka-buka Bible tua miliknya.
            “Yes, Honey. Please come in. how’s your school?” kata Ayahku tanpa mengalihkan pandangannya dari Biblenya.
            “Fine, but… err… Can I ask you some questions?” kataku sedikit gugup. Oh God, I hope everything’s going to be Ok.
            “Yes Dear, what questions?” ia lalu menutup Biblenya dan memandangku.
            “Dad, ng begini… bukankah Yesus itu di nobatkan menjadi Tuhan ketika Konsili Nicea?”
            “Ya.”
            “Juga tentang ketrinitasannya?”
            “Betul.”
            “Dinobatkan oleh hanya seorang Kaisar?”
            “Itu juga betul. Dan Kau tahu itu. Tapi apa maksudmu dengan ‘hanya seorang kaisar’?”
            “Karena aku rasa itu semua nonsense, Yah. Kalau Yesus dinobatkan sebagai Tuhan ketika Konsili Nicea, lalu siapa tuhan-tuhan sebelumnya yang menciptakan bumii dan langit ini? Siapa yang menciptakan semua makhluk hidup? Siapa yang menciptakan kaisar yang menobatkan Yesus? Juga yang menciptakan Yesus itu sendiri? Semua itu nonsense, Yah!”
            Plak! Sebuah tamparan mulus mendarat di pipiku.
            “Tutup mulutmu! Kamu anak kurang ajar! Beraninya kamu berkata begitu!” Ayah tampak sangat marah. Baru kali ini aku melihat Ayah begitu marah kepada anaknya. Tapi aku tidak gentar.
            “Tentu saja aku berani. Karena aku ingin tahu akan kebenarannya. Lalu satu lagi, Ayah bilang Yesus itu adalah anak Tuhan yang dilahirkan oleh Bunda Maria. Kurasa, tidak mungkin Tuhan mempunyai anak atau dilahirkan dari seorang manusia. Tuhan tidak bisa disamakan dengan manusia, karena Tuhan adalah Tuhan. yang menciptakan manusia. Tuhan harus lebih spesial dari manusia!”
            “Kurang ajar! Kamu…!!”
            “Apa Ayah? Aku ini seorang apa? Kenapa Ayah tidak menjawab pertanyaanku? Kenapa Ayah tidak membenarkan pernyataanku? Kenapa Ayah begitu marah setelah mendengar pernyataanku? Dan kenapa Ayah malah menamparku?”
            “Masuk ke kamarmu sekarang juga! Kamu tidak akan mendapatkan makan malam! Masuk!!” kemudian aku pergi menuju kamarku.
            Aku sudah melakukannya. Ya, aku ingin tahu kebenaran tentang agamaku sendiri. Maka aku menanyakannya kepada ayahku yang juga seorang pendeta yang taat. Tapi ternyata, inilah jawaban yang kudapat. Aku telah membulatkan tekadku. Aku ingin masuk Islam!
            Esoknya ketika sampai di sekolah, aku langsung mencari Aisha. Kemarin ayah begitu marah. Dan aku tidak mendapatkan makan malam. Paginya ayah diam saja, begitu juga ibu. Tadi Anna pun menanyakan keadaanku. Yah, kubilang saja tidak ada apa-apa.
            “Aisha!!”
            “Yes, what’s up?” sapa Aisha dengan lembut. Kutarik lengannya and kubawa ia ke tempat sepi.
            “Hari ini aku ingin ke rumahmu lagi. Penting!”
            “Memangnya ada apa?”
            “Nanti aku beritahu, Ok?” kataku. Aisha diam.
            “Kumohon Aisha!! Please! Ok?!” setelah beberapa saat akhirnya ia mengangguk. Aku tersenyum.
            “Thank’s! tapi jangan sampai orang lain tahu. Kutunggu kamu di depan stasiun setelah pulang sekolah ya!”
***
            Kereta bawah tanah membawa para penumpang dengan cepatnya. Aku dan Aisha berdiri di dekat pintu. Kuceritakan segalanya tentang kejadian kemarin. Tidak ada satu pun yang kulewatkan. Aisha takjub mendengarkan semuanya. Sampai di rumahnya, ia membawaku ke kamarnya.
            “Anne, sekarang, setelah semua ini terjadi, apakah kamu menjadi takut?”
            “Tidak, aku sama sekali tidak takut. Dan aku tidak akan menyesal dengan apa yang telah terjadi.”
            “So?”
            “Aisha, aku ingin masuk Islam.” sudah bulat tekadku untuk menyatakan ini. Aisha tersenyum.
            “Alhamdulillah. Lalu bagaimana dengan keluargamu?”
            “Entahlah. Sebenarnya aku ingin mereka juga ikut memeluk Islam. Aku harap aku dapat membujuk mereka. Terutama Anna…”
            “Yang penting, kuatkan dulu hatimu. Dan teruslah berusaha dan beristiqomah.”
            Setelah itu aku diajak ke ruang tempat keluarga Aisha beribadah. Ruangan itu disebut mushola. Dan dengan disaksikan keluarga Aisha, aku pun mengucapkan kalimat syahadat. Lalu aku bersujud syukur kepada Allah, aku pun tidak dapat lagi membendung tangis haru dan bahagiaku. Aku diberi hijab oleh Aisha dan ibunya, Aisha pun mengajariku cara memakainya. Dan Aisha juga bilang bahwa Quran yang dia pinjam itu untukku. Aku bingung bagaimana aku harus mengucapkan terima kasih kepada mereka semua.
            Aku memberanikan diri untuk pulang ke rumah. Sesampainya di depan rumah aku terdiam. Sebenarnya aku takut, sangat takut. Allah, lindungi aku! Kubuka pintu rumah dengan perlahan. Deg! Jantung ini rasanya mau copot. Kulihat mereka berempat sedang berkumpul di ruang keluarga. Joan dan Anna lah yang pertama kali melihatku. Mereka terpana.
            “Anne…?” sahut Joan dan Anna berbarengan. Ayah dan Ibu menengok ke arahku. Ibu berteriak kaget. Dan ayah pun dengan marahnya bangkit dan menghampiriku. Ia ingin menamparku lagi. Tetapi ibu berusaha menahannya.
            “Kamu anak hina! Siapa yang mengajarimu begini hah? Apakah anak baru itu? Jawab!! Memang keluarga itu telah membawa kesialan di kota ini…”
            “Bukan salah mereka Ayah! Ini semua atas kehendak Anne sendiri!” Tiba-tiba ayah langsung saja menghampiriku dan seperti ingin menghajarku lagi. Tapi…
            “Sudahlah Ayah! Hentikan! Hentikaannn!!” Anna berusaha melindungiku dan langsung membawaku ke kamarku. Joan juga mengikuti kami.
            “Kurang ajar!! Anak sialan! Pergi kamu dari rumah ini!!!”
***
            Anna dan Joan sangat kaget dengan ini semua. Mereka tampak sedih dan terpukul. Mereka selalu bertanya dengan keyakinanku sekarang ini. sudah kukatakan berkali-kali pula kepada mereka bahwa aku yakin dengan apa yang telah kulakukan. Aku tahu, ayah murka kepadaku. Aku tahu itu. Tapi aku tidak gentar. Malam itu Anna dan Joan tidur bersamaku. Mereka berjaga-jaga takut jika ayah tiba-tiba menyerangku. Hh, aku ini bak narapidana berbahaya yang kabur dari penjara saja.
            Esoknya, aku tidak diperbolehkan sekolah oleh ibuku. Katanya, ayah sangat malu jika orang-orang melihatku begini. Apa kata orang nanti? Anna tetap sekolah dan Joan tetap menemaniku di kamar. Ibu pun menganggapku seperti orang asing yang tak pernah ia kenal. Sesungguhnya aku sedih sekali.
            Sore hari, Anna pulang sedikit lebih cepat dari biasanya. Dengan tergesa-gesa ia lari menuju kamarku.
            “Anne, aku tidak tahu kenapa aku harus melakukan ini. I tell you, Aisha dan keluarganya tampaknya seperti akan…”
            “Akan apa?” tanyaku tak sabar.
            “Aku tidak tahu bagaimana aku harus menjelaskannya. Mereka akan… akan dituntut.” Ucapnya dengan lemah.
            “Apa maksudmu?”
            “Masyarakat sekitar, terutama komunitas gereja akan menuntut keluarga itu. Mereka bilang keluarga itu telah membawa kesialan dan telah merusak kedamaian di kota ini!”
            “Itu semua nonsense!!” ucapku dengan marah. Aku sudah tidak tahan lagi! Allah apa yang harus aku lakukan? Bantu aku Ya Rabbi.
            “Anne, tenanglah!” kata Joan.
            “Bagaimana aku bisa tenang! Mereka itu saudaraku. Aku tidak bisa tenang melihat saudaraku ditindas. Aku harus menolong mereka.”
            “Lalu kami ini Kau anggap apa?” tanya Joan.
            “Kalian adalah saudara kandungku yag paling kusayangi. Mereka adalah saudara seagamaku. Mereka juga orang yang kusayangi.”
            “Anne, tadi Aisha menitipkan ini kepadaku. Katanya untukmu.” Anna memberikan secarik kertas kepadaku. Kubaca isi kertas itu. Dear Anne. Assalamualaikum. Semoga rahmat dan berkah Allah selalu menyertaimu, saudaraku. Anne, kami sekeluarga akan pindah kembali ke Inggris. Tujuan kami adalah Maryland. Di sana banyak saudara seiman kami yang selalu menyayangi kami. Kami pergi karena kami tidak ingin membuat kekacauan di kota yang damai ini. Ini adalah alamat kami di sana. Kami pergi malam ini juga. Love, Aisha. Aku termenung. Akhirnya kuputuskan: Aku akan pergi!
            Aku langsung mengambil tasku. Kubuka lemariku, kumasukkan beberapa pakaianku ke dalam tas. Anna menahanku.
            “Anne, apa yang kamu lakukan?”
            “Aku akan pergi. Sudah jelas kemarin ayah ingin aku tinggalkan rumah ini secepatnya.”
            “Anne…” Anna memelukku. Ia menangis dalam dekapanku. Aku pun tidak dapat menahan air mataku. Joan membelaiku, dan memeluk kami berdua. Lama sekali.
             “Anna, Joan, aku harus pergi. Aku tidak bisa tinggal lebih lama lagi di rumah ini. Aku tidak ingin membuat kekacauan lagi di keluarga ini.”
            “Anne…”
            “Titip salam buat ayah dan ibu. I love you all very much, always.” Allah, berikanlah hidayah-Mu kepada keluargaku juga. Aku sangat menyayangi mereka. Tunjukkan kebesaran-Mu Rabbi. Lindungilah mereka, dan lindungilah aku ya Allah.
            Aku pergi…
***
Epilog :
            Telah selesai kubaca buku yang Anne berikan kepadaku. Sekarang sudah hari ketiga ia meninggalkan keluarga ini. Buku ini, adalah buku diary yang kuberikan setahun yang lalu sebagai hadiah thanks giving. Padahal aku tahu, ia tidak terlalu suka menulis. Tapi akhirnya, buku ini pun diisi dengan pengalamannya yang sangat berharga. Anne, bukumu ini sarat akan makna. Sekarang aku mengerti mengapa kau melakukan ini semua. Di halaman terakhir buku ini terselip secarik kertas, sebuah surat. Kubuka surat itu.
            Dear Anna,
Hi honey, bagaimana kabarmu, Joan, Ayah, dan  Ibu? Aku harap kalian sehat-sehat saja. Ketikakau membaca surat ini, aku mungkin sudah sampai di Inggris.
Anna, aku harap kamu sudah mengerti maksudku pergi dari rumah. Kamu sudah membacanya, bukan? Sebenarnya aku menulisnya hanya untuk pelampiasanku sendiri yang nantinya bisa dijadikan bahan untuk mengintrospeksi diri. Tapi, saat aku ingin meninggalkan rumah, entah kenapa aku berikan saja buku ini kepadamu. Padahal buku ini kan dari kamu, ya? Harapanku, harapanku, setelah kamu membaca buku ini, kamu dapat mengambil hikmahnya.
Anna, jadi bagaimana? Apa pendapatmu tentang semua perbuatanku ketika itu sampai sekarang? Apa pendapatmu tentang kepercayaanku dan agamaku sekarang? Please, jangan pernah engkau beranggapan buruk dengan agamaku. Kamu tahu, banyak orang di dunia ini yang tidak beragama Islam mengetahui Islam hanya dari segi negatifnya. Tapi sungguh! Aku bersumpah atas nama Tuhanku bahwa agamaku ini agama yang suci dan murni. Aku selalu ingat perkataan Aisha bahwa jika kamu ingin tahu sesuatu, carilah kebenarannya dari sumbernya. Bukankah sumber pengetahuan suatu agama itu ada di kitab sucinya? Kumohon Anna, kamu sebaiknya membaca kitab ini. You’ll find the truth, ‘cause this is the true religion of God. Trust me.
So, Anna, aku ingin memberikan buku itu. Ya, The Glorious Quran. Bukalah laci meja belajarku yang paling atas. Kuncinya aku gantung di samping pintu. Ambillah, buku itu untukmu. Pelajarilah buku itu baik-baik. Mudah-mudahan dengan izin Allah kamu akan memahaminya. Insya Allah, kamu akan diberi hidayah olehNya. Amin.
Sudah ya. Aku rasa itu sudah cukup. Di halaman depan buku itu (Al-Quran) kutulis alamatku di Inggris. You can visit me anytime you want. I’ll be waiting for you. Oh ya, tak perlu kau mengawatirkanku. Aku ini milik Tuhanku. Tuhanku itu Maha Pemelihara. Aku yakin, Ia akan selalu memelihara ciptaanNya dengan baik.
With Love,
JoAnne
(sebulan kemudian)
            Aku ragu sejenak. Kutarik napasku dalam-dalam. Kubuka pintu itu. Ayah yang sedang menonton TV terkejut melihatku.
            “Anna…. Kau! Apalagi ini?! Apa yang telah kau lakukan?”
            “Ayah, sudah kubulatkan tekadku. Aku sudah masuk Islam!”

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar