Hari Ini
Oleh Kuni Nurul Khasanah
“Bersabarlah,
bahkan keajaiban pun butuh sedikit waktu”
“… dengan mas kawin seperangkat alat salat
dibayar tunai,” lelaki itu berbicara dengan mantap. Matanya yang yakin menatap Ayah
sedangkan tangan kanannya menggenggam tangan ayahku tegas.
“Bagaimana para
saksi, sah?” Ayah mengedarkan pandangan ke sekeliling menatap para saksi yang
hadir dalam acara pernikahan ini.
“Sah,” mereka
menjawab bebarengan.
Lalu Ayah
melantunkan doa-doa dengan diamini oleh semua yang ada di tempat ini. Dari sudut
mataku, aku tahu Mama yang duduk di sampingku meneteskan air mata. Apakah itu yang
namanya air mata bahagia? Entahlah, mungkin saja iya. Sedang dari sudut mataku yang lain,
bisa terlihat kakak tertuaku, Yusuf Arfa Azzaky, hanya bergeming. Aku biasa
memanggilnya Kak Arfa. Tangannya menengadah seperti semua orang yang ada di
sini, sedangkan pandangannya menunduk. Ia begitu khidmat dalam berdoa.
Ah, akhirnya
hari ini datang juga, 26 Mei 2015. Hari yang jujur saja, sangat tidak kunantikan. Ada dua
hal yang tidak aku nantikan hari ini. Dan salah satunya adalah acara pernikahan
ini. Saat ini, aku merasa hampa. Kehilangan. Hatiku menjerit.
Adik
macam apa kamu? Seharusnya kamu ikut bahagia!
Seharusnya. Tetapi
tidak pada kenyataannya. Aku bisa saja berbohong pada teman-temanku di sekolah,
menceritakan dengan ceria bahwa kakakku akan segera menikah. Berbohong pada Ayah,
Mama, serta kakak-kakakku bahwa aku senang akan punya kakak baru. Tapi aku
tidak bisa berbohong pada diriku sendiri. Berkali-kali aku meyakinkan diri
bahwa aku akan ikut bahagia. Tapi aku tak berhasil.
Terlihat di
sana, sosok yang biasanya cantik, hari ini bertambah cantik. Gaun pernikahannya
membuatnya terlihat sempurna. Yasmin Nuha Zahira. Dia salah satu sosok yang
diam-diam aku kagumi. Dialah kakakku.
Di samping
kakakku, seorang lelaki yang bertubuh tegap mendampinginya, namanya Faiz
Rasyiqul Abid, kakak baruku. Dialah yang merebut kakak perempuanku
satu-satunya. Aku tahu seharusnya aku tidak berkata seperti itu. Tapi itu
memang benar, kan?
Lelaki itu. Aku
diberitahu nama lelaki itu oleh Kak Yasmin melalui media sosial Facebook. Aku pun diberi
kabar tentang pernikahan kakakku melalui media sosial itu juga. Memang tidak
mengenakkan sih, tapi mau bagaimana lagi? Aku tinggal jauh dari keluarga karena
menuntut ilmu di sekolah yang berasrama. Aku memanggil lelaki itu dengan
sebutan Kak Faiz. Pertama kali aku bertemu Kak Faiz,
sekitar sebulan yang lalu. Saat itu aku memang sedang
pulang ke rumah karena liburan kenaikan kelas. Kak Faiz datang ke rumah dan
bercengkerama akrab dengan Ayah dan Mama. Sedangkan aku? Aku hanya memberi
salam dan senyum terbaikku lalu masuk kembali ke dalam rumah. Aku memang tak
mudah dekat dengan orang asing. Dan Kak
Faiz termasuk satu dari mereka.
Aku ingat,
sekitar seminggu yang lalu, aku berkunjung ke rumah Kak Faiz. Aku datang bersama Kak Yasmin.
Jarak rumahku dengan rumahnya tidak begitu jauh, cukup 30 menit mengendarai sepeda
motor. Saat itu masih suasana lebaran. Aku dan Kak Yasmin menyungkem
ke ayah dari Kak Faiz. Walaupun sudah tua, tubuhnya masih
sehat. Beliau begitu banyak menceritakan tentang Kak Faiz. Dari ceritanya, aku bisa
tahu Kak Faiz adalah sosok yang mandiri.
Oke, memang aku
egois. Kak Faiz memang pantas untuk kakakku, sangat pantas bahkan. Dia lelaki
yang sudah mapan, profesinya adalah seorang guru, sama dengan Kak Yasmin. Dari sisi agama dia pun orang yang taat.
Satu lagi nilai plus untuk Kak Faiz, dia bukan perokok dan jago masak. Kurang
apa coba? Aku saja yang perempuan angkat tangan jika disuruh masak. Akan tetapi
hati kecilku masih saja menolaknya. Aku belum ikhlas kakakku pergi.
Ptak!
“Awww!”
tiba-tiba saja aku merasakan ada tangan jahil yang menjitak kepalaku. Ini pasti
ulah Kak Arfa.
Tuh kan,
benar. Saat aku menoleh ke arahnya, dia malah cengengesan.
“Uh, ngeselin!
Apaan sih main jitak aja!” kataku sengit.
“Hahaha...
lagian dari tadi ngelamun mulu. Kenapa? Udah pengen cepet nikah? Nikah aja sana sama Tono!”
ledek Kak Arfa. Ya, dia memang sangat menyebalkan.
“Enak aja! Aku
baru kelas dua belas ya, masih lama. Kak Arfa tuh yang
harusnya duluan. Masa diduluin sama Kak Yasmin?” aku membalasnya asal. Tunggu, tadi
aku ngomong apa? Sepertinya aku salah omong. Raut wajah kakakku berubah muram.
Eh, atau aku salah lihat? Wajahnya dalam sesaat kembali seperti tadi, wajah
yang menyebalkan. Ah, mungkin tadi hanya khayalanku saja.
“Kan kakak
ngalah, lagian wajar kali cewek nikah duluan. Banyak kok,
cewek yang ngantri, tapi Kak Arfa harus jadi pemilih yang baik.”
Huh, dasar
narsis. Belum sempat aku membalasnya, dia sudah nyerocos duluan.
“Duh, adik
kecilku ini nggak tahu apa-apa, kok cerewet banget sih?
Nggak percaya deh kalau kamu sudah kelas 12, harusnya masih di PAUD tuh bareng
Erlan.” Dengan kepalanya, Kak Arfa menunjuk anak kecil yang sedang merengek
meminta jajan.
“Iiih, aku udah
gede ya. Emang sih aku masih imut.” Aku memang
narsis, tapi ini masih normal. Kak Arfa lebih narsis, ya kan?
“Idih, imut
dari mana? Narsis banget deh...” timpal kakakku.
“Biarin. Kakak
yang ngajarin. Wlee...” Aku memeletkan lidahku. Tak lupa aku menjambak sedikit rambutnya.
Agak pelan tapi menimbulkan efek yang begitu jelas di wajahnya, seolah-olah aku
menarik rambutnya begitu kuat. Selain
narsis, kakakku yang satu ini juga sangat alay.
Aku tahu adegan
saling mengejek ini tidak akan ada habisnya sampai ada yang mau mengalah. Jadi
aku akhiri saja dengan lari meninggalkan Kak Arfa. Sebenarnya aku menghindari
balasan jambakanku tadi, sih. Selain itu, tidak enak juga bertengkar di antara banyak
orang. Anggap saja aku yang menang. Haha.
“Eh,
malah kabur! Awas ya nanti aku balas! Dasar Ni jelek!” terdengar suara kakakku
saat aku pergi. Suaranya tidak keras, tapi aku bisa mendengarnya.
Ni. Keluargaku
memanggilku dengan sebutan itu. Nama asliku adalah Runi Nurun Najdah. Dulu
sewaktu kecil, aku susah melafalkan namaku dengan benar. Alhasil saat ada yang
bertanya siapa namaku, aku menjawab dengan lantang dan penuh semangat, “Ni Nunu
Nana, panggil saja aku Ni!” Yap, sampai sekarang pun aku masih dipanggil Ni.
Acara akad
nikah sudah berganti menjadi pengajian dari kiai
besar pondok pesantren yang ada di dekat rumahku. Beliau berceramah di panggung
kecil yang sudah disediakan, di seberang tempat duduk pengantin. Entah sejak kapan, aku
tak tahu. Sepertinya tadi aku melamun cukup lama.
Dalam hati, aku
berterima kasih pada Kak Arfa. Suasana hatiku agak membaik karena pembicaraan
tadi. Salah, maksudku pertengkaran kecil tadi, hihi.. Walaupun
menyebalkan, Kak Arfa berjasa juga. Kak Arfa ini sebenarnya baik, lo. Sangat
baik malah. Dia anak tertua di keluarga kami. Dia sudah mulai bekerja setelah
lulus dari SMK. Untuk bekerja, Kak Arfa merantau ke Papua. Tapi untuk sekarang,
dia berniat untuk membuat usaha sendiri di rumah. Aku salut pada kakakku
yang satu itu. Ia rela tidak melanjutkan sekolah untuk kuliah, sedangkan adiknya, Kak
Yasmin, kuliah dengan bantuannya. Setiap bulan Kak Arfa juga mengirimi aku uang
untuk jajan atau membeli kebutuhanku di asrama.
Aku menghampiri
Mama yang sedang duduk mendengarkan ceramah. Mama mengenakan baju putih penuh
bordiran cantik yang juga berwarna putih. Rok yang dikenakan
Mama adalah rok batik coklat muda yang senada dengan kerudungnya. Sederhana
tapi Mama tetap terlihat cantik. Mama yang menyadari kehadiranku memberikan
senyumnya. Baru saja aku duduk, Mama mengatakan sesuatu yang menyebalkan.
“Ni sudah
beres-beres buat berangkat belum?” tanya Mama.
Ya ampun, please deh. Baru saja mood-ku
naik sedikit, sekarang Mama mengingatkanku pada hal itu. Ya, hal
kedua yang tidak aku nantikan hari ini, kembali ke asrama. Berat rasanya pergi
di saat kakakku menikah. Selain itu, aku tak suka kembali ke sana. Kembali ke
asrama berarti kembali sekolah. Kembali sekolah berarti kembali belajar,
belajar, dan belajar. Dan aku tak suka belajar.
“Udah, Ma. Paling
tinggal dikit lagi packing-nya. Masih
nanti sore ini berangkatnya.” jawabku sambil merengut.
“Iya, sayang, Mama tahu. Nanti jam lima sore langsung berangkat, habis asar langsung siap-siap ya.”
Kata-kata Mama
yang terdengar olehku seperti mengusir. Aku tahu Mama tidak bermaksud seperti
itu, tetapi aku yang terlalu sensitif. Bagaimana tidak? Mama sudah ribut dari
sepekan yang lalu, aku disuruh membeli perlengkapan tulis lah, menyetrika baju lah, menyiapkan kopernya juga, dan masih
banyak lagi. Terlalu berlebihan, bukan? Tidak butuh waktu sepekan, satu malam saja bisa langsung
siap. Mama memang selalu cerewet.
“Iya,
Mama.” Aku hanya pasrah menjawab iya. Sebenarnya dari kemarin-kemarin aku
sudah memprotes.
Kenapa harus hari ini? Padahal aku bisa saja izin beberapa hari
dengan alasan ada acara pernikahan kakakku. Aku sudah berkali-kali memprotes
pada Ayah dan Mama. Tapi apa jawaban dari mereka yang kudapatkan?
“Sudahlah sayang,
tak apa. Kalau izin dulu nanti kamu berangkat sendirian dari sini.”
Ya, aku memang
selalu bersama kawan-kawanku yang bersekolah di tempat yang sama. Sebenarnya
aku ingin memprotes lagi, mungkin aku bisa sendiri. Tapi aku bungkam. Aku sadar aku tak
berani berangkat sendiri. Menyedihkan.
***
Pernahkah kau
merasa waktu berjalan begitu cepat? Menyebalkan bukan? Aku sangat merasakannya
saat ini. Jam mungil di pergelangan tanganku sudah menunjukan pukul 16:00.
Seharusnya aku sudah mulai bersiap-siap dan mengemasi sedikit barang-barang
yang masih tertinggal. Tapi aku masih di sini. Duduk di depan menyambut
tamu-tamu yang hadir. Kulihat Ayah berjalan mendekatiku. Aku tahu maksudnya.
“Ni udah sore,
ayo siap-siap buat berangkat.” Tuh kan benar, sesuai dugaanku.
“Oh ya, nanti Ni
diantar Kak Arfa, ya.” kata ayahku. Ya ampun, bertambahlah satu hal lagi yang tak kusukai hari
ini.
“Yah, kok nggak
diantar Mama sama Ayah, sih?” aku memprotes Ayah.
“Maaf ya, Nak.
Ayah sama Mama nggak bisa, lagi banyak tamu, nggak enak ditinggal,” kata
Ayah sambil mengusap kepalaku, hal yang sering ia lakukan untuk menenangkanku.
“Ugh, iya deh. Nggak apa-apa.” Aku menurut, tahu tak ada gunanya memprotes lagi. Aku
masuk ke dalam rumah untuk bersiap-siap dengan malas.
Pukul 17.05 aku
baru siap. Aku tahu aku telat, tapi aku juga tahu bus yang akan kunaiki pun
pasti juga telat. Biasanya, bus baru berangkat pukul 7 malam. Mengaret 2 jam. Amat parah, tapi
memang faktanya seperti itu. Jadi aku masih belum telat,
kan?
Aku berpamitan
pada saudara-saudaraku yang sedang berkunjung ke rumahku,
serta orang tuaku. Aku belum berpamitan dengan Kak Yasmin. Aku takut aku
menangis. Asal tahu saja, aku tak pernah menangis di hadapan keluargaku. Gengsi
kali.
Itu dia Kak
Yasmin. Dia sudah berganti busana dengan gaya yang biasa ia kenakan. Ia tetap
cantik. Kulihat ia sedang bercengkerama dengan anak-anak seusiaku. Mungkin itu
siswa-siswanya. Terlihat juga Kak Faiz yang mendampingi di sampingnya.
Sepertinya obrolan mereka seru. Aku menghampiri mereka dengan gayaku yang
ceria. Aku berusaha untuk tetap tersenyum.
“Kak Yasmin! Aku
udah mau berangkat, nih. Jangan kangen aku, ya! Waktu
pulang, nanti aku main ke rumah baru Kak Yasmin pakai motor sendiri deh, ‘kan
sudah belajar kemarin.” kataku sok ceria.
“Oke, nanti
jangan nabrak, ya. Baru belajar dikit aja udah sok banget nih adikku. Haha...“
“Eits, jangan
salah, aku sudah jago, kok. Hehe. Ya udah, aku pamit dulu, ya.” Aku mencium tangan kakakku dan memeluknya.
Aku salah,
seharusnya aku tidak memeluknya. Air mataku menetes begitu saja. Air mata yang
sudah lama aku tahan. Apa-apaan ini? Kenapa
aku tidak bisa menahannya? Dasar bodoh. Aku malah menangis lebih keras sampai sesenggukan. Kak
Yasmin yang sadar aku menangis mempererat pelukannya. Aku tahu dia pun meneteskan
air mata. Apakah ia tahu rasa kehilanganku ini? Kali ini aku
biarkan air mata ini tumpah. Sekali ini saja.
“Aduh dasar cewek, cengeng banget sih...” Tak
perlu ditanya suara menyebalkan siapa itu. Sudah mutlak itu Kak Arfa. Merusak
suasana aja.
“Apaan sih?
Bilang aja ngiri pengen di peluk adek-adeknya.” Kak Yasmin menimpal.
“Iya, bilang
aja ngiri... Kak Arfa jelek!” aku menimpali. Lucu juga debat sambil sesenggukan.
“Ya sudah terserah lah, ayo cepat berangkat, Ni!” Kata Kak Arfa.
“Iya iya, dadah
Kak Yasmin! Dadah Kak Faiz!” aku mencium tangan Kak Yasmin lagi, lalu Kak Faiz.
“Iya, belajar
yang rajin ya, Ni!” pesan Kak Faiz.
“Siap!” kataku
sembari mengangkat tangan kananku ke samping dahi.
Aku berlalu
bersama Kak Arfa ke arah samping rumah. Di sana Kak Arfa sudah menyiapkan
sepeda motornya, dan segala macam barang yang akan aku bawa. Sudah saatnya aku
pergi.
Ikhlas. Satu
kata namun terasa berat untuk dilakukan. Memang hati kecilku masih belum bisa
mengikhlaskan. Belum, bukan berrarti tidak, kan? Butuh waktu untuk menerima. Ya,
aku yakin aku bisa menerima. Ada waktu 6 bulan sebelum aku kembali dari asrama.
Dan selama itu pula, aku berusaha meyakinkan diriku untuk menerima Kak Faiz sebagai
kakak baruku. Enam bulan saja. meski sulit, aku yakin aku bisa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar