Pupus
Oleh Farhana Hanifati
Sang
raksasa kuning mendaki ke puncak dirgantara. Juluran auranya memburu, mengoyak
dan menggerogoti kulit kami. Tak ada yang berani mengusiknya, ia terlalu
perkasa untuk diguncangkan dari tahtanya. Musuh atau kawan? Ia bisa jadi apa
saja. Ia bisa bermurah hati dengan menebar sejuta kasih bagi para dedaunan yang
tengah mendulang diri atau mungkin ia justru menjadi cenayang yang menyulut
sihir radiasi. Semua ada di tanganmu kawan, pilih musuh atau kawan!
Musuh atau kawan. Pupus mendelik ke
sekelilingnya. Mereka bukan musuh ataupun kawan, hanya orang antah berantah.
Tatapan mereka beragam, mulai dari cuek, iba, hingga menghina.Ya, tak apalah.
Mungkin kami memang nampak bak sampah di hadapan mereka. Rambut kucel, baju
robek-robek, bau keringat yang menusuk-nusuk hidung hingga kulit yang jauh,
teramat jauh dari standar kecantikan Miss World namun teramat dekat
dengan orang yang hendak kurapan dan kudisan.
Sampah.
Serpih rempah yang terbuang. Dulu, kata itu selalu membuat Pupus amat keki dan berang.
Namun, paradigma Dirga mampu memaksa sentimen itu untuk bangkang. “Kalau kita
sampah, ya, Pus. Hukum strata berlaku. Kita sampah, mereka berarti selevel di
atasnya. Plastik sampah,” Pupus sontak terkekeh renyah.
“Aku tahu! Kalau gitu, golongan
ketiga bisa jadi bak sampahnya,” timpal gadis itu.
“Nah, sementara mereka yang
tengah berleha di tengah lautan emas adalah...” Dirga memutus ucapannya,
isyarat teka-teki bagi Pupus. Senyumnya merekah lebar melihat gadis di
hadapannya yang tengah memutar otak mencari-cari jawaban. Ilham seakan
menghampiri, sang gadis itu pun mengambil ancang-acang untuk menyerukan tebakannya.
“TPA!!” seru keduanya
serentak. Baik Dirga mapun Pupus tebahak hebat. Pupus menyeka tangis
bahagianya. Beginilah
serunya hari bersama Dirga. Baginya cukup dengan keberadaan remaja itu, beban hidup
dapat menguap seketika ke kolong-kolong langit, sementara derita yang tengah
menempa dapat diserakan dengan mudahnya ke gorong-gorong parit. Hari-hari yang
tak ubahnya neraka pun dapat disulap menjadi surga.
Paradigma-paradigma Dirga memang terkesan nyeleneh
tapi satu hikmah yang Pupus petik darinya. Jangan berpikiran sempit.
Bola mata pupus meremat bayangan
hampa. Sehampa pikiran yang tengah memutar kisah lama. Tak ayal kisah itu bak nada
yang terdengar manis di relung hatinya. Namun juga melodi sendu yang menyayat-nyayat
asanya.
Cengkraman kuat membungkus pundak
Pupus. Sontak membuyarkan
lamunan gadis itu. “Pus! Pus! Bangun,
woi!” Pupus masih tercengang, silaunya mentari menggaburkan
pandangannya. Sementara desingan siang mengaungkan pendengarannya. Entah
kalimat apa yang baru saja didengarnya.
“Pa-” belum
sempat Ira menyelesaikan ucapannya. Pupil Pupus membesar. Bulu kuduknya
meremang. Suku kata itu memang memiliki parno yang amat besar bagi sekian ratus
bahkan ribuan anak jalanan. “Pamong Praja!” kicau mereka berbarengan.
“Lari!” seru Pupus
keras. Tangannya mengapit telengkup tangan Ira.
Suara ricuh sirine Pamong Praja meronta di antara
derung mesin kendaraan yang
membuana ria. Sementara isak tangis pedagang kaki lima merambat di
sela bumbungan jeritan dan rontaan kepanikan. Dengan bilah pentungan dan tameng,
para aparat menerobos rentetan gerobak yang berjejer runtut di sekitar trotoar.
Pedagang nekat melempar batu bahkan mangkok bakso ke arah birokrat ketertiban.
Bara emosi berkecamuk di tengah panasnya
siang yang bergejolak.
Pandangan nanar terpantul dari sorot mata Pupus. Perih
melihat rakyat jelata yang menderita dan tertindas di bawah tekanan aparatur
negara yang menderma membabi buta tanpa mengindahkan hati yang berkata.
Birokrasi yang rigid digung-agungkan tanpa memikirkan nasib rakyat yang
terjerat nestapa.
“Gila,” celetuk
Ira dari balik tembok persembunyian. “Empat, Pus. Eh, Lima!” jemari Ira
menyentuh mobil-mobil satpol PP dari kejauhan. “Mereka nggak mikir apa? Kalau berang-berang gitu ntar malah nyulut amarah pedagang!”
Pupus menggangguk,“Dan
ujung-ujungnya akan memakan korban.”
“Kalau lebih parah lagi korbannya nggak mati dan malah patah tulang.”
“Yang akan memicu ledakan tangisan,” sahut
Pupus pelan.
“Dan malah menambah
beban hidup alias uang,” celetuk
Ira melanjutkan.
Dekapan
erat meringkus dua tubuh mungil yang tengah bersembunyi di sela jalan tikus
kota. Bau keringat pakaiannya yang semerbak menusuk hidung kedua gadis itu.
Tubuh ringkih mereka berusaha memberontak bahu yang mengunci gerik mereka.
Hidup ini
umpama permainan, Pus. Jari Dirga merujuk kepada televisi dalam etalase yang
tengah menayangkan kartun Tom and Jerry. Kilasan masa lampau kembali berkelebat
dalam benak Pupus. Yang cerdik, yang
menang.
Taring Pupus mendarat di atas lengan yang tengah
menjeratnya. Gaung dari rontaan sosok misterius memenuhi lorong sempit
tersebut. Hempitan
yang mengekangnya terlepas. Kesempatan
tidak datang sekali, suara Dirga berdenting
kembali. Pupus
mengapit pergelangan
tangan Ira dan berderap meninggalkan si Pria. Tetes kerigat mereka bercucuran
deras seiring derai nafas yang tertatih dan langkah yang kian tergopoh. Namun
apa daya. Kecepatan mereka tak mampu bersanding dengan derap langkah si Pria
berkumis. Rematan tangannya
kembali menjerat dua raga itu untuk kesekian kalinya. Pucat pasi menghinggapi wajah Ira dan
Pupus. Pupus memejamkan matanya pasrah. Ini game
over.
***
Senja mencium langit kota. Kelamnya malam merangkak,
menghapus mega merah yang tengah bercokol di langit metropolitan. Mata yang
sedari tadi terkatup merambat pelan untuk membuka. Hamparan bintang bertaburan,
merumpun dalam klaster-klaster dalam satu kesatuan. Sayang, kumpulan awan yang mengambang menutup
beberapa rasi bintang.
Di bawah kumparan awan yang
mengambang, goresan pensil tengah mengarit lembaran putih. Granitnya mengukir
halus sketsa bangunan-bangunan pencakar langit. Sesekali penghapus memoles pelan
gerusan yang telah terpatri hingga akhirnya si penggerus meletakan si runcing
di tepi bukunya. “Gedung pencakar langit untuk pedagang kaki lima yang
tergusur!” Ira meneriakan mimpinya.
“Bakteri penghancur sampah!” seru Pupus tidak kalah
lantang. Pupus dan Ira bertukar pandang, tawa kecil mencuat, menyelinap keluar
dari bibir mereka. Mimpi-mimpi mereka, mereka lepaskan ke horizon, membiarkan
Sang Khalik memeluknya.
“Tiga
tahun,” Ira merentangkan kedua tangannya. Uapan kantuknya mengepul ke udara. Rambut cepaknya
menyibak pelan di tengkuknya.
“Banyak yang telah berubah, ya,” sorot
mata Pupus meratapi
awan sendu di pojok kaki langit. Belaian angin mengelitik rambut panjangnya yang
terurai sebahu. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya. “Sejak hari itu...”
“Sebuah momentum yang mengubah episentrum kehidupan
kita,” sahut Ira
ringan
“Hari dimana malapetaka menimpa,”
“Yang ternyata adalah sebuah kunci,” celetukan Ira kembali menjuntai.
“Untuk meraih mimpi yang lebih tinggi,” timpal Pupus tak mau kalah.
“Segudang terima kasih untuk si pak kumis,” tantang
Ira.
“Yang telah mengubah nasib tragis,” pupus
menaikan alisnya.
“Menjadi berbuah manis,”
“Woi, Jangan
berkhalwat di genting gitu, dong!” Suara misterius memutus sahutan puisi yang
tengah mengalir. Paras jutek tepampang jelas dari air mukanya.
“Haha... bilang
aja cemburu, Ta,” lidah
Ira setengah menjuntai keluar.
“Bu Minah, Ada
yang main ke genteng!” pekik Linta.
Nampak seorang ibu paruh baya tengah berderap
mendekati sumber suara. Wajah tambunnya memantulkan raut tak bahagia. Jelas
sekali. Beliau tidak ingin sejumput keributan pun menganggu kententraman
asrama, alias rumah singgah yang bernaung atas namanya.
Semenjak tiga tahun
ditampung dalam binaan rumah singgah, tidak ada satu anak asuh pun yang ingin
beruurusan dengan Bu Minah. Begitu pula Ira dan Pupus. Sosok Bu Minah yang
tegas berhasil menciptakan sangkar yang mendidik anak-anaknya untuk disiplin.
“Jan, cah sial. Ayo, Pus, cabut!” Ira bergegas
meninggalkan loteng.
“Ya,” Pupus mengekor pelan di belakang Ira. Untuk
terakhir kalinya, malam itu, Pupus mengadahkan kepalanya ke arah dirgantara. Kehilanganmu umpama berlian yang kehilangan
kemilaunya. Suram. Pupus mengatupkan jaketnya. Kini dinginnya hawa malam
tidak lagi mengusiknya.
Tapi
Kehilanganmu, juga menjadi sebuah tempaan. Tempaan yang mengkokohkan jiwaku
yang rapuh. Air mata meluncur landai di pelupuk pipi Pupus. Ah, sudahlah. Pupus menyeka buliran bening
sekenanya. Meski kau tidak lagi hadir di
sisiku, kau akan selalu menjadi satu-satunya Dirgaku. Pupus tersenyum
getir. Satu-satunya dirgantara yang menaungi jejak langkahku. Pupus
mulai menuruni tangga. Terima kasih
kucurahkan untukmu, wahai Kakakku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar