Kamis, 07 April 2016

Cerpen_Pupus

Pupus
Oleh Farhana Hanifati

Sang raksasa kuning mendaki ke puncak dirgantara. Juluran auranya memburu, mengoyak dan menggerogoti kulit kami. Tak ada yang berani mengusiknya, ia terlalu perkasa untuk diguncangkan dari tahtanya. Musuh atau kawan? Ia bisa jadi apa saja. Ia bisa bermurah hati dengan menebar sejuta kasih bagi para dedaunan yang tengah mendulang diri atau mungkin ia justru menjadi cenayang yang menyulut sihir radiasi. Semua ada di tanganmu kawan, pilih musuh atau kawan!


            Musuh atau kawan. Pupus mendelik ke sekelilingnya. Mereka bukan musuh ataupun kawan, hanya orang antah berantah. Tatapan mereka beragam, mulai dari cuek, iba, hingga menghina.Ya, tak apalah. Mungkin kami memang nampak bak sampah di hadapan mereka. Rambut kucel, baju robek-robek, bau keringat yang menusuk-nusuk hidung hingga kulit yang jauh, teramat jauh dari standar kecantikan Miss World namun teramat dekat dengan orang yang hendak kurapan dan kudisan.
            Sampah. Serpih rempah yang terbuang. Dulu, kata itu selalu membuat Pupus amat keki dan berang. Namun, paradigma Dirga mampu memaksa sentimen itu untuk bangkang. “Kalau kita sampah, ya, Pus. Hukum strata berlaku. Kita sampah, mereka berarti selevel di atasnya. Plastik sampah,” Pupus sontak terkekeh renyah.
            “Aku tahu! Kalau gitu, golongan ketiga bisa jadi bak sampahnya,” timpal gadis itu.
            “Nah, sementara mereka yang tengah berleha di tengah lautan emas adalah...” Dirga memutus ucapannya, isyarat teka-teki bagi Pupus. Senyumnya merekah lebar melihat gadis di hadapannya yang tengah memutar otak mencari-cari jawaban. Ilham seakan menghampiri, sang gadis itu pun mengambil ancang-acang untuk menyerukan tebakannya.
            “TPA!!” seru keduanya serentak. Baik Dirga mapun Pupus tebahak hebat. Pupus menyeka tangis bahagianya. Beginilah serunya hari bersama Dirga. Baginya cukup dengan keberadaan remaja itu, beban hidup dapat menguap seketika ke kolong-kolong langit, sementara derita yang tengah menempa dapat diserakan dengan mudahnya ke gorong-gorong parit. Hari-hari yang tak ubahnya neraka pun dapat disulap menjadi surga. Paradigma-paradigma Dirga memang terkesan nyeleneh tapi satu hikmah yang Pupus petik darinya. Jangan berpikiran sempit.
            Bola mata pupus meremat bayangan hampa. Sehampa pikiran yang tengah memutar kisah lama. Tak ayal kisah itu bak nada yang terdengar manis di relung hatinya. Namun juga melodi sendu yang menyayat-nyayat asanya.
            Cengkraman kuat membungkus pundak Pupus. Sontak membuyarkan lamunan gadis itu. “Pus! Pus! Bangun, woi!” Pupus masih tercengang, silaunya mentari menggaburkan pandangannya. Sementara desingan siang mengaungkan pendengarannya. Entah kalimat apa yang baru saja didengarnya.
            “Pa-belum sempat Ira menyelesaikan ucapannya. Pupil Pupus membesar. Bulu kuduknya meremang. Suku kata itu memang memiliki parno yang amat besar bagi sekian ratus bahkan ribuan anak jalanan. “Pamong Praja!” kicau mereka berbarengan.
“Lari!” seru Pupus keras. Tangannya mengapit telengkup tangan Ira.
Suara ricuh sirine Pamong Praja meronta di antara derung mesin kendaraan yang membuana ria. Sementara isak tangis pedagang kaki lima merambat di sela bumbungan jeritan dan rontaan kepanikan. Dengan bilah pentungan dan tameng, para aparat menerobos rentetan gerobak yang berjejer runtut di sekitar trotoar. Pedagang nekat melempar batu bahkan mangkok bakso ke arah birokrat ketertiban. Bara emosi berkecamuk di tengah  panasnya siang yang bergejolak.
Pandangan nanar terpantul dari sorot mata Pupus. Perih melihat rakyat jelata yang menderita dan tertindas di bawah tekanan aparatur negara yang menderma membabi buta tanpa mengindahkan hati yang berkata. Birokrasi yang rigid digung-agungkan tanpa memikirkan nasib rakyat yang terjerat nestapa.
“Gila,” celetuk Ira dari balik tembok persembunyian. “Empat, Pus. Eh, Lima!” jemari Ira menyentuh mobil-mobil satpol PP dari kejauhan. “Mereka nggak mikir apa? Kalau berang-berang gitu ntar malah nyulut amarah pedagang!”
Pupus menggangguk,“Dan ujung-ujungnya akan memakan korban.”
“Kalau lebih parah lagi korbannya nggak mati dan malah patah tulang.”
“Yang akan memicu ledakan tangisan,” sahut Pupus pelan.
 “Dan malah menambah beban hidup alias uang,” celetuk Ira melanjutkan.
            Dekapan erat meringkus dua tubuh mungil yang tengah bersembunyi di sela jalan tikus kota. Bau keringat pakaiannya yang semerbak menusuk hidung kedua gadis itu. Tubuh ringkih mereka berusaha memberontak bahu yang mengunci gerik mereka.
Hidup ini umpama permainan, Pus. Jari Dirga merujuk kepada televisi dalam etalase yang tengah menayangkan kartun Tom and Jerry. Kilasan masa lampau kembali berkelebat dalam benak Pupus. Yang cerdik, yang menang.
Taring Pupus mendarat di atas lengan yang tengah menjeratnya. Gaung dari rontaan sosok misterius memenuhi lorong sempit tersebut. Hempitan yang mengekangnya terlepas. Kesempatan tidak datang sekali, suara Dirga berdenting kembali. Pupus mengapit pergelangan tangan Ira dan berderap meninggalkan si Pria. Tetes kerigat mereka bercucuran deras seiring derai nafas yang tertatih dan langkah yang kian tergopoh. Namun apa daya. Kecepatan mereka tak mampu bersanding dengan derap langkah si Pria berkumis. Rematan tangannya kembali menjerat dua raga itu untuk kesekian kalinya. Pucat pasi menghinggapi wajah Ira dan Pupus. Pupus memejamkan matanya pasrah. Ini game over.
***
Senja mencium langit kota. Kelamnya malam merangkak, menghapus mega merah yang tengah bercokol di langit metropolitan. Mata yang sedari tadi terkatup merambat pelan untuk membuka. Hamparan bintang bertaburan, merumpun dalam klaster-klaster dalam satu kesatuan. Sayang, kumpulan awan yang mengambang menutup beberapa rasi bintang.
            Di bawah kumparan awan yang mengambang, goresan pensil tengah mengarit lembaran putih. Granitnya mengukir halus sketsa bangunan-bangunan pencakar langit. Sesekali penghapus memoles pelan gerusan yang telah terpatri hingga akhirnya si penggerus meletakan si runcing di tepi bukunya. “Gedung pencakar langit untuk pedagang kaki lima yang tergusur!” Ira meneriakan mimpinya.
“Bakteri penghancur sampah!” seru Pupus tidak kalah lantang. Pupus dan Ira bertukar pandang, tawa kecil mencuat, menyelinap keluar dari bibir mereka. Mimpi-mimpi mereka, mereka lepaskan ke horizon, membiarkan Sang Khalik memeluknya.
“Tiga tahun,” Ira merentangkan kedua tangannya. Uapan kantuknya mengepul ke udara. Rambut cepaknya menyibak pelan di tengkuknya.

            “Banyak yang telah berubah, ya,” sorot mata Pupus meratapi awan sendu di pojok kaki langit. Belaian angin mengelitik rambut panjangnya yang terurai sebahu. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya. “Sejak hari itu...
“Sebuah momentum yang mengubah episentrum kehidupan kita,sahut Ira ringan
“Hari dimana malapetaka menimpa,”
“Yang ternyata adalah sebuah kunci,”  celetukan Ira kembali menjuntai.
“Untuk meraih mimpi yang lebih tinggi,” timpal  Pupus tak mau kalah.
“Segudang terima kasih untuk si pak kumis,” tantang Ira.
“Yang telah mengubah nasib tragis,” pupus menaikan alisnya.
“Menjadi berbuah manis,”
Woi, Jangan berkhalwat di genting gitu, dong!” Suara misterius memutus sahutan puisi yang tengah mengalir. Paras jutek tepampang jelas dari air mukanya.
“Haha... bilang aja cemburu, Ta,” lidah Ira setengah menjuntai keluar.
 “Bu Minah, Ada yang main ke genteng!” pekik Linta.
Nampak seorang ibu paruh baya tengah berderap mendekati sumber suara. Wajah tambunnya memantulkan raut tak bahagia. Jelas sekali. Beliau tidak ingin sejumput keributan pun menganggu kententraman asrama, alias rumah singgah yang bernaung atas namanya.
Semenjak tiga tahun ditampung dalam binaan rumah singgah, tidak ada satu anak asuh pun yang ingin beruurusan dengan Bu Minah. Begitu pula Ira dan Pupus. Sosok Bu Minah yang tegas berhasil menciptakan sangkar yang mendidik anak-anaknya untuk disiplin.
Jan, cah sial. Ayo, Pus, cabut!” Ira bergegas meninggalkan loteng.  
“Ya,” Pupus mengekor pelan di belakang Ira. Untuk terakhir kalinya, malam itu, Pupus mengadahkan kepalanya ke arah dirgantara. Kehilanganmu umpama berlian yang kehilangan kemilaunya. Suram. Pupus mengatupkan jaketnya. Kini dinginnya hawa malam tidak lagi mengusiknya.
Tapi Kehilanganmu, juga menjadi sebuah tempaan. Tempaan yang mengkokohkan jiwaku yang rapuh. Air mata meluncur landai di pelupuk pipi Pupus. Ah, sudahlah. Pupus menyeka buliran bening sekenanya. Meski kau tidak lagi hadir di sisiku, kau akan selalu menjadi satu-satunya Dirgaku. Pupus tersenyum getir. Satu-satunya dirgantara yang menaungi jejak langkahku. Pupus mulai menuruni tangga. Terima kasih kucurahkan untukmu, wahai Kakakku. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar