Rabu, 16 Maret 2016

THE LADDER OF CREATION

THE LADDER OF CREATION
(TAHAPAN DALAM PENCIPTAAN)

A.       PENDAHULUAN

Bab “The ladder of creation” dalam buku “The Ascent of Man” karya Bronowski ini menceritakan tahapan penciptaan mahluk hidup di muka bumi ini. Pada bagian ini Bronowski mengajak pembacanya untuk melihat lebih dalam bagaimana mahluk hidup bertahan, bagaimana mahluk hidup berevolusi dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Itu semua menjadi cerita yang menarik sebagai asal muasal lahirnya teori evolusi.
 Tapi sebelum pembahasan mengenai teori evolusi tersebut, pada makalah ini kami paparkan terlebih dahulu beberapa tahapan penciptaan agar lebih jelas tergambar ‘tangga’ atau tahapan dalam penciptaan yang dimaksud Bronowski ini.


B.       TEORI PENCIPTAAN
Berikut ini kami rinci tiga hal yang dapat dipandang sebagai tahap persoalan penciptaan, yaitu: pertama, proses penciptaan bumi dan alam semesta; kedua, terjadinya kehidupan di bumi ini untuk pertama kalinya (biogenesis) dan berkembangnya organisme-organisme dalam bentuknya yang paling sederhana (phylogenesis); dan ketiga, munculnya manusia (antropogenesis).

1.    Teori Penciptaan Bumi dan Alam semesta
Dari mana bumi dan alam semesta yang mempesona ini berasal? Asal-usul alam semesta menantang manusia modern dengan penjelajahan iImu pengetahuan yang menurut mereka tiada batas.
G. P.Kuiper (1905-1975) yang dikenal sebagai penemu bulan Uranus, Miranda dan bulan Neptunus,Nereid- mengajukan teori bahwa matahari dan semua planet yang menyusun sistem tata surya kita berasal dari kabut gas purba. Kabut gas purba ini mengalami gerak memutar dengan kecepatan sedemikian rupa sehingga membentuk gumpalan-gumpalan materi. Gumpalan-gumpalan materi sebagai hasil pemadatan kabut gas inilah yang menjadi cikal bakal alam semesta.
"Gumpalan" besar yang menjadi "inti" dari semua gumpalan yang lain menjelma menjadi matahari. Kerapatan gumpalannya begitu rupa sehingga "gumpalan" matahari menyala dengan api nuklir. Sementara itu gumpalan-gumpalan kabut yang lain terus mengalami gerak memutar dan terdorong menjauh dengan jarak tertentu dari matahari. Proses gerak memutar dan penggumpalan kabut gas itu berlangsung ratusan milyar tahun yang lalu. Teori ini diajukan Kuiper pada 1950-an. Yang menarik dari teori Kuiper ini ialah bahwa alam semesta muncul tidaklah dalam sekejap, melainkan melewati proses yang sangat lama.
Gambaran teori ini berbeda dengan apa yang ditulis dalam Al-Quran (7:54) yang menyebutkan, bahwa Allah telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Teori ini juga berbeda dengan apa yang ditulis dalam Kejadian 1 tentang kisah Tuhan menciptakan bumi dan segala isinya dalam tujuh hari.Teori Kuiper tidak cukup meyakinkan.
Dua teori lain mengenai pembentukan alam semesta ialah teori "Keadaan Tetap" (steady-state theory) dan "Teori Dentuman Besar" (big bang).Tokoh yang memelopori teori “Keadaan Tetap” ialah para ahli Inggris: Fred Hoyle (1915-2001)," Herman Bondi (1919-2005), danThomas Gold (1920-2004). Sedangkan para ahli di balik teori “Dentuman Besar” adalah ahli fisika Amerika, George Gamow (1904-1968), yang kemudian didukung oleh Ralph Alpher (1921-2007) dan Robert Herman (1914-1997).
Teori Keadaan Tetap (steady-state) menggambarkan alam semesta yang tidak berawal dan tidak berakhir. Alam semesta lebih kurang bersifat sama dan tetap, bukan hanya di mana-mana, tetapi juga, setiap saat. Kata “tetap” pada teori ini  bukan dimaksudkan tiada perubahan. Karena teori ini mengakui bahwa alam semesta memuai tetapi pemuaiannya berlangsung tetap. Karena pertambahan alam semesta lewat pemuaian ini berlangsung sampai tidak terhingga dan tanpa mempedulikan pertambahan massa dan tenaganya, teori Keadaan Tetap ini dipandang lemah.
Teori yang amat menghebohkan dan terus-menerus dikembangkan dengan penemuan-penemuan menarik ialah teori Dentuman Besar. Teori ini berurusan dengan teori pemuaian alam semesta, tetapi dengan penjelasan yang berbeda, yaitu dengan ledakan atau dentuman raksasa. Teori ini meyakini bahwa alam semesta pernah menyatu dalam satu bola raksasa. Bola ini terdiri dari neutron dan tenaga pancaran yang disebut dengan "Ylem" (di baca,ailem). Sekitar delapan belas milyar tahun silam, Ylem ini meledak dengan amat dahsyat. "Puing-puing" Ylem beterbangan. Karena mengalami pemisahan satu sama lain, temperatur pada masing-masing puing menyejuk dari suhu bermilyar-milyar derajat menjadi berjuta-juta derajat saja. Pada waktu inilah neutron serentak menjadi proton dan elektron. Sementara tenaga pancaran membentuk atom-atom hidrogen, helium, dan seterusnya yang dalam eksperimen Stanley Miller (1953) merupakan unsur-unsur pembangun kehidupan. Dan semua unsur ini, menurut teori ini, terbentur setengah jam pertama setelah terjadi dentuman dahsyat.
Teori ini menjadi sangat menarik karena diikuti oleh temuan-temuan baru yang mendukungnya. Pada 1965, Arno Penzias dan Robert Wilson secara kebetulan menemukan "sisa" dentuman itu. Mereka menemukan gelombang mikro mendesis dengan suhu sampai 2,75 derajat Kelvin, yang merupakan sisa radiasi ledakannya. Bukti-bukti ini tidak terbantahkan. Matahari dan planet-planet lain merupakan "puing-puing" dentuman hebat.
Tetapi teori ini tetap menyisakan persoalan lain. Jika alam semesta ini memuai setelah ledakan raksasa, bagaimanakah masa depannya? Teori Relativitas Khusus dan Relativitas Umum Einstein serta teori Stephen Hawking yang menyempurnakan teori Einstein menjelaskan seputar hipotesis mengenai bentuk alam semesta. Persoalan ini menunjuk pada problem hipotesis: Jika alam semesta berasal dari suatu ledakan pada masa tertentu, kapan alam semesta ini akan mengalami peristiwa yang sama? Kapan berakhirnya?
Hawking membedakan tiga macam waktu. Atau lebih tepat dikatakan,tiga arah waktu. Pertarna, arah "waktu termodinamika," yang menunjukkan bahwa ketidakteraturan selalu meningkat. Kedua, arah "waktu psikologis," yakni arah waktu yang kita rasakan sehingga kita dapat mengingat masa lalu dan bukan masa depan. Ketiga, arah "waktu kosmologis," yang merupakan arah waktu pengembangan semesta. Penjelasan mengenai waktu ini dimaksudkan untuk memahami apa arti awal (asal-mula) alam semesta dan akhir kehidupan ini. Hawking melihat dan berkesimpulan bahwa mengenai proses tercipta alam semesta dan akhir dari semua ini tidak membutuhkan penjelasan yang menyertakan peran Allah.Tidak ada tempat bagi Allah yang disebut "the Creator ' dalam apa yang merupakan ketentuan hukum alam.

2.    Terjadinya Kehidupan
Jika alam semesta muncul dari bola raksasa neutron dan energi pancaran yang meledak amat dahsyat, dari manakah kehidupan ini berasal? Dari Tuhan ataukah dari persenyawaan unsur-unsur kimia yang membangkitkan dasar-dasar kehidupan? Kehidupan memang mengandalkan alam semesta. Sukar dibayangkan apa itu kehidupan jika tiada alam semesta yang menampungnya.
Stanley Miller (1930-2007) adalah tokoh di balik penyelidikan bidang ini. Eksperimentasinya memberikan pengertian baru mengenai apa itu kehidupan. Pada Abad Pertengahan, diakui formulasi generatio aeqiuvoca, yaitu bahwa hidup dapat terjadi dari zat tidak berhayat, misalnya cacing dari tanah, atau kehidupan ini terjadi serentak. Keyakinan bahwa kehidupan baru dapat dimungkinkan biarpun tanpa campur tangan Tuhan, ditegaskan oleh Miller dengan teramat ekstrim bahwa kehidupan tidaklah terjadi sebagai peristiwa kebetulan atau peristiwa luar biasa atau peristiwa serentak. Kehidupan terjadi secara biasa dan berlangsung beberapa kali dan dengan sendirinya, melalui reaksi kimia spontan.
Jadi, pada saat untuk pertama kalinya bumi terbentang oleh suatu persenyawaan unsur-unsur kimia yang ada pada waktu itu, muncullah benih-benih kehidupan. Miller mengadakan pengulangan reaksi-reaksi kimia yang bersifat reduktif dalam atmosfir buatan (tidak ada oksigennya). Atmosfer buatan dikondisikan seperti atmosfer primitif. Seperti diketahui, atmosfer primitif mengandung gas metan (CH4), uap air (H20) amonia (NH2), dan hidrogen (H2). Miller merekayasa reaksi berupa ledakan-ledakan dari unsur-unsur kimia itu. Hasilnya, ia memperoleh sintesis spontan dari banyak molekul organik, termasuk asam amino. Molekul-molekul inilah yang menandai  kehidupan organisme-organisme. Hasil itu tentu saja sangat mengejutkan, sebab kehidupan organisme-organisme menemukan wujudnya tidak dari tanganTuhan, melainkan berlangsung dalam proses yang wajar (yaitu dari unsur-unsur penyusun molekul organik).
Proses selanjutnya ialah evolusi organisme-organisme (phylogenesis). Proses evolusi dari organisme primitif sampai ke hewan tertinggi, hewan menyusui, membutuhkan waktu yang lama. Proses perkembangan organisme-organisme itu makin terpacu oleh bakteri-bakteri (alga biru). Bakteri-bakteri  mampu meresapkan cahaya matahari dan memproduksi gula dengan melepaskan oksigen ke dalam atmosfer. Ketersediaan oksigen memacu organisme-organisme lainnya untuk mengalami proses pembakaran untuk memperoleh energi. Dengan cara yang dernikian, organisme organisme lain bermunculan, mengalami proses perkembangan, mengevolusi. Waktu yang dibutuhkan dalam proses evolusi sampai kehadiran organisme bersel satu kurang lebih dua milyar tahun, dan baru kurang lebih 700 juta tahun kemudian, mulailah perkembangan organisme bersel banyak.Binatang bertulang punggung pertama muncul 500 juta tahun lalu. Sedangkan hewan menyusui 250 juta tahun kemudian. Semuanya dapat berkembang setelah kepunahan reptil-reptil sekitar 60 juta tahun lalu. Bagaimana evolusi yang mengagumkan itu dapat dijelaskan? Charles Darwin menjelaskan dengan teori tentang seleksi. Organisme-organisme selalu mengalami perubahan kecil sesuai dengan tuntutan.
Tetapi menurut Louis Pasteur, formulasi itu salah. Eksperimen Pasteur menunjukkan bahwa hidup hanya berasal dari hidup.

3.    Hadirnya Makhluk Cerdas, “Manusia”
Problem penciptaan yang sangat sensitif dan krusial adalah tentang kehadiran manusia. Dari mana manusia hadir? Semua agama atau suatu kepercayaan religius apa pun akan mengatakan dengan pasti, bahwa manusia merupakan ciptaan Tuhan secara langsung dan istimewa serta luar biasa.
Tetapi ilmu pengetahuan yang menganalisisnya berdasarkan eksperimentasi ilmiah, membongkar kebenaran kisah-kisah itu. Dari penjelasan-penjelasan di atas, kita dapat langsung mengatakan bahwa manusia, sebagai bagian dari kehidupan lama semesta ini, berasal pula dari organisme bersel satu. Sungguh suatu kekuatan alam yang mengagumkan, namun sekaligus juga menegangkan khususnya dalam kaitan dengan iman, bahwa manusia merupakan mahluk ciptaan tangan Tuhan berasal dari organisme berselsatu. Bagaimana menjelaskannya?
Penjelasan tentang asal-usul manusia (sebagai yang berasal dari organism bersel satu) tidak dapat dilepaskan dari teori evolusi yang mengatakan bahwa manusia berasal dari primata 10 sampai 30 juta tahun yang lalu. Primata-primata pada waktu itu merupakan primata yang sudah berjalan di atas dua kaki saja. Dengan demikian dua"kaki" depan menjadi bebas. Dua "kaki" itu menjadi tangan. kepala tidak lagi digantungkan ke depan, melainkan tegak lurus ke atas. Mulut tidak lagi sebagai senjata dan alat tubuh untuk memegang (sebab sudah ada tangan). Dengan demikian otot-otot kuat sekitar kepala yang menghindari pertumbuhan otak menyusut dan otak dapat berkembang. Perkembangan otak merupakan wujud tampilnya suatu mahluk baru, mahluk cerdas, yakni manusia.
Banyak ahli mengatakan bahwa kehadiran manusia merupakan loncatan evolusi. Artinya, sukar dibayangkan manusia dengan segala keunggulan dan keluhuran akal budi, etika, moral, martabat,serta cita rasa religiusitasnya merupakan suatu "hasil" evolusi primata tanpa diakui adanya campur tangan dari kuasa lain di luar kekuatan seleksi alam.
Teilhard de Chardin dalam fase ketiga evolusi (fase noosfer) memilah setiap benda /makhluk dalam segi, yakni segi luar (without) dan segi dalam(within). Bila segi luar sepenuhnya dibangun oleh seleksi alam, segi dalam perkembangan manusia tidak dapat dipahami jika hanya disempurnakan oleh alam. Sebab segi dalam perkembangan menyangkut alam kesadaran,alam batiniah, dimensi psikologis, dan religius. Segi dalam perkembangan menyentuh secara karakteristik pada perkembangan evolutif manusia. Hanya manusia yang mengalami perkembangan from within. Segi dalam manusia tidak hanya menjadi bagian dari badan manusia, melainkan juga mengatasinya, dan tampil sebagai kesatuan dunia lain dalam diri manusia. Pada tahap ini, teori Darwin jelas "meloncati" perkembangan. Karenanya, kehadiran manusia tidak dapat disimak semata dari evolusi fisik badan/tubuhnya melainkan evolusi from within yang menyisakan ruang kesadaran bahwa ada intervensi lain dari sekedar perkembangan evolutif. Orang beriman menyebutnya "Tuhan." Teilhard de Chardin memiliki segala argumentasi ilmiah untuk mempertanggungjawabkan kehadiran evolutif manusia yang tidak semata fisik.

C.       TEORI EVOLUSI
Teori evolusi merupakan sebuah filsafat materialistis yang muncul bersamaan dengan kebangkitan filsafat filsafat materialistis kuno dan kemudian menyebar luas pada abad ke-19. Seperti telah disebutkan sebelumnya, paham materialisme berusaha menjelaskan alam semata melalui faktor-faktor materi. Karena menolak penciptaan, pandangan ini menyatakan bahwa segala sesuatu, hidup ataupun tak hidup, muncul tidak melalui penciptaan tetapi dari sebuah peristiwa kebetulan yang kemudian mencapai kondisi teratur. Akan tetapi, akal manusia sedemikian terstruktur sehingga mampu memahami keberadaan sebuah kehendak yang mengatur di mana pun ia menemukan keteraturan. Filsafat materialistis, yang bertentangan dengan karakteristik paling mendasar akal manusia ini, memunculkan "teori evolusi" di pertengahan abad ke-19.
Teori tentang evolusi oleh seleksi alam tentu saja sebuah inovasi ilmu pengetahuan pada abad 19. Ciptaan tidaklah statis, tetapi berubah dalam waktu ke waktu. Dunia fisik 10 juta tahun yang lalu  sama dengan sekarang termasuk hukum-hukumnya. Tapi dunia kehidupan tidak sama. Misalnya, 10 tahun yang lalu tidak ada manusia yang mendiskusikan hal ini.
Orang yang mengemukakan teori evolusi sebagaimana yang dipertahankan dewasa ini, adalah para naturalis dari Inggris, Charles Robert Darwin dan Alfred Russel Wallace.
Bronowski bahkan memberi gelar pada keduanya sebagai ‘gentlemen in Victorian England’, karena kedua penemu teori evolusi ini sama-sama berasal dari Inggris dan keduanya pun sama-sama hidup dalam masa kejayaan Ratu Victoria.

   1.       Charles Robert Darwin
Charles Darwin (1809-1882) memiliki nama panjang Charles Robert Darwin. Ia  adalah ilmuwan asal Inggris yang menemukan hasil penelitian di pulau Galapagos untuk menunjang teori evolusi. Charles Darwin disebut sebagai bapak evolusi karena memiliki data yang lebih lengkap untuk menguatkan teori evolusi.
Charles Darwin adalah seorang mahasiswa kedokteran pada Universitas Edinburrgh. Ayahnya yang seorang dokter kaya itu mengusulkan agar Charles Darwin  menjadi seorang pendeta.
Darwin memiliki karakter pelupa dan merupakan karakter vitalnya. Sifat ini berlawanan dengan kebiasaaa lelaki dari Porloth (= Wallace), dalam  masalah teori evolusi oleh seleksi alam.
Darwin tidak pernah mengenyam pendidikan formal di bidang biologi. Ia hanya memiliki ketertarikan amatir pada alam dan makhluk hidup. Minat tersebut mendorongnya bergabung secara sukarela dalam ekspedisi pelayaran dengan sebuah kapal bernama H.M.S. Beagle, yang berangkat dari Inggris tahun 1832 dan mengarungi berbagai belahan dunia selama lima tahun. Darwin muda sangat takjub melihat beragam spesies makhluk hidup, terutama jenis burung tertentu di kepulauan Galapagos. Ia mengira bahwa variasi pada paruh burung disebabkan oleh adaptasi mereka terhadap habitat. Dengan pemikiran ini, ia menduga bahwa asal usul kehidupan dan spesies berdasar pada konsep "adaptasi terhadap lingkungan".
Sepulangnya dari perjalanan Beagle pada tahun 1838, Darwin membaca tulisan Thomas Malthus yaitu “The Essay on Population”. Perlu digarisbawahi bahwa Darwin saat itu membacanya hanya sebagai hiburan semata, artinya ia tidak membacanya dengan serius. Dalam esai tersebut Malthus mengatakan bahwa populasi bertambah lebih cepat daripada pertambahan makanan. Seleksi alam kemudian terjadi karena binatang-binatang harus bersaing untuk dapat bertahan hidup. Yang lemah terbunuh, dan yang kuat membentuk spesies baru menyesuaikan dengan lingkungannya.
Menurut Darwin, aneka spesies makhluk hidup tidak diciptakan secara terpisah olehTuhan, tetapi berasal dari nenek moyang yang sama dan menjadi berbeda satu sama lain akibat kondisi alam. Hipotesis Darwin tidak berdasarkan penemuan atau penelitian ilmiah apa pun; tetapi kemudian ia menjadikannya sebuah teori monumental berkat dukungan dan dorongan para ahli biologi materialis terkenal pada masanya. Gagasannya menyatakan bahwa individu-individu yang beradaptasi pada habitat mereka dengan cara terbaik, akan menurunkan sifat-sifat mereka kepada generasi berikutnya. Sifat-sifat yang menguntungkan ini lama-kelamaan terakumulasi dan mengubah suatu individu menjadi spesies yang sama sekali berbeda dengan nenek moyangnya.
Setelah membaca esai tersebut, Darwin merasa yakin bahwa inilah saatnya ia menulis sebuah teori. Tapi kenyataannya selama empat tahun ia tidak mengemukakan teori apa pun. Barulah pada tahun 1842 ia menulis draft sebanyak 35 halaman dalam coretan pensil, yang kemudian 2 tahun kemudian bertambah menjadi 230 halaman yang telah ditulis dengan pena. Selanjutnya ia simpan tulisannya tersebut bersama sejumlah uang dan wasiat untuk istrinya agar mempublikasikan teorinya itu jika ia mati kelak.
Dalam wasiatnya yang ditulis dalam bahasa formal pada 5 Juli 1844 Darwin menulis :
I therefore write this in case of my sudden death, as my most solemn and last request, which I am sure you will consider the sama as if legally entered in my will, that you will devote £400 to its publication, and further, will yourself, or through Hensleigh (Wedgwood), take trouble in promoting it. I wish that my sketch be given to some competent person, with this sum to induce him to take trouble in its improvement and enlargement.
With respect to editors, Mr (Charles) Lyell would be the best if he would undertake itu; I believe he would find the work pleasant, and he would learn some facts new to him.
Dr (Joseph Dalton) Hooker would be very good.
Darwin memang memiliki karakter yang aneh. Sifatnya ini disebut Hypochondria, yang diakibatkan beberapa infeksi yang didapatnya selama berada di negara tropis, membuatnya tidak ingin menghadapi publik. Botol-botol obat di  ruang kerjanya membuat ia lemas, tidur siang, keterlambatan dalam menulis, keengganan untuk berargumen di depan publik.
Pada 18 Juni 1858 Darwin menerima tulisan Wallace tentang pembentukan spesies baru. Saat itulah ia terhenyak, karena setelah 20 tahun masa-masa diamnya (careful, silent years) ia harus menemukan fakta bahwa ada seseorang yang mendukung teorinya. Akhirnya atas bantuan teman-temannya Lyell dan Hooker, ia mempublikasikan pandangannya ini dalam bukunya yang berjudul “The Origin of Species, By Means of Natural Selection” pada tahun 1859.
Darwin sadar bahwa teorinya menghadapi banyak masalah. Ia mengakui ini dalam bukunya pada bab "Difficulties of theTheory". Kesulitan-kesulitan ini terutama pada catatan fosil dan organ-organ rumit makhluk hidup (misalnya mata) yang tidak mungkin dijelaskan dengan konsep kebetulan dan naluri makhluk hidup. Darwin berharap kesulitan-kesulitan ini akan teratasi oleh penemuan-penemuan baru; tetapi bagaimanapun ia tetap mengajukan sejumlah penjelasan yang sangat tidak memadai untuk sebagian kesulitan tersebut. Seorang ahli fisika Amerika, Lipson, mengomentari "kesulitan-kesulitan" Darwin tersebut:Ketika membaca The Origin of Species, saya mendapati bahwa Darwin sendiri tidak seyakin yang sering dikatakan orang tentangnya; bab "Difficulties of the Theory" misalnya, menunjukkan keragu-raguannya yang cukup besar. Sebagai seorang fisikawan, saya secara khusus merasa terganggu oleh komentarnya mengenai bagaimana mata terbentuk.
Di saat gema buku Darwin tengah berkumandang, seorang ahli botani Austria bernama Gregor Mendel menemukan hukum penurunan sifat pada tahun 1865. Meskipun tidak banyak dikenal orang hingga akhir abad ke-19, penemuan Mendel mendapat perhatian besar di awal tahun 1900-an. Inilah awal kelahiran ilmu genetika. Beberapa waktu kemudian, struktur gen dan kromosom ditemukan. Pada tahun 1950-an,penemuan struktur molekul DNA yang berisi informasi genetis menghempaskan teori evolusi ke dalam krisis. Alasannya adalah kerumitan luar biasa dari kehidupan dan ketidakabsahan mekanisme evolusi yang diajukan Darwin.
Perkembangan ini seharusnya membuat teori Darwin terbuang dalam keranjang sampah sejarah. Namun ini tidak terjadi, karena ada kelompok-kelompok tertentu yang bersikeras merevisi, memperbarui dan mengangkat kembali teori ini pada kedudukan ilmiah. Kita dapat memahami maksud upaya-upaya tersebut hanya jika menyadari bahwa di belakang teori ini terdapat tujuan ideologis, bukan sekadar kepentingan ilmiah.
Teori Darwin jatuh terpuruk dalam krisis karena hukum-hukum genetika yang ditemukan pada perempat pertama abad ke-20. Meskipun demikian, sekelompok ilmuwan yang bertekad bulat tetap setia kepada Darwin berusaha mencari jalan keluar. Mereka berkumpul dalam sebuah pertemuan yang diadakan oleh Geological Society of America pada tahun 1941. Ahli genetika seperti G. Ledyard Stebbins dan Theodosius Dobzhansky, ahli zoologi seperti Ernst Mayr dan Julian Huxley, ahli paleontologi seperti George Gaylord Simpson dan Glenn L. Jepsen, dan ahli genetika matematis seperti Ronald Fisher dan Sewall Right, setelah pembicaraan panjang akhirnya menyetujui cara-cara untuk "menambal sulam" Darwinisme.
Kader-kader ini berfokus kepada pertanyaan tentang asal usul variasi menguntungkan yang dia asumsikan menjadi penyebab makhluk hidup berevolusi, sebuah masalah yang tidak mampu dijelaskan oleh Darwin sendiri dan dielakkan dengan bergantung pada teori Lamarck. Gagasan mereka kali ini adalah "mutasi acak" (random mutations). Mereka menamakan teori baru ini "Teori Evolusi Sintetis Modern" (The Modern Synthetic Evolution Theory), yang dirumuskan dengan menambahkan konsep mutasi pada teori seleksi alam Darwin. Dalam waktu singkat, teori ini dikenal sebagai "neo-Darwinisme"dan mereka yang mengemukakannya disebut "neo-Darwinis".Beberapa dekade berikutnya menjadi era perjuangan berat untuk membuktikan kebenaran neo-Darwinisme. Telah diketahui bahwa mutasi  atau "kecelakaan"  yang terjadi pada gen-gen makhluk hidup selalu membahayakan.
Neo-Darwinis berupaya memberikan contoh "mutasi yang menguntungkan" dengan melakukan ribuan eksperimen mutasi. Akan tetapi semua upaya mereka berakhir dengan kegagalan total. Mereka juga berupaya membuktikan bahwa makhluk hidup pertama muncul secara kebetulan di bawahkondisi-kondisi bumi primitif, seperti yang diasumsikan teori tersebut. Akan tetapi eksperimen-eksperimen inipun menemui kegagalan. Setiap eksperimen yang bertujuan membuktikan bahwa kehidupan dapat dimunculkan secara kebetulan telah gagal. Perhitungan probabilitas membuktikan bahwa tidak ada satu punprotein, yang merupakan molekul penyusun kehidupan, dapat muncul secara kebetulan. Begitu pula sel,yang menurut anggapan evolusionis muncul secara kebetulan pada kondisi bumi primitif dan tidakterkendali, tidak dapat disintesis oleh laboratorium-laboratorium abad ke-20 yang tercanggih sekalipun.
Teori neo-Darwinis telah ditumbangkan pula oleh catatan fosil. Tidak pernah ditemukan di belahan dunia mana pun "bentuk-bentuk transisi" yang diasumsikan teori neo-Darwinis sebagai bukti evolusi bertahap pada makhluk hidup dari spesies primitif ke spesies lebih maju. Begitu pula perbandingan anatomi menunjukkan bahwa spesies yang diduga telah berevolusi dari spesies lain ternyata memiliki ciri-ciri anatomi yang sangat berbeda, sehingga mereka tidak mungkin menjadi nenek moyang dan keturunannya. Neo-Darwinisme memang tidak pernah menjadi teori ilmiah, tapi merupakan sebuah dogma ideologis kalau tidak bisa disebut sebagai semacam "agama". Oleh karena itu, pendukung teori evolusi masih saja mempertahankannya meskipun bukti-bukti berbicara lain. Tetapi ada satu hal yang mereka sendiri tidak sependapat, yaitu model evolusi mana yang "benar" dari sekian banyak model yang diajukan. Salah satu hal terpenting dari model-model tersebut adalah sebuah skenario fantastis yang disebut "punctuated equilibrium".
Dua inti pokok dari teori Darwin :
a.    Spesies yang hidup di masa sekarang berasal dari makhluk hidup yang berasal dari masa lampau.
b.    Evolusi terjadi karena adanya proses seleksi alam (natural selections)

Pengertian dan arti definisi seleksi alam adalah seleksi yang terjadi pada individu-individu yang hidup di alam, sehingga individu yang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan tersebut akan terus hidup dan beranak pinak, sedangkan yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan alam lingkungan sekitarnya akan musnah dan hilang dimakan waktu. Contoh peristiwa seleksi alam adalah pada kupu-kupu biston betularia di Inggris. Kupu-kupu biston betularia terdapat dua jenis, yaitu yang bersayap terang cerah dengan yang bersayap gelap. Awal mulanya lingkungan Inggris yang bersih sangat baik untuk adaptasi kupukupu yang bersayap cerah. Namun karena limbah jelaga industri di Inggris yang semakin banyak dan mengotori pepohonan sehingga pohon menjadi gelap yang akhirnya menjadi lebih adaptif untuk kupu-kupu yang bersayap gelap daripada yang terang. Hasilnya perkembangan kupu-kupu bersayap gelap meningkat tajam dan sayap cerah berkurang drastis.

 2.       Alfred Russel Wallace
Alfred Russel WallaceO.M., F.R.S. (lahir 8 Januari1823 – meninggal 7 November1913 pada umur 90 tahun) dikenal sebagai seorang naturalis, penjelajah, pengembara, ahli antropologi dan ahli biologi dari Britania Raya. Ia terkenal sebagai orang yang mengusulkan sebuah teori tentang seleksi alam, dimana kemudian hari malah membuat Charles Darwin lebih terkenal dari dia dengan teorinya sendiri.
Alfred Russel Wallace  "Jika ayah saya adalah seorang yang kaya, keseluruhan hidup saya akan memiliki bentuk yang berbeda, dan mungkin saya dapat diberikan beberapa perhatian pada ilmu pengetahuan. Hal ini kelihatannya tidak seperti itu. Saya harus melakukan sebuah perjalanan  hampir keseluruh hutan-hutan yang tidak dikenal di Amazon untuk menyelidiki alam dan membuat sebuah kehidupan dengan mengumpulkan mereka."
Wallace  menuliskan kehidupan awalnya, ketika dia harus mendapatkan. sebuah cara untuk mencukupi hidupnya di propinsi-propinsi Inggris. la mengambil profesi sebagai pensurvei tanah, dimana profesi ini tidak membutuhkan tingkat pendidikan universitas, dan saudara laki-lakinya dapat mengajarinya. Saudara laki-laki Wallace mati pada tahun 1846. Pada saat itu, ia ditangkap dalam perjalanan ke rumah dalam sebuah kereta kelas tiga dari sebuah pertemuan pada Komite Royal Comission  pada perusahaan-perusahaan kereta api saingan.
Setelah peristiwa itu, merupakan kehidupan  alam  bebas bagi Wallace, Dia  menjadi tertarik  dengan tumbuh-tumbuhan dan serangga. Ketika Wallace bekerja di Leicerter, ia menjumpai seorang lelaki dengan ketertarikah yang sama, yang lebih baik tingkat pendidikannya. Teman baru  Wallace mengatakan bahwa dia telah mengoleksi beberapa ratus spesies yang berbeda dari kumbang-kumbang di sekitar Leicester, dan masih banyak lagi yang akan ditemukan.
 "Jika saya ditanya berapa banyak jenis yang berbeda dari kumbang-kumbang yang ditemukan dalam sebuah distrik yang kecil dalam sebuah kota ? saya mungkin harus menebaknya lima puluh. Saya sekarang belajar, mungkin terdapat ribuan jenis yang berbeda dalam sepuluh mil".
Dalam tulisannya Wallace mengatakan :
           “Even when we were busy I had Sundays perfectly free, and used then to take long walks over the mountains with my collecting box, which I brought homefull of treasures… At such times I experienced the joy which every discovery of a new form of life gives to the lover of nature, almost equal to thore raptures which I afterwards felt at every capture of new butterflies on the Amazon”
Hal ini merupakan sebuah pembuka pikiran bagi Wallace, dan hal ini membentuk kehidupannya dan temannya. Teman Wallace adalah Hendri Bate, yang terakhir dia terkenal dalam hasil karyanya pada mimikri diantara serangga.
Seorang lelaki muda seperti Wallace harus menghidupi kehidupan dirinya sendiri. Untungnya, saat itu merupakan waktu yang baik untuk seorang surveyor tanah, sebab para pelancong dengan kereta api dari tahun 1840-an membutuhkannya. Wallace dipekerjakan untuk meneliti sebuah rute yang memungkinkan untuk sebuah jalur di Neath Valey di South Wales.
Ia banyak melakukan penelitian lapangan, dimana untuk pertama kalinya dilakukan di sungai Amazon di tahun 1846 saat ia masih berusia 23 tahun dan kemudian di Kepulauan Nusantara. Dia ketika itu mengoleksi aneka serangga dari ekspedisi Amazon. Kemudian koleksinya dia bawa pulang ke Eropa yang gandrung terhadap temuan baru dari belahan dunia lain. Koleksi serangga itu laku dijual dan modal itu menjadi titik awal penjelajahan Wallace di Nusantara. Pada perjalanan antara tahun 1848 hingga tahun 1854, Ia tiba di Singapura. Selama delapan tahun kemudian (1854 - 1862) ia menjelajah berbagai wilayah di Nusantara. Dari penjelajahan itu, ia membukukannya ke dalam sebuah catatan yang berjudul The Malay Archipelago. Selama ekspedisinya di Nusantara, diperkirakan dia telah menempuh jarak tidak kurang dari 22.500 kilometer, melakukan 60 atau 70 kali perjalanan terpisah, dan mengumpulkan 125.660 spesimen fauna meliputi 8.050 spesimen burung, 7.500 spesimen kerangka dan tulang aneka satwa, 310 spesimen mamalia, serta 100 spesimen reptil. Selebihnya, mencapai 109.700 spesimen serangga, termasuk kupu-kupu yang paling disukainya.
Kebiasaannya mencatat perjalanan dan menyelamatkan catatan-catatan itu dengan cara mengirimkan ke Inggris melalui pos kapal-kapal dagang Eropa, termasuk ketika singgah di Pulau Ternate antara tanggal 8 Januari1858 dan 25 Maret 1858, ketika ia terserang malaria memaksakan diri menulis surat dan mengirimkan kepada ilmuwan pujaannya, Charles Darwin di Inggris.
Dalam penjelajahannya di bumi Nusantara ia menemukan sebuah garis imajiner yang membagi flora dan fauna di Indonesia menjadi dua bagian besar. Garis ini dikemudian hari dikenal sebagai Garis Wallace, dimana di satu bagiannya, bentuk flora dan faunanya masih mempunyai hubungan dengan flora dan fauna dari Australia dan memiliki ciri-ciri yang sangat mirip. Sedangkan di bagian yang lainnya sangat mirip dengan flora dan fauna dari Asia. Ia dianggap sebagai ahli terkemuka di abad ke-19 dalam bidang penyebaran spesies binatang dan kadang-kadang dikenal sebagai Bapak dari Evolusi Biogeografi, sebuah kajian tentang spesies apa, tinggal dimana dan mengapa. Ia adalah salah seorang dari pemikir revolusioner pada abad ke-19 dan memberikan banyak masukan kepada pembangunan "teori evolusi" selain juga salah seorang penemu dari "teori seleksi alam". Termasuk didalamnya adalah konsep keanekaragaman warna dalam dunia fauna, dan juga "Efek Wallace", sebuah kesimpulan tentang bagaimana seleksi alam dapat memberikan kontribusi pada keanekaragaman fauna.
Surat Wallace dari Ternate kepada Darwin itu kemudian dikenal sebagai Letter from Ternate. Surat itu menjadi terkenal karena disertai makalah yang diberi judul On the Tendency of Varieties to Depart Indefinitelty from the Original Type. Dari makalah itu, Wallace mengemukakan pemikirannya mengenai proses seleksi alam mempertahankan suatu spesies di dunia. Spesies yang mampu bertahan disebut Wallace sebagai hasil kelangsungan yang terbaik atau yang paling memiliki kemampuan bertahan tidak akan punah.
Itulah kerangka dasar pemahaman seleksi alam yang diletakkan Wallace saat itu. Akhirnya pemikiran itu menunjang teori evolusi yang dipopulerkan Darwin melalui bukunya The Origin of Species tahun 1859, satu tahun setelah penulisan makalah Wallace. Pada tanggal 1 Juli 1858, kawan-kawan Darwin, Charles Lyell dan Joseph Hooker, merekayasa pertemuan ilmiah di Linnean Society dan mendeklarasikan Darwin dan Wallace sebagai penemu dasar evolusi.
      3.       Akibat Evolusi
Evolusi mempengaruhi setiap aspek dari bentuk dan perilaku organisme. Yang paling terlihat adalah adaptasi perilaku dan fisik yang diakibatkan oleh seleksi alam. Adaptasi-adaptasi ini meningkatkan kebugaran dengan membantu aktivitas seperti menemukan makanan, menghindari predator, dan menarik lawan jenis. Organisme juga dapat merespon terhadap seleksi dengan berkooperasi satu sama lainnya, biasanya dengan saling membantu dalam simbiosis. Dalam jangka waktu yang lama, evolusi menghasilkan spesies yang baru melalui pemisahan populasi leluhur organisme menjadi kelompok baru yang tidak akan bercampur kawin
Akibat evolusi kadang-kadang dibagi menjadi makroevolusi dan mikroevolusi. Makroevolusi adalah evolusi yang terjadi pada tingkat di atas spesies, seperti kepunahan dan spesiasi. Sedangkan mikroevolusi adalah perubahan evolusioner yang kecil, seperti adaptasi yang terjadi dalam spesies atau populasi. Secara umum, makroevolusi dianggap sebagai akibat jangka panjang dari mikroevolusi. Sehingga perbedaan antara mikroevolusi dengan makroevolusi tidaklah begitu banyak terkecuali pada waktu yang terlibat dalam proses tersebut. Namun, pada makroevolusi, sifat-sifat keseluruhan spesies adalah penting. Misalnya, variasi dalam jumlah besar di antara individu mengijinkan suatu spesies secara cepat beradaptasi terhadap habitat yang baru, mengurangi kemungkinan terjadinya kepunahan. Sedangkan kisaran geografi yang luas meningkatkan kemungkinan spesiasi dengan membuat sebagian populasi menjadi terisolasi. Dalam pengertian ini, mikroevolusi dan makroevolusi dapat melibatkan seleksi pada tingkat-tingkat yang berbeda, dengan mikroevolusi bekerja pada gen dan organisme, versus makroevolusi yang bekerja pada keseluruhan spesies dan memengaruhi laju spesiasi dan kepunahan.
Terdapat sebuah miskonsepsi bahwa evolusi bersifat "progresif", namun seleksi alam tidaklah memiliki tujuan jangka panjang dan tidak perlulah menghasilkan kompleksitas yang lebih besar. Walaupun spesies kompleks berkembang dari evolusi, hal ini terjadi sebagai efek samping dari jumlah organisme yang meningkat, dan bentuk kehidupan yang sederhana tetap lebih umum. Sebagai contoh, mayoritas besar spesies adalah prokariota mikroskopis yang membentuk setengah biomassa dunia walaupun bentuknya yang kecil, serta merupakan mayoritas pada biodiversitas bumi. Organisme sederhana oleh karenanya merupakan bentuk kehidupan yang dominan di bumi dalam sejarahnya sampai sekarang. Kehidupan kompleks tampaknya lebih beranekaragam karena ia lebih mudah diamati.

      4.    Pasteur
Louis Pasteur lahir tanggal 27 Desember 1822, di Dole, Prancis timur, sekitar 400 kilometer Tenggara Paris. Beberapa tahun kemudian, keluarga Pasteur pindah ke Arbois. Louis masuk sekolah di Arbois, tapi rapornya jelek, kecuali untuk mata pelajaran seni. Guru-gurunya mengira dia akan berhenti bersekolah dan akan bekerja di penyamakan kulit milik ayahnya. Namun, Louis sangat berhasrat menambah pengetahuannya. Seorang gurunya melihat potensi ketekunan dan ketelitiannya bekerja.
Pada usia 15 tahun, Louis pergi ke Paris untuk menyelesaikan sekolah menengah. Namun, karena dia selalu merindukan rumah, akhirnya dia pulang ke Arbois. Dia mencoba sekolah lagi, kali ini di Besancon, hanya 40 kilometer dari rumah. Di sinilah dia berhasil dan melanjutkan pendidikannya hingga memperoleh gelar BSc dari Royal College, Besancon, tahun 1842.
Louis memutuskan untuk masuk ke Ecole Normale di Paris, sekolah pendidikan guru untuk sekolah tinggi dan Universitas Prancis. Dia lulus ujian masuk tahun 1842, tapi dia tahu bahwa sebenarnya dia bisa mencapai nilai yang lebih tinggi lagi. Karena itu, dia belajar satu tahun lagi untuk meningkatkan pengetahuannya sebelum masuk Ecole Normale. (Tekad untuk selalu mencapai yang terbaik merupakan sifat yang utama.) Louis belajar ilmu kimia di Ecole Normale, dan meraih gelar MSc tahun 1845.
Louis Pasteur berhasil membantah teori abiogenesis.  Pokok dari teori ini menyatakan bahwa kehidupan berasal dari benda atau materi tidak hidup dan kehidupan terjadi secara spontan (generatio spontanea). Ilmuwan yang mengemukakan teori ini adalah seorang filsafat Yunani kuno, yakni Aristoteles (384–322 SM). Dengan melihat organisme di sekeliling-nya, Aristoteles berkesimpulan bahwa makhluk hidup muncul secara tiba-tiba. Teori ini mengatakan bahwa matahari membiakkan buaya dari lumpur sungai nil, tikus tumbuh dengan dirinya sendiri dari timbunan pakaian tua yang kotor; bentuk asli  lalat hijau  adalah daging busuk, belatung berasal dari  dalam apel. Semua ciptaan tersebut dianggap menjadi hidup secara spontanitas tanpa dihasilkan dari orang tuanya.
Tapi sekitar tahun 1860 teori itu dipatahkan oleh Louis Pasteur. Saat itu ia telah menyelesaikan penelitiannya tentang fermentasi susu, yang saat ini kita kenal dengan istilah pasteurisasi.
Pasteur menggunakan labu berleher seperti angsa dalam percobaannya Labu berleher seperti angsa ini diisi dengan air kaldu. Fungsi dari labu leher angsa ini adalah agar hubungan antara labu dan udara luar masih ada, artinya masih terdapat oksigen. Labu ini dipanaskan untuk mensterilkan air kaldu dari mikroorganisme. Setelah dipanaskan, labu kemudian didinginkan dan disimpan. Beberapa hari kemudian ternya air kaldu dalam labu tetap jernih, namun di bagian leher angsa banyak terdapat debu dan partikel-partikel. Sedangkan di labu yang tidak berleher angsa, air kaldunya mengandung mikroorganisme. Berdasarkan hasil percobaannya, Pasteur menyimpulkan bahwa mikroorganisme yang ada di dalam air kaldu bukan berasal dari air kaldu itu sendiri, melainkan dari mikroorganisme yang ada di udara.
Hasil percobaan Louis Pasteur berhasil menumbangkan teori abiogenesis. Dari hasil percobaannya, Pasteur mengajukan teori baru tentang asal-usul kehidupan. Isi teori disebut menyatakan beberapa hal, di antaranya omne vivum ex ovo , yakni setiap makhluk hidup berasal dari telur, omne ovum ex
vivo, yakni setiap telur berasal dari makhluk hidup, dan omne vivum ex vivo, yakni setiap makhluk hidup berasal dari makhluk hidup sebelumnya.
Masa jaya Pasteur adalah pada tahun 1863, pada saat kerajaan Perancis memintanya untuk meneliti apa yang terjadi dengan fermentasi anggur. Dan ia menyelesaikan penelitiannya 2 tahun kemudian.
"Anggur merupakan lautan organisme," kata Pasteur. Terdapat dua hal penemuan dalam pemikiran tersebut, pertama adalah Pasteur menemukan organisme yang tinggal tanpa oksigen. Pada waktu itu hanya berupa gangguan pada tumbuhnya anggur ; tapi sejak saat itu kemudian beralih menjadi krusial untuk memahami dari permulaan hidup, sebab kemudian bumi adalah tanpa oksigen dan kedua, Pasteur memiliki teknik yang luar biasa yang mana dia dapat melihat jejak dari hidup dalam cairan.
Dalam usia 20 tahunan dia telah membuat reputasinya dengan menunjukkkan bahwa terdapat molekul-molekul yang memiliki sebuah bentuk yang khas. Dan dia yang menunjukkan bahwa hal ini merupakan cap jempol dari kepemilikan mereka melalui proses hidup. Hal itu melahirkan penemuan yang sangat besar, dan tetap membingungkan.
Saya harus secara nyata mengakui bahwa penelitian saya telah didominasi oleh ide bahwa struktur substansi dari sudut pandang tangan kiri dan tangan kanan (jika semuanya adalah sama) memainkan sebuah bagian penting dalam sebagian besar hukum-hukum mendalam dari organisasi manusia atau mahluk hidup, dan masuk ke dalam sudut-sudut yang tidak dikenal dari psikologi mereka.
Tangan kanan, tangan kiri merupakan petunjuk mendalam yang Pasteur anut dalam studinya tentang kehidupan. Dunia penuh dengan benda- benda yang mana memiliki versi tangan kanan yang berbeda dari versi tangan kiri: sebuah alat pembuka sumbu botol tanga kanan akan berbeda dengan pembuka sumbu botol tangan kidal, seekor siput kanan akan berlawanan dengan yang siput kiri. Pada intinya semua yang bertangan dua, dapat dicerminkan satu sama lain, tetapi tidak dapat diputar. Ini juga dikenal pada masa Pasteur bahwa kristal-kristal yang facetnya teratur antara yang kiri dan kanan.
Pasteur membuat model-model kayu seperti kristal-kristal (dia adalah orang yang cakap dengan tangannya, dan sebuah juru gambar yang indah) tapi yang  lebih dari itu ialah, dia membuat model-model intelektual. Pada bentuk pertamanya dari penelitian dia melakukan sasaran pada gagasan bahwa terdapat kepastian molekul-molekul tangan kanan dan tangan kiri dan apakah hal itu benar dari kristal harus merefleksikan sebuah properti dari molekul itu sendiri. Dan harus menampilkan tingkah laku dari molekul pada tiap situasi yang tidak simetris. Misalnya, ketika anda meletakkan mereka ke dalam  larutan dan kilauan sebuah pertentangan (hal itu merupakan sebuah ketidaksimetrisan) balok dari kilauan melalui mereka, molekul-molekul dari  satu jenis (katakanlah dengan konvensi, molekul-molekul pasteur dinamakan  tangan kanan)  harus memutar papan dari pofarisasi dari cahaya menuju ke kiri.
Bagaimana disket polarisasi dimasukkan dalam larutan akan terlihat berganti-ganti hitam dan terang dan hitam dan terang lagi. Fakta yang luar biasa adalah bahwa larutan kimia dari kehidupan sel adalah seperti itu. Kita tetap tidak tahu mengapa hidup memiliki sifat kimia yang aneh. Tapi sifat -sifat yang muncul bahwa hidup memiliki sebuah karakter kimia yang khusus, yang mana memelihara   dirinya   sendiri   melalui   evolusi. Untuk  pertama  kalinya, pasteur menghubungkan semua bentuk kehidupan dengan satu jenis struktur kimia. Kesimpulannya bahwa manusia mampu menghubungkan evolusi dengan kimia.

       5.       Perdebatan dan Perkembangan Teori Evolusi
Pada perkembangannya, teori evolusi tidak mengalami perdebatan yang panjang karena bukti yang ada sekarang ini lebih banya bila dibandingkan pada masa Darwin dan Wallace. Misalnya bukti modern yang dapat diamati dan dilakukan langsung oleh manusia yaitu kemampuan manusia memindahkan tangan, hal ini dikarenakan otot-otot tangan memiliki simpanan oksigen melalui protein yang dinamakan myoglobin. Dan protein tersebut dibuat dari amino acid sebanyak seratus lima puluh amino acid. Dan protein merupakan unsur pokok bagi seluruh tubuh mahluk hidup. Jumlah yang sama pada manusia dan binatang. Hanya antara amino acid manusia dan binatang berbeda. Adanya perbedaab amino acid ini merupakan sebuah ukuran dalam jarak evolusi antara manusia dan mamalia lainnya. Oleh karenanya, jelas bahwa perkembangan evolusi  berasal dari perkembangan molekul-molekul kimia. Dan perkembangannya ini  dimulai dari material – material yang mendidih dari bumi.

Mengapa proses kimia di bumi pada saat awal kehidupan dimulai, amat menarik perhatian kita? Hal ini dikarenakan banyak bukti-bukti yang ditemukan seperti bekas spektrum di ruang angkasa yang berupa moleku-molekul yang kita tidak pernah berfikir dapat diciptakan di daerah-daerah yang sangat dingin, seperti hydrogen, cyanide, cyano, acetylene, dan formaldehyde. Molekul-molekul tersebut hanya muncul di bumi. Hal ini membuat asumsi mengenai variasi awal terciptanya mahluk hidup di muka bumi. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar