Dari Generasi ke Generasi
(Kusen, M.Pd.)
(Kusen, M.Pd.)
(Makalah
ini merujuk kepada karya J. Bronowsky dalam bukunya The Ascent of Man, Bab Generation
upon Generation)
A.
Pendahuluan
Membicarakan teori hereditas tentulah akan dikaitkan dengan
Gregor Mendel dan membicarakan Mendel tentu
tidak akan bisa dilepaskan dari karyanya yang sangat fenomenal, sangat cemerlang
dan belum pernah terjadi sebelumnya. Berbagai teka teki mengenai
heriditas yakni berkenaan dengan ciri-ciri dan sifat-sifat yang diwariskan oleh
satu generasi ke generasi berikutnya mulai terkuak dengan dijelaskan secara
makro tentang cara diwariskannya ciri dan sifat makhluk hidup oleh Gregor
Mendel pada pertengahan abad ke-19.
Bagaimana sifat keturunan itu diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya
ditemukan pada abad ke-20 tepatnya pada
tahun 1952 oleh James Watson dengan menguraikan struktur DNA (deoxyribonucleic
acid).
Pada bab 12 “Generation Upon Generation” ini J. Bronowsky dalam
bukunya yang berjudul The Ascent of Man,
memaparkan mengenai sosok Gregor Mendel, eksperimen yang dilakukan Mendel dan
James Waston dengan penemuan DNA-nya,
serta sumbangsihnya bagi kemajuan ilmu pengetahuan di dunia.
B.
Gregor Mendel
Dia adalah Johann Mendel seorang anak petani; dia
diberikan nama Gregor setelah dia menjadi pendeta di mana sebelumnya dia
frustasi karena kemiskinan dan kurang pendidikan. Selama hidupnya dia menjadi
anak petani, bukan sebagai seorang profesor atau bukan pula sebagai seorang
pria yang kaya.
Gregor Mendel
Johann Mendel lahir pada tanggal 22 Juli 1822 di kota
kecil Heinzendoef di Silesia, Austria (sekarang kota itu bernama Hrenice,
wilayah Republik Ceko). Pada bulan Oktober 1843, Johann menjadi murid baru di
St. Thomas Augustini di Brunn, Moravia (sekarang Brno di Republik Ceko). Di
sini ia mempelajari berbagai ilmu selain hortikultura yang telah diminatinya
sejak kanak-kanak di lahan pertanian ayahnya. Biara ini sendiri memiliki kebun
raya yang bagus ada kebun sayur, kebun buah, peternakan lebah, dan perusahaan
susu untuk memenuhi kebutuhan para
penghuni biara. Perpustakaan biara kaya akan buku dan tulisan-tulisan ilmiah
mutakhir. Mendel memperolah kesempatan emas untuk melanjutkan minatnya dalam
bidang hortikultura.
Selanjutnya, kepala
biara mengirim Gregor Mendel ke Universitas Wina ( Austria) untuk memperoleh
ijazah resmi menjadi guru. Tetapi kelihatannya, kecerdasan dan kreativitasnya
tidak dapat berkembang ditempat itu; para pengajarnya mempunyai kesan bahwa
Mendel sulit belajar. Ia dinyatakan tidak lulus dan kembali ke biaranya. Namun, Mendel tidak berdiam
diri. Pengaruh Franz Unger, ahli
biologi terkemuka yang dikenal Mendel di Wina, tidak boleh dilupakan dalam
pembahasan penemuan Mendel yang spektakuler itu. Berbeda dengan keyakinan pada
waku itu berkenaan dengan pewarisan ciri dan sifat makhluk hidup, Unger memiliki pandangan yang praktis
dan kongkrit; ia tidak menyangkutkan hal-hal pewarisan itu dengan faktor-faktor
spiritualitas atau dengan kekuatan yang disebut elan vital, tetapi
langsung kepada fakta-fakta yang nyata saja. Susah untuk disangkal adanya
pengaruh Unger terhadap kegiatan ilmiah Mendel. Jadi sekembalinya dari biara
Brno, Mendel menggunakan sebagian waktunya untuk bereksperimen.
A. Eksperimen Mendel
Eksperimen Mendel
dimulai saat dia berada di biara Brunn didorong oleh keingintahuannya tentang
suatu ciri tumbuhan diturunkan dari induk keturunannya. Jika misteri ini dapat
dipecahkan, petani dapat menanam hibrida dengan hasil yang lebih besar.
Prosedur Mendel merupakan langkah yang cemerlang dibanding prosedur yang
dilakukan waktu itu. Mendel sangat memperhitungkan aspek keturunan dan
keturunan tersebut diteliti sebagai satu kelompok, bukan sejumlah keturunan
yang istimewa. Dia juga memisahkan berbagai macam ciri dan meneliti satu jenis
ciri saja pada waktu tertentu; tidak memusatkan perhatian pada tumbuhan sebagai
keseluruhan.
Dalam eksperimennya,
Mendel memilih tumbuhan biasa, kacang polong, sedangkan para peneliti lain
umumnya lebih suka meneliti tumbuhan langka. Dia mengidentifikasi tujuh ciri
berbeda yang kemudian dia teliti:
a)
bentuk benih (bundar
atau keriput),
b)
warna benih (kuning atau
hijau),
c)
warna selaput luar
(berwarna atau putih),
d) bentuk kulit biji yang matang (licin atau bertulang),
e)
warna kulit biji yang
belum matang (hijau atau kuning),
f)
letak bunga (tersebar
atau hanya di ujung), dan
g)
panjang batang tumbuhan
(tinggi atau pendek).
Mendel menyilang
tumbuhan tinggi dengan tumbuhan pendek dengan menaruh tepung sari dari yang
tinggi pada bunga pohon yang pendek, demikian sebaliknya. (Sebelumnya, dia
memeriksa kemurnian jenis pohon induk tersebut dengan memastikan bahwa nenek
moyang tumbuhan itu selalu menunjukkan ciri-ciri yang sama.) Mendel
mengharapkan bahwa semua keturunan generasi pertama hasil persilangan itu akan
berupa pohon berukuran sedang atau separuh tinggi dan separuh pendek. Namun
ternyata, semua keturunan generasi pertama berukuran tinggi. Rupanya sifat
pendek telah hilang sama sekali. Lalu Mendel membiarkan keturunan generasi
pertama itu berkembang biak sendiri menghasilkan keturunan generasi kedua. Kali
ini, tiga perempat berupa tumbuhan tinggi dan seperempat tumbuhan pendek.
Ciri-ciri yang tadinya hilang muncul kembali.
Dia menerapkan prosedur
yang sama pada enam ciri lain. Dalam setiap kasus, satu dari ciri-ciri yang
berlawanan hilang dalam keturunan generasi pertama dan muncul kembali dalam
seperempat keturunan generasi kedua. (Hasil ini juga diperoleh dari penelitian
terhadap ratusan tumbuhan.)
Pada awalnya Mendel dan penemuannya itu tidak
diakui oleh para ilmuwan sebidang ( botani dan biologi), penyebab utamanya
adalah karena Mendel buka seorang ilmuwan dan penemuannya itu dimuat di jurnal
lokal yang tidak terkenal, The Journal of Brno natural History Society. Pada
prinsipnya penemuan Mendel memperlihatkan bahwa pewarisan ciri dan sifat
genetik dari satu generasi ke generasi berikutnya bukanlah dengan parata-rataan
ciri dan sifat kedua orangtuanya, tetapi dengan pewarisan ciri dan sifat yang
dominan dari salah satu orang tua. Jadi keturunaan dari persilangan antara
kacang panjang yang panjangnya 40 cm dengan kacang panjang yang hanya 15 cm
bukannya kacang panjang dengan panjang (40 cm + 15 cm ) ; 2 = 27,5 cm, tetapi
kacang panjang yang panjangnya 40 cm, bila ciri panjang 40 cm dominan terhadap
ciri panjang 15 cm, yang dalam hal ini adalah ciri yang resesif. Hal sebaliknya
akan terjadi, bila yang dominan adalah ciri panjang 15 cm.
B. Karya Mendel Diakui
Mendel meninggal di Brunn
pada tanggal 6 Januari 1884 dalam usia 61 tahun. Karya Mendel masih terabaikan
selama 35 tahun. Jerih payahnya itu baru diakui oleh tiga orang ahli botani
yang menemukan kesimpulan yang sama dengan Mendel pada tahun 1900. Salah satu
peneliti tersebut di antaranya adalah Hugo de Vries, seorang naturalis Belanda.
Meskipun karyanya banyak ditemukan dalam literatur ilmiah, baru setelah
penyelidikan verifikasi independen ini, karyanya dipublikasikan secara luas dan
diterima. Karya Mendel memberikan sumbangan besar terhadap studi ilmu genetika,
khususnya studi mengenai fungsi gen dalam keturunan.
C. Pentingnya Karya Mendel
Temuan Mendel memunyai
implikasi penting. Karyanya membantah adanya percampuran dalam keturunan, yaitu
pemikiran bahwa ciri-ciri orang tua diwariskan kepada anak dan kemudian
bercampur, lalu diturunkan ke generasi berikut dalam bentuk campuran.
Eksperimen Mendel membuktikan justru kebalikannyalah yang benar; zat genetika
yang diwarisi dari orangtua hanya bergabung untuk sementara waktu dalam diri
anak, dan dalam generasi berikutnya zat genetik pecah menjadi satuan-satuan
yang ada dalam induk aslinya. Dengan kata lain, zat genetika itu sendiri tidak
berubah.
Ketika karya Mendel
ditemukan kembali awal tahun 1900-an, reaksi awal para ilmuwan adalah menentang
Darwinisme. Dalam bukunya, "Processes of Organic Evolution", G.L.
Stebbins membahas "pertentangan keras mengenai hakikat keragaman keturunan
dan proses-proses evolusi antara penganut Mendel awal, terutama de Vries dan
para naturalis Darwin kontemporer." Baru pada tahun 1920-an, setelah ada
modifikasi yang cukup berarti tentang mekanisme evolusi, para ilmuwan mulai
menyatakan bahwa evolusi cocok dengan temuan Mendel.
Penelitian Mendel
menunjukkan secara gamblang tentang stabilitas dasar dari berbagai jenis
tumbuhan dan hewan yang diciptakan, sedangkan kaum evolusionis selama puluhan
tahun berupaya untuk memasukkan hal ini ke dalam kerangka Darwin. Karya Mendel
tidak mendukung gagasan evolusioner yang mengatakan bahwa satu spesies dapat
berevolusi menjadi spesies lain. Dalam hal ini, banyak ilmuwan seperti Isaac
Asimov mengatakan bahwa "kelemahan terbesar dalam teori Darwin telah
dilengkapi dengan temuan Mendel."
D. Ditemukannya DNA
Setelah penemuan Mendel diakui, pengungkapan
berbagai ciri dan sifat genetik mahkluk hiddup diteruskan oleh banyak ilmuwan.
Terobosan yang dinilai paling penting adalah penemuan spiral DNA (deoxyribonucleicacid) oleh
James Watson, pemuda usia 20 tahun dan Francis Crick yang
berusia 35 tahun, pada tahun 1953
di Universitas Cambridge, Amerika Serikat, dan di laboratorium-
laboratorium di negara bagian California (untuk penemuan itu kedua ilmuwan
tersebut mendapat hadia Nobel). Dengan demikian pengetahuan mengenai misteri
ciri dan sifat keturunan menjadi lebih luas dan sekaligus lebih spesifik; ciri
dan sifat keturunan terdapat dalam gen, yang umumnya terdiri dari DNA; DNA
tersusun dalam spiral, dan spiral-spiral ini menyusun kromosom, sedangkan
kromosom terdapat di dalam nucleous ( inti dari inti
sel) setiap sel. Tersedialah landasan pengetahuan untuk teknologi cloning dan
rekayasa genetik.
Keberadaan DNA ditandai dengan keberadaan makhluk hidup yang
spesifik dan unik. DNA hanya ada pada makhluk hidup. Keberadaan DNA tersebut
yang membedakan jenis makhluk, species, suku, atau keturunan tertentu dengan
lainnya. Mengapa bayi yang dikandung seorang ibu tidak menjadi kucing, karena
adanya perintah genetik dari DNA. Atau mengapa orang
tua yang berkulit hitam,
cenderung stabil menghasilkan anak yang berkulit hitam juga karena penjaga
keturunan yang bernama DNA. Adanya cetak-biru DNA akan menjaga kelestarian
jenis makhluk, species, suku, dan keturunan tertentu. Selain itu, DNA
juga
akan memberikan keunikan tertentu kepada setiap individu. Artinya tidak akan
ada dua individu yang sama persis, karena pasti ada sepersekian persen dari
kombinasi DNA-nya yang berbeda. Kelestaraian dan keunikan yang menjadi hasil
karya DNA tersebut berlaku baik pada faktor fisik ataupun karakter individu.
Dikatakan oleh J. Bronowsky bahwa seorang bayi merupakan seorang individu semenjak
lahir. Pasangan gen dari kedua orang tuanya menyatu dalam keanekaragaman. Anak
tersebut mewarisi bakat dari kedua orang tuanya, dan memiliki kesempatan untuk
memiliki kombinasi bakat dalam susunan yang baru dan asli. Anak tersebut
bukanlah seorang napi dari keturunannya; dia memegang warisan gen sebagai suatu
ciptaan baru di mana masa depannya akan berkembang.
DNA adalah perintah genetik, sistematika keturunan, manual
regenerasi, peta biologis, cetak-biru individu dari setiap makhluk hidup secara
unik. DNA merupakan cetak biru individu karena DNA memiliki instruksi genetik
yang membentuk sel-sel dalam organisme. Peran utama molekul DNA adalah
penyimpanan informasi jangka panjang.
DNA merupakan kromosom panjang berbentuk heliks ganda yang disusun
dari unit-unit nukleotida yang berulang. Heliks ganda DNA distabilkan oleh
ikatan hidrogen diantara empat basa (asam nukleat) yang melekat pada dua heliks
secara berpasangan. Empat asam nukleat tersebut adalah Adenin (disingkat A),
Sitosin (C), Guanin (G) dan Timin (T). Pasangan AT membentuk dua ikatan
hidrogen, dan pasangan GC membentuk tiga ikatan hidrogen. Ini berarti bahwa
jika ada satu rantai DNA yang memiliki kode AACTAGGTC maka pasangannya pasti
TTGATCCAG. Kedua rantai itu akan berpasangan dan membentuk struktur berpilin
yang kita kenal sebagai Double-Helix. Keempat asam nukleat inilah pada dasarnya
sebagai penyusun DNA, yang mengkodekan informasi.
DNA
Cara kerja DNA dalam melakukan koding berlangsung sangat cepat
karena semua prosesnya dilakukan secara paralel (bersamaan). Bandingkan dengan
cara kerja komputer yang linear. Ukuran molekul DNA
yang sangat kecil memiliki kapasitas kerja yang sangat besar. Sebagai
perbandingan, 1 gram DNA yang sudah dikeringkan memiliki kapasitas menyimpan
informasi dalam jumlah yang sama dengan 1 trilyun CD.
Padahal 1 gram DNA
kering itu ukurannya hanya sebesar sebutir gula pasir!
Tubuh manusia diperkirakan memiliki sekitar 100 triyun sel, dan di
dalam inti setiap sel terdapat 23 pasang kromosom yang disusun oleh 3 milyar
asam nukleat. Jika DNA di setiap tubuh seorang manusia direntangkan, maka
panjangnya akan lebih dari 600 kali jarak bumi ke matahari.
Semua orang di seluruh dunia sebenarnya nyaris sama. Semua umat
manusia, di seluruh belahan dunia memiliki 99% molekul DNA yang persis sama.
Perbedaan seperti warna kulit dan rambut, hanya berasal dari 1% perbedaan
genetik saja. Bahkan antara manusia dengan simpanse pun perbedaan genetiknya
hanya 5 % (Wikipedia,Human Genome)
Penyelidikan DNA di masa yang akan datang akan membuat manusia
memahami tubuhnya, sel-selnya secara terinci bahkan hingga ke level molekuler.
Sehingga nantinya memungkinkan manusia panjang umur, hidup lebih sehat dan jauh
dari penyakit. Nantinya manusia bisa bebas dari penyakit-penyakit berbahaya,
seperti
kanker, diabetes, atau jantung. Caranya dengan mendeteksi gen dan melakukan
rekayasa genetik untuk mendisain tubuh sehat bahkan sejak sebelum lahir. Dengan
mengetahui peta DNA-nya setiap molekul dalam tubuh manusia, maka
anomali-anomali terkecil pun bisa langsung ditemukan dan diperbaiki. Bahkan
tidak hanya itu saja, pengetahuan modern akan memungkinkan manusia menemukan
gen-gen unggul, memanipulasi gen unggul, memperkuatnya, bahkan
mengkombinasikannya dengan gen-gen unggul dari luar, melalui rekayasa genetik.
A. Kloning
Sebagai kelanjutan dari ditemukannya DNA adalah
kemungkinan dilakukannya rekayasa genetika. Salah satu upaya rekayasa genetika
adalah kloning. Kloning berasal dari
kata koon (Yunani) artinya tunas. Kloning merupakan tindakan menggandakan atau
mendapatkan keturunan jasad hidup tanpa fertilisasi, berasal dari induk yang
sama, mempunyai susunan (jumlah gen) yang sama, dan kemungkinan besar mempunyai
fenotip(karakteristik yang dapat diamati) yang sama.
Beberapa jenis kloning yang dikenal antara lain:
(1)
Kloning
DNA Rekombinan; Kloning ini merupakan pemnidahan
sebagian rantai DNA yang diinginkan dari suatu organisme pada suatu elemen
replikasi genetik, contohnya penyisipan DNA dalam plasmid bakteri untuk
mengklon satu gen.
(2)
Kloning
Reproduktif; merupakan teknologi yang digunakan untuk
menghasilkan hewan yang sama. Contohnya kloning kambing Dolly dengan suatu
proses yang disebut SCNT (Somatic Cell Nuclear Transfer).
(3)
Kloning
Terapeutik; merupakan suatu kloning untuk memprodksi embrio
manusia sebagai bahan penelitian. Tujuan utama dari proses ini bukan untuk
menciptakan manusia baru, tetapi untuk mendapatkan sel batang yang dapat
digunakan untuk mempelajari perkembangan manusia dan penyembuhan penyakit. Hal
ini merupakan terapi gen, yaitu dimasukkannya sebuah gen ke dalam tubuh manusia
untuk mengurangi suatu kelainan genetik. Jelas hal ini merupakan praktik
kedokteran yakni menyembuhkan orang sakit.
Untuk keperluan medis dan keperluan lainnya yang tidak
bertentangan dengan etika, moral, dan agama, jelaslah bahwa kloning sebagai
suatu teknologi rekayasa genetika sangat memberi manfaat dan sangat diperlukan.
B. Perlukah Kloning
Manusia?
Haruskah kita membuat kloning manusia? Demikian
dipertanyakan oleh J. Bronowsky. Sebuah
pertanyaan retoris yang tentu dijawabnya sendiri dengan jelas dan tegas. Tentu saja tidak. Demi mendapatkan salinan anak dari seorang ibu yang cantik
atau seorang ayah yang cerdas, tidak harus membuat kloning. Bronosky
berpendapat bahwa keanekaragaman adalah nafas kehidupan dan kita jangan
meninggalkan apapun yang akan terjadi untuk menangkap khayalan kita bahkan gen
kita. Kloning adalah stabilisasi dari suatu bentuk dan hal itu menenang sluruh
ciptaan yang ada- dari penciptaan manusia apapun. Evolusi ditemukan dalam
keragaman dan menciptakan keragaman; dari seluruh jenis binatang; manusia
adalah makhluk yang paling kreatif karena bisa membawa dan menunjukkan
keberagaman yang sangat besar. Setiap
usaha membuat kita sama; secara biologis, emosional, atau secara intelektual
adalah ancaman evolusi yang telah dibuat manusia.
Tetapi hal yang aneh kata Bronowky bahwa penciptaan
manusia dalam kebudayaan manusia hampir berbalik pada kloning nenek moyangnya.
Ada pendapat lama yang menyatakan bahwa
Hawa diambil dari tulang rusuk Adam, dan ini kecenderugan terhadap kelahiran
baru.
Untungnya kita tidak berada dalam dua salinan yang
sama. Dalam spesies manusia, seks sangat dikembangkan. Seorang perempuan
penerima sepanjang hidupnya (untuk bisa hamil), dia memiliki buah dada yang
permanen (untuk menyusui anaknya), dia memiliki peran aktif dalam pemiliha
jenis kelamin.
Terlihat jelas bahwa seks
memiliki sifat yang sangat khusus bagi manusia. Seks memiliki sifat biologis.
Mari kita ambil contoh yang sederhana: kita adalah satu-satunya makhluk di mana
perempuan memiliki orgasme. Hal itu menandakan bahwa ada perbedaan antara
perempuan dan laki-laki (dalam bentuk tubuh dan perilaku seksual) dibandirigkan
dengan spesies lainnya. Hal itu sepertinya aneh. Tetapi gorilla dan simpanse
yang memiliki perbedaan besar antara laki-laki dan perempuan akan terlihat
jelas.
Ada batasan antara biologi dan
budaya yang menandakan simetris dari spesies binatang. Kita adalah hominid
(berkerabat dekat dengan simpanse), yang harus menyediakan suatu bentuk seleksi
diri kita sendiri dan petuniuk yang jelas dari pemilihan seksual. Terdapat
bukti bahwa laki-laki menikahi perempuan yang memiliki intelektual yang sama,
keingingan sama tersebut telah beijalan lebih dari jutaan tahun yang lalu, itu
artinya bahwa pemilihan kemapuan-kemampuan menjadi sangat penting di kedua
jenis kelamin tersebut.
Apa yang membuat manusia itu
bertahan hidup adalah adanya kebudayaan. Dalam setiap budaya manusia juga ada
perlindungan khusus untuk membuat keberagaman. Satu hal yang paling mengejutkan
adalah larangan berzina (bagi setiap laki-laki di jalan - tetapi tidak tercakup
pada keluarga bangsawan). Pelarangan berzina hanya memiliki arti jika pelarangan
tersebut diciptakan untuk mencegah kaum laki-laki yang lebih tua mendominasi
kaum perempuan, seperti yang dilakukan dalam kelompok binatang (monyet).
Referensi:
Akhadiah, Sabarti dan Winda Dewi Listyasari
(editor).2011.Filsafat Ilmu Lanjutan.Jakarta:KencanaPrenada
Media Group.
Bronowski. 1981.The Ascent of Man. Published
in the United States of America by Little, Brown and Company.
Semiawan, Conny R., dkk. 2004. Dimensi Kreatif dalam Filsafat. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
http://id.wikipedia.org/


Tidak ada komentar:
Posting Komentar