(1) Aliterasi
Gaya bahasa atau majas
aliterasi berwujud perulangan konsonan yang sama. Aliterasi digunakan untuk hiasan dan untuk
memberikan penekanan. Gaya bahasa ini biasanya digunakan dalam puisi atau
prosa, demikian dikatakan Keraf. Contoh
penggunaan gaya bahasa aliterasi, Takut
titik lalu tumpah atau Keras-keras kerak kena air lembut
juga.[1]
Hal yang kurang lebih sama dikemukakan oleh Harimurti, dikatakan bahwa
aliterasi merupakan pengulangan konsonan atau kelompok konsonan pada awal kata
atau pada awal suku kata secara berurutan, seperti pada kata susah-sungguh
atau letih-lesuh.[2]
Aliterasi pada mulanya
digunakan untuk menunjukkan perulangan konsonan, tetapi sekarang kadang-kadang
digunakan juga untuk perulangan vokal. Hal ini menimbulkan tumpang tindih
dengan pengertian asonansi. Bahkan menurut Morse Peckham dalam Lanham,
aliterasi, dan asonansi adalah identik. Pada bagian lain Lanham mengatakan
bahwa aliterasi berfungsi sebagai perangkat retorika yang umumnya digunakan
dalam berbicara secara persuasif di
depan umum. Aliterasi berfungsi untuk “mengintensifkan sikap apapun yang
menandakan” (“intensify any attitude
being signified”)[3]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar