Jumat, 04 Maret 2016

Gaya Bahasa Retoris_Aliterasi

(1)  Aliterasi
Gaya bahasa atau majas aliterasi berwujud perulangan konsonan yang sama.  Aliterasi digunakan untuk hiasan dan untuk memberikan penekanan. Gaya bahasa ini biasanya digunakan dalam puisi atau prosa, demikian dikatakan Keraf. Contoh  penggunaan gaya bahasa aliterasi, Takut titik lalu tumpah atau Keras-keras kerak kena air lembut juga.[1] Hal yang kurang lebih sama dikemukakan oleh Harimurti, dikatakan bahwa aliterasi merupakan pengulangan konsonan atau kelompok konsonan pada awal kata atau pada awal suku kata secara berurutan, seperti pada kata susah-sungguh atau letih-lesuh.[2]


Aliterasi pada mulanya digunakan untuk menunjukkan perulangan konsonan, tetapi sekarang kadang-kadang digunakan juga untuk perulangan vokal. Hal ini menimbulkan tumpang tindih dengan pengertian asonansi. Bahkan menurut Morse Peckham dalam Lanham, aliterasi, dan asonansi adalah identik. Pada bagian lain Lanham mengatakan bahwa aliterasi berfungsi sebagai perangkat retorika yang umumnya digunakan dalam berbicara secara persuasif  di depan umum. Aliterasi berfungsi untuk “mengintensifkan sikap apapun yang menandakan” (“intensify any attitude being signified”)[3]



[1] Gorys  Keraf, Diksi dan Gaya Bahasa, (Jakarta: PT Gramedia, 1996),.. h.130.

[2] Harimurti Kridalaksana, Kamus Linguistik, Edisi Ketiga ( Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1993), h. 10

[3] Richard A. Lanham, A Handlist of Rhetorical Terms, Second Edition, (California: University of California Press, 1991). h. 7.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar