Yang Tersisa dari Rullies
oleh Fathoni Nur Alami
Seorang anak berambut coklat
muda bermain petak umpet dengan teman-teman sebayanya di Taman Kritan, Desa
Rulies. Taman ini memiliki pemandangan yang cukup indah, salah satu yang
terindah di dunia Arcana. Selain ada anak-anak yang bermain petak umpet, nampak
seorang gadis muda yang memetik beberapa rangkai bunga, dan dua orang lelaki
paruh baya terlihat serius bermain catur. Anak berambut coklat muda tadi hendak
bersembunyi di balik semak-semak.
“Bansar, jangan sembunyi di
sini!” ujar temannya.Anak ini pun kebingungan mencari tempat persembunyian.
Karena waktu untuk bersembunyi sudah habis, pemain yang
bertugas mencari pemain lain mulai bergerak. Sontak, pemain pertama yang
ditemukan adalah Bansar, anak berambut coklat muda yang kebingungan.
Bansar pun menjadi sedikit
kesal. Ini kan cuma permainan, pikir Bansar demi menghibur dirinya.
Sesampainya di bawah pohon rindang, tempat pos penjagaan petak umpet berada, ia
mengambil ranting pohon yang ada di dekat pohon itu. Sambil menunggu teman
lainnya menyelesaikan permainan ini, anak berusia 8 tahun itu menuliskan
namanya di atas tanah dengan menggunakan ranting, Ia meulis menggunakan aksara Granul,
salah satu aksara dari lima tata kebahasaan ras Doffalce. Tertulislah 4 huruf
aksara Granul, yang bermakna Bansar.
Akhirnya, teman-teman Bansar pun
berkumpul di dekat pohon rindang, yang menjadi pos penjagaan petak umpet, untuk
menyudahi permainan.
“Hari sudah petang, ya,” ujar
teman Bansar yang bertubuh jangkung.
“Iya, lebih baik sekarang kita semua pulang ke rumah,” kata
anak yang berambut ikal.
“Baiklah, aku pulang duluan ya teman-teman,” kata Bansar
sembari melambaikan tangannya ke teman-teman, yang menandakan dia pamit pulang.
Bansar tiba di rumah setelah
berjalan selama kurang lebih lima menit. Sesampainya di rumah, ia melihat
ibunya memasak sup agloren (berisi buncis, kembang kol, seledri, dan
daging glaren dengan kaldu sapi).
“Bansar, jangan lupa untuk
segera mandi!” ujar ibu Bansar, Ronyn.
“Iya, Bu!” jawab Bansar.
Ia
meletakkan gelang atrima pemberian ayahnya di sebelah tempat tidurnya
dan hendak mandi. Seusai mandi, ia melihat peta yang terbuka di atas meja kayu
di teras rumah. Kemudian, iamembacanya. Ternyata desa ini sangat jauh ya,
dari pusat kota, pikir Bansar. Beberapa saat kemudian, seseorang mengetuk
pintu rumah dan langsung masuk ke dalam, tanpa dipersilahkan.
“Ayah pulang…” ujar orang
tersebut.
“Selamat datang ayah…” sambut
Ronyn.
Bansar
pun menganggukkan kepalanya sembari menatap sang Ayah, Cole.
“Bansar sudah tertarik dengan
peta, ya?” tanya Cole.
“Emm..sekedar tertarik melihat, Yah,” jawab Bansar.
“Mana gelang atrima-mu?” Cole heran melihat
pergelangan tangan Bansar.
“Oh… iya. Tadi lupa dipakai lagi.”
Sontak, Bansar segera menuju kamarnya. Cole pun melepas
sepatu bot yang dipakainya untuk bekerja. Cole bekerja sebagai anggota
konservasi satwa langka, yang bertugas memantau satwa-satwa tersebut agar tidak
menjadi hewan-hewan buruan ras lain. Di samping itu, Cole menjadi ranger,
yang menjadi job utama yang dipilihnya.
“Makan malam siap…” ujar Ronyn
saat Bansar keluar dari kamarnya.
“ Mari berdoa sebelum makan
malam ini kita santap bersama,” kata Cole.
“Amin,” sambung Bansar beberapa
saat kemudian, lalu langsung melahap hidangan yang tersaji.
Di
tengah-tengah waktu makan malam, Bansar bertanya,
“Yah, mengapa tempat ini
dijadikan pemukiman?Kan jauh dari kota-kota di Doffalce.Apalagi pusat kota.”
“Begini kawasan ini memilki
banyak keistimewaan.Contohnya, hewan langka yang ada di Rulies.Menurut sejarah,
hewan ini menjadi satu-satunya satwa yang masih hidup dari generasi satwa 1.630
tahun lalu,” jawab Cole.
“Disini juga terdapat bahan
material langka bernama Batrunix, kristal yang dapat meningkatkan daya tahan
tombak dan kapak hamper mendekati abadi. Walaupun tingkat keberhasilan
penggunaannya amat sangat kecil,” lanjut Cole.
“Tapi, pasti tempat ini memilki
kekurangan, kan?”tanya Bansar yang semakin tertarik dengan beragam informasi
yang didapatnya.
“Kalau itu, biar ibumu yang
menjelaskan,” kata Cole sambil sedikit tertawa.
“Ya, memang daerah ini memilki
kekurangan yang perlu dibenahi.Desa Rulies menjadi kawasan di Doffalce yang
pengamanannya sangat kurang.Ini pun bukan hal yang mengejutkan, karena jumlah
penduduk di Doffalce sangat sedikit. Hanya sekitar 1.000 orang,” jelas Ronyn.
“Pejabat pemerintah pun
disibukkan, karena perlu mengurus banyak kasus persidangan akibat menghilangnya
banyak orang dari ras Doffalce yang potensial, berbakat,” lanjut Ronyn.
“Kok banyak yang hilang, Bu?”
tanya Bansar.
“Ibu dengar-dengar sih, kasus
orang-orang yang hilang terjadi pada kalangan yang menelusuri wilayah luar dan
meneliti sumber daya alam,” jawab Ronyn sambil mengambil sesendok sup.
Bansar pun telah menghabiskan makanannya.Cole dan Ronyn pun
nampaknya telah merapikan meja makan usai makan malam.
Beberapa saat kemudian,
terdengar ledakan yang berbunyi keras.
“Apa itu?” kata Ronyn, kaget.
“Oh, tidak.Itu Treums!” ucap Cole.
Treums
adalah salah satu ras selain Doffalce, yang berupa kumpulan robot berwujud manusia
(seperti cyborg). Mereka terkenal selalu membantai dan menyerang secara
membabi-buta pihak-pihak yang memiliki sumber daya (alam maupun manusia) yang
mereka butuhkan, tanpa belas kasih sama sekali. Sebenarnya mereka memiliki
hati/perasaan sama dengan ras lainnya, namun sebagian besar hati Treums sudah
mati.
“Bansar! Cepat sembunyi di ruang
bawah tanah!” tegas Cole.
“T...Tapi.”
“Sudah, jangan membantah!” jelas
Cole.
Bansar pun melihat ibunya mengeluarkan tongkat Ederain
dan memakai baju yang dapat meningkatkan kemampuan spell skill. Bansar
segera menuju ruang bawah tanah dengan tergesa-gesa. Cole pun menutup menutup
pintu ruang bawah tanah itu, yang berada di bawah kursi tua. Di dalam ruang
tersebut, Bansar hanya bisa menutup mata. Ia ketakutan, namun separuh dari rasa
takutnya berasal dari rasa panik. Ia hanya bisa berharap ayah dan ibunya
selamat dalam penyerangan yang dilakukan Treums itu. Ia pun menunggu di balik
kegelapan yang menyelimutinya.
Cukup lama Bansar menunggu di
dalam. Tidak terdengar suara apa pun, kecuali gemuruh yang berkepanjangan.
Namun, setelah penantian panjang, Bansar mendengar suara gumaman yang berdecit,
layaknya suara cyborg.
“Aku sepertinya mencium bau
Doffalce.”
“Kau benar kawan, nampaknya
masih ada yang tersisa di sekitar sini. Ahoy…” jawab makhluk Treums lainnya.
Derapan kaki terdengar semakin dekat, tangan Bansar semakin gemetar.
Bruakk!! Pintu ruang bawah tanah dihujam dengan kapak platina.
“Ahoy… Ternyata bocah ingusan,”
seru makhluk Treums, dengan nada bajak laut.
Bansar
diangkat dengan mudahnya, kemudian digiring bersama empat tawanan Doffalce
lainnya. Sekilas, ia melihat ayah dan ibunya terkapar penuh darah. Ayahnya
masih memegang panah Eaglehorn, yang telah ditempa hingga tingkat
penambahan 4 dari 7.Sedangkan di dekat ibunya, tongkat Ederain tergeletak
di sampingnya. Bansar tak kuasa menahan tangis. Ia hanya bisa pasrah terhadap
keadaan, berharap ia memiliki kesempatan kedua untuk hidup.
Kawanan Treums berhenti di
tempat yang terlalu jauh dari Desa Rulies. Tempat itu terlihat seperti pos
sementara, nampaknya pembantaian itu memang tidak dilangsungkan hingga pusat
kota ras Doffalce. Bansar ditahan di ruang yang dihalangi jeruji besi, seperti
ruang di dalam penjara.Ia melihat keadaan di sekitarnya. Nampak hanya satu alchemist
(kimiawan, namun di sini berperan sebagai peneliti.Job pengembangan specialist) Treums
sedang memindai anatomi tubuh seorang Doffalce.
Bansar masih tidak bisa berhenti
meneteskan air matanya. Terlihat ia semakin depresi. Tiba-tiba, alchemist Treums,
yang tadi melakukan pemindaian, menghampirinya.
“Uhuk** (berdehem sesaat).Hei,
nak.Apakah kau hafal jalan menuju rumahmu dari sini?”
Bansar
tidak ingin menanggapi pertanyaan sang alchemist dengan serius. Ia pun
mengusap sedikit air mata yang membasahi pipinya.
“Memangnya Treums bisa
batuk?”gumam Bansar.
“Sudahlah, jangan bertanya hal
yang tidak penting. Jawab saja pertanyaanku! Percayalah,” bujuk sang alchemist.
“Hafal sih, soalnya tempat ini
tidak terlalu jauh dari sini,” jawab Bansar.
“Baiklah, apa kau mau bebas?”
tanya sang alchemist.
Itu
adalah pertanyaan yang aneh, pikir
Bansar
“Bagaimana caranya? Kabur?”
tanya Bansar sambil memicingkan matanya.
“Ya.Dari bentuk tubuhmu,
sepertinya larimu cepat,” ujar alchemist.
“Tapi, kalau saat kabur ketahuan,
pasti aku akan tertangkap lagi,” jelas Bansar.
“Iya, ras asing yang keluar dari
tempat ini pasti akan diketahui oleh pasukan garda Treums,” ujar alchemist.
“Lalu bagaimana?” keluh Bansar.
“Biar alchemist ini yang
menahan mereka,” ujar sang alchemist, mengacungkan jempolnya.
“Itu kan tidak mungkin.Kau pasti
hanya bersandiwara,” jawab Bansar.
“Cepatlah, waktumu hanya dua
menit lagi untuk mulai bergerak. Percayalah,” kata sang alchemist.
Akhirnya,
Bansar mempercayainya.
“Bawalah keping logam ini. Dua
koin ini akan mengeluarkan item yang sesuai dengan job uang kau
ambil nanti,” ujar sang alchemist sambil memberi dua keping logam.
Bansar pun mengangguk.Ia pun bergegas untuk melarikan diri
lewat pintu belakang. Sambil menoleh ke belakang, ia melihat alchemist tadi
mengeluarkan gada. Dari tangan kanannya, muncul tameng yang cukup besar
menyelimuti tangannya.
Bansar berlari sekuat tenaga
menyusuri kawasan hutan yang lebat. Dalam hatinya, ia mengucapkan rasa terima
kasih kepada alchemist Treums itu. Ia memutuskan untuk melepas
sandalnya, karena sandal yang ia pakai sudah hampir putus. Di tengah
perjalanan, Bansar menjumpai beberapa satwa langka yang sepertinya bersikap
jinak.Ia teringat akan tugas rutin ayahnya, bekerja sebagai penjaga satwa langka.
Ladang sawah di sekitar Menara
Hoven, tempat penanda wilayah Desa Rulies, sudah terlihat.Ia pun memperlambat
langkahnya dan berjalan menapaki rerumputan yang berembun. Padahal masih
malam, tapi sudah berembun, pikir Bansar.Hari sudah malam, tapi Desa Rulies
terlihat terang karena pancaran cahaya Light Swamp.
Bansar menghampiri seorang
anggota tim evakuasi.
“Pak, apakah Bapak melihat
sebuah Eaglehorn? Benda itu nampaknya berupa hasil penempaan tingkat 4,”
tanya Bansar.
“Ah, iya. Bapak menemukannya
beberapa jam lalu. Memangnya ini punya siapa, Nak?” ujar petugas evakuasi.
“Ini punya ayah saya, Pak. Kalau
tidak salah, ada sesuatu di balik gagang panah ini,” jelas Bansar sambil
menerima panah itu.
Beberapa
saat kemudian, seorang lelaki yang berumur sekitar 50 tahun menghampiri
Bansar.Ternyata itu adalah Barea (ketua ras) Doffalce.
“Nak, maafkan aku yang tidak
bisa mengkoordinir para Boorsae (pihak kementerian) dengan baik, hingga Rulies
pun menjadi korban,” kata Barea.
“Tidak apa.Ibuku pernah berpesan
bahwa saat aku tertimpa masalah yang cukup besar, aku tidak boleh frustrasi dan
menyimpan rasa dendam,” jawab Bansar.
“Terima kasih, wahai pemuda yang
berhati baja. Omong-omong, apakah dirimu satu-satunya yang selamat dari
peristiwa itu?” tanya Barea.
“Aku tidak tahu secara pasti
.Tapi, nampaknya seperti itu,” kata Bansar.
“Pak, kapan jasad ayah dan ibuku
akan dikuburkan?” tanya Bansar kepada anggota tim evakuasi.
“Besok pagi.Tepatnya pukul 7,”
jelas petugas.Malam itu, Bansar pun langsung beristirahat di pos penjagaan,
setelah berpamitan dengan Barea.
Esok paginya, Bansar ikut ke
acara pemakaman seluruh korban pembantaian Treums.Setelah berdoa dan
menancapkan batu tanda pemakaman, Bansar pun mengecek selembar kertas kecil
yang ada di dalam gagang Eaglehorn. Setelah membacanya, ia tersenyum dan
menatap ke langit, yakin akan memenuhi semua amanat yang tercantum di kertas
itu.
10 tahun kemudian, Bansar telah
menjadi seorang spiritualist yang menguasai elemen air, angina, dan
cahaya.Skill yang belum dikuasainya berupa elemen air, tanah, dan
gelap.Ia memilih job tersebut saat berusia 12 tahun, 2 tahun lebih cepat
sebelum penutupan ekskuisi pemilihan job utama. Sedangkan untuk side
job, dia memilih untuk menjadi tamer.Job tersebut ia kembangkan
menjadi insect tamer. Ia memiliki
seekor mantis (seperti belalang), yang dapat ditunggangi saat
menggunakan skill grow (memperbesar ukuran) dan menyimpannya agar aman
saat menggunakan skill shrink (memperkecil ukuran).
Nama dari mantis tersebut adalah
Fhyllum. Bansar memberi nama mantis itu, karena mantis itu menuliskan namanya
di batang pohon. Terdengar seperti salah satu tingkat takson, Phyllum.Skill
Burst membuatnya menjadi mantis yang berbeda dari mantis lainnya, karena skill
ini dapat meningkatkan kecepatan langkah 4x lebih cepat dari kecepatan
rata-rata.
Selama 10 tahun, Bansar menempa
dirinya secara rutin dan berkala. Saat siang ia melakukan latihan dasar
berperang, berkuda, bahkan mempraktekkan kemampuan spell-nya. Saat malam
hari, ia memfokuskan dirinya untuk mempelajari sejarah keempat ras (Kronoa,
Doffalce, Treums, dan Acylyt), makalah mengenai eksplorasi di penjuru alam,
teknik spell, dan lainnya. Tidak semua waktu ia gunakan untuk hal-hal
ini. Biasanya, setiap hari Sabtu, ia menyalurkan hobinya, yaitu berkebun dan
bermain Tactoe (permainan dengan jenis yang sama denga catur dan sogi). Kini,
terkadang ia merawat Fhyllum di samping kebunnya.
5 tahun kemudian, Bansar sudah
menguasai seluruh spell elemen, cahaya, dan gelap yang ia pelajari.
Spealisasinya adalah elemen angin dan cahaya. Selain handal berperan men-support
rekan-rekannya dan bisa beralih menjadi “penjinak” lawannya, ia memiliki
gerakan yang luwes dan fleksibel. Ia pun menguasai dasar-dasar pertempuran
selain sebagai spiritualist. Esok hari, ia akan menuju Ether untuk
ekspedisi menuju Lereng Rohan, yang konon menjadi tempat terletaknya catatan
penemuan aktivasi Orb dari pendahulu Doffalce.
Sambil bersiap-siap, ia ingin
berbicara denga Clement, sahabat karibnya. Clement adalah seorang trapper,
yang dapat berkolaborasi dengan apik bersama Bansar.Ia akan menemani Bansar
dengan keempat orang lainnya, dalam tugas yang diberikan oleh pihak Boorsae,
sebuah ekspedisi. Bansar pun menghampiri teman karibnya, yang sedang menaruh
bibit ranjau modifikasinya ke dalam kantong celana.
“Apakah kau sudah siap untuk
hari esok?” Tanya Bansar.
“Belum sepenuhnya.Tapi, aku akan
mencoba melakukan ekspedisi itu sebaik mungkin,” jawab Clement.
“Ah… sebelumnya, aku ingin
memberi sesuatu untukmu.”
Bansar
mengeluarkan sebongkah batu dengan corak merah, seperti redstone.
“Ini untukmu,” ujar Bansar
memberikan benda itu kepada Clement.
“Apa ini?” tanya Clement.
“Ini yang dimaksud dengan batu
baltix,” jawab Bansar.
Clement pun kaget, “Apa!?? Dari
mana kau mendapatkan benda ini?Ini kan material langka yang bisa langsung
dipakai ke dalam tubuh.”
“Aku menemukannya di Lembah
Arai.Di dekat gerombolan Aquos yang terkapar.Nampaknya, mereka dipenggal oleh
orang-orang Kronoa,” ucap Bansar.
“Mengapa kau memberikan ini
padaku?Benda ini sangatlah langka. Batu Baltix dapat menyembuhkan luka yang
diakibatkan serangan yang dapat mematikan penggunanya,” tanya Clement, heran
akan pemberian sahabatnya.
“Habisnya, aku tidak tahu harus
memberikannya kepada siapa.Lagipula, hanya kau yang dapat memutuskan dengan
tepat harus diberikan siapa,” jelas Bansar.
Clement
mengusapkan batu baltix tersebut untuk mengaktifkan efeknya, tanpa
sepengatuhuan Bansar.Ia kemudian menepuk pundak Bansar untuk mengaktifkan efek
batu baltix. Pastinya tanpa sepengatuhan Bansar.
“Baiklah aku menerima batu ini
dengan senang hati.Apa kau yakin untuk memberikannya?” ujar Clement,
berpura-pura belum menggunakannya.
“Pastinya tidak, karena kebingungan,” jawab Bansar dengan
singkat.
Keesokan harinya, ekspedisi dimulai lewat keberangkatan dari
Terminal Chihua, Doffalce menuju salah satu terminal di Ether.Regu yang telah
disiapkan dipimpin oleh seorang warrior veteran, Heinze, yang berumur 37 tahun.
Persiapan pun dilakukan dan mereka memasuki lokomotif terbang yang akan
berangkat menuju Ether.
“Saudara sekalian, kita berharap agar ekspedisi ini berjalan
dengan lancer. Utamakan menggunakan formasi C dalam perjalanan! Transporter
harus memasang cranium (teleporter) dalam radius 2 km! Mengerti?” tegas
Heinze.
“Siap, Pak!” jawab kelima anggota dengan kompak, termasuk
Bansar.
Sesampainya di Ether, seluruh anggota regu langsung memulai
ekspedisi. Tim menggunakan formasi C selama perjalanan.Namun, saat perjalanan
berlangsung di Pegunungan Loid, bongkahan salju perlahan jatuh ke kawasan di
dekat rombongan.
“Bersiap saudaraku!” pimpin Heinze.
“Tapi, tidak ada tanda-tanda runtuhnya bagian gunung,Pak!”
seru seorang navigator.
Clement heran.Clement juga merasa jatuhnya bongkahan salju
tidak terjadi secara natural/alamiah.
“Ada yang aneh,” gumam Clement.
Ia
menebar bibit-bibit ranjau di sekitar pijakan timnya.
Bansar sudah bisa memulai untuk
memakai semua spell yang dikuasainya. Ledakan terjadi di tempat yang
tidak jauh dari Heinze.
“Kronoa!!” teriak seorang ranger
yang mulai melesakkan anak panah.
Bansar
harus menahan serangan yang dilancarkan orang-orang Kronoa, juga harus
mengeluarkan support skill untuk menopang lima Doffalce lainnya.
Tiba-tiba, hujaman sinar yang seperti laser mengenai Heinze.Bansar mencoba
menyembuhkan luka yang ada.
“Sudah, lupakan bapak tua ini,
Nak.Pimpin teman-temanmu untuk mundur!” perintah Heinze, sebagai kata-kata
terakhirnya.
Tidak ada waktu untuk
bersedih.Itulah yang dipikirkan oleh Bansar dalam benaknya.
“Clement, mundur!Ini perintah
dari Ketua Heinze!” ungkap Bansar.
“Tidak bisa!Bagaimana denganmu?”
kata Clement.
“Itu mudah!Yang penting kau bisa
kabur lebih dahulu,” balas Bansar.
Clement
tidak menghiraukan temannya.Ia hanya berpikir untuk membantu Bansar agar dapat
melancarkan serangan balik.
Bansar tidak mengetahui apa yang
dipikirkan oleh sahabatnya. Saat ini, ia hanya dapat melindungi Clement dengan arcane
shield, perlindungan mutakhir dengan pengorbanan mana (tenaga dalam).
Hujaman spell api membuat suasana tidak mendukung. Perlahan, Bansar mulai
melemah.Ia terlalu fokus untuk membuat pertahanan pada Clement. Satu anak panah
menancap di bahu kirinya.Ia menyadari sistem sarafnya terganggu, nampaknya anak
panah tersebut beracun. Beberapa saat kemudian, ia pingsan. Sebelumnya, ia
tidak memiliki cukup mana untuk melancarkan skill penyembuh, untuk menetralisir
racun yang mengalir dalam tubuhnya. Kejadian itu merupakan terakhir kalinya ia
melihat Clement. Saat itu, Clement menghampirinya yang sudah lemah. Setelah
itu, ia tidak ingat hal-hal yang terjadi setelahnya.
Sekitar 3 hari kemudian, Bansar
siuman.Ia terbangun dengan balutan kassa di dahinya. Tongkatnya masih ada di
sebuah meja dekat lemari.Tapi, “seragam perang”nya tidak ada. Mungkin
disimpan oleh seseorang, pikir Bansar.Gelang Atrima masih ada di
pergelangan tangannya.Di saku celananya pun masih ada tiga barang penting,
Fhyllum dan dua keeping logam pemberian alchemist saatkejadian 15 tahun
lalu.Bansar belum membukanya (mengaktifkan). Fhyllum sepertinya sehat-sehat
saja, dalam kondisi shrink.
“Bansar bersiaplah menghadapi
siding kesaksian jam satu siang nanti. Jajaran petinggi sepertinya akan
membahas beberapa hal terkait dengan ekspedisi lalu,” jelas seorang perawat
pria, sambil membawakan segelas air Ethan, racikan alchemist muda
Doffalce.
Bansar mengangguk.Ia berharap kesaksiannya nanti dapat
menjadi bahan evaluasi pemerintah, sekaligus memberikan beberapa saran terhadap
regu ekspedisi dan eksplorasi lainnya yang akan menuju Ether.
Matahari sudah terlihat di
puncak langit.Waktu persidangan sepertinya akan segera dimulai. Bansar pun
sudah memasuki ruang persidangan.Nampak Barea dan kesatuan Boorsae menghadiri
persidangan ini. Hakim memulai persidangan dengan ketukan palu, yang menandakan
persidangan akan segera diselenggarakan.
“Baik..akan dimulai persidangan
mengenai terbunuhnya lima dari enam anggota tim ekspedisi di kawasan Ether.
Tuntutan hasil diskusi para Boorsae, pembuka persidangan ini, akan disampaikan
oleh Misc. Aaron Eshak, selaku menteri penelitian dan eksplorasi daerah. Kepada
Bapak Aaron dipersilahkan.”
“Sebagai pembuka, saya akan
singkat saja.Kami, perangkat pemerintah ras Doffalce, sepakat untuk memberikan
kepada Saudara Bansar mengkonfirmasi beberapa hal yang diketahuinya.Menurut
pandangan kami, ada indikasi Bansar yang melakukannya, didukung dengan
peristiwa 15 tahun lalu.Walaupun Bansar dikenal sebagai warga yang loyal dan
bukan pendendam, tuntutan belum bisa terhindarkan.Sekian pembukaan dari kami,
Boorsae,” kata Aaron.
“Selanjutnya, kesempatan
pernyataan mengenai kesaksian diberikan kepada Saudara Bansar.Kepadanya,
dipersilahkan,” ujar hakim.
“Dalam kesempatan ini,
sepertinya saya akan memulai kesaksian dengan menceritakan kejadian yang saya
ingat.Kami dipimpin oleh Pak Heinze, dengan jumlah anggota regu termasuk ketua
sebanyak 6 orang.Saat di dalam lokomotif, kami melakukan briefing singkat.Uhuk…
*berdehem,” Bansar menghentikan pernyataannya sesaat.
“Sesampai di Ether, kami
langsung memulai perjalanan dengan formasi C, hendak menuju Lereng Rohan.
Transporter selalu memasang cranium dalam radius 2 km. Namun,
sesampainya kami di kawasan Pegunungan Loid, bongkahan salju perlahan turun
menuju tempat kami berpijak. Seorang navigator dari rombongan menyatakan bahwa
runtuhnya bongkahan tidak terjadi secara alamiah. Kemudian…”
“Itu Kronoa! Kami diserang lebih
dari 20 Kronoa dengan persenjataan lengkap. Saya berusaha melindungi
rekan-rekan, dan…”
“Interupsi!Hasil observasi kami
menyatakan bahwa tidak ada tanda-tanda dari aktivitas ras Kronoa di sekitar
kawasan Loid,” tegas Aaron.Nampak sebagian besar Boorsae menganggukkan
kepalanya, pertanda setuju.
Hakim berujar, “Tahan! Biarkan Saudara Bansar menyelesaikan
pernyataannya! Lanjutkan, Nak!”
“Baik.Pak Heinze kemudian tergeletak.Ada bolongan di
dadanya.Nampaknya sinar laser telah menghujamnya.Ia menyuruh kami untuk mundur.
Tapi, satu-satunya teman saya yang bertahan bersikeras untuk bertahan dan
melakukan serangan balik.Tiba-tiba, saya tersungkur, karena panah beracun sudah
tertancap di tubuh saya.Saya tidak bisa menetralisirnya, karena mana saya habis
untuk menyalakan arcane shield.”
“Baiklah, pernyataan Saudara Bansar sudah
tersampaikan.Kesempatan berikutnya, akan disampaikan oleh Kalun, utusan
Boorsae,” lanjut hakim.
“Disini saya akan menyampaikan beberapa pertanyaan yang
telah diajukan oleh client saya.Saya pun tidak ikut campur tangan dalam
diskusi yang ada, tapi sepertinya, berkas yang ada di meja saya saat ini sudah
valid.”
“Pertanyaan pertama. Siapakah teman Anda yang bertahan
sampai akhir hingga Anda tidak sadarkan diri?” tanya Kalun.
“Clement, dia sahabat saya.Dia seorang trapper,”
jawab Bansar.
“Menurut keterangan dari Boorsae dan komandan unit 13,
Clement bukanlah orang yang gegabah. Ia menaati setiap perintah dari atasan,
untuk mengurangi resiko kegagalan,” jelas Kalun.
“Saya juga tidak tahu apa yang dipikirkannya saat itu, Pak,”
keluh Bansar.
“Cukup, kita lanjutkan ke pertanyaan kedua.Pernyataan Anda
mengenai “penyerangan” yang dilancarkan ras Kronoa tidak dapat langsung
dibenarkan.Dari hasil olah tempat kejadian perkara, senjata yang bukan milik
regu dari Doffalce ternyata juga senjata buatan ras Doffalce.Senjata-senjata
tersebut tidak diperdagangkan ke luar kawasan Doffalce. Bagaimana dengan
kondisi itu?” tanya Kalun.
“Saya akan balik bertanya.Bagaimana dengan anak panah yang
tertancap di tubuh saya?” kata Bansar.
“Bisa saja Anda sendiri yang menancapkannya untuk
menghilangkan bukti.Hakim, sepertinya kedua pertanyaan ini sudah cukup untuk
membuktikan bahwa Saudara Bansar tidak dapat menjelaskan kejadian yang ada,”
ungkap Kalun.
Bansar kebingungan.Ia sudah mengatakan semua hal yang
diketahui olehnya. Ia lalu berkata,
“Pak hakim dan Barea, tidak bisakah kalian menolongku?”
“Maaf, Bansar. Kamu itu dikenal sebagai Doffalce potensial
yang memahami semua kemampuan dasar berperang.Ini pun kesimpulan yang dapat
kami diskusikan, yaitu berupa tuduhan.Saya pun telah memikirkannya dengan akal
sehat. Kejadian 15 tahun lalu juga menjadi faktor pendukung kamu untuk
melakukan pelampiasan kepada tim Pak Heinze,” ungkap Barea.
“Dengan begini, penetapan hasil keputusan telah
dipastikan.Saudara Bansar dinyatakan bersalah!” hakim mengetukkan palunya.
Bansar berpikir sejenak.Ia hendak meng-cast salah
satu spell cahaya, yang dapat digunakan teleportasi. Beberapa saat
kemudian, Bansar seketika lenyap.Bansar berpindah ke reruntuhan Desa Rulies. Ia
tidak sempat mengambil tongkat spellnya., karena menurutnya hal itu akan
menghilangkan kesempatannya untuk “melepaskan” diri. “Grow!” seru Bansar,
sesaat setelah ia mengeluarkan Fhyllum dari saku celananya. Ia kemudian menaiki
Fhyllum dan bergegas menjauhi teritori Doffalce.
Tempat yang ditujunya adalah tempat yang belum jelas
keberadaannya. Untuk sampai ke sana, ia harus melalui Gurun Noycan, terkenal
dengan luasnya hamparan pasir di daerah tersebut. Lalu melewati Hutan Liayr,
yang dikenal dengan beragam beast agresif (menyerang dan memburu ras
yang melewati kawasan itu, apa yang dilihatnya). Dan terakhir, melewati Gua
Haltair, terlihat tidak berbahaya, namun udara di sekitar kawasan tersebut
mengandung senyawa kimia beracun.Bansar mengetahui itu semua dari salah satu
buku kuno yang ada di perpustakaan pusat.Nampaknya, buku itu tidak pernah
dibaca pada zaman ini, dan sepertinya bukan merupakan buku yang dimiliki
(disediakan) pihak perpustakaan.
Menurut keterangan pada buku itu, keempat ras di dunia
Arcana, hidup berdampingan dan suasananya damai, tidak bermusuhan di sana.
Bahkan ada seorang pria Acylyt menikah dengan seorang wanita Kronoa.Sehingga,
gen yang dimiliki anak mereka merupakan campuran genotype dan fenotipe orangtua
mereka.
Setelah hampir sampai di Gurun Noycan, Bansar memberhentikan
Fhyllum sejenak.
“Omong-omong, aku kan belum membuka (mengaktifkan) koin dari
sang alchemist,” gumam Bansar.
Bansar
turun dari punggung Fhyllum, dan mengeluarkan dua keeping logam dari saku
celananya.
“Semoga akan keluar benda yang
berguna,” ujar Bansar.
Bansar
hendak mengetukkan dua koin logam itu ke tanah, tanda ia ingin membukanya. Koin
pertama yang diketuk mulai lenyap.
Ada seberkas cahaya yang
menggantikannya, muncullah sebuah tongkat spell yang memiliki ujung
gagang seperti kerucut.Lebih tepatnya spiral yang berputar-putar, sehingga
terlihat membentuk kerucut.
“Ini nampaknya seperti Rod of
Athos, tapi kalau demikian, ini kan bukan untuk spiritualist,” kata
Bansar.
Ia
menguji tongkat itu untuk segera mengetahui kekuatan yang dihasilkan. Ia
mencoba untuk mengeluarkan spell api. Lumayan untuk penerangan petang
ini, pikir Bansar.Jeda beberapa lama, untuk memberikan waktu kepada Bansar
meng-cast spellnya.
“Lumayan, sepertinya hanya secuil
mana yang dibutuhkan.Bagus juga,” Bansar tersenyum melihat tongkat barunya.
Bansar
tidak menyadari, sebenarnya tongkat yang dimilikinya memiliki kekuatan yang
setara dengan tongkat enhance (penempaan) tingkat 5 (dari 7). Memang,
kekurangan yang dimiliki tongkat ini adalah tidak bisa ditempa (enhance).
Koin kedua diketuk beberapa saat
setelah itu.Kembali, keluarlah seberkas cahaya.Muncul 10 butir “bahan konsumsi”
di dalam suatu wadah.Di wadahnya tertulis “Suplemen, cadangan pangan untuk
makhluk Arcana”.Bansar menganggukkan kepalanya kembali.Ia ingin memberi salah
satu suplemen itu kepada Fhyllum.
“Sepertinya ini akan lebih
berkhasiat jika ditambah cairan Aloe Aver,” gumam Bansar.
Ia
meneteskan cairan dari tumbuhan Aloevarium sp. ke satu suplemen, dan menyuapkannya
ke dalam rongga mulut Fhyllum. Nampaknya, Bansar benar.Fhyllum terlihat telah
diberi panganan yang cukup.
“Apakah ini berkhasiat jika
dikonsumsi Doffalce?” ujar Bansar, sambil mengernyitkan keningnya.
Ia mencobanya, mengunyah
beberapa kali. Rasanya hambar.Suplemen itu pun ditelannya.
“Cukup mengenyangkan,” ujar
Bansar.
Ia
memutuskan untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan menyusuri Gurun
Noycan.
“Shrink!” seru Bansar, kemudian
menyimpan Fhyllum ke dalam saku celananya.
Ia
bersyukur benda yang muncul dari koin pemberian sang alchemist sangat
bermanfaat di saat kondisi Bansar saat ini, yang mengkhawatirkan.
Beberapa menit sebelum terbitnya
matahari (dalam Bahasa Inggris disebut dawn), Bansar sudah bangun dari
tidurnya.
“Grow!” seru Bansar, yang hendak
menaiki Fhyllum nanti.
Ia
memakan suplemen dan memberikan suplemen lainnya ke Fhyllum. Sekarang, jumlah
suplemen yang tersisa ada enam butir.Ia mulai bergerak bersama Fhyllum, mulai
menapaki Gurun Noycan. Di sana, nampak ogre dan golem yang tiba-tiba maju
menuju Bansar. Ia bisa menahan mereka, dengan skill api dan angin yang
dimilikinya. Sesekali, Bansar menggabungkan kedua skill itu, yang salah
satunya membentuk pusaran api.
Sekitar 30 menit menyusuri,
Bansar sudah sampai di penghujung Gurun Noycan bersama Fhyllum. Berkat skill
Burst dari Fhyllum, mereka bisa sampai di sana dengan cepat. Keringat
membasahi kening Bansar, karena ia perlu meng-cast skill elemen api dan
angin yang dikuasainya berulang kali. Ia harus melanjutkan perjalanan bersama
dengan Fhyllum. Luasnya hamparan Gurun Noycan.Bansar sampai harus mengeluarkan
mana yang tidak sedikit.
“Kalau begini coba teleport saja,” kata Bansar.
Ia
melangsungkan spell cahaya untuk teleport. Namun, ternyata spell itu
tidak bisa dilangsungkan.Hal itu wajar terjadi, karena ada beberapa tempat
dimana seorang pengguna spell untuk teleport tidak dapat menggunakan spell
itu karena efek kawasan scarcity (langka, banyak pengecualian).
Terpaksa, ia harus melalui Hutan Liayr dengan melawan gerombolan beast.
Kali ini, spell yang Bansar gunakan terfokus pada elemen air dan tanah,
agar langkah para beast dapat diperlambat, bahkan ada yang terjebak.
Lumpur dari spellBansar menggenangi hutan tersebut.
Dengan kecerdikannya, Bansar
telah sampai di lubang masuk Gua Haltair.Karena mengetahui informasi yang
didapatnya, yaitu udara di dalam kawasan gua itu mengandung senyawa kimia
beracun, maka Bansar memutuskan untuk menyimpan Fhyllum di saku celananya, yang
tertutup oleh baju yang dikenakannya.Sebelum memasuki Gua Haltair, ia memakan
satu butir suplemen.Mananya sedikit bertambah. Sebelum masuk, ia menggunakan spell
penyembuh (dari skill cahaya), yang dapat membuat tubuh penggunanya kebal
terhadap racun selema durasi tertentu.
Setelah merasa siap, Bansar
memasuki Gua Haltair. Beberapa langkah saat memasuki gua itu, ia menggunakan spell
api untuk penerangan. Di sekitarnya memang terlihat kabut tipis, yang
nampaknya adalah senyawa kimia beracun yang bercampur dengan udara.Di
pertengahan jalan, banyak tanaman seperti semak belukar ada di pinggiran jalan
setapak. Aneh, bentuknya tidak lazim.Semakin lama, Bansar merasa ia hanya
mengelilingi rute yang sama. Mana yang ada dalam tubuhnya lama-kelamaan
berkurang.Padahal, spell kebalnya masih bisa aktif.
Bansar mencoba rute lain, yang
berupa jalan dengan kemungkinan keluar dari Gua Haltair lebih tinggi,
dibandingkan dengan rute awal yang telah ia lewati. Setelah mencoba, ternyata
jalan yang ia telusuri masih menyatu dengan rute sebelumnya. Sehingga, Bansar
pun bingung.Perlahan namun pasti, mananya sudah habis.Spell kebalnya pun
telah berhenti. Udara yang tercampur dengan senyawa kimia telah terhirup
olehnya. Hanya dalam hitungan detik, ia tersungkur ke tanah dan pingsan.
Tongkatnya tergeletak di samping tubuhnya, yang berada di atas tanah di dalam
Gua Haltair.Namun, tidak lama kemudian, muncullah seorang di balik kegelapan
bayangan.
Bansar terbangun di sebuah rumah
kayu kecil.Tongkat barunya yang didapat dari koin berada di samping meja tua
yang ada di rumah itu.Kemudian, terdengarlah suara decitan seseorang, seperti
suara Treums.
“Kau
sudah bangun?” ujar Treums itu.
“Ya...
Tapi, tunggu dulu. Sepertinya aku pernah melihatmu,” jawab Bansar.
“Tidak
mungkin, memangnya dimana?” tanya sang Treums.
“Ya,
pernah. Sepertinya 15 tahun lalu aku pernah melihatmu,” kata Bansar sambil
mengernyitkan keningnya.
“Masa’
lupa?” lanjut Bansar.
“Ya,
kau benar. Aku hanya ingin mempermainkanmu sedikit,” ucap Treums sambil
tertawa.
“Jadi,
kau alchemist yang waktu itu?” tanya
Bansar.
“Pastinya,”
jawab sang alchemist Treums singkat.
“Omong-omong,
terima kasih atas koinnya, ya. Jadinya bisa dapat tongkat bagus itu,” ungkap
Bansar.
“Ok.
Lalu koin kedua mengeluarkan apa?” tanya sang alchemist.
“Seperti
cadangan makanan, berbentuk suplemen,” jawab Bansar.
“Sekarang
benda itu dimana?” lanjut Treums.
“Terakhir
sih, ada di dalam kantong celana,” jawab Bansar.
Kemudian, ia memasukkan tangannya ke dalam saku celana.
Bansar mengeluarkan sesuatu. Ternyata, itu Fhyllum. Tidak ada yang tersisa di
dalam saku celananya.
“Nampaknya
hilang. Maaf, Pak!” seru Bansar.
“Baiklah,
tak apa. Oh iya, nanti pergilah ke tempat di seberang rumah ini! Aku ingin kau
berterima kasih kepada penyelamat jiwamu,” kata alchemist.
“Jadi,
yang menyelamatkanku bukan kau?” tanya Bansar, bingung.
“Ya. Yang menyelamatkanmu juga seorang
Doffalce sepertimu,” jawab alchemist.
“Oh
ya, aku lupa bertanya. Bolehkah aku mengetahui namamu?” lanjut Bansar.
“Baik.
Nama sepertinya Soundwainaxioareon,”
ucap alchemist.
“Maaf?”
Bansar tidak mendengarnya.
“Panggil
saja Wen,” kata alchemist.
Kemudian,
beberapa jam setelahnya ia bertemu dengan seorang Doffalce yang telah
menolongnya di suatu tempat di seberang rumah. Ternyata, dia adalah Simon E.
Collins, pengarang buku kuno yang dibaca Bansar, yang ada di perpustakaan
pusat. Setelah mengucapkan kata terima kasih dan berbincang sedikit, Bansar
berniat untuk mengelilingi desa ini.
Desa
ini tidaklah besar, tapi juga bisa dibilang tidak kecil. Pasar tradisional
hadir untuk pengunjung setiap pagi dan sore. Saat sore, hanya buka selama 1
jam. Setelah berkeliling di sekitar desa ini, ia menemukan papan yang terpasang
di tengah kota. Penulisannya seperti aksara Hulie, salah satu aksara yang belum
dipelajarinya. Hingga saat ini, Bansar belum mengetahui nama desa ini. Beberapa
langkah kemudian, ia menemukan sebuah tempat menempa (seperti tempat pandai
besi) di perkarangan kota.
“Pak,
apakah saya bisa menempa tongkat ini?” ujar Bansar sambil memperlihatkan
tongkat barunya.
“Emm...
dari analisis saya, tongkat ini tidak dapat ditempa lagi, Nak. Namun, ada ruang
di tengah tongkat ini, yang dapat dipasang dengan gem untuk meningkatkan kekuatannya,” tunjuk penempa.
Bansar memperhatikannya sesaat. Bentuk dari ruang kosong
yang ada di tengah tongkat itu seperti bentuk magatama.
“Baiklah,
Pak. Dimana aku bisa mendapatkan gem
yang berbentuk seperti magatama ini?”
tanya Bansar.
“Kamu
bisa mendapatkannya di beragam tempat. Tapi, kalau mau mencari tempat yang
dekat dari sini, kamu bisa mencoba mencarinya di rawa di dekat desa ini. Untuk
mendapatkannya, kamu harus mengalahkan monster yang memilikinya,” jelas
penempa.
“Kalau
begitu, saya lebih baik bergegas mulai sekarang. Terima kasih atas infonya,
Pak. Saya akan mencarinya terlebih dahulu,” ujar Bansar.
Bansar pun langsung menuju rawa di sekitar desa ini,
untuk mencari gem yang cocok dipasang
di tongkatnya.
Tidak
memerlukan waktu yang lama bagi Bansar untuk menemukan apa yang dicarinya.
Berkat insting yang tajam, ia menemukan sebuah koloni yang mengerubungi seekor
monster besar, yang nampaknya merupakan pemimpin dari koloni itu. Bansar
melihat ada 3 buah gem yang terpasang
di sarung tangan monster itu. Salah satunya gem
yang berbentuk seperti magatama.
“Maafkan
aku, kawan,” gumam Bansar sambil tertawa licik.
Bansar langsung menerjang kawanan monster itu, dan dengan
singkat dapat langsung berlawanan 1 lawan satu dengan musuh utamanya. Bansar
meng-cast salah satu spell air dan menyemburkannya dengan
deras. Ia memenangkan pertarungan itu dengan mudah. Ia pun mengambil 3 gem yang terjatuh ke atas tanah.
Setelah
mendapatkan gem yang diincarnya, ia
langsung menuju penempa untuk memasang gem
yang telah didapatnya.
“Pak,
saya sudah mendapatkan gem yang
sesuai untuk dipasang di tongkat ini,” ucap Bansar.
“Baiklah,
aku akan segera memasangnya. Apakah kau bisa menunggu?” kata penempa.
“Dengan
senang hati, Pak,” jawab Bansar.
Ternyata, waktu yang dibutuhkan tidak lama. Hanya sekitar
10 menit, gem itu sudah terpasang di
tongkat Bansar. Sekarang, tongkat Bansar mengeluarkan aura bewarna hijau muda.
“Berapa
yang harus saya bayarkan, Pak?”
“Murah. Hanya 3.000 zeni,” jawab penempa.
“Murah. Hanya 3.000 zeni,” jawab penempa.
Bansar mengecek sakunya. Ia ternyata tidak memiliki uang.
Bansar berpikir, apakah aku dapat
membayarnya dengan gem tadi? Ia mencoba menawar kepada penempa itu.
“Pak,
bisakah aku membayar jasa Bapak dengan sebuah gem?” tanya Bansar.
“Tentu
bisa, bahkan kamu pun bisa membayarnya dengan bawang merah,” jawab penempa.
“Kalau
begitu, ini buat Bapak,” kata Bansar sambil memberikan salah satu gem yang tersisa
di dalam sakunya.
Penempa tadi memperhatikan gem itu dengan seksama. Ia
tiba-tiba tersenyum, dan nampaknya sesaat lagi dia akan kegirangan.
“Aku
tidak memiliki kembalian yang cukup untuk gem
ini. Sebagai gantinya maukah kau membuat setelan untuk dirimu seorang, yang
mengambil job spiritualist ini?”
tawar penempa.
“Emm...
Baiklah. Saya juga sebenarnya membutuhkan baju perang yang baru. Memangnya
Bapak mau membuatkannya dimana? Apa bapak juga seorang penjahit?” tanya Bansar,
sambil menyetujui penawaran itu.
“Bukan
aku yang akan membuatkannya. Tapi, seorang istri yang berada dalam rumah ini,”
jawab sang penempa sambil menunjuk sebuah rumah dengan cerobong asap.
Bansar
memasuki rumah yang ditunjuk Bapak tadi. Beberapa saat setelah menunggu,
seorang Ibu yang sedikit berkumis muncul dari balik tabir. Bansar diminta untuk
memilih warna yang ingin dipilihnya, untuk membuat baju untuk job spiritualist. Ia memilih warna hijau
muda sebagai warna variannya (sekunder, kedua). Namun, ia tidak memilih warna
utama. Ia menyerahkan urusan desain dan warna dasar kepada sang penjahit (ibu).
Setelah
mendapat baju yang diinginkannya, Bansar segera menuju persinggahan
sementaranya di rumah kayu kecil, tempat pertama ia tiba di desa ini. Ternyata,
di dalam rumah itu sudah ada Wen yang menunggunya di rumah. Melihat Wen, ia
ingin memberikan satu gem yang
tersisa di dalam saku celananya untuk Wen.
“Darimana
saja kamu pergi?” kata Wen.
“Berjalan-jalan
sebentar, melihat kondisi di sekitar desa ini,” jawab Bansar sambil sedikit
tersenyum.
“Baju
yang bagus, apakah kau pergi ke penjahit?” tanya Wen.
“Ya,
kebetulan mereka menyediakan baju untuk spiritualist,”
jawab Bansar.
“Lalu,
apa yang ada di tongkatmu itu? Magatama?” tanya Wen lagi.
“Ya,
aku juga berpikir sama sepertimu tadinya. Oh, ya. Aku mau memberimu sebuah gem
yang aku temukan di rawa di sekitar desa ini,” kata Bansar, kemudian memberikan
sebuah gem yang ada di saku celananya
kepada Wen.
“Kau
mengagumkan! Ini adalah benda yang paling kucari sepanjang aku bernafas melalui
pipa kapiler ini!” ucap Wen, sangat senang.
Namun, kondisi yang aneh tiba-tiba
terjadi. Dari gem itu, muncul
hembusan angin yang menghisap kedua tubuh mereka. Perlahan mereka muncul di
sebuah ruang gelap, nampaknya are Crag
Mine yang sudah lama ditinggalkan oleh para penggunanya. Terdengar suara
tepuk tangan yang tidak kencang dari seseorang. Berbagai penjelasan kejadian
ekspedisi Ether ke Lereng Rohan terdengar di telinga Bansar. Ternyata, itu
adalah Aaron! Ia sudah terbukti sebagai dalang dari semua skenario kematian
teman-temannya dan kelicikan di kalangan Boorsae, karena dia sebenarnya
merupakan ras Kronoa!
“Bagus-bagus. Memang begini seharusnya,
mangsa yang mendatangi pemangsa! Atau korban yang mendatangi tersangka ya...?”
ucap Aaron.
“Ah, sudahlah. Yang penting sekarang
aku akan menghabisi kalian berdua! Untuk menghilangkan bukti kekejianku!” seru
Aaron.
Bansar sudah bersiap meng-cast spell yang akan dilancarkannya.
Tapi, spell itu gagal dilancarkan.
Bansar bingung. Tiba-tiba, ia tersungkur ke tanah, dan tidak sadarkan diri.
Tinggal Professor Wen yang berhadapan satu lawan satu dengan Aaron. Aaron
mengeluarkan panah berpedang, senjata yang baru kali ini samar-samar dilihat
oleh Bansar.
Pengelihatan Bansar membaik. Matanya
berkunang-kunang. Namun, lambat-laut ia terbangun dari tidurnya. Saat hampir
sepenuhnya sadar, ia melihat pisau seakan mau menancap ke pipi kiri Wen.
“Ternyata kau sudah mempelajari ini,
ya? Kelemahan vital Treums terletak di bagian bawah mata kiri. Bagian ini lebih
vital dibandingkan dengan jantung,” desah Wen.
“Itu sudah PASTI! Mana mungkin jenius
sepertiku tidak mengetahui hal sekecil itu. Hanya orang sampah yang tidak mau
menyerang kelemahan lawan yang dihadapinya,” kata Aaron.
Sedikit lagi pisau itu akan tertancap, ternyata perlahan
Wen lenyap, yang artinya ia telah diteleportasi seseorang. Ya, orang itu adalah
Bansar. Ia ingin jiwa Wen selamat dari penyergapan licik yang dilakukan oleh
Aaron.
“Mari,
selesaikan semua ini!!!” teriak Bansar.
Sepertinya, ini pertama kali Bansar menjadi temperamental
semenjak ia lahir. Mungkin, hal ini dikarenakan Bansar memiliki kesengsaraan
berlebih yang berasal dari Aaron.
Skill
advance dari keempat elemen: api, air, tanah, dan angin disajikan dalam
pertarungan satu lawan satu ini. Skill gelap dan cahaya pun muncul untuk
mendukung spell yang dilangsungkan
masing-masing pengguna. Ternyata, Aaron bukan seorang ranger biasa. Ia bisa menggunakan spell layaknya para spiritualist.
Tiba-tiba
pertarungan itu berhenti. Kedua pihak tidak bisa bergerak. Apa yang terjadi?
“Cukup,
semua hal ini dapat menjelaskan kebenaran yang sesungguhnya,” ujar Barea yang
ternyata muncul untuk mengunci mereka berdua.
Lantas Aaron langsung diringkus satuan keamanan. Kemudian
Barea berkata,
”Maafkan aku, Nak. Aku tidak mendengar
perkataanmu waktu itu. Sebagai gantinya, maukah kau menghadiri penghargaan
kepahlawanan yang akan disematkan untukmu seorang hari esok?”
Bansar rupanya tidak menghiraukan ucapan sang Barea. Ia
langsung pergi dengan skill teleportasinya
menuju rumah kecil di desa yang damai. Ia disambut oleh Wen yang masih
meneteskan darah di bagian bahunya.
“Apa
yang terjadi? Mengapa begitu singkat?” tanya Wen, heran.
“Itu
tadi Barea Doffalce. Ia mengunci kami berdua, kemudian menawarkanku penghargaan
kepahlawanan yang tidak penting,”
“Mengapa
kau tidak mau mengambilnya dan pergi ke sini?” tanya Wen, bingung akan sikap
kawan Doffalcenya.
“Nyawa
dibalas dengan nyawa. Sedangkan ketulusan untuk menolong orang lain, adalah hal
yang sulit tergantikan,” jelas Bansar.
“Itu
bagus, Bung. Dari mana kau mendapatkan peribahasa itu?” ujar Wen.
“Dari
seorang pemuda bijaksana sekitar 10 detik lalu,” jawab Bansar.
Wen tertawa. Ia membalut bahunya dengan perban dan
mengeringkannya. Kemudian, Wen berkata,
“Bagaimana
kalau sekarang kita pergi ke Kedai Uyan, disana ada teh madu yang memikat
perasaan.”
“Baiklah,
sekarang aku yang traktir,” ucap Bansar sambil tertawa dan menelungkupkan
tangannya.
Kedua
teman yang berbeda ras itu pun pergi, meninggalkan tempat persinggahan mereka
menuju tempat untuk bersantai, melupakan kepenatan yang barusan mereka rasakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar