Selasa, 08 Maret 2016

Cerpen_Yang Tersisa dari Rullies

Yang Tersisa dari Rullies
oleh Fathoni Nur Alami

                Seorang anak berambut coklat muda bermain petak umpet dengan teman-teman sebayanya di Taman Kritan, Desa Rulies. Taman ini memiliki pemandangan yang cukup indah, salah satu yang terindah di dunia Arcana. Selain ada anak-anak yang bermain petak umpet, nampak seorang gadis muda yang memetik beberapa rangkai bunga, dan dua orang lelaki paruh baya terlihat serius bermain catur. Anak berambut coklat muda tadi hendak bersembunyi di balik semak-semak.


                “Bansar, jangan sembunyi di sini!” ujar temannya.Anak ini pun kebingungan mencari tempat persembunyian.
Karena waktu untuk bersembunyi sudah habis, pemain yang bertugas mencari pemain lain mulai bergerak. Sontak, pemain pertama yang ditemukan adalah Bansar, anak berambut coklat muda yang kebingungan.
                Bansar pun menjadi sedikit kesal. Ini kan cuma permainan, pikir Bansar demi menghibur dirinya. Sesampainya di bawah pohon rindang, tempat pos penjagaan petak umpet berada, ia mengambil ranting pohon yang ada di dekat pohon itu. Sambil menunggu teman lainnya menyelesaikan permainan ini, anak berusia 8 tahun itu menuliskan namanya di atas tanah dengan menggunakan ranting, Ia meulis menggunakan aksara Granul, salah satu aksara dari lima tata kebahasaan ras Doffalce. Tertulislah 4 huruf aksara Granul, yang bermakna Bansar.
                Akhirnya, teman-teman Bansar pun berkumpul di dekat pohon rindang, yang menjadi pos penjagaan petak umpet, untuk menyudahi permainan.
                “Hari sudah petang, ya,” ujar teman Bansar yang bertubuh jangkung.
“Iya, lebih baik sekarang kita semua pulang ke rumah,” kata anak yang berambut ikal.
“Baiklah, aku pulang duluan ya teman-teman,” kata Bansar sembari melambaikan tangannya ke teman-teman, yang menandakan dia pamit pulang.
                Bansar tiba di rumah setelah berjalan selama kurang lebih lima menit. Sesampainya di rumah, ia melihat ibunya memasak sup agloren (berisi buncis, kembang kol, seledri, dan daging glaren dengan kaldu sapi).
                “Bansar, jangan lupa untuk segera mandi!” ujar ibu Bansar, Ronyn.
                “Iya, Bu!” jawab Bansar.
Ia meletakkan gelang atrima pemberian ayahnya di sebelah tempat tidurnya dan hendak mandi. Seusai mandi, ia melihat peta yang terbuka di atas meja kayu di teras rumah. Kemudian, iamembacanya. Ternyata desa ini sangat jauh ya, dari pusat kota, pikir Bansar. Beberapa saat kemudian, seseorang mengetuk pintu rumah dan langsung masuk ke dalam, tanpa dipersilahkan.
                “Ayah pulang…” ujar orang tersebut.
                “Selamat datang ayah…” sambut Ronyn.
Bansar pun menganggukkan kepalanya sembari menatap sang Ayah, Cole.
                “Bansar sudah tertarik dengan peta, ya?” tanya Cole.
“Emm..sekedar tertarik melihat, Yah,” jawab Bansar.
“Mana gelang atrima-mu?” Cole heran melihat pergelangan tangan Bansar.
“Oh… iya. Tadi lupa dipakai lagi.”
Sontak, Bansar segera menuju kamarnya. Cole pun melepas sepatu bot yang dipakainya untuk bekerja. Cole bekerja sebagai anggota konservasi satwa langka, yang bertugas memantau satwa-satwa tersebut agar tidak menjadi hewan-hewan buruan ras lain. Di samping itu, Cole menjadi ranger, yang menjadi job utama yang dipilihnya.
                “Makan malam siap…” ujar Ronyn saat Bansar keluar dari kamarnya.
                “ Mari berdoa sebelum makan malam ini kita santap bersama,” kata Cole.
                “Amin,” sambung Bansar beberapa saat kemudian, lalu langsung melahap hidangan yang tersaji.
Di tengah-tengah waktu makan malam, Bansar bertanya,
                “Yah, mengapa tempat ini dijadikan pemukiman?Kan jauh dari kota-kota di Doffalce.Apalagi pusat kota.”
                “Begini kawasan ini memilki banyak keistimewaan.Contohnya, hewan langka yang ada di Rulies.Menurut sejarah, hewan ini menjadi satu-satunya satwa yang masih hidup dari generasi satwa 1.630 tahun lalu,” jawab Cole.
                “Disini juga terdapat bahan material langka bernama Batrunix, kristal yang dapat meningkatkan daya tahan tombak dan kapak hamper mendekati abadi. Walaupun tingkat keberhasilan penggunaannya amat sangat kecil,” lanjut Cole.
                “Tapi, pasti tempat ini memilki kekurangan, kan?”tanya Bansar yang semakin tertarik dengan beragam informasi yang didapatnya.
                “Kalau itu, biar ibumu yang menjelaskan,” kata Cole sambil sedikit tertawa.
                “Ya, memang daerah ini memilki kekurangan yang perlu dibenahi.Desa Rulies menjadi kawasan di Doffalce yang pengamanannya sangat kurang.Ini pun bukan hal yang mengejutkan, karena jumlah penduduk di Doffalce sangat sedikit. Hanya sekitar 1.000 orang,” jelas Ronyn.
                “Pejabat pemerintah pun disibukkan, karena perlu mengurus banyak kasus persidangan akibat menghilangnya banyak orang dari ras Doffalce yang potensial, berbakat,” lanjut Ronyn.
                “Kok banyak yang hilang, Bu?” tanya Bansar.
                “Ibu dengar-dengar sih, kasus orang-orang yang hilang terjadi pada kalangan yang menelusuri wilayah luar dan meneliti sumber daya alam,” jawab Ronyn sambil mengambil sesendok sup.
Bansar pun telah menghabiskan makanannya.Cole dan Ronyn pun nampaknya telah merapikan meja makan usai makan malam.
                Beberapa saat kemudian, terdengar ledakan yang berbunyi keras.
“Apa itu?” kata Ronyn, kaget.
“Oh, tidak.Itu Treums!” ucap Cole.
Treums adalah salah satu ras selain Doffalce, yang berupa kumpulan robot berwujud manusia (seperti cyborg). Mereka terkenal selalu membantai dan menyerang secara membabi-buta pihak-pihak yang memiliki sumber daya (alam maupun manusia) yang mereka butuhkan, tanpa belas kasih sama sekali. Sebenarnya mereka memiliki hati/perasaan sama dengan ras lainnya, namun sebagian besar hati Treums sudah mati.
                “Bansar! Cepat sembunyi di ruang bawah tanah!” tegas Cole.
                “T...Tapi.”
                “Sudah, jangan membantah!” jelas Cole.
Bansar pun melihat ibunya mengeluarkan tongkat Ederain dan memakai baju yang dapat meningkatkan kemampuan spell skill. Bansar segera menuju ruang bawah tanah dengan tergesa-gesa. Cole pun menutup menutup pintu ruang bawah tanah itu, yang berada di bawah kursi tua. Di dalam ruang tersebut, Bansar hanya bisa menutup mata. Ia ketakutan, namun separuh dari rasa takutnya berasal dari rasa panik. Ia hanya bisa berharap ayah dan ibunya selamat dalam penyerangan yang dilakukan Treums itu. Ia pun menunggu di balik kegelapan yang menyelimutinya.
                Cukup lama Bansar menunggu di dalam. Tidak terdengar suara apa pun, kecuali gemuruh yang berkepanjangan. Namun, setelah penantian panjang, Bansar mendengar suara gumaman yang berdecit, layaknya suara cyborg.
                “Aku sepertinya mencium bau Doffalce.”
                “Kau benar kawan, nampaknya masih ada yang tersisa di sekitar sini. Ahoy…” jawab makhluk Treums lainnya.
Derapan kaki terdengar semakin dekat, tangan Bansar semakin gemetar. Bruakk!! Pintu ruang bawah tanah dihujam dengan kapak platina.
                “Ahoy… Ternyata bocah ingusan,” seru makhluk Treums, dengan nada bajak laut.
Bansar diangkat dengan mudahnya, kemudian digiring bersama empat tawanan Doffalce lainnya. Sekilas, ia melihat ayah dan ibunya terkapar penuh darah. Ayahnya masih memegang panah Eaglehorn, yang telah ditempa hingga tingkat penambahan 4 dari 7.Sedangkan di dekat ibunya, tongkat Ederain tergeletak di sampingnya. Bansar tak kuasa menahan tangis. Ia hanya bisa pasrah terhadap keadaan, berharap ia memiliki kesempatan kedua untuk hidup.
                Kawanan Treums berhenti di tempat yang terlalu jauh dari Desa Rulies. Tempat itu terlihat seperti pos sementara, nampaknya pembantaian itu memang tidak dilangsungkan hingga pusat kota ras Doffalce. Bansar ditahan di ruang yang dihalangi jeruji besi, seperti ruang di dalam penjara.Ia melihat keadaan di sekitarnya. Nampak hanya satu alchemist (kimiawan, namun di sini berperan sebagai peneliti.Job pengembangan specialist) Treums sedang memindai anatomi tubuh seorang Doffalce.
                Bansar masih tidak bisa berhenti meneteskan air matanya. Terlihat ia semakin depresi. Tiba-tiba, alchemist Treums, yang tadi melakukan pemindaian, menghampirinya.
                “Uhuk** (berdehem sesaat).Hei, nak.Apakah kau hafal jalan menuju rumahmu dari sini?”
Bansar tidak ingin menanggapi pertanyaan sang alchemist dengan serius. Ia pun mengusap sedikit air mata yang membasahi pipinya.
                “Memangnya Treums bisa batuk?”gumam Bansar.
                “Sudahlah, jangan bertanya hal yang tidak penting. Jawab saja pertanyaanku! Percayalah,” bujuk sang alchemist.
                “Hafal sih, soalnya tempat ini tidak terlalu jauh dari sini,” jawab Bansar.
                “Baiklah, apa kau mau bebas?” tanya sang alchemist.
Itu adalah pertanyaan yang aneh, pikir Bansar
                “Bagaimana caranya? Kabur?” tanya Bansar sambil memicingkan matanya.
                “Ya.Dari bentuk tubuhmu, sepertinya larimu cepat,” ujar alchemist.
                “Tapi, kalau saat kabur ketahuan, pasti aku akan tertangkap lagi,” jelas Bansar.
                “Iya, ras asing yang keluar dari tempat ini pasti akan diketahui oleh pasukan garda Treums,” ujar alchemist.
                “Lalu bagaimana?” keluh Bansar.
                “Biar alchemist ini yang menahan mereka,” ujar sang alchemist, mengacungkan jempolnya.
                “Itu kan tidak mungkin.Kau pasti hanya bersandiwara,” jawab Bansar.
                “Cepatlah, waktumu hanya dua menit lagi untuk mulai bergerak. Percayalah,” kata sang alchemist.
Akhirnya, Bansar mempercayainya.
                “Bawalah keping logam ini. Dua koin ini akan mengeluarkan item yang sesuai dengan job uang kau ambil nanti,” ujar sang alchemist  sambil memberi dua keping logam.
Bansar pun mengangguk.Ia pun bergegas untuk melarikan diri lewat pintu belakang. Sambil menoleh ke belakang, ia melihat alchemist tadi mengeluarkan gada. Dari tangan kanannya, muncul tameng yang cukup besar menyelimuti tangannya.
                Bansar berlari sekuat tenaga menyusuri kawasan hutan yang lebat. Dalam hatinya, ia mengucapkan rasa terima kasih kepada alchemist Treums itu. Ia memutuskan untuk melepas sandalnya, karena sandal yang ia pakai sudah hampir putus. Di tengah perjalanan, Bansar menjumpai beberapa satwa langka yang sepertinya bersikap jinak.Ia teringat akan tugas rutin ayahnya, bekerja sebagai penjaga satwa langka.
                Ladang sawah di sekitar Menara Hoven, tempat penanda wilayah Desa Rulies, sudah terlihat.Ia pun memperlambat langkahnya dan berjalan menapaki rerumputan yang berembun. Padahal masih malam, tapi sudah berembun, pikir Bansar.Hari sudah malam, tapi Desa Rulies terlihat terang karena pancaran cahaya Light Swamp.
                Bansar menghampiri seorang anggota tim evakuasi.
                “Pak, apakah Bapak melihat sebuah Eaglehorn? Benda itu nampaknya berupa hasil penempaan tingkat 4,” tanya Bansar.
                “Ah, iya. Bapak menemukannya beberapa jam lalu. Memangnya ini punya siapa, Nak?” ujar petugas evakuasi.
                “Ini punya ayah saya, Pak. Kalau tidak salah, ada sesuatu di balik gagang panah ini,” jelas Bansar sambil menerima panah itu.
Beberapa saat kemudian, seorang lelaki yang berumur sekitar 50 tahun menghampiri Bansar.Ternyata itu adalah Barea (ketua ras) Doffalce.
                “Nak, maafkan aku yang tidak bisa mengkoordinir para Boorsae (pihak kementerian) dengan baik, hingga Rulies pun menjadi korban,” kata Barea.
                “Tidak apa.Ibuku pernah berpesan bahwa saat aku tertimpa masalah yang cukup besar, aku tidak boleh frustrasi dan menyimpan rasa dendam,” jawab Bansar.
                “Terima kasih, wahai pemuda yang berhati baja. Omong-omong, apakah dirimu satu-satunya yang selamat dari peristiwa itu?” tanya Barea.
                “Aku tidak tahu secara pasti .Tapi, nampaknya seperti itu,” kata Bansar.
                “Pak, kapan jasad ayah dan ibuku akan dikuburkan?” tanya Bansar kepada anggota tim evakuasi.
                “Besok pagi.Tepatnya pukul 7,” jelas petugas.Malam itu, Bansar pun langsung beristirahat di pos penjagaan, setelah berpamitan dengan Barea.
                Esok paginya, Bansar ikut ke acara pemakaman seluruh korban pembantaian Treums.Setelah berdoa dan menancapkan batu tanda pemakaman, Bansar pun mengecek selembar kertas kecil yang ada di dalam gagang Eaglehorn. Setelah membacanya, ia tersenyum dan menatap ke langit, yakin akan memenuhi semua amanat yang tercantum di kertas itu.
                10 tahun kemudian, Bansar telah menjadi seorang spiritualist yang menguasai elemen air, angina, dan cahaya.Skill yang belum dikuasainya berupa elemen air, tanah, dan gelap.Ia memilih job tersebut saat berusia 12 tahun, 2 tahun lebih cepat sebelum penutupan ekskuisi pemilihan job utama. Sedangkan untuk side job, dia memilih untuk menjadi tamer.Job tersebut ia kembangkan menjadi insect tamer.  Ia memiliki seekor mantis (seperti belalang), yang dapat ditunggangi saat menggunakan skill grow (memperbesar ukuran) dan menyimpannya agar aman saat menggunakan skill shrink (memperkecil ukuran).
                Nama dari mantis tersebut adalah Fhyllum. Bansar memberi nama mantis itu, karena mantis itu menuliskan namanya di batang pohon. Terdengar seperti salah satu tingkat takson, Phyllum.Skill Burst membuatnya menjadi mantis yang berbeda dari mantis lainnya, karena skill ini dapat meningkatkan kecepatan langkah 4x lebih cepat dari kecepatan rata-rata.
                Selama 10 tahun, Bansar menempa dirinya secara rutin dan berkala. Saat siang ia melakukan latihan dasar berperang, berkuda, bahkan mempraktekkan kemampuan spell-nya. Saat malam hari, ia memfokuskan dirinya untuk mempelajari sejarah keempat ras (Kronoa, Doffalce, Treums, dan Acylyt), makalah mengenai eksplorasi di penjuru alam, teknik spell, dan lainnya. Tidak semua waktu ia gunakan untuk hal-hal ini. Biasanya, setiap hari Sabtu, ia menyalurkan hobinya, yaitu berkebun dan bermain Tactoe (permainan dengan jenis yang sama denga catur dan sogi). Kini, terkadang ia merawat Fhyllum di samping kebunnya.
                5 tahun kemudian, Bansar sudah menguasai seluruh spell elemen, cahaya, dan gelap yang ia pelajari. Spealisasinya adalah elemen angin dan cahaya. Selain handal berperan men-support rekan-rekannya dan bisa beralih menjadi “penjinak” lawannya, ia memiliki gerakan yang luwes dan fleksibel. Ia pun menguasai dasar-dasar pertempuran selain sebagai spiritualist. Esok hari, ia akan menuju Ether untuk ekspedisi menuju Lereng Rohan, yang konon menjadi tempat terletaknya catatan penemuan aktivasi Orb dari pendahulu Doffalce.
                Sambil bersiap-siap, ia ingin berbicara denga Clement, sahabat karibnya. Clement adalah seorang trapper, yang dapat berkolaborasi dengan apik bersama Bansar.Ia akan menemani Bansar dengan keempat orang lainnya, dalam tugas yang diberikan oleh pihak Boorsae, sebuah ekspedisi. Bansar pun menghampiri teman karibnya, yang sedang menaruh bibit ranjau modifikasinya ke dalam kantong celana.
                “Apakah kau sudah siap untuk hari esok?” Tanya Bansar.
                “Belum sepenuhnya.Tapi, aku akan mencoba melakukan ekspedisi itu sebaik mungkin,” jawab Clement.
                “Ah… sebelumnya, aku ingin memberi sesuatu untukmu.”
Bansar mengeluarkan sebongkah batu dengan corak merah, seperti redstone.
                “Ini untukmu,” ujar Bansar memberikan benda itu kepada Clement.
                “Apa ini?” tanya Clement.
                “Ini yang dimaksud dengan batu baltix,” jawab Bansar.
                Clement pun kaget, “Apa!?? Dari mana kau mendapatkan benda ini?Ini kan material langka yang bisa langsung dipakai ke dalam tubuh.”
                “Aku menemukannya di Lembah Arai.Di dekat gerombolan Aquos yang terkapar.Nampaknya, mereka dipenggal oleh orang-orang Kronoa,” ucap Bansar.
                “Mengapa kau memberikan ini padaku?Benda ini sangatlah langka. Batu Baltix dapat menyembuhkan luka yang diakibatkan serangan yang dapat mematikan penggunanya,” tanya Clement, heran akan pemberian sahabatnya.
                “Habisnya, aku tidak tahu harus memberikannya kepada siapa.Lagipula, hanya kau yang dapat memutuskan dengan tepat harus diberikan siapa,” jelas Bansar.
Clement mengusapkan batu baltix tersebut untuk mengaktifkan efeknya, tanpa sepengatuhuan Bansar.Ia kemudian menepuk pundak Bansar untuk mengaktifkan efek batu baltix. Pastinya tanpa sepengatuhan Bansar.
                “Baiklah aku menerima batu ini dengan senang hati.Apa kau yakin untuk memberikannya?” ujar Clement, berpura-pura belum menggunakannya.
“Pastinya tidak, karena kebingungan,” jawab Bansar dengan singkat.
Keesokan harinya, ekspedisi dimulai lewat keberangkatan dari Terminal Chihua, Doffalce menuju salah satu terminal di Ether.Regu yang telah disiapkan dipimpin oleh seorang warrior veteran, Heinze, yang berumur 37 tahun. Persiapan pun dilakukan dan mereka memasuki lokomotif terbang yang akan berangkat menuju Ether.
“Saudara sekalian, kita berharap agar ekspedisi ini berjalan dengan lancer. Utamakan menggunakan formasi C dalam perjalanan! Transporter harus memasang cranium (teleporter) dalam radius 2 km! Mengerti?” tegas Heinze.
“Siap, Pak!” jawab kelima anggota dengan kompak, termasuk Bansar.
Sesampainya di Ether, seluruh anggota regu langsung memulai ekspedisi. Tim menggunakan formasi C selama perjalanan.Namun, saat perjalanan berlangsung di Pegunungan Loid, bongkahan salju perlahan jatuh ke kawasan di dekat rombongan.
“Bersiap saudaraku!” pimpin Heinze.
“Tapi, tidak ada tanda-tanda runtuhnya bagian gunung,Pak!” seru seorang navigator.
Clement heran.Clement juga merasa jatuhnya bongkahan salju tidak terjadi secara natural/alamiah.
                “Ada yang aneh,” gumam Clement.
Ia menebar bibit-bibit ranjau di sekitar pijakan timnya.
                Bansar sudah bisa memulai untuk memakai semua spell yang dikuasainya. Ledakan terjadi di tempat yang tidak jauh dari Heinze.
                “Kronoa!!” teriak seorang ranger yang mulai melesakkan anak panah.
Bansar harus menahan serangan yang dilancarkan orang-orang Kronoa, juga harus mengeluarkan support skill untuk menopang lima Doffalce lainnya. Tiba-tiba, hujaman sinar yang seperti laser mengenai Heinze.Bansar mencoba menyembuhkan luka yang ada.
                “Sudah, lupakan bapak tua ini, Nak.Pimpin teman-temanmu untuk mundur!” perintah Heinze, sebagai kata-kata terakhirnya.
                Tidak ada waktu untuk bersedih.Itulah yang dipikirkan oleh Bansar dalam benaknya.
                “Clement, mundur!Ini perintah dari Ketua Heinze!” ungkap Bansar.
                “Tidak bisa!Bagaimana denganmu?” kata Clement.
                “Itu mudah!Yang penting kau bisa kabur lebih dahulu,” balas Bansar.
Clement tidak menghiraukan temannya.Ia hanya berpikir untuk membantu Bansar agar dapat melancarkan serangan balik.
                Bansar tidak mengetahui apa yang dipikirkan oleh sahabatnya. Saat ini, ia hanya dapat melindungi Clement dengan arcane shield, perlindungan mutakhir dengan pengorbanan mana (tenaga dalam). Hujaman spell api membuat suasana tidak mendukung. Perlahan, Bansar mulai melemah.Ia terlalu fokus untuk membuat pertahanan pada Clement. Satu anak panah menancap di bahu kirinya.Ia menyadari sistem sarafnya terganggu, nampaknya anak panah tersebut beracun. Beberapa saat kemudian, ia pingsan. Sebelumnya, ia tidak memiliki cukup mana untuk melancarkan skill penyembuh, untuk menetralisir racun yang mengalir dalam tubuhnya. Kejadian itu merupakan terakhir kalinya ia melihat Clement. Saat itu, Clement menghampirinya yang sudah lemah. Setelah itu, ia tidak ingat hal-hal yang terjadi setelahnya.
                Sekitar 3 hari kemudian, Bansar siuman.Ia terbangun dengan balutan kassa di dahinya. Tongkatnya masih ada di sebuah meja dekat lemari.Tapi, “seragam perang”nya tidak ada. Mungkin disimpan oleh seseorang, pikir Bansar.Gelang Atrima masih ada di pergelangan tangannya.Di saku celananya pun masih ada tiga barang penting, Fhyllum dan dua keeping logam pemberian alchemist saatkejadian 15 tahun lalu.Bansar belum membukanya (mengaktifkan). Fhyllum sepertinya sehat-sehat saja, dalam kondisi shrink.
                “Bansar bersiaplah menghadapi siding kesaksian jam satu siang nanti. Jajaran petinggi sepertinya akan membahas beberapa hal terkait dengan ekspedisi lalu,” jelas seorang perawat pria, sambil membawakan segelas air Ethan, racikan alchemist muda Doffalce.
Bansar mengangguk.Ia berharap kesaksiannya nanti dapat menjadi bahan evaluasi pemerintah, sekaligus memberikan beberapa saran terhadap regu ekspedisi dan eksplorasi lainnya yang akan menuju Ether.
                Matahari sudah terlihat di puncak langit.Waktu persidangan sepertinya akan segera dimulai. Bansar pun sudah memasuki ruang persidangan.Nampak Barea dan kesatuan Boorsae menghadiri persidangan ini. Hakim memulai persidangan dengan ketukan palu, yang menandakan persidangan akan segera diselenggarakan.
                “Baik..akan dimulai persidangan mengenai terbunuhnya lima dari enam anggota tim ekspedisi di kawasan Ether. Tuntutan hasil diskusi para Boorsae, pembuka persidangan ini, akan disampaikan oleh Misc. Aaron Eshak, selaku menteri penelitian dan eksplorasi daerah. Kepada Bapak Aaron dipersilahkan.”
                “Sebagai pembuka, saya akan singkat saja.Kami, perangkat pemerintah ras Doffalce, sepakat untuk memberikan kepada Saudara Bansar mengkonfirmasi beberapa hal yang diketahuinya.Menurut pandangan kami, ada indikasi Bansar yang melakukannya, didukung dengan peristiwa 15 tahun lalu.Walaupun Bansar dikenal sebagai warga yang loyal dan bukan pendendam, tuntutan belum bisa terhindarkan.Sekian pembukaan dari kami, Boorsae,” kata Aaron.
                “Selanjutnya, kesempatan pernyataan mengenai kesaksian diberikan kepada Saudara Bansar.Kepadanya, dipersilahkan,” ujar hakim.
                “Dalam kesempatan ini, sepertinya saya akan memulai kesaksian dengan menceritakan kejadian yang saya ingat.Kami dipimpin oleh Pak Heinze, dengan jumlah anggota regu termasuk ketua sebanyak 6 orang.Saat di dalam lokomotif, kami melakukan briefing singkat.Uhuk… *berdehem,” Bansar menghentikan pernyataannya sesaat.
                “Sesampai di Ether, kami langsung memulai perjalanan dengan formasi C, hendak menuju Lereng Rohan. Transporter selalu memasang cranium dalam radius 2 km. Namun, sesampainya kami di kawasan Pegunungan Loid, bongkahan salju perlahan turun menuju tempat kami berpijak. Seorang navigator dari rombongan menyatakan bahwa runtuhnya bongkahan tidak terjadi secara alamiah. Kemudian…”
                “Itu Kronoa! Kami diserang lebih dari 20 Kronoa dengan persenjataan lengkap. Saya berusaha melindungi rekan-rekan, dan…”
                “Interupsi!Hasil observasi kami menyatakan bahwa tidak ada tanda-tanda dari aktivitas ras Kronoa di sekitar kawasan Loid,” tegas Aaron.Nampak sebagian besar Boorsae menganggukkan kepalanya, pertanda setuju.
Hakim berujar, “Tahan! Biarkan Saudara Bansar menyelesaikan pernyataannya! Lanjutkan, Nak!”
“Baik.Pak Heinze kemudian tergeletak.Ada bolongan di dadanya.Nampaknya sinar laser telah menghujamnya.Ia menyuruh kami untuk mundur. Tapi, satu-satunya teman saya yang bertahan bersikeras untuk bertahan dan melakukan serangan balik.Tiba-tiba, saya tersungkur, karena panah beracun sudah tertancap di tubuh saya.Saya tidak bisa menetralisirnya, karena mana saya habis untuk menyalakan arcane shield.”
“Baiklah, pernyataan Saudara Bansar sudah tersampaikan.Kesempatan berikutnya, akan disampaikan oleh Kalun, utusan Boorsae,” lanjut hakim.
“Disini saya akan menyampaikan beberapa pertanyaan yang telah diajukan oleh client saya.Saya pun tidak ikut campur tangan dalam diskusi yang ada, tapi sepertinya, berkas yang ada di meja saya saat ini sudah valid.”
“Pertanyaan pertama. Siapakah teman Anda yang bertahan sampai akhir hingga Anda tidak sadarkan diri?” tanya Kalun.
“Clement, dia sahabat saya.Dia seorang trapper,” jawab Bansar.
“Menurut keterangan dari Boorsae dan komandan unit 13, Clement bukanlah orang yang gegabah. Ia menaati setiap perintah dari atasan, untuk mengurangi resiko kegagalan,” jelas Kalun.
“Saya juga tidak tahu apa yang dipikirkannya saat itu, Pak,” keluh Bansar.
“Cukup, kita lanjutkan ke pertanyaan kedua.Pernyataan Anda mengenai “penyerangan” yang dilancarkan ras Kronoa tidak dapat langsung dibenarkan.Dari hasil olah tempat kejadian perkara, senjata yang bukan milik regu dari Doffalce ternyata juga senjata buatan ras Doffalce.Senjata-senjata tersebut tidak diperdagangkan ke luar kawasan Doffalce. Bagaimana dengan kondisi itu?” tanya Kalun.
“Saya akan balik bertanya.Bagaimana dengan anak panah yang tertancap di tubuh saya?” kata Bansar.
“Bisa saja Anda sendiri yang menancapkannya untuk menghilangkan bukti.Hakim, sepertinya kedua pertanyaan ini sudah cukup untuk membuktikan bahwa Saudara Bansar tidak dapat menjelaskan kejadian yang ada,” ungkap Kalun.
Bansar kebingungan.Ia sudah mengatakan semua hal yang diketahui olehnya. Ia lalu berkata,
“Pak hakim dan Barea, tidak bisakah kalian menolongku?”
“Maaf, Bansar. Kamu itu dikenal sebagai Doffalce potensial yang memahami semua kemampuan dasar berperang.Ini pun kesimpulan yang dapat kami diskusikan, yaitu berupa tuduhan.Saya pun telah memikirkannya dengan akal sehat. Kejadian 15 tahun lalu juga menjadi faktor pendukung kamu untuk melakukan pelampiasan kepada tim Pak Heinze,” ungkap Barea.
“Dengan begini, penetapan hasil keputusan telah dipastikan.Saudara Bansar dinyatakan bersalah!” hakim mengetukkan palunya.
Bansar berpikir sejenak.Ia hendak meng-cast salah satu spell cahaya, yang dapat digunakan teleportasi. Beberapa saat kemudian, Bansar seketika lenyap.Bansar berpindah ke reruntuhan Desa Rulies. Ia tidak sempat mengambil tongkat spellnya., karena menurutnya hal itu akan menghilangkan kesempatannya untuk “melepaskan” diri. “Grow!” seru Bansar, sesaat setelah ia mengeluarkan Fhyllum dari saku celananya. Ia kemudian menaiki Fhyllum dan bergegas menjauhi teritori Doffalce.
Tempat yang ditujunya adalah tempat yang belum jelas keberadaannya. Untuk sampai ke sana, ia harus melalui Gurun Noycan, terkenal dengan luasnya hamparan pasir di daerah tersebut. Lalu melewati Hutan Liayr, yang dikenal dengan beragam beast agresif (menyerang dan memburu ras yang melewati kawasan itu, apa yang dilihatnya). Dan terakhir, melewati Gua Haltair, terlihat tidak berbahaya, namun udara di sekitar kawasan tersebut mengandung senyawa kimia beracun.Bansar mengetahui itu semua dari salah satu buku kuno yang ada di perpustakaan pusat.Nampaknya, buku itu tidak pernah dibaca pada zaman ini, dan sepertinya bukan merupakan buku yang dimiliki (disediakan) pihak perpustakaan.
Menurut keterangan pada buku itu, keempat ras di dunia Arcana, hidup berdampingan dan suasananya damai, tidak bermusuhan di sana. Bahkan ada seorang pria Acylyt menikah dengan seorang wanita Kronoa.Sehingga, gen yang dimiliki anak mereka merupakan campuran genotype dan fenotipe orangtua mereka.
Setelah hampir sampai di Gurun Noycan, Bansar memberhentikan Fhyllum sejenak.
“Omong-omong, aku kan belum membuka (mengaktifkan) koin dari sang alchemist,” gumam Bansar.
Bansar turun dari punggung Fhyllum, dan mengeluarkan dua keeping logam dari saku celananya.
                “Semoga akan keluar benda yang berguna,” ujar Bansar.
Bansar hendak mengetukkan dua koin logam itu ke tanah, tanda ia ingin membukanya. Koin pertama yang diketuk mulai lenyap.
                Ada seberkas cahaya yang menggantikannya, muncullah sebuah tongkat spell yang memiliki ujung gagang seperti kerucut.Lebih tepatnya spiral yang berputar-putar, sehingga terlihat membentuk kerucut.
                “Ini nampaknya seperti Rod of Athos, tapi kalau demikian, ini kan bukan untuk spiritualist,” kata Bansar.
Ia menguji tongkat itu untuk segera mengetahui kekuatan yang dihasilkan. Ia mencoba untuk mengeluarkan spell api. Lumayan untuk penerangan petang ini, pikir Bansar.Jeda beberapa lama, untuk memberikan waktu kepada Bansar meng-cast spellnya.
                “Lumayan, sepertinya hanya secuil mana yang dibutuhkan.Bagus juga,” Bansar tersenyum melihat tongkat barunya.
Bansar tidak menyadari, sebenarnya tongkat yang dimilikinya memiliki kekuatan yang setara dengan tongkat enhance (penempaan) tingkat 5 (dari 7). Memang, kekurangan yang dimiliki tongkat ini adalah tidak bisa ditempa (enhance).
                Koin kedua diketuk beberapa saat setelah itu.Kembali, keluarlah seberkas cahaya.Muncul 10 butir “bahan konsumsi” di dalam suatu wadah.Di wadahnya tertulis “Suplemen, cadangan pangan untuk makhluk Arcana”.Bansar menganggukkan kepalanya kembali.Ia ingin memberi salah satu suplemen itu kepada Fhyllum.
                “Sepertinya ini akan lebih berkhasiat jika ditambah cairan Aloe Aver,” gumam Bansar.
Ia meneteskan cairan dari tumbuhan Aloevarium sp. ke satu suplemen, dan menyuapkannya ke dalam rongga mulut Fhyllum. Nampaknya, Bansar benar.Fhyllum terlihat telah diberi panganan yang cukup.
                “Apakah ini berkhasiat jika dikonsumsi Doffalce?” ujar Bansar, sambil mengernyitkan keningnya.
                Ia mencobanya, mengunyah beberapa kali. Rasanya hambar.Suplemen itu pun ditelannya.
                “Cukup mengenyangkan,” ujar Bansar.
Ia memutuskan untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan menyusuri Gurun Noycan.
                “Shrink!” seru Bansar, kemudian menyimpan Fhyllum ke dalam saku celananya.
Ia bersyukur benda yang muncul dari koin pemberian sang alchemist sangat bermanfaat di saat kondisi Bansar saat ini, yang mengkhawatirkan.
                Beberapa menit sebelum terbitnya matahari (dalam Bahasa Inggris disebut dawn), Bansar sudah bangun dari tidurnya.
                “Grow!” seru Bansar, yang hendak menaiki Fhyllum nanti.
Ia memakan suplemen dan memberikan suplemen lainnya ke Fhyllum. Sekarang, jumlah suplemen yang tersisa ada enam butir.Ia mulai bergerak bersama Fhyllum, mulai menapaki Gurun Noycan. Di sana, nampak ogre dan golem yang tiba-tiba maju menuju Bansar. Ia bisa menahan mereka, dengan skill api dan angin yang dimilikinya. Sesekali, Bansar menggabungkan kedua skill itu, yang salah satunya membentuk pusaran api.
                Sekitar 30 menit menyusuri, Bansar sudah sampai di penghujung Gurun Noycan bersama Fhyllum. Berkat skill Burst dari Fhyllum, mereka bisa sampai di sana dengan cepat. Keringat membasahi kening Bansar, karena ia perlu meng-cast skill elemen api dan angin yang dikuasainya berulang kali. Ia harus melanjutkan perjalanan bersama dengan Fhyllum. Luasnya hamparan Gurun Noycan.Bansar sampai harus mengeluarkan mana yang tidak sedikit.
“Kalau begini coba teleport saja,” kata Bansar.
Ia melangsungkan spell cahaya untuk teleport. Namun, ternyata spell itu tidak bisa dilangsungkan.Hal itu wajar terjadi, karena ada beberapa tempat dimana seorang pengguna spell untuk teleport tidak dapat menggunakan spell itu karena efek kawasan scarcity (langka, banyak pengecualian). Terpaksa, ia harus melalui Hutan Liayr dengan melawan gerombolan beast. Kali ini, spell yang Bansar gunakan terfokus pada elemen air dan tanah, agar langkah para beast dapat diperlambat, bahkan ada yang terjebak. Lumpur dari spellBansar menggenangi hutan tersebut.
                Dengan kecerdikannya, Bansar telah sampai di lubang masuk Gua Haltair.Karena mengetahui informasi yang didapatnya, yaitu udara di dalam kawasan gua itu mengandung senyawa kimia beracun, maka Bansar memutuskan untuk menyimpan Fhyllum di saku celananya, yang tertutup oleh baju yang dikenakannya.Sebelum memasuki Gua Haltair, ia memakan satu butir suplemen.Mananya sedikit bertambah. Sebelum masuk, ia menggunakan spell penyembuh (dari skill cahaya), yang dapat membuat tubuh penggunanya kebal terhadap racun selema durasi tertentu.
                Setelah merasa siap, Bansar memasuki Gua Haltair. Beberapa langkah saat memasuki gua itu, ia menggunakan spell api untuk penerangan. Di sekitarnya memang terlihat kabut tipis, yang nampaknya adalah senyawa kimia beracun yang bercampur dengan udara.Di pertengahan jalan, banyak tanaman seperti semak belukar ada di pinggiran jalan setapak. Aneh, bentuknya tidak lazim.Semakin lama, Bansar merasa ia hanya mengelilingi rute yang sama. Mana yang ada dalam tubuhnya lama-kelamaan berkurang.Padahal, spell kebalnya masih bisa aktif.
                Bansar mencoba rute lain, yang berupa jalan dengan kemungkinan keluar dari Gua Haltair lebih tinggi, dibandingkan dengan rute awal yang telah ia lewati. Setelah mencoba, ternyata jalan yang ia telusuri masih menyatu dengan rute sebelumnya. Sehingga, Bansar pun bingung.Perlahan namun pasti, mananya sudah habis.Spell kebalnya pun telah berhenti. Udara yang tercampur dengan senyawa kimia telah terhirup olehnya. Hanya dalam hitungan detik, ia tersungkur ke tanah dan pingsan. Tongkatnya tergeletak di samping tubuhnya, yang berada di atas tanah di dalam Gua Haltair.Namun, tidak lama kemudian, muncullah seorang di balik kegelapan bayangan.
                Bansar terbangun di sebuah rumah kayu kecil.Tongkat barunya yang didapat dari koin berada di samping meja tua yang ada di rumah itu.Kemudian, terdengarlah suara decitan seseorang, seperti suara Treums.
                “Kau sudah bangun?” ujar Treums itu.
                “Ya... Tapi, tunggu dulu. Sepertinya aku pernah melihatmu,” jawab Bansar.
                “Tidak mungkin, memangnya dimana?” tanya sang Treums.
                “Ya, pernah. Sepertinya 15 tahun lalu aku pernah melihatmu,” kata Bansar sambil mengernyitkan keningnya.
                “Masa’ lupa?” lanjut Bansar.
                “Ya, kau benar. Aku hanya ingin mempermainkanmu sedikit,” ucap Treums sambil tertawa.
                “Jadi, kau alchemist yang waktu itu?” tanya Bansar.
                “Pastinya,” jawab sang alchemist Treums singkat.
                “Omong-omong, terima kasih atas koinnya, ya. Jadinya bisa dapat tongkat bagus itu,” ungkap Bansar.
                “Ok. Lalu koin kedua mengeluarkan apa?” tanya sang alchemist.
                “Seperti cadangan makanan, berbentuk suplemen,” jawab Bansar.
                “Sekarang benda itu dimana?” lanjut Treums.
                “Terakhir sih, ada di dalam kantong celana,” jawab Bansar.
Kemudian, ia memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Bansar mengeluarkan sesuatu. Ternyata, itu Fhyllum. Tidak ada yang tersisa di dalam saku celananya.
                “Nampaknya hilang. Maaf, Pak!” seru Bansar.
                “Baiklah, tak apa. Oh iya, nanti pergilah ke tempat di seberang rumah ini! Aku ingin kau berterima kasih kepada penyelamat jiwamu,” kata alchemist.
                “Jadi, yang menyelamatkanku bukan kau?” tanya Bansar, bingung.
                 “Ya. Yang menyelamatkanmu juga seorang Doffalce sepertimu,” jawab alchemist.
                “Oh ya, aku lupa bertanya. Bolehkah aku mengetahui namamu?” lanjut Bansar.
                “Baik. Nama sepertinya Soundwainaxioareon,” ucap alchemist.
                “Maaf?” Bansar tidak mendengarnya.
                “Panggil saja Wen,” kata alchemist.
                Kemudian, beberapa jam setelahnya ia bertemu dengan seorang Doffalce yang telah menolongnya di suatu tempat di seberang rumah. Ternyata, dia adalah Simon E. Collins, pengarang buku kuno yang dibaca Bansar, yang ada di perpustakaan pusat. Setelah mengucapkan kata terima kasih dan berbincang sedikit, Bansar berniat untuk mengelilingi desa ini.
                Desa ini tidaklah besar, tapi juga bisa dibilang tidak kecil. Pasar tradisional hadir untuk pengunjung setiap pagi dan sore. Saat sore, hanya buka selama 1 jam. Setelah berkeliling di sekitar desa ini, ia menemukan papan yang terpasang di tengah kota. Penulisannya seperti aksara Hulie, salah satu aksara yang belum dipelajarinya. Hingga saat ini, Bansar belum mengetahui nama desa ini. Beberapa langkah kemudian, ia menemukan sebuah tempat menempa (seperti tempat pandai besi) di perkarangan kota.
                “Pak, apakah saya bisa menempa tongkat ini?” ujar Bansar sambil memperlihatkan tongkat barunya.
                “Emm... dari analisis saya, tongkat ini tidak dapat ditempa lagi, Nak. Namun, ada ruang di tengah tongkat ini, yang dapat dipasang dengan gem untuk meningkatkan kekuatannya,” tunjuk penempa.
Bansar memperhatikannya sesaat. Bentuk dari ruang kosong yang ada di tengah tongkat itu seperti bentuk magatama.
                “Baiklah, Pak. Dimana aku bisa mendapatkan gem yang berbentuk seperti magatama ini?” tanya Bansar.
                “Kamu bisa mendapatkannya di beragam tempat. Tapi, kalau mau mencari tempat yang dekat dari sini, kamu bisa mencoba mencarinya di rawa di dekat desa ini. Untuk mendapatkannya, kamu harus mengalahkan monster yang memilikinya,” jelas penempa.
                “Kalau begitu, saya lebih baik bergegas mulai sekarang. Terima kasih atas infonya, Pak. Saya akan mencarinya terlebih dahulu,” ujar Bansar.
Bansar pun langsung menuju rawa di sekitar desa ini, untuk mencari gem yang cocok dipasang di tongkatnya.
                Tidak memerlukan waktu yang lama bagi Bansar untuk menemukan apa yang dicarinya. Berkat insting yang tajam, ia menemukan sebuah koloni yang mengerubungi seekor monster besar, yang nampaknya merupakan pemimpin dari koloni itu. Bansar melihat ada 3 buah gem yang terpasang di sarung tangan monster itu. Salah satunya gem yang berbentuk seperti magatama.
                “Maafkan aku, kawan,” gumam Bansar sambil tertawa licik.
Bansar langsung menerjang kawanan monster itu, dan dengan singkat dapat langsung berlawanan 1 lawan satu dengan musuh utamanya. Bansar meng-cast salah satu spell air dan menyemburkannya dengan deras. Ia memenangkan pertarungan itu dengan mudah. Ia pun mengambil 3 gem yang terjatuh ke atas tanah.
                Setelah mendapatkan gem yang diincarnya, ia langsung menuju penempa untuk memasang gem yang telah didapatnya.
                “Pak, saya sudah mendapatkan gem yang sesuai untuk dipasang di tongkat ini,” ucap Bansar.
                “Baiklah, aku akan segera memasangnya. Apakah kau bisa menunggu?” kata penempa.
                “Dengan senang hati, Pak,” jawab Bansar.
Ternyata, waktu yang dibutuhkan tidak lama. Hanya sekitar 10 menit, gem itu sudah terpasang di tongkat Bansar. Sekarang, tongkat Bansar mengeluarkan aura bewarna hijau muda.
                “Berapa yang harus saya bayarkan, Pak?”
                “Murah. Hanya 3.000 zeni,” jawab penempa.
Bansar mengecek sakunya. Ia ternyata tidak memiliki uang. Bansar berpikir, apakah aku dapat membayarnya dengan gem tadi? Ia mencoba menawar kepada penempa itu.
                “Pak, bisakah aku membayar jasa Bapak dengan sebuah gem?” tanya Bansar.
                “Tentu bisa, bahkan kamu pun bisa membayarnya dengan bawang merah,” jawab penempa.
                “Kalau begitu, ini buat Bapak,” kata Bansar sambil memberikan salah satu gem yang tersisa di dalam sakunya.
Penempa tadi memperhatikan gem itu dengan seksama. Ia tiba-tiba tersenyum, dan nampaknya sesaat lagi dia akan kegirangan.
                “Aku tidak memiliki kembalian yang cukup untuk gem ini. Sebagai gantinya maukah kau membuat setelan untuk dirimu seorang, yang mengambil job spiritualist ini?” tawar penempa.
                “Emm... Baiklah. Saya juga sebenarnya membutuhkan baju perang yang baru. Memangnya Bapak mau membuatkannya dimana? Apa bapak juga seorang penjahit?” tanya Bansar, sambil menyetujui penawaran itu.
                “Bukan aku yang akan membuatkannya. Tapi, seorang istri yang berada dalam rumah ini,” jawab sang penempa sambil menunjuk sebuah rumah dengan cerobong asap.
                Bansar memasuki rumah yang ditunjuk Bapak tadi. Beberapa saat setelah menunggu, seorang Ibu yang sedikit berkumis muncul dari balik tabir. Bansar diminta untuk memilih warna yang ingin dipilihnya, untuk membuat baju untuk job spiritualist. Ia memilih warna hijau muda sebagai warna variannya (sekunder, kedua). Namun, ia tidak memilih warna utama. Ia menyerahkan urusan desain dan warna dasar kepada sang penjahit (ibu).
                Setelah mendapat baju yang diinginkannya, Bansar segera menuju persinggahan sementaranya di rumah kayu kecil, tempat pertama ia tiba di desa ini. Ternyata, di dalam rumah itu sudah ada Wen yang menunggunya di rumah. Melihat Wen, ia ingin memberikan satu gem yang tersisa di dalam saku celananya untuk Wen.
                “Darimana saja kamu pergi?” kata Wen.
                “Berjalan-jalan sebentar, melihat kondisi di sekitar desa ini,” jawab Bansar sambil sedikit tersenyum.
                “Baju yang bagus, apakah kau pergi ke penjahit?” tanya Wen.
                “Ya, kebetulan mereka menyediakan baju untuk spiritualist,” jawab Bansar.
                “Lalu, apa yang ada di tongkatmu itu? Magatama?” tanya Wen lagi.
                “Ya, aku juga berpikir sama sepertimu tadinya. Oh, ya. Aku mau memberimu sebuah gem yang aku temukan di rawa di sekitar desa ini,” kata Bansar, kemudian memberikan sebuah gem yang ada di saku celananya kepada Wen.
                “Kau mengagumkan! Ini adalah benda yang paling kucari sepanjang aku bernafas melalui pipa kapiler ini!” ucap Wen, sangat senang.
Namun, kondisi yang aneh tiba-tiba terjadi. Dari gem itu, muncul hembusan angin yang menghisap kedua tubuh mereka. Perlahan mereka muncul di sebuah ruang gelap, nampaknya are Crag Mine yang sudah lama ditinggalkan oleh para penggunanya. Terdengar suara tepuk tangan yang tidak kencang dari seseorang. Berbagai penjelasan kejadian ekspedisi Ether ke Lereng Rohan terdengar di telinga Bansar. Ternyata, itu adalah Aaron! Ia sudah terbukti sebagai dalang dari semua skenario kematian teman-temannya dan kelicikan di kalangan Boorsae, karena dia sebenarnya merupakan ras Kronoa!
“Bagus-bagus. Memang begini seharusnya, mangsa yang mendatangi pemangsa! Atau korban yang mendatangi tersangka ya...?” ucap Aaron.
“Ah, sudahlah. Yang penting sekarang aku akan menghabisi kalian berdua! Untuk menghilangkan bukti kekejianku!” seru Aaron.
Bansar sudah bersiap meng-cast spell yang akan dilancarkannya. Tapi, spell itu gagal dilancarkan. Bansar bingung. Tiba-tiba, ia tersungkur ke tanah, dan tidak sadarkan diri. Tinggal Professor Wen yang berhadapan satu lawan satu dengan Aaron. Aaron mengeluarkan panah berpedang, senjata yang baru kali ini samar-samar dilihat oleh Bansar.
Pengelihatan Bansar membaik. Matanya berkunang-kunang. Namun, lambat-laut ia terbangun dari tidurnya. Saat hampir sepenuhnya sadar, ia melihat pisau seakan mau menancap ke pipi kiri Wen.
“Ternyata kau sudah mempelajari ini, ya? Kelemahan vital Treums terletak di bagian bawah mata kiri. Bagian ini lebih vital dibandingkan dengan jantung,” desah Wen.
“Itu sudah PASTI! Mana mungkin jenius sepertiku tidak mengetahui hal sekecil itu. Hanya orang sampah yang tidak mau menyerang kelemahan lawan yang dihadapinya,” kata Aaron.
Sedikit lagi pisau itu akan tertancap, ternyata perlahan Wen lenyap, yang artinya ia telah diteleportasi seseorang. Ya, orang itu adalah Bansar. Ia ingin jiwa Wen selamat dari penyergapan licik yang dilakukan oleh Aaron.
                “Mari, selesaikan semua ini!!!” teriak Bansar.
Sepertinya, ini pertama kali Bansar menjadi temperamental semenjak ia lahir. Mungkin, hal ini dikarenakan Bansar memiliki kesengsaraan berlebih yang berasal dari Aaron.
                Skill advance dari keempat elemen: api, air, tanah, dan angin disajikan dalam pertarungan satu lawan satu ini. Skill gelap dan cahaya pun muncul untuk mendukung spell yang dilangsungkan masing-masing pengguna. Ternyata, Aaron bukan seorang ranger biasa. Ia bisa menggunakan spell layaknya para spiritualist.
                Tiba-tiba pertarungan itu berhenti. Kedua pihak tidak bisa bergerak. Apa yang terjadi?
                “Cukup, semua hal ini dapat menjelaskan kebenaran yang sesungguhnya,” ujar Barea yang ternyata muncul untuk mengunci mereka berdua.
Lantas Aaron langsung diringkus satuan keamanan. Kemudian Barea berkata,
”Maafkan aku, Nak. Aku tidak mendengar perkataanmu waktu itu. Sebagai gantinya, maukah kau menghadiri penghargaan kepahlawanan yang akan disematkan untukmu seorang hari esok?”
Bansar rupanya tidak menghiraukan ucapan sang Barea. Ia langsung pergi dengan skill teleportasinya menuju rumah kecil di desa yang damai. Ia disambut oleh Wen yang masih meneteskan darah di bagian bahunya.
                “Apa yang terjadi? Mengapa begitu singkat?” tanya Wen, heran.
                “Itu tadi Barea Doffalce. Ia mengunci kami berdua, kemudian menawarkanku penghargaan kepahlawanan yang tidak penting,”
                “Mengapa kau tidak mau mengambilnya dan pergi ke sini?” tanya Wen, bingung akan sikap kawan Doffalcenya.               
                “Nyawa dibalas dengan nyawa. Sedangkan ketulusan untuk menolong orang lain, adalah hal yang sulit tergantikan,” jelas Bansar.
                “Itu bagus, Bung. Dari mana kau mendapatkan peribahasa itu?” ujar Wen.
                “Dari seorang pemuda bijaksana sekitar 10 detik lalu,” jawab Bansar.
Wen tertawa. Ia membalut bahunya dengan perban dan mengeringkannya. Kemudian, Wen berkata,
                “Bagaimana kalau sekarang kita pergi ke Kedai Uyan, disana ada teh madu yang memikat perasaan.”
                “Baiklah, sekarang aku yang traktir,” ucap Bansar sambil tertawa dan menelungkupkan tangannya.
                Kedua teman yang berbeda ras itu pun pergi, meninggalkan tempat persinggahan mereka menuju tempat untuk bersantai, melupakan kepenatan yang barusan mereka rasakan.











Tidak ada komentar:

Posting Komentar