Tragedi di Kampung Orang Pintar
Oleh Rifki Muhammad
MAN Insan Cendekia Serpong
Diiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiingdong
!
Sahut sepeda tua milik Wak Haji yang sengaja membuat riuh pagi yang
dingin di Kampung Orang Pintar. Kekawanan manusia-manusia bersarung mulai
menggeliat bangun. Jendela-jendela pada masing-masing rumah menyala satu per
satu, menampilkan siluet orang yang sedang berganti baju, hendak pergi ke
masjid tentunya. Wak Haji cepat-cepat datang ke Masjid Jami, tak ingin
didahului satu orang pun dari manusia-manusia malas sekampung. Matanya melirik
sana-sini, melototi tiap-tiap kelok jalan yang memungkinkan setiap manusia
muncul dari dalam kegelapan dan mendahului niat sucinya sebagai Juru Agama di
Kampung Jelema Pinter. Tak berselang lama, azan serak basah mendayu-dayu
menjelmakan malam dingin jadi semarak, sesemarak hati Wak Haji yang sedang
memanggil orang untuk shalat subuh itu.
Sesuai dengan namanya,Kampung Orang Pintar ini memang unik. Kampung yang
penuh dengan berbagai kejutan yang tak mudah lekas dilupakan oleh orang. Kadang
kala para juru kamera dari stasiun tv sampai sengaja bertandang beberapa hari
hanya untuk meliput kampung berasalnya para orang-orang pintar itu. Mengambil
gambar anak-anak kecil yang sedang girang bermain bola dengan berharap
gambarnya akan laku beberapa tahun kedepan kala anak tersebut sudah jadi
presiden. Begitulah, orang-orang yang sudah menjelma jadi dewa-dewi di ibukota
tak lebih dari bocah ingusan di mata warga desa sekitar.
Beribu DPR dan Pejabat dicetak secara berkala dari kampung ini. Bilamana
kau lihat kawan, dari televisi di negeri beribu muka ini, para keturunan
Kampung Orang Pintarlah yang mengusai 2/3 dari tayangan setiap salurannya.
Bilamana kau datang ke negeri ini kawan, maka di televisi kau akan temukan para
pejabat mantan aktris atau aktris mantan pejabat. Tentu saja para (mantan)
warga Kampung Orang Pintarlah yang menjadi dalang utama dari panggung hiburan
tersebut.
Kembali ke Kampung Jelema Pinter, masyarakat yang sudah datang membentuk
barisan shaf shalat shubuh berjamaah.
“ Rapatkan kakinya! Jangan sampai setan masuk walau sekejap ! yang
disebelah sana kurang lurus !”, teriak Wak Haji membereskan setiap shaf secara
teliti. Tak ingin ia, sedikitpun, dirusak shalatnya dengan kesalahan awam
semacam itu. Setiap jamaah diam terlihat khusyu. Anak-anak yang datang tak
sedikit, juga tidak pernah ribut di masjid. Semua ini tentulah karena Wak Haji
yang selalu meributkan masalah ributnya anak-anak sampai orang tua mereka malu
tak main-main. Kemarin Pak Darno, didamprat habis-habisan di warung kopi
gara-gara ulah anaknya yang bermain di pelataran masjid sewaktu shalat. Esoknya
ia didamprat lagi, karena melarang anaknya unutk pergi ke masjid. Tak kurang
pula malunya Pak Solihin, kena marah karena anaknya mengacak-ngacak sendal
jamaah. Maka sesungguhnya para polisi dan pamong praja harus belajar kepada Wak
Haji seorang bila ingin pekerjaan mereka cepat tuntas.
Maka seusai shalat jamaah pun bubar dengan tenang. Cukuplah mereka
merasakan kesenangan dunia sejenak sampai waktu dhuhur nanti tiba. Sedang Wak
Haji terdiam seorang diri di masjid, tatapannya menerawang mimbar masjid yang
berdiri tegak. Kayunya berasal dari pohon jati tua, sendiri ia buat selama 3
bulan, menggantikan mimbar hibah seorang jamaah dahulu. Tiap ukirannya ia sebut
asma Allah, yang ia percaya dapat membawa keberkahan pada masyarakat ini. Wak
Haji merasa sedih, mengingat hanya ia yang mengerti ilmu agama di Kampung Orang
Pinter. Tak ada orang yang lebih pintar darinya, yang dapat menggantikannya
sebagai Juru Agama walau di kampung yang terhitung kecil ini.
Akhirnya Wak Haji berinisiatif unutk mengadakan pengajian shubuh seusai
shalat berjamaah. Setelah shalat dhuhur, para jamaah diminta untuk duduk dengan
tenang. Wak Haji berdiri di depan mimbar kayu,lalu dengan tenang berwibawa ia
mulai berkata,
“ Mengingat umur saya yang sudah mulai tua, dan tidak sama sekali satu
pun dari kalian yang pantas untuk
menggantikan saya di sini, maka saya akan mulai mengisi pengajian shubuh. Di
mulai dari esok pagi, saya tidak ingin satu pun warga Kampung Orang Pintar
tidak mengikuti pengajian. Saya tidak ingin disalahkan orang karena tidak punya
penerus di sini. Sampai kapan kalian ingin tetap malas ? pokoknya selama
sebulan ini saya akan mengisi pengajian shubuh, dan akan diuji akhir bulan !”
Jamaah hanya dapat mengangguk
pasrah mendengar perkataan Wak Haji. Di tengah ceramah Wak Haji, dari pintu
masjid terdengar seekor kucing mengeong pelan. Kucing itu lusuh, kotor, dan
tidak terurus. Kucing tersebut masuk perlahan ke dalam masjid. Jamaah tak sadar
akan kedatangan kucing tersebut, karena yang bisa melihat kucing itu hanya Wak
Haji yang berdiri di atas mimbar.
“ Ini salah satu buktinya kalian tidak peduli dengan agama ! Masjid
dimasuki kucing saja kalian tidak sadar ! Bagaimana kalian mau paham agama ?
Bagaimana mau adzan shubuh ? Bagaimana mau mengimami shalat ? Maka sudah bulat
keputusan saya : setiap shubuh akan diadakan pengajian. ”
Jamaah keluar masjid perlahan-lahan. Romli, pemuda yang belum dapat
kesempatan untuk merantau, diminta Wak Haji membuang kucing tersebut ke kampung
sebelah.
_***_
Pagi sekali Wak Haji membangunkan warga Kampung Orang Pintar esok
harinya. Begitu bersemangat Wak Haji, hingga terlihat punggungnya yang makin
membungkuk itu terlihat tertatih-tatih datang ke masjid. Sampai 2 kali ia
tersuruk dari sepedah saking semangatnya. Seperti pagi-pagi sebelumnya, dering
sepedah Wak Haji meramaikan shubuh yang gelap dan dingin . Ia sumringah melihat
masjid yang masih sepi, merasa menang dari para warga Kampung Orang Pintar yang
tentunya masih bermalas-malasan di ranjang. Walaupun ia seorang pendatang (baru
2 bulan ia berada di sana) ia tetap menjadi orang yang pertama datang ke masjid
tiap pagi.
Ketika Wak Haji membuka pintu masjid, sekonyong-konyong seekor kucing
menyelinap masuk melewati kaki-kaki Wak Haji yang tidak lagi lincah. Betapa
geramnya Wak Haji melihat kucing lusuh yang kemarin sudah ia suruh Romli untuk
buang (akan ia marahi Romli nanti) kembali masuk masjid. Bahkan ia mendahului
Wak Haji yang sudah 2 bulan ini menjadi orang pertama yang menjajakan kakinya
setiap sebelum shubuh.
Segera ia ambil mukenah dari tempat shalat wanita. Dikejarnya kucing
tersebut sampai berkeliling masjid. Setiap kali Wak Haji hendak menangkap
kucing tersebut, setiap itu pula kucing tersebut menghindar. Jamaah yang mulai
berdatangan heran melihat tingkah Wak Haji, berkerumul di depan pintu masjid.
Wak Haji, yang sudah terjatuh sekian kali pula, merasa panas melihat tingkah
warga yang hanya berdiri mematung.
“ ROMLI ! TANGKAP KUCING ITU !”,
ia meraaung.
Maka para warga , Romli khususnya, berlarian mencoba menyergap si
kucing. Setelah bergulat selama 5 menit, kucing tersebut berhasil diringkus
dengan sarung seorang jamaah. Wak Haji menyuruh mereka mengikat sarung tersebut
lalu menaruhnya di sebelah mimbar. Setelah mengambil nafas panjang, Wak Haji
mendekati mikrofon masjid lalu adzan. Jamaah merapatkan barisan dan mereka
mengadakan shalat shubuh berjamaah.
Setelah salam, Wak Haji berdoa lalu berdiri di mimbar. Dilihatnya
satu-satu wajah warga Kampung Orang Pintar, terutama yang mangut-mangut karena ngantuk.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”
Jamaah menjawab dengan pelan, Wak Haji merasa tak puas.
“ASSALAMUALAIKUM WARAHMATULLAHI WABRAKATUH !”
Maka jamaah menjawab dengan lantang, berharap Wak Haji segera memulai
khotbahnya.
“ Sebagaimana yang sudah kita ketahui bersama atas kejadian shubuh ini.
Betapa ini adalah peringatan yang bukan sembarang peringatan, bahwa kita harus
meningkatkan rasa kepemilikan kita terhadap masjid. Seekor masjid, para warga
sekalian, berusaha unutk masuk ke masjid ini. Tentunya karpet masjid akan kotor
bukan bila ia masuk ke dalam masjid ? Bahkan ia masuk lebih dulu dibanding
saya. Maka inilah sebuah hal, supaya kalian semua lebih berusaha untuk datang
ke masjid lebih awal, saingilah saya kalau bisa…. ”
Maka Wak Haji membuka kitab tebalnya dan mulai membaca kitab yang sudah
bertahun tidak ia buka. Bukan, bukan karena ia malas, namun karena sudah ia
kuasai benar. Ia membuka kitab hanya supaya warga Kampung Orang Pintar tahu ia
tidak sembarang ngomong. Wak Haji
mengucapkan kata per kata dengan perlahan, lamat-lamat penuh kekhusyuan. Selama
itupula para jamaah mencoba mendengar dan menangkap apa yang dikatakan Wak
Haji. Akhirnya pengajian selesai, dan para jamaah mulai keluar dari masjid pada
saat matahari sudah lama menyingsing. Wak Haji menyuruh Romli (lagi-lagi) untuk
membuang kucing tersebut ke kota seberang.
Namun kucing itu mungkin memang bukan kucing biasa. Setiap kali
ditangkap-buang, setiap kali pula ia kembali. Seolah kucing itu bersikeras
untuk masuk ke masjid. Maka warga Kampung Orang Pintar berkumpul di balai
perkumpulan, supaya masalah ini cepat selesai dan Wak Haji cepat tenang. Sebagai
hasil perkumpulan, mereka bersepakat untuk mengusir kucing tersebut dengan
berbagai cara.
Maka warga Kampung Orang Pintar memanggil orang-orang yang sudah
merantau untuk kembali. Peristiwa ini bahkan menjadi headline di koran –
koran multinasional. Peristiwa ini juga menajdi kesempatan warga Kampung Orang
Pintar untuk unjuk kemampuan.
Para guru pintar berkumpul, merumuskan cara untuk mengusir kucing
tersebut. Sudah biasa mereka berhadapan dengan murid-murid bermasalah, tentu
lebih mudah menghadapi seekor kucing kecil yang tak punya otak untuk berpikir.
Karena tak ingin gagal, mereka mengeluarkan jurus pamungkas dalam manklukan
murid bahkan yang paling senior pun : iming-iming contekan UN.
Namun tak dapat dianya, muslihat mereka gagal total. Maka ketika para
guru pintar putus asa, giliran para murid yang ambil kendali. Terkenal sebagai
jendral tawuran dalam berbagai pertarungan antar sekolah, para murid Kampung
Orang pinter menggebuki kucing tersebut ramai –ramai. Namun kucing tetaplah
kucing. Ia jelas lebih gesit daripada gir yang diayun atau batu yang dilempar.
Walau luka – luka di sekujur badan, kucing tersebut tetap kembali.
Setelah junior mengalami kegagalan, maka giliran alumnusnya yang
beraksi. Para lulusan Kampung Orang Pintar yang sudah berpengalaman di dunia
hiburan memberikan muslihat terbaik mereka : pornografi dan pornoaksi. Maka
dikumpulkanlah kucing-kucing betina yang sudah direbonding, dari kucing persia
sampai kucing siprus. Namun sayang seribu sayang, kucing tersebut rupanya
seekor kucing betina.
Warga Kampung Orang Pintar mengambil alih. Kredibilitas kampung mereka
dipertaruhkan. Media multi nasional mulai gonjang-ganjing. Maka tataran elit
pun turun tangan, mereka memberikan kucing tersebut penghancur masal sebuah
bangsa, yang sudah terkenal dalam sejarah : candu. Sayang, seekor kucing lebih
memilih memakan bangai tikus daripada candu yang termahal sekalipun.
Setelah kalangan elit kalah, Kampung Orang Pintar tinggal punya satu
harapan. Maka didatangilah Sang Juru Selamat, Messiah Bagi Kaum Tertindas.
Setelah melalui berbagai macam protokoler yang rumit dan penuh kerahasiaan,
mereka berhasil menghubunginya : Bapak Presiden. Pak Presiden mahfum akan hal
tersebut, lalu memberikan maklumatnya yang terkenal. Maklumat yang bukan
sembarang maklumat, yang bahkan dapat menjinakkan mahasiswa yang mengakhiri era
Orde Lama dan Orde Baru. Pak Presiden menentukan tanggal yang baik dan
mengundang si kucing untuk sebuah jamuan makan di istana.
Bala tak dapat ditolak, si kucing memang datang ke jamuan tersebut. Namun
sekali lagi, kucing tetaplah kucing. Seekor hewan tak mengenal balas budi
ataupun rasa segan. Maka setelah sebulan bergulat dengan si kucing, mereka
mulai menyerah. Mungkin ini adalah pertanda akan berakhirnya eksistensi Kampung
Orang Pintar. Wak Haji benar, mereka selama ini salah. Mereka masih harus
belajar ilmu agama. Maka warga Kampung Orang Pintar , baik yang masih bermukim
ataupun yang sudah merantau, berdatangan ke kediaman Wak Haji. Disana mereka
menemukan Romli yang sedang tertunduk menutup muka, entah karena amat sedih
atau menutup-nutupi kegirangannya.
Para warga Kampung Orang Pintar datang mendekat.
“ Ada apa Rom ?”
Romli menengadahkan wajahnya
“ Wak Haji sudah wafat .”
Warga Kampung Orang Pintar terdiam. Sudah wafat pula keinginan mereka
unutk belajar lebih banyak kepada Wak Haji. Betapa sebentarnya keberadaan ia
selama 3 bulan di Kampung Orang Pintar. Betapa mereka menghormati orang tua
tersebut, yang sudah rela bersusah payah mencoba mengingatkan mereka. Untuk
itu, mereka akan menyelenggarakan pemakaman yang mewah untuk Wak Haji semata.
Mereka pun beramai-ramai mengkafani Wak Haji. Air bekasnya dianggap mujarab
untuk menyembuhkan kudis dan penyakit-penyakit lainnya. Susai dimandikan Wak
Haji dikafani, lalu diiring-iringi ke Masjid Jami unutk dishalatkan.
Namun terjadi suatu masalah. Sejak Wak Haji datang tak ada dari mereka
yang berani menjadi imam, walau ia seorang lulusan pesantren besar dari negeri
seberang. Jemaah yang sudah membentukshaf-shaf terdiam kebingunngan. Masjid
Jami menjadi hening unutk waktu lama, sampai terdengar suatu suara
“Meong..”
Kucing kecil yang lusuh itu melewati kaki-kaki kaku para jamaah. Ia
melewati shaf demi shaf sampai ke sajadah khusus imam. Jamaah hanya dapat
bergeming ketika kucing tersebut duduk dan diam disana.
Biografi Penulis
Penulis bernama pena Jupon RM, saat ini bersekolah di Madrasah Aliyah
Negeri Insan Cendekia Serpong. Penulis lahir pada hari Jumat, 10 Oktober 1997
di Bandung. Penulis dapat dihubungi lewat surel juponrm@gmail.com .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar